Anda di halaman 1dari 39

ANALISA TITIK IMPAS dan

ANALISA SENSITIVITAS
Bab 6

Faktor-faktor penyebab
Ketidakpastian:
1. Keterbatasan informasi faktual tentang aliran kas
masuk dan kas keluar
2. Tipe bisnis dan kondisi ekonomi masa depan. Ada
beberapa tipe bisnis mengandung ketidakpastian lebih
tinggi dibanding tipe bisnis yang lain. Ketidakpastian
akan lebih tinggi apabila data historis tidak tersedia.
3. Tipe pabrik dan peralatan yang digunakan. Fasilitas
produksi yang dirancang untuk fungsi-fungsi khusus
akan lebih mempunyai resiko yang lebih tinggi
dibanding dengan fasilitas-fasilitas untuk fungsi umum.
4. Panjang periode studi (horison perencanaan) yang
dipakai

Metode yang digunakan untuk


menangani ketidakpastian:
1.

Analisa Titik Impas (Break Even Point Analysis)

2. Analisa ini digunakan apabila pemilihan alternatif sangat


dipengaruhi oleh satu faktor tunggal yang tidak pasti. Dengan
mengetahui titik impas, maka akan bisa ditentukan alternatif yang
lebih baik pada suatu nilai tertentu dari faktor yang tidak pasti
tersebut.
3.

Analisa Sensitivitas
Analisa sensitivitas cocok diaplikasikan pada permasalahan yang
mengandung satu atau lebih faktor ketidakpastian. Pertanyaan
utama yang terjawab:
a. Bagaimana pengaruh yang timbul pada ukuran hasil (NPW)
bila faktor individual berubah pada selang X%
b. Berapakah besarnya perubahan nilai suatu faktor sehingga
mengakibatkan perubahan terhadap pengambilan keputusan
suatu alternatif.

Analisa Titik Impas


Analisa titik impas adalah salah satu cara yang digunakan pada
sektor industri yang padat karya. Metode titik impasa bisa untuk
menganalisa pada berbagai permasalahan:
1. Menentukan ROR, dimana 2 alternatif yang sama baiknya.
Misalnya, kedua alternatif yang sama baik pada ROR 12%, maka
titik impas, Bila ROR ternyata lebih besar atau lebih kecil,
alternatif yang satu lebih baik dari yang lain.
2. Menentukan tingkat produksi dari dua atau lebih biaya produksi
yang mempunyai konfigurasi biaya-biaya yang berbeda,
sehingga pada tingkat tersebut biaya-biaya tahunan yang terjadi
sama antara alternatif yang satu dengan alternatif yang lain.
3. Melakukan analisa buat-beli
4. Menentukan berapa tahun yang dibutuhkan (atau beberapa
produk yang harus dihasilkan) agar perusahaan pada titik impas.

Analisa Titik Impas pada


permasalahan Produksi
Aplikasinya,

untuk menentukan tingkat produksi yang


mengakibatkan pada kondisi titik impas
Ada tiga komponen biaya yang dipertimbangkan,
yaitu:
a. Biaya tetap (fixed cost)
b. Biaya variabel (variable cost)
c. Biaya total (total cost), jumlah dari biaya tetap dan biaya

variabel

Misalkan X adalah volume produk yang dibuat dan c adalah biaya


variabel yang timbul dalam pembuatan produk tersebut, maka biaya
variabel untuk membuat produk X adalah:
VC = cX
Ongkos total:
TC = FC + VC
TC = FC + cX
Diasumsikan total pendapatan (TR=total revenue):
TR =pX
Pada kondisi titik impas, maka
TR = TC
Atau
pX= FC +cX
FC
X = ---p-c

Contoh 1:
PT ABC merencanakan membuat sabun mandi kelas
menengah. Biaya total untuk pembuatan 10.000 sabun per
bulan Rp 25 jt dan ongkos total pembuatan 15.000 sabun
per bulan Rp 30jt. Diasumsikan bahwa biaya variabel
berkaitan secara proporsional dengan jumlah sabun yang
diproduksi.
Hitung:
a. Biaya variabel per unit dan Biaya tetap
b. Bila PT ABC menjual sabun tersebut seharga Rp 6.000 per
buah, berapa yang harus diproduksi per bulan agar
perusahaan pada kondisi impas
c. Bila perusahaan memproduksi 12.000 buah per bulan,
apakah perusahaan merugi atau untung? Berapa
keuntungan atau kerugian per bulan?

a.

