Anda di halaman 1dari 73

3.

CEKIK (MANUAL STRANGULASI)


Peristiwa dimana terjadi tekanan pada
jalan nafas di leher oleh suatu benda
yang menekan leher.

PEMERIKSAAN FORENSIK
1.

2.
3.
4.

Dijumpai jejas/ luka lecet yang tidak melingkar


leher, jejas tidak cuntinue dan terletak di atas
atau bawah jakun.
Jejas sering berbentuk garis datar (asimetris)
atau bulan sabit (luka lecet cetak akibat
tekanan kuku).
Tidak pernah ada ekimosis.
Lebam mayat ditemukan di daerah tubuh yang
letakknya terendah sesuai posisi tubuh saat
peristiwa terjadi.

7.
8.
9.

Tanda asfiksia dijumpai sangat jelas.


Resapan darah pada permukaan kulit bagian
dalam setentang jejas pada permukaan kulit
bagian luar.
Terkadang dijumpai tanda kekerasan lain pada
hampir seluruh tubuh, dan luka lecet atau
memar di daerah leher (upaya perlawanan).

10. Tidak dijumpai fracture tulang leher (cervical 2


dan 3), patah tulang rawan lidah, thyroid atau
cricoid) atau redline.
11. Dijumpai wajah sembab.
12. Terkadang dijumpai ruptur trachea.
13. Buih halus sukar pecah bercampur darah
sering dijumpai di sal. Nafas.

SEBAB KEMATIAN
1.
2.
3.
4.

Asfiksia.
Cardiac arrest / Fibrilasi Ventrikel karena
(inhibisi nervus vagus).
Apopleksia.
Perdarahan rongga kepala akibat benturan
atau mekanisme perlawanan (trauma).

PENUTUPAN DAN SUMBATAN JALAN


NAFAS
1. PENUTUPAN JALAN NAFAS
(EKTRALUMINER)
BEKAP (SMOTHERING)

Peristiwa dimana terjadi penutupan jalan nafas


dengan menekan pada daerah lubang hidung
dan mulut secara serentak/ bersamaan.

PEMERIKSAAN FORENSIK

1. Dijumpai jejas berupa luka memar atau lecet di


permukaan bibir bagian dalam, berbentuk
cetakan permukaan gigi geligi yang tertekan.
2. Dijumpai tanda asfiksia yang sangat jelas.
3. Dijumpai bintik perdarahan pada kelopak mata
bagian dalam dan selaput bening mata dan
rongga mulut.
4. Dijumpai wajah sembab.
5. Terkadang dijumpai tanda kekerasan lain pada
hampir seluruh tubuh (upaya perlawanan).

SEBAB KEMATIAN
1.
2.
3.

Asfiksia.
Cardiac arrest / Fibrilasi Ventrikel karena
(inhibisi nervus vagus).
Perdarahan rongga kepala akibat benturan
atau mekanisme perlawanan (trauma).

2.SUMBATAN JALAN NAFAS


(INTRALUMINER)

Peristiwa dimana terjadi sumbatan jalan


nafas oleh suatu benda asing (corpus
Allenum).
Berdasarkan lokasi sumbatan (obstruksi
jalan nafas) diklasifikasikan atas 2 jenis :
1. SUMPAL (GAGGING) di daerah rongga mulut
(orofaring)
2. SENDAK (CHOKING) di daerah rongga
kerongkongan (laringofaring).

PEMERIKSAAN FORENSIK

1. Dijumpai jejas (resapan darah) dan sisa


makanan atau benda asing pada daerah rongga
mulut/ gagging atau kerongkongan/ chocking.
2. Dijumpai wajah sembab.
3. Dijumpai bintik perdarahan pada kelopak mata
bagian dalam dan selaput bening mata dan
rongga mulut.
4. Dijumpai tanda asfiksia yang sangat jelas.
5. Terkadang dijumpai tanda kekerasan lain pada
hampir seluruh tubuh (upaya perlawanan).

SEBAB KEMATIAN
1.
2.

