Anda di halaman 1dari 154

THANATOLOGI

dr. JIMS F. TAMBUNAN,


Mked For, SpF

Thanatology

Thanatos : Kematian.
Logos
: Ilmu.
Ilmu yang mempelajari tentang kematian,
perubahan-perubahan yang terjadi setelah
kematian (perubahan post mortem) serta
faktor yang mempengaruhi perubahan
perubahan tersebut.

MANFAAT THANATOLOGI

1.Memastikan kematian.
2.Menentukan posisi tubuh saat mati.
3.Memperkirakan lamanya kematian.
4.Mengarahkan penyebab dari kematian.

KEMATIAN

Proses yang dialami seseorang, saat 3 sistem


utama di dalam tubuh sebagai penunjang
kehidupan (circulasi, respirasi dan inervasi)
berhenti bekerja secara menetap (disebut
kematian somatik/ klinis) dan beberapa
waktu kemudian diikuti dengan berhenti juga
aktifitas metabolisme sel di dalam tubuh
(disebut kematian mollekuler/ selluler).
Teori ini dikenal sebagai teori klasik tentang
kematian.

BEBERAPA ISTILAH
KEMATIAN
MATI SURI

Suatu keadaan yang mirip dengan kematian


yang sebenarnya, ketika 3 sistem utama tubuh
(sirkulasi, respirasi dan innervasi) masih
beraktifitas, tetapi pada batas basal metabolik.

Batas Basal Metabolik


Batas terendah dari aktifitas metabolisme, yang
sukar dideteksi dengan alat medis sederhana),
misalnya: coma karena morfin, tenggelam atau
terkena aliran listrik.

MATI OTAK
(MATI SEREBRAL/ BRAIN DEATH)

Suatu keadaan ketika kedua otak besar


(hemisfer) mengalami kerusakan yang
menetap. Sedangkan otak kecil (serebral)
dan batang otak masih dalam kondisi normal.
Sehingga sistem sirkulasi dan respirasi dapat
beraktifitas dengan menggunakan alat bantu
medis khusus.

MATI BATANG OTAK


(BRAIN STEAM DEATH)

Suatu keadaan ketika batang otak mengalami


kerusakan yang menetap, sehingga aktifitas
seluruh berhenti dan tidak dapat hidup lagi,
karena sistem sirkulasi dan respirasi diatur
oleh (batang otak).

Teori mati otak/ mati serebral dan mati batang


otak ini dikenal sebagai teori modern tentang
kematian (Brain death dan Brain steam death).
Dalam aspek juridis/ hukum masih sering
diperdebatkan (pro dan kontra), teori ini sering
digunakan untuk melakukan tindakan klinis
spt:
1.Transplantsi organ/ jaringan.
2.Euthanasia (kecuali di indonesia).
3.Bayi tabung (bukan inseminasi buatan).

TANDA-TANDA KEMATIAN

Perubahan yang terjadi pada tubuh yang


mengalami proses kematian (mati somatik/
klinik dan mati mollekuler/ sel).
Perubahan kematian tersebut timbul dini/
segera sebagai tanda kematian tidak pasti
dan berlanjut hingga tanda pasti kematian
(peruban/ tanda post mortem).

TANDA KEMATIAN TIDAK PASTI


Berhenti respirasi.
Berhenti sirkulasi.
Berhenti innervasi.
Kulit terlihat pucat.
Kekeruhan kornea mata.
Pembuluh darah retina mengalami
segmentasi.
Dll.

SUBSIDAIRY TEST UNTUK


MENENTUKAN KEMATIAN KLINIS
1. Henti sirkulasi
test magnus (mengikat ujung jari),
test diaphanous (menyenter telapak
tangan),
test icard (suntik SC: 1g zat fluorescien
+1g na-biknat + 8 ml air, nampak warna
kehijauan),
test nail (penekanan ujung kuku),
test sponting (dipotong arteri kecil).

2. Henti respirasi
test feather (bulu ayam),
test cermin (mirror),
test winslow (wadah berisi air).
3. Henti innervasi
test reflek pupil,
test reflek kornea,
test motorik dan test sensorik.

