Anda di halaman 1dari 49

Disusun oleh :

G. St. Husnul Khotimah


11310145
Pembimbing :
dr.Fitri, Sp.S, M.Kes

REFERAT
SISTEM
MOTORIK

PENDAHULUAN
Segala aktivitas susunan saraf pusat yang
dapat dilihat, didengar, dan direkam, dan
diperiksa berwujud gerak otot.
impuls dari saraf disampaikan otot gerak
otot (impuls motorik)
Sebagian besar manifestasi objektif kelainan
saraf bermanifestasi dalam gangguan gerak
otot

UMN

Semua neuron di korteks serebri yang menyalurkan


impuls motorik ke inti motorik di LMN tergolong dalam
UMN.

LMN
LMN adalah jaras akhir bersama (final
common pathway) sistem motorik, yaitu
akson-akson yang keluar dari sel-sel
kornu anterior medula spinalis menuju
otot volunter.
LMN menyusun inti saraf otak motorik dan
inti radiks ventralis saraf spinal.

Bagian

sentral sistem motorik untuk gerakan


volunter terdiri:

Korteks motorik primer (area 4 broadman)


Area korteks sekitarnya (terutama korteks
premotor, area 6)
jaras kortikospinal dan jaras kortikobulbar

Area traktus kortikospinalis dan traktus


kortikobulbar berasal dari area kortikal tersebut

SUSUNAN PIRAMIDALIS
Mulai di sel-sel neuron di lapisan ke 5 korteks
presentralis (area 4 Broadman) dan akson aksonnya
menyusun system pyramidalis. Neuron neuron
tersebut tertata didaerah gyrus presentralis yang
mengatur gerakan otot tubuh tertentu dinamakan
Penataan Somatotropik.
Akson ini membentuk suatu berkas yang disebut
TRAKTUS PYRAMIDALIS yang terdiri dari:
Serabut kortikospinalis (ke kornu anterior medulla
spinalis)
Serabut kortikobulbaris (ke inti motorik saraf otak)

Jaras kortikospinal
-Merupakan jaras yang berkaitan dengan gerakan
volunter
tertentu dan terlatih, terutama bagian distal
ekstrimitas
-Bermula dari akson sel-sel piramidal di lapis ke 5
korteks serebri
-Serat traktus piramidalis berasal dari:
2/3 gyrus pre-sentralis
1/3 gyrus post-sentralis
-Mengatur gerakan otot tubuh tertentu berdasarkan
Homonkulus Motorik.

Jaras piramidal

JARAS KORTIKOBULBAR
Jaras

piramidal, seperti yang telah dipaparkan


sebelumnya, merupakan jaras yang membawa
informasi motorik dari korteks bagian motorik,
melalui korona radiata, kapsula interna, dan
pada akhirnya menuju ke medulla spinalis.

Namun

demikian, informasi ini tidak hanya


dibawa menuju medulla spinalis,melainkan juga
dibawa menuju daerah-daerah nukleus yang
letaknya terkonsentrasi di batang otak
(brainstem), dan berfungsi sebagai nukleusnukleus bagi persarafan perifer kranial.

Jaras kortikobulbar

NUKLEUS KRANIAL MOTORIK


Nukelus

kranial motorik, atau nukelus


branchiomotor terdiri atas:

nukelus motorik saraf kranial III(okulomotor);


trokelar(IV);
trimgeinal (V);
abdusens (VI);
fasial (VII);
glosofaringeal (IX);
vagus (X);
aksesori (XI);
hipoglosus (XII)

Hampir

semua nukleus motorik kranial ini


dipersarafi secara bilateral (dari kedua
korteks serebrum, dengan kata lain dari
kedua jaras kortikonuklear), kecuali:
motor

nukelus N. VII yang mempersarafi


wajah bagian bawah (bawah mata) yang
hanya menerima impuls dari sisi kontralateral
Motor nucleus N. XII yang hanya menerima
impuls dari sisi kontralateral

Pemeriksaan Sistem
Motorik
Pemeriksaan sistem motorik meliputi:
inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerakan
pasif dan aktif.

