Anda di halaman 1dari 86

STROKE NON

HEMORAGIK
PEMBIMBING :
dr. M. Rowi, Sp.S

PENYUSUN:
Ivanalia Soli Deo (11-2014-170)
Herkuliana Puspita Sari ( 11-2015-340)

CASE REPORT

IDENTITAS
Nama

Ny. DR

Umur

48 tahun

Jenis kelamin

Perempuan

Alamat

Villa nusa indah blok DD8/45, Bogor

Agama

Kristen

Status perkawinan

Menikah

Pekerjaan

Tidak bekerja

Tanggal Masuk RS

29 november 2016

Status Pasien

Pasien rawat inap

ANAMNESIS
Autoanamnesis
Tanggal 29 november, pukul 13.00 WIB di
Ruang Rawat Merpati RSAU
Keluhan Utama
Bicara pelo sejak 1 hari SMRS
Keluhan Tambahan
Tangan dan kaki kiri lemas sejak 1 hari SMRS

RIWAYAT PENYAKIT
SEKARANG
Pasien datang ke UGD RSAU dengan keluhan bicara pelo sejak
1 hari SMRS. Pasien mulai bicara pelo secara tiba-tiba. Selain
bicara pelo, pasien juga mengeluhkan tangan dan kakinya
lemas sejak 1 hari SMRS. Lemas dirasakan terus menerus dan
tidak

membaik

meskipun

tangan

dan

kakinya

sudah

diistirahatkan. Akan tetapi, pasien mengatakan bahwa dirinya


masih bisa menggerakan tangannya dan masih bisa berjalan
meskipun harus dengan perlahan-lahan. Pasien mengatakan
bahwa

sebelumnya

saat

minum

air,

pasien

kesulitan

menelan sehingga air mengalir dari sisi kiri bibir, akan


tetapi saat ini keluhan tersebut tidak lagi dirasakan oleh pasien.

Pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan baik pada


penciuman dan pengecapan. Tidak ada perubahan
suara

yang

dialami

oleh

pasien.

Pasien

tidak

mengeluhkan adanya gangguan pada penglihatan, baik


itu menjadi buram maupun menglihatan ganda. Pasien
juga tidak mengeluhkan adanya gangguan daya ingat,
atau kesulitan untuk memahami pembicaraan dan
mengemukakan isi pikir. Gangguan dalam membaca
dan menulis tidak dikeluhkan oleh pasien. Tremor dan
tik tidak dikeluhkan oleh pasien. Rasa baal, kesemutan,
maupun

rasa

terbakar

pada

bagian

dikeluhkan. BAB dan BAK pasien normal.

tubuh

tidak

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien belum pernah mengalami keluhan yang
serupa sebelumnya. Riwayat stroke disangkal.
Pasien memiliki riwayat tekanan darah tinggi
sejak lama, dan obat yang rutin dikonsumsi
pasien adalah amlodipin 5mg sekali sehari. Selain
riwayat

darah

tinggi,

pasien

juga

menderita

kencing manis yang baru diketahui beberapa


bulan

yang

lalu,

namun

pasien

tidak

mengkonsumsi obat untuk kencing manisnya.


Pasien tidak memiliki riwayat penyakit asam urat,

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Pasien mengatakan bahwa tidak ada di keluarga
yang mengalami keluhan yang sama seperti
dirinya.

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Keadaan sosial dan ekonomi pasien adalah cukup
Pasien tidak merorok, tidak mengkonsumsi alkohol

PEMERIKSAAN FISIK
Status Umum
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
GCS : E4M6V5 = 15
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 160/100 mmHg
Nadi : 88x/menit
Suhu
: 36,5C
Frekuensi nafas : 20x/menit

Kepala

Normocephali, simetris, ekspresi wajah kurang


Mata
Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), Pupil
isokor 3mm/3mm, RCL +/+, RCTL +/+
Leher
Tidak terlihat benjolan, tidak ada pembesaran KGB
Jantung
BJ I dan BJ II regular, gallop (-), murmur (-)
Paru
Simetris, suara nafas vesikular +/+, rhonki -/-,
wheezing -/ Abdomen
BU (+) normoperistaltik. Pembesaran hepar dan lien

