Anda di halaman 1dari 74

Kuliah 13

BAHAN-BAHAN PENGAWET KOSMETIK

DOSEN PENGAJAR
DSR.NOPRIZON, M.KES, APT

BAHAN-BAHAN PENGAWET KOSMETIK


l. Pendahuluan
Sebagai seorang ahli kimia kosmetik, jika kita

berbicara tentang pengawetan kosmetik, yang kita


maksud adalah usaha mencegah atau melindungi
rusaknya produk dalam jangka waktu produlsi
sampai saat produk dipakai sampai habis oleh
konsumen.

Biasanya kerusakan produk kosmetik yang

disebabkan oleh proses oksidasi atau ketengikan


tidak dimasukkan dalam pembicaraan tentang
pengawetan kosmetik.

Definisi
Kita perlu mendefinisi sejumlah istilah berikut:
1. Pengawet (preseruatiue): bahan untuk mencegah
tumbuhnya , atau untuk bereaksi dan
menghancurkan, mikroorganisme yang bisa
merusak produk atau tumbuh pada produk.

2. Antiseptik: bahan yang mencegah tumbuhnya


dan/atau menghancurkan milroorganisme bila
digunakan pada jaringan hidup.
3.Disinfektans: bahan yang menghancurkan
mikroorganisme penyebab penyakit yang
menempel pada benda mati.

4. Germisida (germicides): istilah umum untuk


bahan yang dapat membunuh mikroorganisme.

Ada dua istilah lain yang sering digunakan dalam


hubungannya dengan pengawetan:
1. Sida (cidat): membunuh.
2. Statis: menghambat pertumbuhan.
Bahan pengawet belum tentu merupakan
antiseptik atau disinfektan yg baik karena dua
produk yg terakhir ini harus dapat membunuh
dengan cepat.

2. Mengapa Diperlukan Pengawetan?


Ada dua alasan mengapa diperlukan pengawetan

kosmetik:
1. Untuk melindungi produk-produk yang sudah
terformulasi. Kontaminasi dgn mikroorganisme
dapat menyebabkan timbulnya bau yang tidak
sedap, perubahan warna, perubahan viskositas,

penurunan daya kerja "bahan aktif pemisahan


emulsi, perubahan perasaan atas pemakaian
produk, atau gangguan kesehatan.
2. Tuntutan dari pemerintah, misalnya dengan
adanya GMP di luar negeri dan CPKB (Cara
Pembuatan Kosmetik yang Baik) di Indonesia.

Dalam the Inspection Plans & Regulatory Policy for

Cosmetics, I Oktober 1982 sampai 30 September 1983,


FDA mengumumkan rencana untuk memeriksa 928
pabrik kosmetik di tahun 1983-lebih banyak daripada
tahun 1982, yaitu 400 pabrik. FDA memperkirakan
bahwa di A.S. ada sekitar 2.600 lokasi pembuatan
kosmetik, sehingga peluang terjadinya pelanggaran di
Indonesia pun meningkat.

Di dalam buku pegangan tersebut yang berjudul

Adequacy of Preseruation tersebut, FDA


menyatakan bahwa kosmetik "tidak harus steril,
tetapi tidak boleh terkontaminasi mikroorganisme
yg mungkin patogen, dan densitas mikroorganisme
yang non-patogen harus serendah mungkin.
Kosmetik harus tetap dalam keadaan demikian

ketika digunakan oleh konsumen".

Kosmetik khususnya untuk kulit sekitar mata,

harus melalui pengetesan efek pemakaian bahan


pengawet terhadap kontaminasi mikroorganisme
yang mungkin ada.
Buku pegangan tersebut selanjutnya menyatakan

perlunya pengawetan yang cukup atas sampo,


kosmetik pembilas rambut, dan conditioner.

Buku itu menyebut penyitaan yang pernah dilaku-

kan akibat ditemukannya mikroorganisme di dlm


produk-produk tersebut, yaitu dalam baby lations,
creams dan cleansers Pemeriksa diintruksikan
untuk pemeriksaan sampel-sampel kosmetik dan
mengajukannya untuk pemeriksaan mikrobiologis.

