Anda di halaman 1dari 67

ASAM AMINO &

PROTEIN

Apakah Asam Amino?

Apakah Asam amino?

Asam amino: Asam karboksilat yang teraminasi


(R-COOH)
R group

Contoh
NH2CH2COOH

-amino
acetic acid

NH2CH2CH2COOH

-amino
propanoic
acid

NH2CH2CH2CH2CH2CHCOOH
NH2

-2 amino caproic acid

Asam Amino
Ternyata ada 24 jenis rantai cabang (R)
yang berbeda ukuran, bentuk, muatan,
dan reaktivitasnya.
Rantai cabang (R) dapat berupa atom H
pada glisin, metil pada alanin, atau berupa
gugus lainnya, baik gugus alifatik,
hidroksil, maupun aromatik.

Asam Amino
Dalam teknologi pangan, asam amino
mempunyai beberapa sifat yang
menguntungkan maupun yang kurang
menguntungkan.
Misalnya D-triptofan mempunyai rasa manis 35
kali kemanisan sukrosa, sebaliknya L-triptofan
mempunyai rasa yang sangat pahit.
Asam glutamat sangat penting peranannya
dalam pengolahan makanan, karena dapat
menimbulkan rasa yang lezat.

Klasifikasi Asam Amino


1. Berdasar Lokasi Gugus Amino / / -AA

2. Berdasarkan keasamannya AA netral/ asam/


basa
rasio dari Gugus Amino terhadap gugus Karboksilat
3. Berdasarkan kandungan gugus fenil
AA aromatik / non aromatik
4. Berdasarkan keberadaannya dalam protein
AA Protein / non protein
5. Berdasarkan polaritas gugus R
R : Rantai samping; AA polar / apolar
6. Berdasarkan nilai nutrisi bagi manusia:
AA Essensial AA dan AA non-essensial

ASAM AMINO
Sampai sekarang baru dikenal 24 macam asam
amino, yang dapat digolongkan menjadi dua
kelompok yaitu asam amino eksogen dan asam
amino endogen.
Asam amino endogen dapat dibentuk dalam
tubuh manusia, sedangkan 10 asam amino
eksogen tidak dapat dibentuk oleh tubuh
manusia, karena itu disebut asam amino
esensial, artinya harus didapatkan dari makanan
sehari-hari.
Yang tergolong asam amino esensial adalah
lisin, leusin, isoleusin, treonin, metionin, valin,
fenilalanin, histidin, dan arginin

20 -AA yang dijumpai dalam protein


Struktur -AA

Nama

NH2
CH2COOH
NH2

Glisin

CH3 CHCOOH

Alanin

CH3 NH2
CH3 CH CHCOOH

Valin

CH3
NH2
CH3 CH CH2 CHCOOH

Leusin

CH3 NH2
CH3 CH2 CH CHCOOH

isoleusin

Continued
Strutur -AA
NH2
CH3SCH2CH2 CHCOOH
CH2 NH
CH2
CH2 CHCOOH

NH2
CH2 CHCOOH
NH2
CH2 CHCOOH

nama
metionin
prolin
fenilalanin

triptofan

H
NH2
HO CH2 CHCOOH

serin

continued

HO

Struktur -AA

nama

HO NH2
CH3CH CHCOOH
NH2
HS CH2 CHCOOH

treonin

NH2
CH2 CHCOOH

NH2
NH2 COCH2 CHCOOH
NH2
H2NCOCH2CH2 CHCOOH

systin
tirosin
asparagin

glutamin

continued
Struktur -AA

Nama

NH2
HOOC CH2 CHCOOH

Asam Aspartat

NH2
HOOC CH2CH2 CHCOOH

Asam Glutamat

NH2
H2NCH2CH2CH2CH2 CHCOOH

NH2
NH
H2N C NH CH2CH2CH2 CHCOOH

N
N
H

NH2
CH2 CHCOOH

Lisin
arginin
histidin

Sifat Fisika Asam Amino


Semua -AA merupakan Kristal Tak
Berwarna , dengan titik lebur (>200o C)
dan kelarutan dalam air,

AA bersifat amfoter
RCHCO2H

R
NH2 CH COO

Anion,
pada pH
tinggi

HCL

NH2

NaOH
+

H
OH

RCHCO2
+

N H3

OH

zwitterion, pada
titik
isoelektrik

+
NH3 CH COOH

Kation
pada pH
rendah

NOTE: peptida atau protein juga memiliki sifat asam dan


basa. Mereka menjadi bermuatan positif pada pH rendah
dan bermuatan negatif pada pH tinggi.

Titik Isoelektrik (Isoelectric Point : PI) AA


anoda
+
+
+
+
+
+
+
+
+

katoda
RCHCO2H
NH2

RCHCO2
NH2

Anion
dalam
larutan
alkali

pH>pI

HO-

RCHCO2

H+

N+H3

Zwitterion dalam
larutan pada
Titik
Isoelektrik.
Tidak bergerak ke
salah satu
elektroda.

RCHCO2H
N+H3

Kation
dalam
larutan
asam.

pH<pI

Catatan : Pada Titik Isoelektrik


Keasaman AA Netral Lebih kuat dari Kebasaannya,
artinya derajat disosiasi reaksi (i) lebih besar dari
pada reaksi (ii). pH AA netral dalam larutan air < 7
H2N-CHR-COOH +H2O

H2N-CHR-COO- +H3O+ (i)

H2N-CHR-COOH +H2O

H3N+-CHR-COOH +OH- (ii)

* [anion]

>[kation], untuk mencapai pI, asam yang lebih


banyak perlu ditambahkan.

Titik Isoelektrik AA netral sekitar 5,6~6,3


Titik Isoelektrik AA asam sekitar 2,8~3,2
Titik Isoelektrik AA basa sekitar 7,6~10,8

PROTEIN

Protein
Apakah protein itu ?
Polimer dari 20 - Asam amino, dengan
BM 5000 sampai 1000,000 daltons.
Mengandung N: selain C,H, N, O, S, dan
beberapa protein mengandung: P, Cu,
Fe, I.
Kandungan N dalam berbagai protein
13,4% -19,1%, Rata-ratanya 16%.
Komponen sel yang melimpah : 50%
dari bobot sel kering

Kandungan dalam makanan(%)


Selrealia

Daging, ikan:

%
Beras merah

7,9

Beras

7,1

Tepung gandum
13,7
Amilum jagung

0,3

legumes
Kedelai

36,5

Kacang

23,6

Tahu

8,1

Buah & Sayur


Apel

0,2

Strawberry

0,6

Daging sapi

18,5

Daging ayam

23,1

Telur

12,5

Ikan

17,9

Produk Susu
Susu cair

3,3

Susu skim, kering

36,2

Keju Cheddar

24,9

Yogurt

5,3

Fungsi Protein
TANPA protein tidak ada kehidupan!
1. Protein Struktural :
Misal : keratin; miosin, aktin;
glikoprotein, lipoprotein,
2. Protein dengan aktivitas biologi
Misal: Enzim, hemoglobin,
mioglobin, feritin, antibodi,
glikoprotein, lipoprotein

Klasifikasi
1. Berdasarkan kandungan komponen non protein :

Protein Sederhana (Simple protein): hanya


mengandung Asam-amino ketika dihirolisis,
misal Albumin dalam telur; myosin, actin, insulin;
Protein terkonjugasi (Conjugated protein): Ketika
dihidrolisi menghasilkan AA + non-AA;
Misal : lipoprotein; glikoprotein; hemoglobin, feritin;
kebanyakan enzim
2. Berdasarkan kelarutannya :
Protein tak larut dalam air (Non-water soluble
protein): filament protein: miosin, aktin, keratin
Protein Larut dalam air (Water soluble proteins):
gugus hidrofil di luar (-OH, -SH, -COOH,-NH2), dan
gugus hidrofobik (gugus apolar) di dalam,
kebanyakan global protein, enzim.

