Anda di halaman 1dari 14

Gravity Model

H.a.n.s.e.n
6 April 2016

Latar Belakang
Dalam pengembangan wilayah, penggunaan
lahan dan sistem pergerakan manusia yang
dijadikan kajian maka perencana harus terlebih
dahulu memperhatikan daya tarik lokasi tersebut
salah satu model yang banyak digunakan untuk
menganalisa perencanaan pengembangan
wilayah adalah model gravitasi.
Model ini dapat membantu para perencana
wilayah untuk memperkirakan daya tarik suatu
lokasi dibanding dengan lokasi lain di sekitarnya.

Contoh Kegunaaan Gravity


Model
Menurut Tarigan (2006:147) model gravitasi yang digunakan untuk
menganalisa daya tarik suatu lokasi dapat juga digunakan untuk
memperkirakan besarnya arus lalulintas pada jalan tertentu,
menaksir banyaknya perjalanan (trip) antara dua tempat
(berdasarkan daya tarik masing-masing tempat),
banyaknya pemukim untuk lokasi tertentu (berdasarkan daya tarik
masing-masing pemukiman),
banyaknya pelanggan untuk suatu kompleks pasar (berdasarkan
daya tarik masing-masing pasar),
banyak murid sekolah untuk masing-masing lokasi (berdasarkan
daya tarik masing-masing sekolah untuk jenjang dan kualitas yang
sama),
banyaknya masyarakat yang berobat pada berbagai lokasi tempat
berobat (berdasarkan daya tarik masing-masing tempat berobat
dengan kualitas yang sama).
3

Model Hansen
Dalam perencanaan wilayah model gravitasi
yang pertama kali digunakan adalah model
gravitasi yang dikembangkan oleh W.G Hansen.
Model ini berkaitan dengan prediksi lokasi dari
pemukiman penduduk berdasarkan daya tarik
masing-masing lokasi.
Model ini didasarkan pada asumsi bahwa
tersedianya lapangan kerja, tingkat
aksesibilatas,dan adanya lahan perumahan
yang masih kosong, akan manarik penduduk
berlokasi ke subwilayah tersebut.
4

Menurut Tarigan (2005:156) yang


mengutip pendapat Lee, model ini
tidak persis sama dengan model
gravitasi karena tidak didasarkan
atas saling interaksi antarsubwilayah
(zona), melainkan tiap subwilayah
destination dianggap memiliki daya
tarik tersendiri dan bagaimana suatu
kegiatan dari keseluruhan wilayah
bereaksi terhadap daya tarik
5

Artinya origin tidak diperinci per


subwilayah hanya destination yang
diperinci per subwilayah. Hansen
mula-mula menggabung jumlah
lapangan kerja dan kemudahan
mencapai lokasi sebagai accessibility
index (indeks aksesibilitas).

Indeks Aksesibilitas
Secara umum indeks aksesibilitas adalah adanya unsur daya
tarik yang terdapat di suatu subwilayah dan kemudahan untuk
mencapai subwilayah tersebut.
Menurut Hansen accessibility index adalah faktor utama dalam
menentukan orang memilih lokasi tempat tinggalnya.
Accessibility index dihitung dengan persamaan (Lee,1973:72):

Keterangan :
Aij
Ej
dij
b

= Accessibility index daerah i terhadap daerah j


= Total lapangan kerja (employment) di daerah j
= Jarak antara i dan j
= pangkat dari dij

Indeks yang diperoleh adalah daya


tarik satu subwilayah j ditinjau dari
sub wilayah i, apabila daya tarik
seluruh subwilayah diperhitungkan
/digabungkan maka rumusnya
menjadi :

Holding Capacity
Selain indeks aksesibilitas, adanya lahan kosong dan
tersediannya fasilitas lainnya adalah merupakan unsur
daya tarik lain yang harus diperhatikan, untuk
berlokasi di subwilayah tersebut.
Lahan kosong ini oleh Hansen dinamakan holding
capacity. Perlu diingat pengertian lahan kosong di
Indonesia adalah lahan yang cocok untuk pemukiman
penduduk.
Lahan kosong yang tidak sesuai dengan pemukiman
penduduk harus dikeluarkan dari perhitungan ini,
misalnya lahan yang kemiringannya diatas 30,
daerah rawa-rawa, daerah yang sering banjir, sawah
beririgasi teknis, badan jalan, sungai, drainase, dan
lahan yang sudah diperuntukan untuk tujuan tertentu,
9
misalnya perkantoran, kompleks militer, kawasan

Potensi Pengembangan
Lahan
Gabungan accessibility index dan holding capacity
adalah potensi pengembangan daerah tersebut.
Potensi pengembangan daerah i (disingkat Di) adalah :

Keterangan :
Ai = accessibility index
Hi = Holding capacity

1
0

Untuk mengetahui daya tarik


subwilayah tersebut, potensi
pengembangan subwilayah tersebut
harus dibandingkan dengan daya
tarik keseluruhan wilayah :

1
1

Penambahan Penduduk
Untuk menghitung pertambahan
penduduk untuk kota itu secara
keseluruhan adalah Gt maka tambahan
penduduk yang akan berlokasi di daerah
i adalah:

Keterangan :
Di = Ai Hi
Gt = Tambahan penduduk di seluruh wilayah
Gi = Tambahan penduduk di daerah i

1
2

Dalam model hansen, origin (Oi)


dianggap satu kesatuan, artinya
tidak dilihat dari subwilayah mana
asalnya tambahan penduduk itu, dan
tambahan penduduk ini
didistribusikan ke berbagai
subwilayah yang ada.
Contoh Kasus??????????????
1
3

Sekian
&
Terimakasih

1
4