Anda di halaman 1dari 16

HIPERTIROIDISME

DALAM KEHAMILAN
CC pagi koas 12 April 2013

FISIOLOGI TIROID DALAM


KEHAMILAN
Peningkatan aktivitas kelenjar tiroid
terlihat dari peningkatan uptake
radioiodine oleh kelenjar tiroid selama
kehamilan.
Mulai trimester II kehamilan, kadar total
triioditironin dan tiroksin serum (T3 dan
T4) meningkat dengan tajam.
Peningkatan sekresi tiroksin tersebut
dihubungkan dengan meningkatnya
degradasi plasenta.

Pada awal kehamilan


peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerular
peningkatan bersih iodida dari plasma
Penurunan konsentrasi plasma iodida dan
memmerlukan penambahan kebutuhan
iodida dari makanan

Pada wanita dengan kecukupan iodida


tidak banyak perpengaruh

Hormon Tiroid di Plasenta


Plasenta mengandung enzim iodothyronine
deiodinase dalam jumlah yang banyak.
Deionisasi T4 yang dikatalisir oleh enzim ini
merupakan sumber reverse T3 yang ditemukan
dalam cairan ketuban.
Kadar reverse T3 dalam ketuban ini sebanding
dengan kadar T4 maternal.
Enzim ini berfungsi untuk menurunkan konsentrasi
T3 dan T4 dalam sirkulasi janin.

Efek hCG terhadap fungsi


tiroid

hCG adalah hormon peptida yang disusun oleh


dua sub unit disebut rantai alfa dan beta.
Sub unit alfa identik dengan TSH, sementara
rantai beta berbeda dengan keduanya.
hormon struktur parsial antara TSH dengan hCG
mengakibatkan hCG bisa bertindak sebagai
hormon tirotropik
Selama kehamilan normal, efek stimulasi
langsung hCG menimbulkan peningkatan
sementara kadar tiroksin bebas hingga akhir
trimester pertama (puncak sirkulasi hCG)
sehingga terjadi supresi parsial TSH.

Fisiologi Tiroid pada Janin

Sistem hipotalamus-hipofisis janin berkembang dan


berfungsi secara lengkap bebas dari fungsi ibu pada
kehamilan 11 minggu
setelah sistem portal hipofiseal berkembang, akan
ditemukan adanya TSH dan TRH yang dapat diukur.
TSH meningkat dengan cepat hingga kadar puncak
pada 24-28 minggu,
T4 memuncak pada 35-40 minggu
T3 tetap rendah selama kehamilan
T4 diubah menjadi rT3 oleh deiodinase-5 tipe 3
selama perkembangan janin.
Pada saat lahir, terdapat peningkatan mendadak yang
nyata dari TSH, peningkatan T4, peningkatan T3 dan
penurunan rT3. parameter ini secara berangsurangsur kembali normal dalam bulan pertama
kehidupan

Hubungan Janin Ibu


Pada Kehamilan Hipertiroid
Sejak mulai kehamilan terjadi perubahanperubahan pada fungsi kelenjar tiroid ibu
pada janin kelenjar tiroid baru mulai
berfungsi pada umur kehamilan gestasi ke
12-16
TSH tidak dapat melalui barier plasenta.
TSH ibu maupun TSH janin tidak saling
mempengaruhi.
T4 maupun T3 dapat melewati plasenta
dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga
dapat dianggap tidak saling mempengaruhi

Pasien penyakit Grave cenderung mengalami


remisi pada waktu hamil dan eksaserbasi pada
masa pasca persalinan.
Kehamilan merupakan suatu bentuk alograf
jaringan asing yang dapat berkembang tanpa
penolakan tubuh. Keadaan seperti ini dapat
berlangsung karena pada proses kehamilan baik
imunitas humoral maupun imunitas selular ditekan.
Antibodi antitiroid pada penyakit grave biasanya
menurun selama kehamilan.
Fungsi sel T supresor janin meningkat mencegah
penolakan ibu dan juga akan menurun intensitas
penyakit grave untuk sementara

Sesudah melahirkan sel T supresor turun


kembali, maka terjadilah eksaserbasi
penyakit grave pasca persalinan.
Pada beberapa kasus bahkan penyakit
Grave nya sama sekali tidak tampak selama
kehamilan namun pasca persalinan tampak
seolah-olah baru muncul. Keadaan ini lazim
disebut sebagai tirotoksikosis pasca
persalinan

Morbus Basedow
(hipertiroidisme)
Gejala-gejala : eksoftalamus, tremor, hiperkinesis, takikardi,
kenaikan BMR sampai 25% dan kadar tiroksin dalam darah.
Kelenjar tiroid juga akan membesar
Pengaruh kehamilan terhadap penyakit :
Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan
penderita bertambah berat
Pengaruh penyakit terhadap kehamilan dan persalinan :
- Kehamilan sering berakhir : abortus (abortus habitualis)
- Partus prematurus
- Kala II hendaknya diperpendek dengan ekstraksi vakum atau
forseps, karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi
kordis.
Pilihan pengobatan pada hipertiroid : obat anti tiroid merupakan
pilihan pertama. Bila ingin melakukan operasi tiroidektomi
lakukan pada trimester II. Bila wanita telah mempunyai beberapa
anak dianjurkan memakai kontrasepsi atau melakukan tubektomi.

PENGOBATAN
HIPERTIROIDISME

Tujuan pengobatan adalah mengendalikan


tirotoksikosis ibu tanpa gangguan fungsi
tiroid janin. Pengobatan yang dapat
dilakukan pada tirotoksikosis kehamilan ada
2 macam yaitu :
OAT (obat anti tiroid)
Pembedahan.
Kehamilan merupakan kontraindikasi untuk
pemberian iodium radioaktif

Obat anti tiroid


Obat anti tiroid yang dianjurkan ialah golongan
tionamid yaitu propilthiourasil (PTU) dan carbamizole
(Neo Mercazole)
Yodida merupakan kontraindikasi untuk diberikan
karena dapat langsung melewati sawar plasenta dan
dengan demikian mudah menimbulkan keadaan
hipotiroid janin
PTU mula-mula diberikan 100-150 mg tiap 8 jam.

Setelah keadaan eutiroid tercapai (biasanya 4-6 minggu


setelah pengobatan dimulai), diturunkan menjadi 50 mg
tiap 6 jam
bila masih tetap eutiroid dosisnya diturunkan dan
dipertahankan menjadi 2 kali 50 mg/hari.

Golongan -Bloker

Obat golongan ini tidak dianjurkan pada


kehamilan karena menyebabkan:

terjadinya plasenta yang kecil


pertumbuhan janin intra uterin yang terhambat
tidak ada respon terhadap keadaan anoksia
dapat menimbulkan bradikardi dan hipoglikemia

Tetapi apabila sangat diperlukan umpama pada


hipertiroid berat, krisis atau ancaman krisis tiroid,
dapat diberikan seperti biasa.

Tiroidektomi

Tiroidektomi hanya perlu dilakukan bila


pasien hipersensitif terhadap obat anti tiroid
(OAT) atau OAT sama sekali tidak efektif

Terapi Yodium Radioaktif

Pemberian terapi maupun pemeriksaan


fungsi tiroid dengan iodida radioaktif
merupakan kontraindikasi pada hipertiroid
dalam kehamilan, oleh karena yodida dan
radiodida juga dengan mudah melewati
plasenta

TERIMA KASIH