Sifat Utama Protein


1. Sebagai polimer AA, protein memiliki sifat asam
dan basa. zwitterion & pI & elektroforesis.
2. Kebanyakan protein larut dalam air, dan tidak
dapat melewati membran dialisis.
3. Denaturasi: pendenaturasi seperti panas, asam,
alkali, garam, deterjen dapat mempengaruhi
kelarutan dan gugus fungsional protein.
Denaturasi reversible/non-reversible.
4. Absorpsi Ultraviolet pada 280 nm, karena adanya
residu 3 asam aromatik , misal. tirosin, triptofan,
fenilalanin.

Ikatan Peptida
Dua asam amino berikatan melalui suatu
ikatan peptida dengan melepas sebuah
molekul air. Reaksi keseimbangan ini
cenderung untuk berjalan ke arah
hidrolisis daripada sintesis.
Beberapa asam amino, biasanya lebih
dari 100 buah, dapat mengadakan ikatan
peptida dan membentuk rantai polipeptida
yang tidak bercabang.

Rantai utama yang menghubungkan atom-atom


C-C-C disebut rantai kerangka molekul protein,
sedangkan atom-atom di sebelah kanan
maupun kiri rantai kerangka disebut gugus R,
atau rantai samping
Atom yang dikandung dalam gugus R serta cara
melekatnya pada rantai kerangka akan
membedakan molekul protein yang satu dari
yang lain
Protein dapat terdiri dari satu atau lebih
polipeptida, misalnya mioglobin terdiri dari dua
polipeptida dan hemoglobin terdiri dari empat
rantai polipeptida

Fungsi Protein
Sebagai enzim
Hampir semua reaksi biologis dipercepat atau
dibantu oleh suatu senyawa makromolekul
spesifik yang disebut enzim, dari reaksi yang
sangat sederhana seperti reaksi transportasi
karbon dioksida sampai yang sangat rumit
seperti replikasi kromosom. Protein besar
peranannya terhadap perubahan-perubahan
kimia dalam sistem biologis.

Fungsi Protein
Alat pengangkut dan penyimpan
Banyak molekul dengan BM kecil serta
beberapa ion dapat diangkut atau dipindahkan
oleh protein-protein tertentu. Misalnya
hemoglobin mengangkut oksigen dalam eritrosit,
sedangkan mioglobin mengangkut oksigen
dalam otot.
Pengatur pergerakan
Protein merupakan komponen utama daging,
gerakan otot terjadi karena adanya dua molekul
protein yang saling bergeseran.

Fungsi Protein
Penunjang mekanis
Kekuatan dan daya tahan robek kulit dan tulang
disebabkan adanya kolagen, suatu protein
berbentuk bulat panjang dan mudah membentuk
serabut.
Pertahanan tubuh atau imunisasi
Pertahanan tubuh biasanya dalam bentuk
antibodi, yaitu suatu protein khusus yang dapat
mengenal dan menempel atau mengikat bendabenda asing yang masuk ke dalam tubuh seperti
virus, bakteri, dan sel-sel asing lain.

Fungsi Protein
Media perambatan impuls syaraf
Protein yang mempunyai fungsi ini biasanya
berbentuk reseptor, misalnya rodopsin, suatu
protein yang bertindak sebagai reseptor
penerima warna atau cahaya pada sel-sel mata.
Pengendalian pertumbuhan
Protein ini bekerja sebagai reseptor (dalam
bakteri) yang dapat mempengaruhi fungsi
bagian-bagian DNA yang mengatur sifat dan
karakter bahan

Sifat-sifat fisikokimia protein


Sifat fisikokimia setiap protein tidak sama,
tergantung pada jumlah dan jenis asam
aminonya.
Berat molekul protein sangat besar
Ada protein yang larut dalam air, ada pula
yang tidak dapat larut dalam air, tetapi
semua protein tidak larut dalam pelarut
lemak.

