Anda di halaman 1dari 31

KELOMPOK 6:

Ariesha Rizika
(111.140.059)
Keni Christy Manurung (111.140.076)
Ahmad Filza A
(111.140.021)
Jati Arif Pribadi
(111.140.070)
Jalu Biaz F
(111.140.173)
M. Nizar Dwi
(111.140.025)

ALIRAN GRAVITASI
(ARUS TURBIDIT)

DAFTAR PUSTAKA

ARUS TURBIDIT
Turbidit, menurut Keunen dan Migliorini (1950):
Sebagai suatu sedimen yang diendapkan oleh mekanisme arus
turbidit, sedangkan arus turbidit itu sendiri adalah suatu arus yang
memiliki suspensi sedimen dan mengalir pada dasar tubuh fluida,
karena mempunyai kerapatan yang lebih besar daripada cairan
tersebut.

Endapan turbidit mempunyai karakteristik tertentu yang sekaligus


dapat dijadikan sebagai ciri pengenalnya.
Karakteristik Litologi
Karakteristik Struktur sedimen

1. Karakteristik Litologi
a.

Terdapat perselingan tipis yang bersifat ritmis antar batuan


berbutir relatif kasar dengan batuan yang berbutir relatif halus,
dengan ketebalan lapisan beberapa milimeter sampai beberapa
puluh centimeter. Umumnya perselingan antar batupasir dan
serpih. Batas atas dan bawah lapisan datar, tanpa adanya
penggerusan (scouring).
b. Pada lapisan batuan berbutir kasar memiliki pemilahan buruk dan
mengandung mineral-mineral kuarsa, feldspar, mika, glaukonit,
juga banyak didapatkan matrik lempung. Kadang-kadang dijumpai
adanya fosil rework, yang menunjukan lingkungan laut dangkal.

c. Pada beberapa lapisan batupoasir dan batulanau


didapatkan
adanya fragmen tumbuhan Kontak perlapisan yang tajam, kadang
berangsur menjadi endapan pelagik.
e. Pada perlapisan batuan, terlihat adanya struktur sedimen
tertentu yang menunjukan proses pengendapannya, yaitu
antara lain
perlapisan bersusun, perlapisan sejajar, perlapisan bergelombang,
konvolut, dengan urut-urutan tertentu.
f. Tak terdapat struktur sedimen yang memperlihatkan ciri
endapan laut dangkal maupun fluvial, antara lain
pengerukan, silang
siur, dll.
g. Sifat-sifat penunjukan arus, memperlihatkan pola aliran yang
hampir seragam saat suplai terjadi.

2. Karakteristik Struktur sedimen


Menurut Bouma (1962) dalam hal pengenalan endapan turbidit
salah satu ciri yang penting adalah struktur sedimen, karena
mekanisme pengendapan arus turbid memberikan karakteristik
sedimen tertentu.
Banyak klasifikasi struktur sedimen hasil mekanisme arus turbid,
salah satunya karakteristik genetik dari Selly (1969).
Selly (1969) mengelompokan struktur sedimen menjadi 3
berdasarkan proses pembentukannya :
Struktur Sedimen Pre-Depositional
Struktur Sedimen Syn-Depositional
Struktur Sedimen Post-Derpositional

Struktur Sedimen Pre-Depositional


Merupakan struktur sedimen yang terjadi sebelum pengendapan
sedimen, yang berhubungan dengan proses erosi oleh bagian
kepala (head) dari suatu arus turbid (Middleton, 1973). Umumnya
pada bidang batas antara lapisan batupasir dan serpih. Beberapa
struktur sedimen yang antara lain flute cast, groove cast.
Struktur Sedimen Syn-Depositional
Struktur yang terbentuk bersamaan dengan pengendapan sedimen,
dan merupakan struktur yang penting dalam penentuan suatu
endapan turbidit. Beberapa struktur sedimen yang penting
diantaranya adalah perlapisan bersusun, perlapisan sejajar dan
perlapisan bergelombang.
Struktur sedimen yang dibentuk setelah terjadi pengendapan
sedimen, yang umumnya berhubungan dengan proses deformasi.
Salah satunya struktur pembebanan.