Semua bakteri gram positif yang terdapat dalam

jumlah lebih besar dari 1.000 per gram harus


diidentifikasi, sebagaimana halnya semua bakteri
gram negatif, ragi, dan jamur.

3. Dua Bahan Pengawet yang Diawasi dengan Ketat


Dua bahan pertama yang didaftar di bawah iudul

Prohibited lngredients and Other Hazardous


Substances adalah bahan-bahan pengawet, yaitu:
1. Hexachlorophene. Dengan pembatasan tertentu,
boleh dipakai sebagai bahan pengawet jika sistem
pengawetan alternatif yg lain terbukti tdk efektif.

Konsentrasinya tidak boleh lebih dari 0,1% dan tdk

boleh digunakan dalam kosmetik yang pemakaian


normalnya mungkin pada selaput lendir.
2. Senyawa merkuri.
Pemakaiannya dalam kosmetik untuk kulit sekitar
mata dibatasi, tidak boleh lebih dari 65 ppm
merkuri yg diperhitungkan sebagai logam, dan itu
pun jika tidak tersedia pengawet lain yang efektif
dan aman.

Pemeriksa diinstruksikan untuk mengecek dan

melaporkan semua produk yang berisi pengawet


hexachlorophene dan alasan mengapa tidak
memakai pengawet yang lain. Mereka juga
diinstruksikan utk mengecek penggunaan merkuri
dan melaporkan jumlah konsentrasi yg digunakan.

Dari instruksi ltu kita dapat melihat bahwa

pemakaian merkuri maupun hexachlorophene


sebagai pengawet di dalam kosmetik bisa
ditoleransi asalkan ada alasan kuat dari pihak
produsen bahwa pemakaian kedua bahan itu
karena tidak ada bahan pengawet lain yg memadai.

4. Efek Mikroorganisme pada Kesehatan


Alasan mengapa FDA sangat memperhatikan
pengawetan produk-produk kosmetik yang
memadai:
l.Efek langsung mikroorganisme pada kesehatan
manusia.

2.Efek tidak langsung pada kesehatan manusia


akibat kontaminasi dan kerusakan produk,
pemisahan (separasi) produk, atau terbentuknya
metabolit mikroba yg membahayakan kesehatan.

FDA terutama mengkhawatirkan pengawetan yang

kurang memadai dalam kosmetik yang dipakai


untuk daerah mata. Kontaminasi Pseudomonas
aeruginosa dapat menyebabkan pembusukan
kornea mata dan kebutaan.

Yang disebut kosmetik untuk daerah mata

mencakup produk-produk yang mungkin kontak


dengan kornea rnata, misalnya sampo, krim
pembilas rambut, conditioner, krim-krim wajah,
losion, dan cleanser.

Penting untuk tempat penyimpanan dan


penanganan produk baru, dan tempat pengolahan
produk akhir yang bebas kuman, serta:
1. Masing-masingbatch harus sudah melalui tes
mikro sebelum dipasarkan.

2. Masing-masing kosmetik harus dites mikro lagi


untuk mengetahui efek bahan pengawet selama
pengembangan produk-produk di pasar.
Efek bahan pengawet ini harus cukup lama di

dalam kosmetik tersebut.

5. Empat Kategori Mikroorganisme


Mikroorganisme yang menimbulkan kekhawatiran
tersebut dapat dimasukkan ke dalam 4 kategori:
1. Jamur (mold) yg menyukai lingkungan yg
bersifat asam (pH 4,5-5,5) dan tumbuh paling
cepat pada temperatur kamar [20-25oC).

2. Ragi (yeast) juga lebih menyukai lingkungan yang


bersifat asam dan temperatur kamar.
3. Bakteri gram positif-yang menyukai lingkungan
yang bersifat alkalis (pH 7-8) dan temperatur yang
lebih hangat (30-37oC).
4. Bakteri gram negatif yg juga menyukai lingkungan
yang bersifat alkalis dan temperatur yang hangat.