Bila dalam suatu larutan protein


ditambahkan garam, daya larut protein
akan berkurang, akibatnya protein akan
terisah sebagai endapan. Peristiwa
pemisahan protein ini disebut salting out.
Apabila protein dipanaskan atau
ditambahkan alkohol maka protein akan
menggumpal.
Protein dapat bereaksi dengan asam dan
basa

Kebutuhan protein
Kebutuhan manusia akan protein dapat dihitung
dengan mengetahui jumlah nitrogen yang
hilang. Bila seseorang mengkonsumsi ransum
tanpa protein, maka nitrogen yang hilang
tersebut pasti berasal dari protein tubuh yang
dipecah untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme
Kebutuhan protein untuk tubuh manusia ratarata sebesar 1 g protein/kg berat badan per hari

PROTEIN ADA DLM BENTUK TERLARUT (MIS.


DLM ENZIM) & BENTUK TDK TERLARUT (MIS.
DLM MAKANAN).
PENETAPAN KADAR PROTEIN TIDAK
TERLARUT : METODE KJELDAHL
PENETAPAN KADAR PROTEIN TERLARUT :
SECARA SPEKTROFOTOMETRI DG METODE
BIURET / LOWRY

Penetapan Kadar Protein

1. METODE KJELDAHL
METODE SEDERHANA UNTUK PENETAPAN
NITROGEN TOTAL PADA AA, PROTEIN &
SENYAWA YG MENGANDUNG NITROGEN

Prinsip Metode Kjeldahl


DIGESTI KOMPONEN ORGANIK DENGAN ASAM
SULFAT PEKAT DENGAN KATALISATOR YANG SESUAI
DAN DENGAN PEMANASAN AKAN MENGHASILKAN
AMONIUM SULFAT.
SETELAH PEMBEBASAN DENGAN ALKALI KUAT,
AMONIA YG TERBENTUK DIDESTILASI SECARA
KUANTITATIF KE DALAM LARUTAN PENYERAP &
DITETAPKAN SECARA TITRASI
SEBAGAI PENGIKAT AMONIA HASIL DESTILASI DPT
DIGUNAKAN SEJUMLAH TERTENTU HCl 0,1 N.
KELEBIHAN HCl DITETAPKAN DENGAN NaOH 0,1 N.
HCl YG BEREAKSI DG AMONIA SETARA DENGAN
KANDUNGAN NITROGEN DLM SAMPEL
SELAIN HCl, ASAM BORAT BISA JUGA DIGUNAKAN

Cara Penetapan Kadar Protein Dengan


Metode Kjeldahl
Timbang 1 g bahan, masukkan ke labu Kjeldahl
Tambah 7,5 g K2SO4 & 0,35 g HgO + 15 mL H2SO4
pekat
Panaskan semua bahan sampai berhenti berasap &
teruskan pemanasan sampai mendidih & jernih
Tambah pemanasan 30, matikan pemanas, biarkan
dingin
Tambah 100 ml aquades + beberapa lempeng Zn + 15
ml lar kalium sulfida 4% (dlm air)
Perlahan-lahan tambahkan lar NaOH 50% sebanyak 50
mL yg telah didinginkan dlm almari es

lanjutan Metode Kjeldahl


Pasang pada alat destilasi
Panaskan perlahan sampai dua lapisan cairan tercampur,
panaskan dengan cepat sampai mendidih
Destilat ditampung dalam Erlenmeyer yang telah diisi
larutan baku HCl 0,1 N sebanyak 50 ml & 5 tetes indikator
merah metil 0,1 % b/v (dlm etanol 95%)
Proses destilasi selesai jika destilat yg ditampung 75 mL
Sisa larutan HCl 0,1N yang tidak bereaksi dengan destilat
dititrasi dengan baku NaOH 0,1 N (t.a. : perubahan warna
dari merah menjadi kuning). Lakukan titrasi blanko

lanjutan Metode Kjeldahl


Kadar Protein dihitung dengan persamaan :
V NaOH blanko V NaOH sampel
Kadar =

x N NaOH x 14,008 x 100 % x Fk


Berat sampel (mg)

Fk : faktor konversi

Faktor Konversi
No

Bahan

Fk

Bir, sirup, biji-bijian, ragi, makanan ternak,


buah-buahan, teh, malt, anggur

6,25

Beras

5,95

Roti, gandum, macaroni, bakmi

5,70

Kacang tanah

5,46

Kedelai

5,75

Kenari

5,18

Susu kental manis

6,38

lanjutan Metode Kjeldahl


Pada metode kjeldahl ada 3 tahap
DESTRUKSI,
DESTILASI &
TITRASI

lanjutan Metode Kjeldahl

REAKSI PD TAHAP DESTRUKSI :


