Anda di halaman 1dari 78

MANAJEMEN

EKSPOR IMPOR
I MADE BAGUS D., SE., MM.

LITERATUR

Astuti Purnamawati & Sri Fatmawati, 2013, Dasar-dasar Ekspor Impor,


UPP STIM YKPN.

Ratya Anindita & Michael R. Reed, 2008, Bisnis dan Perdagangan


Internasional, Andi Yogyakarta.

UU Nomer 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan

PP 32 Tahun 2009 Tempat Penimbunan Berikat

BTBMI (Buku Tarif Bea Masuk Indonesia) 2016

Pengertian Manajemen
Ekspor dan Impor secara
Filosof
:
Manajemen (mengatur)
: Kegiatan merencanakan,

mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan dalam


suatu organisasi.

Ekspor : Kegiatan yang menyalurkan barang dari daerah pabean


Indonesia, sedangkan Eksportir adalah perusahaan atau perorangan
yang melakukan kegiatan Eskpor.

Impor : Kegiatan memasokkan (mendatangkan) barang dari luar daerah


pabean Indonesia, sedangkan Importir adalah perusahaan atau
perorangan yang melakukan kegiatan Impor.

Pengertian Ekspor Impor

Definisi Umum :

Menjual barang keluar negeri

Kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean atau ke


luar negeri.
Definisi (Astuti Purnamawati & Sri Fatmawati, 2013) :

Ekspor : kegiatan menjual barang/jasa dari daerah pabean


sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku.

Impor : membeli barang-barang dari luar negeri sesuai


dengan ketentuan pemerintah yang dibayar dengan
mempergunakan valuta asing.

Pengertian Ekspor Impor


Definisi menurut UU No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan :

Ekspor : kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean.

Impor : kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean.

Daerah Pabean ??
Seluruh wilayah nasional dari suatu negara, dimana
dipungut bea masuk dan bea keluar untuk semua
barang yang melewari batas-batas (borderline) wilayah
itu, kecuali bagian tertentu di wilayah itu secara tegas
dinyatakan sebagai wilayah di luar wilayah pabean.
(Astuti Purnamawati & Sri Fatmawati, 2013)

Wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat,


perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempattempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas
kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang ini.
(UU No. 17 Tahun 2006)

12 mil dihitung dari perairan Indonesia hasil dari Ekspor


adalah Devisa.

DAERAH PABEAN

WILAYAH
200
REPUBLIK
INDONESIA

D
A 3
S 50
K
O
N
TI
N

EN

ZEE MIL
200

LA

Sejarah Ekspor Impor (1)

Bisnis Internasional sebagai disiplin ilmu adalah relative baru


tetapi Bisnis Internasional sebagai praktek buklanlah yang baru.

Pada masa sebelum masehi pedagang Venesia dan Yunani


mengirim wakil-wakil mereka ke luar negeri untuk menjual
barang-barang mereka.

Pada tahun 1600 British East India Company sebuah perusahaan


dagang yang baru dibentuk, mendirikan cabang-cabang di
seluruh Asia.

Pada masa yang sama perusahaan Belanda Ducth Indi Company


juga membuka kantor cabangnya di Asia. Kemudian diikuti oleh
Kolonial Amerika (1700) dengan model yang sama.

Contoh investasi langsung luar negeri Amerika adalah


perkebunan-perkebunan Inggris yang didirikan oleh Colt Fire
Arms dan Ford yang didirikan sebelum perang saudara tetapi
gagal.

Sejarah Ekspor Impor (2)

Perusahaan berskala Multinasional telah ada pada akhir


tahun 1800. Salah satu perusahaan yang sama memiliki
fasilitas produksi luar negeri ialah Singer Sawing Machine
(SSM) dengan jaringan distribusi Internasional dan
memasarkan produknya dengan satu merek SSM.

Pada tahun 1868 perusahaan tersebut mendirikan pabrik di


Skotlandia dan menjadi perusahan Amerika Serikat pertma
yang sukses dalam produksi luar negeri.

Pada tahun 1880 singer telah menjadi organisasinya dengan


organisasi penjualan yang luar biasa.

Pada tahun 1920-an semua mobil yang dijual di Jepang


adalah buatan Amerika yang diproduksi FORD dan General
Motor lalu dikirim ke Jepang dalam bentk bongkar pasang
(KNOCKED DOWN).

Sejarah Ekspor Impor (3)

Yang mula-mula menambah modal diluar negeri adalah


General Elektrik yang pada tahun 1919 memiliki pabrik di
Eropa, Amerika Latin, dan Asia.

Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat lainnya terkenal


yang pada masa itu di Eropa adalah Alcoo, Americantobaco,
Armol, Cocacola, Iceman Codac, Gillett dan lain-lain.

Yang menarik bisnis Amerika serikat yang bergerak diluar


negeri menyebabkan kekhawatiran diantara pebisnispebisnis di Eropa yaitu sama dengan yang ditimbulkan oleh
investasi Jepang di Amerika serikat.

Meskipun perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang


merupakan investor terbesar diluar negeri, eropa juga sudah
bergerak ke luar negeri.

Sejarah Ekspor Impor (3)

Fredrick Bayer memiliki kepemilikan atas sebuah pabrik di


NewYork pada tahun 1965.

Karena pajak impor yang tinggi di pasar-pasar luar negeri,


Dia mendirikan pabrik di Rusia pada tahun 1876. Kemudian
di Perancis pada tahun 1882. Belgia 1908. Bayer adalah
saah satu dari 4 (empat) perusahaan kimia terbesar didunia
sekarang memiliki 350 perusahaan yang beroperasi di 140
negera termasuk di Indonesia.]

Sejarah GATT dan WTO, Adanya keinginan sejumlah Negara


untuk bangkit mempebaiki keterpurukan ekonomi akibat
perang dunia ke II serta mengakhiri pengaruh sistem protek
sionisme yang berkembang sejak tahun 1930 yang melatar
belakang pembentukan GATT (General Agreement on Tariff
of Trade) yang resmi berdiri pada tahun 1947.

Sejarah Ekspor Impor (4)

Mulai pertengahan tahun 1960 diselenggarakan serangkaian putaran


perundingan perdagangan Multiilateral Trade Negoliations (MTNs).
Yang secara bertahap memperluas cakupan peranan GATT dalam
kebijakan non tariff yang lebih besar.

Dalam rangkaian program GATT dan MTNs telah melakukan 8 putaran


persediaan yang antara lain :

1.

Putaran Jenewa (1947) menyakut dengan tariff.

2.

