Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KASUS :

Demam Tifoid
Pembimbing :
dr. Roedi Djatmiko, Sp.A
Oleh: Alvito Wira Tiza
1510221044
KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
RST dr. Soedjono Tingkat II Magelang
Juli 2016

Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
Tanggal Masuk
Tanggal Keluar
Bangsal

: An. C
: 8 tahun
: Perempuan
: Islam
: Mertoyudan
Ruangan : 7 Juni 2016
: 11 Junii 2016
: Flamboyan

Datang ke Rumah Sakit pada tanggal


: 7 Juni 2016 pukul 14.30 WIB
Anamnesis dilakukan secara : Alloanamnesis pada tanggal 8 Juni 2016 di
Bangsal Flamboyan RST Dr. SoedjonoMagelang
Keluhan Utama :
Demam
Keluhan Tambahan :
Mual, Muntah, Batuk, Pilek

Riwayat Penyakit Sekarang :


Orang tua pasien mengeuhkan bahwa anaknya demam sejak 2 hari
yang lalu
Demam naik turun
Pasien demam terutama pada sore menjelang malam hari, lalu
paginya sudah tidak demam lagi
batuk (+), batuk berdahak berwarna putih kental sejak 2 hari SMRS
pilek (+)
Mual (+)
muntah (+) 1 kali tadi pagi muntah berisi makanan dan cairan yang
dimakan
BAB normal
BAK normal.

Riwayat pengobatan
Pasien mengkonsumsi obat paracetamol

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Belum pernah menderita penyakit serupa
sebelumnya.
Tidak ada riwayat alergi maupun riwayat
asma sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Belum pernah ada keluarga yang
menderita penyakit serupa sebelumnya.
Tidak riwayat alergi dalam keluarga.
Tidak ada riwayat asma dalam keluarga.

Riwayat Sosial Ekonomi


a. Community
Pasien tinggal daerah diperkampungan.
dengan yang lain berdekatan.

Rumah

satu

b. Occupational
Orang tua pasien adalah ibu rumah tangga. Bapak pasien
adalah seorang anggota TNI. Pasien dirawat menggunakan
BPJS - dinas.
c. Personal Habit
Pasien sering jajan makanan seperti bakso, nasi goreng
yang ada di sekitar rumahnya

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
N : 120 x/menit
RR

: 20 x/menit

: 38 C

Berat Badan : 24 Kg

Pemeriksaan Fisik
Kepala
Bentuk : Normocephal
Rambut : Hitam, tidak
mudah dicabut
Mata
Palpebra : Edema /
Konjungtiva : Anemis -/ Sklera : Ikterik /
Pupil : Bulat, isokor
Refleks Cahaya : +/+

Telinga

Bentuk

Liang

: Lapang

Mukosa

: Hiperemis (-)

Serumen

: Normal/Normal

: /

Pemeriksaan Fisik
Leher

KGB
: Tidak terdapat
pembesaran

Hidung
Bentuk

: Normal

Deviasi Septum
Sekret

: +/+

Kel. Thyroid : Tidak terdapat


pembesaran

Thoraks : Paru

Mulut
Bibir

: normal

Lidah

: normal

Tonsil

: T1T1 tenang

Mukosa Faring : Hiperemis (}


Coated tongue : (+)

Inspeksi : Hemithorax kanan-kiri


simetris dalam keadaan statis
dan dinamis,
Palpasi : Fremitus taktil dan
vokal kanan sama dengan kiri
Perkusi : Sonor pada kedua
lapang paru
Auskultasi
: Suara nafas
vesikuler, rhonki /, wheezing /

Pemeriksaan Fisik
Ekstremitas Atas
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak
terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba kuat
angkat pada apeks
Perkusi : Jantung dalam batas
normal
Auskultasi
: BJ IBJ II reguler,
murmur (), gallop ()

Abdomen
Inspeksi : datar, simetris
Auskultasi : Bising usus (+)
normal
Palpasi : Supel, Nyeri tekan (),
hepatomegali (=)

Akral

: Hangat

Sianosis

: ()

Perfusi

: Baik

Edema

: ()

Bawah
Akral

: Hangat

Sianosis

: (-)

Perfusi

: Baik

Edema

: ()

Hasil laboratorium darah lengkap (7-06-2016)

