Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS RESEP

ANTISKABIES
KELOMPOK 7
ANGGOTA :
Gusrita Ayu (2015001214)
Kevin Sandy Filbert (2015001224)
Fenna Meriyani (2015001284)
Juliana Maulina (2015001294)
Mutia Safarina (2015001304)

DEFINISI

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh


tungau Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas
Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya
bisa dilihat dengan mikroskop atau bersifat mikroskopis.
Penyakit skabies sering disebut kutu badan

MANIFESTASI KLINIS
1) Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena
aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab.
2) Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah
keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi
3) Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
bewarna putih keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, ratarata
panjang satu cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel
4) Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik dapat ditemukan
satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
5) Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada
kulit yang umumnya muncul disela-sela jari, siku, selangkangan dan lipatan
paha, dan muncul gelembung berair pada kulit

CARA PENULARAN

Kontak langsung

Tidak langsung

PENATALAKSANAAN PENGOBATAN

umum

Beberapa syarat pengobatan yang harus


diperhatikan:
Semua anggota keluarga harus diperiksa
dan semua harus diberi pengobatan secaa
serentak.
Higiene perorangan
Semua perlengkapan rumah tangga
seperti bangku, sofa, sprei, bantal, kasur,
selimut harus dibersihkan dan dijemur
dibawah sinar matahari selama beberapa
jam.

khusus

Dengan menggunakan obat-obatan anti skabies


yang tersedia dalam bentuk topikal antara lain:
krim atau salep sulfur
Emulsi benzil-benzoas
Gama benzena heksa klorida (gameksan =
gammexane)
krim atau lotion Krotamiton
krim Permetrin

ANALISIS RESEP

PERSYARATAN
ADMINISTRASI
PERSYARATAN
FARMASETIK

PERSYARATAN KLINIS

Ketepatan indikasi, dosis, dan kontraindikasi


Scabimite cream (MIMS 2015 hal: 411)
Kandungan
: permethrin
Indikasi
: scabies
Dosis
: 1x/hr malam
Kontra indikasi : hipersensitif terhdap permetrin
dan sintesis piretroid atau
piretrin
Efek Samping : dapat menimbulkan rasa panas
seperti terbakar, gatal. Eritem,
serta
hipertensi yang sifatnya
ringan dan
sementara.
Cara penggunan : ulaskan pada tubuh dan
bersihkan setelah 8-24 jam,
anak
: ulaskan pada tubuh
termasuk
wajah, leher, kulit
kepala dan telinga.
Dosis dalam R/ : 5% sesuai dosis standar.

Cetirizine(IONI 2001 hal: 113)


Kandungan : Cetirizin
Indikasi
: gejala alergi seperti hay
fever, urtikaria
Dosis
: dws dan anak > 6 thn
10 mg/hr atau 5 mg 2x
sehari. Anak
< 6 thn
tidak di anjurkan.
Kontra indikasi
: hamil, menyusui.
Efek samping : hipersensitif.
Dosis dalam R/
: 10 mg 1x/hr sesuai
dosis standar.

Lanjutan
CTM (IONI 2001 hal: 114)
Kandungan : klorfeniramin maleat
Indikasi
: gejala alergi seperti hay fever, urtikaria, pengobatan
darurat reaksi anafilaktik.
Dosis
: oral 4 mg tiap 4-6 jam, maksimal 24 mg/hr. Anak <1 thn
tidak di anjurkan, 1-2 thn 1mg 2x/hr, 2-5 thn 1 mg tiap 4-6
jam, maksimal 6 mg/hr, 6-12 thn 2 mg tiap 4-6 jam
maksimal 12
mg/hr.
Kontra indikasi
: serangan asma akut, bayi prematur.
Efek samping : sedasi, gangguan saluran cerna, efek antimuskarinik,
hipotensi, kelemahan otot, tinnitus, euforia, nyeri kepala,
stimulasi
SSP, reaksi alergi, kelainan darah.
Interaksi
: alkohol, depresan SSP, anti kolinrgi, penghambat MAO.
Dosis dalam R/
: dosis maksimal 24 mg/hr.