Biaya variabel per unit

Solusi:

30 jt 25 jt
5 jt
C

Rp1.000
15.000 10.000 5.000
sedangkan biaya tetap bisa dihitung berdasarkan
X = 10.000 unit
TC= FC + cX
Rp 25 jt = FC +(1.000)(10.000)
FC = Rp 15 jt
atau berdasarkan 15.000 unit
TC= FC + cX
Rp 30 jt = FC +(1.000)(15.000)
FC = Rp 15 jt

b. Bila harga jual (p) Rp 6.000 per unit maka jumlah


yang harus diproduksi untuk mencapai titi impas:

FC
15 unit
jt per bulan
X

3.000
p c 6.000 1.000
c. Bila X = 12.000 unit per bulan, maka total
penjualan :
TR
= pX
= Rp 6.000 x 12.000= Rp 72 juta per bulan
TC
= FC + cX
= Rp 15 jt + (Rp 1.000)(12.000) = Rp 27 jt
Keuntungan perusahaan :
= 72 jt 27 jt = Rp45 jt per bulan

Contoh 2:

PT ABC merencanakan untuk memproduksi produk


baru yang membutuhkan biaya awal Rp 150 jt dan
biaya-biaya operasional Rp 35.000 per jam. Biaya
operasional lainnya Rp 75 jt per tahun. Berdasarkan
waktu standar yang diperoleh dari studi TTC dan
Pengukuran Kerja, dapat diestimasikan bahwa 1000
unit dibutuhkan waktu 150 jam. Selanjutnya
diestimasikan harga per unit Rp 15.000, investasi
diasumsikan berumur ekonomis 10 tahun dan nilai
sisa Nol. Dengan MARR 20%, hitung berapa unit
yang harus diproduksi agar perusahaan berada
kondisi titik impas.

Solusi:

Misalkan x adalah jumlah produk yang harus


diproduksi dalam 1 tahun pada kondisi titik impas
AC (Annual Cost) = AR (Annual Revenue)
AC = AR
AC =150 jt(A/P,20%,10) + 75 jt +0.150(35.000)
= 150 jt (0,2385) + 75 jt + 5.250X
= 110,778 jt + 5.250X
AR = 15.000X
Sehingga:
110,778 jt + 5.250X = 15.000X
110,778 jt = 9.750X
X = 11.362 unit per bulan
Jadi PT ABC harus memproduksi 11.362 unit per bulan

Analisa Titik Impas pada Pemilihan


Alternatif Investasi

Contoh 3:
Sebuah perusahaan plat baja sedang mempertimbangkan 2
alternatif mesin pemotong plat yang bisa digunakan proses
produksi. Alternatif I, mesin potong otomatis yang memiliki
investasi awal Rp 23 jt dan nilai sisa Rp 4 jt setelah 10 tahun. Bila
membeli mesin tersebut, biaya operator Rp 12.000 per jam.
Output mesin 8 ton per jam. Biaya operasi dan perawatan tahunan
diperkirakan Rp 3,5 jt.
Alternatif II, adalah mesin semi-otomatis yang memiliki harga awal
Rp 8 jt dan masa pakai 5 tahun, tanpa nilai sisa. Ongkos tenaga
kerja per jam Rp 24.000 dan biaya operasional dan perawatan Rp
1,5 jt per tahun. Perkiraan output 6 ton per jam. MARR 10%.
a. Berapa lembaran logam yang diproduksi tiap tahun agar mesin
otomatis lebih ekonomis dari mesin semi-otomatis?
b. Apabila manajemen menetapkan tingkat produksi sebesar 2000
ton per tahun, mesin mana yang harus dipilih?

Solusi:
a.