6. Lingkungan Hidup Mikroorganisme


Mikroorganisme membutuhkan sejumlah lingkungan dan persyaratan
untuk bisa tumbuh:
1. Air
2. Udara
3. Bahan makanan:
a. Gum, gula, tepung.
b. Alkohol yang berupa makanan, seperti gliserol (dalam
konsentrasi rendah), sorbitol, manitol, dan fatty alcohols.
c. Asam-asam lemak beserta ester-esternya.
d. Sterol-sterol, termasuk lanolin dan derivatnya.
e. Protein.
F. Vitamin-vitamin.

7 . Efek Bahan Pengawet


Banyak variabel yang mempengaruhi efektivitas

bahan pengawet.
Umumnya, semakin tinggi konsentrasi bahan

pengawet, semakin efektif bahan tersebut.

Sering kali bahan pengawet bersifat sida

(membunuh mikroorganisme) pada konsentrasi


yang tinggi, tetapi hanya bersifat statis pada
konsentrasi yang rendah.

Adalah tidak bilaksana untuk "terlalu mengawet"

karena konsentrasi bahan pengawet yang tinggi


dapat bersifat toksis dan iritan terhadap jaringan.
Formulator kosmetik cenderung untuk

"mengawetkan secara berlebihanprodukproduknya akibat metode yang digunakan untuk


mengetes daya pengawetnya.

Cara yang umum untuk menentukan apakah suatu

sistem pengawetan berfungsi baik adalah dengan


menjalankan challenge test.
Ini berarti penambahan 106 sampai 107

mikroorganisme per ml pada produk dan kemudian


dalam waktu 72 jarn sampai 1 minggu dicek untuk
dilihat apakah mikroorganisme itu masih ada.

Formulasi-formulasi dipertahankan untuk

memenuhi tes yang berat ini.


Sedangkan di Amerika belum ada studi yang

dipublikasikan yang membandingkan hasil-hasil


chalbnge test itu dengan data pemakaian produk
oleh konsumen.

Dalam bulan Oktober 1976, FDA pernah meminta

hasil-hasil seperti itu, tapi tidak ada jawaban dari


perusahaan-perusahaan kosmetik. Challenge rest
dengan jumlah besar dalam waktu singkat untuk
menemukan apakah sistem itu dapat mewakili
hasil challenge test dalam jumlah kecil dan jangka
waktu yang lama.

8. Peranan pH Bahan Pengawet


Faktor pertama dan terpenting yang perlu

dipertimbangkan dlm formulasi kita adalah tingkat


keasaman (pH). Misalnya, senyawa quaternary
ammonium hanya efektif pada pH di atas 7.

O
R

OH

Oinaktif

Aktif
OH

C
O
R Aktif

+ H+

O-

C
O
O
R Inaktif

% Pengawet yang Aktif dalam pH yang Berbeda


pH
4
5
6
7
Asam sorbat
86
37
6
0.6
Asam benzoat
60
13
1.5 0.15
Asam dehidroasetat
95 65 16
2
Paraben
77 63

8.5

50

Sebagaimana dapat dilihat dari daftar di atas, semakin

rendah pH, semakin besar aktivitas yang kita peroleh


dari paraben dan pengawet-pengawet yang bersifat
asam lainnya.

Senyawa yg mengikat hidrogen dengan kuat akan

menonaktifkan pengawet dgn mengikat kelompok


hldroksilnya. Contoh yg paling umum dari bahan
penonaktif adalah senyawa-senyawa yang sangat
ethoxylated seperti asam-asam, alkohol-alkohol,
dan ester-ester. Pengikat hidrogen yg lain misalnya
gum, produk-produk cellulose dan lecithin.

