Anda di halaman 1dari 22

Referat

Aotopsi Infantisidea

Dzulkifli
Moh.fadli

Pendahuluan
Forensik biasanya selalu dikaitkan
tindak pidana (tindak melawan hukum).

dengan

Kematian pada masa bayi dan perinatal


seringkali terjadi, baik secara wajar(natural death)
maupun tidak wajar (unnatural death).
Dokter dan ahli patologi forensik diperlukan
untuk memeriksa keadaan neonatus dan bayi
untuk
mengetahui
beberapa
kemungkinan
penyebab
kematiannya.
Untuk
mewaspadai
terhadap
kemungkinan
kematian
akibat
kecelakaan atau kejahatan.

Kematian bayi akibat pembunuhan


merupakan sesuatu yang umum bagi
setiap perbuatan merampas nyawa bayi
di luar kandungan.
infanticidea dalah tindakan merampas
nyawa bayi yang belum berumur satu
tahun oleh ibunya saat dilahirkan atau
tidak lama kemudian dengan motivasi
takut ketahuan telah melahirkan anak.

Untuk menentukan Kematian bayi


sebagai kasus infanticide maka
perlu diketahui hal-hal sebagai
berikut :
1. Apakah bayi lahir hidup atau
lahir mati?
2. Apakah sudah terdapat tandatanda perawatan?
3. Apa penyebab kematian bayi?

Tinjauan Pustaka
2.1 Otopsi Forensik
2.1.1 Definisi
Pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang
meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar
maupun dalam, dengan tujuan menemukan
proses penyakit dan atau adanya cedera,
melakukan interpretasi atas penemuanpenemuan
tersebut,
menerangkan
penyebab kematian serta mencari hubungan
sebab akibat antara kelainan-kelainan yang
ditemukan dengan penyebab kematian .

Hal-hal yang terkait dengan


pemeriksaan otopsi
Riwayat

medis dan keadaan keadaan yang


berhubungan dengan kematian.
Pengumpulan dan pendokumentasian barang bukti
Fotografi dan pencatatan luka.
Pemeriksaan luar
Pemeriksaan organ-organ dalam tubuh
Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan laboratorium dan toksikologi
Pencatatan hasil pemeriksaan dengan detail, temuan
positif dan negatif, dan menyimpulkan sebab dan
mekanisme kematian.
Memperbaiki tubuh jenazah sebelum diserahkan pada
keluarga.
Pembuatan laporan.
Menjadi saksi di persidangan bila diperlukan.

2.1.2 Jenis-jenis autopsi


berdasarkan tujuan
Autopsi Klinik.
b. Autopsi Forensik/Medikolegal.
c. Autopsi anatomi
a.

2.1.3 Teknik Autopsi Forensik


Pemeriksaan luar
2. Pemeriksaan dalam
1.

2.1.4 Faktor-faktor penghambat


autopsi forensik
Masalah

administratif
Hasil/laporan autopsi yang
membutuhkan waktu
Keluarga yang takut akan mutilasi
Penundaan penguburan
Ketidaksetujuan pasien sebelum
meninggal untuk di autopsi
Agama
Etnik
Tingkat pengetahuan

2.2 Sejarah Infanticide


Pada tahun 570-632 SM, kasus
infancide ditemukan di:
1. Daratan Arab, Bangsa Persia
2. 30,5 juta bayi perempuan di
Cina; 22,8 juta di India; 3,1 juta
di Pakistan; 1,6 juta di
Bangladesh.
Kemudian tahun 1966 di
amerika serikat ditemukan 10920

2.3 Hukum yang Mengatur


Infanticide
Hukum yang mengatur masalah
pembunuhan bayi berbeda-beda pada tiap
negara.
Di Indonesia, dikenal dua istilah yang
berhubungan dengan pembunuhan bayi
yaitu.
1.Kinderdoodslag ( pasal 341 KUHP)
2.Kindermoord ( pasal 342 KUHP)
3. Penjelasan tentang 2 kasus diatas
(pasal 343 KUHP)

2.4 Proses Penyidikan Pembunuhan


Bayi
Proses penyidikan tindak pidana pembunuhan
bayi oleh Peradilan Pidana (Criminal JusticeSystem)
yang terdiri dari:
1. Polri (Penyidik)
2. Jaksa (Penuntut)
3. Pengadilan/Hakim (pemutus perkara)
Untuk proses tersebut dibutuhkan norma yang
harus ditaati oleh para penegak hukum atau para
pemelihara hukum yaitu :
.Kemanusiaan
.Keadilan
.Kejujuran,