Jenis Pemeriksaan

Hasil

Referensi

WBC

5.5

4.0 10.0

LYM %

39

20.0 40.0

MID%

8.7

1.0 15.0

GRAN%

69

50.0 70.0

LYM #

11.2

0.6 4.1

MID #

2.6

0.1 1.8

GRAN #

3.8

2.0 7.8

RBC

4.7

3.50 5.50

HGB

13.4

11.0 15.0

HCT

39.1

36.0 48.0

MCV

93.3

80.0 99.0

MCH

30.4

26.0 32.0

MCHC

32.6

32.0 36.0

PLT

182

150 450

Diagnosis

Observasi febris H-2


Susp. Demam tifoid

Terapi
D5 NS 1000 / 24 jam
Inj. Cefotaxim 3x500 mg
Inj. Norages 250 mg (kp)
Inj. Anitid 2 x 1/4 ampul
Otopan syr. 250g 3 x 1 cth
Planning
Tes Widal

Hari/Tanggal/ Hasil Pemeriksaan


Jam
Rabu

Instruksi Dokter

S : Demam (+) tadi malam, pagi ini tidak demam, Terapi :

8 Juni 2016

mual (+), muntah (-), pusing (+), makan sedikit, 1. D5 NS 1000 / 24

Pk. 06.00

minum banyak , BAB (+) pagi ini dengan konsistensi

lembek berwarna kecoklatan, BAK lancar


O: KU/KS : tampak sakit sedang, menangis / CM
VS : N : 100 x/menit
R : 24 x/menit
S : 37o C
Kepala : normochepal
Mata

: CA /, SI /

Mulut : coated tongue (+)


Leher : KGB () membesar
Thorax : Simetris, statis & dinamis, retraksi (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+, Rh -/- , Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (-), gallop ()
Abdomen: BU (+), cembung, NT (-), turgor
abdomen baik
Ektremitas : akral hangat +, edem - , sianosis -, CRT
<2
A : Observasi febris hari ke 3 susp. Demam tifoid

jam
2. Cefotaxim

3x500

mg
3. Norages

250

mg

(kp)
4. Otopan syr 250 mg
3x1 cth

Hasil Tes Widal tanggal 8


Juni 2016
Widal
Typhi O

(-) Negatif

Paratyphi AO

Tanggal 8 Juni 2016 (pukul 15.00)


(-) Negatif

Paratyphi BO

(-) Negatif

Paratyphi CO

(-) Negatif

Typhi H

(-) Negatif

Paratyphi AH

(-) Negatif

Paratyphi BH

(+) 1/320

Paratyphi CH

(-) Negatif

Hari/Tanggal/ Hasil Pemeriksaan

Instruksi Dokter

Jam

Kamis
9 Januari
2016
Pk. 06.00

S: Demam (+) naik turun, demam muncul


malam hari. Mual (+), muntah (-), pusing (-),
batuk (-), pilek (-) makan sedikit, minum
banyak, pagi ini pasien belum BAB, BAK lancar

O: KU/KS : tampak sakit sedang, menangis / CM


mg
VS :
3. Norages 250 mg
N : 112 x/menit
(kp)
R : 24 x/menit
S : 37,2 o C
4. Otopan syr 250 mg
Kepala : normochepal
3x1 cth
Mata : CA /, SI /
5. Anitid 2 x 1/4 amp
Leher : KGB () membesar
Mulut : coated tongue (+)
Thorax : Simetris, statis & dinamis, retraksi
(-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+, Rh -/- ,
Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (-), gallop ()
Abdomen: BU (+), cembung, NT (-), turgor
abdomen baik
Ektremitas : akral hangat +, edem - , sianosis
-, CRT <2
A : Demam tifoid perawatan hari ke 3

Terapi
1. D5 NS 1000 / 24
jam
2. Cefotaxim

3x500

Hari/Tangg Hasil Pemeriksaan

Instruksi Dokter

al/
Jam
Jumat
10 Juni
2016
Pk. 07.00

S: Demam (-), mual (-), muntah (-), nafsu Therapy:


makan meningkan pagi ini habis lebih dari
1. D5 1/2 NS 1000
setengah porsi, semalem sudah BAB
dengan konsistensi lembek warna kuning
ml/24 jam
kecoklatan, BAK lancar
2. Terapi lain lanjut
O: KU/KS : tampak sakit sedang,
menangis / CM
VS :
N : 118 x/menit
R : 40 x/menit
S : 36,3 o C
Kepala : normochepal
Mata : CA /, SI /
Leher : KGB () membesar
Thorax : Simetris, statis & dinamis,
retraksi (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+, Rh
+/+ , Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (-), gallop
()
Abdomen: BU (+) 8x/menit , datar, NT

