Anda di halaman 1dari 36

Laporan Kasus

Acute STEMI
Alvin Hadisaputra
1008151704

DEFINISI
Infark miokard akut (IMA) dengan ST elevasi merupakan
bagian dari spektrum sindrom koroner akut (SKA) yang
terdiri dari angina pektoris tidak stabil, NSTEMI dan
STEMI.
Sindrom koroner akut (SKA) merujuk pada sekumpulan
keluhan dan tanda klinis yang sesuai dengan iskemia
miokard akut.

EPIDEMIOLOGI
Infark miokard akut merupakan salah satu
penyebab tingginya angka kesakitan dan
kematian
IMA dan banyak dijumpai pada kelompok umur
35-65 tahun (kelompok umur produktif).
Secara umum, IMA dapat terjadi pada semua
umur, tetapi peningkatan angka kejadian IMA
seiring dengan umur penderita. IMA banyak
terjadi pada pria.

ETIOLOGI
Penyebab terbanyak IMA adalah rupturnya plak aterosklerosis dan
adanya trombus.
Faktor resiko terjadinya plak aterosklerosis, yaitu:
Umur
Pria
Merokok
Hiperkolesterolemia dan hipertrigliserida
Diabetes Mellitus
Hipertensi yang tidak terkontrol
Riwayat keluarga
Obesitas
Gaya hidup
Ketidakaktifan fisik

PATOFISIOLOGI

Faktor resiko
(rokok,
hipertesi,
dislipidemia
dll)

aterosklerosis

penyempitan

Acute STEMI

Menyumbat
total

Lepas
(mendadak/se
cara cepat)

DIAGNOSIS
Anamnesis

Nyeri khas infark

Lokasi nyeri di daerah retrosternal, substernal dan prekordial. Pasien sulit


melokalisir rasa nyeri.
Deskripsi nyeri rasa berat seperti dihimpit, ditekan atau diremas, rasa tersebut
lebih dominan dibandingkan rasa nyeri.
Penjalaran nyeri ke lengan kiri, bahu, punggung, leher rasa tercekik atau rahang
bawah (rasa ngilu) kadang penjalaran ke lengan kanan atau kedua lengan.
Nyeri membaik atau hilang dengan istirahat, atau obat nitrat.
Faktor pencetus berupa latihan fisik, stress emosi, udara dingin, dan sesudah
makan.
Lama nyeri pada SKA lebih dari 20 menit
Gejala sistemik disertai keluhan seperti mual, muntah atau keringat dingin, cemas
dan lemas

Pemeriksaan fisik
Sebagian besar pasien cemas dan tidak bisa istirahat
(gelisah).
Seringkali ekstremitas pucat disertai keringat dingin.
Sekitar seperempat pasien infark anterior
mempunyai manifestasi hiperaktivitas saraf simpatis
(takikardia dan atau hipertensi)
hampir setengah pasien infark inferor menunjukkan
hiperaktivitas parasimpatis (bradikardia dan atau
hipotensi).
Peningkatan suhu sampai 380 C dapat dijumpai
dalam minggu pertama pasien STEMI.

Pemeriksaan penunjang
Elektrokardiogram
Berdasarkan gambaran EKG pasien SKA dapat
diklasifikasikan dalam 3 kelompok:
Elevasi segmen ST minimal di dua lead yang
berhubungan.
Depresi segmen ST atau inverse gelombang T yang
dinamis pada saat pasien mengeluh nyeri dada.
EKG non diagnostic baik normal ataupun hanya ada
perubahan minimal

Pemeriksaan EKG 12 harus dilakukan pada


pasien dengan keluhan nyeri dada atau
keluhan yang dicurigai STEMI. Pemeriksaan ini
dilakukan segera dalam 10 menit sejak
kedatangan di IGD
Jika pemeriksaan EKG awal tidak diagnostik
untuk STEMI tetapi pasien tetap simtomatik
dan terdapat kecurigaan kuat STEMI, EKG
serial dengan interval 5-10 menit

LOKASI IMA

LOKASI ELEVASI SEGMEN ST

Anterior

V1V4

Anteroseptal

V1, V2, V3, V4

Anterolateral

V4V6, I, aVL

Inferior

Inferior: II, III, and aVF

Lateral

I and aVL

Inferolateral

II, III, aVF, and V5 and V6

Laboratorium
Peningkatan nilai enzim di atas 2 kali nilai batas atas normal
menunjukkan ada nekrosis jantung (infark miokard).
CKMB : meningkat setelah 3 jam bila ada infark miokard dan
mencapai puncak dalam 10-24 jam dan kembali normal dalam
2-4 hari.
Troponin : ada 2 jenis yaitu Tn T dan Tn I. Enzim ini meningkat
setelah 2 jam bila ada infark miorkard dan mencapai puncak
dalam 10-24 jam

Tn T masih dapat dideteksi setelah 5-14 hari, sedangkan Tn I


setelah 5-10 hari.
Creatinine Kinase (CK) : meningkat setelah 3-8 jam bila ada
infark miokard dan mencapai puncak dalam 10-36 jam dan
kembali normal dalam 3-4 hari

PENATALAKSANAAN
Oksigen
Nitrogliserin (NTG)
sublingual dapat diberikan dengan aman dosis 0,3 mg
dan dapat diberikan sampai 3 dosis dengan interval 5
menit.
Selain mengurangi nyeri dada, NTG juga dapat
menurunkan suplai oksigen miokard dengan
menurunkan preload dan meningkatkan suplai oksigen
miokard dengan cara dilatasi pembuluh koroner yang
terkena infark atau pembuluh kolateral.

