Anda di halaman 1dari 24

ABSES SEPTUM

OLEH
R I R I N Z U M E LT I
1110070100009
PRESEPTOR
D R . E L FA H M I . S P. T H T- K L

ANATOMI SEPTUM NASI

Septum membagi kavum nasi menjadi 2 ruang kanan dan kiri. Septum
nasi dibentuk oleh tulang dan tulang rawan . Septum nasi dilapisi oleh
perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian
tulang sedangkan diluarnya dilapisi oleh mukosa hidung. Bagian
tulang rawan adalah kartilago septum nasi ( lamina kuadrangularis)
dan kolumela .

Bagian tulang yang membentuk septum nasi terdiri dari 1) Kartilago


kuadrangularis, 2) Lamina perpendikularis, 3) Os vomer, 4) krista
nasalis maksila . Septum nasi terletak pada tulang penyangga yang
terdiri dari ( Ventral ke dorsal ) spina nasal anterior, premaksila, dan
vomer .

Kaudal kartilago septum nasi bebas bergerak dan berhubungan dengan


kolumela oleh membran septum nasi .

Dorsal bersatu dengan lamina perpendikularis os ethmoid .

Ventral berhubungan dengan dua kartilago triagularis ( kartilago lateral


atas ), dan bersama sama membentuk kartilago vault dan batang hidung.

Bagian tulang septum nasi terdiri dari lamina perpendikularis os ethmoid,


premaksilaris dan vomer yang merupakan perluasan dari rostrum sphenoid .

Perdarahan

Bagian Anterosuperior septum nasi dan


dinding lateral arteri ethmoidalis
anterior dan posterior

Bagian posteroinferior septum nasi


arteri sfenopalatina dan arteri maksilaris
interna.

Bagian kaudal septum nasi terdapat


pleksus Kiesselbach yang terletak tepat
di belakang vestibulum. Pleksus
anastomosis dari arteri sfenopalatina,
arteri etmoidalis anterior, arteri palatina
mayor.

Persyarafan

Bagian
anterosuperior
hidung N. Etmoidalis
anterior dan posterior

cabang dari N. Maksilaris


dan ganglion pterigopalatina
mempersarafi
bagian
posterior dan sensasi pada
bagian anteroinferior septum
nasi dan dinding lateral

DEFINISI

Abses septum adalah penumpukan nanah antara


tulang rawan dan perikondrium septum akibat
infeksi.

ETIOLOGI

Penyebab abses septum nasi paling sering trauma .

Penyebab lain adalah trauma tumpul , diathesis perdarahan, cedera saat olahraga
ataupun trauma yang sangat ringan sehingga tidak dirasakan penderita seperti
mengorek kotorang hidung .

Abses septum nasi dapat terjadi akibat furunkel intranasal, peradangan sinus, akibat
komplikasi operasi hidung dan penyakit sistemik.

Abses septum nasi hampir selalu didahului oleh hematoma septum nasi yang
terinfeksi.

Staphylococcus aureus adalah organisme yang paling sering didapat dari hasil kultur
pada abses septum . Kadang kadang ditemukan Streptococcus pneumoniae,
Streptococcus B hemolyticus, Haemophilus influenzae dan organisme anaerob.

EPIDEMIOLOGI

Abses septum nasi jarang ditemui

Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada bagian anterior tulang rawan
septum .

Eavey menemukan tiga kasus abses septum nasi pada penelitian selama 10
tahun di rumah sakit anak di Los Angeles . Rumah sakit Royal Children di
Melbourne

Australia melaporkan sebanyak 20 pasien abses septum selama 18 tahun dan


di RS Ciptomangunkusumo didapati 9 kasus abses septum selama 5 tahun
( 1989-1994) .

Di bagian THT FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan selama tahun 1999


2004 terdapat 5 kasus abses septum nasi .

PATOGENESIS

Penyebab yang paling sering adalah terjadi setelah trauma , sehingga timbul
hematoma septum. Trauma pada septum nasi dapat menyebabkan pembuluh
darah sekitar tulang rawan pecah .

Darah berkumpul di ruang antara tulang rawan dan mukoperikondrium


yang melapisinya tulang rawan mengalami penekanan iskemik dan
nekrosis , sehingga tulang rawan jadi destruksi .

Darah yang terkumpul media untuk pertumbuhan bakteri dan


selanjutnya terjadi abses .

Bila terdapat daerah yang fraktur atau nekrosis pada tulang rawan darah
akan merembes ke sisi yang lain dan menyebabkan hematoma bilateral .
Hematoma yang besar akan menyebabkan obstruksi pada kedua sisi rongga
hidung. Kemudian hematoma ini terinfeksi kuman dan menjadi abses
septum .

Selain dari trauma ada beberapa mekanisme yang menyebabkan timbulnya


abses septum, yaitu penyebaran langsung dari jaringan lunak yang berasal
dari infeksi sinus .

