Anda di halaman 1dari 12

GANGGUAN PANIK

Pembimbing
dr Wiharto, Sp.KJ

Referat

CONTOH KASUS

Wanita AsiaAmerika berusia


35 tahun dirujuk
ke psikiater
dengan
assesment cemas

Menggambarkan
insiden 2 tahun lalu
dengan keluhan
nyeri dada dan
berpikir bahwa dia
mengalami
serangan jantung

Gejala lain seperti


sesak napas,
jantung berdebar,
berkeringat , dan
pusing.Keluargany
a membawanya
ke ruang gawat
darurat, di mana
dia medapat
pemeriksaan
medis. Tidak ada
bukti mengenai
masalah jantung.

Setelah hari itu,


dia berhenti
mengemudi
karena takut
mengalami nyeri
dada. Dia tidak
dapat hadir ke
even olahraga
anak-anaknya,
naik bus, atau
pergi ke gereja
karena
ketakutannya

Kejadian yang telah


terjadi 2 tahun
sebelumnya.
Peristiwa tersebut,
kematian seorang
teman dekat dengan
kanker dan
suaminya
kehilangan
pekerjaan. Tidak
ada riwayat masalah
emosional. Ada
riwayat asma, ketika
pasien berusia 12
tahun, ayahnya
meninggal
mendadak karena
serangan jantung

LATAR BELAKANG

Gangguan Panik: gangguan


kecemasan yang telah
menjadi paling intensif
dipelajari selama tiga dekade
terakhir

Pemahaman akan psikologi


dan neurobiologi dari
kecemasan telah membantu
komunitas medis dan
masyarakat secara umum
menghargai sejauh mana
gangguan kecemasan dapat
dianggap sebagai masalah
kesehatan publik yang
membutuhkan perhatian
serius

GANGGUAN PANIK
Berulangnya serangan panik
yang tak terduga. Lonjakan
tiba-tiba rasa takut yang
intens pada rasa
ketidaknyamanan yang
mencapai puncaknya dalam
beberapa menit, dan selama
waktu tersebut di ikuti empat
(atau lebih) gejala berikut:

1. Palpitasi, Jantung berdebar, atau detak jantung yang


meningkat
2. Berkeringat
3. Gemetar
4. Sensasi nafas yang terasa pendek atau sesak nafas
5. Perasaan tersedak
6. Nyeri dada atau rasa tidaknyamanan
7. Mual atau distress abdominal
8. Perasaan pusing, goyah, silau saat melihat cahaya,
atau pingsan
9. Menggigil atau sensasi panas

Catatan: Lonjakan tiba-tiba


dapat terjadi dari keadaan
tenang atau keadaan cemas

10. Parestesia (mati rasa atau kesemutan)


11. Derealization (perasaan tak nyata) atau
depersonalisasi (perasaan terpisah dari diri sendiri)
12. Takut kehilangan kontrol atau "menjadi gila"
13. Takut mati

Catatan: Gejala spesifik budaya


(misalnya: tinnitus, leher pegal,
sakit kepala, berteriak yang tidak
terkontrol atau menangis) dapat
dijumpai. Gejala seperti yang
disebutkan seharusnya tidak
dihitung sebagai salah satu dari
empat gejala yang dibutuhkan

Setidaknya salah satu serangan


diikuti selama 1 bulan (atau lebih)
dari satu atau kedua hal berikut:
Kekhawatiran terus-menerus atau khawatir
tentang serangan panik tambahan atau
konsekuensi mereka (misalnya: kehilangan
kendali, mengalami serangan jantung,
"menjadi gila")
Perubahan maladaptif yang signifikan dalam
perilaku yang berhubungan dengan serangan
(misalnya: perilaku yang dirancang untuk
menghindari serangan panik, seperti
menghindari latihan atau situasi asing)

Gangguan tidak disebabkan oleh efek


fisiologis dari substansi (misalnya:
Penyalahgunaan obat-obatan narkotika,
pengobat pnyakit tertentu) atau kondisi
medis lain (misalnya: hipertiroid, gangguan
cardiopulmonal)

Gangguan ini tidak lebih baik dijelaskan oleh


gangguan mental lain (misalnya: serangan
panik tidak hanya terjadi dalam menanggapi
situasi sosial yang ditakuti, seperti dalam
gangguan anxietas sosial; respon dalam
menanggapi fobia benda atau situasi,
seperti pada fobia spesifik; respon terhadap
obsesi, seperti pada gangguan obsesifkompulsif, respon terhadap hal yang
mengiatkan peristiwa traumatis, seperti
dalam gangguan stres pasca trauma, atau
respon dalam perpisahan terhadap sosok
tokoh, seperti dalam gangguan kecemasan
perpisahan).

