Anda di halaman 1dari 35

KOLAM STABILISASI &

LAGOON AERASI
Oleh :
Fithri Zakiyah V. (082.12.024)

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS ARSITEKTUR LANSEKAP DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
2016

1. Kolam Stabilisasi

2. Lagoon Aerasi

1. KOLAM STABILISASI
a. Pengantar Kolam Stabilisasi

b. Fungsi, Prinsip Dasar, dan Jenis


c. Skema Kolam Stabilisasi

d. Mekanisme Proses
e. Karakteristik, Keunggulan, dan Kelemahan

f. Contoh Soal Kolam Stabilisasi

a. Pengantar Kolam Stabilisasi (1)


Kolam stabilisasi ini berupa kolam diam yang berisi limbah cair.
Di dalamnya terdapat mikroba yang mendegradasi senyawa organik dari limbah cair dan
menghasilkan CO2 + NH3 + materi inorganik (SO4-2, PO4-3) serta sel baru mikroba sebagai
produknya akhirnya.
Selain mikroba, terdapat pula alga yang memanfaatkan CO2 + material inorganik +
cahaya matahari untuk memproduksi DO dan sel baru alga melalui proses fotosintesis.
Sehingga dalam proses ini alga dan mikroba memiliki hubungan sinergis yang saling
menguntungkan.
Walaupun kebanyakan kolam stabilisasi mempunyai pembuangan effluen langsung
menuju ke badan air penerima, namun tren terbaru menggunakan pengolahan lebih baik
seperti intermittent sand beds yang dapat menghilangkan pertumbuhan alga dari effluen.
Sehingga tingkat pengolahan menjadi lebih baik.
Kolam stabilisasi banyak digunakan baik pada pengolahan domestik maupun industri,
khususnya pada perkotaan kecil dan industri musiman yang menghasilkan limbah cair.

a. Pengantar Kolam Stabilisasi (2)


Gambar 1. Sistem Kolam Stabilisasi

a. Fungsi, Prinsip Dasar, dan Jenis


Fungsi
Memperbaiki kualitas air limbah dengan mengandalkan proses-proses alamiah dalam
mengolah air limbah dengan memanfaatkan keberadaan miroba dan alga untuk mereduksi
bahan pencemar organik yang terkandung dalam air limbah.

Prinsip Dasar
Menyeimbangkan dan menjaga fluktuasi beban organik dan beban hidrolis limbah air
Mengendapkan partikel padatan dari limbah di kolam pertama
Memanfaatkan proses fotosistesis yang dilakukan oleh alga sebagai sumber utama
oksigen serta proses degradasi bahan organik secara biologis yang dilakukan oleh
mikroorganisme
Mengurangi organisme patogenik melalui beberapa proses interaktif.
Jenis

Berdasarkan kandungan oksigen di dalamnya, kolam stabilisasi terbagi menjadi :


1. Kolam Aerobik
: mengandung O2 di seluruh kedalaman kolam
2. Kolam Anaerobik : tidak mengandung O2 di seluruh kedalaman kolam
3. Kolam Fakultatif
: O2 berada di bagian permukaan kolam, namun tidak terdapat
di bagian dasar kolam
Jenis kolam yang banyak digunakan adalah kolam fakultatif karena memiliki kapastitas yang
besar serta bau yang dihasilakan lebih sedikit karena bagian permukaan kolam bersifat aerob.

