Anda di halaman 1dari 18

Anxiety, Stress and Perfectionism in Bipolar

Disorders

Pembimbing:
dr. Rihadini, Sp.Kj
KKS BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
RSJD AMINO GONDOHUTOMO
SEMARANG
2016

LATAR BELAKANG
Studi terbaru adanya komorbiditas yang tinggi antara
anxietas terhadap gangguan bipolar (30%-60%)

DSM V ansietas merupakan hal yang spesifik untuk

menggambarkan episode mood pada gangguan bipolar


Namun mekanisme yang mendukung komorbiditas ini belum
dapat dipastikan

Kemungkinan kekambuhan yang


tinggi

Ansietas sebgai
suatu kelompok
gejala

Prognosis
lebih buruk

Onset pada usia muda


Perilaku bunuh diri yang tinggi
Jumlah episode yang lebih besar
Proporsi waktu sakit yang lebih
tinggi
Penurunan respon terhadap lithium
Jeleknya fungsi secara keseluruhan

LATAR BELAKANG
Self-critical perfectionisme

telah dikaitkan dengan sifat

enxietas, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, dan


kecenderungan untuk khawatir
Self-critical perfectionisme secara signifikan diprediksi memiliki
skor tinggi pada sub skala DASS
Stres memiliki kaitan dengan timbulnya episode gangguan
bipolar,

terutama

tujuan dan prestasi

yang

berhubungan

dengan

pencapaian

HIPOTESIS PENELITIAN

Anxietas dan stress akan memediasi hubungan Selfcritical perfectionisme


dan nilai pencapaian tujuan
dengan gejala gangguan bipolar
Gejala stress akan menjadi mediator kuat untuk (hypo)
mania dibandingkan dengan gejala anxietas

METODE
JENIS PENELITIAN
Studi observasional secara cross-sectional
TEMPAT PENELITIAN
Klinik Black Dog Institute Bipolar Disorders, Sydney

SAMPEL
Sampel terdiri dari 141 pasien.
97 (69,0%) menderit gangguan bipolar I, sisanya gangguan

bipolar II
39,4% laki-laki dan 60,6% perempuan

LANGKAH PENELITIAN
Dysfunctional attitude scale (DAS)
Terdiri dari 100 item yang diusulkan untuk menempatkan

individu pada risiko dalam penelitian


Menggunakan 2 faktor:

Self critical perfectionism pengawasan diri yang keras, evaluasi


serta kekhawatiran kronis terhadap kritik orang lain

Pencapaian tujuan (goal atteinment) mengukur intensitas keyakinan


berkaitan dengan afek positif, extraversion, dan daya juang

Depression, anxiety and stress scale (DASS)


Skala dengan 42 item yang mengukur keadaan emosional

negatif dari depresi, anxietas dan stres dengan masingmasing sub-skala memiliki 14 item
Sub-skala anxietas skala akut terhadap respon otonom
dari rasa takut
Sub-skala stress mengukur gairah persisten dan
ketegangan dengan ambang marah yang rendah atau
frustasi

Montmogery Asberg rating scale (MADRS)


Skala dengan 10 item
Menilai skala yang dirancang untuk mengukur keparahan

gejala depresi pada minggu sebelumnya


Memiliki skala respon 0 6, menghasilkan skor mulai 0 60

Young Mania rating scale (YMRS)


Skala dengan 11 item berupa gejala (hypo) mania yang

dialami selama 48 jam.


Skor berkisar dari 0 56
Skor lebih tinggi menunjukkan gejala (hypo) mania yang
lebih besar

ANALISIS STATISTIK
T-Test digunakan untuk menguji perbedaan antara individu dengan

BP-I dan BP-II dan untuk menentukan pengaruh jenis kelamin


Pearson dihitung untuk asosiasi bivariat anatar gaya kognitif depresi,

anxietas, stres, dan gejala hipo (mania)


Metode regresi digunakan untuk menguji signifikansi mediator yang

diusulkan dalam penelitian


Sobel test digunakan untuk tingkat signifikansi mediasi

HASIL
Sampel independen t-test menunjukkan tidak ada perbedaan

yang signifikan antara BP-I dan BP-II pada DAS, DASS, MADRS
atau YMRS sehingga kedua kelompok digabungkan dalam analisis
mediasi
Tidak

ada

perbedaan

yang

signifikan

antara

laki-laki

dan

perempuan
Pada sampel, 33,1% memenuhi kriteria depresi mayor. 10,6%

mengalami episode hypomanik. 3,5% episode manik


Dari sampel, 66 (46,8%) mengalami anxietas ringan. 48,2% gejala

stress ringan

Hubungan antara perfeksionisme, stres, kecemasan,


dan gangguan bipolar

Analisis mediasi dengan gejala depresi sebagai hasil


Gejala anxietas sepenuhnya memediasi hubungan self critical

perfectionism dan gejala depresi (p < 0,001)


Jika anxietas dimasukkan sebgai variabel mediator antara
keyakinan pencapaian tujuan (GA) dan gejala depresi, hubungan
antara keduanya secara signifikan berkurang (Sobel z-value =
3,44, pn< 0,01)
Gejala stress secara signifikan memediasi hubungan antara GA
dan gejala depresi (Sobel z-value = 3,83, p < 0,01)
Gejala stress secara signifikan memediasi hubungan antara SCP
dan gejala depresi (Sobel z-value = 4,22, p < 0,01)

Analisis mediasi dengan gejala (hipo) manik sebagai hasil


Self-critical

perfectionism

maupun

anxietas

tidak

secara

signifikan dapat memprediksi gejala (hipo) manik.


hubungan antara stress dengan (hipo) manik tetap signifikan,.

Namun setelah mengendalikan simptomatologi depresi saat ini,


hubungan ini tidak lagi signifikan

DISKUSI

Penelitian ini menguji hipotesis bahwa anxietas


dan stress akan memediasi hubungan selfcritical perfectionism dengan depresi dan (hipo)
manik pada pasien dengan gangguan bipolar

Seperti

yang

diperkirakan

sebelumnya,

anxietas

dan

stres

memediasi hubungan antara self-critical perfectionism dan goal


atteintment dengan gejala depresi pada bipolar
Namun self-critical perfectionism atau anxietas atau gerjala stres

tidak secara signifikan dapat memprediksi gejala manic/hipo


Hubungan

antara

perfectionism

anxietas

dan

stress

terhadap

self-critical

dengan gejala depresi pada bipolar sesuai dengan

penelitian sebelumnya
Sifat dari ketakutan yang melekat pada perfectionisme mendorong

penggunaan strategi regulasi emosional yang tidak membantu

Berbeda dengan temuan depresi, goal atteintment tidak signifikan

dengan gejala hipo (manik) saat ini


Hal ini bertentangan dengan literatur, diduga karena keterbatasan

metodologis
Hipotesis awal yang menekankan gejala stres akan menjadi

mediator yang lebih kuat dibanding anxietas tidak didukung.

KESIMPULAN
Penelitian ini memberikan penjelasan tentang hubungan antara

gejala anxietas/stres dan gangguan simtomatologi depresi bipolar


dari perspektif transdiagnostic
Dengan

mengatasi

proses

transdiagnostic

yang

mendasari

perawatan anxietas, episode depresi bisa berpotensi menjadi


sasaran efektif dalam perawatan psikologis untuk gangguan
bipolar