Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kasus

Herpes Zoster et Regio Thorakalis Anterior et


Posterior

Oleh
Agustina Dewi, S.Ked
Preseptor :
dr. Hj. Yulinda Fetritura, M.Kes

BAB I
IDENTITAS PASIEN
Identitas Pasien
Nama

: Tn. AF
Jenis Kelamin: Laki-laki
Umur : 49 tahun
Suku/bangsa
: Melayu/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : PNS
Alamat : RT.17 Kelurahan Simpang IV
Sipin

Latar
Belakang
Sosio-ekonomi-demografilingkungan-keluarga
Status Perkawinan
: Menikah
Jumlah anak/saudara :
Anak 3 orang
Status ekonomi keluarga : Baik
Kondisi
Rumah
: Berdasarkan kunjungan rumah
yang telah dilakukan terhadap pasien diketahui bahwa
saat ini kondisi rumah pasien dalam keadaan baik.
Pasien tinggal di sebuah rumah pribadi. Rumah pasien
berukuran kurang lebih 15 x 12 M, berdinding beton,
lantai semen dan keramik, atap terbuat dari seng, dan
memiliki ventilasi yang memadai.
Rumah terdiri dari 4 buah kamar tidur, masing-masing
kamar tidur memiliki jendela. Dibagian depan terdapat
ruang tamu dengan beberapa jendela. Terdapat sebuah
ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan. Di
bagian belakang terdapat dapur. WC terletak di dalam
rumah. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari
bersumber dari sumur, listrik PLN.

Kondisi Lingkungan Keluarga : Lingkungan disekitar


rumah pasien terlihat cukup bersih dan nyaman. Saat ini
pasien tinggal bersama istri dan ketiga anaknya serta orang
tua laki-laki (bapak). Sehari-hari pasien bekerja sebagai
seorang PNS.
Aspek Psikologis di Keluarga
:
Pasien merupakan seorang suami dan ayah bagi ketiga
anaknya. Menurut alloanamnesis yang dilakukan terhadap
istri pasien, diketahui bahwa pasien merupakan seorang
yang penyayang. Pasien memiliki hubungan yang sangat
baik terhadap keluarga, baik dengan istri maupun anakanaknya. Tidak ada masalah dalam keluarga yang cukup
berarti.

Keluhan Utama :
Timbul bintil bintil merah kecil berisi cairan di dada dan punggung sebelah kiri
sejak 4 hari yang lalu.

Riwayat Perjalanan Penyakit : (autoanamnesa)


5 hari yang lalu pasien mengeluh demam, suhu tubuh tidak terlalu
tinggi disertai kepala pusing dan badan terasa lemas. Saat itu,
pasien mulai merasakan panas dan sedikit perih di bagian dada kiri.
Sehari setelahnya, pasien mengeluh timbul bintil-bintil berwarna
kemerahan disekitar dada sebelah kiri, terasa gatal dan perih.
Awalnya bintil-bintil hanya sedikit di dada, namun karena gatal
terkadang pasien menggaruknya. Kemudian bintil-bintil semakin
banyak dan menyebar hingga ke punggung kiri. Menurut pasien,
setelah digaruk keluar cairan dari bintil tersebut, berwarna jernih
hingga kekuningan.
Pasien biasanya mandi dan mengganti pakaian dua kali sehari.
Penggunaan handuk dalam keluarga berbeda-beda untuk setiap
anggota keluarga. Dalam keluarga tidak ada yang mengalami
keluhan yang sama.
nyeri otot dan tulang (+) . Sebelumnya pasien mengaku bahwa
belakangan ini sering begadang mengerjakan tugas kantor. Keluhan
seperti ini pertama kali dialami oleh pasien. Waktu kecil pasien
mengaku pernah mengalami penyakit cacar air.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat

keluhan yang sama sebelumnya (-)


Asma (-)
Alergi (-)
Cacar air (+) pada waktu kecil
Penyakit Sistemik:
Hipertensi disangkal
Penyakit Diabetes Mellitus disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak

ada anggota keluarga lain yang mengalami


keluhan seperti pasien.
Riwayat keluarga dengan Hipertensi dan Diabetes
Mellitus serta alergi disangkal.