Perhitungan Dosis
Dosis usia 15 tahun = 85% dosis dewasa
Scabimite 5%
= 85/100 x 5% = 4,25%
Cetirizin
= 85/100 x 10 mg = 8,5 mg
CTM
= 85/100 x 4 mg = 3,4 mg

IDENTIFIKASI DRP
Duplikasi
CTM dan Cetirizin dengan indikasi yanng sama yaitu antihistamin.

Solusi DRP
CTM tidak perlu di berikan cukup cetirizin saja karena cetirizin merupakan
antihistamin generasi 2 yang mempunyai efek samping lebih rendah (efek
kantuk rendah) dan lebih efektif (penggunaan hanya sekali) dibandingkan
dengan CTM.

Penanganan DRP
Memberitahu dokter masalah terkait obat tersebut dan solusinya
Jika dokter setuju, CTM tidak perlu di berikan
Jika dokter tidak setuju, minta tanda tangan dokter

PERHITUNGAN HARGA
Scabimite
HNA
: Krim tube 10 g Rp. 36.300
HJA : Rp. 36.300 x 1.1 x 1.3 x 1 = Rp. 51.909 = Rp. 52.000
Total
: Rp. 52.000 + pelayanan (Rp. 1000)
Rp. 53.000
Cetirizin
HNA
: 1 box 10x10 Rp. 26.000 = Rp. 260/tab
HJA : Rp. 260 x 1.1 x 1.3 x 10 tablet = Rp. 3.718 = Rp. 3.700
Total
: Rp. 3.700 + pelayanan (Rp. 1.000)
Rp. 3.800
CTM
HNA
: 1 botol (1000 tab) Rp. 36.960 = Rp. 39,96/tab
HJA : Rp. 36.96 x 1.1 x 1.3 x 10 tablet = Rp. 528,53 = Rp. 500
Total
: Rp. 500 + pelayanan (Rp. 1.000)
Rp. 1.500
Total yang harus dibayar

Rp. 58.300

PEMBUATAN

1) Siapkan Scabimite krim 10 g, Cetirizin tablet 1 strip,


CTM tablet 10 tablet
2) Kemudian beri etiket pada masing-masing obat dengan
jelas, tepat dan dapat dibaca.
3)Cek kembali dengan orang yang berbeda.

ETIKET

PENYERAHAN OBAT

1) Kontrol kesesuaian nomor R/ pada masing-masing etiket, nama pasien, nama dokter
2) Panggil nama pasien sesuai yang tertera pada etiket dan R/ dan meminta pasien untuk
menyerahkan nomor resep yang sama dengan yang terdapat di R/
3) Memberikan informasi tentang penggunaan obat, khasiat, cara penyimpanan, efek
sampingnya.
Scabimite
Oleskan pada tubuh yang terkena kudis sehari sekali pada malam hari dan bersihkan
setelah 8-24 jam.
Cetirizin
Diminum 1x 1 tablet pada pagi hari. Dapat menyebabkan kantuk hati-hati bila
sedang mengendarai kendaraan.
CTM
Diminum 1x 1 tablet pada malam hari. Dapat menyebabkan ngantuk.
Sebaiknya disimpan pada tempat lemari obat yang khusus untuk menyimpan obat dan
jauhkan dari jangkauan anak-anak serta hindarkan obat dari sinar matahari langsung
dan udara panas.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI).
Jakarta.
Anonim. 2015. MIMS Petunjuk Konsultasi Indonesia edisi 14. Jakarta: BIP.
ISO 48
BMJ Group. 2014. British National Formulary 67. UK: Pharmaceutical press.
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Pencegahan Lingkungan, Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagi
Penderita Skabies, Jakarta.2004.
Penyakit Menular dan Pencegahan Lingkungan, Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan
Pengobatan bagi Penderita Skabies, Jakarta.2004
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Pencegahan Lingkungan, Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagi
Penderita Skabies, Jakarta.2004.