Putaran Anventcy (1949) menyangkut dengan tariff.

3.

Putaran Torquey (1951) menyangkut dengan tariff.

4.

Putaran Jenewa (1956) menyangkut dengan tariff.

5.

Putaran Dillon (1960 dan 1961) menyangkut dengan tariff.

6.

Putaran Kennedy (1964 dan 1967) menyangkut dengan tariff dan


anti dimping.

7.

Putaran Tokyo (1973 dan 1979) menyangkut dengan tariff dan frame
work agreement.

Teori-teori Kerja Sama


Perdagangan International
Konsep Dasar Perdagangan International :
1.

Teori Keunggulan Komperatif (Comperative Advatange)

Dikembangkan oleh David Richardo (1817) dalam bukunya The


Principle of Political Economy and tacation Mengemukakan
bahwa perdagangan international atas dasar perbedaan
kemampuan teknologi bernegara.
Contoh : Portugal dan inggris, yang memiliki tenaga kerja yang
produktif dalam memproduksi barang-barang. Apabila inggris
melakukan spesialisasi dalam produksi pakaian dan Portugal
mengambil spesialisasi dalam produksi anggur. Maka ke dua
Negara akan memperoleh tingkat konsumsi yang lebih tinggi dari
kondisi sebelumnya. Spesialisasi suatu Negara dilandasi oleh
keunggulan komperatif yang berasal dari perbedaan kemampuan
teknologi antar Negara.

Teori-teori Kerja Sama


Perdagangan International (2)
2.

Teori Proporsi

Dipelopori oleh Eli Heckseher dan Ohlin dan Bartin Ohlin (HO),
antara Richardo dan HO mempunyai hubungan yaitu samasama mengabdi disebuah school of economic distockhom
Swedia. HO merupakan Mahasiswa bimbingan Richardo
mengemukakan bahwa ada faktor produksi yang dapat
mempengaruhi keunggulan komperatif selain faktor produksi
menurut HO faktor modal juga dapat memberi sumbangan
besar terjadinya keunggulan komperatif oleh karena itu HO
menambahkan faktor modal kedalam teori komporatif.
Penemuan HO sangat sederhana dimana tenaga kerja
memproduksi dan mengekspor barang ke Negara yang
modalnya melimpah akan ekspor barang kenegara yang
modalnya kurang.

Teori-teori Kerja Sama


Perdagangan International (3)
3.

Teori Keunggulan Kompetitif

Dipelopori oleh Michael Porter (1998), menggambarkan sebuah model


yang dapat membantu kita menjawab pertanyaan mengapa sejumlah
Negara lebih kompetitif dari Negara lain dan mengapa sejumlah
perusahaan yang berlokasi tertentu yang lebih kompetitif diperusahaan
lain.

Strategy,
struktur &
kompetitif
perusahaan
Kondisi
Permintaan
Domestik

Faktor Kondisi

Industri
Pemasok
Pendukung

Gambar Teori Keunggulan Kompetitif

Keterangan Gambar Teori Keunggulan Kompetitif

Model ini menyatakan bahwa lokasi pusat kegiatan nasional Home base, perusahaan
sangat mempengaruhi terhadap daya kompetisi tersebut dipersaingan international
home base ini menyediakan faktor-faktor dasar yang dapat mendorong ataupun
sebaliknya daya kompetisi perusahaan.

Porter membedakan 4 faktor dasar tersebut yaitu :

1.

Faktor kondisi
Kekuatan sebuah Negara yang terkait dengan

faktor produksi yaitu : Faktor Sumber Daya Manusia, ilmu pengetahuan, dan capital.
Faktor Infrastruktur yaitu : Faktor kondisional dan dasar yang dimiliki oleh suatu
negara
2.

Faktor Permintaan
Dipengaruhi oleh 3 hal :

Komposisi
Jangkauan atau stock tingkat kebutuhan pasar
Mekanisme yang mengatur keinginan konsumen
3.

Faktor Industri pemasok

4.

Yang masuk secara kompetitif dan International

Faktor strategi, struktur dan persaingan

Kondisi yang berpengaruh terhadap hal-hal yang terkait dengan organisasi perdagangan
international.

KERJA SAMA PERDAGANGAN


INTERNATIONAL
(MULTILATERAL, REGIONAL, DAN
BILATERAL)
Kerja sama Multilateral adalah globalisasi dalam bentuk atau konteks
perdagangan ialah suatu kegiatan perdagangan yang melibatkan
berbagai Negara didunia.

Multilateral ialah sama dengan globalisasi = Multinasional.

WTO sebagai forum perdagangan multilateral yang sampai saat ini


hamper beranggotakan 150 negara ia merupakan sebuah badan
yang dibentuk untuk melakukan kesepakatan dalam bidang
perdagangan sistem yang diatur oleh WTO merupakan
pengembangan dari kesepakatan yang dahulunya diatur oleh GATT
setelah terbentuknya WTO 1995 perundingan dilanjutkan dengan
hasil :

1.

Tahun 1997 sebanyak 69 negara mencapai kesepakatan dalam


liberalisasi sector jasa telekomunikasi dan 40 negara anggota
berhasil mengakhir negosiasi tariff perdagangan bebas untuk
produk komunikasi dan teknologi dan 70 negara sepakat untuk
liberalisasi sector jasa keuangan (Perbankan, asuransi, pasar modal
dan info keuangan).

2.

Pada tahun 2000-2001 WTO berhasil menyepakati perdagangan


sektor pertanian dan jasa

Non Agriculture tariffs


Trade and environment

KERJA SAMA PERDAGANGAN INTERNATIONAL


(MULTILATERAL, REGIONAL, DAN BILATERAL) (2)

Prinsip-prinsip dasar perdagangan multilateral yaitu :

1.

Most favaured nation (MFN) adalah prinsip memberikan perlakuan yang


sama pada setiap para anggota dan penduduknya dalam memberikan
fasilitas perdagangan.

2.

Pengikatan Tariff (tariff binding) yaitu memberikan kesempatan untuk


melakukan penurunan tariff dan masing-masing negar amengikatkan diri
untuk memberikan konsensi tarif yang berdasarkan negosiasi taif secara
multilateral.

3.

The National Treatment Obligation yaitu melarang Negara-negara


menggunakan distriminasi tariff/pajak didalam negeri atau dengan
kebijakan lain yang menyebabkan manfaat yang diperoleh melalui
penurunan tariff menjadi tidak berarti.

4.

Penghapusan kuota yaitu untuk mencegah kurang nya transparansi dalam


pengaturan biaya masuk dan distorsi harga yang disebabkan tidak
berlakunya hukum pemasaran dan permintaan.