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum
: tampak sakit ringan
Kesadaran
: compos mentis
Tekanan darah
: 120/90 mmhg
Suhu
: 37,1C
Nadi
: 72 x/menit
Pernafasan
- Frekuensi
: 18x/menit
- Irama
: reguler
- Tipe
: thorakoabdominal
Tinggi badan
: 172 cm
Berat badan
: 71 Kg
Kulit
Warna
: Kuning langsat
Turgor
: baik
Lembab / kering
: lembab
Lapisan lemak
: ada

Pemeriksaan Organ

Kepala
Bentuk

: normocephal

Ekspresi

: tampak kesakitan

Simetri

: simetris

Mata
(-)

Exopthalmus/enophtal :

Kelopak
: normal
Conjungtiva : anemis (-/-)
Sklera : ikterik (-/-)
Kornea : bulat
Pupil

: bulat, isokor, RC +/+

Lensa : keruh (-)

Hidung : tak ada kelainan

Telinga : tak ada kelainan

Mulut
Bibir : basah, tidak pucat
pernafasan : normal
Gigi geligi
: karies (+)
Palatum
: deviasi (-)
Selaput Lendir : dbn
Lidah
: putih kotor (-), ulkus (-)
Leher
KGB : pembesaran (-)
Kel.tiroid : pembesaran (-)
: (5 2) cm H2O
JVP

Bau

Thorax
Cor

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

Palpasi: Thrill (-), ictus cordis terletak pada ICS 5 LMC sinistra

Perkusi: Batas jantung Atas : ICS II kiri


Kanan : linea sternalis kanan
Kiri : ICS VI linea midclavicula kiri

Auskultasi : BJ I dan II regular, Gallop (-), Murmur (-)

Pulmo

Inspeksi :Simetris kanan-kiri, pergerakan dinding dada tidak ada yang tertinggal.

Palpasi

: NT (-), taktil fremitus sama kiri dan kanan

Perkusi

: Sonor dikedua lapang paru

Auskultasi

: vesikuler (+/), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen

Inspeksi

Auskultasi : bising usus (+) normal

Palpasi: NT (-), NL (-) hepar dan lien tidak teraba


Perkusi
: Timpani pada seluruh lapangan abdomen

: Datar dan soepel

Ekstremitas

Akral hangat, udem (-), CRT < 2 detik

Status Dermatologis

Lokasi

:Thorakalis Anterior et Posterior Sinistra


Efloresensi
: tampak vesikel pada regio thorakalis
anterior et posterior. Vesikel berkelompok, berbatas
tegas dengan dasar kulit eritematus, polimorf, tersusun
secara herpetiformis, ada daerah yang normal,
unilateral, disertai nyeri dan gatal.

Diagnosis Kerja :

Herpes Zoster et regio thorakalis


anterior et posterior sinistra
Diagnosis Banding :

Herpes simplek
Impetigo vesiko-bulosa

Pemeriksaan anjuran
Hapusan

Tzanck

Manajemen

Promotif
Menerangkan tentang penyakit herpes zooster, mulai dari definisi, faktor
penyebab dan bagaimana proses penularan.
Menerangkan bahwa penyakit ini dapat menular kepada orang lain.
Menjelaskan kepada pasien bahwa pengobatan herpes zooster ini cukup lama,
yaitu minimal dalam satu minggu.
Menerangkan bahwa penyakit ini berhubungan dengan daya tahan tubuh,
sehingga perlu mengatur nutrisi, pola tidur, dan manajemen stress.

Preventif
Menyarankan pasien untuk tidak menggaruk bintil-bintil yang ada, agar tidak
bertambah banyak dan luas.
Tidak menggunakan handuk atau pakaian bersama dengan anggota keluarga
lain.
Menghindari kontak langsung dengan penderita dengan keluhan yang sama.
Mengkonsumsi nutrisi yang cukup dan bergizi, makan sayur dan buah serta
susu.
Menghindari bekerja yang menimbulkan kelelahan fisik yang berat.

Kuratif
Non farmakologi
Kuku jari tangan harus dipotong untuk
mencegah terjadinya infeksi sekunder akibat
garukan.
Mengkonsumsi makanan yang bergizi
seimbang untuk memperkuat imunitas tubuh.
Istirahat yang cukup

Dinas Kesehatan Kota Jambi


Puskesmas simpang IV sipin
dr. Agustina Dewi. S
SIP. 123456789
1234567890
Jambi, 30
April 2015
R/ Acyclovir zalf tube

Farmakologi
Acyclovir

salep kulit, diberikan 2 x sehari


setelah mandi selama 7 hari
tablet 800 mg, diberikan 5 x 1
tablet, selama 7 hari

STR.

no. I

Sue
R/ Acyclovir tab mg 800
R/ Paracetamol tab mg 500
R/ Amoxicillin tab mg 500

Paracetamol

Pro

tablet 500 mg, diberikan 3 x 1


tablet selama 7 hari

no. XV

S 3 dd tab I p.r.n

Acyclovir

tablet 500 mg, diberikan 3 x 1


tablet selama 7 hari (kalau perlu)

