Anda di halaman 1dari 45

OTITIS EKSTERNA AURIKULA

DEXTRA SINISTRA DAN RHINITIS


ALERGI INTERMITTEN RINGAN

Nama : Isabella Regina Nikenshi Ganggut


Nim

: 112015183

Pembimbing:

Dr. Wiendyati S.R, Sp.THT-KL

OTITIS EKSTERNA

Definisi
Klasifikasi

Peradangan
Peradangandari
darikulit
kulitliang
liangtelinga
telinga
akut
akutmaupun
maupunkronis
kronis
Berdasarkan bentuk lesi:
Otitis eksterna sirkumskripta
Otitis eksterna difusa

Berdasarkan penyebab:
Bakteri, virus, jamur

Otitis Eksterna
Sirkumskripta
(Furunkulosis)
Furunkel

telinga

Kuman

berbatas tegas pada 1/3 luar liang

tersering: Staphylococcus aureus,


Staphylococcus albus

Gejala
rasa nyeri yang hebat
-> penekanan
perikondrium
Nyeri saat membuka
mulut
Gangguan
pendengaran

Terapi
salep seperti
polymixin B atau
bacitracin atau
antiseptic asam setat
2-5% dalam alcohol.
Jika dinding furunkel
tebal, -> insisi
kemudian dipasang
drainase
AB sistemik jarang
diberikan

OTITIS EKSTERNA DIFUSA


(SWIMMERS EAR)

Mengenai 2/3 liang telinga dalam

Penyebab : Pseudomonas aeruginosa, staphylococcus


albus, Escherichia coli dan enterobacter aerogens

PREDISPOSING FACTORS FOR


OTITIS EXTERNA
Anatomic abnormalities
Canal stenosis
Exostoses
Hairy ear canals

Canal obstruction
Cerumen obstruction
Foreign body Sebaceous cyst
Cerumen/epithelial integrity
Cerumen removal
Earplugs
Hearing aids

Dermatologic conditions

Water in ear canal

Eczema
Psoriasis Seborrhea
Other inflammatory dermatoses

Humidity
Sweating
Swimming or other prolonged
water exposure

Miscellaneous
Purulent otorrhea from otitis
media
Soap

GEJALANYA
nyeri tekan tragus
nyeri tarik liang telinga
liang telinga sempit
Kadang KGB regional > dan nyeri tekan
Sekret yang sedikit.
Pendengaran normal atau sedikit berkurang

TERAPI

membersihkan liang telinga

Pemasangan tampon antibiotika

Tetes

telinga

adalah

polimiksin

hidrokortison, kloramfenikol

Antibiotika sistemik dipertimbangkan

B,

neomisin,

DIAGNOSIS BANDING
Otomikosis

Etiologi: Aspergillus (80%), Candida, Pytirosporum (sisik


menyerupai ketombe)
Dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan
Gejala : gatal, rasa penuh pada telinga, gangguan
pendengaran dan tinnitus

RHINITIS ALERGI

Definisi: radang selaput lendir (membran mukosa) hidung


oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sudah
tersensitisasi alergen yang sama serta dilepaskannya suatu
mediator kimia -> paparan ulangan.

Menurut WHO (ARIA)thn 2001 : kelainan dengan gejala


rinore, tersumbat dan bersin setelah terpapar alergen
diperantai IgE

Etiologi

Genetic

Debu

Kelembaban yang tinggi

debu tungau

asap rokok, polusi udara, bau aroma yang kuat

Cara masuk
alergen:

Alergen
Alergen
Alergen
Alergen

inhalan
Ingestan
injekta
kontaktan

PATOFISIOLOGI

KLASIFIKASI BERDASARKAN SIFAT

BERLANGSUNGNYA

Seasonal

(alergi

Serbuk sari
Spora jamur

musiman )

Perennial
(alergi sepanjang
tahun)

Debu rumah
Jamur
Tungau kecoa
Sengatan hewan

KLASIFIKASI
Intermittent

Gejala muncul < 4 hari/minggu


Gejala muncul < 4 minggu

Persisten

Gejala muncul 4 hari/minggu


Gejala muncul 4 minggu

Sedang-Berat

Ringan

Tidur normal
Tidak ada gangguan aktivitas
sehari-hari

Gangguan tidur
Gangguan aktivitas, waktu
luang, olahraga
Gangguan saat sekolah/kerja
Gejala yang menyusahkan

