Anda di halaman 1dari 42

BAGAIMANA AGAMA

MENJAMIN KEBAHAGIAAN?
Oleh:

KELOMPOK X / MATEMATIKA 2014-C


1. SASANTI YUNI KUSUMANINGRUM
(14030174070)
2. PUTRI INTAN PERMATASARI
(14030174083)
3. KHOFIDHOTUR ROFIAH
(14030174084)

Menelusuri Konsep dan Karakteristik


Agama sebagai Jalan Menuju Tuhan dan
Kebahagiaan
Berikut pendapat dari beberapa ahli mengenai makna
kebahagiaan:
1. Al-Alusi : bahagia adalah perasaan senang dan gembira
karena bisa mencapai keinginan atau cita-cita yang dituju
dan diharapkan
2. Ibnul Qayyim al-Jauziyah : kebahagiaan adalah perasaan
senang dan tentram karena hati sehat dan berfungsi
dengan baik.

3. Al Ghazali : bahagia terbagi menjadi dua, antara lain:


Bahagia hakiki adalah kebahagiaan ukhrawi yang dapat
diperoleh dengan modal iman, ilmu dan amal.
Bahagia majusi adalah kebahagiaan duniawi yang dapat
diperoleh, baik itu orang yang beriman maupun yang tidak
beriman

Beberapa karakteristik hati yang sehat diantaranya:

1.

Selalu beriman kepada Allah SWT dan menjadikan Al Quran sebagai obat
untuk hati.

2.

Selalu berorientasi ke masa depan dan akhirat.

3.

Selalu mendorong pemiliknya untuk kembali kepada Allah SWT.

4.

Selalu mengingat Allah SWT

5.

Selalu menyadarkan diri apabila melupakan Allah SWT karena urusan dunia.

6.

Selalu mendapatkan ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan ketika


menjalankan sholat.

7.

Selalu memperhatikan waktu agar tidak terbuang sia-sia.

8.

Selalu berorientasi kepada kualitas amal selama hidup.

Faktor-faktor yang menyebabkan hati


manusia menjadi sakit
1. Banyak bergaul dengan orang-orang yang tidak baik
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mengamati orang yang
baik dapat ikut terbawa jelek karena bergaul dengan temantemannya yang berperlaku jelek. Allah berfirman, Teman-teman pada
hari itu sebagian mereka atas sebagian menjadi musuh kecuali orangorang yang bertakwa. (QS Al-Ahzab:67). Masya Allah, betapa besar
pengaruh pergaulan dalam kehidupan sesorang. Darisitulah kita harus
benar-benar pandai dan selektif dalam berteman.

2. Berangan-angan
Berangan-angan erat kaitannya dengan menghayal dimana selalu bermimpi
namun tanpa diikuti dengan usaha dan ikhtiar. Angan-angan adalah modal
para pencundang dan merugi. Melalui pengertian inilah kita sering
dibingungkan oleh perbedaan antara khayalan dan impian. Khayalan adalah
lamunan tentang kehidupan yang lebih baik tanpa ada perjuangan dan
usaha. Sedangkan impian atau cita-cita adalah visi masa depan yang
diperjuangkan melalui proses yang rasional dan sistematis.

3.

Menggantungkan diri kepada selain Allah


Menggantungkan diri kepada selain Allah adalah perkara yang
paling merusak hati manusia. Allah berfirman, Mereka menjadikan
illah selain Allah agar mereka memberikan kemuliaan. Sekali-kali
tidak, mereka akan mengingkari karena dibadahi dan mereka akan
menjadi musuh.(QS Maryam:82). Manusia memiliki kesempatan
yang sama untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa perantara

4.

Terlalu kenyang
Kekenyangan terbagi menjadi dua, antara lain kenyang dengan
barang haram li zatihi, misalnya kekenyangan karena makan
bangkai, darah, daging babi, burung yang bercengkraman kuat,
anjing,atau makan binatang yang bertaring. Kemudian kekenyangan
dengan makan perkara yang haram li ghairihi, misalnya
kekenyangan karena makan makanan hasil pencurian, barang yang
digasab, atau barang yang didapat tanpa ada rida dari pemiliknya.
Kenyang juga dapat dikarenakan makan sesuatu yang mubah tetapi
secara berlebihan, seperti berlaku israf (berlebihan) dalam makan
makanan yang halal. Perilaku ini termasuk tidak sehat, merusak
organ tubuh, dan merusak hati.