Hari/Tanggal/ Hasil Pemeriksaan

Instruksi Dokter

Jam

Sabtu
11 Juni
2016
Pk. 07.00

S: Demam (-), mual (-), muntah (-), nafsu Pasien


makan baik, semalem sudah BAB dengan dipulangkan
konsistensi lembek warna kuning
kecoklatan, BAK lancar
O: KU/KS : tampak sakit sedang,
menangis / CM
VS :
N : 120 x/menit
R : 24 x/menit
S : 36,5 o C
Kepala : normochepal
Mata : CA /, SI /
Mulut : coated tongue (+)
Leher : KGB () membesar
Thorax : Simetris, statis & dinamis,
retraksi (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+, Rh
-/- , Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (-), gallop
()
Abdomen: BU (+), cembung, NT (-),
turgor abdomen baik

boleh

Prognosis
Quo ad Vitam
: dubia ad bonam
Quo ad Functionam : dubia ad bonam
Quo ad Sanationam : dubia ad bonam

Tinjauan Pustaka
Demam Tifoid

Definisi
Demam tifoid disebut juga dengan Typus
abdominalis atau typhoid fever. Demam
tipoid ialah penyakit infeksi akut yang
biasanya
terdapat
pada
saluran
pencernaan (usus halus) dengan gejala
demam satu minggu atau lebih disertai
gangguan pada saluran pencernaan dan
dengan atau tanpa gangguan kesadaran

Epidemiologi
Di Indonesia kasus ini tersebar secara merata di
seluruh propinsi dengan insidensi di daerah
pedesaan 358/100.000 penduduk/tahun dan di
daerah perkotaan 760/100.000 penduduk/ tahun
atau sekitar 600.000 dan 1.5 juta kasus per tahun.
Umur penderita yang terkena di Indonesia
dilaporkan antara 3-19 tahun pada 91% kasus
Terjadinya penularan Salmonella typhi sebagian
besar melalui minuman/makanan yang tercemar
oleh kuman yang berasal dari penderita atau
pembawa kuman, biasanya keluar bersama sama
dengan tinja (melalui rute fekal - oral)

Etiologi
Demam Tifoid adalah suatu infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella
typhi. Etiologi demam tifoid dan demam
paratifoid adalah S. typhi, S. paratyphi A,
S. paratyphi B (S. Schotmuelleri) dan S.
paratyphi C (S. Hirschfeldii).

Lanjutan Etiologi
Salmonella typhi sama dengan Salmonella yang lain
adalah bakteri Gram-negatif, mempunyai flagela,
tidak berkapsul, tidak membentuk spora fakultatif
anaerob.
Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari
oligosakarida, flagelar antigen (H) yang terdiri dari
protein dan envelope antigen (K) yang terdiri
polisakarida.
Mempunyai makromolekular lipopolisakarida
kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding
sel da dinamakan endotoksin. Salmonella typhi juga
dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan
dengan resistensi terhadap multipel antibiotik

Masa inkubasi
Masa inkubasi rata-rata bervariasi antara
7 20 hari, dengan masa inkubasi
terpendek 3 hari dan terpanjang 60 hari.
Dikatakan bahwa masa inkubasi
mempunyai korelasi dengan jumlah
kuman yang ditelan, keadaan
umum/status gizi serta status imunologis
penderita

Gejala Klinis
Demam
Mual dan muntah
Diare
Konstipasi
Sakit kepala

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah tepi
Dapat disertai anemia dari ringan sampai
sedang
Peningkatan laju endap darah
Gangguan eritrosit normositik normokron
Sgot dan sgpt dapat meningkat

Pemeriksaan serologi
Tes widal

Diagnosis
Demam tifoid pada anak biasanya
memberikan gambaran klinis yang ringan
bahkan asimtomatik. Walaupun gejala
klinis sangat bervariasi namun gejala
yang timbul setelah inkubasi dapat dibagi
dalam
(1) demam,
(2) gangguan saluran pencernaan, dan
(3) gangguan kesadaran.