Gejala:
Bersin berulang tu pagi hari
Rinore encer,
hidung tersumbat,
hidung dan mata gatal
lakrimasi
allergic salute, allergic shiner

DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang

ANAMNESIS

Gejala utama yang menonjol, usia timbulnya,


frekuensi, lama dan beratnya, pengaruh
terhadap aktivitas, faktor pencetus

Riwayat atopi atau alergi dalam keluarga

Riwayat pengobatan dan hasilnya

PEMERIKSAAN FISIK

Allergic shiner, allergic salute,


allergic crease
Facies adenoid
Mata kemerahan
Hiperlakrimasi
Tenggorokan: cobble stone
appearance, penebalan dinding
lateral faring

Rhinoskopi ant:
Mukosa udem
Livid
Sekret bening dan
encer

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan in vitro:
IgE Total Serum pada penderita atopi
IgE Spesifik Serum (metode RAST): untuk membuktikan
adanya IgE spesifik terhadap suatu alergen
Sitologi hidung Eosinofil : Alergi inhalan
Basofil > 5 sel/LP : Alergi makanan
PMN : infeksi bakteri
Pemeriksaan in vivo
SET (Skin End-point Titration) untuk Alergen Inhalan
IPDFT (Intracutaneus Provocative Dilutional Food)
untuk Alergi Makanan
Diet eleminasi dan provokasi (Challenge Test)
Pemeriksaan Radiologi: Foto polos SPN, CT Scan, atau
MRI

KOMPLIKASI

Polip hidung
Otitis media efusi yang sering residif, terutama
pada anak-anak.
Sinusitis paranasal.

DIAGNOSIS BANDING
Rhinitis Vasomotor

Inflamasi kronis lapisan mukosa hidung

Disebabkan peningkatan aktivitas saraf


parasimpatis

Gejala yang timbul berupa hidung tersumbat,


bersin dan ingus yang encer.

Penyebab : idiopati, Obat-obatan, asap rokok, udara


dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang
merangsang.

Biasanya penderita rhinitis vasomotor tidak mempunyai

DIAGNOSIS BANDING

TERAPI

Menghindari penyebab

pembersihan mukosa nasal secara periodik dengan


semprotan larutan saline

Ipratropium bromida -> rinorea

Dekongestan / simpatomimetik agen


(Pseudoefedrin)-> hidung tersumbat

Komplikasi:
Polip hidung
sinusitis

LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. F
Umur
: 32 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: Jalan Biak Roxy, Jakarta Barat
Status pernikahan : sudah menikah

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada
tanggal 22 Juni 2016. 11.30 WIB.

Keluhan Utama:
Pasien datang dengan keluhan nyeri kedua telinga
sejak satu minggu yang lalu.

Keluhan Tambahan:
Telinga terasa penuh dan gatal.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri kedua telinga 1 minggu SMRS. Nyeri
dirasakan seperti ditusuk-tusuk namun tidak menjalar dan tidak mempengaruhi aktivitas
pasien. Pasien juga mengatakan bahwa telinganya terasa penuh dan gatal sehingga
pasien sering mengorek-ngorek teliganya menggunakan cotton bud dan jari. Cairan
yang keluar dari telinga, gangguan pendengaran dan telinga berdenging disangkal. Pasien
tidak memiliki riwayat trauma dan operasi pada telinga sebelumnya. Pasien mengatakan
sering bersin-bersin dan kadang-kadang hidung tersumbat yang hilang timbul
sekitar 1-2 kali dalam seminggu. Keluhan muncul terutama pada pagi hari dan
terpapar debu. Keluhan diperberat apabila berdekatan dengan bulu-bulu boneka
atau bantal. Keluhan tidak dipengaruhi posisi tubuh dan tidak mengganggu kegiatan
sehari-hari. Gejala dirasakan sudah sejak lama. Keluhan lain, seperti demam, sakit kepala,
batuk, pilek, nyeri di daerah wajah, trauma pada hidung, gangguan penciuman dan
pengecapan disangkal oleh pasien. Pasien belum pernah berobat ke dokter. Saat ini pasien
tidak mengkonsumsi obat-obatan.

Riwayat Penyakit Dahulu:

Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit dahulu


yang berhubungan dengan keadaan sekarang.
Pasien mengatakan tidak ada alergi seperti
terhadap makanan maupun obat-obatan.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Ibu dan kakak pasien mempunyai riwayat alergi.