(-)

Status Psikis
Cara berpikir
: Wajar; sesuai umur
Perasaan hati
: Baik
Tingkah laku
: Wajar, pasien sadar
Ingatan
: Baik, amnesia (-)
Kecerdasan
: Baik

STATUS NEUROLOGI
Kesadaran

E4M6V5 = GCS 15
Cara berjalan

Pasien dapat berjalan namun lambat dan


membutuhkan bantuan
Tonus

Normal

Kepala
Bentuk
Nyeri tekan
Simetris
Pulsasi

:
:
:
:

Normocephali
tidak ada
wajah tidak simetris
normal

Leher
Sikap
: Simetris
Pergerakan : Normal
Kaku Kuduk : (-)

Pemeriksaan Saraf Kranialis


Nervus Olfaktorius (N. I)
Penciuman : Tidak dilakukan
Nervus Optikus (N. II)

Kanan

Kiri

Tajampenglihatan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Pengenalanwarna Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Lapangpandang

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Fundusokuli

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

N.III
(Oculomotorius)

Ptosis
Gerakmata:
Superior

Kanan
Tidak ada

Kiri
Tidak ada

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Inferior

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Medial

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Endoftalmus
Eksoftalmus

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Pupil

Kanan

Kiri

Diameter

3 mm

3 mm

Bentuk

Bulat, isokor

Bulat, isokor

Reflekscahaya

Strabismus

Nistagmus

langsung
Reflekscahayatidak
langsung

Nervus Trochlearis (N. IV)


Gerak mata ke medial :

Kanan

Kiri

Bawah

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

Strabismus

Diplopia

Nervus Trigeminus (N. V)


Membuka mulut
: tidak ada kelainan
Mengunyah
: tidak ada kelainan
Refelks korena
: positif
Sensibilitas
: positif (+)

Nervus Abducens (N. VI)

Gerakmatakelateral

Kanan
Tidak ada kelainan

Kiri
Tidak ada kelainan

Strabismusdivergen

Diplopia

Nervus Facialis (N. VII)

Kanan

Kiri

Mengerutkandahi

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Menutupmata

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Memperlihatkangigi

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Menggembungkanpipi

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Bersiul

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Perasaanlidahbagian2/3depan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Nervus Vestibulochoclearis (N. VIII)

Kanan

Kiri

Mendengarsuara

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

TestRinne

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

TestWeber

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

TestShwabach

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

berbisik

Nervus Glossofarigeus (N. IX)


Arkus faring
: Tidak dilakukan
Daya mengecap 1/3 belakang
: Tidak dilakukan
Refleks muntah
: Tidak dilakukan
Sengau
: Tidak dilakukan
Tersedak
: Tidak dilakukan

Nervus Vagus (N. X)


Arkus faring : Tidak dilakukan
Bicara
: Pelo (+), suara berubah (-)
Menelan
: Tidak ada kelainan

Nervus Accesorius
(N. XI)
Memalingkan kepala :
tidak ada kelianan
Angkat bahu
:
tidak ada kelainan
Atrofi otot bahu :
tidak ada kelainan

Nervus Hypoglossus
(N. XII)
Julur lidah: Deviasi
ke kiri
Tremor: Negatif
Fasikulasi : Tidak ada
kelainan

Tanda Rangsang Meningeal


Kaku Kuduk
: negatif
Brudzinski I
: negatif
Brudzinski II : negatif
Laseque
: negatif
Kernig
: negatif

Badan dan Anggota Gerak


Badan

c.Refleks
Refleks
Refleks
Refleks
Refleks

kulit perut atas : Tidak dilakukan


kulit perut bawah : Tidak dilakukan
kulit perut tengah : Tidak dilakukan
kremaster
: Tidak dilakukan

Anggota gerak atas

Anggota gerak bawah

Koordinasi, Gait dan Keseimbangan


Cara berjalan
: tidak ada kelainan
Test Romberg
: tidak dilakukan
Disdiadokokinesia
: tidak dilakukan
Ataksia
: tidak dilakukan
Rebound phenomenon : tidak dilakukan
Dismetria
: tidak dilakukan
Nistagmus test
: tidak dilakukan

