Anda di halaman 1dari 60

Journal Reading

VIRTOPSY, PENCITRAAN BARU PADA PATOLOGI


FORENSIK:
AUTOPSI
VIRTUAL
DENGAN
POSTMORTEM
MULTISLICE
COMPUTED
TOMOGRAPHY (MSCT) DAN MAGNETIC RESONANCE
IMAGING (MRI) SEBUAH STUDI KELAYAKAN

IDENTITAS JURNAL

Judul

: Virtopsy, a New Imaging Horizon in Forensic Pathology: Virtual

Autopsy by Postmortem Multislice Computed Tomography (MSCT) and Magnetic


Resonance Imaging (MRI)a Feasibility Study
Pengarang : Michael J. Thali, M.D, et al.
Terbit

: Maret 2003

Penerbit

: Journalof Forensic Sciences, Vol. 48, No. 2

ABSTRAK
40 Kasus forensik telah diverifikasi dengan metode ini yaitu dengan
klasifikasi :
1. Penyebab kematian
2. Temuan patologik dan traumatologik
3. Reaksi vital forensik
4. Rekonstruksi luka
5. Visualiasasi

ABSTRAK
40 kasus forensik :
Dari 47 penyebab kematian ditemukan dengan autopsi 26 (55%) bisa
dideteksi dengan radiologi.
Hasil : Virtopsi lebih unggul dibandingkan autopsi konvensional pada kelima
aspek.
Kesimpulan : Virtopsi memiliki peluang sebagai teknik pemeriksaan di
bidang kedokteran forensik.

PENDAHULUAN
Virtopsy
Virtual berguna
Autos dengan sendiri
Autopsi melihat sendiri dengan mata
Virtual dan autopsi (menghapus autos) virtopsi

1. X ray kurang diperhitungkan sebagai bukti di pengadilan


2. Virtopsy lahir dari keinginan menerapkan teknologi baru
3. Tujuan teknologi untuk membangun pengamatan independen dan
obyektif dengan teknologi minimal invasif

Tuntutan autopsi radiologi


1. Atrium Mortis (penyebab kematian)
2. Temuan forensik patomorfologis yang relevan pada tulang, jaringan dan
organ
3. Menggambarkan reaksi tubuh tentang cedera dan kematian
4. Visualisasi dapat dipahami orang awam di pengadilan

SAMPEL
40 jenazah digunakan dalam studi ini yang selanjutnya dikirim ke
Instalasi Kedokteran Forensik Universitas Berne untuk diautopsi
7 wanita : 33 Pria
Rerata usia meninggal 46 tahun
Range usia meninggal 6 bulan 83 tahun

KASUS
18 kasus trauma tumpul
11 Kecelakaan bermotor
4 Jatuh dari ketinggian
3 Trauma benda tumpul

8 luka tembakan
6 kematian jantung mendadak
2 tenggelam
2 luka karena pisau
2 kasus pencekikan
1 kecelakaan listrik
1 sindroma kematian bayi mendadak (SIDS)

PENYEBAB KEMATIAN
6 natural case
34 non-natural case

3 kasus pembunuhan
18 kasus kecelakaan
12 kasus bunuh diri
1 kasus kematian bayi mendadak

METODE
MSCT dan MRI
MSCT Lightspeed QX/i unit
MRI GE 1.5 T Signa Echospeed Horizon 5.8 unit
(General Electric Medical System, milwaukee, WI).
Autopsi Konvensional

MSCT
Axial MSCT dilakukan dengan 4 x 1.25mm collimation; 5mm dan 1.25mm
bagian
Durasi dari MSCT scan sekitar 10 hingga 15 menit

MRI
T2-weighted FSE (TR/TE 4000/90 ms) dan T1-weighted SE sequences
(TR/TE 400/15 to 20 ms) secara sistematis
Kepala :
T2-weighted images slice thikness 4mm (3mm anak)

Tubuh dan ekstremitas :


T2-weihgted FSE dengan saturasi lemak pada bidang koronal dan T1weighted sequence pada bidang axial; slice thikness 5mm

IMAGING YANG DIDAPAT


80.000 image
64.000 CT-scan
16.000 MRI
Selanjutnya diinterpretasi oleh ahli radiologi

AUTOPSI
Dilakukan 46 jam post mortem
Cranium, cavum thorax dan cavum abdomen diperiksa
Kecuali dua kasus karena dilindungi oleh otoritas terkait

Hasil autopsi dan MSCT/MRI dibandingkan

HASIL
Hasil penelitian diklasifikasikan menjadi 5 poin, yaitu :
1. Penyebab kematian
2. Temuan traumatologis yang relevan
3. Reaksi vital forensik
4. Rekonstruksi trauma
5. Rekapitulasi dan Visualisasi
Hasil temuan pemeriksaan MSCT dan MRI dibandingkan dengan
pemeriksaan gold standard yaitu autopsi forensik konvensional.