9. Kelarutan Pengawet
Faktor kedua yang yang penting adalah kelarutan

pengawet dalam fase air dan daya pemisahnya


terhadap air serta fase minyak.
Mikroorganisme tumbuh dalam fase air atau &

persentuhan air dan minyak. Karena itu, pengawet


harus berada dalam fase air untuk bisa efektif.

Misalnya, pada temperatur kamar, methylparaben

larut dalam air dengan besar kelarutan 0,25%.


Jika larutan jenuh ini kontak dengan minyak

tumbuhan dalam suatu emulsi, paraben itu akan


bermigrasi ke fase yang minyak.

10. Efek Bahan yang Lain


Faktor ketiga yang perlu dipertimbangkan adalah

efek bahan yang lain. Telah disebutkan bahwa


senyawa-senyawa ethoxylated menonaktifkan
paraben, asam benzoat, dan asam sorbat.

Sejumlah senyawa organik membentuk suatu

lapisan di sekeliling mikroorganisme dan


memberikan perlindungan terhadap selnya dari
serangan bahan kimia.

Banyak komponen kosmetik menonaktifkan atau

menurunkan aktivitas bahan pengawet dengan


bereaksi terhadap, menyerap atau melarutkan
bahan tersebut. Kadang-kadang nonaktivasi itu
berhasil sepenuhnya, tetapi sering juga tidak, dan
sejumlah aktifitas residual masih tersisa.

Begitulah surfaktans anionik menonaktifkan

surfaktans kationik (quats), phenol-phenol dan


merkuri.
Protein menonaktifkan quats, paraben, phenol dan

merkuri. Quats kehilangan aktivitasnya jika ada


lanolin, silikat, kaolin, dan lain-lainnya yang
sejenis.

Masalah lainnya, penyerapan bahan pengawet oleh

kemasan. Karet dan plastik, terutama kemasan


atau tutup kemasan dari polyethylene, senantiasa
dicurigai karena bahan pengawet yg dpt larut dlm
lemak bisa bermigrasi ke dalam kemasan tersebut.

Sejumlah produk mempertinggi aktivitas bahan

pengawet. Sejumlah minyak parfum memiliki sifatsifat antimikroba. Sejumlah bahan pengawet
menjadi lebih efektif dengan kehadiran bahanbahan lain. Bahan-bahan ini, jika sendirian, sering
tidak memiliki atau hanya memiliki sedlkit sifat
antimikroba. Contoh terbaik adalah EDTA.

Sifat antimikroba dapatdltingkatkan melalui

penggunaan campuran dua atau lebih bahanbahan pengawet. Sekarang hal ini telah menjadi
umum dan disebut sebagai satu sistem pengawet.

Sebelum kita membicarakan susunan kimia

bahan-bahan pengawet yang umum dipakai


sekarang, kiranya penting untuk meninjau sifatsifat bahan-bahan pengawet yang "ideal".
Namun harap diingat bahwa bahan pengawet yg

betul-betul ideal tdk ada dan mungkin tdk pernah


ada.

I.I. Sifat-Sifat Bahan Pengawet "ldeal"


l. Aktivitasnya Berspektrum Luas.
Sudah tentu ini merupakan sifat yang paling dasar,

yaitu kemampuan bahan pengawet itu membunuh


mikroorganisme.
Kemampuannya harus sama efektifnya baik dalam

melawan bakteri (gram positif dan gram negatif)


maupun jamur (ragi dan cendawan).

Kebanyakan bahan-bahan pengawet berdaya aktif


melawan bakteri atau jamur tetapi tidak duaduanya sekaligus.
2. Efektif dalam konsentrasi rendah. Karena bahan
pengawet tidak menambah kelarisan produk akhir
dl pasar dari, kita ingin agar bahan pengawet itu
berfungsi pada konsentrasinya yang terendah.

Ini juga akan mengurangi biaya, meminimalkan

efek toksisnya, dan tidak mengubah sifat-sifat fisik


kosmetik.
3. Larut dalam air dan tidak larut dalam minyak.

Mikroorganisme tumbuh di dalam fase air agar


bisa berfungsi.

