Anda di halaman 1dari 25

REAKSI PARALEL

Kelompok : 5

Balha Huwaina

M. Yazid Asyarianto
Rangga Jepriari
Sabrina I.A

Didin Masrofiana

DEFINISI REAKSI PARALEL


Reaksi paralel atau reaksi samping (competitive
reaction) yaitu dari reaktan yang sama
dihasilkan produk yang berbeda melalui jalur
reaksi yang berbeda pula.
Contoh :

KASUS I UNTUK 1 > 2

Untuk orde reaksi pembentukan zat D, lebih


besar dari orde reaksi pembentukan zat U maka
nilai 1 2 = a adalah positif.

...............(2.1)

Dari persamaan (2.1) apabila diinginkan nilai S yang


maksimum, bisa dicapai apabila nilai konsentrasi reaktan zat
A, CA selama reaksi berlangsung sebesar mungkin. Apabila
reaksi dalam fasa gas, untuk mempertahankan supaya
konsentrasi zat A, CA sebesar mungkin maka reaksi harus
dilangsungkan tanpa ada zat Inert dan tekanan operasi harus
tinggi. Dan apabila reaksi fasa cair, maka harus dihindarkan
penggunaan reaktan yang encer seminimum mungkin.
Untuk kasus ini sebaiknya dipilih reaktor Batch atau Plug
Flow Reactor (PFR) karena pada kedua reaktor tersebut untuk
penggunaan konsentrasi reaktan yang tinggi akan berkurang
secara bertahap selama reaksi berlangsung. Berbeda dengan
reaktor jenis CSTR, konsentrasi reaktan akan turun secara
drastis begitu reaktan masuk ke dalam reaktor. Oleh karena
itu untuk kasus ini reaktor jenis CSTR tidak dipilih.

KASUS II UNTUK 2 > 1

Untuk kasus orde reaksi pembentukan zat U lebih besar dari orde
reaksi pembentukan zat D :

Dari persamaan (2.2) apabila diinginkan nilai S yang maksimum maka


nilai konsentrasi A, CA setelah reaksi sekecil mungkin. Nilai
konsentrasi A, CA setelah reaksi kecil bisa dicapai apabila digunakan
umpan/reaktan yang encer yaitu bisa dicapai dengan cara
ditambahkan zat Inert pada umpan dan reaksi sebaiknya
dilangsungkan di dalam reaktor jenis CSTR karena proses yang terjadi
pada CSTR konsentrasi reaktan akan cepat sekali mengecil.
Disamping itu, aliran produk keluar dari CSTR yang memang
konsentrasinya sudah encer dapat di daur ulang (recycle) masuk
bersama-sama umpan segar sehingga konsentrasi reaktan yang kecil
tetap dapat dipertahankan.

Karena nilai energi aktivasi (E) dari kedua reaksi tersebut


tidak diketahui maka tidak dapat ditetapkan apakah reaksi
tersebut sebaiknya dioperasikan pada temperatur rendah
atau tinggi. Sensitivitas dari parameter laju selektivitas
suatu produk terhadap temperatur dapat ditentukan dari
nilai rasio konstanta laju kedua reaksi tersebut.

Dimana :
A = faktor frekuensi tergantung berat dan struktur molekul,
frekuensi dan posisi tumbukan antar molekul
E = energi aktivasi reaksi yaitu energi minimum yang diperlukan
sehingga reaksi dapat berlangsung.

KASUS III UNTUK 1 = 2

Dua reaksi tapi dengan orde yang sama

Mengontrol distribusi produk juga dapat dilakukan dengan


yang bervariasi, hal ini dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Dengan mengubah level suhu operasi. Jika energi aktivasi
dari 2 reaksi berbeda, maka dapat dibuat bervariasi.
2. Dengan menggunakan katalis. Salah satu fitur katalis
yang sangat penting adalah selektifitasnya dalam
menurunkan / mempercepat suatu reaksi. Hal ini
merupakan cara yang paling efektif untuk mengontrol
distribusi produk.