5.

Terlalu banyak tidur


Banyak tidur dapat mematikan hati, memberatkan badan,
menyia-nyiakan waktu, dan dapat menimbulkan kelupaan dan
kemalasan.

6.

Berlebihan melihat hal-hal yang tidak berguna


Berlebihan melihat hal-hal yang tidak berguna dapat
berpengaruh terhadap kesucian hati. Fitnah itu awalnya dari
pandangan mata, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis bahwa,
Pandangan mata itu adalah racun yang dilepas dari panah Iblis.
Barangsiapa dapat mengendalikan matanya karena Allah, maka
Allah akan memberinya kenikmatan yang ia rasakan dalam hatinya
sampai pada hari yang ia bertemu dengan-Nya. Peristiwa besar
biasanya berawal dari kelebihan pandangan, betapa banyak
pandangan yang berakibat kerugian besar yang tak terkirakan

7.

Berlebihan dalam berbicara


Berlebihan dalam berbicara dapat membuka pintu-intu
kejelekkan dan tempat masuknya setan. Mengendalikan berlebihan
bicara dapat menutup pintu-pintu itu.

Menanyakan Alasan Mengapa Manusia Harus


Beragama dan Bagaimana Agama Dapat
Membahagiakan Umat Manusia?
Kunci beragama terletak pada fitrah manusia dimana sudah melekat
dalam diri manusia dan menjadi karakter manusia itu sendiri. Menurut
teologi tertentu, setiap manusia lahir membawa dosa warisan sehingga di
dunia ini manusia diberi tugas untuk membebaskan diri dari dosa.
Berbeda menurut teologi Islam yang mengatakan bahwa setiap manusia
dilahirkan dalam keadaan suci dari dosa dan telah beragama Islam. Tugas
manusia adalah berupaya untuk terus menjaga kesucian dan keimanan
hingga kembali ke Allah.

Kebutuhan Manusia akan Agama


Kefitrahan agama bagi manusia menunjukkan bahwa manusia tidak
dapat melepaskan diri dari agama, karena agama merupakan kebutuhan
fitrah manusia. Selama manusia memiliki perasaan takut dan cemas,
selama itu pula manusia membutuhkan agama. Kebutuhan manusia
akan agama tidak dapat digantikan dengan kemampuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang juga dapat memenuhi kebutuhan
manusia dalam aspek material. Kebutuhan manusia akan materi tidak
dapat menggantikan peran agama dalam kehidupan manusia.

Kodrat Manusia Beragama


1.

Tentang doa keselamatan

Setiap orang pasti ingin mendapatkan keselamatan. Ia merasa dirinya selalu


terancam. Karena ancaman tersebut ia ingin berpegangan dan menyandarkan
diri kepada sesuatu yang ia anggap sebagai yang Maha Ghaib dan Maha Kuasa.
Sesuatu yang Maha Ghaib tadi tentu saja bukan sesuatu yang setingkat
dengannya, apalagi lebih rendah. Sesuatu yang lain yang bukan dirinya sendiri
itu Zat Yang Maha Kuasa, Maha Agung, Maha Suci dan sebagainya. Karena hanya
dengan perasaan berhadapan dengan Zat Yang Maha Kuasa dan Maha Agung, ia
mau tunduk dan patuh dengan hormat dan khidmat.

2.

Tentang kebahagiaan abadi

Setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang ia


harapkan bukanlah kebahagiaan yang sementara tetapi kebahagiaan abadi.
Kebahagiaan ini akan diperoleh seseorang bukan di dunia, tetapi di akhirat
kelak. Kebahagiaan inilah yang dijanjikan oleh agama.

3.

Memerhatikan tubuh kita sendiri

Apabila kita merenungkan dan memperhatikan tubuh kita sendiri


sebagai manusia dengan kerangka dan susunan badan yang indah
dan serasi dengan indra hati dan otak yang cerdas untuk menanggapi
segala sesuatu di kanan kiri kita, akan sadar bahwa kita bukan ciptaan
manusia, tetapi ciptaan Sang Maha Pencipta, Zat Yang Maha Ghaib
dan Mahakuasa.

4.

Apabila kita mendapatkan persoalan yang dilematis

Dalam kehidupan sehari-hari orang sering dihadapkan pada persoalan


yang sulit. Ia dihadapkan pada berbagai pilihan. Ia harus memeras
otak, memperimbangkan untung-rugi, plus-minus, dan aspek-aspek
lain yang akhirnya dapat menentukan keputusannya. Anehnya ia baru
merasa mantap dan puas apabila pilihannya telah disandarkan kepada
sesuatu yang ia anggap Zat Yang Ghaib yang seolah-olah memberikan
kepastian dan kemantapan pilihannya

Mengapa Kami Memilih Islam


Islam adalah agama dari Tuhan, berisi tuntunan hidup yang diwahyukan
kepada hamba-Nya untuk seluruh ummat manusia. Agama Islam telah
membina keseimbangan antara kedua segi kehidupan: kebendaan dan
kerohanian. Islam menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia
ini untuk manusia, akan tetapi manusia sendiri untuk mengabdi kepada
Tuhan; tugas kehidupannya ialah melaksanakan kehendak Tuhan.

Akidah yang dibawa oleh Muhammad diterima baik, diantaranya karena;


Pertama: Mudah, Rasional dan Praktis. Islam adalah agama yang tidak
dicampuri mitologi. Ajaran-ajarannya mudah dimengerti. Islam bebas dari takhayul
dan setiap kepercayaan yang bertentangan dengan akal yang sehat. Ke-Esaan
Tuhan, ke-Rasulan Muhammad s.a.w. dan konsep kehidupan sesudah mati adalah
dasar pokok akidah Islam. Semua itu beralasan kuat dan logis. Dan seluruh ajaran
Islam adalah lanjutan dari dasar-dasar kepercayaan ini, semuanya mudah
difahami dan lurus. Dalam Islam, tidak ada yang samar-samar dan tidak ada
upacara-upacara atau peribadatan yang sulit. Semua orang dapat membaca
langsung Kitabullah (Al-Qur'an) dan melaksanakannya dalam praktek. Islam selalu
menganjurkan supaya orang berpikir, mempertimbangkan setiap urusan sebelum
dilaksanakan, membahas keadaan yang sebenarnya dan berusaha mendapatkan
ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam.

Kedua: Bersatunya Benda dan Rohani.

Islam tidak membuat garis pemisah antara kepentingan kebendaan dan


kepentingan kerohanian dalam kehidupan manusia, bahkan Islam menjalin
kedua-duanya, sehingga terbukalah jalan hidup yang sesuai dengan
kemampuan orang atas dasar yang shah dan baik. Islam mengajarkan bahwa
kebendaan dan kerohanian adalah dua hal yang selalu harus berdampingan dan
bahwasanya kesucian rohani dapat terhindar dari keburukan, apabila sumbersumber kebendaan dibaktikan untuk kepentingan kemanusiaan.

Ketiga: Jalan Hidup yang Sempurna. Islam bukan satu agama yang
hanya mempunyai ruang lingkup kehidupan pribadi manusia, seperti yang
disalahartikan oleh banyak orang. Islam adalah satu jalan-hidup yang
sempurna, meliputi semua lapangan hidup kemanusiaan. Islam memberikan
bimbingan untuk setiap langkah kehidupan perorangan maupun masyarakat,
material dan moral, ekonomi dan politik, hukum dan kebudayaan, nasional
dan internasional.

Keempat: Ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan.


Ada satu keistimewaan yang bersifat unik bagi Islam, yaitu bahwa agama ini
membina keseimbangan antara kepentingan perorangan dan kepentingan
kemasyarakatan. Islam percaya adanya kepribadian manusia dan menentukan
bahwa setiap orang secara sendiri-sendiri bertanggung jawab terhadap Tuhan.
Islam menjamin hak-hak azasi manusia dan tidak membenarkan siapapun juga
untuk merobek-robek atau menguranginya. Islam juga menjamin perkembangan
yang baik kepribadian manusia, sebagai salah satu tujuan utama dari
kebijaksanaan pendidikannya.