Gerakan-gerakan Abnormal
Tremor
: (-)
Miokloni
: (-)
Khorea
: (-)
Alat Vegetatif
Miksi
: normal
Defekasi : normal

LABORATORIUM
Tanggal 29 november 2016
Darah Rutin
Hb
Leukosit
Hematokrit
Trombosit

: 123mg/dl
: 9700mg/dl
: 30%
: 287.000mg/dl

Kimia
Faal Ginjal
Ureum
Kreatinin

: 23mg.dl
: 0.8mg/dl

Diabetes
Gula darah sewaktu

: 242mg/dl

FOTO THORAX PA
CTR < 50 %
Kesan : elongatio aorta
Pulmo tidak ada kelainan

CT SCAN KEPALA NON KONTRAS

Kesan : Iskemik di
hemisfer kanan

RESUME
Subjektif
Seorang wanita usia 48 tahun datang dengan
keluhan bicara pelo sejak 1 hari SMRS. Pasien
juga mengeluhkan tangan dan kakinya lemas
sejak 1 hari SMRS. Lemas dirasakan terus
menerus dan tidak membaik meskipun tangan
dan kakinya sudah diistirahatkan. Pasien
mengatakan bahwa sebelumnya saat minum air,
pasien kesulitan menelan sehingga air mengalir
dari sisi kiri bibir, akan tetapi saat ini keluhan
tersebut tidak lagi dirasakan oleh pasien.

Objektif

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan :


Gula darah sewaktu 242 mg/dl
Pada CT SCAN didapatkan kesan iskemik di
hemisfer kanan

SKORING
GADJAH MADA
penurunan kesadaran (-)
nyeri kepala (-)
Babinski (-)
-->

Stroke Iskemik

SIRIRAJ SKORING
No.

Gejala / Tanda

Penilaian

Indeks

Skor

1.

Kesadaran

(0) Kompos mentis(1)


Mengantuk(2) Semi koma /
koma

X 2,5

2.

Muntah

(0) Tidak(1) Ya

X2

3.

Nyeri kepala

(0) Tidak(1) Ya

X2

4.

Tekanan darah

Diastolik

X 10%

5.

Ateromaa. DMb.
Angina
pectorisKlaudikasi
o intermiten

(0) Tidak(1) Ya

X (-3)

6.

Konstanta

-12

-12

(2,5 x 0) + (2 x 0) + (2 x 0) + (0,1 x 110) - (3 x 1) 12 =

-4

SKORING DJOENAEDI
NO.

INDIKATOR

TIA sebelum serangan

Permulaan serangan

SKOR
Ada

Tidak ada

Sangat mendadak/1-2 menit

6,5

Mendadak/beberapa menit-1 jam

6,5

Pelan-pelan/beberapa jam
3

Waktu serangan

Sakit kepala saat serangan

Muntah

Waktu kerja/aktivitas

1
6,5

Waktu istirahat/duduk/tidur

Waktu bangun tidur

Sangat hebat

10

Hebat

7,5

Ringan

Tidak ada

Langsung setelah serangan

10

Mendadak/beberapa menit-jam

7,5

Kesadaran

Tekanan darah

Tanda rangsangan selaput otak

Fundus okuli

Hilang saat serangan

10

Hilang mendadak/beberapa menit-jam

10

Hilang pelan-pelan (>1 hari)

Hilang sementara lalu sdar/sepintas

Tidak ada

Waktu serangan sangat tinggi / >200/110 mmHg

7,5

Waktu MRS sangat tinggi / >200/110 mmHg

7,5

Waktu serangan tinggi/>140/110

Waktu MRS tinggi/>140/110

TD tinggi tidak terkontrol

7,5

Kaku kuduk sangat hebat

10

Kaku kuduk hebat

Tidak ada

Perdarahan subhyaloid

Perdarahan retina

7,5

Normal
10
Pupil
Isokor dilakukan
TOTAL
= 8.5 + fundus okuli tidak

STROKE ISKEMIK

Diagnosis kerja
Diagnosis klinik
Diagnosis topik

: Hemiparesis kiri
: Iskemik di Hemisfer

kanan
Diagnosis etiologik : Stroke non

hemoragik

TATALAKSANA
Non Medikamentosa
Observasi vital sign
dan neurologis
Mobilisasi dan
rehabilitasi medik
Konsul gizi