TANDA KEMATIAN PASTI

Perubahan suhu tubuh menjadi sama dengan


suhu sekitar (Algor mortis).
Lebam mayat (Livor mortis).
Kaku mayat (Rigor mortis).
Pembusukan (Decomposition).
Modifikasi dari pembusukan karena
pengawetan alamiah:
o Proses mayat menjadi lilin (adiposere).
o Proses mayat menjadi kering
(Mummifikasi).

PERUBAHAN SUHU
(Algor mortis)

Suatu keadaan dimana tubuh mayat


mengalami perubahan temperatur, oleh
karena perpindahan panas/ temperatur,
sehingga suhu tubuh mayat pada akhirnya
sama dengan suhuh lingkungan (di TKP).

Pemeriksaan dan penilaian perubahan suhu


mayat jarang dilakukan karena, dalam upaya
menentukan lama/ waktu/ saat kematian oleh
karena banyak faktor mempengaruhi/
memanipulasi hasil pemeriksaan.

MEKANISME

Perpindahan panas melalui mekanisme/ cara


radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi
hal ini dapat terjadi karena tubuh tidak dapat
lagi mempertahankan keseimbangan suhunya
dari pengaruh lingkungan akibat mengalami
kematian.

CARA MENILAI

Dengan cara melakukan pengukuran suhu


tubuh mayat, menggunakan alat pengukur
temperatur mayat (temperatur khusus),
yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh
mayat melalui dubur selama 15 menit.

Kemudian dinilai juga temperatur lingkungan


di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Kemudian memasukkan dalam formula/
rumus.
Perlu juga didapatkan informasi kondisi suhu
tubuh mayat sewaktu hidup.

FORMULA PENGUKURAN PERUBAHAN


SUHU TUBUH MAYAT
1. TEKNIK Modi (India)
Perubahan suhu tubuh mayat pada 2 jam
pertama: dari selisih antara suhu tubuh
(waktu korban belum mati) dengan suhu
sekitar (S. kamar).
Pada 2 jam kedua, perubahan suhu tubuh
mayat: dari perubahan suhu tubuh 2 jam
pertama.
Pada 2 jam ketiga, perubahan suhu tubuh
mayat: dari perubahan suhu tubuh 2 jam
kedua, dan seterusnya.

2. TEKNIK Simpson (Inggris)


Perubahan suhu pada 6 jam pertama:
2,5 atau 1,5 /jam.
Sedangkan pada 6 jam kedua: 1,6-2
atau 0,9-1,2 /jam.
Perubahan suhu muncul segera beberapa
menit setelah kematian somatis/ klinis.

LEBAM MAYAT

(Livor mortis, Post mortem lividity, Post mortem


sugillation, Post mortem hipostasis, Post mortem
staining, Vibices).

Perubahan warna yang terjadi pada tubuh


mayat (secara bertahap), oleh karena
penumpukan darah pada pembuluh darah
balik (vena) yang terletak di daerah terendah
dari permukaan tubuh yang dipengaruhi oleh
sifat cairan dan gaya grafitasi bumi.

Proses pembentukan lebam mayat pada setiap


mayat tidak selalu sama, oleh karena
dipengaruhi oleh banyak faktor.

MEKANISME

Berhentinya pompa jantung, menyebabkan


aliran darah tidak bergerak secara aktif,
akan tetapi bergerak secara pasif (dipengaruhi
oleh sifat cairan dan gaya grafitasi bumi).

Darah akan turun ke permukaan tubuh


terendah sesuai dengan posisi mayat saat mati
somatik/klinis terjadi (kecuali di daerah
tersebut permukaan tubuh mayat tertekan alas
keras/ padat).

Aliran darah yang terus mengalir di daerah


tersebut dipengaruhi oleh sifat cairan dan gaya
grafitasi bumi, menyebabkan penumpukan
darah pada kapiler-kapiler dan pembuluh
darah yang letaknya paling rendah dari
permukaan tubuh.

Sehingga mengakibatkan ruptur kapiler oleh


karena tekanan darah tsb. Dan mengakibatkan
cairan darah (plasma) keluar dari pembuluh
darah serta menyebar atau masuk ke dalam
jaringan atau sekitar sel (intertitial sel).

Lebam mayat menetap (tidak dapat berpindah


lagi bila mayat dirubah posisinya) setelah
6 atau 8 jam dari kematian somatik/ klinis
(menurut Modis).

