Anda di halaman 1dari 30

HERNIA NUKLEUS

PULPOSUS

OLEH: DR. I MADE SETIADJI


PEMBIMBING: DR. YOLANDA DESIRE
DOKTER INTERNSIP
RS TK. IV CIJANTUNG KESDAM JAYA

PORTOFOLIO
TOPIK
PENDAMPING
PRESENTAN
TANGGAL
KASUS
TANGGAL
PRESENTASI

HERNIA NUKLEUS
PULPOSUS
DR. YOLANDA DESIRE
DR. I MADE SETIADJI
8-11 JUNI 2016
22 JUNI 2016

OBJEK PRESENTASI

OBJEKTIF
BAHAN
PRESENTASI BAHASAN

CARA
MEMBAHAS

PENYEGARAN
DIAGNOSTIK
DEWASA

PRESENTASI
DAN DISKUSI

TINJAUAN
PUSTAKA

DATA PASIEN

NYERI
PUNGGUNG
SEJAK 1 BULAN
YANG LALU.
KELUHAN NYERI
PUNGGUNG
DIRASAKAN
TERUSMENERUS DAN
DIRASAKAN
SEMAKIN
MEMBERAT
SEJAK 1 HARI
YANG LALU.
PASIEN MERASA
NYERI
PUNGGUNG
SEPERTI
DITUSUK-TUSUK.
NYERI TIDAK
BERKURANG
KETIKA PASIEN

TTVTekanan
Darah: 130/90
mmHg, Nadi:
90x/menit,
Napas:
22x/menit,
Suhu: 36.8oC
PEMERIKSAAN
MOTOTORIK:
NILAI MOTORIK
EKSTREMITAS
ATAS 5 SERTA
MOTORIK
EKSTREMITAS
BAWAH NYERI.
PEMERIKSAAN
SENSORIK
JUGA
BERKURANG
PADA KEDUA
EKSTREMITAS.

HNP

AN UTAMA: NYERI PINGGANG SEJAK 1 BULAN YANG LALU

IVFD RL 0,9%
500ML/12 JAM
I.V.
INJ.
METHYLPREDNI
SOLONE 2 X
250MG I.V.
INJ. KETOROLAC
3 X 30MG I.V.
INJ. RANITIDINE
2 X 25MG I.V.
INJ.
OMEPRAZOLE 1
X 20MG I.V.
TAB. PERISONE
2 X 50MG P.O.
TAB.
GABAPENTIN 2
X 30MG P.O.
MECOBALAMIN
2 X 50MG

HIPOTESIS AWAL

DEGENE
RASI
SYNOVI
AL
OSTEOP
OROSIS
SPONDY
LOLISTH
ESIS
USIA

HNP
FRAKTU
R
KOMPRE
SI
VERTEB
RA
MUSCLE
TEAR
TRAUMA

TUMOR
JINAK
TUMOR
GANAS
METAST
ASE
NEOPLASMA

INFLAMASI

OSTEOM
IELITIS
ISK
INFEKSI
RENAL
SPONDI
LITIS

RIWAYAT PENGOBATAN
PERNAH DIRAWAT DI RUMAH SAKIT DENGAN KELUHAN SERUPA
YAITU NYERI PUNGGUNG PADA TAHUN 2012, DOKTER
MENYARANKAN UNTUK DILAKUKAN OPERASI, TETAPI PASIEN
MENOLAK.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
PASIEN MEMILIKI RIWAYAT PENYAKIT HNP CERVICAL PADA TAHUN
2008.
PASIEN MEMILIKI RIWAYAT GASTRITIS
RIWAYAT KELUARGA
TIDAK ADA RIWAYAT PENYAKIT SEPERTI DM, HIPERTENSI, HEPATITIS,
PENYAKIT JANTUNG DI KELUARGA.
RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
PASIEN SEORANG KEPALA RUMAH TANGGA MEMILIKI 2 ORANG ANAK, PASIEN
MERUPAKAN PNS KEMHAN, SUAMI PASIEN BERPANGKAT KAPTEN CKU.

