Anda di halaman 1dari 12

Upacara Kematian

Tradisional

Jawa Barat
Drs. Apip Ruhamdani, M.Pd.

Posisi Manusia
Manusia adalah mahluk yang mempunyai

kedudukan tertinggi bila dibandingkan


dengan mahluk lainnya. Kedudukan
manusia yang tertinggi ini disebabkan
karunia Tuhan yang tidak diberikan kepada
mahluk lain berupa akal pikiran.
Hirup Cicing
Hirup Nyaring
Hirup Eling

Adam dan Hawa


Sejak Adam dan Hawa diturunkan ke

dunia, kemudian berkembang menjadi


berbagai suku, bangsa dan bahasa telah
menghasilkan beraneka ragam
kebudayaan. Salah satu hasil
kebudayaan itu adalah perlakuan
manusia terhadap orang yang
mengalami kematian.
Apabila seseorang mengalami
kematian, maka kaum kerabatnya
melakukan suatu upacara kematian.
Upacara kematian dilaksanakan
menurut agama kepercayaan serta
adat-adat dari suatu daerah.

Upacara Kematian Persemayaman Jasad Terakhir


Dikubur
Diperabukan / dibakar
Dihayutkan ke sungai
Diawetkan / dimumikan
Diumpankan pada binantang
Diletakkan pada suatu tempat
Dan lain-lain

Dikuburkan
Kisah penguburan pertama terdapat

dalam berbagai ajaran agama, dan salah


satunya adalah kisah penguburan
manusia menurut ajaran Islam.
Ceritanya bermula dari kedengkian Qabil
atas Habil yang mendapatkan istri cantik
jelita bernama Iqlima saudara kembar
Qabil, sedangkan saudara kembar Habil
yang kurang cantik harus menjadi istri
Qabil.
Pelajaran penguburan mayat dari
melihat perilaku burung gagak yang
bertarung dan salah satunya mati

Diperabukan / dibakar
Upacara kematian dengan cara dibakar

terutama dilakukan oleh penganut ajaran


Hidu Budha.
Di Bali upacara pembakaran mayat dikenal
dengan istilah Ngaben

Dihayutkan
Upacara kematian dengan cara dihayutkan ke
sungai banyak dilakukan oleh penganut
ajaran Hidu Budha di India, yang
menganggap sungai Ganggga adalah sungai
suci dan merupakan jalan menuju nirwana

Diawetkan /dimumikan
Pengawetan mayat di Mesir dikenal dengan

mumi. Mumi adalah salah satu cara


mengawetkan mayat dengan dibalsam
kemudian dibalut dan disimpan dalam
sebuah peti, selanjutnya peti tersebut
disimpan dalam kuburan tertutup yang
dinamakan piramid.
Upacara pengawetan mayat juga banyak
dilakukan suku pedalaman Irian.
Mayat yang diawetkan adalah mayat
seorang pemimpin yang dikagumi

Dimakan Binatang
Upacara kematian suku Eskimo lebih unik lagi, karena menurut
kepercayaan mereka orang-orang Eskimo berasal dari beruang,
dan dalam keseharian mereka memekan beruang, maka kalau
orang Eskimo mati, harus rela dimakan oleh beruang.
Orang Eskimo yang sudah tua diantar oleh keluarganya menuju
binatang beruang dan mengorbankan dirinya untuk dimakan

Diletakkan pada suatu tempat


Upacara kematian lainnya dengan cara meletakkan mayat
di suatu tempat dan membiarkannya mayat itu busuk
dengan sendirinya. Di Pedalaman Irian misalnya, mayat
diletakkan di atas papan dari kayu atau bambu dan
dibiarkan membusuk hingga tinggal tulang belulang.
Setelah itu, pihak keluarganya akan mengambil tengkorak
yang mati itu untuk batal tidurnya

Upacara Kematian di
Tatar Sunda
Upacara Kematian di Baduy
Apabila seorang warga Baduy meninggal dunia,
maka pihak keluarganya membuat lambang atau
tanda adanya kematian. Lambang kematian itu
berupa bendera kecil berwarna putih yang
diselipkan pada dinding rumah orang yang mati.
Di daerah Tatar Sunda lainnya bendera kecil
tersebut berwarna kuning atau hitam

Terhadap mayat, orang Baduy memiliki beberapa


kewajiban, yaitu:
1. Ngamandian (memandikan)
2. Ngaboehan (mengafani)
3. Menguburkan
Sedangkan terhadap mayat, orang Bandung memiliki
beberapa kewajiban, yaitu:
1. Memandikan
2. Mengafani
3. Menyolatkan
4. Menguburkan
Setelah penguburan masih kegiatan di rumah duka, yaitu:
1. Hari Pertama (poeanana)
2. Hari Kedua
3. Hari Ketiga
4. Hari Keempat
5. Hari Ketujuh
6. Hari Keseratus (natusna)
7. Setahun (manggih taun)