Anda di halaman 1dari 21

Traumatik Optik

Neuropati
Viona Natalia Sitohang
Gloria Benthamy
Alvan Aresto Djari

Anatomi Saraf Optik

Regio Intraokular

Regio Intraorbital

Regio Intrakanalikular

Regio intrakranial

Vaskularisasi

Fisiologi Penglihatan

Definisi TON
Traumatic Optic Neuropathy (TON) merupakan
suatu bentuk neuropati optikus oleh adanya
kerusakan pada saraf optik yang menyebabkan
kerusakan pada fungsi visual diikuti dengan defek
pupil aferen relative (Marcus-Gunn pupil).

Etiologi
kecelakaan dengan momentum tinggi dan trauma
wajah.
Kecelakaan sepeda motor,
kekerasan,
luka tumpul,
luka tusuk,
luka tembak,
pembedahan endoskopi sinus

Klasifikasi
Cedera Tidak Langsung Saraf Optik
Cedera tidak langsung terjadi pada trauma tertutup pada
kepala, menyebabkan timbulnya tekanan yang kemudian
menekan saraf optik.
Cedera Langsung Saraf Optik
Cedera langsung saraf optik terjadi akibat dari avulsi saraf
atau akibat adanya penetrasi pada orbita, penetrasi
fragmen tulang dan mengenai saraf optik

Perubahan segera pada fundus oklusi a.v centralis atau


iskemia anterior neuro (pada indirek terjadi setelah 3-5
mggu)

Patofisiologi
Primer
Mekanisme primer menyebabkan kerusakan
permanen pada akson saraf optik pada saat
terjadinya cedera iskemia dan edem lokal
apoptosis dan perdarahan pada sel pembungkusnya
Sekunder
Mekanisme sekunder menyebabkan pembengkakan
saraf optik setelah terjadi cedera akut.

Mekanisme ini antara lain:


1. Iskemia peroksidase lipid membran +
pelepasan radikal bebas kerusakan jaringan
2. Bradikinin as. Arachidonat prostaglandin
edema
3. Ion kalsium iskemia + ion kalsium toksik
metabolik dan apoptosis
4. Proses inflamasi PMN dan makrofag

Diagnosis
Berdasarkan klinis, dengan adanya trauma kepala
dan
wajah yang
menyebabkan gangguan
penglihatan.
Pasien mengalami kehilangan penglihatan yang
mendadak, berat, dan unilateral. Kondisi ini dapat
bermanifestasi segera atau dalam hitungan jam
hingga hari setelah trauma.
Riwayat penyakit perlu ditanyakan apakah adanya
defisit penglihatan sebelum trauma, riwayat
penyakit sebelumnya, obat-obatan dan alergi obat

Pemeriksaan Fisik

Ketajaman penglihatan (visus)


Relative afferent pupillary defect (RAPD)
Penglihatan warna
Lapangan pandang
Oftalmoskopi
Adneksa okuli
Tonometri

Pemeriksaan Penunjang
VEP
Dalam ujian ini, pasien diminta untuk melihat pola yang
merubah atau membalik warna atau lampu sorot yang
berkedip dalam beberapa menit, untuk merangsang saraf
mata. Pasien, duduk dalam jarak 1 meter dari layar
(cahaya), akan diminta untuk fokus pada tengah-tengah
pola dan menutup satu mata pada satu waktu.
Imaging
Pada pasien politrauma dengan penurunan kesadaran, CT
scan dengan eksplorasi klinis merupakan metode penting
untuk menilai TON pada keadaan darurat yang akut.

Penatalaksanaan

Medikamentosa
Dosis awal metilprednisolone diberikan sebanyak
30mg/kg/IV, dilanjutkan 15mg/kgBB pada 2 jam
kemudian, dan 15 mg/kgBB setiap 6 jam.
Pembedahan
Dekompresi bedah optik kanal dan pembungkus
saraf optik digunakan sebagai terapi TON indirek.
Berbagai metode bedah yang digunakan berupa
kraniotomi
trans
nasalis,
extra-nasal
transethmoidalis, lateral fasial, sublabial, dan endoskopi.

Kontraindikasi pembedahan:
Adanya avulsi saraf optik pada pemeriksaan CT.
Pasien dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Hilang total fungsi penglihatan dan respon pupil.
Indikasi pembedahan:
Jika penurunan fungsi penglihatan meskipun dengan terapi
steroid.
Jika terjadi penurunan fungsi penglihatan pada pengurangan
dosis steroid.
Jika terdapat fraktur kanal optik disertai dengan adanya
penekanan oleh fragmen tulang.
Jika terdapat hematoma pada pembungkus saraf.
Jika respon visual evoked potential (VEP) memburuk seiring
waktu

Prognosis
Ada 4 variabel yang dianggap sebagai faktor
prognosis yang buruk untuk perbaikan fungsi visual,
antara lain :
1. Adanya darah dalam rongga ethmoid posterior
2. Usia diatas 40 tahun
3. Kehilangan kesadaran diikuti dengan TON
4. Tidak adanya perbaikan setelah 48 jam
pemberian terapi steroid.

Kesimpulan
Traumatic Optic Neuropathy secara patofisiologi dibagi menjadi 2 yaitu
cedera langsung dan tidak langsung dengan mekanisme primer dan
sekunder, keduanya menyebabkan kerusakan akson saraf optik, yang
kemudian mengakibatkan gangguan penglihatan. Penilaian ketajaman
penglihatan, fungsi pupil, hingga CT-scan perlu dilakukan untuk menilai
adanya abnormalitas struktural seperti avulsi saraf optik, hematoma
pembungkus saraf, hematoma orbital, atau fraktur kanal optik. Pilihan
penanganan berupa observasi tanpa intervensi. Pemberitahuan kepada
pasien dan keluarga penting terkait dengan terapi kortikosteroid megadosis. Jika ketajaman penglihatan menurun, dapat dipertimbangkan
pemberian kortikosteroid. Jika ditemui kelainan struktural yang dapat
menyebabkan gangguan fungsi saraf optik (hematoma atau fragmen
tulang), atau tajam penglihatan memburuk pada terapi kortikosteroid,
dapat dipertimbangkan tindakan dekompresi kanal optik. Cedera
langsung umumnya memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan
dengan cedera tidak langsung.