HgO + K2SO4 + H2SO4 pekat

HgSO4 + H2O + K2SO4

2 HgSO4

Hg2SO4 + SO2 + 2On

Hg2SO4 + 2H2SO4 pekat

2HgSO4 + 2H2O + SO2

CHON (dari sampel) + On + H2SO4 pekat

CO2 + H2O + (NH4)2SO4

CO2 + H2O + NaO

Na2CO3 + Na2SO4

lanjutan Metode Kjeldahl

REAKSI PD TAHAP DESTILASI


(NH4)2SO4 + HgSO4 + NaOH + Na2S + Zn + H2O

NH3(g) + Na2SO4 + ZnS + HgS + H2O


NH3(g)

NH3(aq)

lanjutan Metode Kjeldahl

REAKSI PD TAHAP TITRASI


NH3(aq) + HCl

NH4Cl

HCl (sisa) + NaOH

NaCl + H2O

lanjutan Metode Kjeldahl


Metode Kjeldahl dengan Asam borat sebagai
penyerap
Prinsip:
1. Digesti komponen organik dengan asam sulfat pekat
dengan katalis yang sesuai dan dengan pemanasan.
2. Total N organik dikonversi menjadi amonium sulfat.
3. Netralkan larutan hasil digesti dengan alkali berlebih.
Di sini, N akan dikonversi menjadi amonium
hidroksida, dan kemudian didestilasi ke dalam
larutan asam borat dan dikonversi menjadi amonium
borat.
4. Titrasi amonium borat dengan asam kuat.
(Catat bahwa N: HCl = 1:1)

lanjutan Metode Kjeldahl


Jika Digunakan Asam Borat
1. Digesti
NCOC + H2SO4

NH4 2SO4 + CO2 + SO2 + H2O

2. Netralisasi dan Destilasi


2NaOH + NH4 2SO4

2NH3+Na2SO4 + 2H2O

3. Absorpsi dengan asam borat :


2NH3 + 4H3BO3

NH4 2B4O7 + 5H2O

4. Titrasi dengan asam kuat :


NH4 2B4O7 + 5H2O + 2HCl

2NH 4Cl + 4H3BO3

(* NCOC, komponen yang mengandung N, N:HCl = 1:1)

2. ANALISIS PROTEIN
DENGAN METODE
SPEKTROFOTOMETRI
HANYA UNTUK PROTEIN TERLARUT
PEMBANDING : BOVIN SERUM ALBUMIN (BSA)

2.1. Metode Spektrofotometri UV


AA penyusun protein (mis triptofan, tirosin,
fenilalanin) mempunyai gugus aromatik.
Triptofan : maks 280 nm; tirosin : 278 nm.
Serapan sinar pada 280 nm dapat digunakan
untuk estimasi konsentrasi protein dalam larutan
Koreksi kemungkinan adanya asam nukleat dg
mengukur serapan pada 260 nm.
Rasio serapan 280/260 menentukan faktor
koreksi
Kadar protein mg/ml = A280 x faktor koreksi x
pengenceran

2.1. Metode Spektrofotometri


Sinar Tampak (Visible)
a. Metode Biuret
Dasar : dua atau lebih ikatan peptida dapat
berikatan secara kovalen koordinasi dengan ion
Cu2+ dari tembaga (II) sulfat yang berasal dari
reagen Biuret dalam suasana alkalis
Ion Cu2+ berikatan dengan dua atom nitrogen &
dua atom oksigen dari dua ikatan peptida
membentuk senyawa kompleks yang berwarna
ungu yang dapat diukur secara spektrofotometri
pd 550 nm.