Kolam Fakultatif (1)


Pada kolam ini, bahan organik diubah menjadi CO2, NH3, materi inorganik (SO4-2-2 dan
PO4-3-3) serta sel baru mikroba. CO2 dan materi inorganik dimanfaatkan oleh alga untuk
memproduksi DO dan sel alga baru. DO yang dihasilkan alga dimanfaatkan oleh
mikroba untuk mendegradasi limbah organik secara aerobik.
Jumlah O2 tergantung dari beban organik dan intensitas cahaya matahari. Konsentrasi
DO pada siang hari sangat tinggi karena adanya fotosintesis oleh alga sedangkan pada
malam hari sangat rendah karena DO digunakan oleh mikroba dan alga.
Karena fotosistesis hanya berlangsung di bagian permukaan kolam yang menerima
penetrasi cahaya matahari, maka pada bagian dasar kolam tercipta kondisi anaerobik.
Pada lapisan ini bahan organik didegradasi oleh bakteri secara anaerobik. Selain itu juga
terjadi degradasi berbagai jenis mikroba penyebab penyakit.
Pada kolam ini, bau tidak menjadi masalah serius kecuali jika saat kondisi berangin yang
menyebabkan gelombang pada permukaan kolam.
Ketika alga dan sel-sel mikroba mati, mereka akan lyse dan mengendap di dasar kolam
dimana terjadi proses dekomposisi anaerobik.

Kolam Fakultatif (2)

Untuk beban yang terdapat pada kolam fakultatif biasa, akumulasi sludge sangat rendah
bahkan kemungkinan hanya beberapa milimeter per tahun.

Kira-kira 1/3 hingga 1/2 karbon organik dari influen pada limbah cair yang belum terolah
disintesis oleh mikroba dan alga yang ikut hilang bersama effluen, kecuali jika digunakan
pengolahan yang lebih baik.
Persen penyisihan BOD5 berdasarkan sampel effluen yang telah disaring adalah 80% 90%. Sedangkan persen penyisihan BOD5 pada sampel effluen tanpa disaring adalah
45% 65%. Persen penyisihan Coliform pada sampel tanpa disaring ini adalah sebesar
85% - 95%.
Kedalaman kolam fakultatif adalah 0.91 2.44 m dengan kedalaman air sekitar 0.91
1.83 m. Kolam biasanya berbentuk lingkaran atau persegi panjang seperti pada gambar
1 (a) dan (b). Umumnya, terdapat dua atau lebih kolam disediakan dan pipa disusun
baik secara seri maupun parallel. Pipa paralel digunakan saat beban organik mencapai
28 39.2 kgBOD/ha.hari. Sedangkan pipa seri digunakan saat pada kolam pertama
mempunyai beban organik sekitar 84.1 89.7 kgBOD5/ha.hari dan pada kolam hilir 28
39.2 kgBOD5/ha.hari.

Kolam Fakultatif (3)

Persen efisiensi penyisihan BOD yang diharapkan adalah 80% - 90% baik untuk sampel
influen yang belum maupun sampel effluen yang telah disaring.
Kedalaman minimum pada kolam stabilisasi adalah 1 m. Kedalaman tambahan dapat
digunakan untuk mengganti sludge storage. Kedalaman 1 m ini digunakan untuk
mengontrol munculnya pertumbuhan vegetasi. Jika kedalaman kolam terlalu besar, maka
luas permukaan tidak akan mencukupi terjadinya proses fotosintesis serta membuat
kedalaman terstratifikasi saat cuaca panas. Tabel 1 menunjukkan guideline rancangan
kedalaman untuk kolam stabilisasi
Bagian dasar dan samping kolam harus bersifat kedap air dan jika tanah berpori, bagian
yang berlempunglah yang digunakan. Bagian inlet kolam dirancang sedemikian rupa agar
influen dapat terdistribusi ke dalam kolam. Pada bagian outlet, struktur dibuat berdinding
untuk mencegah meterial-material yang mengapung keluar bersama effluen. Tanggul
biasanya memiliki slope 1: 3 atau kurang dan bagian dalam slope dilindungi oleh riprap
dari erosi gelombang sedangkan bagian luarnya dilapisi rumput untuk mencegah erosi
akibat aliran permukaan. Drainase permukaan harus dikeluarkan melalui tanggul atau
selokan. Sedangkan freeboard harus dibuat setinggi 0.91 m di atas permukaan
maksimum air dan kolam harus dirancang agar level air dapat bervariasi (150 mm) untuk
membantu mengendalikan nyamuk.

