Anda di halaman 1dari 29

Memahami Media

Maria Hartiningsih
Wartawan Kompas
Jakarta, 21 Mei 2015

Media berperan penting dalam


masyarakat modern. Mereka melaporkan
peristiwa-peristiwa terakhir, menyodorkan
kerangka kerja untuk interpretasi dan
memobilisasi masyarakat terkait beragam
isu, mereproduksi kultur dominan dalam
masyarakat dan untuk menghibur (Llanos
and Nina, 2011)

Dalam teori liberal-klasik, media dipahami


perannya dalam menyediakan ruang
antara pemerintah dan masyarakat, di
mana masing-masing melakukan kontrol
secara formal dan informal terhadap
negara: kontrol formal melalui pemilu dan
kontrol informal melalui tekanan pendapat
umum (Curran, 1991)

Ahli komunikasi Everett M. Rogers menambahkan,


media massa juga berperan memberikan kesempatan
kepada masyarakat untuk mengambil bagian scara aktif
dalam proses pengambilan keputusan mengenai
perubahan.
Memberi kesempatan kepada para pemimpin
masyarakat untuk memimpin dan mendengarkan
pendapat rakyat kecil serta menciptakan arus informasi
yang berjalan lancar dari bawah ke atas.

Terdapat pula fungsi hiburan dan fungsi


mobilisasi (khususnya untuk programprogram pemerintah). Tetapi di mana pun,
media diharap menunjang nilai-nilai utama
serta pola-pola perilaku tertentu (biasanya
menjadi arus utama, dan biasanya didasari
oleh standar moral tertentu, khususnya
mengenai yang disebut waras dan
normal)

Ini berarti, media massa berpotensi


dikuasai oleh seluruh arus utama
pemikiran. Rezim ini berpotensi membuat
definisi-definisi tentang mereka yang
dianggap lain, the other atau liyan,
tanpa melihat akar persoalannya.
Termasuk yang dianggap the other adalah
kelompok LBGTIQ, pekerja seks,
perempuan dengan HIV, dan lain-lain.

Media massa dianggap memainkan peran


penting dalam membentuk dan
merefleksikan pendapat umum, yang
menghubungkan dunia luar dengan
individu, melalui reproduksi citra di dalam
masyarakat

Tentang Media
Dampak atau pengaruh media, baik
secara psikologis, sosiologis mau pun
teori komunikasi, mengacu pada
bagaimana mass media mempengaruhi
mengenai bagaimana audience berpikir
dan bersikap.

Fenomena Mediakrasi
Kerjasama yang baik dengan media
hanya bisa dilakukan kalau memahami
sifat dari kerja media.
Setelah reformasi 1998, fenomena
mediakrasi di Indonesia tampak menguat
(Phillipis, 1975).

Fenomena ini biasanya menyertai demokrasi yang


muda, karena kerentanan interaksi antara pemerintah
yang dipilih rakyat dengan rakyat yang diwakili
Parlemen, dan rakyat yang merasa tidak diwakili
Parlemen, karena anggota parlemen lebih setia pada
partai.
Mediakrasi muncul karena sulitnya mencapai konsensus
antara para pihak. Dalam mediakrasi, media tak sekadar
bias, tetapi juga menjadi pemain, dari Kekuatan Keempat (The Fourth Estate), menjadi cabang keempat
dari pemerintah (Greenfield, 2012).

Dalam situasi seperti itu, media berpotensi


kehilangan fungsinya sebagai penjaga
demokrasi, bahkan mengatasnamakan
demokrasi untuk mengkonstruksikan
peristiwa sesuai kepentingan dan ideologi
pemimpin media yang sebagian juga
menjadi tokoh partai politik -- melalui kerja
jurnalistik.

Meski demikian, media dapat menjadi aktor


penting untuk mempromosikan kesetaraan dan
kesetaraan hak serta keadilan bagi kelompokkelompok yang kecil aksesnya ke ruang publik,
termasuk kesetaraan dan keadilan gender.
Partisipasi perempuan di ruang publik masih di
bawah angka yang diyakini sebagai benchmark
partisipasi perempuan, yakni 30 persen.

Langkah Awak
Mengumpulkan informasi mengenai
masalah atau isu, termasuk langkah awal
untuk memahami persoalan
Identifikasi isu terpenting dalam persoalan
yang hendak disasar. Bicarakan di dalam
kelompok kecil. Isu ini harus terfokus
(tentukan prioritas) dan mudah dipahami

Buat komitmen untuk bertindak, meski tak


mudah dicapai (misalnya, mengurangi
angka kematian ibu melahirkan)
Identifikasi tujuan dalam jangka pendek
dan menengah, spesifik, relevan (atas
dasar isu) yang bisa dicapai, bisa diukur
dan hasil yang diharapkan dalam waktu
terbatas

Hubungkan tertutupnya akses kelompok tertentu


di masyarakat terhadap informasi dan
pelayanan kesehatan reproduksi dan kesehatan
seksual adalah pelanggaran hak-hak asasi
manusia. Hubungkan pelanggaran hak-hak
ekonomi, sosial dan budaya dengan
pelanggaran hak-hak sipil dan politik.
Temukan kasus-kasus di masyarakat yang
menggambarkan dengan jelas persoalan itu.