5.

Transparansi yaitu system multilateral dapat berfungsi dengan baik apabila


didukung antara lain oeh transparansi atas ketentuan keputusan dan
kebijakan perdagangan lainnya yang menyebabkan berpengaruh terhadap
perdagangan multilateral.

KERJA SAMA PERDAGANGAN INTERNATIONAL


(MULTILATERAL, REGIONAL, DAN BILATERAL) (3)

Proses regionalisasi dalam kerja sama perdagangan


sebenarnya tidak terlepas dari sejarah pembentukan WTO.
Berdasarkan data WTO sampai saat ini hamper seluruh
negara didunia paling tidak bergabung dalam suatu kerja
sama perdagangan regional.

Perjanjian Regional adalah perjanjian 2 negara atau lebih


yang bertujuan untuk mengurangi hambatan dalam
perdagangan atas dasar reciprocal atau preferensi.

Prinsip kerja sama regional adalah :

1.

Terjalinyan hubungan perdagangan diantara Negara


anggota secara seimbang

2.

Perdagangan regional tidak terlepas daripada garis-garis


panduan yang dikeluarkan oleh WTO.

KERJA SAMA PERDAGANGAN REGIONAL

KERJASAMA BILATERAL

Bilateral adalah kerja sama 2 negara untuk memenuhi yang


dibutuhkan oleh masing-masing Negara.

Secara tioritis perjanjian bebas Bilateral Trade Agreement


(BTA) juga merupakan suatu bentuk pengembangan dari
konsep kawasan (regionallisme) : pada saat ini bias dibentuk
dalam bentuk rulalisme (bilateral antara 2 negara) atau
antara suatu kelompok kawasan dengan satu negar atau
dengan kelompok kawasan lainnya.

Contoh: perjanjian perdagangan bilateral yang dilakukan


oleh ASIAN CINA, FTA (Singapure CINA FTA)

Pada umumnya BTA yang telah ditanda tangani didunia saat


ini telah dibuat dalam 3 bentuk perjanjian yaitu:

1.

Penyatuan kepabeanan (BCU Bilateral Custam Union)

2.

Bilateral Prefensial Agreement (BPA)

BPA merupakan perjanjian perdagangan dimana Negaranegara yang terlibat setuju memberikan perlakuan khusus
atau freferensi dalam perdagangan barang dan jasa secara
bilateral.
3.

Bilateral Fritreede Agreement (BFTA)

BFTA hampir serupa dengan BPA yang juga meliputi


penurunan atau pembebasan tarif diantara Negara-negara
yang terlibat perjanjian.

Bentuk Dan Materi Kerjasama Bilateral

Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dilakukan,


termasuk tatacara dan metode yang berdasarkan konsensus
semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat,
kesehatan, keamanan, keselamatan, lingkungan hidup,
perkembangan ilmmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu yang harus dipenuhi dalam melakukan transaksi


ekspor adalah standar mutu yang berlaku di Negara tujuan
ekspor.

Standarisasi merupakan suatu proses melalui :

1.

Merumuskan,

2.

Menetapkan,

3.

Memberlakukan,

4.

Menerapkan, dan

5.

Merevisi.

Standar Produk Pasar Ekspor

Kompatibility
Dapat digunakan dan disesuai untuk komponen produk lain.

Ketepatan dalam penggunaan (fitness for purpose)


Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kemudian sesuai dengan tuntutan konsumen.

Interchangibility (sesuai dan mampu untuk saling menukar)

Melancarkan perdagangan (trade fasilitation)

Dapat terjamin, keselamatan, kesehatan, keamanan serta


kelestarian lingkungan hidup.

Manfaat Standard

Standard Nasional

1.

Contoh yang dilakukan Standard Nasional dalam negara diantaranya :


Indonesia

Standard yang dilakukan di Indonesia :

2.

SPI (Standard Perdagangan Indonesia),

SII (Standard Industri Indonesia),

SNI (Standard National Industri),

POM (Pengawas Obat-obatan dan Makanan).

Jepang

JAS (Japanese Agribisnis Standard)


JIS (Japanese Industri Standard).
3.

Amerika

Asosiasi Produsen,
Profesianal dan Ilmuan,
Lembaga Sertifikasi.
4.

Standard Internasianal

Sebagai acuan bila suatu negara membuat undang-undang.


Dari 28 organisasi Internasional yang menyusun standard Internasional hanya 2 yang
mendapat wewenang.
ISO (International Standard Organisasi)
IEC (International Elektrical Comission)

Apa menariknya Ekspor ?

Melakukan diversifikasi resiko.

Mengurangi dampak penurunan penjualan di dalam negeri.

Mendukung pencapaian ekonomi yang sehat.

Faktor yang mempengruhi Impor ?

Tingkat pendapatan.

Harga barang yang relatif di dalam negeri dan diluar negeri.

Nilai tukar dalam negeri terhadap mata uang asing.

Faktor pendorong terjadinya Ekspor


dan Impor (1)

Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam


negeri

Keinginan memperoleh keuntungan dan


meningkatkan pendapatan negara

Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu


pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber
daya ekonomi

Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga


perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut.

Faktor pendorong terjadinya


Ekspor dan Impor (2)

Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga


kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya
perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi.

Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.

Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari


negara lain.

Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat
hidup sendiri.

Produk Ekspor dan Impor

Barang migas atau minyak bumi dan gas adalah


barang tambang yang berupa minyak bumi dan gas.

Barang non migas adalah barang-barang yang


bukan berupa minyak bumi dan gas, seperti hasil
perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan dan
hasil pertambangan yang bukan berupa minyak bumi
dan gas.

Jenis-jenis Ekspor dan Impor (1)

Ekspor Biasa
Dalam hal ini barang di kirim ke luar negeri sesuai dengan peraturan
umum yang berlaku, yang ditujukan kepada pembeli di luar negeri untuk
memenuhi suatu transaksi yang sebelumnya sudah diadakan dengan
importir di luar negeri.
Barter
Barter adalah pengiriman barang-barang ke luar negeri untuk ditukarkan
langsung dengan barang, tidak menerima pembayaran di dalam mata
uang rupiah

Jenis-jenis Ekspor dan Impor (2)


Konsinyasi (Consignment)
Adalah pengiriman barang ke luar negeri untuk di jual sedangkan hasil
penjualannya diperlakukan sama dengan hasil ekspor biasa.
Package-Deal
Adalah perjanjian perdagangan (trade agreement) dengan salah satu
negara pada perjanjian ditetapkan sejumlah barang tertentu akan
diekspor ke negara itu dan sebaliknya dari negara itu akan diimpor
sejumlah jenis barang yang dihasilkan dari negara tersebut.