1. X adalah jumlah lembaran yang harus diproduksi


per
tahun
2. Biaya variabel tahunan untuk mesin otomatis:

AC 1

Rp12.000 1 jam Xton


x
x
1.500 X
jam
8ton tahun

EUAC1= 23jt(A/P,10%,10)-4jt(A/F,10%,10)+3,5 jt+


1500X
= 6,992 jt + 1500X
Dengan
cara
Rp 24
.000 yang
1 jam sama:
Xton

AC

jam

6ton

tahun

4000 X

EUAC2= 8jt(A/P,10%,5)+1,5 jt+ 4000X


= 3,610 jt + 1500X

Lanjutan :
EUAC1=EUAC2
6,992 jt + 1500X= 3,610 jt + 1500X
2500X = 3,382 jt
X =1.352,8 ton per tahun
Jadi mesin otomatis akan lebih ekonomis
dibandingkan mesin semi-otomatis bila tingkat
produksinya lebih besar 1.352,8 ton per tahun
b. Apabila manajemen memutuskan tingkat
produksi 2000 ton per tahun, maka harus
dipilih mesin otomatis (> dari titik impas)

Contoh 4:
Alternatif
A
B
C
Biaya awal (jt)
100
150
250
Nilai sisa (jt)
0
25
25
Biaya tahunan
20
16
5
(jt)
Umur proyek
10
10
10
(th)
Ongkos/unit
Bilaproduk
MARR 10%, interval200
tingkat150
produksi100
per
tahun berapa alternatif B paling ekonomis?

Solusi:

Misalkan X adalah jumlah produk yang dibuat


per tahun, maka:
EUACA = 100 jt(A/P,10%,10)+20jt+200X
= 36,275 jt+200X
EUACB = 150jt(A/P,10%,10)+16jt25jt(A/F,10%,10)+150X
= 38,844 jt+150X
EUACC = 250jt(A/P,10%,10)+5jt25jt(A/F,10%,10)+100X
= 44,119 jt+100X

Lanjutan:

Lanjutan:

X1 dihitung dengan pertemuan garis A dan B


36,275 jt+200X = 38,844 jt+150X
X = 51.380 unit
Jadi X1 adalah titik impas antara altenartif A
dan B

X3 dihitung dengan pertemuan garis B dan C


38,844 jt+150X = 44,119 jt+100X
X = 105.500 unit
Jadi X1 adalah titik impas antara alternatif.
Jadi untuk alternatif B lebih ekonomis apabila
produksi per tahun antara 51.380 sampai

Analisa Titik Impas pada Keputusan


Buat-Beli
Contoh 5:
Seorang insinyur ditugaskan untuk
analisa buat-beli pada 2 komponen
yang akan digunakan untuk
melakukan inovasi pada produk
A
B
tertentu
Biaya awal

200 jt

350 jt

Biaya tenaga
kerja/unit

2.000

2.500

Biaya bahan baku/unit

3.000

2.500

Nilai sisa

10 jt

15 jt

5 tahun

7 tahun

Umur fasilitas

Disamping itu biaya-biaya overhead Rp 18 jt


per tahun untuk komponen A, dan Rp 15 jt per
tahun untuk komponen B. Selain perusahaan
juga mempertimbangkan untuk membeli
komponen A Rp 10.000 per unit dan Rp
15.000 per unit untuk komponen B. Bila
diasumsikan tidak ada biaya lain dalam
pembuatan produk, dan MARR 15%, tentukan:
a. Pada kebutuhan berapa komponen per tahun,
perusahaan lebih baik membuat sendiri?
b. Bila kebutuhan masing-masing komponen
2000 unit per tahun, keputusan apa yang
harus diambil oleh perusahaan?

Solusi:
Misalkan XA adalah kebutuhan komponen A dan Misalkan XB
adalah kebutuhan komponen B dalam setahun
Untuk Komponen A:
Biaya per tahun untuk Alternatif membeli komponen A per
tahun dikalikan dengan harga per unit:
EUACbeli = 10.000 XA
Biaya per tahun untuk alternatif membuat sendiri adalah:
EUACbuat = 200 jt(A/P,15%,5)+18 jt+(3.000+2.000)10jt(A/F,15%,5)
= 62,3843 jt +5.000 XA
Untuk titik impas buat-beli komponen A
EUACbeli = EUACbuat
10.000 XA = 62,3843 jt +5.000 XA
XA = 12.477 komponen per tahun
Jadi , bila kebutuhan komponen A 12.477 unit per tahun
adalah sama tingkat ekonomis bila membuat atau membeli.