Oleh karena pada saat itu darah di dalam


pembuluh darah sudah mengalami proses
pembekuan secara alamiah akibat perubahan
suhu (Algor mortis) serta akibat cairan darah
(plasma) telah bayak yang keluar dari
pembuluh darah (kapiler darah) yang ruptur.

CARA MENILAI

Dengan cara melihat secara langsung pada


permukaan tubuh mayat, warna keunguan
(merah keunguan), serta melakukan
penekanan di permukaan lebam mayat.
Lebam mayat dapat menentukan perkiraan
posisi tubuh mayat saat kematian.

Lebam mayat muncul segera setelah kematian


somatik/ klinis, sekitar jam (menurut
Vincent J Dimaio) atau 1jam (menurut Modis).
Lebam mayat menetap setelah 6 atau
8 jam kemudian (saat ditekan warna tersebut
tidak dapat hilang).

KAKU MAYAT

(Rigor Mortis, Post Mortem Rigidity)

Suatu keadaan dimana tubuh mayat


mengalami kekakuan (Normal/ fisiologis)
secara bertahap, karena proses biokimiawi
(mekanisme kematian sel).

Proses pembentukan kaku mayat pada setiap


mayat tidak selalu sama, oleh karena
dipengaruhi banyak faktor.

MEKANISME

Berhentinya pernafasan karena kematian


somatis/ klinis, menyebabkan sel dan jaringan
mengalami kekurangan oksigen sebagai bahan
dasar metabolisme sel. Sehingga terjadi
penumpukan asam laktat (masa seperti jelli/
steafjell) pada serabut-serabut otot dan
persendian tubuh mayat.

Sebelumnya tubuh tidak mengalami kaku


mayat (disebut fase relaksasi primer) pada saat
kematian somatis/ klinis baru terjadi. Oleh
karena kandungan oksigen di glikogen
di dalam sel, masih mencukupi kebutuhan
sel untuk melakukan aktifitas metabolisme
sel yang menghasilkan panas/ kalor.

Akan tetapi setelah 2 atau 3 jam kemudian otototot kecil/ perifer tubuh mayat mulai
mengalami kekakuan. Hal ini terjadi karena
sel-sel di daerah tersebut mengalami kematian,
akibat kehabisan oksigen untuk metabolisme
sel.

Metabolisme sel mengasilkan zat-zat yang


dibutuhkan tubuh untuk metabolisme lainnya,
zat tsb salah satunya adalah asam laktat/ asam
piruvat.
Zat asam laktat/ asam piruvat akan di
metabolisme ulang kembali (feedback) melalui
jalur metabolisme asam laktat atau asam
piruvat (dalam metabolisme siklus krebbs).

Metabolsme siklus krebbs memerlukan oksigen


dan glukosa untuk pembentukan senyawa ADP
(Adhenosindiphospatase) sebagai bahan dasar
pembentukan ATP (Adhenosintriphospatase)
untuk menghasilkan energi/ panas/ kalor agar
suhu tubuh tetap stabil.

Kekurangan/ penurunan kadar oksigen dalam


tubuh mayat mengakibat seluruh aktifitas
metabolisme sel mengalami kegagalan.
Sehingga terjadi penumpukan asam laktat
di seluruh otot dan persendian (pada serabut
protein/ asam amino otot : actin dan miocin),
dan menyebabkan kekakuan otot serta sendi.

Mekanisme kekakuan mayat ini terjadi


bertahap dan berjalan terus ke seluruh tubuh
hingga 12 - 18 jam setelah kematian klinis
(disebut fase rigor mortis).
Kemudian berangsur menghilang oleh karena
mekanisme/ aktifitas kerja bacteri patogen
(bakteri anaerob/ pembusuk).

Aktifitas bakteri pembusuk di dalam tubuh


dimulai dari dalam usus (daerah caecum).
Kemudian menyebar melalui pembuluhpembuluh darah.
Aktifitas bacteri pembusuk melisiskan protein
serta zat-zat yang dilewati, termasuk asam
laktat/ steafjell, sehingga mengakibatkan tubuh
mayat mengalami kehilangan kekakuan
(disebut fase relaksasi sekunder).

