Anda di halaman 1dari 27

CASE REPPORT SESSION

NEPHROLITHIASIS
Nurul Fathia Zahra
1301 1212 0604
Chelsea Choiriyah C. 1301 1213 0502
Preceptor: Trias Nugrahadi, dr., Sp.KN

Identitas

Nama
: Ny. P
Usia
: 55 tahun
Alamat
: Sumedang
Pekerjaan : wiraswasta
Status : menikah
Tanggal Pemeriksaan: 23 Juni 2014

Anamnesis
Keluhan utama: nyeri pinggang sebelah kanan
Pasien datang dengan keluhan nyeri pinggang sebelah
kanan sejak 2 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan hilang timbul.
Nyeri timbul terutama saat berpindah posisi dari telentang
ke posisi miring dan terkadang timbul saat buang air kecil.
Nyeri yang dirasakan mereda setelah minum air kelapa hijau
dan meminum obat untuk nyeri. Keluhan disertai adanya sisa
urin yang menetes setelah selesai buang air kecil. Keluhan
tidak disertai nyeri saat buang air kecil, tidak dapat
menahan buang air kecil, buang air kecil sering, buang air
kecil >2 kali saat malam buang air kecil berpasir dan batu,
dan kencing berdarah disangkal. Keluhan BAB disangkal.
Keluhan yang sama di keluarga disangkal. Keluhan bengkak
pada tangan dan kaki disangkal.

Pasien mengakui jarang minum, yaitu ml/hari. Pasien


tidak melakukan pembatasan minum. Pasien juga
mengakui sudah jarang berolahraga sejak 2 tahun
terakhir. Riwayat ESWL batu ginjal kiri pada tahun 2005
diakui pasien, tetapi pasien hanya berobat bila nyeri
kambuh saja. Riwayat tekanan darah tinggi dan
penyakit gula disangkal. Riwayat cuci darah disangkal.
Riwayat pemeriksaan renogram & GFR pada tahun
2007
Pasien mengakui memiliki penyakit jantung,
yaitu kelainan katup dan rutin mengkonsumsi obat
untuk penyakit jantung setiap hari.

Pasien sudah berobat ke urologist


dan diberikan antibiotik dan anti
nyeri. Selain itu pada pasien juga
sudah dilakukan pemeriksaan USG
dan lab. Pasien selanjutnya dirujuk
untuk pemeriksaan ginjal di Bagian
Nuklir RSHS

Pemeriksaan Fisik
Kesadaran : compos mentis
Tanda Vital:
T:
N:
R:
S : afebris

Berat badan: 66 kg
Tinggi badan: 151 cm

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan lab:
Hematologi Rutin:
Hb : 13,2 g/dL
Leukosit : 10.200 sel/L (H)
Hematokrit: 39,2 %
Thrombosit: 325.000 sel/L

Kimia Klinik:
Ureum : 23 mg/dL
Kreatinin : 0.9 mg/dL
As. Urat : 7.5 mg/dL (H)

USG:
Nephrolithiasis bilateral (+)

Diagnosis Kerja
Nephrolithiasis Bilateral

Usulan Pemeriksaan
GFR
Renography konvensional

Parameter
s

Left

Right

Total

Split
Function

54.3

45.7

Kidney
Counts

16401

13808

Kidney
Depths

6.470

6.513

Uptake

4.21

3.385

7.406

GFR

35.7

30.1

65.8

30209

Normalize
GFR

67.4

GFR Low
Normal

78.0

Mean GFR

101.0

Renal
Retention

0.549

0.591

Time of Max

0.250

4.501

Penatalaksanaan
Konservatif:
Minum banyak
Oral analgesic untuk mengurangi
sakit yang disebabkan oleh batu
Operatif:
ESWL
Open Stone Surgery

Prognosis
Quo ad vitam
: dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam

Pembahasan

Nephrolithiasis
Secara spesifik merupakan calculi di ginjal
Etiologi: supersaturasi urin oleh komponen
pembentuk batu, meliputi kalsium, oksalat, dan
asam urat
Sebagian besar batu ginjal mengandung
kalsium. Sebagian lainnya terdiri dari calculi dan
kristal asam urat. Komponen batu yang lebih
jarang meliputi cystine, xanthine dan lainnya
Nyeri yang timbul umumnya disebabkan oleh
dilatasi, peregangan, dan spasme karena
obstruksi ureter akut.