Sam Boggs (1995) mengklasifikasikan struktur sedimen dengan


menghubungkan struktur stratifikasi dan bentuk dasar. Struktur
stratifikasi dibagi menjadi 4 :
(1)Bedding dan lamination
(2)Bedforms
(3)Cross lamination
(4)Irregular stratification
Struktur sedimen dibagi 4 berdasarkan proses terjadinya, yaitu:
1)Strutur yang terjadi karena proses sedimentasi
2)Struktur yang terjadi karena adanya deformasi
3)Struktur yang terjadi karena erosi
4)Struktur yang terbentuk dari aktivitas biogenic
Umumnya struktur sedimen yang ditemukan pada endapan
turbidit adalah struktur sedimen yang terbentuk karena proses
sedimentasi, terutama yang terjadi karena proses pengendapan
suspensi dan arus.

Bouma (1962) memberikan urutan ideal endapan turbidit yang


dikenal dengan Bouma Sequence, dari interval a-e.

Urut-urutan endapan turbidit yang umumnya berupa perselingan


antara batupasir dan batulempung merupakan suatu satuan yang
berirama (ritmis), dimana setiap satuan merupakan hasil episode
tunggal dari suatu arus turbid.

Bouma Sequence yang lengkap dibagi 5 interval, peralihan antara satu


interval ke interval berikutnya dapat secara tajam, berangsur, atau semu,
yaitu :
Gradded Interval (Ta)
Merupakan perlapisan bersusun dan bagian terbawah dari urut-urutan ini,
bertekstur pasir kadang-kadang sampai kerikilatau kerakal. Struktur
perlapisan ini menjadi tidak jelas atau hilang sama sekali apabila batupasir
penyusun ini terpilah baik. Tanda-tanda struktur lainnya tidak tampak.
Lower Interval of Parallel Lamination (Tb)
Merupakan perselingan antara batupasir dengan serpih atau batulempung,
kontak dengan interval dibawahnya umumnya secara berangsur.
Interval of Current Ripple Lamination (Tc)
Merupakan struktur perlapisan bergelombang dan konvolut. Ketebalannya
berkisar antara 5-20 cm, mempunyai besar butir yang lebih halus daripada
kedua interval dibawahnya. (Interval Tb).

Upper Interval of Parallel Lamination (Td)


Merupakan lapisan sejajar, besar butir berkisar dari pasir sangat
halus sampai lempung lanauan. Interval paralel laminasi bagian
atas, tersusun perselingan antarabatupasir halus dan lempung,
kadang-kadang lempung pasirannya berkurang ke arah atas.
Bidang sentuh sangat jelas.
Pelitic Interval (Te)
Merupakan susunan batuan bersifat lempungan dan tidak
menunjukan struktur yang jelas ke arah tegak, material pasiran
berkurang, ukuran besar butir makin halus, cangkang foraminifera
makin sering ditemukan. Bidang sentuh dengan interval di
bawahnya berangsur. Diatas lapisan ini sering ditemukan lapisan
yang bersifat lempung napalan atau yang disebut lempung pelagik.

Urut-urutan ideal seperti tadi, mungkin tak selalu didapatkan dalam lapisan, dan umumnya
dapat merupakan urut-urutan internal sebagai berikut:

1. Base cut out sequence.


Urutan interval ini merupakan urutan turbidit yang lebih utuh, sedangkan bagian
bawahnya hilang. Bagian yang hilang bisa Ta, Ta-b, Ta-c dan Ta-d.