Lanjutan:

Untuk Komponen A:
Biaya per tahun untuk Alternatif membeli komponen A
per tahun dikalikan dengan harga per unit:
EUACbeli = 15.000 XB
Biaya per tahun untuk alternatif membuat sendiri
adalah:
EUACbuat = 350 jt(A/P,15%,7)+15 jt+(2.500+2.500)10jt(A/F,15%,7)
=
97,7706 jt +5.000 XB
Untuk titik impas buat-beli komponen B
EUACbeli = EUACbuat
15.000 XB = 97,7706 jt +5.000 XB
XB = 9.777 komponen per tahun
Jadi , bila kebutuhan komponen B 9.777 unit per tahun
adalah sama tingkat ekonomis bila membuat atau

Analisa Sensitivitas

Analisa Sensitivitas

Karena nilai-nilai parameter dalam studi ekonomi


teknik biasanya diestimasikan dalam besarnya, maka
hal tersebut tidak lepas dari faktor kesalahan, artinya
nilai parameter tersebut bisa lebih besar atau lebih
kecil dari perkiraan
Perubahan yang terjadi pada parameter tersebut
mempengaruhi pada output alternatif-alternatif yang
diusulkan, akibatnya dapt merubah keputusan pada
alternatif-alternatif tersebut
Analisa sensitivitas dapat men-simulasikan nilai-nilai
parameter tersebut sehingga kita dapat
memperkirakan alternatif-alternatif mana yang paling
layak untuk kita tindak lanjuti

Contoh 6:

Suatu alternatif investasi diperkirakan membutuhkan


dana awal Rp 10 jt dengan nilai sisa nol diakhir tahun
ke-5. Pendapatan yahunan diestimasikan sebesar Rp 3
jt. Perusahaan menggunakan MARR 12% untuk menganalisis kelayaka alternatif tersebut. Buat analisa
sensitivitas dengan mengubah nilai-nilai:
a. Tingkat bunga
b. Investasi awal
c. Pendapatan tahunan
Pada interval 40% dari nilai-nilai yang disetimasikan
dan tentukan batas-batas nilai parameter yang
mengakibatkan perubahan pengambilan
keputusan terhadap alternatif tersebut.

Solusi:

1. Hitung netto (NPW) dari laternatif tersebut:


NPW = -10jt + 3jt(P/A, 12%,5)
= - 10jt + 3jt (3,6048)
= 0,8144 jt NPW >0, maka alternatif
dinyatakan layak

Lanjutan: Tingkat bunga berubah


a.

Bila tingkat bunga berubah 40%


1. Bertambah 40% dari 12%, maka
NPW = -10jt + 3jt(P/A, 16,8%,5)
= - 10jt + 3jt (3,2143)
= -0,3572 jt
2. Bertambah 25% dari 12%, maka
NPW = -10jt + 3jt(P/A, 15%,5)
= - 10jt + 3jt (3,522)
= 0,0566 jt
3. Berkurang 25% dari 12%, maka
NPW = -10jt + 3jt(P/A, 9%,5)
= - 10jt + 3jt (3,8897)
= 1,6691jt
4. Berkurang 40% dari 12%, maka
NPW = -10jt + 3jt(P/A, 7,2%,5)
= - 10jt + 3jt (4,0787)
= 2,2361jt

Lanjutan
Keputusan akan berubah dari layak
menjadi tidak layak, apabila NPW
berubah menjadi negatif. Batas
perubahan akan diperoleh dengan
menghitung nilai ROR pada NPW=0
- 10jt + 3 jt(P/A,i%,5) = 0
(P/A,i%,5) = 3,333
i% = 15,25%
Jadi keptusan akan berubah bila I (tingkat
bunga) menjadi lebih besar dari 15,25%

Lanjutan: Investasi awal berubah

Bila investasi awal berubah 40%, maka


nilai NPW menjadi:
1. Bertambah 40%
NPW = -10jt (1,4)+ 3jt(P/A,12%,5) =-3,1865 jt
2. Bertambah 25%
NPW = -10jt (1,25)+ 3jt(P/A,12%,5) =-1,6856 jt
3. Berkurang 25%
NPW = -10jt (0,75)+ 3jt(P/A,12%,5) = 3,3144jt
4. Berkurang 40%
NPW = -10jt (0,60)+ 3jt(P/A,12%,5) = 4,8144jt

Lanjutan:

Alternatif tersebut menjadi tidak layak bila


NPW< 0. NPW=0 bila
P = 3jt (P/A,12%,5) = 10,8144 jt
Jadi, investasi tersebut tidak layak bila investasi
> Rp 10,8144 jt atau meningkat sebesar 8,144%
dari investasi awal Rp 10 jt.

