Anda di halaman 1dari 31

+

TUTORIAL KASUS HIDUP


Oleh: UNIVERSITAS TRISAKTI
Pembimbing: Dr. Wikan B. SpF

+
Identitas Pasien

Nama

: An. P

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 15 tahun

Alamat
: Karanggemuk I Rt 10, Kemejing, Kab.
Gunung Kidul

Agama

: Islam

Bangsa

: Indonesia

+
Skenario Kasus

Seorang perempuan berusia 15 tahun datang ke IGD


RSUP dr. sardjito pada tanggal 8 februari 2016 yang
merupakan rujukan dari RSUD Wonosari karena
kecelakaan lalu lintas yang kurang lebih 4 jam sebelum
masuk rumah sakit.

Korban mengalami kecelakaan lalulintas tunggal,


kronologis kejadian belum diketahui secara pasti
karena korban mengalami penurunan kesadaran dan
keluarga korban tidak tahu mengenai kronologis
kejadian yang sebenarnya.

Pihak keluarga hanya mengetahui bahwa pada jam 11


siang, korban hendak pergi bekerja kelompok dengan
temannya. Korban dibonceng oleh temannya yang
mengendarai motor.

Kemudian diperjalanan motor menabrak trotoar


sebelah kiri dan kemudian oleng ke kanan dan terjatuh.
Setelah jatuh korban sempat pingsan namun bangun
kembali setelah beberapa saat. Keluhan mual muntah
disangkal, keluhan kejang disangkal.

Setelah kejadian, korban langsung dibawa kerumah


sakit yang akhirnya dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito

Saat ini korban mengeluh nyeri pada bahu kiri dan


panggul kanan serta nyeri kepala.

+
Pemeriksaan Fisik

Kepala : Normocephali, RC +/+, PB 3/3, lat (-), CA -/-, SI


-/-, edema palpebra +/+, hidung dbn, telinga dbn, Bibir
atas tampak bengkak

Leher: oedema (-), memar pada leher (-), kaku kuduk


(-)

Thorax : simetris kanan dan kiri, pernafasan tertinggal


(-), laserasi pada dada (-), memar (-), sonor pada
seluruh lapang paru, vokal fremitus sama kuat,
vesikuler +/+, wheezing (-), ronki (-)

Abdomen: datar, BU (+), suppel, NT(-), laserasi (-),


memar(-), tympani pada seluruh kuadran abdomen

Extremitas: akral hangat, edema (-), luka lecet pada


tungkai kiri bawah (+)

+
Deskripsi Luka

Luka pada bibir atas kanan, tepat tepat 3 cm kearah


luar dari sumbu tubuh, 10 cm dibawah mata kanan,
terdapat luka memar, bentuk tidak beraturan,
berwarna merah kebiruan, arah dari dalam keluar,
kondisi bersih, dasar kulit, dengan ukuran 4x5cm,
berjumlah satu luka

Pada tungkai kiri bawah kurang lebih 3 cm kearah luar


sumbu tubuh, tepat 3 cm dibawah dengkul, terdapat
sekumpulan luka lecet geser, benuk memanjang,
berwarna kemerahan, arah dari dalam keluar, kondisi
bersih, dasar kulit, dengan ukuran 6x7cm, berjumlah 1
luka

Pada bahu kiri, terdapat deformitas dan bengkak serta


pergerakan minimal karena nyeri

Pada panggul kanan terdapat deformitas dan bengkak


serta pergerakan minimal karena nyeri

+
Pemeriksaan Penunjang
1. CT Scan kepala tanpa kontras:
Kesan:

Edema cerebral

Tampak adanya subdural hematoma

Tidak tampak fraktur pada neurocranium maupun


viserocranium

2. Foto rontgen bahu kiri: Closed fracture of middle third of the


left calvicule associated with lateral end calvicule fracture
3. Foto rontgen pelvis dextra: pelvic ring injury LC type II with
stable hemodynamic

+
Diagnosis Kerja

Traumatic Cerebral Edema

Subdural Hematom

Fraktur klavikula sinistra

Fraktur pelvic ring dextra

+
Penatalaksanaan

Observasi KU, GCS dan tanda-tanda peningkatan TIK

Pasang DC dan IV line

IV FD NS 1000cc/24 jam

Inj cefotaxim 250 mg/12 jam

Ranitidine 25 mg/12 jam

Ketorolac 10 mg/8 jam

Citicoline 250 mg/12 jam

Phenitoin 50 mg/8 jam

Manitol 50cc/8 jam

Head up 300 - 450

+
Prognosis

Ad vitam

: dubia

Ad sanationam

: dubia

Ad fungsionam

: dubia

+
Masalah yang dikaji
1.