CARA MENILAI

Dengan cara melakukan perabaan/ palpasi


pada permukaan otot dan sendi tubuh mayat.
Kaku mayat dimulai di daerah otot dan
persendian kecil (perifer) sekitar 1-2 jam
(menurut Modis) setelah kematian somatis/
klinis.

Dan setelah 12 jam kaku mayat akan


ditemukan pada seluruh otot serta persendian
tubuh mayat, yang kemudian berangsur
menghilang kembali menghilang sejalan
kondisi tubuh mengalami proses pembusukan
dini (24 36 jam dari kematian somatik/ klinis).

KEKAKUAN YANG MENYERUPAI


KAKU MAYAT
Kaku mayat adalah kekakuan yang fisiologis/
normal dalam kondisi tubuh telah menjadi
mayat.

Ada beberapa kondisi tubuh dapat mengalami


kekakuan (patologis/ tidak normal) seperti:
1.Heat stiffening.
2.Cold stiffening.
3.Cadaveric spasme.

HEAT STIFFENING

Terjadi oleh karena penggumpalan protein


pada otot (coagulasi protein otot) sehingga jadi
keras dan memendek (akibat suhu panas/
hipertermis), misalnya: pada kondisi
kematian akibat terbakar.

COLD STIFFENING

Terjadi oleh karena pembekuan cairan tubuh


(akibat suhu dingin/ hopertermis), misalnya:
pada kondisi kematian akibat berada di daerah
yang sangat dingin/ es (kutub es).

CADAVERIC SPASME

Terjadi oleh karena aktifitas berlebih dari otot


tertentu, akibat adanya ketegangan syaraf
(nervous tension) dan menyebabkan stimulasi
cepat (bersifat patologik) pada serabut syarafsyaraf otot tersebut di saat menjelang
kematian.

Aktifitas otot yang berlebihan tersebut


mengakibatkan sel otot di daerah tersebut
mengalami kehabisan oksigen dan glukosa
lebih cepat daripada di daerah lain dan
menimbulkan penumpukan asam laktat
(seaffjell), misalnya : pada kondisi kematian
akibat melakukan tindakan bunuh diri
(menambak diri sendiri) atau tenggelam atau
tersengat listrik.

PEMBUSUKAN

(Decomposition, Putrefaction)

Suatu keadaan, dimana tubuh mayat


mengalami proses degradasi sel/ jaringan
disertai pembentukan gas pembusuk, oleh
karena proses autolisis sel serta kerja
bakteri pembusuk.

Proses pembusukan hingga menjadi tulang


belulang pada setiap mayat tidak selalu sama,
oleh karena dipengaruhi banyak faktor.

Mekanisme

Pada 12-18 jam (Modis) pasca kematian


somatik/ klinis, bakteri pembusuk yang ada
di dalam usus (caecum) seperti Clostridium
welchii akan mengeluarkan enzim lichitinase
dan bereaksi dengan darah. Reaksi tersebut
menghasilkan senyawa sulfmethemoglobin
dan memberikan gambaran warna hijau
kekuningan di permukaan perut.

Bakteri pembusuk tersebut terus menyebar ke


seluruh tubuh dan masuk ke dalam setiam sel
tubuh untuk menghancurkan senyawa protein
tubuh dan menghasilkan gas pembusukan
serta senyawa lain.

Bersama dengan itu, terjadi proses


penghancuran sel (protein sel), yang terjadi
secara alamiah oleh sel tubuh sendiri,
dengan mengeluarkan enzim proteolitik/
nukleoprotein (diproduksi oleh lisosom sel
yang sudah mati), reaksi ini disebut autolisis.

Proses pembusukan dari aktifitas bacteri


pembusuk juga akan melakukan reaksi
hidrolisis dan hidrogenasi, sehingga
mengasilkan senyawa yang berbau gas spt:
alkana, H2S, phosphorated hidrogen, CO2,
asam amino,asam lemak,dll.

Akibat pembentukan gas dari proses


pembusukan, maka pada tubuh mayat akan
dijumpai:
1.Pemekaran seluruh pembuluh darah.
2.Pengelupasan kulit (blister).
3.Pembengkakan otot dan sendi serta
permukaan rongga tubuh seperti kepala/
wajah, leher dada perut dan anggota gerak
(termasuk alat kelamin), tubuh mayat berada
dalam sikap litotomi dan akan teraba derik
udara pada permukaan otot dan sendi.

