Anda di halaman 1dari 23

ASKEP PRE EKLAMSIEKLAMSI

Muhammad Rahmat Radhiani


Bayu Adi Saputra
Hj. Siti uswatun hasanah
JURUSAN KEPERAWATAN

Definisi
Preeklamsia atau pregnancy-induce
hypertension (PIH) merupakan suatu sindrom dg
karakteristik hipertensi, proteinuria, dan edema.
Preeklamsi sering kali terjadi pada kehamilan
diatas 20 minggu dan dapat berlanjut sampai
postpartum, selama persalinan, atau selama 48
jam pertama post partum.
Preeklamsia dapat berlanjut menjadi eklamsia
(kejang)

Komplikasi maternal yang dapat


terjadi meliputi ganggaun
cerebrovaskuler, edema serebral,
abruptio plasenta, disfungsi renal
dan hati, IUGR.
Penanganan PIH bertujuan untuk
mengontrol preeklamsi,
meminimalisasi resiko eklamsia,
mempertahankan vetus sampai
viabel, dan mempertahankan
homeostasis maternal

Etiologi dan Faktor


presipitasi

Penyebab vasospasme dan


hipertensi blm diketahui.
Faktor resiko : primigravida, usia
ibu <17th atau >35th, riwayat
keluarga dengan PIH, kehamilan
ganda atau hidramnion, DM,
penyakit ginjal, mola hidatidosa
dan hydrops fetalis

PENGKAJIAN
Pemeriksaan Fisik
Kardiovaskuler :
Sistolik : 140 mmHg/>, meningkat 30
mmHg/>
diastolik : 90 mmHg/>, meningkat 15
mmHg/>
Genitourinary
proteinuria (+1/>)
oliguria (PIH parah)

Neurologi
nyeri kepala (PIH lanjut)
gangguan penglihatan (PIH tahap lanjut)
hyperrefleksi (PIH lanjut)
kejang (PIH lanjut)

Subjektif :
Nyeri pada epigastrik atau abdominal kanan
atas

Tes Diagnostik

USG : IUGR
Urinalisis : protein +
Serum total protein dan
albumin
Hematokrit (HCT)
Asam urat
Blood urea nitrogen (BUN) dan
kreatinin
Bilirubin
Platelet

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko injuri pada maternal b.d. disfungsi
organ atau system akibat skunder dari
vasospasme dan peningkatan tekanan darah.
Tujuan 1 :
Tidak ada tanda-tanda injuri maternal
KH :
- Tekanan darah dalam batas normal
- tidak terdapat proteinuria
- tidak ada edema

Intervensi Tujuan 1 :
1. Monitor tekanan darah ibu
- gunakan lengan yang sama dan posisi ibu
yang sama setiap melakukan
pemeriksaan
tekanan darah
- cek kembali tekanan darah saat hamil
- monitor MAP (Mean Arterial blood Pressure)
ibu
2. Monitor adanya proteinuria pada ibu
3. Monitor adanya edema patologis nondependen,
terutama pada tangan dan wajah

Tujuan 2 :
Perkembangan PIH pada ibu minimal
atau tidak semakin parah
KH :
- BB tidak meningkat
- tidak ada tanda-tanda edema
- tidak ada pusing
- tidak ada gangguan visual

Intervensi Tujuan 2 :
1. Monitor BB ibu secara ketat
- ajarkan pada ibu untuk menimbang
BBnya setiap hari di rumah
- Anjurkan ibu diet tinggi protein selama
kehamilan yaitu 1g/kgBB/hr-1,5g/kgBB/hr
- Anjurkan pad aibu untuk
mempertahankan intake sodium secara
normal (2-6g/hari), hindari diet tinggi
sodium dan penggunaan diuretik

2. Monitor adanya edema pada ibu


1+ (2mm) : minimal edema pada kaki dan
daerah pretibial
2+ (4mm) : edema pada ekstremitas
bawah
3+ (6mm) : edema pada tangan, wajah,
dinding abdomen bawah dan sakrum
4+ (8mm) : edema seluruh tubuh disertai
asites (anasarka)
3. Anjurkan ibu bed rest di rumah, anjurkan
posisi lateral recumbert jika
memungkinkan

4. Anjarkan pada ibu dan keluarga mengenali


tanda-tanda progresif PIH :
- nyeri kepala pada daerah frontal atau oksipital
dan tidak membaik dengan menggunakan
analgesik umum
- ganggaun visual : dari buram sampai terjadi
kebutaan
- hiperrefleksia
- penurunan urine output
- nyeri epigastrik atau abdomen atas
- gangguan sensori
- perdarahan pervagina, kaku pada abdominal
dan uterus, nyeri, dan tidak ada pergerakan
fetus.