Apakah perlu dibuat Visum et Repertum pada kasus ini?

2.

Pemeriksaan laboratorium apa yang diperlukan untuk


kasus ini?

3.

Undang-undang apa saja yang terkait pada kasus ini?

4.

Apa saja jenis trauma yang terdapat pada kasus ini dan
cara deskripsi luka?

5.

Termasuk derajat berapakah luka pada kasus ini?

6.

Pada kasus ini manakah yang merupakan impak primer,


impak sekunder, dan luka sekunder

7.

Pada kasus ini siapa yang berhak untuk memberikan


informed consent ?

+Pertanyaan 1

Apakah perlu dilakukan visum?

+Pertanyaan 2

Pemeriksaan laboratorium apa yang


diperlukan untuk kasus ini?

Pemeriksaan

Alkohol
Metode CONWAY dengan prinsip mikrodifusi
dari reagen antie dan sampel untuk
menentukan kadar alkohol darah
Pemeriksaan Rontgen
Untuk melihat ada tidaknya fraktur dan
dislokasi sendi.
Pemeriksaan CT Scan
Untuk melihat ada atau tidak lesi pada
otak.

Pemeriksaan Alkohol

Tujuan

: menentukan apakah kecelakaan ini terjadi


akibat penggunaan alkohol atau tidak

Kadar

Alkohol :

30 - 50 mg%
: Penurunan lapang pandang,
penuruman ketajaman penglihatan dan pemanjangan
waktu reaksi, penurunan keterampilan mengemudi.
< 80 mg%
: Gangguan penglihatan 3
dimensi,
kedalaman
pandangan,
gangguan
pendengaran, gangguang psikis seperti penurunan
kemampuan memusatkan perhatian, konsentrasi,
asosiasi dan analisa.

Pemeriksaan Alkohol

200 mg%
:
Banyak bicara, ramai, refleks
menurun, inkoordinasi otot-otot kecil dan sering
terdapat pelebaran pembuluh darah kulit.
250 - 300 mg% : Penglihatan kabur, tak dapat
mengenali warna, konjungtiva merah, dilatasi pupil,
diplopi, sukar memusatkan pandangan / penglihatan
dan nistagmus.
400 - 500 mg% : Aktivitas motorik hilang sama sekali,
stupor, atau koma, pernafasan perlahan dan dangkal,
suhu tubuh menurun.

Apa aspek medikolegal pada kasus tersebut?

Pertanyaan 3
UU yang terkait
1.

Menurut UU no 22 tahun 2009 terntang kecelakaan


lalu lintas.

2.

Pasal 229 UU no 22 tahun 2009 tentang


penggolongan kecelakaan lalu lintas.

3.

Pasal 273-317 UU lalu lintas dan angkutan umum


diproses dengan acara peradilan pidana sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

4. KUHP pasal 184 ayat 1 : yang dapat membuat surat


permintaan visum adalah polisi atau penyidik
5. KUHAP pasal 133 ayat 2 : permintaan visum harus
secara tertulis oleh penyidik.
6. KUHAP 133 ayat 3 : mayat yang dikirim kepada
kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan baik dengan penuh penghormatan.

+Pertanyaan 4
Apa saja jenis trauma yang terdapat
pada kasus ini?

Pada kasus ini, korban mengalami luka memar dan luka


lecet geser, fraktur klavikula, dan fraktur pelvis

Luka memar dan luka lecet merupakan luka akibat


cedera pada permukaan tubuh yang bersentuhan
dengan kekerasan benda tumpul. Pada kasus ini,
diperkirakan kekerasan benda tumpul berupa benturan
dengan jalan beraspal.

+
1. Luka memar ( contusion wound )

Terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan


dikarakteristikan oleh cedera pada jaringan lunak,
perdarahan, dan bengkak.

Luka memar adalah perdarahan dalam jaringan bawah


kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena yang
disebabkan oleh kekerasan benda tumpul.

Luka memar dapat digunakan untuk memperkirakan


waktu terjadinya trauma. Pada saat timbul memar
berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau
hitam. 4-5 hari berubah menjadi hijau, 7-10 hari menjadi
kuning, dan menghilang dalam 14-15 hari.

+
2. Luka lecet ( Abraded wound )

Terjadi akibat cedera pada kulit yang bersentuhan


dengan benda yang memiliki permukaan kasar,
misalnya pada kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur
aspal jalan, seperti pada kasus ini.

Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada


kulit disertai gerakan bergeser. Luka lecet geser terjadi
karena pergeseran yang menyebabkan terkikisnya
epidermis. Tampak goresan epidermis yang berjalan
sejajar. Selain itu dapat diketahui arah kekerasan
penyebab. Bagian kulit yang pertama bergeser
memberikan tepi yang lebih rata. Dan saat benda
tumpul meninggalkan kulit yang tergeser memberikan
batas tidak rata.

+Pertanyaan 5

Termasuk derajat berapakah luka pada


kasus ini?

Kualifikasi Luka Pada Visum et Repertum Ada 3


kualifikasi luka pada korban hidup, yaitu:
1. Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C
Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak
menimbulkan penyakit atau tidak menghalangi pekerjaan
korban. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 352
ayat
2. Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B
Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan
penyakit atau menghalangi pekerjaan korban untuk
sementara waktu. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP
pasal 351 ayat 1.

+
3. Luka berat / luka derajat III / luka golongan A
a)Luka

derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6, yaitu:


b)Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau
membawa bahaya maut
c)Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban
selamanya
d)Hilangnya salah satu panca indra korban
e)Cacat besar
f)Terganggunya akan selama > 4 minggu
g)Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu

Jadi,

pada kasus ini, derajat luka pada korban adalah


luka derajat II

+Pertanyaan 6

Pada kasus ini manakah yang merupakan


impak primer, impak sekunder, dan luka
sekunder
Tipe-tipe luka pada kecelakaan lalu lintas:
a)Impak

primer adalah luka akibat benturan pertama oleh


kendaraan
b)Impak sekunder adalah luka akibat benturan kedua
oleh kendaraan
c)Luka sekunder adalah luka akibat benturan dengan
obyek lain, misalnya jalan.
Pada

kasus ini, luka pasien belum dapat diklasifikasikan


secara pasti karena kronologi kejadian kecelakaan yang
terjadi pada pasien belum diketahui secara jelas, namun
kemungkinannya luka pada pasien merupakan luka
sekunder akibat membentur jalan beraspal.

+Pertanyaan 7

Pada kasus ini siapa yang berhak untuk


memberikan informed consent ?

Menurut Pasal 12 permenkes no 290 / menkes / PER / 11 / 2008


yaitu :
Persetujuan

diberikan oleh pasien yang kompeten atau oleh


wali atau keluarga terdekat atau
Persetujuan

yang diberikan oleh pasien yang tidak kompeten /


diragukan kompetensi nya tetap dianggap sah / dapat
dibatalkan oleh wali / keluarga terdekat / pengampunya
Pasien

dianggap kompeten berdasarkan usianya apabila :

Pasien

dewasa yaitu telah berusia 21 tahun / pernah menikah

Telah

berusia 18 tahun

Berdasarkan kesadaranya :
Pasien dianggap kompeten apabila tidak terganggu kesadaran
fisiknya, sehingga mampu berkomunikasi secara wajar dan mampu
membuat keputusan secara bebas
Pasien dapat kehilangan kompetensinya untuk sementara apabila
mengalami syok nyeri yang sangat atau kelemahan akibat kesadaran
sakitnya

Berdasarkan kesehatan mentalnya :

Pasien dianggap kompeten apabila tidak mengalami retradasi mental


yang membuatnya tidak mampu membuat keputusan secara bebas

Pasien dengan gangguan jiwa dapat dianggap kompeten apabila ia


masih memahami informasi, mempercayainya, mempertahankanya,
untuk kemudian menggunakanya dalam membuat keputusan yang
bebas

Kompetensi pasien harus dinilai oleh dokter dan pada saat diperlukan
persetujuanya. Apabila meragukan maka harus ditentukan oleh tim
yang kompeten.

Menurut pasal diatas pasien merupakan :

Belum berusia 18 tahun

Pasien dalam keadaan terjadinya penurunan kesadaran

Maka dalam hal ini informed diberikan oleh dokter


yang akan merawat pasien tersebut sedangkan
consent dapat diberikan oleh wali atau keluarga dekat ,
atau pengampunya. Mungkin dalam kasus ini dapat
dilakukan oleh ibunya. Sebagaimana dituliskan pada
permenkes no 200/ menkes/ PER/ 111/ 2008. Bahwa
persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan
yang diberikan oleh pasien atau keluarganya terdekat,
setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap
mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarganya
yaitu suami / istri, ayah/ ibu kandung, anak kandung /
saudara kandung.