Karena itu, bahan pengawet yang ideal harus

sangat larut dalam air dan sepenuhnya tidak larut


dalam minyak.
Ini juga akan mencegah migrasi ke dlm fase

minyak dalam stabilitas jangka panjang.

4. Stabil. Bahan pengawet itu harus sepenuhnya stabil


di dalam semua keadaan ekstrem yang bisa
dijumpai selama pembuatan kosmetik, termasuk
soal pH dan temperatur.
5. Tidak berwarna dan tidak berbau. Bahan pengawet
tidak boleh menambahkan warna atau bau pada
kosmetik dan tidak bereaksi untuk mengubah
warna atau bau produk kosmetik.

6. Harmonis
Bahan pengawet harus harmonis atau dapat
bekerja berdampingan dengan semua bahan yang
digunakan dalam kosmetik dan tidak kehilangan
sifat-sifat antimikrobanya dengan adanya bahanbahan kosmetik itu.

7.Tetap aktif selama kehidupan kosmetik (shelf-kfe


Actit ity). Bahan pengawet yang "ideal" harus terus
memberikan perlindungan kepada kosmetik
selama pembuatan kosmetik dan tetap mempertahankan perlindungan antimikrobanya sepanjang
jangka waktu yg diinginkan kosmetik itu.

8. Aman. Bahan pengawet harus sepenuhnya aman


untuk digunakan.
9. Mudah untuk dianalisis. Aktivitas bahan pengawet
dalam produk akhir harus mudah dianalisis. Ini
lebih sulit daripada yang diperkirakan. Misalnya,
kita mudah menganalisis adanya merkuri dalam
produk akhir.

Betapapun, ini hanya menyatakan kepada kita

berapa banyak merkuri yang ada, tetapi tidak


menyatakan apakah merkuri itu hadir sebagai
bahan pengawet atau terikat oleh bahan-bahan
lainnya, misalnya protein.
Contoh lain adalah paraben.

Kita dapat menentukan konsentrasinya dengan

HPLC, tetapi hasil analisis itu menunjukkan


kepada kita apakah paraben itu telah
dinonaktifkan oleh tween atau senyawa-senyawa
lainnya.

10.Thk terbawa oleh bahan penonaktif. Kita tidak


ingin suatu bahan yg menonaktifkan bahan
pengawet hadir dalam kosmetik kita. Bahan-bahan
seperti itu sama sekali tidak boleh ada dalam suatu
kosmetik. Bahan penonaktif bahan pengawet itu
harus kita ketahui lewat percobaan dgn
menggunakan media agar-agar dan setelah itu

diusahakan untuk tidak terbawa dalam pembuatan


produk.
ll.Mudah untuk ditangani. Bahan pengawet yang
"ideal" harus mudah dan aman ditangani. Jika
bahan itu padat, ia harus mudah untuk dijadikan
bubuk atau serpihan, jika bahan itu cair ia harus
tdk toksis dan tdk mudah terbakar ketika
dikapalkan.

12.Biaya rendah. Semua orang tentu tidak


menginginkan biaya untuk bahan pengawet.
Tetapi daripada produk tidak dapat dipakai,
bahan pengawet perlu digunakan, bahkan yang
termahal sekalipun.

I.2. Bahan-Bahan Pengawet


1. Ethyl alcohol. Aktivitas antimikrobanya umumnya
ditemukan pada konsentrasi di atas 15% dlm
larutan yang asam atau 18% dalam larutan
netral/alkalis.
Ia tidak bisa menguap dan tidak umum digunakan
sebagai pengawet.

2. Surfaktan kationik (quats). Bahan ini tampak


bagus dalam eksperimen-eksperimen penyeleksian
(kecuali terhadap bakteri gram negatif ), tetapi
jelek dalam formulasi. Kebanyakan mengiritasi
kulit dan dinonaktifkan oleh surfaktan anionik dan
nonionik, serta oleh protein. Paling sering
digunakan untuk menyanitasi peralatan.

