Anda di halaman 1dari 19

KOMPLEKSOMETRI

MUHAMMAD ARDI FIRDAUS


ABDURAHMAN HANIF
DIRGA YAUMAL
FAHMY SAKTI ALKINDI
POPPPY MUTIARA INDAH
RARA ARIFA

Pengertian Senyawa Kompleks, Logam dan


Ligan
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion logam
pusat dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan elektron
bebasnya kepada ion logam pusat. Donasi pasangan elektron ligan kepada
ion logam pusat menghasilkan ikatan kovalen koordinasi sehingga senyawa
kompleks juga disebut senyawa koordinasi. Senyawa-senyawa kompleks
memiliki bilangan koordinasi dan struktur bermacam-macam.

Ligan adalah molekul atau ion yang dapat menyumbangkan pasangan


elektron bebas kepada ion pusat. Ligan ada yang netral dan bermuatan
negatif atau positif. Pemberian nama ligan disesuaikan dengan jenis
ligannya. Bila ada dua macam ligan atau lebih maka diurutkan menurut abjad

Ligan yang ikatannya pada ion logam hanya pada satu tempat
disebut dengan unidentat (satu gigi) contoh ammonia.
Sedangkan yang dapat memberikan 2 tempat disebut dengan
bidentat misalnya etilen diamin ada yang tri dentat, penta
dentat dan seterusnya disebut poli dentat.
Ligan-ligan yang dapat memberikan 2 pasang electron atau
lebih disebut dengan chelon atau pembentuk kelat.

Prinsip Dasar titrasi


kompleksometri
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan
pembentukan persenyawaan kompleks ( ion kompleks
atau garam yang sukar mengion ). Kompleksometri
merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling
mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks

Masking dan Demasking

Jika diperlukan penetapan selektif dari campuran kation-kation


dan menghindari ketidak murnian maka hars ditambahkan
komponen lain yang dinamakan dengan masking agent.
Komponen ini dapat mengadakan pengendapan atau
membentuk kompleks yang lebih stabil dari ion EDTA yang
diganggu. Perlu diperhatikan bahwa jika terbentuk warna, maka
warna itu harus tidak mengganggu warna titik akhir.

Masking adalah proses penghilangan atau pengurangan efek


gangguan .

Metode masking yang paling sederhana ialah dengan penaturan pH


atas dasar kenyataan bahwa logam-logam alkali tanah tidak
terbentuk kompleks denganedetat jika pH dibawah 7, sedangkan
unsur trasisi (transition element) membentuk kompleks yang stabil
dibawah pH 3.

Demasking adalah Proses pelepasan pengganggu dari bentuk


masking.

Indikator
Indikator visual
a. Indikator logam
Pada titrasi kompleksometri dengan larutan baku dinatrium
edetat umumnya digunakan indikator logam. Indikator logam atau
indikator metalokromik yaitu senyawa senyawa (biasanya zat
warna) yang menghasilkan satu warna dengan adanya ion-ion
logam bebas dan menghasilkan warna yang berbeda (atau tidak
ada warna) ketika ion-ion logam bebas itu tidak ada.

Berikut adalah beberapa contoh indikator logam:


Hitam eriokrom : senyawa ini memiliki 2 gugus fenol yang dapat
terionisasi, dengan tetapan disosiasi pK1 = 6,3 dan pK2 = 11,55.
Pada pH 8-10 hanya bentuk HI 2- yang ada, jadi warnanya biru dan
pembentukan kompleks berwarna merah anggur. Dibawah pH 5,5
larutan ini berwarna merah. Oleh sebab itu indikaor ini hanya
digunakan dalam suasana basa
Mureksid : Larutan mureksid berwarna jingga ke merahan pada pH
9 berwarna violet dari pH 9-11 dan berwarna biru sampai jingga
atau biru pada pH diatas 11. Mureksid membentuk kompleks
dengan beberapa ion logam, akan tetapi hanya dengan Cu, Co, Ni,
Ca yang cukup stabil dan berguna untuk analisa kuantitatif.
Jingga pirokatekol : Jingga pirokatekol membentuk senyawasenyawa yang berwarna dengan beberapa logam. Kompleks dengan
logam paling stabil terbentuk pada pH antara 2-6 sehingga dalam
daerah ini terjadi perubahan warna yang sangat tajam dari kuning
ke biru ketika kation-kation tertentu ditambahkan dalam larutan
indikator.

Jingga ksilenol : merupakan indikator asam-basa yang berwarna


kuning sitrun daalam suasana asam dan berwarna merah dalam
suasana basa. Kompleks logam jingga ksilenol berwarna merah,
karena itu digunkan pada titrasi dalam suasana asam.
Asam kalkon karbonat : digunakan sebagai indikator pada titrasi
kompleksometri dari kalsium yang tercampur dengan magnesium
pada pH 12,3. Pada cara ini magnesium diendapkan secara kuantitatif
sebagai hidroksida. Perubahan warna terjadi dari merah menjadi biru.
Kalmagit : indikator ini adalah 1-2-naftol-4-asam sulfonat dan
mempunyai perubahan warna yang sama dengan hitam erikrom akan
tetapi perubahan warnanya lebih jelas dan tajam. Kalmagit juga
berfungsi sebagai indikator asam-basa.
Biru hidroksi naftol : merupakan garam natrium dari 1-2-naftol-4sulfonat yang diendapkan diatas hablur natrium klorida. Pada daerah
pH 12-13 larutannya berwarna merah sampai lembayung karena
adanya ion kalsium, dan menjadi biru jernih jika terjadi kelebihan
edetat.

b. Indikator pH

c. Indikator Redoks
Indikator ini sangat terbatas penggunaannya dan hanya digunakan pada
sistem yang khusus. Pada sistem ini, ion logam harus merupakan komponen
dari sistem gabungan redoks. Logam seperti besi harus dapat berada dalam
2 keadaan oksidasi yang berbeda dalam kesetimbangan dalam larutan,ketika
titran (EDTA) ditambahkan pada sistem maka EDTA lebih memilih untuk
membentuk kompleks dengan logam dalam keadaan teroksidasi dan pada
saat titik akhir kesetimbangan redoks dirusak yang menyebabkan indikator
direduksi dan terjadinya perubahan warna.
Indikator variamin biru B digunakan dalam titrasi (III) dengan EDTA dan
pada titik akhir, terjadi perubahan warna dari biru violet menjadi tidak
berwarna.

2. Indikator Instrumental
Hampir semua titrasi kompleksometri digunakan indikator
logam secara visual untuk mendeteksi titik akhir titrasi,
akan tetapi metode ini tidak tepat untuk larutan yang
sangat encer atau berwarna sekali. Pada kondisi
percobaan yang sama suatu metode instrumental seperti
teknik potensiometri atau fotometri sering kali digunakan
untuk mendeteksi titik akhir titrasi tanpa mengalami
kesulitan.

2. Macam-Macam Titrasi
A. Titrasi Langsung
. Larutan ion yang akan di tetapkan ditambah dengan dapar,
misalnya dapar pH 10 lalu ditambah indikator logam yang sesuai
dan dititrasi langsung dengan larutan baku dinatrium edetat.
. Untuk mencegah pengendapan logam hidroksida atau garam
basa dengan dapar dilakukan dengan penambahan pembentuk
kompleks pembantu misalnya tartrat, sitrat, trietanol amin.
. Pada titik ekivalen, kadar ion logam yang ditetapkan berkurang
ditunjukan oleh perubahan warna indikator logam yang
dipengaruhi oleh perubahan pM= -log ( Mn+).
. Titik akhir juga dapat ditetapkan secara amperometri,
konduktometri, spektrofotometri, atau potensiometri.

B . Titrasi Kembali
Cara ini penting untuk logam yang mengendap dengan
hidroksida pada pH yang dikehendaki untuk titrasi, untuk
senyawa yang tidak larut misalnya sulfat, kalsium oksalat, untuk
senyawa yang membentuk kompleks yang sangat lambat dan
ion logam yang membentuk kompleks yang lebih stabil dengan
natrium edetat daripada dengan indikator.
Pada keadaan demikian, dapat ditambahkan larutan baku
dinatrium edetat berlebihan kemudian larutan didapar pada pH
yang diinginkan dan kelebihan dinatrium edetat dititrasi
kembali dengan larutan baku ion logam. Titik akhir ditunjukan
dengan pertolongan indikator logam.

C . Titrasi Subtitusi
Cara ini dilakukan bila ion logam tersebut tidak memberikan
titik akhir yang jelas apabila dititrasi secara langsung atau
dengan titrasi kembali, atau juga jika ion logam tersebut
membentuk omples dengan dinatrium edetat lebih stabil
daripada logam lain seperti magnesium dan kalsium.
Kation ini dapat ditetapkan dengan kompleks Mg EDTA dan
reaksi yang terjadi adalah

D . Titrasi tidak langsung


Cara titrasi tidak langsung (indirect titration) dapat digunakan
untuk menentukan kadarkadar ion seperti anion yang tidak
bereaksi dengan pengkelat. Sebagai contoh barbiturate tidak
beeaksi dengan EDTA akan tetapi secara kuantitatif dapat
diendapkan dengan ion merkuri dalam keadaan basa sebagai ion
kompleks 1 : 1.
Setelah pengedapan dengan kelebihan Hg (II), kompleks
dipindahkan dengan cara penyaringan dan dilarutkan kembali
dalam larutan baku EDTA berlebihan. Larutan baku Zn (II) dapat
digunakan untuk menitrasi kelebihan EDTA ini menggunakan
indikator yang sesuai untuk mendeteksi titik akhir.

E . Titrasi Alkalimetri
Pada metode ini, proton dari dinatrium edetat, Na2H2Y
dibebaskan oleh logam berat dan dititrasi dengan lautan baku
alkali sesuai dengan persamaan reaksi berikut :

Larutan logam yang ditetapkan dengan metode ini sebelum


dititrasi harus dalam suasana netral terhadap indikator yang
digunakan. Penetapan titik akhir menggunakan indikator asambasa atau secaa potensiometri.

Prosedur
Sampel + dapar dan indicator EBT (kemudian) di titrasi
dengan Komplekson III
(kemudian) dibakukan dengan ZnSO4
TAT kompleksometri : Berwarna biru jelas

TERIMAKASIH

Beri Nilai