Kolam Fakultatif (4)


Tabel 1. berikut berisi guideline rancangan untuk kedalaman kolam stabilisasi
No

Kedalaman (m)

1.25

Kondisi
-

Umumnya pada kondisi ideal


Temperatur sangat seragam
Iklim tropis atau subtropis
Padatan mengendap minimum

Sama dengan kedalaman 1 m, namun bentuk padatan


yang mengendap lebih muah mengendap
Desain permukaan berdasarkan kedalaman 1 m dan 0.25
m untuk volume tambahan

1.5
-

>2

Sama dengan kedalaman 1.25 m kecuali pada temperatur


yang bervariasi terhadap musim secara signifikan dan
terutama pada fluktuasi debit harian.
Deain permukaan berdasarkan kedalaman 1 m
Untuk limbah cair terlarut yang terdegradasi secara
perlahan dan waktu tinggal sebagai pengontrol.

Kolam Fakultatif (5)


Berikut adalah rumus mencari volume dari kolam stabilisasi fakultatif :
Rumus : Menghitung Volume Kolam

V C.Q.Si 35T f. f '.............18.1


Dimana :
V : volume kolam (m33)
C : 3.5 x 10-5
Q : debit air limbah (L/hari)
Si : BOD ultimate inlet atau COD (mg/l) inlet
f : faktor toksisitas alga, untuk limbah perkotaan :1 ; limbah industri :bervariasi
f : sulfida atau COD immediate ; f=1 untuk konsentasi ion SO4-2 < 500 mg/L
: koefisien temperatur (1.036-1.085)
koefisien temperatur yang tinggi (1.085) menunjukkan bahwa kolam sangat sensitif
terhadap perubahan temperatur
T : suhu air rata-rata (oC)

Kolam Fakultatif (6)


Berikut adalah rumus mencari luas dari kolam stabilisasi fakultatif :

Rumus : Menghitung Luas Kolam

A C.Q.Si 1.085(35T ) f . f '................18.2


Dimana :
A : luas kolam (ha), untuk kedalaman kolam + sludge storage (1.5 m + 0.3 m)
C : 2.299 x 10-3
Q : laju (MGD) atau (MLD)

c. Skema Kolam Stabilisasi


Gambar 2. Skema Kolam Stabilisasi

d. Mekanisme Proses
Gambar 3. Mekanisme Proses Kolam Stabilisasi

e. Karakteristik, Keunggulan, dan Kelemahan


Tabel 2. berikut berisi karakteristik, keunggulan, dan kelemahan kolam stabilisasi
Karakteristik

Keunggulan

Kelemahan

Terdiri dari 3 unit kolam, yaitu

Effluennya dapat

Memerlukan lahan yang

kolam anaerobik, kolam fakultatif,

digunakan untuk keperluan

luas.

dan kolam maturasi.

irigasi dan kolam ikan.

Kolam pertama adalah kolam

Teknologi sederhana, tidak

Perlu melakukan

anaerobik, kemudian kolam

memerlukan O&M yang

pengurasan lumpur secara

fakultatif, dilanjutkan kolam

rumit.

berkala.

maturasi.
Perbedaan ketiga kolam terdapat

Membutuhkan biaya

pada kedalamannya. Kolam

sedikit.