Dextra
Bentuk daun telinga
Kelainan Kongenital

Sinistra

Normotia
Mikrotia (-),

anotia

Normotia
(-), Mikrotia (-),

anotia

(-),

atresia (-), fistula (-), bat atresia (-), fistula (-), bat
Radang, Tumor

ear (-)
Nyeri

(+),

Massa

ear (-)
(-), Nyeri

(+),

Massa

(-),

hiperemis (+), sekret (-), hiperemis (+), sekret (-),


edema (+)
Nyeri tekan tragus
Nyeri tekan (+)
Penarikan daun telinga Nyeri (+)
Kelainan pre-, infra-, Massa (-), hiperemis (-),

edema (+)
Nyeri tekan (+)
Nyeri (+)
Massa (-), hiperemis (-),

retroaurikuler

odem (-), nyeri (-), fistula odem (-), nyeri (-), fistula

Region Mastoid

(-)
(-)
Massa (-), hiperemis (-), Massa (-), hiperemis (-),
odem (-), nyeri (-), abses odem (-), nyeri (-), abses

liang telinga

(-)
(-)
Sempit, furunkel (-), jar. Sempit, furunkel (-), jar.
granulasi (-), serumen (-), granulasi (-), serumen (-),
edem

(+),

sekret

(-), edem

(+),

darah (-), hiperemis (+), darah

(-),

sekret

kolesteatom (-), laserasi (+),kolesteatom

(-),

hiperemis
(-),

TES PENALA

Kanan

Rinne

Positif

Weber

dipakai

Positif

Tidak ada lateralisasi

Swabach
Penala

Kiri

yang

Sama dengan

sama dengan

pemeriksa

pemeriksa

512 Hz

512 Hz

Bentuk

Dextra
Normal,

Tanda peradangan

deformitas
deformitas
Hiperemis (-), Odem Hiperemis (-), Odem

Sinistra
tidak Normal,

tidak

(-), nyeri (-)


(-), nyeri (-)
Daerah sinus frontalis Hiperemis (-), Odem Hiperemis (-), Odem
dan maxillaris
Vestibulum

(-), nyeri (-)


(-), nyeri (-)
Laserasi (-), massa (-), Laserasi (-), massa (-),

Cavum Nasi

furunkel (-), sekret (-) furunkel (-), sekret (-)


Lapang, massa (-), Lapang, massa (-),
sekret (+), hiperemis sekret (+), hiperemis

Konka inferior

(-)
Hipertrofi

(-)
(-), Hipertrofi

(-),

hiperemis (-), livide hiperemis (-), livide


Meatus nasi inferior
Konka Medius
Meatus nasi medius
Septum nasi

(+)
Terbuka, sekret (-)
Tidak terlihat
Tidak terlihat
Deviasi (-), hematoma

(+)
Terbuka, sekret (-)
Tidak terlihat
Tidak terlihat
Deviasi (-), hematoma

(-), abses (-)

(-), abses (-)

Rhinopharhinx
Koana
: Tidak dapat dilakukan
Septum nasi posterior : Tidak dapat dilakukan
Muara tuba eustachius: Tidak dapat dilakukan
Tuba eustachius
: Tidak dapat dilakukan
Torus tubarius
: Tidak dapat dilakukan
Post nasal drip
: Tidak ada (-)

Pemeriksaan Transluminasi
Sinus Frontas kanan, Kiri : tidak dilakukan
Sinus Maxilla kanan, Kiri : tidak dilakukan

TENGGOROKAN
Pharynx
Dinding

pharynx : Hiperemis (-), Ulkus (-), mukosa tidak rata, granul (+)
Arcus : Hiperemis (-), simetris
Tonsil : T1-T1 tenang, hiperemis (-), kripta (-), detritus (-)
Uvula : Di tengah, bifida (-), simetris, tidak memanjang
Gigi: gigi berlubang (-), caries (-), gigi palsu (-)

Larynx
Epiglotis

: Tidak dilakukan
Plica aryepiglotis : Tidak dilakukan
Arytenoidds : Tidak dilakukan
Ventricular band : Tidak dilakukan
Pita suara: Tidak dilakukan
Rima glotidis : Tidak dilakukan
Cincin trachea : Tidak dilakukan
Sinus Piriformis : Tidak dilakukan
Kelenjar limfe submandibula dan servical: tidak adanya pembesaran pada
inspeksi dan palpasi.