Medikamentosa
IVFD RL
20 tpm
Citicolin 3x500mg IV
Aspilet 1x1
Clopidogrel
1x1
Amlodipin 1x1 5mg

PROGNOSIS
Ad vitam
: ad bonam
Ad sanasionam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad malam

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Sindrom yang ditandai dengan gejala dan
atau tanda klinis yang berkembang dengan
cepat yang berupa gangguan fungsional otak
fokal maupun global secara mendadak dan
akut yang berlangsung lebih dari 24 jam yang
tidak disebabkan oleh sebab lain selain
penyebab vaskuler

Epidemiologi
Tahun 1991
Angka insidensi stroke 84,68 per 10.000 penduduk
Angka insidensi stroke wantia 62,10 per 100.000 penduduk
Angka insiden laki-laki 110,25 per 100.000 penduduk
Angka insidensi kelompok umur:
30-50 tahun adalah 27,36 per 100.000 penduduk
51 70 tahun adalah 142,37 per 100.000 penduduk
> 70 tahun adalah 182,09 per 100.000 penduduk

Proporsi stroke:
74% stroke infark
24% stroke perdarahan intraserebral
2% stroke perdarahan subarachnoid.

Anatomi Sistem
Vaskuler Otak

Sirkulus Wilisi

Klasifikasi Stroke
Berdasarkan patologi anatomi dan

penyebabnya
Stroke
iskemik
Transient
ischemic
attack (TIA)

Trombosis
serebri

Stroke
hemoragik

Embolia
serebri

Perdarahan
intraserebral

Perdarahan
subarachnoid

Berdasarkan stadium /pertimbangan waktu


Serangan iskemik sepintas/ TIA
Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul
akibat gangguan peredaran darah di otak akan
menghilang dalam waktu 24 jam
RIND
Gejala neurologik yang timbul akan menghilang
dalam waktu lebih lama dari 24 jam, tetapi tidak
lebih dari seminggu.
Progressing stroke atau stroke in evolution
Gejala neurologik yang makin lama makin berat
Completed stroke
Gejala klinis sudah menetap.

Berdasarkan sistem pembuluh darah


Sistem karotis
Sistem vertebro-basiler

Faktor Risiko
Tidak dapat
Dimodifikasi

Dapat Dimodifikasi

usia
Jenis kelamin
Herediter
Ras/etnik

Hipertensi
Penyakit jantung
Diabetes melitus
Hiperkolesterolne
mia
Obesitas
Merokok

Stroke Iskemik
Stroke iskemik =

stroke sumbatan =
stroke infark
Akibat aliran darah
menurun atau
berhenti total pada
area tertentu di otak
83% stroke tipe
iskemik

Mekanisme stroke iskemik


Trombosis
2/3 kasus stroke
iskemik
Mengakibatkan
terjadinya oklusi
Oklusi arteri
serebral yang besar,
khususnya arteri
karotis interna,
arteri serebri media,
atau arteri basilaris
Biasanya didahulu
dengan TIA

Emboli
1/3 kasus stroke
iskemik
Oklusi berasal dari
trombus dari
jantung, arkus
aorta, atau arteri
besar lainnya
Defisit neurologis
langsung mencapai
taraf maksimal
sejak awal (onset)
gejala muncu

paralisis kontralateral
dan gangguan sensorik
anggota gerak bawah
gangguan kendali
miksi karena
kegagalan miksi
yang bersifat
presipitatif

Arteri
Serebri
Anterior

Gejala (Sesuai dengan Lokasi)

divisi kortikal superior hemisensorik


kontralateral tanpa disertai hemianopia
homonimus, afasia Brocca (afasia ekspresif)
divisi kortikal inferior homonimus
hemianopia kontralateral, gangguan fungsi
sensorik kortikal (ex graphestesia), gangguan
pemahaman spasial, anosognosia, gangguan
identifikasi anggota gerak kontralateral,
apraksia, afasia Wernicke (afasia reseptif)
bifurkasio atau trifurkasio (lokasi
percabangan arteri serebri media)
hemiparesis dan hemisensorik kontralateral,
yang lebih melibatkan wajah dan lengan
dibanding kaki, terjadi homonimus
hemianopia, dan bila mengenai sisi dominan
akan terjadi afasia global (perseptif dan
ekspresif).