Tujuan 3 :
Ibu mendapatkan perawatan selama terjadi PIH
yang progresif
KH :
Pemberian cairan parenteral (IV)
Kateterisasi urin
Monitor keadaan fisik secara ketat
Intervensi tujuan 3 :
1.
Lakukan pemeriksaan tekanan darah setiap 4
jam, menggunakan cuff yang sama pada
lengan yang sama dan posisi ibu yang sama
2. Berikan cairan per iv dengan menggunakan
jarum besar

3. Timbang BB perhari dan monitor adanya


edema
4. Lakukan pemasangan foley kateteter
5. Monitor fungsi renal perjam, al :
- urin output
- kadar protein dengan menggunakan dipstick
1+ : 30mg/dl
2+ : 100 mg/dl
3+ : 300 mg/dl
4+ : 2.000 mg/dl atau lebih
6. Monitor hasil lab : creatinin, BUN,
AST,bplatelet dan HCT

7. Monitor tanda-tanda yang mengarah pada


penurunan kondisi ibu :
- nyeri kepala
- gangguan visual
- hiperrefleksia
- penurunan urine output
- nyeri epigastrik atau perut bagian atas
- ronchi, dipsnea
- perdarahan pervagina, abdominal atau
uterus terasa kaku atau nyeri, perubahan
pergerakan pada fetus dan koagulopathy
8. Monitor kesejahteraan bayi
9. Kolaborasi pemberian vasodilator hydralazine
(apresoline) dan monitor DJJ, tekanan darah
ibu dan nadi ibu

Tujuan 4 :
Tidak terjadi kejang pada ibu
Intervensi tujuan 4 :
1. Kolaborasi pemberian MgSO4/iv dan
pemberian injeksi di bokong
2. Monitor efek samping pemberian MgSO4
- tekanan darah : setiap menit atau kontinue
selama pemberian MgSO4
- refleks patela : negatif jangan berikan
obat
- Respirasi : < 16x/mnt jangan berikan obat
3. Urine output

4. Pertahankan ibu agar tidak terjadi


kejang
- tempatkan ibu pada tempat yang
tenang, pembatasan pengunjung,
ruang yang redup
- berikan side rails untuk keamanan ibu
- siapkan alat bantu airway

Tujuan 5 :
Ibu (klien) aman selama dan setelah kejang
Intervensi tujuan 5 :
1. Posisi perawat disamping klien, tidak
melakukan restrikasi selama kejang,
pemberian oksigen, dan suction jika perlu
2. Monitor adanya crakles, ronchi, dypsnea,
dan hemoptisis, berikan iv line
3. Jaga klien setelah kejang

2. Resiko fetal injuri b.d gangguan perrfusi


maternal-plasental
Tujuan 1 :
Tidak terdapat tanda-tanda injuri pada
fetus.
KH :
- DJJ Positif
- aktifitas fetus normal
- pertumbuhan janin normal

Intervensi Tujuan 1 :
1. Setiap kunjungan, lakukan
pemeriksaan :
- TFU
- pergerakan janin
2. Konfirmasi dengan melakukan
pemeriksaan USG
3. Lakukan pemeriksaan NST

Tujuan 2 :
Ibu melahirkan bayi yang viabel dengan
selamat
Intervensi tujuan 2 :
1. Lakukan pengkajian ibu secara kontinue
2. Siapkan persalinan SC jika induksi tidak
berhasil
3. Konsultasi dengan bagian obstetrik dan
neonatal saat persalinan

TAMAT
THANKS
FOR
WATCH