Lanjutan: Pendapatan berubah


Pendapatan naik 40%
NPW = -10jt + 3jt(1,4)(P/A, 16,8%,5)= 5,140 jt
2. Pendapatan naik 25%
NPW = -10jt + 3jt(1,25)(P/A, 16,8%,5)= 3,518 jt
3. Pendapatan turun 25%
NPW = -10jt + 3jt(0,75)(P/A, 16,8%,5)= -1,889 jt
4. Pendapatan turun 40%
NPW = -10jt + 3jt(0,60)(P/A, 16,8%,5)= -3,511 jt
Alternatif diatas menjadi tidak layak bila pendapatan
tahunan turun sampai dibawah 2,774 jt atau
penurunan sebesar 7,47%
1.

A = 10 jt(A/P,12%,5) = 10jt (0,2774 ) = 2,774 jt/tahun

Lanjutan:

Contoh 7:
Sebuah perusahaan sedang mempertimbang investasi sistem otomasi
sehingga bisa melakukan sistem retrieeval secara otomatis. Untuk
memenuhi rencana ini dibutuhkan investasi awal berupa gedung seharga
Rp 2,5 milyar dan peralatan-peralatannya seharga Rp 3,5 milyar. Gedung,
diestimasikan bisa dipakai secara ekonomis selama 30 tahun, sedangkan
peralatannya selama 15 tahun. Dengan pemakaian sistem pergudangan
otomatis ini, perusahaan akan bisa mereduksi jumlah tenaga kerjanya
sebanyak 70 orang. Setiap tenaga kerja diperkirakan dibayar Rp 18 jt per
tahun. Disisi lain perusahaan harus menanggung ongkos operasional dan
perawatan dari sistem yang baru ini lebih besar Rp 150 jt per tahun
dibandingkan dengan sistem lama.
Alat-alat lama yang tidak dipakai dalam sistem baru diperkirakan memiliki
nilai sisa sebesar Rp 600 jt. Dengan adanya sistem baru, perusahaan juga
harus menanggung ongkos-ongkos penggantian peralatan dengan nilai
sekarang Rp 200 jt. Karena peralatan hanya berumur ekonomis 15 tahun,
maka disini diasumsikan bahwa ongkos-ongkos peralatan akan tetap
identik setelah penggantian dilakukan. MARR yang digunakan adalah 15%

Tabel estimasi aliran kas


Akhir tahun

Bangunan

2.500

Peralatan

3.500

Penghematan ongkos
tenaga kerja
Biaya operasi dan
perawatan
Nilai sisa

115

15

16 30

30
0

3.500

1.260

1.260

-150

-150

800
5.20
0

1.11
0

3.50
0

1.11
0

Perusahaan yakin bahwa estimasi ongkos


bangunan, ongkos operasi dan perawatan, dan
beberapa ongkos lainnya cukup akurat, namun
ongkos peralatan dan penghematan 70 orang
tenaga kerja dianggap masih mengandung unsurunsur kesalahan estimasi. Oleh karena itu perlu
dilkakukan analisa sensitivitas pada kedua faktor
tersebut.
Misalkan X adalah prosentase kesalahan estimasi
ongkos peralatan dan Y adalah prosentase
kesalahan estimasi penghematan ongkos tenaga
kerja. Dengan menggunakan perhitungan nilai
sekarang dari aliran kas tersebut, maka dapat
dikatakan bahwa investasi tersebut layak
dilakukan sepanjang memenuhi:

PW 0
PW = -2.500 -3.500(1+X)(P/F,15%,15)-150(P/A,15%,30)+ 18(70)
(1+Y)(P/A,15,30)
Dengan penyederhanaan persamaan diperoleh bahwa investasi
tersebut akan layak bila:

PW = 1.658,110 3.930,150X + 8.273,160Y0


Atau
Y -0,2004 + 0,47505 X
Dari persamaan tersebut disimpulkan,
Bila X=0 maka nilai Y = -0,2004 atau -20,04%, artinya bila
kesalahan pada estimasi ongkos investasi peralatan, maka
penurunan penghematan ongkos tenaga kerja masih bisa
ditoleransi sampai 20,04%
Bila Y=0 maka X=0,42185 atau 42,185%, artinya bila tidak
ada kesalahan pada estimasi penghematan ongkos tenaga
kerja, maka investasi akan tetap layak bila ongkos investasi
peralatannya peningkatannya tidak melebihi 42,185% dari
estimasi awal.

Terima Kasih