Arteri
Serebri
Media

Arteri
Karotis
Interna

gejala dari oklusi arteri serebri media


dan anterior
hemiplegia dan hemisensorik
kontralateral, afasia, homonimus
hemianopia, dan gangguan
penglihatan ipsilateral.

Arteri
Serebri
Posterior

homonimus hemianopia yang mengenai lapangan pandang


kontralateral
paralisis pandangan vertikal, gangguan nervus kranialis
okulomotorik, oftalmoplagia internuklear, dan defiasi
vertikal drai bola mata pada mesensefalon
mengenai lobus oksipital sisi hemisfer dominan
afasia anomik (kesulitan menyebutkan nama benda),
aleksia tanpa agrafia (tidak dapat membaca tanpa kesulitan
menulis), agnosia visual (ketidakmampuan untuk
mengidentfikasi objek yang ada di sisi kiri)

sindrom medular lateral (Wallenbergs


syndrome)
ataksia sereberalis ipsilateral, sindrom Horner,
defisif sensoris wajah, hemihipertesi alternan,
nistagmus, vertigo, mual muntah, disfagia,
disartria, dan cegukan
paresis otot wajah, kelumpuhan pandangan,
ketulian, dan tinitus

Keterlibatan sisi dorsal pons gangguan


pergerakan mata horizontal, nigtagmus vertikal,
konstriksi pupil yang reaktif, hemiplegi yang
sering disertai koma
gangguan visual (hemianopia homonim, buta
kortikal), visiomotor (gangguan gerak
konvergen, paralisis penglihatan vertikal,
diplopia), dan prilaku (terutama disorientasi)
abnormal tanpa gangguan motorik

Cabang
vertebrobasil
ar
Sirkumferensi
al
Arteri
Basilaris

hemiparesis murni
stroke sensorik murni
hemiparesis ataksik
dan sindroma dysarthria-clumsy hand

Infark
Lakunar
Cabang
Vertebrobasil
er
Paramedian

mesensefalon paresis nervus okulomotor (N.III) ipsilateral disertai


ataksia.
Pons Paresis nervus abdusen (N.VI) dan nervus fasialis (N.VII)
ipsilateral terjadi
Medula oblongata paresis nervus hipoglosus (N.XII)
Manifestasi klinis dapat berupa koma apabila lesi melibatkan kedua sisi
batang otak.

Cabang
Vertebrobasil
ar Basalis

hemiparesis kontralateral,
nervus kranialis (N.III, N.VI, N.VII) terkena
terjadilah paresis nervus kranialis
ipsilateral

Stroke Hemoragik
stroke yang disebabkan oleh perdarahan

intrakranial non traumatik


70% stroke hemoragik terjadi pada penderita
hipertensi
Stroke hemoragik meliputi:
perdarahan di dalam otak (intracerebral

hemorrhage)
perdarahan di antara bagian dalam dan luar
lapisan pada jaringan yang melindungi otak
(subarachnoid hemorrhage)

Intracerebral hemorrhage (perdarahan

intraserebral)
ruptur arteri perforantes dalam
Hipertensi menahun stroke hemoragik

pecahnya pembuluh darah proses


degeneratif pada dinding pembuluh darah

Subarachnoid Hemorrhage (perdarahan

subarakhnoid)
perdarahan ke dalam ruang (ruang

subarachnoid) diantara lapisan dalam (pia


mater) dan lapisan tengah (arachnoid mater)
pecahnya tonjolan pada pembuluh (aneurisma)

Gejala Intracerebral hemorrhage


Sakit kepala pada saat onset, muntah, kejang
Perdarahan putamial
kelemahan motorik unilateral
abnormalitas sensorik visual dan perilaku.
hemisfer sisi dominan afasia global
hemisfer non-dominan hemi-inattention.