anaerobik (2,5-4) m, kolam


fakultatif (1,5-2) m, dan kolam
maturasi 1 m.
Sumber : Joy Irman, Perencanaan Teknis Sistem Pengolahan Air Limbah (IPAL) Secara Fisik

f. Contoh Soal Kolam Stabilisasi

Contoh Soal

Sebuah sistem kolam stabilisasi dirancang untuk populasi 4800 orang dan
sistem ini mempunyai pengolahan sekunder. Pengolahan primer terdiri dari
primary clarifier dan anaerobic digester. Diketahui data yang berkaitan :
Laju rata-rata = 380 L/org.hari. BOD5 influen = 200 mg/L. Primary clarifier
menyisihkan 33% BOD5. BOD5 = 0.68 BODu. Sebanyak empat kolam
digunakan secara paralel dengan rasio panjang : lebar = 2 : 1 dan
temperatur pengoperasian pada musim dingin adalah 45oF. Nilai dai f dan f
adalah 1. Tentukan :
1. Luas keseluruhan dari kolam
2. Beban BOD5 yang digunakan
3. Dimensi dari kolam

f. Contoh Soal Kolam Stabilisasi

Jawaban

A = 2.29 x 10-3.Q.Si
Q = (4800 org)(380 L/org.harii) = 1824000 l/hari = 1.824 MLD
Primary effluent mempunyai = 200(1-0.33) = 134 mg/lBOD5.
BODu = 134 / 0.68 = 197 mg/l
T = (45-32) 5/9 = 7.2
1. A = 2.29 x 10-3.1.84.197 = 7.98 ha
2. - Beban BOD5 yang digunakan = (4800 org)(380 l/org.hari)
(134 mg/l)(gm/1000 mg) x (kg/10000gm) = 244 kg/hari
-. Beban yang digunakan = ((244 kg/hari)(1/7.98 ha) = 30.6 kgBOD5/ha.hari
3. Luas tiap kolam = (7.98 ha)(10000m2/ha) x (1/4) = 19950 m2.
(2L)(L) = 19950 m2
L = 99.9 m
P = 2 x 99.9 = 200 m

2. LAGOON AERASI
a. Pengantar Lagoon Aerasi

b. Jenis-jenis Lagoon Aerasi


c. Fakultative Lagoon
d. Aerobic Lagoon
e. Contoh Soal Lagoon Aerasi

a. Pengantar Lagoon Aerasi (1)


Lagoon aerasi ini berupa kolam diam dengan aerator buatan, contohnya
floating pump-type dan dilengkapi dengan tangki sedimentasi serta kolam
stabilisasi fakultatif sebagai final clarifier.
Padatan biologis yang terbentuk di lagoon aerasi akan dihilangkan dari effluent
melalui tangki sedimentasi dan kolam stabilisasi.
Kolam dikuras secara berkala, biasanya setiap 2 atau 3 tahun sekali dan
digested solid akan dihilangkan serta dibuang di sanitary landfill.
Lagoon aerasi pada dasarnya merupakan proses nonrecycle dari lumpur aktif
dan umumnya mempunyai konsentrasi biological solid 200-500 mg/L.
Lagoon aerasi banyak digunakan untuk pengolahan limbah cair industri karena
biayanya lebih murah dibandingkan activated sludge namun memerlukan lahan
yang sangat luas.
Kebanyakan, industri awalnya menggunakan kolam stabilisasi dan jika beban
limbah meningkat aerasi buatan digunakan untuk mengubah beberapa kolam
menjadi lagoon aerasi

a. Pengantar Lagoon Aerasi (2)


Gambar 4. Sistem Lagoon Aerasi

b. Jenis-jenis Lagoon Aerasi

Berdasarkan kandungan oksigennya, lagoon aerasi terbagi menjadi :


Lagoon Aerasi

Facultative Lagoon

Aerobic Lagoon

Gambar 5. Jenis-jenis Lagoon Aerasi

c. Fakultative Lagoon (1)

Pada lagoon fakultatif, DO berada di bagian permukaan kolam sedangkan pada


bagian dasarnya tidak terdapat DO.

Pada kolam ini, pengadukan tidak cukup untuk menjaga padatan biologis dalam
suspensi dan endapan dari padatan yang terbentuk di dasar lagoon. Padatan ini
terbentuk dari proses dekomposisi anaerobik dan jarang dihilangkan, biasanya tiap
beberapa tahun.