Untuk menentukan penyebab kematian, pemeriksaan radiologi >>


autopsi.
Untuk menentukan temuan traumatologis, pemeriksaan radiologi >>
autopsi.
Untuk menentukan reaksi vital forensik, pemeriksaan radiologi = /
>> autopsi.
Untuk melakukan rekonstruksi kasus trauma, pemeriksaan radiologi >>
autopsi.
Untuk melakukan rekapitulasi dan visualisasi, pemeriksaan

DISKUSI

Sejak
tahun
1898
pemeriksaan
radiologi
postmortem dan pencitraan radiologi konvensional
sudah diterapkan dalam bidang kedokteran forensik.
Virtopsi adalah studi pertama dimana modalitas
MSCT dan MRI digunakan secara sistematis dan
kombinasi.

1. PENYEBAB KEMATIAN
Atrium Mortis: Otak
Kasus klinis seperti perdarahan ventrikel, subdural,
epidural hematom, serta perdarahan subarachnoid yang
luas dapat dengan mudah didiagnosis oleh radiologi.

Atrium Mortis : Sistem Kardiovaskuler


Dalam penelitian ini hipertrofi miokard mudah di diagnosis pada
MSCT dan MRI. Koroner sklerosis didiagnosis pada MSCT (Gambar
9a.)

Pada kasus tenggelam (Kasus 034 dan 039) menghasilkan distensi


vena cava inferior (Gambar. 3a dan3b)

ATRIUM MORTIS: PARU-PARU


Tingkat kelebaman yang disebabkan oleh lebam mayat (Gambar. 4a dan
4b) dapat dibedakan dari :
kontusio (memar) paru-paru (Gambar. 5)
aspirasi darah (Gambar 4a-c.)
aspirasi isi lambung,
yang menyebabkan pola penyebaran bronkogenik dan subsegmental
kolaps (Gbr. 6).

Aspirasi darah
Lebam mayat

Aspirasi
darah

Lebam mayat

Kontusio paru
kiri

KERUSAKAN PARENKIM
PARU E.C. ASPIRASI
ASAM LAMBUNG

Emfisema aquosum pada kasus tenggelam : zona aspirasi yang berupa bercak
dan tidak jelas (blur) terutama di sebelah kiri dan ventral

ATRIUM MORTIS
PATOFISIOLOGI PENYEBAB
KEMATIAN

SOLITARY

COMBINED

COMPETING

KASUS
034, 039

KASUS
004, 020

KASUS
005, 008

SOLITARY

air pada lambung

air pada sinus paranasal

Air pada duodenum

COMBINED

Emboli udara
intracardial

Contoh : kematian akibat emboli udara dan


perdarahan (kasus 004)

COMPETING
Contoh :
1. Kematian akibat peningkatan TIK, perdarahan,
dan emboli udara (kasus 005).
2. Kematian akibat ruptur kardiak, ruptur medulla
spinalis servikal (kasus 008).

TEMUAN TRAUMATOLOGIK
Sistem Kerangka :
Fraktur multipel pada calvaria

Fraktur Os. Hyoid

Os. Hyoid normal

Cartilago triticea

Hematom jaringan

ORGAN DALAM
MSCT
atau
MRI
dapat MVA = ruptur batang otak
diandalkan
mendiagnosis gunshot = TIK
kasus neurotrauma.

tidak ada kesulitan mendiagnosis perdarahan


epidural, subdural, dan subarachnoid, sama seperti
cedera otak (coup/contre-coup).

Diagnosis trauma organ interna


tidak memuaskan.

Pada kasus luka tusuk di jantung dengan


hemopericardium, pencitraan memberikan hasil dan
diagnosis yang lebih baik.