Perdarahan kaudatus
sakit kepala dan muntah
penurunan kesadaran
Pemeriksaan fisik kekakuan leher, disorientasi,
konfusi, gangguan ingatan jangka pendek.

Perdarahan Talamik
Muntah, sakit kepala jarang
hemiparesis atau hemiplegia yang disertai sindrom
hemisensorik berupa penurunan sistem sensorik tungkai,
wajah dan punggung kontralateral
kelainan pada nervus okulomotoris kelumpuhan
pandangan atas, paralisis konvergen, retraksi nistagmus,
deviasi asimetris
Perdarahan substansia alba (perdarahan lobaris)
penurunan kesadaran jarang terjadi
sakit kepala dan kejang lebih sering ditemukan
sakit kepala di daerah sekitar mata ipsilateral dan

hemianopasia
sakit pada areal sekitar telinga
kelemahan anggota gerak kontralateral atas serta
kelemahan kaki dan wajah.

Perdarahan Serebral
berasal dari cabang distal arteri serebralis
posteriol inferior
Gejala (+) saat aktifitas
Pusing, mati rasa pada wajah, tidak mampu
berjalan dan berdiri
Kekakuan pada leher dan daerah bahu
Perdarahan mesensefalon
ataksia dan oftalmoplegia juga hidrposefalus
kelumpuhan bilateral nervus III, kelemahan

bulbar, reflek extensor plantar, sakit kapal yang


menyeluruh, muntah, hemiparesis, diplopia,
dan pinpoint pupil.

Perdarahan Pons
sakit kepala yang hebat di daerah oksipital
sebelum terjadi koma, gejala kejang, menggigil
hebat, dan terjadi disfungsi sistem otonom.
mati rasa pada wajah dan tungkai atas,
ketulian, diplopia, kelemahan kaki bilateral, dan
pola pernapasan yang abnormal, apnea.
Perdarahan Medula Oblongata
Rasa pening, muntah, sakit kepala, diplopia,

dan paresthesia tungkai atas kanan


ataksik disertai kaku kuduk, hemiparesis kiri,
nistagmus, disfonia, dan disfagia.

Gejala Subarachnoid Hemorrhage


sakit kepala tiba-tiba (sakit kepala thunderclap)
nyeri muka atau mata
penglihatan ganda
kehilangan penglihatan sekelilingnya
kehilangan kesadaran yang singkat
Dalam 24 jam leher kaku, sering muntah,
pusing, dan rasa sakit di punggung bawah

Gejala Umum Stroke


Kelemahan atau kelumpuhan dari anggota badan yang dipersarafi,
kesulitan menelan
Kehilangan kesadaran (Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh)
Nyeri kepala, hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran
Penglihatan ganda
Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat.
Pergerakan yang tidak biasa, hilangnya pengendalian terhadap

kandung kemih
Ketidakseimbangan dan terjatuh.
Rasa mual, panas dan sangat sering muntah-muntah.
Bagian sistem saraf pusat kelemahan otot (hemiplegia), kaku,
menurunnya fungsi sensorik
Batang otak menurun kemampuan membau, mengecap, refleks
menurun, ekspresi wajah terganggu, pernafasan dan detak jantung
terganggu, lidah lemah.
Afasia, apraxia, daya ingat menurun, hemineglect, kebingungan.

Pemeriksaan Fisik
GCS
Tanda-tanda vital
Saraf-saraf caranial
Fungsi komunikasi
Fungsi motorik
Fungsi sensoris
Fungsi serebelum cara berjalan penderita dan

pemeriksaan disdiadokokinesis
Refleks
Refleks patologis (Babinski, Chaddock)

Pemeriksaan
Penunjang
LABORATORIUM
Gula darah sewaktu
Kolesterol, ureum, kreatinin, asam urat, fungsi hati,

enzim SGOT, SGPT, CPK, dan profil lipid


(trigliserida, LDH, HDL serta total lipid)
Waktu protrombin
APTT
Kadar fibrinogen
D-dimer
INR
Viskositas plasma

EKG
potensial source of cardiac emboli (PSCE)

