Anda di halaman 1dari 26

(OBAT TETES MATA)

INDAH TRIPUJIATI M,Farm.,Apt

Suspensi obat mata adalah sediaan cair steril yang


mengandung partikel-partikel yg terdispersi dalam cairan
pembawa untuk pemakaian pada obat mata seperti yg
tertera pada Suspensiones.(FI IV hal 14)
Larutan optalmik adalah larutan steril basis lemak atau
air dari alkaloid, garam alkaloid, antibiotik, atau zat lain
yang dimasukkan ke dalam mata. (AOC thn1957 hal 221)
Obat tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan
atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara
meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar
kelopak mata dan bola mata.

Syarat obat tetes mata


1. Harus steril atau bebas dari mikroorganisme
2. Sedapat mungkin harus jernih

3.Harus mempunyai aktivitas terapi yang optimal


4. Harus tidak mengiritasi dan tidak menimbulkan rasa sakit pada
mata,
maka dikehendaki sedapat mungkin harus isotonis.
5. Zat pengawet dala larutan tetes mata
6. Viskositas dalam larutan mata
7. Surfaktan dalam pengobatan mata
8.Pewadahan

Keuntungan obat tetes mata :


1. Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal homogen
bioavailabilitas, dan kemudahan penanganan.
2.Suspense mata memiliki kelebihan dimana adanya
partikel zat aktif dapat memperpanjang waktu tinggal
pada mata sehingga meningkatkan waktu terdisolusinya
oleh air mata, sehingga terjadi peningkatan
bioavailabilitas dan efek terapinya.
3. Tidak menganggu penglihatan ketika digunakan

Kerugian obat tetes mata :


Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu
kontak yang relatif singkat antara obat dan permukaan yang
terabsorsi
Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata
sangat terbatas ( 7 mL) maka larutan yang berlebih
dapat masuk ke nasal cavity lalu masuk ke jalur GI
menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan.
Mis. b-bloker untuk perawatan glaukoma dapat menjadi
masalah bagi pasien gangguan jantung atau asma
bronkhial.
Kornea dan rongga mata sangat kurang
tervaskularisasi, selain itu kapiler pada retina dan iris
relatif non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk
mata adalah efeknya lokal/topikal.

PENGGUNAAN OBAT TETES


MATA
Obat-obat yang digunakan pada produk optalmik dapat
dikategorikan menjadi : (Codex hal 160).
miotik,
Midriatik
Siklopegik
anti-inflamatory agent
anti infeksi
anti galukoma,
senyawa diagnostik dan anestetik lokal.

Syarat sediaan tetes mata


1.Steril
2.Isotonis dengan air mata, bila mungkin isohidris
dengan pH air mata.
Isotonis = 0,9% b/v NaCl, rentang yang diterima = 0,7
1,4 % b/v (Diktat hal 300) atau 0,7 1,5 % b/v (Codex
hal 163). pH air mata = 7,4 (Diktat hal 301)
3.Larutan jernih, bebas partikel asing dan serat halus.
4.Tidak iritan terhadap mata (untuk basis salep mata)

Pemilihan Bentuk Zat Aktif


Sebagian besar zat aktif yang digunakan untuk sediaan mata bersifat larut
air atau dipilih bentuk garamnya yang larut air. Sifat-sifat fisikokimia yang
harus diperhatikan dalam memilih garam untuk formulasi larutan optalmik
yaitu :
1. Kelarutan
2. Stabilitas
3. pH stabilitas dan kapasitas dapar
4. Kompatibilitas dengan bahan lain dalam formula.
Sebagian besar zat aktif untuk sediaan optalmik adalah basa lemah. Bentuk
garam yang biasa digunakan adalah garam hidroklorida, sulfat, dan nitrat.
Sedangkan untuk zat aktif yang berupa sam lemah, biasanya digunakan
garam natrium (Codex hal 161).

FORMULASI
R/

Zat aktif

Bahan pembantu :
Pengawet
Pendapar
Surfaktan
Pengisotonis
Peningkat viskositas
Anti oksidan
Pensuspensi

1.PENGAWET
Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah
takaran ganda bila digunakan secara perorangan pada
pasien dan bila tidak terdapat kerusakan pada
permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus
tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas
pada
pemakaian
pertama.
Sedangkan
untuk
penggunaan pembedahan, disamping steril, larutan
obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena
dapat mengiritasi jaringan mata. (FI IV hal 13 & 14)

Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunuh pertumbuhan


mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai untuk larutan
obat tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut (AOC, 234) :
1.Bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama
terhadap Pseudomonas aeruginosa.
2.Non iritan terhadap mata (jaringan okuler yaitu kornea dan konjungtiva).
3.Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai.
4.Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi.
5.Dapat mempertahankan aktivitasnya pada kondisi normal penggunaan
sediaan.