Jenis-jenis Ekspor dan Impor (3)

Penyelundupan (Smuggling)
Adalah kegiatan ekspor/impor secara ilegal dengan tidak melalui
pengurusan dokumen yang sah, dengan tujuan memikirkan kepentingan
dan keuntungan diri sendiri tanpa mengindahkan peraturan yang
berlaku.

Hambatan Ekspor dan Impor


Tarif ataubea cukai
Tarif adalah pembebanan pajak (custom duties) terhadap
barang-barang yang melewati batas kenegaraan.
Kuota Impor
Kuota membatasi banyaknya unit yang dapat diimpor.
Subsidi
Subsidi adalah bantuan pemerintah untukprodusen lokal
State Trading Operation
State Trading Operation adalah pemerintah dalam
perdagangan melakukan kegiatan ekspor.
Peraturananti-dumping
Politik Dumping adalah menjual suatu barang/jasa di luar
negeri yang nilainya lebih murah dari harga dalam negeri.

INCOTERMS
Apakah
pihak
Asuransi
?
Apakah
pihak
Importir ?

INCOTERMS
Jawabannya tergantung kepada isi
kesepakatan kontrak perdagangan
Disinilah pentingnya kita memahami
konteks pengertian terms of delivery
dalam kontrak perdagangan internasional.
Aturan khusus yang banyak dipakai
sebagai referensi yang mengatur terms of
delivery adalah International
Commercial Terms (Incoterms 2010).

Pengertian INCOTERMS
Incoterms merupakan seperangkat
peraturan yang dibuat untuk
menyeragamkan penafsiran persyaratan
perdagangan yang menetapkan hak dan
kewajiban pembeli dan penjual dalam
mekanisme penyerahan barang.
Incoterms adalah aturan kesepakatan
swasta yang disusun oleh International
Chamber of Commerce (ICC).

INCOTERMS
Mengingat Incoterms bukan merupakan
instrumen hukum publik (laws) maka sifat
dasar penggunaan Incoterms adalah
sukarela.
Maksudnya adalah bahwa pengaturan
syarat penyerahan barang dalam suatu
transaksi perdagangan internasional
tidaklah wajib menggunakan referensi
Incoterms.
Oleh karenanya pencantuman klausul
Incoterms secara tegas dalam kontrak

Hal-hal Yang Diatur Dalam


Incoterms
1) Pembagian risiko antara penjual dan
pembeli (risk).
2) Pembagian beban biaya pengantaran
barang (cost).
3) Pembagian tanggung jawab
pengurusan selama pengantaran
(responsibilities).

Pembagian Terminologi
Dalam Incoterms 2010
Pembagian klausul persyaratan
penyerahan barang dalam Incoterms2010
terbagi menjadi dua kriteria, yaitu:
1. Kelompok terminologi yang berlaku untuk
semua moda transportasi (Rules for
any mode or modes of Transport)
2. Kelompok terminologi yang berlaku untuk
angkutan laut dan sungai saja (Rules for
Sea and Inland Waterways
Transportation)

Gambar
Sistematika Incoterms 2010

Konsekuensi Terhadap
Penggunaan Incoterms

Konsekuensi Terhadap
Penggunaan Incoterms

Moerjono (1993) memberikan penjelasan terhadap hal-hal yang


perlu diperhatikan dalam penggunaan terminologi Incoterms.

1.

Sekalipun sales contract dapat disusun dengan kalimat yang


lengkap, namun untuk menghindari kemungkinan terjadinya
sengketa, tetap diperlukan adanya penunjukan terhadap
pedoman yang telah bersifat universal, semacam Incoterms
tersebut. Hal ini akan memudahkan penafsiran, karena
pedoman Incoterms telah diadopsi dan digunakan secara
universal.

2.

Bahwa ketentuan terminologi Incoterms yang dibuat secara


jelas dalam suatu perjanjian akan menghapuskan ketentuan
Incoterms yang bersifat umum. Sebagai contoh, apabila dalam
kontrak dinyatakan CIF Incoterms 2000 with all risk insurance
. Hal ini mengandung pengertian bahwa ketentuan kontrak
tunduk pada klausul CIF Incoterms 2000 dengan perluasan
tanggung jawab dari sisi asuransi. Meskipun edisi terbaru
Incoterms 2010 telah terbit, namun perjanjian kontrak tetap
harus berpedoman pada Incoterms 2000.

Konsekuensi Terhadap
Penggunaan Incoterms (Cont)
3.

Suatu perjanjian kontrak hendaknya tidak hanya menggantungkan


pada referensi Incoterms semata. Hal ini karena Incoterms hanya
mengatur hal-hal yang menyangkut syarat penyerahan barang semata,
khususnya tanggung jawab biaya dan risiko pengangkutan barang. Halhal yang menyangkut ketentuan-ketentuan pelanggaran terhadap sales
contract, kesulitan penetapan pemilikan barang tidak dicover oleh
Incoterms.

4.

Ketentuan terms of delivery Incoterms yang paling baik bagi suatu


pihak tidaklah diukur dari keberhasilan menggeser kewajiban kepada
pihak lain. Faktor-faktor risiko, biaya, situasi dan kondisi, serta
ketentuan yang berlaku di suatu negara turut menentukan pilihan atas
terminologi delivery yang paling sesuai.

Konsekuensi Terhadap
Penggunaan Incoterms (Cont)
Sebagai contoh:

Kondisi pasar yang bersaing menghendaki harga yang kompetitif. Agar


tidak membebani buyer, maka delivery cost sebaiknya harus menjadi
bagian dari harga jual seller.

Eksportir besar dengan volume ekspor yang reguler memiliki peluang


untuk menekan biaya asuransi dan freight. Pilihan terms of delivery
yang paling baik bagi eksportir adalah yang dapat memaksimalkan
tanggung jawab terhadap delivery cost.

Dalam memilih terms of delivery, buyer dan seller harus


mempertimbangkan risiko-risiko seperti kehilangan, kerusakan, biaya
tak terduga (demurrage dan detention), situasi politk dan keamanan,
dan lain-lain.

Terimakasih

LETTER OF CREDIT
48

I Made Bagus D., SE., MM.