Kelima: Universal dan Kemanusiaan. Menurut ajaran Islam, manusia itu


semuanya sama, walaupun berlainan warna kulit, bahasa, keturunan dan
kebangsaannya. Hal itu adalah bimbingan Allah kepada naluri kemanusiaan,
dan Dia tidak mengakui adanya perbedaan keturunan/kebangsaan,
kedudukan sosial atau kekayaan.

Keenam: Stabil dan Berkembang. Kenyataan membuktikan bahwa memang


hidup itu tidak semata-mata stabil dalam arti tidak berkembang, tidak pula
berkembang dan berubah secara keseluruhan. Sebab soal-soal pokok kehidupan
itu tetap, akan tetapi cara-cara penyelesaian dan tehnik penanganannya
berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan zaman. Islam menjamin kedua hal
itu berjalan secara teratur.

Ketujuh: Ajaran-ajaran Terpelihara dari Perubahan. Dan akhirnya, masih


ada satu rahasia penting, ialah bahwa ajaran-ajaran Islam dalam Al-Qur'an
tetap atas dasar dan nash-nya yang semula sebagaimana yang diturunkan
Allah, Tuhan semesta alam. Manusia tetap memperoleh petunjuk-petunjuk di
dalamnya, sebagai yang dikehendaki Allah, tanpa perubahan atau pergantian
sedikitpun. Al-Qur'an tetap sebagaimana yang diturunkan Allah dan tetap
berada di tengah-tengah kita, hampir 14 abad lamanya. Kalimat Allah tetap
kalimat Allah, dalam bentuknya yang semula. Dan keterangan terperinci
tentang kehidupan Nabi Islam dan ajaran-ajarannya telah dikenal berabad-abad
dalam bentuknya yang orisinal. Hal itu diakui oleh para kritikus non Muslim.
Profesor Reynold A. Nicholson dalam bukunya "Literary History of the Arabs"
menyatakan:

Menggali Sumber Historis, Filosofis,


Psikologis, Sosiologis, dan Pedagogis
tentang Pemikiran Agama sebagai Jalan
Menuju Kebahagiaan

Secara historis, pada sepanjang sejarah hidup manusia, beragama itu merupakan
kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki.

Argumen Psikologis Kebutuhan Manusia


terhadap Agama
Sebagai makhluk rohani, manusia membutuhkan ketenangan jiwa,
ketentraman hati, dan kebahagiaan rohani. Kebahagiaan rohani hanya
akan didapat jika manusia dekat dengan pemilik kebahagian yang
hakiki. Menurut teori mistisme islam, bahwa Tuhan Mahasuci,
Mahaindah, dan Mahasegalanya. Tuhan yang Mahasuci itu tidak dapat
didekati kecuali oleh jiwa yang suci.

Argumen sosiologis Kebutuhan Manusia terhadap


Agama
Diantara karakter manusia, menurut Al-Quran, manusia adalah makhluk
sosial. Secara horizontal, manusia butuh berinteraksi dengan sesamanya
dan lingkungannya baik flora maupun fauna. Secara vertikal manusia
butuh berinteraksi dengan Zat yang menjadi sebab adanya dirinya.
Yang menjadi sebab wujud manusia tentulah harus Zat Yang Wujud
dengan sendirinya sehingga tidak membutuhkan yang lain. Zat yang
wujud dengan sendirinya adalah wujud hakiki, sedangkan suatu perkara
yang wujudnya tergantung kepada yang lain sebenarnya tidak ada / tidak
berwujud. Kalau perkara itu mau disebut ada (berwujud), maka adalah
wujud idhafi. Wujud idhafi sangat tergantung kepada wujud hakiki

Hal-hal yang menjadi faktor penyebab manusia harus hidup bermasyarakat

Adanya dorongan seksual,

Adanya kenyataan manusia adalah makhluk yang serba terbatas dan makhluk
yang lemah.

Karena adanya perasaan senang tiap-tiap manusia.

Adanya kesamaan keturunan, kesamaan teritorial, senasib, kesamaan


keayakinan, kesamaan cita-cita, kesamaan kebudayaan, dan lain-lain.

