Anda di halaman 1dari 20

KELOMPOK 14

EFA ANJAR RIANTI


INTAN RATNA SARI
SARI MULIA

IBU HAMIL
TERINFEKSI HIV / AIDS

Pengertian HIV/AIDS
Menurut Andy (2011), Acquired Immunodeficiency
Syndrome atau Acquired Immune Deficiency
Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi
(sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan
tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.
Virus penyebab adalah Human Immunodeficiency
Virus (HIV) merupakan virus yang secara progresif
menghancurkan sel-sel darah putih, sehingga melemahkan
kekebalan manusia dan menyebabkan AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome).
Orang yang terinfeksi virus ini menjadi rentan terhadap
infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor/kanker.
Meskipun penanganan yang ada dapat memperlambat laju
perkembangan virus, namun penyakit ini belum bisa
disembuhkan.

Virus HIV menyerang sel


putih dan menjadikannya tempat
berkembang biaknya Virus.
Sel darah putih sangat
diperlukan untuk sistem
kekebalan tubuh. Tanpa
kekebalan tubuh maka ketika
tubuh kita diserang penyakit,
Tubuh kita lemah dan tidak
mampu melawan penyakit yang
datang dan akibatnya kita dapat
meninggal dunia meski terkena
influenza atau pilek biasa

Ketika tubuh manusia terkena


virus HIV maka tidaklah langsung
menyebabkan atau menderita penyakit
AIDS, melainkan diperlukan waktu yang
cukup lama bahkan bertahun-tahun
bagi virus HIV untuk menyebabkan
AIDS atau HIV positif yang mematikan
(Andy 2011).
Menurut Ayu (2012), HIV, virus
penyebab AIDS, juga dapat menular
dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya.
Infeksi dapat terjadi kapan saja
selama kehamilan, namun biasanya
terjadi beberapa saat sebelum atau
selama persalinan.

Bayi lebih mungkin terinfeksi bila


proses persalinan berlangsung lama.
Selama persalinan, bayi yang baru lahir
terpajan darah ibunya. Meminum air susu
dari ibu yang terinfeksi dapat juga
mengakibatkan infeksi pada si bayi.
AIDS bukan penyakit turunan, oleh
sebab itu dapat menulari siapa
saja.Virusnya sendiri bernamaHIV yaitu
virus yang memperlemah kekebalan pada
tubuh manusia. Orang yang terkena virus
ini akan menjadi rentan terhadapinfeksi
oportunistik ataupun mudah
terkenatumor.

Gejala-gejala Penyakit HIV/AIDS


Seseorang yang terkena virus HIV
pada awal permulaan umumnya tidak
memberikan tanda dan gejala yang
khas, penderita hanya mengalami
demam selama 3 sampai 6 minggu
tergantung daya tahan tubuh saat
mendapat kontak virus HIV tersebut.
Setelah kondisi membaik, orang yang
terkena virus HIV akan tetap sehat
dalam beberapa tahun dan perlahan
kekebelan tubuhnya menurun/lemah
hingga jatuh sakit karena serangan
demam yang berulang.

Adapun tanda dan gejala


yang tampak pada penderita
penyakit AIDS seperti
terganggunya :
1. Saluranpernafasan
2. Saluranpencernaan
3. Berat badan tubuh
4. System Persyarafan
5. System Integument (Jaringan
kulit
6. Saluran kemih dan
Reproduksi pada wanita

Penularan Penyakit HIV/AIDS


1.Transmisi Seksual
2 .Transmisi Non Seksual

Transmisi Parenral
Transmisi Transplasental

3 .Penularan Masa Prenatal

Kehamilan
Melahirkan
Menyusui

Penanganan Penyakit HIV/AIDS


Sampai saat ini tidak
adavaksinatau obat untukHIVatau
AIDS. Metode satu-satunya yang
diketahui untuk pencegahan didasarkan
pada penghindaran kontak dengan virus.
Hingga saat ini penyakit AIDS tidak
ada obatnya termasuk serum maupun
vaksin yang dapat menyembuhkan
manusia dari Virus HIV penyebab
penyakit AIDS.
Adapun tujuan pemberian obatobatan pada penderita AIDS adalah
untuk membantu memperbaiki daya
tahan tubuh, meningkatkan kualitas
hidup bagi meraka yang diketahui
terserang virus HIV dalam upaya
mengurangi angka kelahiran dan
kematian(Yopan, 2012).