49

Penyelesaian Pembayaran
Perdagangan Internasional
Penjual
Kewajiban: melakukan penyerahan barang
Hak: menerima pembayaran
Pembeli
Kewajiban: melunasi harga pembayaran
Hak: menuntut penyerahan barang
Cara-cara pembayaran luar negeri
Tunai (cash payment)

Rekening terbuka (open account)

Penarikan wesel atas suatu L/C

50

Pengertian L/C
Letter of Credit adalah suatu surat yang dikeluarkan oleh suatu bank
(bank devisa) atas permintaan dari importir (nasabah/langganan
bank tersebut) yang ditujukan kepada eksportir di luar negeri yang
menjadi relasi dari importir itu, yang memberi hak kepada eksportir
itu untuk menarik wesel-wesel atas importir bersangkutan untuk
sejumlah uang yang disebutkan dalam surat itu. Selanjutnya, bank
yang bersangkutan menjamin untuk mengaksep wesel atau
menguangkan wesel yang ditarik itu asal saja sesuai dan memenuhi
syarat yang tercantum dalam surat itu
Wesel/Draft/Bill of Exchange adalah suatu perintah tertulis tanpa
syarat yang ditujukan oleh yang mengeluarkan perintah (drawer),
kepada orang lain (drawee), untuk melakukan pembayaran sejumlah
uang kepada pemegang wesel pada waktu yang telah ditentukan

51

Dasar
Dasar hukum: PP 1/1982 dan Uniform Custom and Practice for
Documentary Credits (UCP 500)
Klasifikasi:

SKB Dalam Negeri (Domestic Documentary Letter of Credit)


SK Dir BI No. 27/38/Kep/Dir tanggal 30 Juni 1994 jo. SK Dir BI
No. 29/150/Kep/Dir tanggal 31 Desember 1996.

SKB Antar Negara (International Documentary Letter of Credit)

Cara-cara pelaksanaan pembayaran dalam negeri: tunai, surat


berharga: cek, wesel, surat sanggup/promes, bilyet giro, surat
berharga komersial/commercial paper, dan L/C dalam negeri
(SKBDN)

52

L/C Opening Process &


Cargo Shipment Process
Import-Clearance

Customs Office

Importer
(Applicant)

Cargo Delivery

Shipping Agent
LuarNegeri

Opening Bank
L/C Confirmation
Shipping

Exporter
(Beneficiary)

Advising Bank
Confirming Bank
Booking
Bill of Lading

Bea & Cukai

DalamNegeri

Shipping
Company

Syarat-Syarat yang harus dilengkapi


dalam Pembukaan L/C 1/3

53

1.

L/C harus merupakan commercial documentary L/C


sehingga importir dapat menentukan persyaratan yang
tercantum dalam L/C disesuaikan dengan kebutuhan, untuk
pengamanan administrasi dan persyaratan dikeluarkannya
Surat Izin Impor
Persyaratan:

Nama dan alamat penerima L/C

Besarnya jumlah dana atau kredit yang tersedia

Keharusan penerima L/C (eksportir) untuk menarik wesel

Jenis wesel, misalnya: wesel untuk (Demand/Sight Bill of


Exchange) atau wesel berjangka (Time Draft atau Long Bill of
Exchange)

Dokumen-dokumen beserta jumlah rangkapnya: duplicate untuk


rangkap 2, triplicate untuk rangkap 3, quadroplicate untuk
rangkap 4

54

Syarat-Syarat yang harus dilengkapi


dalam Pembukaan L/C 2/3
2.

Kelengkapan dokumen, sebagai berikut:

draft/Bill of Exchange/Receipt

shipping documents:

konosemen (full set of Bill of Lading)

faktur perdagangan (commercial invoice)

packing list (daftar pengepakan=daftar isi setiap peti)

weight note (daftar berat barang)

measurement list (daftar ukuran barang)

insurance certificate (polis asuransi)

inspection certificate (keterangan dari juru pemeriksa barang atau surveyor report)

certificate of origin (keterangan negara asal barang)

manufacturers certificate

chemical analysis (analisis kimia)

assembling guide book (buku petunjuk pemasangan)

layout scheme (skema susunan atau blue print)

instruction manual

consular invoice

brochure/leaflet (keterangan teknis atau gambar)

Penentuan persyaratan dokumen di atas, dibatasi pada dokumen yang benar-benar


diperlukan; yang realistis sehingga dapat dipenuhi oleh eksportir; atau yang berguna
sehingga efektif dan efisien

55

Syarat-Syarat yang harus dilengkapi


dalam Pembukaan L/C 3/3
3. Uraian barang secara ringkas tetapi jelas
4. Persyaratan pengiriman barang, misalnya: pelabuhan muat (loading port) dan
pelabuhan tujuan (destination atau discharging port)
5. Persyaratan yang diwajibkan oleh instansi yang berwenang, misalnya: nomor import
licence, nomor export licence, nomor order, nomor kontrak penjualan dan merek
dagang dari barang
6. Klausula tentang ada atau tidaknya hak penerima L/C untuk mengoperkan L/C
kepada pihak lain atau supplier lain, dengan mencantumkan assignable L/C atau
transferable L/C
7. Waktu berlakunya L/C harus lebih lama dari pada waktu pengapalan terakhir,
sekurang-kurangnya harus sama dengan tanggal pengapalan terakhir

Jenis-Jenis L/C 1/3


56
L/C menurut Sifatnya
Revocable L/C: L/C yang sewaktu-waktu dapat ditarik
kembali/dibatalkan oleh opener atau opening bank tanpa
persetujuan dari beneficiary
Irrevocable L/C: L/C yang tidak bisa dibatalkan selama
jangka waktu berlakunya (expiration date atau time of
validity) yang ditentukan dalam L/C tersebut dan opening
bank tetap menjamin
Irrevocable L/C dan Confirmed L/C
pembayaran dijamin sepenuhnya oleh opening bank
maupun advising bank apabila semua persyaratan
dipenuhi.
tidak mudah dibatalkan karena sifatnya yang irrevocable
dianggap paling aman dan sempurna

Jenis-Jenis L/C 2/3


57
L/C menurut persyaratannya
Open (clean) L/C: tidak dicantumkan persyaratan lain untuk penarikan suatu
wesel (dengan kwitansi biasa)

Documentary L/C: harus dilengkapi dengan dokumen lain sebagaimana


disebutkan dalam L/C.

Documentary L/C dengan Red Clause: kombinasi dari open L/C dan
documentary L/C. Terdapat sebagian tertentu dari jumlah L/C yang tersedia
dengan penyerahan kwitansi biasa (disebut dengan Red Clause) sehingga
dapat ditarik oleh beneficiary dan sisanya dapat ditarik dengan melengkapi
dokumen yang disyaratkan. Misalnya: Penetapan dengan persentase, Red
Clause 30%. Red Clause ini adalah pembayaran di muka oleh opener kepada
beneficiary yang dipergunakan untuk mengadakan persiapan-persiapan
untuk memulai suatu transaksi.