Gejala Klinis
Pasien dengan batu yang kecil dan tidak
mengobstrusi atau pasien dengan
staghorn calculi umumnya asimptomatik.
Batu yang mengobstruksi dapat
menyebabkan nyeri daerah flank yang
ringan sampai berat tanpa penjalaran ke
groin, gejala iritatif (seperti frekuensi,
dysuria), nyeri suprapubis, urinary
frequency/urgency, dysuria, bowel
symptom

Nuclear renal scanning


Pemeriksaan ini dilakukan untuk
memeriksa fungsi ginjal, terutama
pada sistem dimana derajat
obstruksi dipertanyakan.
Pemeriksaan ini relatif aman bagi
wanita hamil karena paparan radiasi
yang rendah

Renography
Indikasi
Evaluasi perfusi dan fungsi ginjal
Uji saring hipertensi renovaskuler
Deteksi dan evaluasi obstruksi sistem
koleksi ginjal.
Evaluasi trauma ginjal

Radiofarmaka:
131I hippuran sebanyak 300 uCi
99mTc-MAG3 sebanyak 5mCi
Disuntikkan secara IV di vena mediana kubiti secara
bolus

Persiapan
Penderita dalam keadaan hidrasi baik
Pada pemakaian radiofarmaka 131I hippuran,
penderita sebelumnya diberi larutan lugol 10 tetes
untuk memblok jaringan
tiroid agar tidak
menangkap 131I.
Kandung kemih diusahakan dalam keadaan kosong.
Pada penderita yang sebelumnya telah dilakukan
IVP, pemeriksaan ditunda 2 minggu

Tatalaksana
Posisi pasien telentang,kamera dari arah
posterior.
Detektor ditempatkan sedemikian rupa
hingga ginjal dan kandung kemih berada
dalam lapang pandang pencitraan.

Penilaian
Pada
pencitraan
dinilai
penangkapan
radioaktivitas oleh kedua ginjal untuk melihat
kemampuan
ginjal
mengekstraksi
radiofarmaka.
Penilaian kurva sebagai berikut :
Kurva normal memperlihatkan adanya tiga
fase yang klasik.
1.
2.
3.

Fase pertama/inisial
Fase kedua/sekresi
Fase ketiga/ekskresi

Fase pertama (inisial)


terjadi peningkatan secara cepat
segera setelah penyuntikan
radiofarmaka yang menunjukkan
kecepatan injeksi dan aliran darah
vaskuler ke dalam ginjal
Dari fase ini dapat pula dilihat teknik
dari penyuntikan radiofarmaka,
apakah bolus atau tidak.
Fase ini terjadi kurang dari 2 menit.

Fase kedua (sekresi)


menunjukkan kenaikan yang lebih lamban dan
meningkat secara bertahap.
berkaitan dengan proses penangkapan radiofarmaka
oleh dan di dalam ginjal melalui proses difusi lewat
sel-sel tubuli ke dalam lumen tubulus.
Dalam keadaan normal fase ini mencapai puncak
dalam waktu 2 5 menit.

Fase ketiga (ekskresi)


kurva menurun dengan cepat setelah mencapai
puncak kurva
menunjukkan keseimbangan antara radioaktivitas
yang masuk dan yang meninggalkan ginjal.

Bila ginjal sudah tidak berfungsi:


penangkapan radioaktivitas akan minim
atau tidak ada sama sekali
kurva akan berjalan datar/tidak beraturan
sebab hanya menggambarkan aktivitas latar
belakang saja.

Gambar obstruksi total:


kandung kemih tidak tampak
fase kedua akan tampak naik terus dan
tidak terlihat adanya fase ketiga

Glomerular Filtration Rate


(GFR)