2. Truncated sequence
Urutan interval yang hilang dari sekuen yang hilang adalah
bagian atas, yaitu : Tb-e, Tc-e, Td-e, Te. Hal ini disebabkan
adanya erosi oleh arus turbid yang kedua.
3. Truncated base cut out sequence
Urutan ini merupakan kombinasi dari kedua kelompok base
cut out sequence dan truncated sequence yaitu bagian atas dan
bagian bawah bisa saja hilang.
Pada dasarnya endapan oleh arus turbid yang besar
mempunyai rangkaian yang lengkap dan setelah pengendapan
material yang kasar kecepatan berkurang dan pada saat
tertentu dimana kecepatan sangat rendah mulai terbentuk
laminasi interval (Tb-e = T2).
Proses berkurangnya kecepatan dan ukuran butir sedimen
berjalan terus selama pengendapan, sehingga terbentuk
rangkaian (Tc=T3), (Td-e=T4) dan (Te=T5).

Berdasarkan sifat jauh dekatnya sumber, maka endapan


turbidit dapat dibagi menjadi 3 fasies, yaitu :
Fasies proximal
Intermediate
distal.

Distal merupakan endapan turbidit yang


pengendapannya relatif lebih jauh dari sumbernya atau
tidak mengandung interval a dan b. Endapannya
dicirikan oleh adanya perselingan yang teratur antara
batupasir dan serpih, lapisan batupasirnya tipis-tipis
dan lapisan serpihnya lebih tebal.
Pengendapan yang relatif lebih dekat dengan sumbernya
disebut turbidit proximal, biasanya berbutir kasar,
kadang0kadang konglomeratan dan sedikit serpih.

Mekanisme Pembentukan Endapan Turbidit


Middleton (1967) menyatakan bahwa arus turbid merupakan salah satu
tipe dari arus kerapatan (density current), dimana arus bergerak secara
gaya berat, karena adanya perbedaan kerapatan antara arus dengan
cairan di sekeliingnya, yang disebabkan oleh adanya dispersi sedimen
pada suatu tempat (misalnya : muara sungai atau delta), dimana sedimen
banyak terakumulasi karena adanya faktor pemicu, misalnya: suatu
gempa bumi, tsunami,dll, mulai bergerak dan meluncur secara tiba-tiba
ke arah bawah cekungan.
Saat sedimen tersebut mulai meluncur ke bawah akan membentuk
slump. Slump tersebut bergerak perlahan-lahan dan berangsur-angsur
menjadi lebih cepat disebabkan adanya pengurangan viskositas.
Selanjutnya massa sedimen akan bergerak sampai pada lereng yang
curam, maka terjadilah kenaikan kecepatan dan pergerakan selanjutnya
berubah menjadi arus turbid, sehingga butiran kasar akan terkonsentrasi
pada bagian kepala arus, sedangkan yang lebih halus di bagian ekor.
Karena pengaruh gravitasi maka arus turbid akan bergerak ke bawah
mengikuti ngarai di bawah samudera.

Pada saat mendekati daerah pengendapannya, kecepatan arus


mulai berkurang karena penurunan gravitasi akibat kemiringan
lereng yang semakin landai. Dalam kondisi seperti ini maka
bagian kepala dari arus akan mengerosi lapisan dibawahnya
membentuk struktur sedimen scour mark. Sesuai dengan sifatsifat kerapatan arus, maka pengendapan akan terjadi sekaligus,
sehingga sedimen yang diendapkan mempunyai pemilahan yang
sangat buruk. Dalam hal ini material-material yang lebih berat
akan terkumpul pada bagian depan arus turbid, sedangkan
material halus akan terperangkap bersama-sama.
Endapan yang pertama terbentuk adalah batupasir berstruktur
perlapisan bersusun. Selanjutnya arus akan semakin lemah dan
sedimen yang halus akan diendapkan. Apabila kecepatan arus
telah hilang, maka akan terjadi pengendapan lempung pelagik
dalam suasana suspensi yang menunjukan kondisi lingkungan
bernergi rendah.

