Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

ANESTESI PADA PASIEN OBSTETRI

Pembimbing:
dr. Indra Hidayat Sp.An

Disusun oleh:
Rafika
61111008
KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
RUMAH SAKIT EMBUNG FATIMAH
2016

PENDAHULUAN
Tehnik analgesia untuk pasien-pasien obstetri dan
ginekologi termasuk infiltrasi lokal dan blok regional
dengan atau tanpa sedasi, agen parenteral dan blokade
neuraksial sepanjang persalinan, dan anestesi umum
untuk pembedahan yang lebih ekstensif dan, adakalanya,
untuk persalinan sesar. Meskipun the American College of
Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan the American
Society of Anesthesiologists (ASA) telah menetapkan
tujuan untuk memastikan ketetapan yang tepat pada
layanan anestesi di seluruh rumah sakit yang
menyediakan perawatan obstetri memastikan layanan
seperti itu menyisakan tantangan, khususnya pada rumah
sakit yang lebih kecil atau di daerah pedesaan.

Teknik Anestesi
Prinsip
teknik
anestesi
harus
memenuhi kriteria:
Sifat anelgesi yang cukup kuat
Tidak menyebabkan trauma psikis
terhadap ibu
Toksisitas rendah aman terhadap ibu
dan bayi
Tidak mendepresi janin
Relaksasi
otot
tercapai
tanpa
relaksasi rahim

Risiko yang mungkin timbul

Adanya gangguan pengosongan lambung


Terkadang sulit dilakukan intubasi
Kebutuhan oksigen meningkat
Pada sebagian ibu hamil, posisi terletang
(supine) dapat menyebabkan hipotensi
(supine aortocaval syndrome) sehingga
janin akan mengalami hipoksia/asfiksia

Macam-macam anestesi lokal


Infiltrasi langsung di sekitar luka
Blok nervus pudendus
Blok servikal

Komplikasi anestesi lokal

Gejala intoksikasi obat anestesi lokal adalah :


Pusing dan kepala terasa ringan
Tinitus
Perilaku aneh
Kejang-kejang
Terdapat gangguan pernapasan
Intoksikasi pada sistem kardiovaskuler,
dengan gejala awal hipertensi dan takikardi,
kemudian diikuti hipotensi dan bradikardi.

Bila terjadi gangguan pada sistem kardiovaskuler

Berikan infus secepatnya


Berikan efedrin hingga tekanan
darah naik
Bila keadaan pasien gawat, maka
pasien dapat dirujuk ke rumah sakit
yang mempunyai fasilitas cukup.

Anestesi Intravena

Indikasi :
Gawat janin
Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia
regional
Diperlukan keadaan relaksasi uterus
Keuntungan :
Induksi cepat
Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal
Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah
Kerugian :
Risiko aspirasi pada ibu lebih besar
Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat
Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya
hipoksemia dan asidosis pada janin
Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab
utama mortalitas dan morbiditas maternal

Macam-macam anestesi intravena


Pentotal
Penggunaan pentotal dalam bidang obstetri dan ginekologi
banyak ditujukan untuk induksi anestesia umum dan sebagai
anestesia singkat.
Dosis pentotal
Dosis pentotal yang dianjurkan adalah 5 mg/kg BB dalam
larutan 2,5% dengan pH 10.8, tetapi sebaiknya hanya diberikan
50-75 mg.
Keuntungan pentotal
Cepat menimbulkan rasa mengantuk (sedasi) dan tidur
(hipnotik).
Termasuk obat anestesia ringan dan kerjanya cepat.
Tidak terdapat delirium
Cepat pulih tanpa iritasi pada mukosa saluran napas.

Komplikasi pentotal
Lokal (akibat ekstravasasi), dapat menyebabkan nekrosis
Rasa panas (bila pentotal langsung masuk ke pembuluh darah
arteri)
Depresi pusat pernapasan
Reaksi vertigo, disorientasi, dan anfilaksis

Kontraindikasi pentotal
Pentotal merupakan kontraindikasi pada pasien-pasien yang
disertai keadaan berikut:
Gangguan pernafasan
Gangguan fungsi hati dan ginjal
Anemia
Alergi terhadap pentotal
Apabila dilakukan anestesi intravena menggunakan pentotal,
sebaiknya pasien dirawat inap karena efek pentotal masih
dijumpai dalam waktu 24 jam, dan hal ini membahayakan bila
pasien sedang dalam perjalanan.

Ketamin
Ketamin termasuk golongan non barbiturat dengan
aktivitas rapid setting general anaesthesia
Sifat ketamin :
Efek analgetiknya kuat
Efek hipnotiknya ringan
Efek disosiasinya berat, sehingga menimbulkan
disorientasi dan halusinasi
Mengakibatkan disorientasi (pasien gaduh, berteriak)
Tekanan darah intrakranial meningkat
Terhadap sistem kardiovaskuler, tekanan darah
sistemikmeningkat sekitar20-25%
Menyebabkan depresi pernapasan yang ringan
(vasodilatasi bronkus)

Dosis ketamin
Dosis ketamin yang dianjurkan adalah 1-2 mg/kg BB,
dengan lama kerja sekitar 10-15 menit. Dosis ketamin
yang dipakai untuk tindakan D & K (dilatasi dan kuretase)
atau untuk reparasi luka episiotomi cukup 0,5 1 mg/Kg
BB.
Indikasi anestesi ketamin
Pada opersasi obstetri dan ginekologi yang ringan dan
singkat
Induksi anastesia umum
Bila ahli anastesia tidak ada, sedangkan dokter
memerlukan tindakan anastesia yang ringan dan singkat.