2.5 Peran Bagian Ilmu


Kedokteran Forensik pada
Pembunuhan Kasus Bayi
Berdasarkan Pasal 183 dan Pasal 184
KUHAP. Inti dari Peran Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik pada Pembunuhan
Kasus Bayi adalah :
1. Menentukan apakah bayi yang
ditemukan lahir hidup atau lahir mati
2. Menentukan apakah sudah dilakukan
perawatan /belum,
3. Menetukan umur bayi.

2.6 Pemeriksaan Jenazah


Bayi
Tujuan pemeriksaan jenazah bayi
yang diduga kasus infantiside
adalah
1. untuk menjelaskan perkiraan
umur bayi dalam kandungan,
2. kemampuan hidup diluar
kandungan,
3. lahir hidup,
4. bayi sudah dirawat atau belum,
5. penyebab dan mekanisme

Irisan kulit pada jenazah bayi


disesuaikan dengan kasus yang
dihadapi.
Pada umumnya tekhnik irisan I
lebih sering digunakan pada bayi matur,
Namun untuk bayi premature atau
lebih kecil lagi dapat digunakan tekhnik
irisan Y terbalik.

Perkiraan
umur
dalam
kandungan melalui pemeriksaan
antropometri.
Kemampuan hidup diluar
kandungan
dipertimbangkan
dengan tingkat kematangan serta
ada atau tidaknya cacat berat
yang
akan
mengganggu
kehidupannya.

Lahir Hidup atau Lahir


Mati

Penentuan lahir hidup adalah bagian yang


tersulit. Pemeriksa hanya dapat menjelaskan
adanya tanda-tanda paru sudah pernah
berfungsi.

1.
2.
3.
4.
5.

Pemeriksaan yang dilakukan dapat secara:


Makroskopis
pemeriksaan docimacia pulmonum
hidrostatika positif,
tes Breslau positif,
tes wreden-wendt positif serta
gambaran mikroskopis

Sebab Kematian Bayi


a.

Kematian yang wajar disebabkan oleh:

1.

kerusakkan otak saat dilahirkan,


prolaps tali pusat yang menyebabkan kurangnya
aliran oksigen,
kelainan plasenta,
infeksi intrauteri (misal pneumonia),
kelainan darah,
trauma kranial akibat persalinan,
infeksi ekstra-uterine (misalnya sepsis umbilikal),
perdarahan masif pada paru-paru, dan
sebagainya. hidup

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

b.

kematian tidak wajar paling sering


disebabkan oleh:

1.

pemukulan,
pembekapan,
pencekikan, dan
penjeratan.
Cara lain yang tidak begitu sering adalah menusuk,
menggorok leher, ataumenenggelamkan bayi.
Sedangkan cara yang sangat jarang dilakukan
adalahmembakar, menyiramkan cairan panas,
memberikan racun, memuntir kepala, atau
mengubur bayi

2.
3.
4.
5.
6.


Pemeriksaan terhadap mayat bayi

a. Pemeriksaan luar
2.

Bayi cukup bulan, prematur, atau non-viabel.


Kulit sudah dibersihkan atau belum

3.

Mulut, apakah tersumbat benda asing.

1.

Tali pusat
5. Kepala
6. Tanda kekerasan berupa pembekapan di
sekitar mulut dan hidung, memarpada
mukosa bibir dan pipi, tanda pencekikan
dan jerat, memar atau lecetpada tengkuk
dan lain-lain.
4.

b. Pembedahan mayat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Leher, adakah tanda penekanan,resapan darah pada


kulit sebelah dalam.
Mulut, apakah terdapat benda asing, robekan
palatum molle.
Rongga dada, pemeriksaan makroskopik paru,
pemeriksaan histopatologik paru dan tes apung paru.
Tanda asfiksia, Tardieus spots pada permukaan paru,
jantung, timus,dan epiglotis.
Tulang belakang, apakah terdapat kelainan
kongenital atau tandakekerasan.
Pusat penulangan pada distal femur, proximal tibia,
kalkaneus, talus,kuboid.
Kepala, kulit kepala disayat dan dilepaskan seperti
pada orang dewasa.

Terima kasih