Bouma (1962) menyimpulkan bahwa partikel-partikel sedimen


bergerak tanpa bantuan benturan atau seretan air, tetapi bergerak
dibawah permukaan air yang relatif tenang (stagnant water).
Massa sedimen bisa saja tidak tercampur air secara baik sehingga
mengakibatkan massa sedimen tersebut terlalu encer untuk
melengser dan membentuk arus turbid. Sedimen yang berbutir
kasar tidak menempati bagian kepala dan apabila terendapkan
massa sedimen kasar akan membentuk fluxoturbidite yaitu
endapan antara nendatan dan arus turbid (Dzulynski, dkk, 1959).
Menurut Koesoemadinata (1972) pengendapan arus turbid
merupakan suatu keadaan massa teronggok pada lereng benua,
yang secara tiba-tiba dapat meluncur dengan kecepatan tinggi
bercampur dengan air, yang merupakan suatu aliran menuju laut
dalam. Disini partikel-partikel sedimen bergerak tanpa bantuan
benturan /seretan air, melainkan oleh energi inersia, dimana
energi potensial diubah menjadi energi kinetik, kemudian
pengendapan terjadi segera setelah energi kinetik habis.

Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa fasies adalah


suatu lapisan atau kumpulan lapisan yang memperlihatkan
karakteristik litologi, geometri dan sedimentologi tertentu
yang berbeda dengan batuan di sekitarnya. Suatu mekanisme
yang bekerja serentak pada saat yang sama. Asosiasi fasies
didefinisikan sebagai suatu kombinasi dua atau lebih fasies
yang membentuk suatu tubuh batuan dalam berbagai skala
dan kombinasi. Asosiasi fasies ini mencerminkan lingkungan
pengendapan atau proses dimana fasies-fasies itu terbentuk.

Dalam menentukan fasies turbidit, Walker dan Mutti (1973) merinci


pembagian fasies turbidit dari Mutti dan Ricci Lucci (1972).
Walker dan Mutti (1973) telah mengemukakan suatu model, yaitu model
kipas laut dalam dan hubungannya dengan fasies turbidit (gb.2.9). Walker
(1978) kemudian menyederhanakan kembali klasifikasi tersebut menjadi 5
fasies, yaitu :
1. Fasies Turbidit Klasik (Classical Turbidite, CT)
Fasies ini pada umumnya terdiri dari perselingan antara batupasir dan
serpih/batulempung dengan perlapisan sejajar tanpa endapan channel.
Struktur sedimen yang sering dijumpai adalah perlapisan bersusun,
perlapisan sejajar, dan laminasi, konvolut atau a,b,c Bouma (1962), lapisan
batupasir menebal ke arah atas. Pada bagian dasar batupasir dijumpai
hasil erosi akibat penggerusan arus turbid (sole mark) dan dapat
digunakan untuk menentukan arus turbid purba. Dicirikan oleh adanya
CCC (Clast, Convolution, Climbing ripples). Climbing ripples dan convolut
merupakan hasil dari pengendapan suspensi, sedangkan clast merupakan
hasil erosi arus turbid (Walker, 1985).

2. Fasies Batupasir masif (Massive Sandstone, MS)


Fasies ini terdiri dari batupasir masif, kadang-kadang
terdapat endapan channel, ketebalan 0,5-5 meter,
struktur mangkok/dish structure. Fasies ini berasosiasi
dengan kipas laut bagian tengah dan atas.
3. Fasies Batupasir Kerakalan (Pebbly Sandstone, PS)
Fasies ini terdiri dari batupasir kasar, kerikil-kerakal,
struktur sedimen memperlihatkan perlapisan bersusun,
laminasi sejajar, tebal 0,5 5 meter. Berasosiasi dengan
channel, penyebarannya secara lateral tidak menerus,
penipisan lapisan batupasir ke arah atas dan urutan
Bouma tidak berlaku.