Tidak semua hematom septum nasi berkembang menjadi abses, bila sembuh
dengan terapi antibiotik akan terbentuk jaringan ikat, sehingga akan terjadi
penebalan jaringan septum nasi yang dapat menyebabkan obstruksi saluran
nafas dan retraksi yang menimbulkan kontraktur septum nasi. Bila keadaan
ini terjadi pada masa anak-anak, akan mempengaruhi pertumbuhan 2/3 bagian
wajah yang dapat menyebabkan hipoplasia maksila. Infeksi pada septum nasi
dapat masuk ke dalam sinus kavernosus sehingga akan terjadi trombosis dan
atau meningitis.

GEJALA KLINIS

hidung tersumbat progresif disertai


dengan rasa nyeri hebat, terutama terasa di
puncak hidung, juga terdapat keluhan
demam dan sakit kepala , kadang
kadang wajah bengkak.

PEMERIKSAAN FISIK
Tampak hidung bagian luar hiperemis, edema dan kulit
mengkilat, Inflamasi septum nasi unilateral / bilateral,
Fluktuasi
Nyeri tekan pada puncak hidung

PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT Scan
Abses septum memiliki penampakan yang khas pada pemeriksaan
CT Scan sebagai akumulasi cairan dengan peninggian pinggiran yang
tipis yang melibatkan septum nasi . Hasil pemeriksaan CT Scan pada
penyakit abses septum nasi adalah kumpulan cairan yang berdinding
tipis dengan perubahan peradangan didaerah sekitarnya, sama dengan
yang terlihat pada abses di bagian tubuh yang lain .
Aspirasi septum Nasi

Diagnosis

Ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Sebagian besar abses septum nasi biasanya mempunyai riwayat trauma, kadangkadang penderita tidak menyadari terjadinya trauma tersebut.

Trauma septum nasi dan mukosa dapat terjadi tanpa adanya cedera hidung luar.
Abses septum nasi sering timbul 24 - 48 jam setelah trauma, terutama pada
dewasa muda dan anak.

Perlu ditanyakan riwayat operasi hidung sebelumnya, gejala peradangan hidung


dan sinus paranasal, furunkel intra nasal, penyakit gigi dan penyakit sistemik.
Akibat trauma hidung, terkadang pada inspeksi masih tampak kelainan berupa
ekskoriasi, laserasi kulit, epistaksis, deformitas hidung, edema dan ekimosis.

Tampak pembengkakan septum berbentuk bulat dengan permukaan licin pada


kedua sisi.

seluruh septum nasi harus diperiksa dari kaudal septum nasi sampai nasofaring.
Tampak pembengkakan unilateral ataupun bilateral, mulai tepat di belakang kolumella
meluas ke posterior dengan jarak bervariasi. Perubahan warna menjadi kemerahan
atau kebiruan pada daerah septum nasi yang membengkak menunjukkan suatu
hematoma.

Daerah yang dicurigai dipalpasi dengan forsep bayonet atau aplikator kapas untuk
memeriksa adanya fluktuasi dan nyeri tekan.

Untuk memastikan abses septum nasi cukup dengan aspirasi pada daerah yang paling
fluktuasi. Pada aspirasi akan didapatkan pus pada abses septum nasi, sedangkan dari
hematoma septum nasi akan keluar darah. Selain bernilai diagnostik, aspirasi juga
berguna untuk mengurangi ketegangan jaringan di daerah abses septum nasi dan
mengurangi kemungkinan komplikasi ke intrakranial.

Pemeriksaan laboratorium darah akan menunjukkan leukositosis. Pemeriksaan foto


rontgen sinus paranasal atau CT scan harus dilakukan untuk mencari etiologi ataupun
komplikasi .

DIAGNOSIS BANDING

Hematoma Septum
Sebagai akibat trauma , pembuluh darah
submukosa akan pecah dan darah akan berkumpul
di antara perikondrium dan tulang rawan septum,
dan membentuk hematoma pada septum .

Vestibulitis

infeksi pada kulit vestibulum . Biasanya terjadi


karena irirtasi dari sekret dari rongga hidung
akibat inflamasi mukosa yang menyebabkan
goblet dan kelenjar seromusinosa . Bisa juga
akibat trauma karena di korek korek

PENATALAKSANAAN

Insisi

Sebelum insisi terlebih dahulu dilakukan aspirasi abses dan dikirim ke laboratorium untuk
pemeriksaan kultur dan tes sensitifitas. Insisi dilakukan 2 mm dari kaudal kartilago kira-kira
perbatasan antara kulit dan mukosa (hemitransfiksi) atau caudal septal incision (CSI) . Septum nasi
dibuka secara perlahan-lahan tanpa merusak mukosa. Jaringan granulasi, debris dan kartilago yang
nekrosis diangkat dengan menggunakan kuret dan suction. Dilakukan drainase, dan diirigasi dengan
saline steril . Sedikit bagian Mukoperikondrium dieksisi untuk mencegah penutupan insisi premature.

