Anda di halaman 1dari 20

Manifestasi klinis dan Manajemen

Demam Dengue/Dengue Hemorrhagic


Fever/Dengue Shock Syndrome
Disusun Oleh:

Grace Livia N. H 1510221004


Yoga Hendrico 1510221005
Illina Dewinur 1510221026
Novia Dwi Tirta Sari 1510221034

Pendahuluan
Dengue merupakan
penyakit virus yang
ditularkan melalui
nyamuk aedes
aegypti.

Penyakit ini
disebabkan oleh
virus dengue yang
memiliki 4 serotype:
dengue 1, dengue 2,
dengue 3, dan
dengue 4.

Infeksi primer
gejala ringan
Infeksi ulang dengan
serotype yang
berbeda gejala
yang lebih berat

Etiologi
Virus Dengue :
Termasuk dalam group B

arthropod borne virus


(arbovirus)
Famili : Flaviviridae
Genus : Flavivirus
Diameter 30 nm, RNA rantai
tunggal, berat molekul 4x106
Terdapat 4 serotipe virus yaitu
DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4.
(Indonesia terbanyak DEN-3)
Ditularkan oleh Nyamuk Aedes
aegypti dan nyamuk Aedes
albopictus.

Manifestasi Klinis
Kasus simptomatis dikategorikan sebagai :
1. Undifferentiated Febrile illness (UF),
2. Dengue Fever (DF),
3. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF),
4. Dengue Shock Syndrome (DSS), dan
5. Unusual Dengue (US), atau Expanded
Dengue Syndrome (EDS)

UF

DF

DHF

tidak dapat didiagnosis secara klinis dan diagnosis


berdasarkan serologic dan virology

merupakan penyakit yang masih ringan karena kematian


jarang terjadi, tetapi dapat terjadi perdarahan masif.

presentasi klinisnya mirip dengan DF. Gejala khasnya


adalah peningkatan permeabilitas vascular (kebocoran
plasma) yang dapat dibedakan dengan DF.
Terjadi kebocoran plasma pada kavitas pleural dan
peritoneal yang dapat menimbulkan efusi pleura dan
ascites.

DSS
UD

presentasi klinisnya sama dengan


DHF tetapi kebocoran plasma berat
dan terjadi shock.

merupakan kasus yang tidak biasa


dari DHF dengan shock
berkepanjangan atau DHF yang
timbul bersama dengan infeksi lain.
Kebanyakan kasus yang terjadi
adalah UF dan DF. DHF/DSS terjadi
pada 10% kasus simptomatis.

Definisi Kasus Suspek Infeksi


Dengue
Menurut WHO 2011, definisi kasus infeksi dengue
adalah pada pasien yang mengalami demam tinggi
dan diikuti oleh dua tanda atau gejala berikut:
sakit kepala
nyeri retro orbital
myalgia
atralgia
rash
manifestasi perdarahan: petekie, epistaksis,

perdarahan gusi, hematemesis, melena, atau tes


tourniquet yang positif
leukopenia (WBC < 5000 sel/mm3)
platelet count < 150000 sel/mm3
hematocrit meningkat 5-10%

Definisi Kasus DHF


Menurut WHO/SEARO 2011, kriteria DHF
adalah
kriteria mayor:
kebocoran plasma: peningkatan hematocrit

> 20%, ascites, efusi pleura


kriteria minor:
perdarahan atau tes tourniquet positif
platelet < 100000 sel/mm3

Pasien yang telah mengalami kebocoran plasma


tidak perlu menunjukkan manisfestasi
perdarahan, tes tourniquet positif, dan platelet <
100000 sel/mm3.

Derajat keparahan DHF dibagi menjadi :


DHF grade I
DHF grade II DHF
DHF grade III
DHF grade IV DSS

Manifestasi klinis DHF


Manifestasi klinis DHF dibagi menjadi 3 fase:
1. Fase demam (2-7 hari),
2. Fase kritis atau kebocoran (24-48 jam),
dan
3. Fase konvalesens (penyembuhan) (2-7
hari).fase demam terapi suportif dan
Pada
simptomatis.
Pada akhir fase demam mulai timbul
kebocoran plasma.
Pada fase kritis ascites dan efusi pleura
akan direabsorbsi kembali ke sirkulasi setelah
12-24 jam kebocoran berhenti, atau 36-48 jam
setelah shock timbul, atau 60-72 jam setelah

Manajemen Pasien

1. Fase Demam
Tanda

klinis:
demam
tinggi dengan tes tourniquet
positif + leukopenia
Diagnosis:
NS1Ag positif selama 5
hari pertama demam.
Sensitivitas
60-70%,
spesifisitas >99%.
PCR sensitifitas dan
spesitifitas baik, tetapi
mahal dan tidak tersedia
di beberapa tempat.
ELISA IgM, IgG test
tidak cocok untuk awal
diagnosis karena antibodi
baru meningkat setelah 5
hari demam.

Manajemen:
Menurunkan

demam:

paracetamol
Dukungan oral: diet lunak, susu,
jus buah, oralit, hindari cairan IV
jika tidak mengalami muntah
dan dehidrasi sedang/berat.
Follow

up CBC setiap hari


Segera kembali berobat ke
rumah sakit jika tidak terjadi
perbaikan klinis, penurunan
demam, nyeri abdomen
berat/muntah, perdarahan, tidak
bisa makan dan minum, tidak
keluar urin selama 4-6 jam.