Kombinasi pengawet yang biasanya digunakan adalah :


Benzalkonium klorida + EDTA
Benzalkonium klorida + Klorobutanol/feniletilalkohol/
fenilmerkuri nitrat
Klorobutanol + EDTA/ paraben
Tiomerasol + EDTA
Feniletilakohol + paraben

PENGISOTONIS
Pengisotonis yang dapat digunakan adalah NaCl, KCl,
glukosa, gliserol dan dapar (Codex, 161-165). Rentang
tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata :
FI IV : 0,6 2,0% RPS dan RPP
: 0,5 1,8%
AOC : 0,9 1,4% Codex dan Husa : 0,7 1,5%
Tapi usahakan berada pada rentang 0,6 1,5%
Hati-hati kalau bentuk garam zat aktif adalah garam
klorida (Cl) karena jka pengisotonis yang digunakan
adalah NaCl dapat terjadi kompetisi dan salting out.

PENDAPAR
Syarat dapar (Codex, 161-165) :

1. Dapat menstabilkan pH selama


penyimpanan
2. Konsentrasinya tidak cukup tinggi karena
konsentrasi yang tinggi dapat mengubah pH
air mata.

PENINGKAT VISKOSITAS
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemilihan bahan
peningkat viskositas untuk sediaan optalmik adalah ( Codex, 161-165)
1. Sifat bahan peningkat viskositas itu sendiri. Mis. Polimer mukoadhesif
( asam hyaluronat dan turunannya; carbomer) secara signifikan lebih
efektif daripada polimer non mukoadhesif pada konsentrasi
equiviscous.
2.Perubahan pH dapat mempengaruhi aktivitas bahan peningkat
viskositas.
3.Penggunaan produk dengan viskositas tinggi kadang tidak ditoleransi
baik oleh mata dan menyebabkan terbentuknya deposit pada kelopak
mata; sulit bercampur dengan air mata; atau mengganggu difusi obat.

Pada umumnya penggunaan senyawa selulosa dapat


meningkatkan penetrasi obat dalam tetes mata,
demikian juga dengan PVP dan dekstran. Jadi, pemilihan
bahan pengental dalam obat tetes mata didasarkan
pada ( Diktat kuliah teknologi steril, 304):

Ketahanan pada saat sterilisasi,


Kemungkinan dapat disaring,
Stabilitas, dan
Ketidakbercampuran dengan bahan-bahan lain.

Pangental yang sering dipakai adalah : Metilselulosa,


HPMC dan PVP

ANTI OKSIDAN
Zat aktif untuk sediaan mata ada yang dapat
teroksidasi oleh udara. Untuk itu kadang dibutuhkan
antioksidan. Antioksidan yang sering digunakan adalah
Na metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi
sampai 0,3%. Vitamin C (asam askorbat) dan
asetilsistein pun dapat dipakai terutama untuk sediaan
fenilefrin.
Degradasi oksidatif seringkali dikatalisa oleh adanya
logam berat, maka dapat ditambahkan pengkelat
seperti EDTA. Penggunaan wadah plastik yang
permeabel terhadap gas dapat meningkatkan proses

SURFAKTAN
Pemakaian surfaktan dalam obat tetes mata harus memenuhui
berbagai aspek (Diktat kuliah teknologi steril, 304) :
1. Sebagai antimikroba (Surfaktan golongan kationik seperti
benzalkonium klorida, setil piridinium klorida, dll).
2.Menurunkan tegangan permukaan antara obat mata dan kornea
sehingga meningkatkan akti terapeutik zat aktif.
3.Meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan
lakrimal, meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva
sehingga meningkatkan penembusan dan penyerapan obat.
4. Tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak boleh iritan dan
merusak kormea. Surfaktan golongan non ionik lebih dapat diterima
dibandingkan dengan surfaktan golongan lainnya.