Kolam ini tidak memiliki final clarifier kecuali jika dibuat aerobic lagoon.

Adanya kandungan padatan pada effluen sering menjadikan kolam ini jarang
digunakan.

Lagoon fakultatif juga dianggap sebagai complete mixed reactor tanpa sirkulasi
biomassa.

Padatan dalam air limbah mengendap di sekitar inlet dan partikel biologis serta
koloidnya akan menggumpal membentuk selimut lumpur tipis di dasar lagoon. Hal
sesuai dengan yang dijelaskan pada gambar 6.Batas antara zona aerobik dan
anaerobik tidak tetap tergantung dari adanya pengadukan oleh angin serta penetrasi
dari sinar matahari.

c. Fakultative Lagoon (2)


Gambar 6. Diagram Sistem Biologis yang terdapat pada Lagoon Fakultatif

d. Aerobic Lagoon (1)

Pada kolam ini ditambahkan oksigen yang cukup untuk menjaga keberadaan
DO di seluruh kedalaman kolam dan pengadukan yang cukup untuk menjaga
padatan biologis pada suspensi.
Digunakan bak pengendap atau kolam stabilisasi fakultatif sebagai final
clarification
Membutuhkan lebih sedikit lahan dibandingkan kolam stabilisasi.
Biaya konstruksi dan operasi lebih murah dibandingkan pengolahan lumpur
aktif dan lebih mahal dibandingkan kolam stabilisasi. Namun luas area yang
dibutuhkan lebih besar dibandingkan lumpur aktif.
Kebutuhan oksigen diatasi dengan penggunaan mechanichal surface aerators
seperti floating pump-type dan terkadang digunakan pipa perforasi pada
bagian dasar kolam untuk menyebarkan compressed air.

d. Aerobic Lagoon (2)

Lagoon aerasi merupakan sistem pengolahan lumpur aktif dengan pengadukan sempurna
tanpa recycle.
Kolam ini biasanya memiliki bentuk persegi panjang dengan rasio panjang : lebar yaitu 2:
1.
Sedikitnya dibutuhkan 2 kolam aerasi untuk fleksibilas serta sistem perpipaan yang
disusun secara paralel atau seri.
Drainase permukaan harus dikeluarkan melalui tanggul atau selokan.
Tanggul dibuat dengan kemiringan 1:3 atau kurang. Selain itu bisa digunakan riprap atau
bangunan lain untuk melindungi kolam dari erosi gelombang.
Slope terluar harus ditanami rumput untuk mencegah erosi yang diakibatkan oleh aliran
air hujan.
Bagian dasar kolam dan samping harus diberi lapisan lempung jika tanah bersifat tembus
air.
Bagian inlet kolam dirancang sedemikian rupa agar influen dapat terdistribusi ke dalam
kolam. Pada bagian outlet, struktur dibuat berdinding untuk mencegah meterial-material
yang mengapung keluar bersama effluen dan freeboard minimal dibuat setinggi 0.91 m.
Lapisan beton harus dibuat di bawah aerator untuk melindungi bagian bawah dari erosi.
Final clarifier atau kolam stabilisasi harus disediakan untuk menghilangkan padatan
biologis dari effluen akhir.
Kedalaman kolam berkisar antar 2.43 4.88 m.

d. Aerobic Lagoon (3)


dS

Reaksi orde pertama sebagai laju penyisihan : t K .S t ...........(18.3)


dt
Neraca Massa :
[Akumulasi] = [Input] [Pengurangan saat reaksi] [Output](18.4)
Diasumsikan bahwa sistem tercampur sempurna, sehingga :
V (dS t ) Q.Si .dt V dS t Growth Q.dS t .dt...................................(18.5)

V (dSt ) Q.Si .dt VKSt dt Q.dS t .dt.........................................(18.6)