Asfiksia.
Perdarahan rongga kepala akibat benturan.

PENEKANAN OTOT PERNAFASAN


DAN PERUT (BURKING)

DADA

Peristiwa dimana terjadi penekanan permukaan


dada dan perut oleh suatu benda yang berat,
sehingga otot pernafasan (Msc. Intercostalis dan
diapraghma) tertekan mengakibatkan rongga dada
dan paru-paru tidak dapat mengembang.

PEMERIKSAAN FORENSIK
1.

2.
3.

Dijumpai jejas pada permukaan dada dan


perut yang (sering disertai tanda-tanda patah
tulang dada).
Dijumpai resapan darah pada permukaan kulit
bagian dalam serta otot di dada dan atau perut
yang tertekan.
Tanda asfiksia sering dijumpai sangat jelas
(jika penekanan kuat dan berlangsung lama).

4.
5.
6.
7.

Bila penekanan sangat kuat dan cepat, sering


menyebabkan hancurnya organ dalam dada
akibat patah tulang dada.
Perdarahan rongga dada dapat dijumpai.
Dijumpai wajah sembab.
Terkadang dijumpai tanda kekerasan lain pada
hampir seluruh tubuh (upaya perlawanan).

SEBAB KEMATIAN
1.
2.

Asfiksia.
Perdarahan rongga kepala akibat benturan.

PENUTUPAN LOKAL DAERAH WAJAH ATAU


DI DAERAH YANG UDARA/ OKSIGEN
TERBATAS (SUFOKASI)
Peristiwa dimana terjadi penurunan volume udara
(oksigen) di sekitar, oleh karena penutupan wajah
atau berada di suatu tempat yang tertutup (lemari/
lift/ peti) atau tempat yang memiliki udara dengan
kadar oksigen sedikit (di tempat ketinggian/
puncak gunung atau di dalam tanah/ lubang
tanah).

PEMERIKSAAN FORENSIK

1. Dijumpai tanda asfiksia yang jelas.


2. Dijumpai bintik perdarahan pada kelopak dalam
mata dan selaput bening mata.
3. Dijumpai wajah sembab.
4. Sering dijumpai mulut menganga
(lebih dari 5 cm).
5. Terkadang dijumpai tanda kekerasan lain pada
hampir seluruh tubuh (upaya perlawanan).

SEBAB KEMATIAN
1.
2.

Asfiksia.
Perdarahan rongga kepala akibat benturan.

SALURAN NAFAS TERISI AIR (DROWNING)


Peristiwa dimana terjadi penutupan saluran nafas
oleh cairan (aspirasi).

KLASIFIKASI TENGGELAM BERDASARKAN


MORFOLOGI PARU
1. Dry Drowning.
2. Wet Drowning.

KLASIFIKASI TENGGELAM BERDASARKAN


MORFOLOGI PARU LAMA DI AIR
3. Primer.
4. Sekunder.

KLASIFIKASI TENGGELAM BERDASARKAN


CARA KONTAK DENGAN AIR
1. True drowning.
2. Submersion drowning.
3. Immersion drowning.

KLASIFIKASI TENGGELAM BERDASARKAN


LOKASI TENGGELAM
4. Di air tawar.
5. Di air asin.

DRY DROWNING

Air tidak teraspirasi masuk ke alveolus. Korban


dalam keadan tidak sadar atau pengaruh obatobatan (hipnotik sedatif)/ alkohol.

WET DROWNING

Terjadi karena aspirasi cairan ke alveolus.


Jika teraspirasi air:1-3 ml/ kg BB akan beresiko
gangguan pertukaran udara di sal nafas dapat
berakibat kematian.
Orang dewasa dihirup 2 L, Bayi 30 - 40 mL.

DROWNING PRIMER

Korban meninggal segera (di dalam air)


COD pada tipe ini adalah : fibrilasi jantung atau
asfiksia.

DROWNING SEKUNDER

Korban meninggal bukan di air (setelah diangkat


dari air).
COD pada tipe ini adalah asfiksia, akibat dari
asidosis metabolik, oedema, paru, pneumonitis
dan infeksi paru.

