Anda di halaman 1dari 14

HEMOROID

DISUSUN OLEH :
MOURISKA
PUTRA ANSONI

PENGERTIAN HEMOROID
. Hemoroid adalah pelebaran varises satu

segmen / lebih pembuluh darah vena


hemoroidales (bacon) pada poros usus dan
anus yang disebabkan karena otot &
pembuluh darah sekitar anus / dubur kurang
elastis sehingga cairan darah terhambat dan
membesar. (www.fkuii.org, 2006).

ETIOLOGI

Hemoroid dapat terjadi karena dilatasi (pelebaran), inflamasi

(peradangan) atau pembengkakan vena hemoroidalis yang


disebabkan:
Konstipasi kronik: sulit buang air besar, sehingga harus
mengejan.
Kehamilan: karena penekanan janin pada perut.
Diare kronik.
Usia lanjut.
Duduk terlalu lama
Hubungan seks peranal.
- Pada beberapa individu terjadi hipertrofi sfingter ani
(pembengkakan otot/ klep dubur), obstruksi (sumbatan)
fungsional akibat spasme (kejang), dan penyempitan kanal
anorektal (saluran dubur-ujung akhir usus besar)
(www.suaramerdeka.com, 2005)

KLASIFIKASI
.
Berdasarkan asal / tempat penyebabnya:
1)
Hemoroid interna
Hemoroid ini berasal dari vena hemoroidales superior dan medial, terletak

diatas garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa anus. hemoroid ini tetap
berada di dalam anus.
2)
Hemoroid eksterna
Hemoroid ini dikarenakan adanya dilatasi (pelebaran pembuluh darah) vena
hemoroidales inferior, terletak dibawah garis anorektal dan ditutupi oleh
mukosa usus. hemoroid ini keluar dari anus (wasir luar)

Hemoroid interna diklasifikasikan lagi berdasarkan


perkembangannya :
1)
Tingkat 1 : biasanya asimtomatik dan tidak dapat dilihat, jarang terjadi
perdarahan, benjolan dapat masuk kembali dengan spontan.
2)
Tingkat 2 : gejala perdarahannya berwarna merah segar pada saat
defekasi (buang air besar) benjolan dapat dilihat disekitar pinggir anus dan
dapat kembali dengan spontan.
3)
Tingkat 3 : prolapsus hemoroid, terjadi setelah defekasi dan jarang
terjadi perdarahan, prolapsus dapat kembali dengan dibantu.
4)
Tingkat 4 : terjadi prolaps dan sulit kembali dengan spontan.
(www.fkuii.org, 2006)

Tanda dan Gejala


Terjadi benjolan-benjolan disekitar dubur setiap kali buang air

besar.
Rasa sakit atau nyeri.
Rasa sakit yang timbul karena prolaps hemoroid (benjolan tidak
dapat kembali) dari anus terjepit karena adanya trombus.
Perih.
Perdarahan segar disekitar anus.
Perdarahan terjadi dikarenakan adanya ruptur varises.
Perasaan tidak nyaman (duduk terlalu lama dan berjalan
tidak kuat lama)
Keluar lendir yang menyebabkan perasaan isi rektum
belum keluar semua.
(www.fkuii.org, 2006)

Komplikasi

Komplikasi hemoroid yang paling sering adalah :


a.
Perdarahan.
b.
Trombosis.
Trombosis adalah pembekuan darah dalam

hemoroid.
c.
Hemoroidal strangulasi.
Hemoroidal strangulasi adalah hemoroid yang
prolaps dengan suplai darah dihalangi oleh
sfingter ani.
(Lukmans, 1997 ; 1085)

.
a.
b.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan colok dubur


Anorektoskopi (untuk melihat kelainan
anus dan rektum)
(www.suaramerdeka.com, 2005)
c.
Pemeriksaan rectal dan palpasi digital.
d.
Proctoscopi atau colonoscopy (untuk
menunjukkan hemoroid internal)
(Reeves, 1999 ; 162)

Penatalaksanaan
a.
1)
2)
3)
b.

Medis
Farmakologis
Nonfarmakologis
Tindakan minimal invasif
Pembedahan

Askep teoritis
PENGKAJIAN
a.
Riwayat kesehatan diambil untuk menentukan adanya gatal, rasa terbakar dan

nyeri berserta karakteristiknya


1)
Apakah ini terjadi selama defekasi ?
2)
Berapa lama ini berakhir ?
3)
Adakah nyeri abdomen dihubungkan dengan hal itu ?
4)
Apakah terdapat perdarahan dari rektum ?
5)
Seberapa banyak ?
6)
Seberapa sering ?
7)
Apakah warnanya ?
8)
Adakah rabas lain seperti mukus atau pus ?
b.
Pertanyaan lain berhubungan dengan pola eliminasi dan penggunaan laksatif
1)
Riwayat diet, termasuk masukan serat
2)
Jumlah latihan
3)
Tingkat aktivitas
4)
Pekerjaan (khususnya bila mengharuskan duduk atau berdiri lama)
(Smeltzer, 2002 ; 179)
c. Pemeriksaan fisik pada klien dengan hemoroid adalah sebagai berikut:
a.
Kaji tingkat kesadaran (kacau mental, letargi, tidak merespon).
b.
Ukur tanda-tanda vital (TD meningkat/ menurun, takikardi).
c.
Auskultasi bunyi nafas.
d.
Kaji kulit (pucat, bengkak, dingin).
e.
Kaji terhadap nyeri atau mual.
f.
Abdomen : Nyeri tekan pada abdomen, bisa terjadi konstipasi.
g.
Anus : Pembesaran pembuluh darah balik (vena) pada anus, terdapat benjolan pada anus,
nyeri pada anus, perdarahan.
(Engram, 1999 ; 789)

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada

pasien dengan hemoroid adalah :


a.
Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan
sensitifitas pada area rektal atau anal sekunder akibat
penyakit anorektal.
b.
Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan
dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama eliminasi
c.
Ansietas berhubungan dengan rencana
pembedahan dan rasa malu.
d.
Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan
pertahanan primer tidak adekuat.
(Smeltzer, 2002 ; 179)

INTERVENSI
Adapun perencanaan/ intervensi dari diagnosa yang timbul pada pasien hemoroid adalah:
a.
Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal atau anal

sekunder akibat penyakit anorektal.


Tujuan
: Nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil
: Melaporkan nyeri hilang
Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan
Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik (misal keterampilan relaksasi) untuk
menghilangkan nyeri.
Rencana tindakan :
Mandiri
1)
Kaji karakteristik, intensitas dan lokasi nyeri.
Rasional : Membantu menentukan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan
dan evaluasi terhadap terapi.
2)
Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : Perubahan frekuensi jantung menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri.
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan koping pasien dengan
memfokuskan kembali perhatian.
3)
Kaji hal-hal yang dapat meningkatkan rasa nyeri.
Rasional : Digunakan sebagai dasar dari tindakan selanjutnya.
4)
Hindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri
Rasional : Menghindarkan stimulasi yang dapat mengakibatkan peningkatan rasa nyeri,
seperti mengurangi frekuensi dan durasi kontak dengan bagian yang dirasa nyeri
5)
Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi
Rasional : Relaksasi digunakan untuk mengurangi stimulus nyeri, dan mengalihkan perhatian
terhadap nyeri.
6)
Dorong klien untuk ambulasi dini.
Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh merangsang peristaltik dan
kelancaran flatus
Kolaborasi
7)
Berikan analgesik sesuai indikasi.
Rasional : Meningkatkan kenyamanan dan untuk menghilangkan nyeri sedang sampai
berat.

IMPLEMENTASI
Fase persiapan,fase intervensi,fase dokumentasi
EVALUASI
Komponen evaluasi dapat dibagi menjadi 5 yaitu:
a.
Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan

evaluasi.
b.
Mengumpulkan data mengenai keadaan klien
terbaru.
c.
Menganalisa dan membandingkan data terhadap
kriteria dan standar.
d.
Merangkum hasil dan membuat kesimpulan.
e.
Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan
kesimpulan.
( Nursalam, 2001 ; 74,dikutip dari Pinnell & Meneses,
1986

TERIMAKASI