Jika persamaan 18.6 dibagi dengan V.dt maka didapatkan persamaan :
dS t Q
Q

S i K .S t
S t ...............................................(18.7)
dt
V
V

Pada saat steady, akumulasi substrat di kolam stabilisasi dSt/dt = 0, sehingga


diperoleh persamaan berikut :
St
1

..........................................................................(18.8)
S i 1 K . i

d. Aerobic Lagoon (4)


Persamaan 18.8 digunakan untuk penentuan konsentrasi substrat dan nilai K
ditentukan setelah beberapa hari dengan menggunkaan nilai waktu tinggal,
konsentrasi substrat, dan konsentrasi zat padat biologis. Biasanya diperlukan 4-5
data dan nilai K ditentukan dengan persamaan berikut :
K

Si St
...........................................................................(18.9)
St . i

sumbu x. Slope
Atau plot hubungan antara Si-St pada sumbu y dan Si pada
i
sebagai nilai K seperti yang ditunjukkan pada gambar 7 yaitu grafik penentuan
nilai K
Penentuan nilai Y dan konstanta endogenasi seperti pada Gambar 8 dapat
digunakan persamaan berikut yang diusulkan oleh Reynolds dan Young (1966)
Si St
k
1 1
e
...............................................(18.10)

Y
X . i
Y c

Konstanta endogenasi ke dan konstanta laju kecepatan reaksi, K dipengaruhi oleh


temperatur. Nilai K sebagai fungsi derajat temperatur dapat dilihat pada
persamaan berikut :
K T2 K T1 . T2 T1 ................................................................(18.11)

d. Aerobic Lagoon (5)

Nilai ke dapat mengikuti persamaan 18.11 dimana ke2 = ke1 (T2-T1)


Temperatur operasi kolam ditentukan oleh temperatur limbah influen, panas yang
hilang karena konveksi, radiasi, evaporasi, serta panas yang diperoleh dari radiasi
matahari. Nilai temperatur kolam lagoon dapat ditentukan dari persamaan berikut :
fA(Tw Ta )
Ti Tw
....................................................(18.12)
Q

Keperluan oksigen untuk proses oksidasi dapat ditentukan dengan persamaan


berikut :
Or Y '.S r k 'e . X On ...................................(18.13)

d. Aerobic Lagoon (6)


Dimana :
Simbol
dSt/dt

Keterangan

Satuan

Laju pemanfaatan substrat, massa/(volume)


(waktu)

Konstanta laju reaksi

St

Konsentrasi substrat pada waktu tertentu,


massa/volume

Konsentrasi rata-rata massa sell selama reaksi

Waktu detensi berdasarkan aliran influen

Koefisien Yield

Ke

Konstanta endogenous, /waktu

Waktu tinggal sell rata-rata, waktu

KT2

Konstanta laju reaksi pada temperatur T2

KT1

Konstanta laju reaksi pada temperatur T1

Koefisien koreksi temperatur (1.06-1.10)

C
C
C

d. Aerobic Lagoon (7)

Simbol

Keterangan

T1

Temperatur influent air limbah

Tw

Temperatur air pada lagoon

Ta

Temperatur udara

Luas Lagoon

Debit linfluent air limbah

Faktor percobaan

Satuan

m2
m3/hari

Or

Total oksigen yang dibutuhkan

(kg/hari)

Koefisien oksigen, kg oksigen yang diperlukan


per kg BOD5 atau COD yang disisihkan

(kg/kg)

Sr

Penyisihan substrat perhari, jumlah kg BOD5


atau COD yang disisihkan perhari

(kg/hari)

ke

Koefisien endogenous oksigen, kg oksigen yang


diperlukan per kg sell yang dirusak perhari

Massa dari padatan biologis pada lagoon

kg

On

Oksigen yang dibutuhkan untuk nitrifikasi

kg

(kg/kg.hari)

d. Aerobic Lagoon (8)