Revolving L/C: kredit yang tersedia dipakai ulang tanpa mengadakan


perubahan syarat khusus, dengan ditentukan batas maksimal penarikan.
Misalnya: US$15,000 per bulan, untuk validity 6 (enam) bulan. Artinya:
secara otomatis akan tersedia dana sejumlah tersebut di atas selama 6
(enam) bulan.

Jenis-Jenis L/C 3/3


58
Ada 2 (dua) macam Revolving L/C yaitu cumulative dan noncumulative.
Misalnya:
Cumulative: setiap jumlah yang tidak terpakai dalam bulan
terdahulu masih dapat digunakan dalam bulan berikutnya
Non-cumulative: jumlah yang tidak digunakan pada bulan yang
lalu menjadi batal (tidak carry-over)
Back to back L/C: penerima L/C atau beneficiary biasanya adalah
perantara dan bukan pemilik barang. L/C dari luar negeri (negara
opener) menjadi jaminan untuk membuka L/C dari negara
perantara ke negara pemilik barang sebenarnya. L/C ini biasanya
terjadi dalam perdagangan transito maupun perdagangan segitiga.
Misalnya: Importir Indonesia membuka L/C pada pengusaha
Singapura untuk mengimpor barang dari Jepang.
Artinya: Pengusaha Singapura membuka L/C di Singapura ke Jepang
dengan menjaminkan L/C dari importir Indonesia.

Akibat/Konsekuensi Penggunaan L/C


59
Bank devisa yang bersangkutan telah mengikatkan diri untuk
menyetujui melakukan pembayaran setiap wesel yang ditarik atas
L/C asalkan memenuhi persyaratan yang ditentukan atau yang
dilengkapi dengan shipping document
Penyimpangan dari persyaratan dapat dijadikan alasan bagi bank
untuk tidak mengaksep wesel yang ditarik oleh eksportir atau
menolak L/C, misalnya: kesalahan tulis/ketik/tidak teliti
Bank harus meneliti kebenaran persyaratan dokumen (in strict
conformity with the terms and conditions stated in the L/C
concerned). Apabila ada kesalahan maka diadakanlah pembetulan
atau perubahan. Alternatif lain adalah eksportir memberikan surat
jaminan (Letter of Guarantee atau Letter of Indemnity) kepada
bank atas kemungkinan klaim yang akan diajukan oleh importir
Pencantuman transferable L/C
Syarat partial shipment allowed, yaitu hak eksportir untuk
mengirimkan barang secara bertahap
Syarat transhipment, yaitu pemindahan muatan dari satu kapal ke
kapal yang lain sebelum sampai di tujuan, karena (rute) kapal
pertama tidak singgah di pelabuhan tujuan

60

Kelemahan Cara Lain

Cara-cara pelaksanaan pembayaran luar negeri (Amir M.S., 1996:36):


1.

tunai

2.

rekening terbuka

3.

L/C

Kelemahan 1 dan 2 (Amir M.S., 1996:36):

Pembayaran oleh importir lebih dulu risiko importir besar (1)

Eksportir yang lokasinya jauh (1)

Bonafiditas eksportir yang tidak diketahui sepenuhnya oleh


importir (1)

Pengiriman oleh eksportir lebih dulu risiko eksportir besar (2)

61

Keuntungan L/C
Keuntungan L/C bagi eksportir (Amir M.S., 1999:74-77):
Kepastian pembayaran dan menghindari risiko non-payment
Penguangan dokumen bisa langsung dilakukan
Biaya bank relatif kecil
Terhindar dari risiko pembatasan devisa
Kemungkinan memperoleh kredit tanpa bunga
Keuntungan L/C bagi importir (Ibid.):
Nama baik dan reputasi bank berpengaruh baik pada
bonafiditas importir di mata eksportir
L/C sebagai jaminan bagi importir bahwa dokumen akan
diterima dalam keadaan lengkap dan utuh untuk diteliti oleh
bank
Importir dapat mencantumkan syarat-syarat pengamanan
dalam L/C

62

Permasalahan dalam Praktik 1/5


Permasalahan dalam praktik L/C (Emmy Pangaribuan S., 1989:92-99):
1.

VALUTA
Tidak diatur UCP 500 (Uniform Customs and Practice for Documentary Credits)
Ditetapkan dalam perjanjian jual beli dan L/C (tidak boleh berubah)
Apabila berbeda, beneficiary dapat menolak L/C, atau apabila valuta sudah
ditentukan, beneficiary tidak dapat meminta pembayaran dalam valuta lain

Risiko:
perubahan kurs jumlah lebih rendah
valuta kurang dikenal kesulitan menukar. Solusi: valuta beneficiary
perubahan tiba-tiba peraturan valuta

63

Istilah dalam Valuta (Moerdjono, 1989:73)

Strong currency: mata uang dengan kurs tinggi


Self currency: mata uang dengan kurs rendah
Convertible currency: mata uang yang dapat ditukarkan
di negara-negara lain/daya tukarnya tidak terbatas di
satu negara saja
Non-convertible currency: mata uang yang daya
tukarnya terbatas di negara tertentu
Selling rate: kurs jual (mail transfer/MT selling rate dan
telegraphic transfer/TT selling rate)
Buying rate: kurs beli (mail transfer/MT buying rate dan
telegraphic transfer/TT buying rate)

64

Permasalahan dalam Praktik


2/5
2. EXEMPTION CLAUSE
Bentuk:
1.

pembebasan kepada bank atas masalah valuta

2.

bank menentukan sendiri pembebasan

Wewenang peradilan atas klausula pembebasan tersebut apabila timbul


perselisihan

Klausula pembebasan tidak boleh mengakibatkan perubahan perjanjian jual beli


yang merupakan perjanjian induknya

3. TEMPAT PEMBAYARAN KREDIT


Prinsip: tempat yang disepakati
Pada umumnya:
1.

tempat beneficiary

2.

tempat confirming bank/advising bank

Masalah: apabila tempat applicant, opening bank cenderung memilih sikap yang
menguntungkan applicant sebagai nasabah

Prinsip: tidak seharusnya beneficiary yang telah memenuhi kewajibannya


mengalami kesulitan dalam proses meminta pembayaran karena tempat
pembayaran kredit