Dilakukan pemasangan tampon anterior dan pemasangan salir untuk


mencegah rekurensi. Tampon
anterior tiap hari diganti , dan
dipertahankan selama 2 3 hari . Drainase bilateral merupakan
kontraindikasi karena dapat menyebabkan perforasi septum nasi. Pada
abses bilateral atau nekrosis dari tulang rawan septum nasi dianjurkan
untuk segera melakukan eksplorasi dan rekonstruksi septum nasi dengan
pemasangan implan tulang rawan.

Pemberian Antibiotik
Antibiotik spektrum luas untuk gram positif dan gram negatif, serta
kuman anaerob dapat diberikan secara parenteral . Sebelum diperoleh
hasil kultur dan tes resistensi dianjurkan untuk pemberian preparat
penicillin dan kloramfenikol , serta terapi terhadap kuman anaerob . Pada
kasus tanpa komplikasi, terapi antibiotik parenteral diberikan selama 3
sampai 5 hari dengan pemberian oral selama 7 10 hari kemudian .

Komplikasi

Abses septum harus segera diobati sebagai kasus darurat karena


komplikasinya dapat berat yaitu,dalam waktu yang tidak lama dapat
menyebabkan nekrosis tulang rawan septum .
Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan destruksi tulang rawan
dan tulang hidung sehingga terjadi deformitas yang berupa hidung
pelana,retraksi kolumella,dan pelebaran dasar hidung. Nekrosis pada
setiap komponen septum nasi dapat menyebabkan terjadinya perforasi
septum nasi.
Selain kosmetik, abses septum nasi dapat juga menimbulkan
komplikasi yang berat dan berbahaya bila terjadi penjalaran infeksi ke
intrakranial berupa meningitis,abses otak dan empiema subaraknoid.

PENCEGAHAN
Abses septum nasi dapat dicegah dengan mengenali dan menangani
hematoma septum pada tahap awal . Ini merupakan alasan
dilakukan inspeksi dan palpasi pada septum (setelah dekongesti dan
anastesi mukosa ) pada pasien yang baru saja mengalami trauma,
terutama pada anak anak . Hal yang sama juga digunakan pada
pasien yang telah menjalani operasi septal dan tidak dapat bernapas
melalui hidung setelah pelepasan perban di bagian dalam hidung .

KESIMPULAN
Abses septum adalah penumpukan nanah antara tulang rawan dan
perikondrium septum akibat infeksi. Abses septum nasi merupakan
perkembangan dari hematom nasi . Kebanyakan abses septum disebabkan oleh
trauma yang terkadang tidak disadari oleh pasien . Patogenesis septum nasi
biasanya tergantung dari penyebabnya . Abses septum seringkali didahului oleh
hematoma septum yang kemudian terinfeksi kuman dan menjadi abses .
Gejalanya berupa hidung tersumbat progresif disertai dengan rasa nyeri hebat,
terutama terasa di puncak hidung, juga terdapat keluhan demam dan sakit
kepala .
Abses septum harus segera diobati sebagai kasus darurat karena dapat terjadi
komplikasi yang cukup berat yaitu dalam waktu singkat dapat menyebabkan
nekrosis tulang rawan septum . Terapinya dilakukan insisi dan drainase nanah
dan dilakukan pemasangan tampon anterior dan pemasangan salir untuk
mencegah rekurensi. serta diberikan antibiotik .

1.

DAFTAR PUSTAKA

Cervera
EJ, dkk. 2008. Post-traumatic

haematoma and abscess in the nasal septa of

children.Acta otorinolaryngol.
2. Pang KP, Sethi DS. 2002. Nasal Septal Abscess:unusual complication of acute
sphenoethmoiditis. The Journal of Laryngology & otology.
3. Harry Agustaf Asroel . Perforasi Septum Nasi.Dikutip dari www.library.usu.ac.id last up dated
March,20,2010.
4. Ballanger, JJ.1994.Penyakit Telinga , Hidung, Tenggorok , Kepala dan Leher . Jakarta:Binarupa
Aksara .
5. Soepardi Arsyad, Efiaty dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher Edisi Keenam. Jakarta: FKUI.
6. Haryono Yuritno.2006.Abses Septum dan sinusitis Maksila . Majalah Kedokteran Nusantara.
7. Andhea
Debby
Pradhita.2014.
Abses
Septum
Nasi.
http://kampuskedokteran.blogspot.com/2011/10/abses-septum-nasi.html. Diakses 23 juni 2015.
8. Debnam JM, Gillenwater AM, Ginsberg LE.2007. Nasal Septal Abscess in Patients with
Immunosupression.AJNR Am J Neurodiol.
9. Sjamsuhidayat, R dkk. 2011 . Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3 . Jakarta:EGC.
10. Huizing Egbert,et al.2003. Functional Reconstructive Nasal Surgery. George Thieme Verlag:
New York.