Aspirin
dosis 160-325 mg di ruang emergensi.
Selanjutnya aspirin diberikan oral dengan
dosis 75-162 mg.

Morfin
Morfin sangat efektif mengurangi nyeri dada
dan merupakan analgesik pilihan dalam
tatalaksana nyeri dada.
Morfin diberikan dengan dosis 2-4 mg dan
dapat diulang dengan interval 5-15 menit
sampai dosis total 20 mg.

Terapi reperfusi pada pasien STEMI


Obat fibrinolitik
Tujuan utama fibrinolisis adalah restorasi cepat
patensi arteri koroner.
Pengobatan fibrinolisis lebih awal < 30 menit
dapat membatasi luasnya infark, fungsi ventrikel
normal, dan mengurangi angka kematian.
memicu konversi plasminogen menjadi plasmin,
yang selanjutnya melisiskan trombus fibrin.
Streptokinase dengan dosis 1,5 juta unit IV
dalam 60 menit

Kontra indikasi absolute terapi fibrinolitik adalah :


Stroke hemoragik
Stroke iskemik kurang dari 3 bulan dan lebih dari 3 jam
Tumor intrakranial
Adanya kelainan stuktur vaskuler serebral
Adanya cedera kepala tertutupatau cedera wajah dalam 3 bulan terkahir
Diketahui adanya perdarahan internal aktif atau gangguan sistem
pembekuan darah
Diseksi aorta

Antikoagulan
Heparin diberikan bila ada infark luas, tanda-tanda
gagal jantung atau bila diperkirakan bahwa penderita
akan dirawat lama.
Pada infark miokard akut yang ST elevasi > 12 jam
diberikan Heparin bolus iv 5.000 unit dilanjutkan drip
10.000 IU/12 jam. Antikoagulan oral diberikan 3 bulan.8

PCI (percutaneous coronary intervention)


Terapi PCI ini memiliki tingkat pengembalian aliran
darah sampai 90 % kasus dan menurunkan risiko
perdarahan intrakranial dan syok.
Kasus STEMI pada pasien usia lebih dari 75 tahun dan
pasien yang memiliki kontraindikasi fibrinolitik sebaiknya
dilakukan PCI

Identitas Pasien
Nama
JK

: Tn. KG
: Pria

Umur
Alamat
Masuk RS

: 41 tahun
: Jalan Melati Kecamatan Kandis Kab. Siak
: 3 Desember 2014

Pemeriksaan: 4 Desember 2014

ANAMNESIS

autoanamnesa
Keluhan Utama
Nyeri dada kiri menjalar kepunggung kiri sejak 1 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
1 hari SMRS pasien mengeluhkan nyeri dada sebelah kiri, nyeri datang
mendadak, nyeri seperti terbakar, nyeri menjalar kepunggung kiri,
disertai keringat dingin, mual muntah (-), pasien merasa sulit untuk
bernapas, nyeri tidak berkurang jika beristirahat. Pasien dibawa ke
puskesmas kandis, diberikan terapi sementara dan dirujuk ke RSUD AA

Riwayat Penyakit
Keluarga
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat hipertensi (+) baru diketahui 6 bulan yang lalu


dengan TD 160/90, pasien minum obat herbal.

Nyeri dada sebelumnya (-)

Riwayat penyakit hipertensi (-)

Riwayat DM(-) Asma (-)

Riwayat keluhan yang sama (-)

Riwayat Maag (-) Riwayat Batuk (-), Trauma Dada (-)

Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, dan


kebiasaan
Guru Sekolah
Riwayat merokok (+) 1-2 bungus 1 hari
Jarang berolah raga.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Kesadaran : komposmentis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 70 x/menit
Nafas : 18 x/menit
Suhu: 36,90C aksila
BB : 65 kg
TB : 170 cm
BMI : 22,5

Kepala dan Leher


Mata

: Konjungtiva tidak anemis


Sklera tidak ikterik
Arcus senilis (-)
JVP 5-2 cmH2O

Tyroid

: Tidak ada pembesaran

Thoraks Paru
Inspeksi

: gerakan dinding dada simetris kanan kiri

Palpasi : vokal fremitus simetris kanan kiri


Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi: vesiculer (+/+), Ronkhi basah basal paru (-/-), wheezing (-/-)
Thoraks Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : ictus cordis tidak teraba