Inspeksi
1.
2.
3.
4.

Sikap
Bentuk
Ukuran
Gerakan abnormal tidak terkendali

1. Sikap
Perhatikan sikap secara keseluruhan
dan sikap tiap bagian tubuh. Bagaimana
sikap pasien waktu berdiri, duduk,
berbaring, bergerak, dan berjalan

Pasien

dengan gangguan serebelum berdiri


dengan muka membelok ke arah kontralateral
terhadap lesi, bahunya pada sisi lesi agak lebih
rendah, dan badannya miring ke sisi lesi

Penderita penyakit Parkinson berdiri dengan kepala dan


leher dibungkukkan ke depan, lengan, tungkai berada
dalam keadaan fleksi. Bila ia jalan, tampak seolah-olah
hendak jatuh ke depan; gerakan asosisatifnya terganggu,
lengan kurang dilenggangkan, dan terlihat tremor kasar,
terutama ditangan

Karakteristik gait pada penyakit Parkinson

Pada

penderita hemiparese oleh gangguan


sistem piramidal, lengan berada dalam sikap
fleksi, sedangkan tungkai dalam ekstensi. Bila
ia berjalan, tungkai membuat gerak
sirkumdiksi

Karakteristik gait pada hemiparese/lesi piramidal

Pada

pasien dengan paraparese jenis sentral,


cara berjalan seperti gunting, yaitu tungkai
seolah-olah menyilang

2. Bentuk
Perhatikan adanya deformitas

3. Ukuran
a. Panjang bagian tubuh:
dewasa yang mengalami lumpuh sejak masa kanak-kanak,
ukuran ekstremitas yang lumpuh lebih pendek daripada yang
sehat.
b. Isi (kontur) otot:
apakah atrofi atau hipertrofi. Pada kelumpuhan jenis perifer
disertai dengan hipotrofi atau atrofi
c. Besar otot:
Bila dicurigai adanya atrofi, ukurlah kelilingnya. Gunakan
tonjolan tulang sebagai patokan. Misalnya 3 cm di atas
olekranon atau patella.
d. Bentuk otot. Hal ini dilakukan dalam keadaan otot beristirahat
dan otot berkontraksi

4. Gerakan Abnormal yang


tidak terkendali

Dapat berupa : tremor, khorea, atetose, distonia, spasme, tik,


fasikulasi,

Informasi yang harus dicatat untuk semua jenis pergerakan


abnormal, yaitu :
-Segmen dan struktur yang terlibat
-Keadaan otot saat terjadi gerakan abnormal tersebut : saat
istirahat, mempertahankan posisi, atau pada saat bergerak
-Deskripsi dari pergerakan, termasuk pola gerakan, durasi serta
frekuensinya
-Faktor yang meningkatkan atau mengurangi terjadinya gerakan
abnormal tersebut : istirahat, beraktivitas, kecemasan, alkohol.
(10)

Palpasi
otot dipalpasi untuk menentukan
konsistensi, nyeri tekan, menilai tonus
otot, terutama bila ada hipotoni

Pemeriksaan Gerak Pasif


Bagian dari ektremitas ini kita gerakkan pada persendiannya.
Gerakan dibuat bervariasi mula- mula cepat kemudian
lambat, cepat, lebih lambat, dan seterusnya. Sambil
menggerakkan kita nilai tahanannya.
tahanan didapatkan pada satu jurusan saja, misalnya tungkai
sukar difleksikan tetapi mudah diekstensikan lesi traktus
piramidalis.
dapat dijumpai tahanan yang sama kuatnya (rigiditas) gg.
Sistem ekstra piramidal

Pemeriksaan Gerak Aktif


Pemeriksaan
Untuk

ini kita nilai kekuatan (kontraksi otot).

memeriksa adanya kelumpuhan, kita dapat


menggunakan 2 cara berikut:
1. Pasien disuruh menggerakkan bagian
ekstremitasnya atau badannya dan pemeriksa
menahan gerakan ini.
2. Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau
badan pasien dan ia disuruh menahan.