CT-SCAN
perdarahan intraserebral.
infark otak tampak setelah 72 jam serangan

PEMERIKSAAN FOTO THORAX


Pembesaran ventrikel kiri hipertensi

SKORING STROKE
Skor Siriraj

Algoritma Gadjah Mada

TATALAKSANA UMUM STROKE


ISKEMIK
Elevasi kepala posisi 30
Oksigen 1-2 liter/menit sampai didapatkan hasil analisis gas darah
Pemasangan kateter
Cairan isotonik, kristaloid atau koloid 1500-2000 mL dan elektrolit sesuai

kebutuhan
slang nasogastrik kesadaran menurun atau gangguan menelan
Kadar gula darah >150 mg% dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu
150 mg% dengan insulin drip intravena kontinu selama 2-3 hari pertama
Hipoglikemia (kadar gula darah < 60 mg% atau < 80 mg% dengan gejala)
dekstrosa 40% iv sampai kembali normal
Nyeri kepala atau mual dan muntah obat-obatan sesuai gejala
Tekanan darah tidak perlu segera diturunkan, kecuali bila tekanan sistolik
220 mmHg, diastolik 120 mmHg, Mean Arterial Blood Pressure (MAP)
130 mmHg (pada 2 kali pengukuran dengan selang waktu 30 menit), atau
didapatkan infark miokard akut, gagal jantung kongestif serta gagal ginjal.
Penurunan tekanan darah maksimal adalah 20% natrium nitroprusid,
penyekat reseptor alfa-beta, penyekat ACE, atau antagonis kalsium.

Jika terjadi hipotensi, yaitu tekanan sistolik 90 mm Hg,

diastolik 70 mmHg NaCl 0,9% 250 mL selama 1 jam,


dilanjutkan 500 mL selama 4 jam dan 500 mL selama 8 jam
atau sampai hipotensi dapat diatasi belum terkoreksi
dopamin 2-20 g/kg/menit sampai tekanan darah sistolik 110
mmHg.
Kejang diazepam 5-20 mg iv pelan-pelan selama 3 menit,
maksimal 100 mg per hari; dilanjutkan pemberian
antikonvulsan peroral (fenitoin, karbamazepin)
tekanan intrakranial meningkat manitol bolus intravena
0,25 sampai 1 g/kgBB per 30 menit, dan jika dicurigai fenomena
rebound atau keadaan umum memburuk, dilanjutkan
0,25g/kgBB per 30 menit setiap 6 jam selama 3-5 hari.
Harus dilakukan pemantauan osmolalitas (<320 mmol);
sebagai alternatif, dapat diberikan larutan hipertonik (NaCl 3%)
atau furosemid.

TATALAKSANA STROKE ISKEMIK


t-TPA (recombinant tissue plasminogen

activator) i.v maupun intra arterial dalam


waktu kurang dari 3 jam setelah onset stroke
Antikoagulan heparin atau heparinoid
(fraxiparine)
Aspirin pada fase akut menurunkan frekuensi
stroke berulang
Citicoline, pentoxyfilline, pirasetam

TATALAKSANA UMUM STROKE


HEMORAGIK
ICU volume hematoma >30 Ml
Tekanan darah diturunkan sampai tekanan darah

premorbid atau 15-20% bila tekanan sistolik >180


mmHg, diastolik >120 mmHg, MAP >130 mmHg, dan
volume hematoma bertambah.
Gagal jantung segera diturunkan dengan labetalol
iv 10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20mg
(pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg;
enalapril iv 0,625-1.25 mg per 6 jam; kaptopril 3 kali
6,25-25 mg per oral.
Penatalaksanaan umum lainnya sama seperti pada
pasien dengan stroke iskemik

TERAPI KHUSUS STROKE


HEMORAGIK
Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat

vasodilator
Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak
perdarahan
perdarahan serebelum berdiameter >3 cm3
hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau
serebelum VP-shunting
Perdarahan lobar >60 mL dengan tanda peningkatan
tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi
Pada perdarahan subaraknoid antagonis Kalsium
(nimodipin) atau tindakan bedah (ligasi, embolisasi,
ekstirpasi, maupun gamma knife) jika penyebabnya adalah
aneurisma atau malformasi arteri-vena (arteriovenous
malformation, AVM).

TERIMA KASIH