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
Kiri
Kanan
Motorik
Pergerakan
Kekuatan
Tonus
Tropik
Refleks
Biceps
Triceps

+N
5-5-5-5
+N
Eutrof

+N
+N

Kanan

+N
5-5-5-5
+N
Eutrof

+N
+N

Kiri
Kanan
Motorik
Pergerakan
Kekuatan
Tonus
Kernig
Lasegue
Refleks
Patella
Babinski
Chaddock
Sensibilitas

Kanan

NYERI

NYERI

NYERI
5o

NYERI
10o

+
+
Hipoestesia
Hipoestesia
dermatom L4- dermatom L4S1
S1

DIAGNOSIS
FUNGSION
AL

BACK PAIN

DIAGNOSIS
ANATOMIS
HERNIA
NUCLEUS
PULPOSUS
C6-C7,
HERNIA
NUCLEUS
PULPOSUS
C4-5

DIAGNOSA
ETIOLOGI

BACK PAIN
E.C. HNP

TGL.

8 JUNI 2016

NYERI LEHER
NYERI PUNGGUNG
TERASA KEBAS DARI
PUNGGUNG SAMPAI
KAKI
HANYA BISA POSISI
TIDUR

TD

A
P

9 JUNI 2016

10 JUNI 2016

11 JUNI 2016

NYERI LEHER
NYERI PUNGGUNG
TERASA KEBAS DARI
PUNGGUNG SAMPAI KAKI
HANYA BISA POSISI TIDUR

NYERI LEHER
NYERI PUNGGUNG
TERASA KEBAS DARI
PUNGGUNG SAMPAI KAKI
SUDAH DAPAT MIRING
KANAN KIRI
COBA UNTUK DUDUK
MASIH SAKIT

NYERI LEHER
NYERI PUNGGUNG
TERASA KEBAS DARI
PUNGGUNG SAMPAI KAKI
BISA MIRING KANAN KIRI

HNP

HNP

HNP

HNP

RL/12 JAM
METHYLPRED 2 X
250MG
KETOROLAC 3 X 30MG
RANITIDINE 2 X 25MG
OMEPRAZOLE 1 X
20MG
PERISONE 2 X 50MG
P.O
GABAPENTIN 2 X
30MG P.O
MECOBALAMIN 2 X
50MG P.O

RL/12 JAM
METHYLPRED 2 X 250MG
KETOROLAC 3 X 30MG
RANITIDINE 2 X 25MG
OMEPRAZOLE 1 X 20MG
PERISONE 2 X 50MG P.O
GABAPENTIN 2 X 30MG P.O
MECOBALAMIN 2 X 50MG
P.O

RL/12 JAM
METHYLPRED 2 X 250MG
KETOROLAC 3 X 30MG
RANITIDINE 2 X 25MG
OMEPRAZOLE 1 X 20MG
PERISONE 2 X 50MG P.O
GABAPENTIN 2 X 30MG
P.O
MECOBALAMIN 2 X 50MG
P.O

RL/12 JAM
METHYLPRED 2 X 250MG
KETOROLAC 3 X 30MG
RANITIDINE 2 X 25MG
OMEPRAZOLE 1 X 20MG
PERISONE 2 X 50MG P.O
GABAPENTIN 2 X 30MG P.O
MECOBALAMIN 2 X 50MG
P.O

HASIL PEMBAHASAN
Penegakkan diagnosis Hernia Nukleus Pulposus
Tatalaksana Hernia Nukleus Pulposus

ASSESSMENT
Wanita + 51 tahun
Nyeri punggung

Faktor resiko:
-Penurunan Estrogen
-Proses Degeneratif

Penurunan sintesis
matrix oleh kondrosit

Berat badan 90kg


(Overweight)

Peningkatan beban pada


daerah lumbal sebagai
penopang

Faktor mekanik:
Kebiasaan posisi
duduk yang salah

Kelemahan pada
lapisan annulus
fibrosus

Herniasi nukleus
pulposus
Hasil MRI:
HNP Cervical C6-7
HNP Lumbal L4-5

RANGKUMAN (PLAN)
Diagnosis

Hernia Nukleus Pulposus

Pengobat
an

IVFD RL 0,9% 500ml/12 jam I.V.


Inj. Methylprednisolone 2 x 250mg I.V.
Inj. Ketorolac 3 x 30mg I.V.
Inj. Ranitidine 2 x 25mg I.V.
Inj. Omeprazole 1 x 20mg I.V.
Tab. Perisone 2 x 50mg P.O.
Tab. Gabapentin 2 x 30mg P.O.
Mecobalamin 2 x 50mg

Pendidik
an
Konsulta
si

Edukasi kepada pasien dan


keluarga untuk bekerja sama
dengan dokter dalam proses
penyembuhan dan pemulihan, serta
memberikan informasi mengenai
penyakit yang diderita pasien.
Konsultasi dengan dokter Spesialis
Saraf
Konsultasi dengan dokter Spesialis
Bedah Saraf
Konsultasi dengan dokter
Rehabilitasi Medis

TINJAUAN PUSTAKA

HERNIA NUCLEUS PULPOSUS

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah menonjolnya nucleus pulposus ke dalam kanalis
vertebralis akibat degenerasi annulus fibrosus korpus vertebralis yang merupakan penyebab
tersering nyeri pugggung bawah yang bersifat akut, kronik atau berulang.
HNP mempunyai banyak sinonim antara lain Herniasi Diskus Intervertebralis, ruptured disc,
slipped disc, prolapsus disc.

b) Etiologi
HNP terjadi karena proses degeneratif diskus intervetebralis. Keadaan patologis dari
melemahnya annulus merupakan kondisi yang diperlukan untuk terjadinya herniasi.
Penyebab utama terjadinya HNP adalah cidera, cidera dapat terjadi karena terjatuh tetapi lebih
sering karena posisi menggerakkan tubuh yang salah.
Bisa juga terjadi karena adanya spinal stenosis, ketidakstabilan vertebra karena salah posisi,
mengangkat, pembentukan osteophyte, degenerasi dan degidrasi dari kandungan tulang rawan
annulus dan nucleus mengakibatkan berkurangnya elastisitas sehingga mengakibatkan herniasi
dari nucleus hingga annulus

Faktor Risiko
Faktor risiko yang tidak dapat dirubah
Umur: makin bertambah umur risiko makin tinggi.
Jenis kelamin: laki-laki lebih banyak dari wanita.
Riwayat cidera punggung atau HNP sebelumnya.
Faktor risiko yang dapat dirubah
Pekerjaan dan aktivitas: duduk yang terlalu lama, mengangkat atau menarik barangbarang serta, sering membungkuk atau gerakan memutar pada punggung, latihan fisik
yang berat, paparan pada vibrasi yang konstan seperti supir

KLASIFIKASI HNP
Central, tidak selalu didapatkan gejala radikular. Dapat menimbulkan gangguan pada banyak
akar saraf bila mengenai cauda equina atau nielopati apabila mengenai medula spinalis.
Posterolateral, pada umunya terjadi pada vertebra lumbalis sehubungan dengan menipisnya
ligamentum longitudalis posterior pada daerah tersebut, misal HNP vertebra L4-L5 akan
menimbulkan iritasi pada akar saraf L5.
Far-laterall foraminal, tidak selalu didapatkan gejala nyeri punggung bawah. Mengenai akar
saraf yang terekat, misal HNP vertebra L4-L5 akan mengenai akar saraf L4 .