3. Asam sorbat. Kelarutannya dalam air terbatas,


biasanya ditambahkan sebagai garam kalium dan
pH diturunkan sampai ke tingkat yang
memberikan manfaat. Saat disimpan, warnanya
memudar dan bahan ini menyebabkan iritasi kulit.
Memilikl aktivitas yang berguna melawan jamur
tetapi jelek untuk melawan bakteri.

4. Formaldehid. Murah dan memiliki aktivitas yang


tinggi. Masalahnya adalah bahan ini mudah
menguap, bereaksi dengan bahan-bahan pewangi,
mengiritasi kulit, dan berbau. Hanya digunakan
dalam produk-produk yang dengan segera dibilas.
Contoh masalahnya, O,12% sebagai formaldehid
dalam sampo turun ke 0,031% dlm waktu 10
minggu pada suhu kamar.

Tidak pernah digunakan pada pH 8 atau lebih


karena bahan ini menjadi bahan pereduksi yg kuat.
Tampaknya formaldehid menonaktifkan protein
dan, sebaliknya, protein juga menonaktifkan
bahan ini.

5. 2-Bromo-2-Nitro-lr3 Propanediol (BronopolR).


Kelarutannya dalam air baik sekali dan berguna
pada pH 5,5. Pecah pada pH netral dan alkalis,
menghasilkan HCHO dan senyawa bromo.
Kontak dengan cahaya menyebabkan warna
coklat. Larutannya tidak boleh dipanaskan.
Bronopol bermigrasi ke dlm minyak-minyak
tertentu.

Terbawa ke dalam pembentukan Nitrosamin.


(Dalam buku pegangan FDA terbaru, semua
sampel yang berisi Bronopol harus dikumpulkan ).

6. Ester-ester dari Parahydroxy Benzoic Acid.


Paraben adalah bahan pengawet yang paling
banyak digunakan untuk kosmetik di dunia. Pada
prinsipnya bahan ini aktif melawan jamur namun
lemah melawan bakteri, terutama bakteri gram
negatif, Dalam formulasi, paraben sulit untuk
dilarutkan.

Kelarutannya dalam air:

10 0 C
MP
EP
PP
BP

0,2
0,07
0,025
0,005

250 C
0,25
0,17
0,05
0,02

800 C
2,0
0,86
0,3
0,15

Cara terbaik adalah paraben dilarutkan dalam

suatu pelarut, misalnya propyleneglycol. Metode


yang lain adalah memanaskan air sampai 75-800C,
kemudian paraben ditambahkan disertai dengan
pengadukan.
Ini lebih baik daripada menambahkan paraben

dalam suhu kamar dan kemudian memanaskannya


ke suhu emulsiftkasi.

Paraben hendaknya digunakan dengan jumlah

total 0,3% atau kurang, karena jika lebih dari itu


dapat menimbulkan iritasi (Buku Pegangan
Inspeksi FDA tahun 1983 menyatakan bahwa
produk-produk harus diberi pengawet terhadap
Pseudomonas. Pada tahun 1977, Journal of the
Society of Cosmetic Chemists melaporkan bahwa

suatu losion CTFA yang hanya diawetkan dengan

0,2% methylparaben dan 0,1% propylparaben


ternyata tidak berhasil mematikan Pseudomonas

aeruginosa. Dalam penelitian lain dilaporkan bahwa


26 emulsi komersial yang diawetkan dengan
parabens tidak berhasil mengatasi Pseudomonas
aeruginosa setelah 1 hari-dalam 21 dari 26 produk
tersebut ).

7. Dehydroacetic Acid, garam Natrium.


H3C

O
C

CH3

ONa

Jika digunakan di bawah pH 5,5 bahan ini berubah


menjadi kuning dan menyebabkan iritasi kulit.
Cukup aktif melawan jamur tetapi lemah terhadap bakteri.
Bahan ini juga bereaksi terhadap oksida-oksida besi.

TERIMA KASIH
SAMPAI MINGGU DEPAN