2. Fase Kritis/Kebocoran
Deteksi dini kebocoran plasma/syok:
Trombosit antara 50.000 dan 100.000 sel/mm 3 -

awal kebocoran plasma.


Trombosit <50.000 sel/mm3 - kemungkinan besar
DHF dan biasanya menunjukkan bahwa kebocoran
plasma telah terjadi mungkin selama 24 jam.
Deteksi efusi pleura dan ascites dengan
pemeriksaan fisik pada fase kebocoran awal atau
bahkan saat syok sangat sulit.
Foto thorax - teknik dekubitus kanan lateral,
ultrasonografi atau serum albumin 3,5% gm
adalah cara alternatif untuk mendeteksi kebocoran
plasma.

Manajemen cairan IV yang tepat


selama periode kritis:
Larutan garam isotonik pada periode kritis,

misalnya 5% dekstrosa dalam normal saline


solution (NSS), 5% Ringer Asetat, 5% RingerLaktat. 5% dekstrosa dalam NSS lebih dipilih
untuk pasien dengan nafsu makan yang
buruk, mual/muntah dan sakit perut.
Jumlah total cairan yang dibutuhkan selama
periode
kritis
24-48
jam
diperlukan
pemeliharaan + 5% defisit (M + 5% D),
termasuk cairan oral dan IV. Pada pasien DSS
durasi cairan IV sekitar 24-36 jam dan pada
non-shock DHF sekitar 48-60 jam.

Cairan resusitasi IV untuk DHF grade III yaitu


hanya 10 ml/kg/jam. Jumlah cairan IV yang
lebih besar dibutuhkan untuk DHF kelas IV,
tetapi jumlah harus dikurangi menjadi 10
ml/kg/jam segera setelah tekanan darah pulih.
Tingkat cairan IV untuk pasien non-shock (DHF grade I

dan II) harus dimulai pada tingkat yang lebih lambat


jika kebocoran masih dalam tahap awal. Tingkat
cairan IV harus lebih cepat ketika kebocoran terus
berlanjut selama beberapa waktu, yaitu trombosit
<50.000 sel/mm3.

Jika respon klinis tidak baik (re-shock, tanda-tanda


vital tidak stabil, tidak mampu untuk mengurangi
tingkat cairan IV) selidiki dan perbaiki data
laboratorium berikut:
A - Asidosis - gas darah (kapiler atau vena), jika ada,

periksa fungsi hati dan ginjal. Koreksi asidosis benar


ketika pH darah <7,35 dan HCO3 <15 mEq / L.
B - Bleeding (Perdarahan) - Ht: jika tinggi, dekstran
diindikasikan, jika naik rendah atau tidak,
pertimbangkan transfusi darah dan pemberian
vitamin K intravena.
C - Ca dan elektrolit lainnya: Na, K. Berikan ca
glukonat 1 ml/kg/dosis diencerkan dua kali dengan
cairan IV dan dorong IV perlahan-lahan. Dosis
maksimum adalah 10 ml/dosis.
S - blood Sugar (Gula darah)

3. Fase Penyembuhan
Hentikan cairan IV bila

ada
tanda-tanda
pemulihan:
ruam
pemulihan,
gatal,
peningkatan nafsu
makan atau> 30 jam
setelah syok dan>
60
jam
setelah
kebocoran plasma.
Sinus
bradikardia
dapat diamati pada
beberapa pasien.

Kalium

suplemen
mungkin
diperlukan
dalam fase ini atau
konsumsi
buah
(pisang, jeruk) dan jus
buah
yang
kaya
kalium.
Pada orang dewasa,
periode
pemulihan
dapat
memanjang
selama 2-4 minggu
dengan fatigue.

Manajemen Volume Berlebihan


Langkah-langkah dalam pengelolaan kelebihan cairan:
Deteksi dini tanda dan gejala kelebihan cairan.

Tanda-tanda awal

overload cairan:
kelopak mata
bengkak, takipnea,
perut buncit +
perut tidak nyaman.

*Kateter kemih harus


dimasukkan dalam setiap
pasien dengan tanda
akhir overload cairan.

Tanda akhir dari kelebihan

cairan (indikasi untuk diuretik


(furosemid 1 mg/kg/dosis)) :
batuk, gangguan pernapasan
(dyspnea / ortopnea), perut
sangat tegang, tekanan nadi
lebar (beberapa mungkin
memiliki penyempitan
tekanan nadi), pulse kuat
dan melompat-lompat,
hipertensi (fase reabsorpsi),
tanda-tanda paru-paru yang
abnormal (krepitasi, ronki,
mengi).

Mengetahui

status pasien: waktu setelah


shock atau saat setelah kebocoran plasma.
Jika pasien masih dalam tahap kebocoran,
bolus dekstran dianjurkan 15-30 menit
sebelum kelola furosemide.
Status pasien pada waktu shock atau nonshock. Jika pasien berada dalam keadaan
shock, bolus dekstran dianjurkan selama 1530 menit sebelum diberikan furosemide.
Nilai dan koreksi komplikasi yang terkait:
perdarahan,
gangguan
elektrolit
/
metabolisme
/ asam-basa,
ginjal?
Nilai
tanda vitalgagal
setiaphati
15 /menit
dalam
setelah pemberian furosemide.

Terima Kasih