Kekuatan otot

0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot; lumpuh total.


1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan
gerakan pada persendian yang harus digerakkan oleh otot
tersebut.
2 : Didapatkan gerakan, tetapi gerakan ini tidak mampu melawan
gaya berat (gravitasi).
3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi
sedikit tahanan yang diberikan.
5 : Tidak ada kelumpuhan (normal).

Kepala
Periksa apakah terdapat tahanan jika kepala digerakkan secara pasif?
radang selaput otak didapatkan kaku kuduk.
tahanan juga pada spondilitis servikal.
Gerakan aktif diperiksa dengan, menyuruh pasien:
menekukkan kepala ke depan, ke belakang
ke samping kiri, dan kanan
melakukan gerakan rotasi.
Pemeriksa menilai tenaganya, dan membandingkan tenaga gerakan
ke kiri dan ke kanan.

1.

2.

3.

Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti (C7,C8, T1 saraf


ulnaris). Jari jari diekstensikan, kemudian kelingking
digerakkan menuju dasar ibu jari.
Pemeriksaan otot aduktor policis (C8, T1 saraf ulnaris).
Sepotong kertas dijepit antara ibu jari dan telapak
tangan.
Pemeriksaan otot interosei palmaris (C8, T1, saraf
ulnaris). Telapak tangan ditaruh di atas meja. Telunjuk,
jari manis dan kelingking yang berada dalam posisi
abduksi diaduksikan ke garis tengah (sambil diberi
tahanan).

4.

5.
6.

Pemeriksaan otot interosei dorsalis (C8,


T1, saraf ulnaris). Telapak tangan ditaruh
di atas meja. Telunjuk, jari manis dan
kelingking yang berada dalam posisi
abduksi diaduksikan (sambil diberi
tahanan).
Pemeriksaan abduksi ibu jari. (1) arah
palmar, (2) arah radial (n. radialis).
Pemeriksaan otot ekstensor digitorum
(C7,C8, saraf radialis). Jari diekstensikan
pada persendian metakarpo-falang (sambil
diberi tahanan).

7. Pemeriksaan otot pektoralis mayor.


Inspeksi dada bagian atas dan lipatan aksilaris anterior.
Kemudian pasien disuruh meluruskan lengannya ke depan, sambil
menempatkan kedua telapak tangan dan kemudian menekannya
sewaktu pasien menekankan kedua telapak tangannya, kita
palpasi otot pektoralis mayor. Untuk menentukan tenaganya, daya
tekannya dinilai.

Pemeriksaan pektoralis mayor bagian atas (C5-C8, saraf


pektoralis lateralis dan medialis).
Lengan atas yang berada pada posisi horisontal dan depan
diaduksi.
Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah (C5-C8,T1,
saraf pektoralis lateralis dan medialis).
Lengan yang berada pada posisi depan dan di bawah horison
diaduksi (sambil pemeriksa memberi tahanan).

8. Pemeriksaan otot deltoid (C5,C6, saraf aksilaris).Pasien


disuruh mengangkat lengannya yang diluruskan ke
samping sampai di bidang horizontal. Nilailah tenaganya
waktu melakukan gerakan ini.
9. Pemeriksaan otot biseps (C5,C6, saraf
muskulokutaneus).Lengan yang sudah disupinasi disuruh
fleksi pada persendian siku. Nilailah tenaga fleksi lengan
bawah ini.
10. Pemeriksaan otot triseps (C6-C8, saraf radialis).Lengan
bawah yang sudah difleksi disuruh ekstensikan. Nilailah
tenaga ekstensi ini. (7)

BADAN

Erector Spina
Bila pasien sedang berdiri,
suruh ia mengambil suatu barang dari lantai.
jika pasien menderita kelemahan m. erector
spina, ia sukar berdiri kembali; dan ini
dilakukannya dengan bantuan tangannya, yaitu
dengan menempatkan tangannya pada lutut,
paha, dan kemudian mendorongnya sampai ia
dapat berdiri lagi. Kadang terlihat juga adanya
lordosis.