RESUME

Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri kedua telinga 1


minggu SMRS. Pasien juga mengatakan bahwa telinganya terasa
penuh dan gatal sehingga pasien sering mengorek-ngorek
teliganya menggunakan cotton bud dan jari setelah mandi.
Pasien mengatakan sering bersin-bersin dan kadang-kadang
hidung tersumbat yang hilang timbul sekitar 1-2 kali dalam
seminggu. Keluhan muncul terutama pada pagi hari dan
terpapar dan debu. Keluhan diperberat apabila berdekatan
dengan bulu-bulu boneka atau bantal.

PEMERIKSAAN FISIK

Telinga
Pada pemeriksaan menggunakan otoskop, didapatkan
nyeri tekan tragus, nyeri penarikan daun telinga, liang
telinga sempit, udem, hiperemis dan laserasi
Pada pemeriksaan penala tidak didapatkan gangguan
pada pendengaran.

Hidung
Konka inferior kanan dan kiri tampak livid.
Terdapat sekret pada cavum nasi kanan dan kiri

Tenggorok
Pada pemeriksaan faring dinding posterior tidak hiperemis
dan
tampak bergranul.

DIAGNOSIS KERJA

Otitis Eksterna Difusa Auricula Sinistra


Dasar yang mendukung :
Pasien datang dengan keluhan nyeri telinga
sejak 1 minggu yang lalu.
Telinga terasa penuh dan gatal
Terdapat nyeri tekan tragus
Terdapat nyeri tarik telinga
Pada pemeriksaan otoskopi, liang telinga
sempit, edema dan hiperemis.

Rhinitis Alergi Intermitten Ringan


Dasar yang mendukung:
Riwayat bersin dan tersumbat di pagi hari
yang hilang timbul.
Keluhan terjadi kurang dari 4 hari per minggu
dan tidak sampai mengganggu aktivitas
sehari-hari
Keluhan muncul saat terpapar debu atau bulubulu boneka.

DIAGNOSIS BANDING

Otomikosis
Dasar yang mendukung
Telinga terasa penuh dan gatal
Dasar yang tidak mendukung
Belum dilakukan pemeriksaan dengan KOH 10%

Otitis Eksterna Sirkumskripta (furunkelosis)


Dasar yang mendukung:
Anamnesis: Nyeri telinga
Pemeriksaan fisik: Nyeri tarik telinga dan nyeri tekan
tragus, Liang telinga sempit
Dasar yang tidak mendukung:
Pada liang 1/3 luar tidak terlihat bisul/ furunkel pada
otoskopi

Rhinitis Vasomotor
Dasar yang mendukung:

Anamnesis: Riwayat bersin di pagi hari dan hidung


tersumbat

Pemeriksaan fisik: terdapat sekret pada hidung


kanan dan kiri

Dasar yang tidak mendukung:

Tidak dipengaruhi perubahan posisi, hidung


tersumbat bergantian.

RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN

Skin test

Swab telinga untuk pemeriksaan mikroskopis KOH dan kultur.

PENATALAKSANAAN
Otitis Eksterna

Medika mentosa
Tampon
Tetes

antibiotika ke liang telinga

telinga yang sering digunakan adalah

cortisporin (polimiksin B, neomisin, hidrokortison),


Coli-Mycin S (kolistin, neomisin, hidrokortison).
Pyocidin (polomiksin B, hidrokortison),
chloromycetin (kloramfenikol).

Non medikamentosa
Jangan mengorek telinga

Rhinitis Alergi
Medika mentosa :
loratadin 10 mg diberikan 1 kali sehari selama 5
hari dan dekongestan oral
pseudoefedrin 60 mg 3x1 selama 3 hari.

Non-medikamentosa :

Hindari paparan alergen

Menjaga higienitas hidung

Menjaga kesehatan tubuh

PROGNOSIS

Ad vitam : Bonam

Ad sanationam: Dubia ad bonam

Ad fungtionam: Dubia ad bonam

KESIMPULAN

Otitis

eksterna

adalah

radang

disebabkan infeksi bakteri, virus

liang

telinga

akut/kronis yang

dan jamur dengan gejala tekan

tragus, nyeri penarikan daun telinga, udem, hiperemis, rasa penuh di


telinga dan gatal. Pencegahannya dengan tidak melakukan pengorekan
pada telinga.

Rinitis alergi adalah kelainan berupa inflamasi pada hidung dengan


gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE. Pengobatannya
dengan memberikan antihistamin dan decongestan.

TERIMA KASIH