Kontra indikasi anastesia ketamin (ketalar)


Hipertensi yang melebihi 150 / 100 mmHg
Dekompensasi kordis
Kelainan jiwa
Komplikasi anastesia ketamin
Terjadi disorientasi
Mual / muntah, diikuti aspirasi yang dapat
membahayakan pasien dan dapat menimbulkan
pneumonia.
Untuk menghindari terjadinya komplikasi karena
tindakan anastesia sebaiknya dilakukan dalam
keadaan perut / lambung kosong.
Setelah pasien dipindahkan ke ruangan inap,
pasien diobservasi dan posisi tidurnya dibuat
miring (ke kiri / kanan), sedangkan letak
kepalanya dibuat sedikit lebih rendah.

Anastesia analgesia dengan valium


Valium tergolong obat penenang (tranquilizer),
yang bila diberikan dalam dosis rendah bersifat
hipnotis. Obat ini jarang digunakan secara
sendiri (tunggal), dan selalu diberikan secara IV
bersama dengan ketamin, dengan tujuan
mengurangi efek halusinasi ketamin.

Dosis Valium
10 g IV atau IM. Bila digunakan untuk induksi
anastesi, dosis nyasebesar 0,2 0,6 mg/kg BB.

Diprivan

Komposisi diprivan adalah sebagai berikut :


10 % minyak kacang kedelai
1,2 % fosfatida telur
2,25 % gliserol
Keseluruhannya merupakan larutan 1%
dalam air, dalam bentuk emulsi.
Diprivan
sangat
baik
karena
tidak
memerlukan obat premedikasi. Disamping
itu kesadaran pasien pulih dengan cepat,
tanpa terjadi perubahan apapun.


Anestesi Regional

Analgesi/blok
epidural
(lumbal)
:
sering
digunakan untuk persalinan per vaginam.
Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan
untuk persalinan per abdominam/sectio cesarea.

Keuntungan :
Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga
kejadian depresi janin dapat dicegah/dikurangi.
Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat
berpartisipasi aktif dalam persalinan.
Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan
pada tindakan anestesi umum)
Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea,
jalur obat anestesia regional sudah siap.

Kerugian :
Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis)
Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama
Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi.
Untuk persalinan per vaginam, stimulus nyeri dan kontraksi
dapat menurun, sehingga kemajuan persalinan dapat
menjadi lebih lambat.

Kontraindikasi :
Pasien menolak
Insufisiensi utero-plasenta
Syok hipovolemik
Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi
Sepsis
Gangguan pembekuan
Kelainan SSP tertentu

Teknik analgesia spinal

Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau


duduk membungkuk, dilakukan punksi antara
vertebra
L2-L5
(umumnya
L3-L4)
dengan
jarum/trokard. Ruang epidural dicapai dengan
perasaan hilangnya tahanan pada saat jarum
menembus ligamentum flavum.
Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus
atau duduk, dilakukan punksi antara L3-L4 (di
daerah cauda equina medulla spinalis), dengan
jarum / trokard. Setelah menembus ligamentum
flavum (hilang tahanan), tusukan diteruskan
sampai menembus selaput duramater, mencapai
ruangan subaraknoid. Identifikasi adalah dengan
keluarnya cairan cerebrospinal, jika stylet ditarik
perlahan-lahan

Persiapan anestesi spinal


Persiapan anestesi spinal seperti persiapan
pada anestesi umum. Daerah disekitar tempat
tusukan diteliti apakah akan menimbulkan
kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis
tulang punggung atau pasien gemuk sekali
sehingga tidak teraba tonjolan prosesus
spinosus. Selain itu harus puladilakukan :
Informed consent
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan laboratorium anjuran

Jarum spinal

Keuntungan anestesi spinal dibandingkan


anestesi epidural :
Obat anestesi lokal lebih sedikit
Onset lebih singkat
Level anestesi lebih pasti
Teknik lebih mudah


Obat anestetik yang digunakan
Lidocain 1-5%, chlorprocain 2-3% atau bupivacain
0.25-0.75%. Dosis yang dipakai untuk anestesi
epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal.

Komplikasi yang mungkin terjadi


Jika terjadi injeksi subarachnoid yang
tidak diketahui pada rencana
anestesi epidural dapat terjadi total
spinal anesthesia, karena dosis yang
dipakai lebih tinggi. Gejala berupa
nausea, hipotensi dan kehilangan
kesadaran, dapat sampai disertai
henti napas dan henti jantung.

Injeksi intravaskular ditandai dengan


gangguan penglihatan, tinitus, dan kehilangan
kesadaran. Kadang terjadi juga serangan
kejang. Harus dilakukan intubasi pada pasien,
menggunakan 1.0 1.5 mg/kgBB suksinilkolin,
dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi
asidosis metabolik.
Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa
sakit kepala setelah punksi dura. Terapi
dengan istirahat baring total

TERIMA
KASIH