Manusia tunduk dan patuh pada aturan dan norma sosial.

Perilaku manusia mengharapkan suatu penghargaan dan pengakuan dari orangorang yang ada di sekitarnya.

Berinteraksi, berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan merupakan


salah satu kebutuhan dasar manusia.

Potensi manusia akan berkembang bila hidup di tengah-tengah manusia dan


masyarakatnya

Manusia juga merupakan makhluk budaya. Oleh sebab itu, manusia


sering disebut makhluk sosial-budaya, artinya makhluk yang harus
hidup bersama dengan manusia lain dalam satu kesatuan yang disebut
dengan masyarakat.
Dengan adanya keseimbangan hubungan, secara horizontal dengan
sesama manusia, dan secara vertikal dengan Pencipta maka manusia
akan mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan dapat diperoleh
manakalah manusia diterima, dan dihargai oleh lingkungannya dan
secara vertikal dapat mendekatkan diri kepada Tuhannya secara baik
dan benar.

Mendekatkan diri kepada Allah untuk menggapai mardatillah itulah tujuan hidup manusia
sebagai makhluk sosial

Manusia

Abdullah

khalifatulla
h

manusia meraih dan mendapatkan kebahagiaan


lahir dan batin, rohani dan jasmani.

Membangun Argumen tentang Tauhidullah


sebagai Satu-satunya Modal Beragama yang Benar
Misi utama Rasulullah saw., seperti halnya rasul-rasul yang sebelum
beliau adalah mengajak manusia kepada Allah. La ilaha illallah itulah
landasan teologis agama yang dibawa oleh Rasulullah dan oleh semua
para nabi dan rasul.
Tauhidullah membebaskan manusia dari takhayul, khufarat, mitos, dan
bidah. Tauhidullah menempatkan manusia pada tempat yang
bermartabat, tidak menghambakan diri kepada makhluk yang lebih
rendah derajatnya daripada manusia.

Manusia adalah makhluk yang paling mulia dan paling sempurna


dibanding dengan makhluk-makhluk yang lain. Manusia adalah roh alam,
Allah menciptakan manusia sempurna (insan kamil).
Rasulullah bersabda, la ilaha illallah adalah bentengku. Barang siapa
masuk bentengku, maka ia aman dari azab (Al-hadit).
La ilaha illallah adalah kalimat taibah (thayyibah), yaitu digambarkan oleh
Al-Quran laksana sebuah pohon yang akarnya tertancap ke dalam tanah,
batangnya berdiri tegak dengan kokoh, yang dahan dan rantingnya
mengeluarkan buah-buahan, yang lebat dan bermanfaat bagi manusia.
Makna ayat secara majasi bahwa jika karnya tidak baik, maka buah pun
tidak akan ada. Demikian juga jika Tauhidullah-nya benar, maka segala
sesuatunya baik dan benar, tetapi jika tauhidnya tidak benar, maka
aktivitas yang ia lakukan menjadi tidak berharga, sia-sia dan munazir.

Allah berfirman,

Allah menguhkan hati orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di
dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat (QS Ibrahim/14: 27).

Tauhidullah adalah berometer kebenaran agama-agama sebelum islam.


Jika agama samawi yang dibawa oleh nabi-nabi sebelum Muhammad saw.
masih tauhidullah, maka agama itu benar, dan seandainya agama nabinabi sebelum Muhammad saw. itu sudah tidak tauhidullah yakni sudah ada
syirik, unsur menyekutukan Allah, maka dengan terang benderang agama
itu telah melenceng, salah, dan sesat menyesatkan. Agama yang dibawa
oleh para nabi pun namanya islam.

Berikut beberapa ayat tentang masalah tauhidullah sebagai berikut:


Barangsiapa mencari agama selain islam sebagai agama, maka
tidak akan diterima dan diakhirat termasuk oarang yang merugi
(QS Al-Imram/3: 85)
Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah agama
islam (QS Ali-Imran/3: 19)
Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal
hanya kepada-Nya menyerahkan diri segala yang dilangit dan di
bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah
meraka dikembalikan. (QS Ali-Imran/3: 83)

tauhidullah merupakan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan, menurut Said


Hawa, dapat rusak dengan hal-hal sebagai berikut.