4. Fasies Konglomeratan (Clast Supported Conglomerate, CGL)


Fasies ini terdiri dari batupasir sangat kasar, konglomerat,
dicirikan oleh perlapisan bersusun, bentuk butir menyudut
tanggung-membundar tanggung, pemilahan buruk, penipisan
lapisan batupasir ke arah atas, tebal 1-5 m. Fasies ini berasosiasi
dengan sutrafanlobes dari kipas tengah dan kipas atas.
Fasies Lapisan yang didukung oleh aliran debris flow dan
lengseran (Pebbly mudstone, debris flow, slump and slides, SL).
Fasies ini terdiri dari berbagai kumpulan batuan, pasir, kerikil,
kerakal dan bongkah-bongkah yang terkompaksi. Fasies ini
berasosiasi dengan lingkungan pengendapan kipas atas (upper
channel fill).

Dari penelitian fasies turbidit ini, beberapa peneliti kemudian


berusaha untuk membuat suatu model kipas bawah laut, yang
merupakan asosiasi dari beberapa fasies. Model fasies adalah
suatu model umum dari suatu sistem pengendapan yang khusus
(Walker, 1992). Dari model tersebut diharapkan dapat diketahui
arah pengendapan serta letak dari suatu endapan turbidit.
Model Kipas Bawah Laut Mutti dan Lucchi

Mutti dan Lucchi (1972) berdasarkan sifat fisik endapan turbidit


seperti warna, komposisi, variasi besar butir, tekstur perlapisan
dan struktur sedimen, membagi fasies turbidit menjadi 7 fasies
utama, yaitu fasies A,B,C,D,E,F, DAN G, dimana ketujuh fasies
tersebut berasosiasi dengan tiga lingkungan pengendapan, yaitu :
lereng (slope), dibagi menjadi lereng atas (upper slope) dan lereng
bawah (lower slope); kipas (fan) dibagi menjadi kipas dalam
(inner fan), kipas tengah (middle fan) dan kipas luar (outer fan);
kumpulan daratan cekungan.

Model Kipas Bawah Laut Normark

Model kipas bawah laut Normark (1978), terdiri dari 3


lingkungan pengendapan utama, yaitu: kipas atas (upper
fan), kipas tengah (middle fan), dan kipas bawah (lower
fan). Kipas atas ditandai oleh suatu lembah dengan lebar
1-5 km, endapan dasar lembah terdiri dari endapan
berbutir kasar seperti endapan channel, braided berupa
batupasir kasar dan batulanau, struktur sedimen
perlapisan bersusun, perlapisan sejajar atau interval a
dan b Bouma (1962). Kipas tengah ditandai bentuk
morfologi suprafan lobe, litologi terdiri dari perselingan
batupasir dan batulempung, dimana sifat lapisan
batupasir mengkasar dan menebal kearah atas, kipas
bawah ditandai oleh permukaan yang hampir rata (flat),
lapisan batupasir yang tipis dan berstruktur perlapisan
sejajar atau interval b Bouma (1962).

Model Kipas Bawah Laut Walker

Model kipas menurut Walker (1978) ini


merupakan penyempurnaan darii beberapa
peneliti terdahulu yang terdiri dari saluran utama
(fedder channel), lereng(slope), kipas atas (upper
fan ), kipas tengah (middle fan) yang terdiri dari
channeled portion of suprafan lobes, kipas bawah
(lower fan) dan dasar cekungan (basin pain).
Pada umumnya kipas tersebut berasosiasi dengan
lima fasies turbidit yang diajukan oleh Walker
(1978). Hubungan antara mekanisme arus turbid
dengan jenis fasies yang dihasilkannya dapat
dilihat pada gambar 2.11 dibawah ini

Pada dasarnya Walker (1978) membagi kipas laut


dalam 4 bagian pokok, yaitu :