no. XXXV

S 5 dd tab 1

no.XX

S 3 dd tab I
: Tn. AF

Umur : 49 tahun
Alamat : RT 17 Kel. Simpang IV sipin

Amoksisilin

Resep tidak boleh diganti tanpa persetujuan dokter

Obat tradisional
30 gram patikan china dan 1 siung bawang putih dicuci bersih
kemudian ditumbuk sampai halus. Kemudian tambahkan sedikit air
dingin. Aduk sampai bercampur rata. Setelah itu balurkan pada bagian
kulit yang terkena herpes.
Daun kentutan secukupnya dicuci sampai bersih lalu tumbuk sampai
halus kemudian tambahkan belerang secukupnya dan minyak kelapa
secukupnya kemudian aduk sampai merata. Selanjutnya oleskan pada
bagian kulit yang terkena herpes.
Rehabilitatif
Menerangkan kepada pasien bahwa lesi-lesi di kulit akan hilang dalam
7 12 hari bila tidak terjadi infeksi sekunder akibat penggarukan.
Mengkonsumsi makanan bergizi dan vitamin untuk mempercepat
pemulihan daya tahan tubuh.
Menjaga kebersihan diri.

ANALISA KASUS

Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar


Berdasarkan

kunjungan rumah yang telah dilakukan terhadap


pasien diketahui bahwa saat ini kondisi rumah pasien dalam
keadaan baik. Pasien tinggal di sebuah rumah pribadi. Rumah
pasien berukuran kurang lebih 15 x 12 M, berdinding beton, lantai
semen dan keramik, atap terbuat dari seng, dan memiliki ventilasi
yang memadai.
Rumah terdiri dari 4 buah kamar tidur, masing-masing kamar tidur
memiliki jendela. Dibagian depan terdapat ruang tamu dengan
beberapa jendela. Terdapat sebuah ruang keluarga yang menyatu
dengan ruang makan. Di bagian belakang terdapat dapur. WC
terletak di dalam rumah.
Herpes Zoster adalah suatu infeksi yang menyebabkan erupsi kulit
yang terasa sangat nyeri berupa lepuhan yang berisi cairan. Herpes
zoster mempunyai sifat khas yaitu vesikel- vesikel yang tersusun
berkelompok sepanjang persyarafan sensorik kulit sesuai
dermatom.
Tidak ada hubungan antara penyakit pasien dengan keadaan
rumah.

Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga


Pada

kasus ini didapatkan status ekonomi keluarga pasien baik, pasien


tergolong dalam ekonomi mampu. Saat ini pasien tinggal bersama istri dan
ketiga anaknya serta orang tua laki-laki (bapak). Sehari-hari pasien bekerja
sebagai seorang PNS. Hubungan pasien dengan keluarga diketahui sangat
harmonis.
Tidak ada hubungan antara diagnosis penyakit pasien dengan keadaan
keluarga dan juga hubungan keluarga.
Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan
lingkungan sekitar
Pasien belum mengetahui penyakitnya dapat menular juga pada orang lain.
Penularan bisa terjadi melalui kontak udara yang terkontaminasi maupun
melalui kontak langsung yaitu dari sentuhan kulit antar individu. Pasien juga
diketahui tidak pernah menggukan barang seperti handuk secara bersamaan
dengan anggota keluarga lainnya. Diketahui juga bahwa tidak ada keluarga
atau teman pasien yang mengalami keluhan seperti pasien. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara perilaku kesehatan dalam
keluarga dan lingkungan sekitar dengan penyakit pasien.

Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau


etiologi penyakit ini pada pasien
Pada

kasus ini yang menjadi faktor resiko atau etologi


penyakit pasien adalah infeksi virus varicela zoster,
yang termasuk kelompok virus sedang berukuran 140
200 m dan berinti DNA. Biasanya terjadi pada usia
dewasa, meski kadang juga pada anak- anak. Dimana
insidennya sama banyaknya pada pria dan wanita dan
tidak tergantung musim.

Selain

itu, reaktivasi dari virus ini dapat terjadi dalam


keadaan imunitas yang menurun. Pada pasien diketahui
bahwa akhir-akhir ini ia sering begadang dan tidur larut
malam untuk mengerjakan tugas kantor. Hal ini bisa
saja menjadi salah faktor resiko dari terjadinya panyakit
pasien.

Analisis untuk mengurangi paparan atau memutus rantai


penularan dengan faktor resiko atau etiologi pada pasien
ini
Pasien

untuk sementara menghindari kontak terhadap


orang lain terlebih dahulu dan minum obat secara teratur.
Penularan bisa terjadi melalui kontak udara yang
terkontaminasi khususnya pada tempat yang banyak
orang, seperti di sekolah dan kantor. Bisa juga terjadi
penularan melalui sentuhan kulit antar individu.
Selain itu pasien disrankan untuk makan makanan bergizi,
lengkap dengan sayur dan lauk pauk serta buah dan susu
setiap hari minimal dua kali sehari, menjaga kebersihan
diri dengan mandi minimal dua kali sehari serta tidak
menggunakan handuk mandi bersama anggota keluarga
lain.