4. Lepasnya folikel rambut.


5. Kuku-kuku jari tangan dan kaki yang mudah
dilepas.
6. Organ dalam perut serta kotoran (feaces)
akan terdorong keluar melalui lubanglubang tubuh seperti (dubur, vagina).
7. Lidah terjulur dan kelopak mata dan
menonjol keluar.
8. Aroma bau busuk juga sudah tercium
sejak awal terbentuknya gas pembusukan.

CARA MENILAI

Dengan cara melihat kondisi dari perubahan


warna serta bentuk pada tiap bagian tubuh
mayat mulai dari rambut hingga kuku jari
kaki.
Dapat juga dengan melihat dan menilai
siklus dari larva lalat atau jenis serangga yang
berkembangbiak pada tubuh mayat
yang
membusuk.

Pembusukan terjadi pada hari ke 1-3 setelah


kematian somatis/ klinis (Modis) disebut
pembusukan dini karena aktifitas bakteri
pembusuk (Factor internal).
Selanjutnya mayat mengalami proses
pembusukan lanjut, oleh karena mekanisme
autolisis sel (Factor internal) dan kerja serngga
pembusuk seperti : larva lalat, semut,
kumbang, kecoa dll (Factor Eksternal).

Aroma bau busuk akan mengundang lalat


untuk berkembang biak sekitar 24 jam setelah
kematian somatis/ klinis.

Proses pembusukan pada tubuh mayat akan


terus berjalan hingga bertahun-tahun dan
dipengaruhi oleh banyak faktor dari dalam
tubuh (kondisi tubuh) maupun luar tubuh
(lingkungan).
Autolisis dan bacteri pembusukan akan terus
bekerja untuk menghancurkan tubuh mayat
hingga menjadi tulang rangka.

Keadaan hancurnya mayat akibat proses


pembusukan berlanjut terus, hingga
mayat menjadi tinggal tulang belulang.
Biasanya proses penulangan ini mulai
muncul saat proses pembusukan lanjut
berjalan dan mulai sekitar 1 bulan.
Saat jaringan lunak mulai hancur karena
pembusukan.

Pada waktu tersebut, tulang masih


menunjukkan sisa-sisa ligamen, dan
tulang masih berbau busuk serta
berwarna kehitaman.
Setelah 3-6 bulan, tulang kelihatan
berwarna kuning kecoklatan/ coklat gelap. Dan
sudah mulai lepas dari persendian tulang, dan
masih basah/ lembap serta berbau busuk.

Setelah 6-12 bulan, tulang tidak lagi memberi


kesan ligamen dan berwarna kuning
keputihan, serta tidak lagi mempunyai bau
busuk.

Bau
Pembusuk
an

1-2 hari

1-2 hari

18-24 jam

Siklus Hidup
Lalat

3-4 hari

1-2 hari

1-2 hari

Tahapan Siklus Hidup


Lalat
Perkembangan
Telur Menetas

Lalat Hijau
(Calliphoridae)
16-24 jam

Lalat Daging
(Sarcopharidae)
Larva (Vivipar)

Larva Instar I

1-2 hari

2-3 hari

Larva Instar II

2-3 hari

3-4 hari

Larva Instar III

3-6 hari

4-5 hari

Prepupa

4-7 hari

5-7 hari

Pupa

5-10 hari

6-9 hari

Lalat

8-13 hari

8-11hari

MODIFIKASI DARI
PEMBUSUKAN KARENA
PENGAWETAN ALAMIAH

1. Proses mayat menjadi lilin (adiposere).


Suatu keadaan tubuh mayat menyerupai
seperti lilin yang lunak, licin.
Pembusukan akan terhambat oleh adanya
adiposera karena derajat keasaman dan
dehidrasi jaringan bertambah.

Mekanisme

Dapat membantu identifikasi mayat.


Adiposere biasanya terbentuk pada mayat
dalam suhu lingkungan yang hangat,
kelembapan/ tingkat curah hujan tinggi
dengan kondisi lemak tubuh yang baik.
Adiposere terbentuk oleh karena proses
hidrogenisasi asam lemak bebas/ tak jenuh
(asam palmitat, asam stearat, dan asam oleat),
menjadi asam lemak jenuh.

