Anda di halaman 1dari 32

Superior versus Inferior Conjunctival Autograft

Using Fibrin Glue in Management of Primary


Pterygium: Clinical and Histopathological
Results

Doter Pembimbing :
dr. Dwidjo Pratikjo, Sp.M
Oleh:
YURITSA SASTI PRADITA
1610221059
KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
RST dr. Soedjono Tingkat II Magelang
2016

Pterigium Pertumbuhan jaringan fibrovaskular konjungtiva


yang meluas melewati limbus untuk menginvasi kornea
hingga kejauhan yang berbeda-beda

Etiologi Paparan sinar ultraviolet sering pada iklim panas

Pengangkatan pterigium dengan tindakan operasi merupakan


penatalaksanaan yang permanen, namun kekambuhannya
masih merupakan permasalahan utama.

Eksisi sederhana menyebabkan tingginya angka kekambuhan


yang dilaporkan hingga mencapai 89%

Autograft konjungtiva bebas yang pertama kali dijelaskan oleh


Kenyon dkk menunjukkan angka kekambuhan yang rendah
yaitu sebesar 5.3%.

Konjungtiva superior adalah tempat yang paling umum


untuk dijadikan sebagai tempat pengambilan donor
autograft pada operasi pterigium

Namun kadangkala merupakan hal yang sulit dilakukan


atau tidak dianjurkan pada keadaan jaringan parut di
konjungtiva superior akibat :

Operasi atau trauma atau pasca infeksi sebelumnya

Pasien yang telah menjalani operasi filtrasi

Pasien penderita glaukoma yang membutuhkan operasi


filtrasi di masa yang akan datang

Koranyi dkk adalah orang yang pertama yang


menjelaskan penggunaan perekat fibrin untuk
pencangkokan konjungtiva pada operasi
pterigium. Mereka menemukan bahwa
menggunakan perekat fibrin, bukannya jahitan,
dalam operasi pterigium menimbulkan outcome
yang lebih baik dan secara signifikan
mempersingkat waktu yang diperlukan untuk
melakukan operasi

TUJUAN

Untuk mengevaluasi perbedaan antara autograft


konjungtiva superior dan inferior dengan
menggunakan perekat fibrin dalam
penatalaksanaan pembedahan pterigium primer
berkenaan dengan angka kekambuhan, tingkat
kesulitan dalam tekniknya, durasi dan komplikasi
pembedahan

METODE & BAHAN

Penelitian ini menggunakan metode kohort prospektif dengan


desain cross sectional

Bahan untuk melakukan operasi:

Perekat fibrin dengan menambahkan 1 ml air suling ke dalam tiap


reagen (R1: trombin, R2: fibrinogen)

Benoxinate HCL 0.4 % topikal

1% lidokain hidroklorida dengan epinefrin 1: 100.000

Pewarnaan imunohistokimia sel punca

Formalin

Antibodi monoklonal tikus 4A5 yang diencerkan

Pewarna Hematoksilin dan Eosin

KRITERIA INKLUSI & EKSKLUSI


Inklusi
Semua pasien penderita
pterigium aktif primer

Eksklusi
Pasien dengan simbleferon
atau memiliki jaringan parut
pada konjungtiva
Pterigium double-head
Trauma okular sebelumnya
Kasus-kasus dengan
defisiensi stem sel limbus
yang terlihat secara klinis
dan berada jauh dari tempat
munculnya pterigium
Pasien dengn operasi
intraokular atau operasi
permukaan mata
sebelumnya
Pasien pterigium berulang

SAMPEL PENELITIAN

36 pasien penderita pterigium primer

18 pasien (Kelompok A menerima autograft


konjungtiva superior)

18 pasien (Kelompok B menerima autograft


konjungtiva inferior)

DATA

Data yang dikumpulkan dari tiap pasien


mencakup:

Riwayat medis

Riwayat okular terutama apakah terdapat operasi


intraokular sebelumnya

Pemeriksaan oftalmologi umum

Ukuran pterigium (area = tinggi x (sisi dasar + sisi


atap / 2 )