65

Permasalahan dalam Praktik


3/5
4. JAMINAN

Jaminan bagi bank dalam melakukan pembayaran L/C sebelum applicant


menyetor dana pembayaran

Jumlah yang disebutkan dalam L/C sudah dibayar kepada beneficiary atas
penyerahan dokumen-dokumen walaupun dana belum disetor applicant
ke bank dengan motif hubungan baik antara bank dengan applicant

Jaminannya:

penguasaan dokumen barang dengan alas hak B/L a.n. bank

dengan atas pengganti B/L dibuat untuk penjual dengan klausula


atas pengganti bank

bank diberi hak menjual barang ybs berdasarkan dokumen yang


dikuasai bank pledge

B/L berfungsi sebagai dokumen pengangkutan laut dan surat berharga


yang bersifat hukum kebendaan penyerahan atas B/L secara sah =
penyerahan atas barangnya menurut hukum; memiliki B/L = memiliki
barang

66

Permasalahan dalam Praktik


4/5

Dokumen dikuasai bank sampai mendapat pembayaran applicant

Bank bukan pemilik atas barang secara mutlak

Bentuk jaminan:

pledge

advance payment (persekot)

gadai

hipotik

Prinsip: bentuk jaminan harus disebutkan tegas tertulis di application form L/C

Masalah: applicant tidak mampu/tidak dapat membayar dan applicant


mengharapkan dana bayar dari penjualan barang dokumen harus ditunjukkan
dan diserahkan kepada pembeli baru, padahal bank tidak mau memberikan
dokumen yang menjadi jaminan

Solusi:

applicant memberikan jaminan lain kepada bank

memberikan hak kepada bank untuk menjual barang-barang (e.g. lelang)

bank memberikan dokumen disertai pernyataan dari applicant bahwa applicant


sebagai kuasa dari bank (trust receipt) applicant menjual barang untuk
kepentingan bank

Permasalahan dalam Praktik 5/5

67

5. PILIHAN HUKUM (Ramlan Ginting, 2000:117-123)


Batasan:

hanya dapat dilakukan terhadap sistem hukum yang memiliki keterkaitan


yang relevan dengan kontrak

hanya dapat dilakukan di bidang hukum kontrak yang bersifat mengatur (e.g.
kontrak penjualan, permintaan penerbitan L/C, L/C, dan kontrak keagenan)

pilihan hukum merujuk pada hukum substansi (hukum intern) dari negara
yang dipilih, bukan pada sistem hukum perdata internasional dari negara
yang dipilih

Teori:

lex loci contractus (teori tempat perjanjian dibuat negara L/C


ditandatangani negara bank penerbit

lex loci solutionis (teori tempat perjanjian dilaksanakan) negara L/C


dilaksanakan negara negara bank penerbit

the closest and most real connection (teori keterkaitan paling dekat dan
paling nyata) kemungkinan: negara bank penerbit maupun negara
penerima

68

Pemeriksaan dokumen oleh bank (Gunawan Widjaja, 2001:49-56)


(Amir M.S., 1996:105-120)
Pasal 13-19 UCP 500
Bank hanya berurusan dengan dokumen bukan barang
Bank harus memeriksa semua dokumen yang disyaratkan dengan
seksama dan hati-hati secara nyata sesuai atau tidak dengan
persyaratan dan kondisi L/C dalam 7 hari kerja perbankan dengan
standar praktik perbankan internasional (Pasal 13b)
Bank menentukan menerima atau menolak lalu memberitahukan
kepada pengirim
Dokumen yang tidak diminta, tidak akan diperiksa bank harus
mengembalikan atau meneruskannya tanpa tanggung jawab apapun
Bank tidak berkewajiban atau bertanggung jawab atas bentuk,
kelengkapan, keaslian, pemalsuan atau akibat hukum dari dokumen
atau yang ditambahkan di dalamnya, uraian, jumlah, berat, mutu,
kondisi, pengepakan, penyerahan, nilai atau adanya barang-barang
yang tercantum dalam dokumen atau atas itikad baik atau tindakantindakan dan atau kelalaian, kesanggupan melunasi pembayaran,
pelaksanaan atau bonafiditas si pengirim, pengangkut, forwarder, si
penerima atau si penjamin dari barang-barang atau orang lain
siapapun (Pasal 15)

69

Kasus 1/4
1. Revocable L/C
Inggris: Cape Asbestos Co v Lloyds Bank
Bank penerus pada umumnya memberitahukan
perubahan/pembatalan L/C kepada beneficiary meskipun
secara hukum advising bank tidak diwajibkan untuk melakukan
pemberitahuan
Amerika: Beathard v Chicago Football Club
Posisi beneficiary lemah karena opening bank secara sepihak
dapat membatalkan atau mengubah L/C tanpa memberitahu
beneficiary
Pengusaha garmen di Bali v opening bank di Jerman
Kurangnya pengetahuan tentang revocable L/C maka
pengusaha garmen di Bali dan hanya mengandalkan rasa
kepercayaan kepada pembeli yang datang ke Bali sebagai
turis
Renegosiasi potongan harga untuk pembeli kerugian
pada penjual

Kasus 2/4

70

2. Irrevocable L/C
Inggris: Hamzeh Malaz & Sons v Bristish Imex Industries
Larangan penarikan wesel dalam irrevocable L/C hanya dapat
dilakukan jika beneficiary menyetujuinya
Amerika: Dulien Steel Products Inc of Washington v Bankers Trust
Co
Jika confirming bank mengkonfirmasi L/C maka konfirmasi tersebut
membuktikan kewajiban confirming bank yang tidak dapat
dibatalkan/diubah untuk membayar beneficiary sepanjang
dokumen yang ditentukan dalam L/C telah ia penuhi
3. Sight Payment L/C
Inggris: United City Merchants Investments Ltd v Royal Bank of
Canada and Others

L/C unjuk harus dibayar oleh confirming bank meski terjadi penipuan
oleh agen perusahaan pengangkut tanpa diketahui oleh beneficiary

Applicant dapat mengklaim ganti rugi kepada beneficiary berdasarkan


kontrak dagang, dan kepada perusahaan pengangkut berdasarkan B/L

Kasus 3/4
71

4. Acceptance L/C
Inggris: Forestal Mimosa Ltd v Oriental Credit Ltd
Advising bank sebagai confirming bank harus bertanggung jawab atas
pembayaran irrevocable L/C. Karena L/Cnya L/C berjangka, confirming bank
terlebih dulu harus bertanggung jawab atas akseptasi wesel yang ditarik
beneficiary dan sekaligus berkewajiban membayar wesel pada saat jatuh
tempo.
5. Pilihan hukum
Inggris: Offshore International SA v Banco Central SA