Cara Untuk
Menangani
HIV/AIDS :
1. Terapi Anti Virus
2. Penanganan
eksperimental dan
saran
3 . Pengobatan
alternatif

Pencegahan Penyakit
HIV/AIDS pada ibu hamil
1. Penggunaan antiretroviral
selama kehamilan
2. Penggunaan antiretroviral
saat perasalinan dan
bayi
bayi yang baru dilahirkan
3. Penatalaksanan selama
menyusui

Bayi dari ibu yang terinfeksi


HIV memperlihatkan antibody
terhadap virus tersebut hingga 10
sampai 18 bulan setelah lahir
karena penyaluran IgG anti-HIV ibu
menembus plasenta. Karena itu,
uji terhadap serum bayi untuk
mencari ada tidaknya antibodi
IgG ,erupakan hal yang sia-sia,
karena uji ini tidak dapat
membedakan antibody bayi dari
antibody ibu.
Sebagian besar dari bayi ini,
seiring dengan waktu, akan
berhenti memperlihatkan antibody
ibu dan juga tidak membentuk
sendiri antibody terhadap virus,
yang menunjukkan status
seronegatif.

Pada bayi, infeksi HIV sejati


dapat diketahui melalui
pemeriksaan-pemeriksaan
seperti biakan virus, antigen
p24, atau analisis PCR untuk
RNA atau DNA virus.
PCR DNA HIV adalah uji
virologik yang dianjurkan
karena sensitive untuk
mendiagnosis infeksi HIV
selama masa neonatus .

Selama ini, mekanisme penularan


HIV dari ibu kepada janinnya masih
belum diketahui pasti. Angka penularan
bervariasi dari sekitar 25% pada
populasi yang tidak menyusui dan tidak
diobati di negara-negara industri
sampai sekitar 40% pada populasi
serupa di negara-negara yang sedang
berkembang. Tanpa menyusui, sekitar
20% dari infeksi HIV pada bayi terjadi in
utero dan 80% terjadi selama
persalinan dan pelahiran.

Penularan pascapartus dapat terjadi melalui


kolostrum dan ASI dan diperkirakan menimbulkan
tambahan risiko 15% penularan perinatal
factor ibu yang berkaitan dengan peningkatan
risiko penularan mencakup penyakit ibu yang
lanjut, kadar virus dalam serum yang tinggi,

Selain pemberian zidovudin oral kepada ibu positif HIV selama masa
hamil, tindakan-tindakan lain yang dianjurkan untuk mengurangi risiko
penularan HIV ibu kepada anak antara lain:
1. Seksio sesaria sebelum tanda-tanda partus dan pecahnya ketuban
(mengurangi angka penularan sebesar 50%);
2. Pemberian zidovudin intravena selama persalinan dan pelahiran;
3. Pemberian sirup zidovudin kepada bayi setelah lahir;
4. Tidak memberi ASI

Kesimpulan :
AIDS merupakan masalah
kesehatan internasional yang
perlu segera ditanggulangi. AIDS
berkembang secara pandemi
hampir di setiap negara di Dunia,
termasuk Indonesia.
Sampai saat ini obat dan
vaksin untuk menaggulangi AIDS
belum ditemukan. Untuk itu
alternatif lain yang lebih
mendekati dalam upaya
pencegahan. Upaya pencegahan
dapat dilakukan oleh semua pihak
asal mengetahui cara-cara
penularan AIDS.

Penularan AIDS
terjadi melalui hubungan
seksual, parental dan
transplasental, sehingga
upaya pencegahan perlu
diarahkan untuk merubah
perilaku seksual
masyarakat (terutama
yang memilikiki resiko
tinggi), menghindari
infeksi melalui donor
darah, dan upaya
pencegahan infeksi
perinatal sebelum ibu
hamil. Perubahan perilaku
dilakukan dengan
penyuluhan kesehatan.

TERIMAKASIH