Metode Biuret
OH
NH2

O=C

NH

O=C
NH2

OH

NH2 Cu H2N
CuSO4

O=C

NaOH

O=C

C=O
NH

HN
C=O

NH2Na NaH2N
OH

OH

Aplikasi dan keuntungan metode


Biuret
Aplikasi : Sesuai untuk sereal, daging, kedelai dan
protein terisolasi. Tetapi tidak sesuai untuk susu,
karena gula pereduksi (laktosa) dapat mereduksi ion
tembaga.
Keuntungan :
1. Lebih murah dibanding Metode Kjeldahl, cepat,
metode yang paling sederhana untuk analisis
protein.
2. Deviasi warna yang terbentuk lebih jarang terjadi
dibandingkan metode Folin-Lowry, Absorpsi UV atau
metode turbidimetri
3. Sangat sedikit senyawa selain protein dalam
makanan dapat mengganggu reaksi dengan Biuret.
4. Mendeteksi N hanya dari peptida dan protein.

Kerugian Metode Biuret


1. Tidak terlalu sensitif jika dibandingkan dengan
metode Folin-Lowry. Membutuhkan paling tidak
2-4 mg protein untuk analisis.
2. Pigmen empedu, konsentrasi garam ammonium
yang tinggi menginterferensi reaksi.
3. Warnanya bervariasi dengan protein yang
berbeda. Gelatin memberikan warna ungu-merah
muda.
4. Bukan metode absolut : warna harus
distandarisasi dengan protein pembanding
(misal., BSA)

2.1. Metode Spektrofotometri


Sinar Tampak (Visible)
b. Metode Lowry
Merupakan pengembangan metode Biuret
Pada metode ini, juga ditambah pereaksi asam
fosfomolibdat & fosfotungstat
Adanya inti aromatis pada AA (triptofan, tirosin &
fenilalanin) dapat mereduksi fosfomolibdat
menjadi molibdenum yang berwarna biru yang
jika digabung dengan warna yang terbentuk dari
pereaksi lain pada metode ini, maka dapat
diukur serapannya pada 600 nm.
Lebih sensitif daripada metode Biuret

3. METODE ASAM AMINO


ANALYZER
Susunan AA dalam suatu campuran protein dapat
ditetapkan dengan AA Analyzer
Protein dihidrolisis menjadi AA penyusunnya dengan
pemanasan dalam HCl 6N pada 110oC selama 24 jam.
AA dalam campuran, dapat dipisahkan dengan
kromatografi penukar ion dengan kolom polistiren
tersulfonasi
AA direaksikan dengan Ninhidrin menghasilkan warna
ungu-biru, kecuali prolin kuning.
Dengan membandingkan pola kromatogram sampel
dengan standar campuran asam amino, akan diketahui
susunan asam amino sampel.
Pereaksi lain : fluoreskamin

...lanjutan metode asam amino analyzer

Reaksi Ninhidrin
O

O
OH
OH

+ RCHCOOH
NH2

O
+ RCHO + CO2 + 3H2O

N
O

1. Larutan Ninhidrin dibuat dalam larutan basa dari


bufer fosfat (pH 8,04).
2. Produk reaksi dari semua AA kecuali prolin adalah
ungu-biru (540nm), dan untuk prolin kuning (440nm)
3. Protein dan peptida juga dapat bereaksi ini karena
kandungan gugus amino nya.
4. Reaksi ini dapat digunakan untuk analisis kualitatif
dan kuantitatif, dengan bantuan spektrofotometer
dan KLT.

Automatic AA analyzer
Dari pH 2,2 sampai pH 6,4

Prinsip pemisahan pada kolom


Resin penukar ion tipe H+: terdiri atas
polimer yang relatif inert, dengan
konstituen rantai samping asam yang
cukup kuat seperti SO3H,-CH2SO3H
*Sesuai untuk kondisi Asam/Basa/Netral
-

NH2
HOOC CH2 CHCOOH
NH2
H2NCH2CH2CH2CH2 CHCOOH

Pemisahan asam aspartat dan lisin dengan resin penukar


kation (cation exchange resin.)