TRUE DROWNING

Mekanisme kematian karena terhirup cairan.


COD : asfiksia, akibat paru terisi air.

SUBMERSION DROWNING

Mekanisme kematian karena kontak dengan air (pada


suhu yang ekstrem atau benturan dengan permukaan air)
COD: refleks vagal, spasme laring atau fibrilasi ventrikel,
tanpa tanda asfiksia.

IMMERSION DROWNING

Mekanisme kematian karena pengaruh obat-obatan atau


penyakit (epilepsi), tetapi ditemukan meninggal di dalam
air.
COD : asfiksia atau inhibisi vagus.

TENGGELAM DI AIR TAWAR

Terjadi hemodilusi (72%, air masuk ke darah),


mengakibatkan hemolisis. Sehingga dalam plasma
meningkat ion K, dan terjadi perubahan
keseimbangan ion K+, Ca++ mempengaruhi kerja
jantung dan menyebabkan, fibrilasi ventrikel serta
penurunan tekanan darah segera (5 menit).

TENGGELAM DI AIR ASIN


Terjadi Hemokonsentrasi sekitar 42%, air akan
ditarik ke jaringan interstitial paru akibatnya edema
paru dan terjadi hipovolemik dan kenaikan kadar
magnesium darah. Sirkulasi darah sebelumnya
menetap beberapa saat kemudian menjadi lambat
(Hipotensi), mengakibatkan anoksia pada
miokardium serta asfiksia. (10 menit).

PEMERIKSAAN FORENSIK

1. Dijumpai buih halus sukar pecah yang encer


pada sal. nafas dan lubang hidung.
2. Dijumpai cadaveric spasme (pada kasus
drowning yang baru).
3. Dijumpai cutis anserina/ bulu kulit berdiri.
Akibat kekakuan dar musc. Elector pilli akibat
suhu air dingin (pada kasus drowning yang
baru).

4. Dijumpai tanda maserasi kulit kekeriputan pada


kulit di telapak tangan dan kaki akibat absorbsi
cairan berlebih di jaringan cutis (pada kasus
drowning yang baru).
5. Dijumpai cairan dan artefage air
(diatome dan lumpur) pada saluran nafas/
paru-paru dan lambung.
6. Dijumpai oedema organ pada drowning air asin.
7. Dijumpai tanda asfiksia yang sangat jelas (bila
mayat belum mebusuk).
8. Mayat lebih cepat membusuk.

SEBAB KEMATIAN
1.
2.
3.
4.
5.

Asfiksia.
Cardiac arrest / Fibrilasi Ventrikel karena
perubahan elektrolit pada kasus tenggelam di
air tawar.
Perdarahan rongga kepala akibat benturan di
dalam air (trauma).
Oedema otak atau paru.
Dll.

PEMERIKSAAN DIATOME TEST


(TEST DESTRUKSI)

1. Ambil jaringan perifer paru sebanyak


100 gram.
2. Masukkan ke dalam labu dan tambahkan asam
sulfat pekat (H2SO4) sampai
jaringan
paru terendam.
3. Diamkan lebih kurang setengah hari
(+
12 jam) agar jaringan hancur.
4. Dipanaskan dalam lemari asam sambil
diteteskan asam nitrat pekat (HNO3)
10% sampai terbentuk cairan yang jernih.

5. Dinginkan dan sentrifuge kembali cairan tsb,


hingga terdapat sedimen/ endapan hitam.
6. Sedimen yang terjadi ditambah dengan
aquabides, sentrifuge kembali.
7. Dilihat dengan mikroskop (hitung diatomenya)

PENILAIAN

Pemeriksaan diatom positif bila pada jaringan paru


ditemukan diatome cukup banyak
(45/LPB) atau 10-20 per satu sediaan,
atau
pada sum-sum tulang cukup ditemukan hanya
satu.

DIATOME

TERIMA KASIH
HORAS