Diagnosis
Sembelit dapat merupakan gangguan gastointestinal awal
dan kemudian pada minggu ke-dua timbul diare.
Diare hanya terjadi pada setengah dari anak yang
terinfeksi, sedangkan sembelit lebih jarang terjadi.
Dalam waktu seminggu panas dapat meningkat. Lemah,
anoreksia, penurunan berat badan, nyeri abdomen dan
diare, menjadi berat. Dapat dijumpai depresi mental dan
delirium.
Rose spots (bercak makulopapular) ukuran 1-6 mm, dapat
timbul pada kulit dada dan abdomen, ditemukan pada 4080% penderita dan berlangsung singkat (2-3 hari).
Gambaran klinis lidah tifoid pada anak tidak khas karena
tanda dan gejala klinisnya ringan bahkan asimtomatik

Diagnosis
Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila
ditemukan bakteri S. typhi dalam biakan dari darah,
urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau
dari rose spots. Berkaitan dengan patogenesis
penyakit, maka bakteri akan lebih mudah ditemukan
dalam darah dan sumsum tulang pada awal
penyakit, sedangkan pada stadium berikutnya di
dalam urine dan feses.
Media pembiakan yang direkomendasikan untuk
S.typhi adalah media empedu (gall) dari sapi dimana
dikatakan media Gall ini dapat meningkatkan
positivitas hasil karena hanya S. typhi dan S.
paratyphi yang dapat tumbuh pada media tersebut

Penatalaksanaan
Non Medika Mentosa :
Tirah baring
Seperti kebanyakan penyakit sistemik, istirahat sangat
membantu. Pasien harus diedukasi untuk tinggal di rumah
dan tidak bekerja sampai pemulihan.

Nutrisi
Pemberian makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP)
rendah serat adalah yang paling membantu dalam
memenuhi nutrisi penderita namun tidak memperburuk
kondisi usus. Sebaiknya rendah selulosa (rendah serat)
untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk
penderita demam tifoid, basanya diklasifikasikan atas diet
cair, bubur lunak, tim, dan nasi biasa..

Cairan
Penderita harus mendapat cairan yang
cukup, baik secara oral maupun parenteral.
Cairan parenteral diindikasikan pada
penderita sakit berat, ada komplikasi,
penurunan kesadaran serta yang sulit
makan. Cairan harus mengandung elektrolit
dan kalori yang optimal. Kebutuhan kalori
anak pada infus setara dengan kebutuhan
cairan rumatannya

Medika Mentosa
Simptomatik
Panas yang merupakan gejala utama pada
tifoid dapat diberi antipiretik. Bila mungkin
peroral sebaiknya diberikan yang paling aman
dalam hal ini adalah Paracetamol dengan dosis
10 mg/kg/kali minum.
Bila tidak mampu intake peroral dapat
diberikan via parenteral, obat yang masih
dianjurkan adalah yang mengandung
Methamizole Na

Antibiotik
Chloramphenicol, merupakan antibiotik
pilihan pertama untuk infeksi tifoid fever
terutama di Indonesia. Dosis yang diberikan
untuk anak- anak 50-100 mg/kg/hari dibagi
menjadi 4 dosis untuk pemberian intravena
biasanya cukup 50 mg/kg/hari.
Diberikan selama 10-14 hari atau sampai 7
hari setelah demam turun. Kelemahan dari
antibiotik jenis ini adalah mudahnya terjadi
relaps atau kambuh, dan carier

Sefalosporin generasi ketiga (Ceftriaxone,


Cefotaxim, Cefixime),
Merupakan pilihan ketiga namun efektifitasnya
setara atau bahkan lebih dari Chloramphenicol dan
Cotrimoxazole serta lebih sensitive terhadap
Salmonella typhi.
Ceftriaxone merupakan prototipnya dengan dosis
100 mg/kg/hari IVdibagi dalam 1-2 dosis (maksimal
4 gram/hari) selama 5-7 hari. Atau dapat diberikan
cefotaxim 150-200 mg/kg/hari dibagi dalam 3-4
dosis. Bila mampu untuk sediaan Per oral dapat
diberikan Cefixime 10-15 mg/kg/hari selama 10 hari

Komplikasi
Perdarahan usus
Perforasi
Peritonitis

Pencegahan
Cuci tangan.
Hindari minum air yang tidak dimasak.
Tidak perlu menghindari buah dan
sayuran mentah.
Pilih makanan yang masih panas.

TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai