Anda di halaman 1dari 17

Bedah Buku

Meilinda Susilorini
Satya Winnu Pratama
Ridho Cahya Dewangga
Ahmad Izzuddin Ardi

PPDS Pembimbing : dr. LUG

ANALGESIA
DAN ANESTESI
PADA OBSTETRI

NYERI
PERSALINAN

Kala dua

Kala
satu

Kontraksi uterus
dan dilatasi serviks

Peregangan pelvis,
vagina, dan perineum

Nyeri
Viseral

Nyeri
Somatik
Metode Non Farmakologi :
Diperkenalkan oleh Lamaze

Metode Farmakologi :
Analgesia dan Anestesia

ACETAMINOPHEN
contoh: parasetamol
relatif aman untuk semua tahapan
kehamilan

ASPIRIN
menghambat fungsi platelet, sehingga
meningkatkan risiko perdarahan maternal
dan fetus
pada dosis rendah: relatif aman

NON STEROID ANTIINFLAMMATORY


DRUGS (NSAID)
contoh: ketorolac, ibuprofen
digunakan pada trimester satu: relatif aman
pada kehamilan lanjut: meningkatkan risiko penutupan prematur dari
duktus arteriosus janin, sehingga menyebabkan hipertensi pulmonal
persisten pada janin
terdapat studi yang menyatakan bahwa NSAID menaikkan risiko
keguguran karena interferensi pada jalur prostaglandin dapat
menyebabkan gangguan implantasi
NSAID harus dihindari pada usia kehamilan lebih dari 32 minggu
karena terdapat risiko perdarahan

ANALGESIA SISTEMIK
OPIOID
terdiri atas: morphine-like agonist, meperidine-like, dan analog
opioid sintetis
pemakaiannya sangat terbatas pada kehamilan, sehingga belum
ada uji prospektif komparatif tentang penggunaan opioid pada
kehamilan. Tidak ada bukti meningkatkan efek teratogenik
Dosis besar persalinan aktif, tetapi menimbulkan sedasi maternal yang
berlebihan sehingga dapat meningkatkan resiko depresi napas bayi baru
lahir.
Efek samping pada ibu yaitu mual, muntah, menggigil, penurunan motilitas
GIT, dan hipotensi.
Efek samping pada janin yaitu penurunan DJJ dan melambatnya awal
menyusu.

ANALGESIA SISTEMIK
OPIOID
Petidin (25-50 mg i.v tiap 1-2 jam dengan mulai kerja
dalam 5 menit atau 50-100 mg i.m tiap 2-4 jam
dengan mulai kerja dalam 30-45 menit) cepat difusi
pasif lewat plasenta. Maximal fetal tissue uptake
terjadi 2-3 jam, jika persalinan terjadi dalam waktu itu,
maka bayi beresiko tinggi mengalami depresi napas

ANALGESIA SISTEMIK
OPIOID
Fentanyl
Opioid sintetik mudah larut lemak dan potensinya 100x dari
morfin dan 800x dari petidin (50-100 g i.v diberikan tiap jam
pada saat persalinan aktif). Kinerja cepat dan masa kerja
singkat, sehingga mulai banyak digunakan untuk persalinan.
Fentanyl Patch biasa digunakan untuk nyeri kronis.
Terdapat studi yang menyatakan munculnya gejala
ringan withdrawal pada neonatus.
Ibu hamil yang menggunakan opioid, bayinya harus
diobservasi akan tanda-tanda withdrawal pada

ANALGESIA SISTEMIK
Antagonis efektif untuk opioid adalah Nalokson
(0,04-0,40 mg i.v. pada dewasa. 0,01mg/kg pada
bayi. Jika tidak ada respon, dosis diulangi 3-5 menit
lagi).
Penggunaan dosis sekecil mungkin dan
meminimalkan penggunaan dosis ulangan adalah
untuk mengurangi akumulasi obat dan metabolit pada
janin

ANALGESIA INHALASI
Inhalasi intermiten 40-50% N2O analgesia
ringan namun jarang diberikan pada persalinan
kala I, kadang diberikan pada kala II.
Paling aman diberikan oleh dokter spesialis
anestesiologi yang menanganinya dengan monitor
yang memadai di ruang persalinan yang lengkap
Tujuan utama adalah analgesia bukan anesthesia
Problem potensial : amnesia maternal, hilangnya
reflex proteksi jalan napas aspirasi cairan
lambung ke paru
Pemberian analgesia ini sudah banyak dihindari

ANALGESIA EPIDURAL
Untuk blok regional penghilang nyeri persalinan,
analgesia tanpa sedasi
Blok dimasukkan melalui L2-3, L3-4, atau L4-5
Efek samping : Hipotensi maternal
Komplikasi : Toksisitas anestetik lokal, anestesia spinal
tinggi, retensi urin antepartum, dan sakit kepala pasca
persalinan.
Pilihan obatnya: Bupivakain dan Lidokain

INDIKASI ANALGESIA EPIDURAL


Keinginan ibu untuk dihilangkan rasa nyerinya
Antisipasi intubasi sulit
Riwayat hipertermi maligna
Penyakit cardiovaskular dan pernapasan
Pencegahan atau pengobatan hiperfleksia otonom
dalam persalinan karena lesi medulla spinalis tinggi

INDIKASI ANALGESIA EPIDURAL


Analgesia spinal atau epidural atau kombinasi spinal-epidural
lebih dipilih terutama untuk kasus preeklamsia karena:
1. Bisa memberikan analgesia lebih baik dari teknik yang
lain
2. Mengurangi konsentrasi katekolamin, mengendalikan
tekanan darah ibu hamil dan pada beberapa kasus dapat
meningkatkan perfusi uteroplasenta
3. Menghindari penggunaan laringoskopi dan intubasi

KONTRAINDIKASI ANALGESIA EPIDURAL


Pasien menolak
Tekanan intrakranial tinggi
Infeksi lokal di tempat tusukan jarum
Koagulopati
Hipovolemia maternal yang belum terkoreksi
Tidak ada dokter terlatih atau berpengalaman dalam
melakukan teknik ini

ANALGESIA SPINAL
Morfin (0,25 mg) atau Fentanil (10 g / Sufentanil
25 g)
Diberikan pada kala I persalinan secara intratekal
(memasukkan obat melalui injeksi pada spinal canal)
Menghasilkan 1-2 jam analgesia
Efek samping : Hipotensi ringan
Tidak efektif menghilangkan nyeri komponen
somatik pada kelanjutan proses persalinan

BLOK PARASERVIKAL
Kadang digunakan pada kala satu untuk blok transmisi
impuls nyeri melalui ganglion paraservikal
Analgesia tanpa blok sensorik dan motorik (tidak
mengganggu persalinan)
Kerugian : masa kerja pendek (45-60 menit) dan tidak
menghilangkan rasa nyeri somatik selama proses
persalinan
Anastesia lokal yang biasa digunakan adalah 2% 2kloroprokain dan 1% lidokain
Komplikasi : Bradikardia pada janin
Teknik ini tidak digunakan lagi

KESIMPULAN
Sebagian besar analgesik pada umumnya
aman untuk kehamilan selama berada
dalam dosis terapeutik
Untuk meminimalkan risiko pada janin,
sebaiknya terapi farmakologis dimulai pada
dosis terapeutik terendah
.

TERIMA
KASIH