1. Asosiasi Fasies Pada Lembah Pengisi


Lembah pengisi merupakan alur utama dari sedimen
yang membentuk lipas laut dalam. Lembah ini memotong
lereng kontinen dan dapat menerus dari laut dalam
sampai dekat pantai. Dari penyelidikan yang dilakukan
umumnya lembah pengisi berisi sedimen berukuran
halus (fasies G), interkalasi lensa-lensa tubuh batupasir
dari fasies A merupakan endapan paritan (submarine
channel), interkalasi batuan yang campur aduk (fasies F)
juga sering didapatkan sisipan fasies E dan D,
diperkirakan sebagai akibat dari kenaikan atau fluktuasi
muka air laut setelah zaman es.

2. Asosiasi Fasies Kipas Laut Dalam


Kipas ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : kipas
atas (upper fan), kipas tengah (middle fan), dan
kipas bawah (lower fan).
a)Kipas Atas (upper fan)
Kipas atas merupakan pengendapan pertama
dari suatu sistem kipas laut dalam, yang
merupakan tempat dimana aliran gravitasi itu
terhenti oleh perubahan kemiringan. Oleh
karena itu, seandainya aliran pekat (gravitasi
endapan ulang) ini membawa fragmen ukuran
besar, maka tempat fragmen kasar tersebut
diendapkan adalah bagian ini.

b) Kipas tengah (middle fan)


Bagian tengah kipas laut dalam adalah yang paling menarik
dan sering diperdebatkan. Letak kipas tengah berada di
bawah aliran kipas atas.
Morfologi kipas laut dalam bagian tengah berumur Resen,
dapat dibagi menjadi 2, yaitu suprafan dan suprafan lobes,
disamping ketinggian dari lautan, juga morfologi di
dalamnya.
Suprafan umumnya ditandai lembah yang tidak mempunyai
tanggul alam (Nomark, 1978) dimana lembah tersebut saling
menganyam (braided), sehingga dalam profil seismic
berbentuk bukit-bukit kecil. Relief ini sebenarnya
merupakan bukit-bukit dan lembah yang dapat mempunyai
relief 90 meter. Lembah dapat berisi pasir sampai kerakal
(Nomark,1980), kadang-kadang dapat menunjukan urutan
Bouma (1962).

c) Kipas Bawah (Lower Fan)


Kipas bawah terletak pada bagian luar dari system
laut dalam, Umumnya mempunyai morfologi yang
datar sangat landai (Nomark,1978). Kipas bawah
merupakan endapan paling akhir dari system paket
atau aliran gravitasi tersebut yang paling mungkin
mencapai bagian kipas adalah system aliran dari
arus kenyang. Ukuran yang paling mungkin di
daerah kipas luar adalah berukuran halus.

3. Asosiasi Fasies Lantai Cekungan


Daerah lantai cekungan adalah daerah yang
tidak dipengaruhi oleh aliran gravitasi, dan
merupakan endapan asli pada bagian laut tersebut.
Asosiasi fasies lantai cekungan dicirikan oleh :
- Asosiasi fasies D dan G
- Perlapisan sejajar
- Arah purba memancar
- Homogenitas fasies dan pola perlapisan, baik ke
arah lateral maupun tegak.

KESIMPULAN
Arus turbidit / turbidity current adalah arus sedimen yang
menuruni lereng bawah laut (continental slope) dengan
massa yang sangat besar. Arus ini terbentuk saat pasir dan
lumpur di daerah continental shelf dan slope terlepas
karena suatu tenaga, kemungkinan terbesar akibat gempa
kemudian mengerosi dasar laut dibawahnya.
Hasil endapan erosi ini dinamakan turbidities dan
membentuk struktur endapan graded bedding (perlapisan
yang butirnya makin besar ke bawah). Arus ini juga sering
menghasilkan deep sea fan (kipas alluvial laut), sama
seperti kipas alluvial di muara sungai daratan.