Reaksi ini membutuhkan (suhu dan


kelembapan yang sesuai) dan senyawa spt:
kalsium, ammonium yang bersifat alkali dan
enzim (lesitinase) dari bacteri pembusuk
membentuk dan akan membentuk sabun
(saponifikasi) di tubuh tidak larut.

Campuran semua bahan-bahan ini akan


membentuk suatu substansi asam lemak yang
lunak, umumnya berwarna putih kecoklatan,
berminyak (spt lilin/ sabun) serta berbau
spesifik (tengik).

CARA MENILAI

Dengan cara melihat dan meraba secara


langsung adanya lilin pada tubuh mayat,
berwarna putih/ kuning kecoklatan atau
putih kelabu.
Dapat juga dengan cara jika ditetesi larutan
CuSO4 (kupri sulfat) adipocere berwarna
hijau kebiruan terang, sebuah reaksi tipikal
benda untuk asam lemak.
Lama pembentukan adiposere bervariasi,
mulai 7-35 hari atau lebih. (Modis).

2. Proses mayat menjadi kering


(Mummifikasi).
Suatu perubahan dari tubuh mayat yang
mengalami pengawetan akibat proses
pengeringan dan penyusutan bagianbagian tubuh.
Pembusukan akan terhambat juga oleh
adanya mumifikasi karena cairan tubuh
hilang sehingga bacteri tidak dapat hidup.

Mekanisme

Dapat membantu identifikasi mayat.

Fenomena ini terjadi (pada suhu lingkungan


yang panas/ kering,
kering dan kelembapan/ tingkat
curah hujan rendah)
rendah seperti dekat perapian.
Sehingga proses pembusukkan tidak
terjadi dan tubuh mayat mengalami
pengeringan.

Mummifikasi tidak berbau, berwarna coklat,


melekat dengan ketat pada tulang. Organ
dalam pun mengalami proses pengecilan,
menjadi massa yang kompak, kering dan padat.

CARA MENILAI

Dengan cara melihat dan meraba secara


langsung adanya pengeringan pada tubuh
mayat.
Lama terjadinya mummifikasi sekitar
3 bulan atau lebih.

MENENTUKAN WAKTU KEMATIAN DENGAN


CARA LAIN
Menilai kekeruhan kornea mata,
Menilai kondisi isi lambung, usus, dan
kantong kencing,
Melihat jam tangan yang dipakai korban
(mayat).
Menilai pakaian yang dipakai korban
(mayat).
Menilai perubahan ion-ion atau senyawa
di dalam tubuh mayat.

PERUBAHAN INTERNAL
POSTMORTEM

DARAH
KARBOHIDRAT
1.Glukosa: Peningkatan kadar glukosa darah
biasanya ditemukan pada atrium kanan jantung
sebagai hasil glikogenolisis dari hati.
2.Asam laktat: 1 jam postmortem kadarnya
menjadi 20 Meq/liter.

KOMPONEN NITROGEN
1. Blood urea nitrogen: Kadar urea nitrogen
postmortem berkisar 13,8 mg/100 ml.
2. Kreatinin: Relatif stabil dalam darah mayat.
3. Nitrogen asam amino: Peningkatan dalam
darah disebabkan oleh pemecahan protein
4. Amonia: Dalam vena perifer 1-3 mg /100 ml
pada beberapa jam postmortem.
5. Asam urat: 6 jam setelah kematian kadar
asam urat kematian adalah 5,5mg/100
ml.

KOMPONEN ORGANIK LAIN


1.Kolesterol dan Lipid: Tidak berbeda jauh
dengan kadar antemortem.
2.Bilirubin: Tetap sama seperti kadar saat
antemortem.
3.Protein: Protein total dengan menggunakan
metode auto analyzer tidak adanya perubahan
kadar.

ENZIM
1.Asam posphatase: Meningkat 20 kali pada 48
jam setelah kematian.
2.Alkalin posphatase: Meningkat 48 jam setelah
kematian hingga 20 kali.
3.Amylase: Meningkat pada hari II. Kadarnya
mencapai 3-4 kali.
4.Transaminase: Peningkatan serum glutamid
oksalasetik transamaninase (SGOT) pada darah
dalam jantung.