Penetapan Kadar Asam


Amino

ASAM -AMINO MENGANDUNG GUGUS AMINO &


GUGUS KARBOKSIL
GUGUS AMINO UMUMNYA BASA, GUGUS KARBOKSIL
ASAM
LARUTAN DALAM AIR DALAM BENTUK ZWITTER ION,
SEHINGGA BERSIFAT KURANG ASAM DIBANDING
ASAM KARBOKSILAT LAIN
SENYAWA INI TIDAK DAPAT DITITRASI LANGSUNG
SEBELUM GUGUS AMINO DIHILANGKAN.
SCHIFF MENDAPATKAN BAHWA DENGAN
MENAMBAHKAN FORMALDEHID, AA DAPAT
DITITRASI SEBAGAI ASAM

DALAM PELARUT BUKAN AIR, ASAM -AMINO DAPAT


DITETAPKAN LANGSUNG. GUGUS AMINO ATAU
GUGUS KARBOKSIL DPT DITITRASI TERGANTUNG
PELARUT YANG DIPILIH
ASAM ASETAT GLASIAL : TITRASI GUGUS AMINO
DIMETIL FORMAMID
: TITRASI GUGUS KARBOKSIL
REAKSI GUGUS -AMINO DENGAN HNO2 ASAM AMINO DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR
PENETAPAN KADAR, YAITU TERJADI REAKSI UNTUK
MEMBENTUK ION DIAZONIUM ALIFATIK YANG TIDAK
STABIL & SEGERA TERURAI MENGHASILKAN GAS
NITROGEN. VOLUME GAS N2 DIUKUR & SESUAI
DENGAN JUMLAH AA.

1. METODE TITRASI FORMOL


Lebih kurang 150 mg glisin
Larutkan dalam 25 ml air, 10 ml formaldehid.
Buat larutan menjadi pH 9,0
Tambahkan 5 tetes indikator campuran (75 mg
PP & 25 mg biru timol dlm 100 ml alkohol 50%)
Titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warna
kuning hilang & timbul warna violet
Tiap ml NaOH 0,1 N setara dengan 7,507 mg
glisin

2. METODE TITRASI BEBAS AIR


Asam -amino bersifat amfoter, dapat bersifat
asam/basa tergantung pelarutnya
Gugus karboksil dapat dititrasi sebagai asam setelah
dilarutkan dalam pelarut basa yang cocok
Biasanya digunakan pelarut benzen-metanol. Dapat
juga Dimetil formamid. Untuk asam yang lebih lemah,
digunakan pelarut yang lebih basa seperti piridin atau
etilen diamin untuk meningkatkan keasaman.
Titran yg digunakan alkali metoksida dlm benzen
metanol
Indikator : biru timol (perubahan dari kuning menjadi
biru).

Indikator lain : -naftol benzen, azo violet dan o-nitro


anilin
Penetapan titik akhir secara potensiometri dapat
digunakan elektroda kalomel-antimon atau gelas antimon.
Gugus amino dari asam -amino dlm pelarut asam
bersifat basa sehingga dapat ditetapkan secara titrasi
kembali
Pelarut : asam asetat
Titrasi dilakukan dengan menambahkan asam perklorat
berlebihan. Kelebihan asam perklorat dititrasi dengan
natrium asetat atau natrium metilat dalam benzenmetanol.
Indikator : kristal violet, -naftol benzen atau merah
kuinaldin
Titik akhir dpt juga secara potensiometri dengan elektroda
gelas-kalomel.

..lanjutan titrasi bebas air

Cara kerja
Lebih kurang 150 mg glisin
Larutkan dalam 50 ml asam asetat glasial
Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N
menggunakan indikator 1 tetes kristal
violet sampai warna hijau
Tiap ml asam perklorat 0,1 N setara
dengan 7,507 mg glisin

3. METODE GASOMETRI DARI


VAN SLYKE

Lebih selektif dari metode Kjeldahl


Digunakan untuk Amina alifatik primer
Gugus alfa amino primer dr AA bereaksi dg
HNO2 menghasilkan gas N2.

Gas yang terjadi dialirkan pada KMnO4 &


diukur volumenya.
Gas N2 yang terjadi sesuai jumlah AA yang
ada.

4. METODE KJELDAHL
Penjelasan sama seperti pada analisis
protein dengan metode Kjeldahl

priiswatiutami@gmail.com