EVALUASI DAN PENYIMPANAN


Evaluasi Fisik
a.Uji kejernihan (FI IV hal 998)
b.Penentuan bobot jenis (FI IV <981>, hal 1030)
c.Penentuan pH (FI IV <1071>, hal 1039)
d.Penentuan bahan partikulat (FI IV <751>, hal 981)
e.Penentuan volume terpindahkan (FI IV <1261>, hal 1089)
f.Penentuan viskositas dan aliran (Diktat praktikum farmasi fisika hal 9, 10,
14)
g.Volume sedimentasi (Lihat sediaan suspensi)
h. Kemampuan redispersi (Lihat sediaan suspensi)
i.Penentuan homogenitas (Lihat sediaan suspensi)
j.Penentuan distribusi ukuran partikel (Lihat sediaan suspensi )

Catatan : evaluasi f-j untuk OTM Suspensi!

Evaluasi Kimia
a. Identifikasi

b. Penetapan kadar

c. Penentuan potensi (untuk antibiotik)

Evaluasi Biologi
a. Uji sterilitas (Lihat sediaan injeksi)

b. Uji efektivitas pengawet (FI IV <61>, hal 854-855).

WADAH DAN PENYIMPANAN


Codex, 166-167)
Saat ini wadah untuk larutan mata yang berupa gelas telah digantikan oleh wadah
plastik feksibel terbuat dari polietilen atau polipropilen dengan built-in dropper.
Keuntungan wadah plastik :
Murah, ringan, relatif tidak mudah pecah
Mudah digunakan dan lebih tahan kontaminasi karena menggunakan built-in dropper.
Wadah polietilen tidak tahan autoklaf sehingga disterilkan dengan iradiasi atau etilen oksida
sebelum dimasukkan produk secara aseptik.

Kekurangan wadah plastik :


Dapat menyerap pengawet dan mungkin permeabel terhadap senyawa volatil,
uap air dan oksigen.
Jika disimpan dalam waktu lama, dapat terjadi hilangnya pengawet, produk
menjadi kering (terutama wadah dosis tunggal) dan produk teroksidasi.

PERSYARATAN
Farmakope Eropa dan BP mensyaratkan wadah untuk tetes mata
terbuat dari bahan yang tidak menguraikan/merusak sediaan akibat
difusi obat ke dalam bahan wadah atau karena wadah melepaskan zat
asing ke dalam sediaan.
Wadah terbuat dari bahan gelas atau bahan lain yang cocok.
Wadah sediaan dosis tunggal harus mampu menjaga sterilitas
sediaan dan aplikator sampai waktu penggunaan.
Wadah untuk tetes mata dosis ganda harus dilengkapi dengan
penetes langsung atau dengan penetes dengan penutup berulir yang
steril yang dilengkapi pipet karet/plastic (BP 2002 vol2 1869).

Penyimpanan (BP 2002 vol2


1869)
Tetes mata disimpan dalam wadah tamper-evident.
Kompatibilitas dari komponen plastik atau karet harus
dicek sebelum digunakan.
Wadah untuk tetes mata dosis ganda dilengkapi
dengan dropper yang bersatu dengan wadah. Atau
dengan suatu tutup yang dibuat dan disterilisasi secara
terpisah.

PENANDAAN
Farmakope Eropa dan BP mengkhususkan persyaratan berikut
pada pelabelan sediaan tetes mata.
Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi pengawet
antimikroba atau senyawa lain yang ditambahkan dalam
pembuatan. Untuk wadah dosis ganda harus mencantumkan
batas waktu sediaan tersebut tidak boleh digunakan lagi
terhitung mulai wadah pertama kali dibuka (waktu yang
menyatakan sediaan masih dapat digunakan setelah wadah
dibuka).
Kecuali dinyatakan lain lama waktunya tidak boleh lebih dari 4
minggu (BP 2002 vol2 1868)
Wadah dosis tunggal karena ukurannya kecil tidak dapat

Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi zat


aktif, kadaluarsa dan kondisi penyimpanan
Untuk wadah dosis tunggal, karena ukurannya kecil
hanya memuat satu indikasi bahan aktif dan
kekuatan/potensi sediaan dengan menggunakan kode
yang dianjurkan, bersama dengan persentasenya. Jika
digunakan kode pada wadah, maka pada kemasan juga
harus diberi kode (BP 2002 vol2 1869).
Untuk wadah sediaan dosis ganda, label harus
menyatakan perlakuan yang harus dilakukan untuk
menghindari kontaminasi isi selama penggunaan (BP

Labelling
Label harus mencantumkan :
1.Nama dan persentase zat aktif.
2.Tanggal dimana sediaan tetes mata tidak layak untuk
digunakan lagi.
3.Kondisi penyimpanan sediaan tetes mata.
Untuk wadah dosis ganda, label harus menyatakan
bahwa harus dilakukan perawatan tertentu untuk
mencegah kontaminasi isi sediaan selama penggunaan.