5. Laktat dehidrogenase: Peningkatan terjadi


secara linear mulai dari 60 jam setelah
kematian.
6. Kolinesterase: Kadar bervariasi tergantung
individu.

HORMON
1. 17-hiroksi kotikosteroid: Biasanya meningkat.
2. Kortisol: Kadar tetap stabil selama 18 jam
setelah kematian.
3. Epinefrin dan nor epinefrin: Kadar epinefrin
rendah ditemukan pada kematian yang cepat.
4. Tiroksin dan tiroid stimulating hormone:
Kadar tiroksin akan turun setelah kematian.

5. Insulin: Insulin atrium kanan 7-590


mikrounit/ml, darah vena femoralis 5-55
mikrounit/ml.
6. Growth hormone: Peningkatan setelah
kematian bayi meninggal karena RDS.
7. Chorinic gonadotropin: Pada kasus
choriocarcinoma atau tumor lain.

ELEKTROLIT
1.Sodium: Kadar natrium pada kematian karena
tenggelam akan menurun
(air tawar).
2.Klorida: Kadar klorida plasma akan menurun.
3.Potassium: Peningkatan kadar potassium
setelah 1 jam setelah kematian.
4.Kalsium: Kadar kalsium tetap konstan setelah
kematian.

5. Fosfor: Peningkatan fosfor anorganik serum


terjadi 1 jam postmortem, mencapai 20 mEq/l
pada 18 jam setelah kematian.
6. Sulfur: Kadar sulfat dalam serum setara dengan
kadar urea atau kreatinin.
7. Magnesium: Sedikit peningkatan magnesium
plasma.

GAS DARAH
Tekanan oksigen: Pada asfiksia, P O2 dari arteri <
25 mmHg.
Jika > 22 mmHg, menunjukkan jantung telah
berhenti sebelum pernafasan berhenti.

KONSENTRASI ION HIDROGEN (pH)


pH tubuh pada 12 jam pertama postmortem
6,73.
pH darah menurun sejalan dengan lamanya
waktu kematian.
pH darah dari ektremitas atas > ventrikel kiri >
ventrikel kanan.

LIKUOR SEREBROSPINALIS
KARBOHIDRAT
1.Glukosa: Kadar Glukosa vutreus memberikan
arti untuk menentukan hiperglikemi dan untuk
menentukan asidosis diabetik.
2.Asam Laktat: Konsentrasi asam laktat meningkat
setelah kematian.
3.Inositol: Pada kadar
postmortem didapatkan
peningkatan hingga mencapai 72 mg/100ml.
Peningkatan kadar inositol sejalan dengan
bertambahnya waktu kematian.

KOMPONEN NITROGEN
1.Urea: Postmortem meningkat.
2.Nonprotein nitrogen: Meningkat 30 jam
postmortem, kemudian menurun.
3.Kreatinin: Kadar kreatinin pada LCS menetap
setelah kematian untuk menilai fungsi ginjal.

4. Nitrogen Asam Amino: Kenaikan nitrogen


asam amino terjadi setelah 20 jam postmortem.
5. Ammonia: Meningkat setelah 60 jam
postmortem.
6. Asam urat dan xanthine: Xantin. meningkat
100x pada 8 jam postmortem.
7. Glutamine: Meningkat sampai 3 kali lipat
setelah kematian pada individu tanpa tandatanda kerusakan hati.

KOMPONEN ORGANIK LAIN


1.Urobilinogen: Ke LCS jika kadar dalam darah
tinggi dan kerusakan pada sawar otak.
2.Bilirubin: Perbandingan total bilirubin pada
cairan spinal dengan serum yaitu 1:35.
3.Enzim: Pada kematian otak kadar glutamik
oksalasetik transaminase lebih dari 250 IU/liter,
kadar laktat dehidrogenase lebih dari 600 IU/liter
dan kadar alkalin fosfatase 42 IU/liter (meningkat).

ELEKTROLIT
1.Sulfur: Kadar sulfat anorganik tetap stabil
setelah tiga hari kematian.
2.Potassium: Peningkatan kadar potassium pada
LCS terjadi sampai 70 jam bervariasi pada setiap
individu.