Identifikasi juga pihak- pihak yang kira-kira


akan menolak atau menentang upaya itu,
dan bagaimana mereka akan
menolaknya.
Identifikasi pihak-pihak kunci, tetapi tidak
memahami persoalan (karena masih baru,
atau memang tidak tahu masalah itu)

Coba tengarai wartawan yang memiliki


minat pada isu-isu terkait perempuan dan
memiliki perspektif gender.
Secara berkala, meminta waktu audiensi
ke redaksi media, dan membuat diskusi
intensif mengenai isu-isu yang sedang
diperjuangkan dalam legislasi.

Meminta staf membuat siaran pers untuk dikirim


ke seluruh media tentang isu-isu yang sedang
diperjuangkan, lengkap dengan latar belakang,
hambatan, tantangan, pentingnya isu tersebut,
lengkap dengan data-data lapangan dan angka,
kemajuan dan kemunduran dan stagnasi dalam
negosiasi di parlemen.
Siaran pers ini dilakukan berkala dan isinya
beragam. Bisa juga berisi temuan lapangan
selama reses, terutama terkait isu-isu yang
sedang dalam proses legislasi.

Harus dipahami, setelah reformasi, istilah


gender seperti mantra, diucapkan
banyak tokoh dan pejabat pemerintah.
Di lain pihak, konsep kesetaraan dan
keadilan gender ditanggapi resisten,
termasuk oleh pejabat media. Setidaknya
ada tiga sikap terkait dengan ini.

Pertama, menganggap soal gender sudah


selesai di Indonesia. Biasanya orang-orang ini
akan mengatakan, UU kita sudah mengakui
emansipasi wanita.
Kedua, menganggap kesadaran gender sebagai
masalah perempuan, sehingga menganggap
kalau jumlah perempuan sudah banyak, artinya
sudah memenuhi keadilan gender.

Ketiga, menganggap gender sebagai konsep


Barat. Orang-orang seperti ini bisa langsung
menolak, tak mau mendengarkan penjelasan.
Tetapi ada juga yang mau mengerti setelah
diberi penjelasan, karena mereka sebenarnya
tahu, tetapi tidak menyadari, karena
menganggap perempuan dan laki-laki memang
punya peran berbeda sesuai perbedaan
biologisnya

Ikuti semua diskusi terkait dengan isu-isu yang


sedang diperjuangkan dalam legislasi, dan
melihat semua isu dengan perspektif gender.
Membuat kelompok kecil dengan wartawan
yang ditengarai sebagai kawan seperjuangan.
Dengan catatan, anggota parlemen juga
memiliki perspektif gender kuat, tidak hanya
berkutat dengan soal moralitas.

Anggota perlemen yang tak punya


perspektif keadilan gender sering membuat
blunder. Dalam kasus prostitusi online,
misalnya, yang muncul di media hampir
sebagian besar dikaitkan dengan moralitas.
Pertanyaannya: mana lebih bermoral,
politisi dan pejabat yang korup atau
perempuan yang dituduh jual diri?

Banyak isu yang harus disikapi dengan


bijak, dan jangan mengumbar pendapat
kalau tidak paham.
Kalau menemukan peristiwa penting
terkait kondisi masyarakat yang dijumpai
saat reses, ada baiknya dibagikan dengan
wartawan, agar mereka bisa mengecek di
lapangan

Lakukan pertemuan khusus pada saat-saat


tertentu, misalnya, pada akhir tahun atau awal
tahun, untuk melakukan evaluasi atas isu-isu
yang selama setahun diperjuangkan dalam
legislasi.
Susun strategi untuk melanjutkan perjuangan ke
depan dan meminta media tetap kritis dan
menjadi jembatan antara parlemen, pemerintah
dan organisasi non-pemerintah.

Jangan marah kalau isi laporan media tidak


seperti yang diharapkan, sekali lagi, mereka
bukan juru tulis atau staf Anda.
Wartawan yang baik akan sangat kritis,
meski hubungan personal sangat baik.
Mereka juga tak segan menulis tajam
komentar anggota parlemen yang dianggap
tidak paham isu atau tak memiliki perspektif.

Hubungan yang baik didasari oleh persamaan


perhatian, keprihatinan dan ketulusan bekerja,
bukan gratifikasi dalam bentuk apa pun. Hadiah,
gratifikasi, dan uang akan merusak hubungan.
Kalau ingin membangun hubungan yang sehat,
kedua pihak harus berada pada posisi yang
setara. Jangan menganggap wartawan sebagai
juru-tulis atau sekretaris yang harus mencatat
apa pun yang keluar dari mulut Anda. (Kami
menyebutnya jurnalisme ludah). Jangan
mendikte.

Bisa juga sesekali memberi penghargaan


kepada wartawan yang memberi wawasan
dan laporan-laporan kritis tentang kerja
parlemen, lebih baik kalau bersifat
investigatif (jurnalisme investigasi).
Penghargaan harus merupakan tanda
terimakasih, karena laporan-laporan itu
memicu mereka bekerja lebih baik, lebih
hati-hati, lebih jujur dan mau terus belajar.

Selesai