CT scan

MRI

hemoperikardium
hemothorax
emboli udara

aorta descendens kolaps

REAKSI VITAL
Sistem Vaskuler
perdarahan
emboli lemak
emboli udara
Perdarahan dan emboli lemak tidak dapat dideteksi dengan
MSCT/MRI.
MSCT/MRI lebih sensitif dalam mendeteksi emboli udara
dibandingkan autopsi konvensional.

Emboli udara biventrikuler

Sistem Respirasi
emfisema kutis
pneumothorax
tension pneumothorax
MSCT/MRI lebih unggul dalam mendiagnosis kelainan
pada sistem respirasi

Tension pneumothorax
deviasi mediastinum ke arah
sinistra

REKONSTRUKSI FORENSIK
MSCT/MRI dapat memberikan gambaran rekonstruksi yang
baik pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor, trauma
tajam, trauma tembak, trauma fisik (luka bakar).
Rekonstruksi forensik membantu penegak hukum untuk
memperjelas proses terjadinya trauma.

Rekonstruksi Forensik

Jalur anak peluru yang


melewati cerebellum

LAPISAN LEMAK SUBKUTAN YANG HILANG SEBAGIAN AKIBAT LUKA BAKAR

VISUALISASI DAN PEMAHAMAN HASIL


FORENSIK DI PENGADILAN HUKUM
Gambaran rekonstruksi 2D / 3D dengan MSCT/ MRI lebih
jelas dibandingkan autopsi konvensional.
Tampilan gambar yang halus dan "tak berdarah" dapat
dipahami orang awam maupun ahli di pengadilan.

KESIMPULAN
Kelebihan

VIRTOPSY
MSCT

VIRTOPSY

CRITICAL
APPRAISAL

No

Kriteria

Jumlah kata dalam judul, < 12 kata

Deskripsi Judul

Ya (+), Tidak (-)


- (17 kata)
Menggambarkan isi utama
penelitian dan tanpa singkatan

Daftar penulis sesuai aturan jurnal

Korespondensi penulis

Tempat & waktu penelitian dalam judul

Tempat (+), Waktu (-)

ABSTRAK
No

Kriteria

Ya (+), Tidak (-)

Abstrak 1 paragraf

Mencakup IMRC

Secara keseluruhan informatif

Tanpa singkatan selain yang baku

Kurang dari 250 kata

+ (131 kata)

PENDAHULUAN
No

Kriteria

Ya (+), Tidak (-)

Terdiri dari 2 bagian atau 2 paragraf

Paragraf pertama mengemukakan alasan dilakukan

penelitian
3

Paragraf ke 2 menyatakan hipotesis atau tujuan

penelitian
4

Didukung oleh pustaka yang relevan

Kurang dari 1 halaman

BAHAN DAN METODE


No

Kriteria

Ya(+), Tidak (-)

Jenis dan rancangan penelitian

Waktu dan tempat penelitian

Populasi Sumber

Teknik sampling

Kriteria inklusi

Kriteria eksklusi

Perkiraan dan perhitungan besar sempel

Perincian cara penelitian

Blind

10

Uji Statistik

11

Program komputer

12

Persetujuan subjektif

Waktu -/tempat +

HASIL PENELITIAN
No.

Kriteria

Ya (+) Tidak (-)

Jumlah Subjek

Tabel Karakteristik

Tabel Hasil Penelitian

Komentar dan Pendapat Penulis ttg


hasil

Tabel Analisis data dengan Uji

KESIMPULAN DAN DAFTAR PUSTAKA


No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Kriteria
Pembahasan dan kesimpulan
terpisah
Pembahasan dan kesimpulan di
paparkan dengan jelas
Pembahasan mengacu dari
penelitian sebelumnya
Pembahasan sesuai dengan
landasan teori
Keterbatasan Penelitian
Simpulan berdasarkan penelitian
Saran Penelitian
Penulisan Daftar Pustaka sesuai
aturan

Ya (+) Tidak (-)


+
+
+
+
+
+

P
I

C
O

POPULATION
40 jenazah di Instalasi Kedokteran Forensik Universitas
Berne.
INTERVENTION
MSCT dan MRI.

COMPARISON
Autopsi konvensional.

OUTCOME
Virtopsy terbukti lebih unggul dibandingkan autopsi
konvensional.