Gambar 7. Grafik Penentuan Nilai K

Gambar 8. Grafik Penentuan Nilai Y dan ke

Si St
X .t

Si St

Slope = -K
Slope = 1Y

ke

Intercept = Y

St t

1
t

e. Contoh Soal Lagoon Aerasi (1)

Contoh Soal
Sebuah lagoon aerasi akan dirancang untuk pengolahan air limbah
suatu kota. Populasinya adalah sebesar 5200 orang dan lagoon aerasi
disediakan sebagai pengolahan sekunder. Diketahui data yang
berkaitan yaitu : Kebutuhan air = 380 L/org.hari, BOD5 influen = 200
mg/L, BOD5 effluen = 20 mg/L. K = 2,1 /hari. Oksigen yang dibutuhkan
= 1.6 kg/kg dan primary clarifier dapat menyisihkan 33% dari BOD5
influen. Tentukan :
1. Waktu reaksi yang dibutuhkan
2. Volume total lagoon
3. Dimensi lagoon, jika dua lagoon paralel digunakan dengan rasio
panjang : lebar = 2 : 1 dan kedalaman 3 m
4. Oksigen yang dibutuhkan dan tenaga yang diperlukan jika aerator
mekanik menyediakan 0.949 kg O2 /kW.jam
5. Intensitas power pengadukan. Apakah mencukupi?

e. Contoh Soal Lagoon Aerasi (2)

Jawaban

1. Waktu reaksi diketahui :

Si St
S t . i

Yang dapat disusun kembali menjadi :

Si St
K .S t

BOD5 yang terdapat pada kolam = 200(1 300) = 134 mg/L


Jika nilai disubtitusi dengan persamaan di atas, maka akan menjadi :

134 20
2.71hari
(2.10 / hari )(20)

e. Contoh Soal Lagoon Aerasi (3)

Jawaban
2. V Q. i
Q = (5200 org)(380 l/org.hari)(m3/1000l) = 1976 m3/hari
V = (1976 m3/hari)(2.71 hari) = 5355 m3
V tiap lagoon = 5355 / 2 = 2678 m3
3. A tiap lagoon = (2678 m3 / 3.0 m) = 893 m2
(2L) (L) = 893 m2
L = 21.1 m
P = (21.1) (2) = 42.2 m
4. BOD5 yg digunakan tiap hari = (5200 org) (380 l/org.hari)(134 mg/l)
(gm/1000 mg)(kg/1000 gm) = 265 kg/hari
Oksigen yang diperlukan = (265 kg/hari)(1.6 kg O22/kg) = 424 kg/hari
5. Power yang dibutuhkan = (424 kg/hari)(hari/24 jam)(kW.hari/0.949 kg) = 18.6 kW
Intensitas power = (18.6 kW)/(5.355 x 1033 m33) = (3.48 kW/1000 m33)
Karena nilainya lebih kecil dari 3.95 kW/1000 m3, maka pengadukan tidak mencukupi
dan membutuhkan tambahan power.
Kebutuhan power = (3.95 kW/1000 m33)(5355 m33) = 21.2 kW

DAFTAR PUSTAKA
Fadilah Rifka, Herto D.A. Analisis Kelimpahan dan Keragaman Mikroalga di
Kolam Stabilisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah Betrdasarkan Analisis
Biologi Konvensional dan Molekuler (Studi Kasus : IPAL Bojongsoang).
Institut Teknologi Bandung
http://
www.slideshare.net/metrosanita/bangunan-pengolah-air-limbah-secara-anae
robik?next_slideshow=1
http://
www.slideshare.net/metrosanita/perencanaan-teknis-sistem-pengolahan-air-li
mbah-ipal-secara-fisik
Ir. Idaman Nusa Said, M. Eng, Teknologi Pengolahan Air Limbah Dengan
Proses Biofilm Tercelup.
Reynolds/Richards. 2nd Edition. Unit Operations and Processes in
Environmental Engineering