1.

Pada saat mempunyai 2 atau lebih reaktan, kombinasi


dari tinggi dan rendahnya konsentrasi reaktan dapat
diperoleh dengan mengontrol konsentrasi feed.
For noncontinuos operations

2. FOR CONTINUOS FLOW


OPERATIONS

POLA KONTAK PADA REAKSI


PARALEL

Reaksi fase liquid yang diinginkan

Reaksi samping yang tidak diinginkan

Dari dua persamaan diatas didapatkan :

Menurut aturan reaksi parallel, kita ingin menjaga konsentrasi tinggi


dan rendah. Sejak konsentrasi lebih tergantung pada B dibanding A,
lebih penting untuk mendapatkan rendah daripada tinggi.

Menurut aturan reaksi parallel, kita ingin menjaga konsentrasi tinggi dan
rendah. Sejak konsentrasi lebih tergantung pada B dibanding A, lebih
penting untuk mendapatkan rendah daripada tinggi.

PERLAKUAN KUANTITATIF UNTUK DISTRIBUSI PRODUK DAN UKURAN REAKTOR

Untuk kepastian dalam mengevaluasi distribusi


produk kami memperkenalkan dua istilah , dan
. Pertama , mempertimbangkan dekomposisi
posisi reaktan A , dan biarkan menjadi fraksi A
menghilang pada setiap saat yang diubah
menjadi produk yang diinginkan R. Kami
menyebutnya hasil pecahan instan dari R.

Untuk plug flow reaktor :

Untuk mixed flow reaktor :

HUBUNGAN ANTARA PFR DAN MFR

Ekspresi ini memungkinkan kita untuk memprediksi hasil dari satu jenis reaktor yang
diberikan hasil dari yang lain . Untuk serangkaian 1 , 2 , . . . , Reaktor aliran campuran N
dimana konsentrasi A adalah CA1 , CA2, . . . , CAN, hasil pecahan keseluruhan diperoleh dengan
menjumlahkan hasil pecahan di masing-masing Pembuluh N dan pembobotan nilai-nilai ini
dengan jumlah reaksi yang terjadi di masing-masing kapal . Demikian

Sehingga,

Untuk setiap jenis reaktor konsentrasi keluar dari R


diperoleh langsung dari equation 8, Maka :

Selektifitas

CONTOH SOAL
1.

Consider the aqueous reactions

For 90% conversion of A find the concentration of R in the product


stream. Equal volumetric flow rates of the A and of B streams are fed to
the reactor, and each stream has a concentration of 20 mollliter of
reactant. The flow in the reactor follows.
(a) Plug flow
(b) Mixed flow
(c) The best of the four plug-mixed contacting schemes of Example
7.1.

SOLUTION

2. For the reaction of Example 7.3 determine the


arrangement of reactors which would produce most S
in a flow system where recycle and reconcentration of
unreacted feed is not possible. Find C,,t,,t,, for this
arrangement of reactors. From Fig. E7.4 we see that
mixed flow followed by plug flow would be best.

Thus, for mixed flow, from Example 7.3

For plug flow, from Example 7.3

Therefore, the total amount of C, formed is

KONDISI OPERASI YANG BAIK UNTUK REAKSI PARALLEL

a.

Mixed reaktor

Csf = 2/3

B. PLUG FLOW REAKTOR

CSf = 0,867

REAKTOR DENGAN SEPARASI DAN


RECYCLE
Karena tidak ada reaktan meninggalkan sistem
yang belum terkonversi , yang penting adalah
untuk beroperasi pada kondisi hasil pecahan
tertinggi. Ini adalah pada CA = 1, di mana ( S/A )
= 0,5 ,seperti yang ditunjukkan pada Gambar
E7.3c
Jadi , kita harus menggunakan reaktor aliran
campuran beroperasi pada CA = 1 . Kemudian
akan memiliki 50 % dari reaktan A membentuk
produk S.