TEKNIK OPERASI

Perekat fibrin dipersiapkan dengan menambahkan 1 air suling ke


dalam tiap reagen (R1: trombin, R2: fibrinogen)

Mata disterilisasi kemudian diberi Benoxinate HCL 0,4% topikal

Area yg akan dieksisi ditandai dengan spidol

Injeksi 1% lidocain hidroklorida dengan epinefrin 1: 100.000


subkonjungtiva

Kepala pterigium dieksisi dengan menggunakan teknik avulsi dan


badannya didiseksi dari sklera

Lapisan tenon diangkat sambil melakukan kauter pada pembuluh


darah di bawahnya

Tempat autograft konjungtiva ditandai dan diukur besarnya

Setelah persiapan graft selesai, cairan trombin dioleskan di


permukaan sklera dan fibrinogen dioleskan ke permukaan bawah
autograft

Durasi pembedahan direkam dari awal penandaan


hingga pengangkatan eye spekulum

Tobramisin 0,3% topikal dan deksametason 0,1%


tetes mata diberikan 4 x 1 selama 1 mgg, diikuti
dengan penurunan dosis selama 6 mgg

Setiap pasien kemudian diperiksa pada hari 1 dan


3 dan pada minggu pertama, bulan ke-3, bulan
ke-6, dan terakhir pada bulan ke-12 pasca operasi

HASIL

Ukuran rerata pterigium pada (kelompok A) adalah 12.1 3.4 mm2 dan
pada (kelompok B) adalah 11.3 2.1 mm2 dengan nilai p sebesar 0.38
yang berarti secara statistik tidak signifikan. Rerata ukuran autograft
konjungtiva pada (kelompok A) adalah 26.9 6.7 mm2, dan pada
(kelompok B) adalah 27 5.6 mm2, dengan nilai P sebesar 0.97 yang
secara statistik tidak signifikan

Rerata durasi pembedahan dalam (kelompok A) adalah 17.8 2.0


menit dan pada (kelompok B) adalah 17.5 2.4 menit, dengan nilai P
sebesar 0.59 yang berarti secara statistik tidak signifikan.
Rerata periode follow up pada (kelompok A) adalah selama 14.8 0.6
bulan, dan pada (kelompok B) adalah selama 14.97 0.7 bulan,
dengan nilai P adalah 0.55 yang berarti secara statistik tidak signifikan
(Tabel 2).
Terdapat satu kasus kekambuhan di (kelompok A) (5.6%) dan satu pula
di (kelompok B) (5.6%) yang tercatat pada periode follow up di bulan
pertama yang keduanya berupa pertumbuhan jaringan fibrovaskular
yang berukuran kurang dari satu mm melewati limbus. Tidak terdapat
signifikansi statistik dalam hal tingkat kekambuhan pada kedua

Konjungtiva Superior

Konjungtiva Inferior

Penelitian kami menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan


dalam hal kepadatan stel punca epitel limbus yang terwarnai
positif dengan pewarnaan imunologi - 63 pada (kelompok A) dan
(kelompok B) dan juga, tidak terdapat perbedaan dalam hal
kepadatan sebelum dan setelah operasi dalam kelompok yang
sama

DISKUSI

Pada kedua kelompok digunakan perekat fibrin untuk melekatkan


autograf, angka kekambuhan pada kelompok konjungtiva superior
adalah 5.6% dan pada kelompok konjungtiva inferior adalah 5.6%,

Koc dkk mendukung hasil penelitian kami dengan menunjukkan bahwa


pengambilan autograft dari sisi superior atau inferior dalam kasus
pterigium tidak menimbulkan adanya perbedaan yang signifikan
dalam hal angka kekambuhan, namun dalam kejadian pterigium
berulang, pengambilan autograft dari sisi inferior menimbulkan
kemungkinan rekurensi yang secara signifkan lebih tinggi (p = 0.166)