Berdasarkan lesi terkenanya terbagi atas :


Hernia Lumbosacralis
Hernia Servikalis
Hernia Thorakalis

Patofisiologi HNP
Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan
degeneratif yang terjadi pada proses penuaan.
Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus
pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan
pada herniasi nukleus.
Melengkungnya punggung ke depan akan menyebabkan menyempitnya atau
merapatnya tulang belakang bagian depan, sedangkan bagian belakang merenggang,
sehingga nucleus pulposus akan terdorong ke belakang.
Prolapsus discus intervertebralis, hanya yang terdorong ke belakang yang
menimbulkan nyeri, sebab pada bagian belakang vertebra terdapat serabut saraf
spinal serta akarnya, dan apabila tertekan oleh prolapsus discus intervertebralis akan
menyebabkan nyeri yang hebat pada bagian pinggang, bahkan dapat menyebabkan
kelumpuhan anggota bagian bawah.

MANIFESTASI KLINIS

Gejala klasik dari HNP lumbal adalah :


nyeri punggung bawah yang diperberat dengan posisi duduk dan nyeri menjalar hingga
ekstremitas bawah.
Nyeri radikuler atau sciatica, biasanya digambarkan sebagai sensasi nyeri tumpul, rasa
terbakar atau tajam, disertai dengan sensasi tajam seperti tersengat listrik yang
intermiten

L3 : Nyeri, kemungkinan parestesia atau hipalgesia pada dermatom L3, parestesia


otot quadrisep femoris, reflex tendon kuadrisep (reflex patella) menurun atau
menghilang.
L4 : Nyeri, kemungkinan parestesia atau hipalgesia pada dermatom L4, parestesia
otot kuadrisep dan tibialis anterior dan tibialis anterior, reflex patella berkurang.
L5 : Nyeri, kemungkinan parestesia atau hipalgesia pada dermatom L5, parestesis
dan kemungkinan atrofi otot ekstensor halusis longus dan digitorium brevis, tidak
ada reflex tibialis posterior.
S1 : Nyeri, kemungkinan parestesia atau hipalgesia pada dermatom S1, paresis otot
peronealis dan triseps surae, hilangnya reflex triseps surae (reflex tendon Achilles).

PENATALAKSANAAN
Terapi Konservatif :
a. Tirah baring selama 2-4 hari
b. Medikamentosa
Analgetik dan NSAID.
Pelemas otot: digunakan untuk mengatasi spasme otot.
Kortikosteroid oral: pemakaian masih menjadi kontroversi namun dapat dipertimbangkan pada
kasus HNP berat untuk mengurangi inflamasi.

Terapi Fisik
a.

Traksi pelvis

b.

Diatermi atau kompres panas/dingin

c.

Korset lumbal

Pembedahan
Tindakan operatif HNP harus berdasarkanalasan yang kuat yaitu berupa:
.Defisit neurologik memburuk.
.Gangguan otonom (miksi, defekasi, seksual).
.Paresis otot tungkai bawah

DAFTAR PUSTAKA
Hadinoto, S, 1996, Sindroma Guillain Barre, dalam : Simposium Gangguan Gerak, hal 173179, Badan Penerbit FK UNDIP, Semarang.
Harsono, 1996, Sindroma Guillain Barre, dalam : Neurologi Klinis, edisi I : hal 307-310,
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Mardjono M, 1989, Patofsiologi Susunan Neuromuskular, dalam : Neurologi Klinis Dasar, edisi
V : hal 41-43, PT Dian Rakyat, Jakarta.
Sidharta, P, 1992, Lesu-Letih-Lemah, dalam : Neurologi Klinis dalam praktek Umum : ha; 160162, PT Dian Rakyat, Jakarta.
Staf Pengajar IKA FKUI, 1985, Sindroma Guillain Barre, dalam : Ilmu Kesehatan Anak, Jilid II :
ha; 883-885, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta.
Asbury A.K. 1990. Gullain-Barre Syndrome: Historical aspects. Annals of Neurology (27): S2S6.
Bosch E.P. 1998. Guillain-Barre Syndrome : an update of acute immuno-mediated
polyradiculoneuropathies. The Neurologist (4); 211-226 .