Anda di halaman 1dari 11

Paraplegia in Spinal Tuberculosis due to

Anterior Spinal Artery Syndrome


Oleh : Tania Azhari
Pembimbing : dr. Yulia H, Sp.Rad

Latar Belakang

Morbiditas dan mortalitas akibat tuberkulosis


masih tinggi di negara berkembang.

Paraplegia masih menjadi komplikasi utama


dari tuberkulosis spinal atau tulang belakang.

Presentasi Kasus

Wanita, 45 tahun, dari Colombo dengan paraplegia subakut pada


level sensori hingga level T8. Dua bulan sebelumnya dia
mengalami batuk yang tidak produktif dan tidak disertai demam,
lalu ia mengkonsumsi beberapa antibiotik oral. Selama dua minggu
berikutnya dia mengalami sakit punggung yang cukup
mengganggu terlokalisai di daerah dada, yang diperburuk oleh
gerakan tapi tidak menjalar ke kaki. Tidak ada deformitas tulang
belakang terkait atau kifosis.

Terdapat kelemahan dan mati rasa dari tungkai bawah bilateral,


yang onsetnya mulai dalam dua hari, sementara tungkai atas tidak
terdapat kelainan. Pada saat yang sama ia mengalami
inkontinensia urin dan feses. Pada pemeriksaan terdapat adanya
rasa sakit pada T6 dan gangguan sensasi suhu di level T6 dengan
refleks tendon yang berlebih pada tungkai bawah. Sensasi posisi
sendi dan sensasi getaran masih dapat dirasakan.

Pada awalnya berdasarkan klinis diduga terdapat mielitis


transversa yang kemudian diberikan terapi imunoglobulin IV
dan deksametason IV selama lima hari. Terdapat perbaikan
pada paralpegia tapi tidak sepenuhnya. Sebuah MRI
gadolinium pada otak terkecuali multiple sclerosis, yang
bisa dikaitkan dengan mielitis transversa.

Gambar 1. MRI scan tulang belakang menunjukkan kepadatan


jaringan lunak di ruang epidural anterior yang meluas dari C8
/ T1 ke T7 T6 dengan edema ringan sumsum tulang belakang.

Gambar 2. MRI scan thoraks menunjukkan adanya lesi


kepadatan jaringan lunak di kiri daerah hilus kiri (panah)
dengan beberapa kekeruhan nodular yang tersebar di
kedua lapang paru-paru. Tidak ada mediastinal atau
limfadenopati hilus .

Gambar 3. MRI scan tulang belakang dengan


intensitas rendah dari T3 sampai T5 pada
tampak sagital

Paraplegia terkait dengan kepadatan jaringan lunak di ruang


anterior epidural tulang belakang punggung serta massa
hilus menduga adanya kecurigaan limfoma atau TB,
sementara kelenjar lakrimal bilateral membesar menunjuk
ke arah sarkoidosis.

Tuberkulosis endarteritis yang mengarah ke arteri spinalis


anterior merupakan penyebab yang jarang untuk paraplegia
TBC tulang belakang.

Dengan pengobatan anti-TB dan fisioterapi terus menerus


secara bertahap akan mendapatkan beberapa perbaikan
berkelanjutan untuk bisa menggerakkan kaki tetapi gerakan
tungkai bawah melawan gravitasi tidak tercapai pada pasien
paraplegia TB tulang belakang.

Pembahasan

Sekitar 10% pasien dengan TB ekstra paru dan setengah


dari mereka akan memiliki TB tulang belakang. Di antara
TBC tulang belakang insidensi keterlibatan saraf adalah 1046%.

TB tulang belakang umum terjadi pada anak-anak dan


remaja muda tapi dapat terjadi pada semua kelompok umur.

Paraplegia adalah komplikasi yang paling ditakuti dari


tuberkulosis tulang belakang.

Trombosis infeksi atau endarteritis pembuluh tulang


belakang yang mengarah ke infark dari sumsum tulang
belakang merupakan penyebab yang sangat jarang dari
paraplegia.

Endarteritis granulomatosa anterior arteri spinalis adalah


manifestasi langka tuberkulosis tulang belakang.

MRI adalah alat yang sangat baik untuk evaluasi


patogenesis tuberkulosis tulang belakang dengan komplikasi
neurologis dan dianggap sebagai alat yang paling akurat
untuk mengidentifikasi perubahan awal suatu TB tulang
belakang.

MRI dianggap sebagai modalitas terbaik pilihan untuk


konfirmasi diagnosis sindrom arteri spinalis anterior.

Dari kesimpulan bahwa pasien ini menderita infark dari


sumsum tulang belakang karena fitur klinis yang khas.

MRI selama tahap akut menunjukkan intensitas jaringan


lunak dalam ruang epidural anterior dengan edema tulang
belakang.

Kasus ini menekankan bahwa endarteritis tuberkulosa


obliterative mengarah ke anterior oklusi arteri spinalis harus
dipertimbangkan dalam diagnosis diferensial dari paraplegia
apapun, terutama di negara-negara insidensi TBC yang
masih tinggi.