Otot Dinding Perut


Pasien yang sedang berbaring disuruh mengangkat
kepalanya
perhatikan peranjakan dari pusar.
Biasanya pusar beranjak ke arah otot yang sehat.
Suruh pasien batuk, otot yang lemah akan memnonjol.
Perhatikan apakah pasien dapat duduk dari sikap
berbaring tanpa mendapat bantuan dari tangannya.
Otot yang ikut bekerja dalam hal ini ialah otot dinding perut
dan otot iliopsoas.

Anggota Gerak Bawah


Untuk ini diperiksa gerakan pada :
persendian jari-jari
pergelangan kaki, lutut, paha.
Selain itu juga diperiksa otot kuadriseps
femoris, iliopsoas, aduktor, abductor,
dan fleksor tungkai bawah.

1.

2.

3.

4.

Pemeriksaan otot kuadriseps femoris (L2-L4, saraf


femoralis). Lutut (tungkai bawah) diekstensikan
sambil kita tahan.
Pemeriksaan otot iliopsoas (L1-L3, saraf femoralis).
Pasien berbaring dan lutut difleksikan. Kemudian
paha difleksikan lebih lanjut sambil ditahan.
Pemeriksaan otot aduktor (L2-L4: saraf
obturatorius). Pasien berbaring pada sisinya dan
tungkai berada dalam ekstensi. Kemudian tungkai
ini diaduksikan sambil ditahan.
Pemeriksaan otot abduktor. Tungkai diabduksikan
melawan tahanan.

5. Pemeriksaan otot fleksor tungkai bawah. Tungkai bawah


difleksikan sambil ditahan.
Pemeriksaan otot kelompok harmstring (L4,L5,S1, S2,
saraf siatika). Pasien tengkurap, kemudian lutut disuruh
fleksikan (sambil ditahan oleh pemeriksa)
Pemeriksaan otot gastroknemius 9L5,S1,S2, saraf tibialis).
Pasien tengkurap, kemudian disuruh memfleksi plantar
kakinya.
Pemeriksaan otto fleksor digitorum longus (S1, S2, saraf
tibialis). Jari-jari kaki diplantar fleksikan (sambil diberi
tahanan oleh pemeriksa).

Perbedaan UMN & LMN

Definisi
UMN

LMN

Bagian dari Central


Nervous System (CNS)
yang terdiri dari neuron
dengan badan sel terletak
pada brain dan spinal cord.

Bagian dari Peripheral


Nervous System (PNS)
yang membentuk neuron
sensorik dan motorik
dengan badan sel terletak
diluar brain dan spinal
cord.

Anatomi

UMN: jaras saraf mulai cortex motorik cerebrum sampai cornu anterior
medulla spinalis
LMN: jaras saraf mulai dari cornu anterior medulla spinalis sampai efektor

Lesi

UMN

LMN

Menganggu neural pathway Mengganggu arkus refleks


di tingkat atas dari cornu
dari spinal, lesi akar
anterior:
motorik dan saraf perifer.
-motor pathway di cerebral
korteks
-Capsula interna
-Pedunkulus serebralis
-Batang otak
-Spinal cord

Gejala
UMN

LMN

Tipe Paralisis

Spastic (kaku)

Flaccid
(layu)

Atropi

Tidak ada atropi

Severe
Atrophy

Deep Tendon Refleks


(biseps, triceps,
brachioradialis, patella,
achiles)

Meningkat

Absent

Pathological Refleks

Babinski sign (+)


Abnormal plantar
refleks

Absent

Superficial Refleks

Absent

Present

Fasikulasi dan fibrilasi

Absent

Could be
present

TERIMA KASIH