Koranyi dkk melaporkan angka kekambuhan sebesar 5.3%


untuk perekat dibandingkan 13.5% untuk jahitan dan
menyatakan bahwa perlekatan dengan graft yang
berlangsung dengan segera dan kurangnya proses inflamasi
pascaoperasi dapat menghambat pertumbuhan fibroblas ke
dalam dan mengurangi kekambuhan [5]. Angka kekambuhan
kami yang rendah mendukung temuan ini

Penelitian kami melaporkan pembentukan jaringan parut pada


3 kasus dari kelompok inferior (16.6%). Dan juga satu kasus
mengalami simblefaron (5.5%) tanpa epifora dan
ditatalaksana dengan eksisi sederhana ikatan fibrosa dengan
penutupan langsung. Temuan yang sama untuk komplikasi
minor ditemukan oleh Shrestha dkk dengan angka
pembentukan jaringan parut konjungtiva pada tempat donor
hanya sebesar 8%. Hal ini bisa dikarenakan periode follow up
mereka yang singkat

Sebagian besar pasien secara kosmetik puas dalam kunjungan


follow up pasca operasi. Pasien-pasien yang menerima
autograft konjungtiva inferior tidak mengalami
ketidaknyamanan pasca operatif yang lebih besar ketika
dibandingkan dengan autograft konjungtiva superior.

Penelitian kami menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan


dalam hal kepadatan sel punca epitel yang terwarnai positif
untuk pewarnaan imunologi P63 antara kelompok limbus
superior dan inferior pada pasien yang sama dan juga
kepadatan yang sama sebelum dan setelah operasi, hal ini bisa
mendukung angka kekambuhan yang sama baik pada kelompok
superior maupun kelompok inferior.

KESIMPULAN

Autograft inferior dengan perekat fibrin memiliki keuntungan


yang sama dengan autograft superior berkenaan dengan
angka rekurensi dan durasi operasi namun lebih unggul
berkenaan dengan ketidaknyamanan pasien dan dapat
mempertahankan konjungtiva superior untuk operasi
glaukoma di masa yang akan datang jika dibutuhkan.

CRITICRAL
APRASIAL

JUDUL & PENGARANG

No. Judul & Pengarang

+/-

1.

Jumlah kata dalam judul < 12 kata

2.

Deskripsi judul

3.

Daftar penulis sesuai aturan jurnal

4.

Korespodensi penulis

5.

Tempat dan waktu penelitian dalam judul

ABSTRAK

No. Abstrak

+/-

1.

Abstrak 1 paragraf

2.

Secara keseluruhan informatif

3.

Tanpa singkatan selain yang baku

4.

Kurang dari 250 kata

(265)

PENDAHULUAN

No. Pendahuluan

+/-

1.

Terdiri dari 2 bagian/2 paragraf

2.

Paragraf pertama mengemukakan alasan

3.

4.

Paragraf kedua menyatakan


penelitian
Didukung oleh penelitian relevan

5.

Kurang dari 1 halaman

hipotesis/tujuan

+
+

BAHAN & METODE


PENELITIAN
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Bahan & Metode Penelitian


Jenis dan rancangan penelitian
Waktu dan tempat penelitian
Populasi sumber
Teknik sampling
Kriteria inklusi
Kriteria eksklusi
Perkiraan dan perhitungan besar sampel
Perincian cara penelitian
Uji statistik
Program komputer
Persetujuan subjektif

+/+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

HASIL

No. Hasil

+/-

1.

Jumlah subjek

2.

Tabel karakteristik subjek

3.

Tabel hasil penelitian

4.

Komentar dan pendapat hasil penulis tentang


hasil
Tabel analisis data dan uji

5.

PEMBAHASAN, KESIMPULAN,
DAFTAR PUSTAKA
No. Pembahasan, kesimpulan, daftar pustaka

+/-

1.

Pembahasan dan kesimpulan terpisah

2.

3.

Pembahasan dan kesimpulan dipaparkan dengan


jelas
Pembahasan mengacu pada penelitian sebelumnya

4.

Pembahasan sesuai dengan landasan teori

5.

Keterbatasan penelitian

6.

Simpulan utama

7.

Simpulan berdasarkan penelitian

8.

Saran penelitian

9.

Penulisan daftar pustaka sesuai aturan