Anda di halaman 1dari 14

BEHAVIORAL MAPPING

(pemetaan perilaku)

Gibson dalam Lindarto


(2002)

Rapoport (2007)

Sejarah dan Tujuan


Behavioral mapping dikembangkan oleh Ittelson pada tahun
1970.
Teknik ini mempunyai kekuatan utama dalam aspek spasialnya.
Dengan teknik ini akan didapatkan sekaligus suatu bentuk
informasi mengenai fenomena (terutama perilaku individu dan
sekelompok manusia) yang terkait dengan sistem spatial-nya.
Behavioral mapping digambarkan dalam skema dan diagram
mengenai suatu area manusia melakukan berbagai kegiatannya.
Tujuannya adalah untuk menggambarkan perilaku serta
menunjukkan kaitan antara perilaku tersebut dengan wujud
perancangan yang spesifik. Jenis perlaku yang biasa dipetakan
adalah : pola perjalanan, migrasi, perilaku konsumtif, kegiatan
rumah tangga, penggunaan berbagai fasilitas publik (Lindarto,
2002 b: 12).

Skema Pendekatan
Menurut Haryadi dan Setiawan (2010),
Behavioral Mapping digambarkan dalam
bentuk sketsa dan diagram mengenai
area, manusia melakukan kegiatannya.
Tujuannya adalah untuk menggambarkan
perilaku dalam peta, mengidentifikasikan
jenis dan frekuensi perilaku dan
menunjukkan kaitan antara perilaku
dengan bentuk perancangan yang
spesifik.

Berbasis pada ruang, tempat, waktu


Metode ini termasuk katagori environmental cognition (Rapoport,
1977:108-177),operasionalnya didasarkan pada pemahaman dan
kesadaran manusia dalam memahami, mengenali dan
mengimajinasikan ruang atau lingkungan yang ada (di sekitarnya).
Prosesnya didasarkan atas ingatan dan pengalaman dari manusia
terhadap hal, aktivitas dan ruang yang ada di sekitarnya.
Berdasarkan hal tersebut, secara sadar dan tidak sadar manusia dapat
(dipergunakan untuk membantu) merumuskan dan mengidentifikasikan
karakteristik ruang yang terbentuk.
Masih menurut Rapoport (1977: 142), selain aspek perilaku manusia,
orientasi metode ini juga didasarkan atas ruang, tempat, dan waktu.
Merupakan analisa yang menggunakan prinsip person centered
mapping dan place centered mapping, dan dari keduanya diharapkan
bisa muncul perpaduan pola ruang yang terbentuk dari penggabungan
ruang berbasis aktivitas orang yang berbeda-beda, dan pemusatan
aktivitas orang pada ruang tertentu.

LANJUTAN
Metode ini berbasis pada kesadaran bahwa ruang tercipta
karena adanya aktivitas-kegiatan yang menerus dilakukan
oleh manusia.
Pada mulanya yang terbentuk bisa berupa ruang abstrak,
tetapi pada perkembangannya berubah menjadi ruang yang
bersifat permanen (Rapoport, 1977).
Pada hakekatnya, ruang yang terbentuk bisa dilihat dari 2 sisi,
yaitu sisi demand dan sisi supplay.
Sisi demand yang dimaksud tentunya adalah manusia itu
sendiri, dan dia diposisikan sebagai sesuatu yang
membutuhkan ruang, sementara sebaliknya ruang sebagai
sisi supplay menjadi penyedia buat manusia untuk bisa
beraktivitas-berkegiatan (Haryadi dan Setiawan, 2010).

PRINSIP KERJA
Prinsip dasar inilah yang dipakai dalam pendekatan
metode peta perilaku itu sendiri, yaitu berbasis pada
aktivitas manusianya (person centered mapping), dan
juga berbasis pada ruang yang dipakai manusia (place
centered mapping).
Secara gamblang, ruang yang dimaksud adalah ruang
interaksi yang secara intensif dipakai oleh manusia itu
sendiri.
Dalam suatu setting fisik, perilaku individu mempunyai
karakter perubahan yang menerus / ajeg, disamping
berlaku umum dan stabil/ tetap.
Setting fisik adalah subjek yang bersistem terbuka untuk
ruang diluar dan dibatasi waktu (Lindarto, 2002 b).

Banyak jenis aktivitas yang bisa


membentuk ruang dan tempat
secara spesifik, dan jika mengacu
pada kajian unsur budaya
Koentjaraningrat (1990), maka bisa
jadi metode mental map ini bisa
dipakai untuk membantu
mengidentifikasikan pola ruang
akibat aktivitas: sistem kepercayaan,
sistem mata pencaharian, sistem

Miilonig and Gartner (2008)

Behavioral vs. Cognitive


Views of Learning
Cognitivism
(learns that)
1. Learning takes place in the mind, not in behavior. It involves the
formation of mental representations of the elements of a task and the
discovery of how these elements are related.

2. Behavior is used to make inferences about mental states but is not of


interest in itself (methodological behaviorism).
3. EXAMPLE: Tolman & Honziks experiment on latent learning. Tolman,
a pioneer of cognitive psychology, argued that when rats practice
mazes, they acquire a cognitive map of the layoutmental
representations of the landmarks and their spatial relationships.