Sifat Al-Kibr (sombong)

Sifat Azh-Zhulm (kezaliman) dan sifat Al-Kizb (kebohongan)

Sikap Al-Ifsad (melakukan perusakan)

Sikap Al-Ghaflah (lupa)

Al-Ijram (berbuat dosa)

Sikap ragu menerima kebenaran

Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi


Komitmen terhadap Nilai-nilai Tauhid
untuk Mencapai Kebahagiaan
Jiwa tauhid sangatlah penting. Sebab jiwa tauhid adalah modal dasar hidup
yang dapat mengantar manusia menuju keselamatan dan kesejahteraan.
Sehingga jiwa tauhid merupakan roh segala aktivitas umat manusia. Nilainilai hidup yang dibangun di atas jiwa tauhid merupakan nilai positif, nilai
kebenaran, dan nilai Ilahi yang abadi yang, mengandung kebenaran mutlak
dan universal.
Nilai mutlak dan universal terdapat di dalamnya dapat menjadikan misi
agama ini sebagai rahmatan lil alamin, agama yang membawa kedamaian,
keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan manusia lahir dan batin.
Komitmen terhadap nilai-nilai universal Al-quran menjadi syarat mutlak
untuk memperoleh kebahagiaan. Roh kebahagiaan adalah jiwa tauhid yang
di atas jiwa tauhid itu nilai-nilai universal dibangun. Komitmen terhadap
nilai-nilai itu merupakan metode yang strategi untuk menggapai

Nilai-nilai universal yang perlu ditanamkan dikembangkan agar menjadi roh


kehidupan itu :

ash-shidq (kejujuran)

al-amanah

al-adalah

al-hurriyyah (kemerdekaan)

al-musawah (persamaan)

tanggung jawab sosial

at-tasamuh (toleransi)

kasih sayang

tanggung jawab lingkungan

tadul ijtimah (saling memberi manfaat)

at-tarahum (kasih sayang)

Kontribusi Agama dalam Mencapai Kebahagiaan

Tujuan hidup manusia adalah sejahtera di dunia dan di akhirat. Dengan kata lain,
dapat disebutkan bahagia di dunia dan di akhirat. Kebahagiaan yang diimpikan
adalah kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Untuk menggapai kebahagiaan
termasuk mustahil tanpa landasan agama. Agama dimaksud adalah agama
tauhidullah. Kebahagiaan tidak mungkin digapai tanpa tauhidullah.
Sebab,
kebahagiaan hakiki itu milik Allah, kita tak dapat meraihnya kalau tidak diberikan
oleh Allah. Untuk meraih kebahagiaan itu, maka ikutilah cara-cara yang telah
ditetapkan Allah dalam agamanya. Jalan mencapai kebahagiaan selain yang telah
digariskan Allah adalah kesesatan dan penyimpangan. Jalan sesat itu tidak dapat
mengantar Anda ke tujuan akhir yaitu kebahagiaan. Mengapa jalan selain yang
telah ditetapkan oleh Allah sebagai jalan yang sesat? Karena didalamnya ada
unsur syirik dan syirik adalah teologis yang sangat keliru dan tidak diampuni. Jika
landasannya salah, maka bangunan yang ada di atasnya juga salah dan tidak
mempunyai kekuatan alias rapuh.

Proyek Belajar Memformulasikan Konsep


Kebahagiaan Otentik Menurut Islam
Kebahagiaan dalam islam adalah kebahagiaan auntentik: lahir dan tumbuh nilainilai hakiki islami dan mewujudkan dalam diri seorang hamba yang mampu
menunjukkan sikap tobat (melakukakan intropeksi dan koreksi diri) untuk selalu
berpegang pada nilai-nilai kebenaran ilahiah, mensyukuri karunia Allah berupa
nikmat iman, islam, kehidupan, serta menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan
keadilan dalam menjalani kehidupan pribadi, sosial, dan profesional. Pada sisi lain,
kebahagiaan itu menjadi tidak lengkap jika tidak mewujud dalam kehidupan yang
konkret dengan jalan membahagiakan orang lain.

Terima Kasih