Karena L/C tidak memuat ketentuan di negara mana L/C jatuh tempo,
hakim harus menentukannya

Teori keterkaitan paling dekat dan paling nyata negara tempat advising
bank

Amerika: Institutio Nacional de Commercializacion Agricola (Indeca) v


Continental Illinois National Bank and Trust Company of Chicago

Teori lex loci solutionis dan teori keterkaitan paling dekat dan paling nyata
negara confirming bank

Status confirming bank = opening bank yi. bertanggung jawab atas


pembayaran L/C confirming bank berkewajiban langsung untuk
membayar L/C kepada beneficiary dan berhak seperti opening bank untuk
menagih pembayaran kembali atas uang yang dibayarkannya

Kasus 4/4
72
6. Independensi L/C terhadap kontrak dasar (Ramlan Ginting, 2000:64-84)
PT Bank Central Asia v NV Perseroan Dagang Setia (bank hanya berurusan
dengan dokumen tidak dengan barang)
Amerika: Maurice OMeara Co v National Park Bank of NY (bank terikat
membayar L/C karena L/C tidak mensyaratkan pembayaran tergantung pada
kualitas barang)
Singapura: Gian Singh Co Ltd v Banque de LIndochine (bank tidak berurusan
dengan kontrak dagang antara pembeli dan penjual)
Inggris: Discount Records Ltd v Barclays Bank Ltd (sepanjang syarat L/C
dipenuhi, pembayaran harus dilakukan dan bank tidak berurusan dengan
kualitas/jumlah barang)
Sztejn v J. Henry Schroder Banking Corp (apabila penjual melakukan
penipuan, L/C tidak dapat digunakan untuk melindungi kepentingan
beneficiary)
Bossier Bank & Trust Co v Union Planters Natl Bank (opening bank
dibenarkan menolak pembayaran apabila ada penipuan dalam B/L)
United City Merchants v Royal Bank of Canada (apabila dokumen dipalsukan
dan bank sudah membayar, bank berhak untuk dibayar kembali)
Kasus dokumen impor dalam hal terjadi likuidasi bank (PP 25/1999: hak
dan/atau kewajiban para pihak oleh dan/atau kepada bank yang dilikuidasi
dilakukan setelah likuidasi bank dilakukan oleh Tim Likuidasi)

73

Uniform Customs & Practice for


Documentary Credit (UCP 500) 1/4
Pasal 1 Penerapan UCP
UCP 500 berlaku untuk semua documentary credit apabila
dalam teks credit menyebutkan tegas tunduk kepada UCP 500.
UCP 500 mengikat semua pihak yang bersangkutan kecuali
tegas ditentukan lain dalam kredit tersebut.
Pasal 2 Arti kredit
Bank bertindak atas permintaan dan instruksi seorang nasabah:
Melakukan pembayaran kepada pihak ketiga (beneficiary)
atau orang yang ditunjuk oleh pihak ketiga (order), atau
mengaksep dan membayar wesel-wesel yang ditarik oleh
beneficiary, atau
Memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan
pembayaran tersebut, atau
Memberi kuasa pada bank lain untuk menegosiasi atas
penyerahan dokumen-dokumen yang ditetapkan, asalkan
persyaratan dan kondisi dari kredit sudah dipenuhi.

74

Uniform Customs & Practice for


Documentary Credit (UCP 500) 2/4
Pasal 3 Kredit & Kontrak
Menurut sifatnya kredit merupakan transaksi yang
terpisah dari sales contract yang menjadi dasar
kredit
Bank sama sekali tidak tersangkut/terikat oleh
kontrak tersebut
Kesediaan bank tidak tunduk pada tuntutan atau
pembelaan atas gugatan oleh applicant sebagai
akibat hubungannya dengan issuing bank atau
beneficiary
Pasal 4 Dokumen & Barang/Jasa/Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan kredit, semua pihak yang
bersangkutan berurusan dengan dokumen-dokumen,
dan bukan dengan barang/jasa

75

Uniform Customs & Practice for


Documentary Credit (UCP 500) 3/4
Pasal 5 Instruksi untuk menerbitkan/mengubah kredit
harus lengkap dan tepat
Pasal 6 Kredit yang revocable (dapat ditari kembali) &
irrevocable (tidak dapat ditarik kembali)

Harus tegas menyatakan revocable atau irrevocable

Apabila tidak ada petunjuk, dianggap irrevocable

Pasal 7 Kewajiban advising bank


Pasal 8 Penarikan kembali suatu kredit
Pasal 9 Kewajiban issuing bank dan confirming bank
Pasal 10 Jenis-jenis kredit

Harus tegas menyatakan apakah kredit tersebut


mensyaratkan pembayaran atas unjuk (sight payment),
pembayaran kemudian (deffered payment), akseptasi
(acceptance), atau negosiasi (negotiation)

76

Uniform Customs & Practice for


Documentary Credit (UCP 500) 4/4
Pasal 13-19 Kewajiban dan tanggung jawab

Standar pemeriksaan dokumen (Ps 13)

Dokumen yang menyimpan dan yang


memberitahukannya (Ps 14)

Penolakan atas daya laku (effectiveness) dari


dokumen (Ps 15)

Penolakan atas penyampaian pesan (Ps 16)

Keadaan memaksa (Ps 17)

Penolakan atas tindakan pihak penerima instruksi


(Ps 18)

Pengaturan pembayaran kembali (reimbursement)


antara bank dengan bank (Ps 19)

77

Daftar Pustaka

Amir M.S., 1999, Kontrak Dagang Ekspor, PPM


Amir M.S., 1999, Letter of Credit dalam Bisnis Ekspor
Impor, PPM
Amir M.S., 1996, Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar
Negeri, PPM
Emmy Pangaribuan S., 1989, Pembukaan Kredit
Berdokumen, Seksi Hukum Dagang FH UGM
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2001, Transaksi Bisnis
Internasional (Ekspor-Impor dan Imbal Beli), Rajawali Pers
Hartono Hadisoeprapto, 1991, Kredit Berdokumen (L/C) Cara Pembayaran dalam Jual Beli Perniagaan, Liberty
Moerdjono dan Jamal Wiwoho, 1989, Transaksi
Perdagangan Luar Negeri - Documentary Credit dan
Devisa, Liberty
Ramlan Ginting, 2000, Letter of Credit - Tinjauan Aspek
Hukum dan Bisnis, Salemba Empat

78

TERIMA KASIH