SERANGAN PANIC SPECIFIER


Catatan: Gejala-gejala berikut
bertujuan untuk mengidentifikasi
serangan panik. Namun, serangan
panik bukan merupakan gangguan
mental dan tidak dapat dikodekan.
Serangan panic dapat terjadi dalam
konteks gangguan kecemasan
manapun, demikian juga dalam
gangguan mental lainnya (seperti
gangguan depresi, gangguan stress
post-trauma, dan penggunaan zat-zat)
serta beberapa kondisi medis (seperti
jantung, respirasi, vestibular,
gastrointestinal). Saat serangan panic
teridentifikasi, hal ini harus dicatat
sebagai detail dari sebuah gangguan
(misal. gangguan stress post-trauma
dengan serangan panic). Untuk
gangguan panik, adanya serangan
panic terkandung dalam kriteria
gangguan panik dan serangan panic
tidak digunakan sebagai detailnya.

Catatan: Gejala khusus


(seperti tinnitus, nyeri
leher, sakit kepala, jeritan
yang tidak dapat dikontrol,
atau menangis) dapat
terjadi. Gejala tersebut
tidak dihitung sebagai satu
dari empat gejala yang
harus ada.

Rasa takut
mendadak
yang intens
atau rasa
tidak
nyaman
yang intens,
yang
mencapai
klimaks
dalam
beberapa
menit, dan
dalam
waktu
tersebut
terjadi
empat (atau
lebih) gejala

Palpitasi, jantung berdebar-debar, detak jantung semakin cepat


Berkeringat
Gemetar
Sensasi napas yang memendek atau sesak napas
Rasa tersedak
Nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada
Mual atau nyeri perut
Merasa pusing, tidak seimbang, kepala terasa ringan, atau
pingsan
Sensasi dingin atau panas
Parestesi (terasa baal atau kesemutan)
Derealisasi atau depersonalisasi
Takut hilang kendali atau menjadi gila
Takut mati

ETIOLOGI

Genetik
Dua studi identik menyatakan bahwa gangguan panik hampir
separuhnya diwariskan (~ 40%) (Gelernter and Stein 2009).
Dari sudut pandang genetik, diyakini merupakan gangguan kompleks
dengan multiple gen memberikan kerentanan meelalui jalur yang
masih belum dapat ditentukan. (Manolio et al. 2009; Smoller et al.
2009)
Sebagai contoh, beberapa studi telah berimplikasi bahwa adenosine
2A gen reseptor (ADORA2A) memiliki peran nyata dalam gangguan
panic, konsisten dengan efek anxiogenik dari kafein, antagonis yang
telah diketahui pada reseptor ini (Hohoff et al. 2010).
Hasil yang paling konsisten melibatkan gen 22q11 catechol O-methyl
transferase (COMT) mengkode enzim yang bertanggungjawab untuk
metabolism norepinefrin.

NEUROBIOLOGI

Observasi Pitt
sodium
laktat
hiperosmolar
picu serangan
panik pada
pasien dengan
gangguan
panik tidak
pada subjek
control

Beberapa studi
agen seperti
kafein,
isoproterenol,
yohimbine,
karbondioksida
, dan
kolesistokinin
memiliki
kemampuan
yang hampir
sama

Studi
percobaan
agen-agen ini
dilakukan guna
mengindikasika
n abnormalitas
biokimia
spesifik yang
terdapat pada
gangguan
panic.

Perubahan fungsi
Investigator
sirkuit rasa takut
sebagian besar
secara umum
efek dapat timbul
ditemukan pada
oleh karena
berbagai
komponen yang
gangguan
dijelaskan pada
kecemasan dan
teori dasar dari
koneksinya yang
gangguan panic.
dipercaya
Sensitivitas otak
memainkan
yang meningkat
peranan sebagai
seiring dengan
penyebab dalam
peningkatan
kaitannya dengan
kadar
patofisiologi
karbondioksoda
gangguan yang
sudah menjadi
berhubungan
teori utama dalam dengan rasa takut
etiologi
termasuk
munculnya
gangguan panic,
gangguan panic.
fobia social, dan
PTSD.

Disfungsi amigdala
mungkin juga dapat
menjadi faktor penyebab
yang penting dalam
timbulnya kecemasan
secara umum Data
neuroimaging menyatakan
bahwa beberapa struktur
otak dalam hal ini insula
turut terlibat dalam
kewaspadaan intensif dari
sensasi somatic yang
dialami pasien dengan
gangguan panic dan
gangguan terkait (Paulus,
dan Stein, 2010).

Data ini penting guna


menunjukkan hubungan
yang lebih dekat antara
teori psikologis dan
biologis dari gangguan
panic dalam tahuntahun kedepan.

Psikologi
Sensitivi
tas
Kecemas
an

Pengalaman tidak
menyenangkan yang
berlangsung berulang kali
(bullying, penyakit fisik)
Pengamatan pribadi
terhadap hal yang terjadi di
sekitarnya (penyakit atau
kematian anggota
keluarga)
Pemaksaan dari orang tua
Melihat contoh reaksi
terhadap stress

Faktor Kognitif dan Perilaku pada Gangguan


Panik