VITREOUS HUMOUR
KARBOHIDRAT
1. Glukosa: Kadarnya akan turun bersamaan
dengan waktu kematian.
2. Asam Laktat: Pada kasus kematian mendadak
kadarnya akan rendah.
3. Asam Piruvat: Akan turun dengan cepat
setelah kematian.
4. Asam askorbat: Pada 20 jam pertama, kadar
asam askorbat akan turun secara perlahan.

NITROGEN
1.Urea: Pada postmortem akan meningkat.
2.Kreatinin: Kadar kretaininnnya akan normal
setelah kematian.
3.Kadar non protein nitrogen: Meningkat secara
menigkat dan bervariasi tergantung individual.

ELEKTROLIT
1. Sodium: Menetap sampai 30 jam setelah
kematian.
2. Potassium: Awal postmortem dengan interval
waktu sampai 24 jam, 95% confidence limits
dari tiap peneliti bervariasi dari 6 jam sampai
12 jam.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PERUBAHAN PERUBAHAN POST
MORTEM
1.PERUBAHAN SUHU
Suhu sekitar: Suhu mayat akan turun
lebih cepat, jika suhu sekitar jauh lebih
rendah dari suhu tubuh.
Umur: Mayat anak dan orang tua lebih
cepat mengalami penurunan suhu, dari
mayat dewasa.

Jenis kelamin: Suhu mayat pada perempuan


lebih lama turun, karena umumnya
kandungan lemak lebih banyak.
Gizi: Suhu mayat akan lebih cepat turun
pada orang kurus.
Penutup tubuh: Tubuh mayat yang tertutup
rapat lebih lama penurunan suhunya.

Ruangan: Mayat terletak di ruang tertutup,


lebih lama penurunan suhunya dari yang
berada di ruang terbuka.
Penyakit: Mayat yang mati karena
penyakit kronis, penurunan suhu tubuhnya
lebih cepat. Jika mati dengan demam akut,
akan lebih lama.

Di media air : udara : tanah adalah 4: 2 :1,


artinya, di media air (tenggelam)
penurunan suhu tubuh mayat lebih cepat
4 kali dibanding di dalam tanah (kubur).
Dalam keadaan kejang sebelum mati
(tetanus, keracunan strichnin), infeksi berat
(septikemia) dan karena renjatan panas
(heat strok), suhu tubuh naik sesudah mati
(post mortem caloricity).

2. LEBAM MAYAT
Perdarahan hebat/ anemis berat akan
menyebabkan gambaran warna lebam
mayat tidak begitu jelas.
Luka bakar yang luas dengan derajat
luka bakar di atas 3 tidak dijumpai
lebam mayat.
Keracunan gas Sianida (CN) dan gas
Carbon monoksida (CO) menyebabkan
warna lebam mayat lebih terang.

Keracunan logam berat akan menyebabkan


warna lebam mayat menjadi lebih gelap.
Mayat yang diubah posisi tubuhnya
sebelum 6 atau 8 jam akan didapatkan
gambaran lebam mayat yang ada di
beberapa posisi tubuh.

3. KAKU MAYAT
Kadaveric spesme, cold dan heat stefning
dapat memanipulasi kaku mayat.
Bentuk tubuh kurus lebih cepat
mengalami kaku mayat dari tubuh
gemuk.
Mayat anak-anak lebih cepat mengalami
kekakuan daripada mayat dewasa.

4. PEMBUSUKAN
Temperatur: karena bakteri optimal
berkembang biak pada 26-38
Kelembapan udara: kelembapan yang
tinggi mempercepat pembusukan.
Ruangan/ penutup: di tempat terbuka
tubuh mayat cepat membusuk.
Umur: mayat orang tua dan anak lebih
lama membusuk, karena kandungan air
lebih sedikit (bayi baru lahir kuman
pembusuk di usus masih sedikit, sehingga
lama membusuk).

Penyakit: mayat yang mati karena infeksi


berat lebih cepat membusuk.
Kematian karena keracunan zat beracun
misalnya logam berat, insktisida, dll lebih
lambat membusuk.
Keadaan tubuh: mayat mengalami luka
lebih cepat membusuk, tetapi bagian tubuh
yang terpotong (mutilasi), lebih lama
mengalami pembusukan (karena banyak
darah yang terbuang).
Proses pembusukan di media: air : udara
terbuka : tanah = 1: 2: 8.

ERIMA KASIH
HORAS