Perkusi : batas jantung kiri SIK V linea mid clavikula sinistra
batas jantung kanan SIK V linea parasternal dekstra
Auskultasi: s1 dan s2 reguler. Murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: perut datar, scar (-)

Auskultasi: Bising usus dalam batas normal


Perkusi : Tympani di semua kuadran abdomen.
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas
atas oedem (-/-)
bawah oedem (-/-)
akral hangat, capillary refill time 2 detik, sianosis (-)

Darah Rutin

Leukosit : 17,900 g/ul

Hb: 13.2 g/dl

Ht: 45,4%

PLT: 303x103/ul

Elektrolit

Kimia darah

Glu
Ure
Cre
AST
ALT

:
:
:
:
:

128 mg/dl
18,8 mg/dl
0,83 mg/dl
40,4 U/l
21 U/l

Na : 140 mmol/l

K+

: 3,5 mmol/l

Ca

: 0,65 mmol/l

Pemeriksaan Enzim Jantung Troponin I = 30 ug/L

Interpretasi EKG
Irama = Sinus Rythm
Frekuensi = 65 rpm
Axis = Normal Axis
Gel. P = P normal
Interval PR = normal
Gel. Q = Q patologis di v2, v3, v4
Gel. R = normal
Gel. S = normal
Kompleks QRS = normal
Segmen ST = ST Elevasi di lead I, aVL, V2-V6
Kesan

: Infark Miokard Akut Anterior Ektensif dengan Elevasi segamen ST

Resume
Tn. KG 41 tahun datang dengan keluhan nyeri dada khas infark yaitu
nyeri dada sebelah kiri, nyeri datang mendadak, nyeri seperti terbakar,
nyeri menjalar kepunggung kiri, disertai keringat dingin,
Dengan faktor resiko Riwayat merokok (+) 1-2 bungkus per hari
Jarang berolah raga ditambah dengan Hipertensi derajat II
Ditambah perubahan dari hasil EKG dengan gambaran : ST elevasi di
lead I, aVL, V2-V6
Laboratorium : leukositosis : Leukosit : 17,900 g/ul

Daftar masalah
1. Acute STEMI dengan Infark Anterior Ektensif
2. Hipertensi grade II
3. leukositosis

Tatalaksana
Non farmakologis
Bed rest
Oksigen 4 liter Nasal canul
Diet makanan tinggi lemak dan garam.
Farmakologis
ISDN 3x 5 mg
Aspilet 1x 80mg
Clopidogrel 1x75mg
Alprazolam 1x0,25mg
Ciprofloxacin 1x500mg inj

PEMBAHASAN

Pasien Tn.KG, 58 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan


nyeri dada sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS).
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa pada pasien ini mengalami infark miokard akut
anterior ekstensif dengan ST elevasi.
Berdasarkan anamnesis didapatkan pasien mengeluhkan
nyeri dada khas infark yaitu nyeri seperti ditekan benda
berat pada dada sebelah kiri, bersifat nyeri tumpul dan
berlangsung sekitar 10-30 menit. Nyeri dirasakan pasien
bahkan saat istirahat, ini tergolong angina kelas IV
berdasarkan CCS (canadian cardiovascular society). Pasien
juga memiliki faktor risiko berupa kebiasaan merokok 1-2
bungkus sehari sejak muda dan kurang olahraga.

Dari pemeriksaan fisik jantung didapatkan


kesan kardiomegali. Kesan kardiomegali juga
didukung oleh hasil rontgen thorax. Hal ini dapat
berkaitan dengan riwayat hipertensi pada
pasien.
Dari pemeriksaan EKG didapatkan infark
miokard anterior ekstensif. Hal ini dibuktikan
dengan adanya gambaran ST elevasi di lead I,
aVl, dan V2-V6. Adanya Q patologis berkaitan
dengan waktu diambilnya gambaran EKG yaitu
1-2 hari setelah onset serangan.

Keluhan nyeri dada pada pasien terjadi karena oklusi


lumen arteri koroner yang mendadak sehingga
mengganggu aliran darah ke distal dan menyebabkan
infark pada miokard. Pada pasien ini acute STEMI terjadi
karena aliran darah koroner menurun secara mendadak
setelah oklusi thrombus total pada plak aterosklerotik
yang sudah ada sebelumnya.
Terapi pasien ini yaitu pemberian oksigen, ISDN,
aspilet, clopidogrel, . Pemberian obat vasodilator pada
pasien ini berupa pemberian ISDN yaitu untuk
mengurangi preload jantung dengan meningkatkan
kapasitas vena sehingga dapat menurunkan kebutuhan
oksigen miokard dan meningkatkan suplai oksigen
miokard dengan cara dilatasi pembuluh koroner yang
terkena infark atau pembuluh kolateral. Aspilet dan
clopidogrel merupakan antitrombotik yang bekerja
menghambat pembentukan trombus. Ranitidin
diberikan untuk mencegah efek gastrointestinal aspirin.

Anda mungkin juga menyukai