Anda di halaman 1dari 60

MENARA

DISTILASI
TEKNIK KIMIA
FT- UMJ

MENARA DISTILASI

DISTILASI MERUPAKAN SALAH SATU CARA PEMISAHAN YANG


PALING BANYAK DIPAKAI, KARENA OPERASI DAN ALATNYA
YANG CUKUP MUDAH DAN RELATIF MURAH, TERUTAMA
PEMAKAIAN TENAGANYA TERGOLONG YANG PALING
RENDAH.

Perancangan menara distilasi meliputi:


Kondisi Operasi (Tekanan dan Suhu)
Jumlah Tray
Posisi Umpan Masuk
Komposisi Uap dan Cairan
Diameter dan Tinggi Menara
Design Tray atau Plate dan optimasi
Bahan Konstruksi Menara

a. Kondisi Operasi

T & P operasi pada menara semakin ke atas makin rendah


karena jika sama tidak terjadi aliran, tetapi pada P tinggi,
guna memudahkan penentuan suhu operasi serta kondisi
lain, tekanan seluruh menara dianggap sama.

Dalam menentukan P & T operasi perlu diketahui hal-hal


berikut:
1) Sifat-sifat zat masing-masing dan campurannya,
misal zat tersebut mudah terpolarisasi atau tidak
2) Puncak menara harus diketahui keadaan kritisnya (Tc dan
Pc), karena jika operasinya dekat atau melebihi keadaan
kritis nya, maka tidak bisa diembunkan (Harus < Titik
kritisnya)
3) Campuran zat yang akan didistilasi merupakan azeotrop
atau bukan.
4) Utilitas yang ada atau yang disediakan meliputi pendingin
kondensor dan pemanas reboiler serta perbedaan suhu
yang diijinkan antara zat tersebut dan utilitasnya.

1. Pendingin kondensor dan perbedaan suhu (t)


yang diijinkan
Pendingin kondensor bertugas mengembunkan uap puncak menara.
Beberapa pendingin yang dapat dipakai : air pendingin, refrigeran,
udara pendingin, process fluid dan steam boiler.

a. Air Pendingin (Cooling water )


Pendingin dengan cooling water paling banyak dipakai, kerena
mempunyai suhu kira-kira sama dengan suhu sekeliling. Pemilihan
suhu perancangan harus diambil suhu sekeliling yang paling tinggi. Di
Indonesia biasanya antara 30-36 oC. Dalam hal ini t yang dijinkan
mencapai 10 - 20 oC

b. Refrigeration
Refrigerant dipakai sebagai pendingin kondensor untuk mencegah
penggunaan P operasi yang terlalu besar, supaya T & P operasi rendah,
sehingga relatif volatility () besar, agar fluida yang dipisahkan tidak
rusak karena terjadi polarisasi dll.
Pemakaian refrigeran disesuaikan dengan suhu yang diinginkan, misalnya:
- Untuk mencapai suhu rendah digunakan NH3, freon, propan dsb.
- Untuk mencapai suhu lebih rendah lagi digunakan cascade
refrigeration misalnya propilene dan etilene
- Untuk suhu sangat rendah digunakan cascade refrigeration etilene dan
metana.
Sebagai gambaran tentang suhu terendah yang dapat dicapai sbagai
refrigerant misalnya:
* Freon, NH3 suhu sekitar
: - 20 oC
* C3H8

: - 30

* C3H6

: - 35

* C2H4

: - 100 oC

* CH4

: - 150 oC

c. Udara Pendingin
Dipergunakan untuk daerah-daerah yang kekurangan air, sehingg
cooler nya dipakai jenis fin-fan cooler
Suhu udara pendingin juga sama dengan suhu sekeliling
t yang diijinkan : 20 oC.
d. Process Fluid
Dalam rangka energy integration atau energy utilization
digunakan pendingin yaitu fluida yang lebih dingin dari operasi alat
yang lain. Misalnya pendingin menara yang satu merupakan hasil
yang keluar dari dasar menara yang lain, sehingga alatnya dapat
mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai kondensor menara yang satu,
tetapi juga sebagai reboiler menara yang lain.
t yang diijinkan : 10 20 oC
e. Steam Boiler
Pendingin yang dipakai adalah air, karena tekanannya dibuat rendah
sehingga dihasilkan uap dengan tekanan rendah.
t yang diijinkan : 20 40 oC.

2. Pemanas Reboiler dan perbedaan suhu (t) yang diijinkan


Pemanas reboiler bertugas menguapkan hasil yang keluar dari dasar
menara. Pemanas yang dipakai berupa: uap air (steam), prosess fluid,
api langsung dan hot oil (minyak pemanas)
a. Uap Air (Steam)
Steam merupakan pemanas yang paling banyak digunakan. Suhunya
tergantung tekanan yang digunakan. Umumunya digunakan uap air
jenuh yang akan keluar sebagai embunan.
t yang diijinkan mencapai hingga 60 oC.
b. Process Fuid
Dalam hal ini dipakai fluida hasil puncak menara (distilat) yang suhunya
lebih tinggi dari hasil dasar menara
t yang diijinkan mencapai hingga 10 - 20 oC

c. Api Langsung

Pemanas ini merupakan yang langsung dari pembakaran bahan


bakar (fuel), sehingga suhunya akan sangat tinggi. Biasanya
pemanas dengan suhu yang terlalu tinggi tidak disukai karena
dapat merusak hasil., sehingga pemanasan dengan api langsung
dipakai bila dipandang cukup aman, misalnya crude distilation
unit
d. Hot Oil (minyak pemanas)

Pemanas ini dipakai untuk suhu reboiler yang cukup tinggi.


Minyak pemanas dipilih bila dibandingkan dengan memakai uap
air (steam) masih lebih murah atau kalau di pabrik persediaannya
cukup dibanding dengan pamanas lain

t yang diijinkan mencapai hingga 20 - 60 oC

Menentukan kondisi operasi pada menara distilasi


Untuk multikomponen tentukan KOMPONEN KUNCI (fraksi berat/ Hk dan
fraksi ringan/Lk)
1. Trial Bubble Point Feed
Menentukan Tekanan (P) dengan Hukum Raoult : (P = x A. PAo + xB.PBo)
Menentukan tekanan uap murni Feed (Po) dengan Hukum Antoine:
ln (Po) = A - ( B/(C+T))
Po

= tekanan uap murni (mmHg)

= suhu operasi (oK)

A,B,C = konstanta Antoine


Menentukan konstanta kesetimbangan (K) = Po/P
Jumlah komponen Feed liquid: (xi =1), Berdasarkan kesetimbangan
dibuktikan Komponen Feed uap yaitu:
(yi =(xi.Ki) = 1)

2. Trial Dew Point Top:


Menentukan Tekanan (P) dengan Hukum Raoult :
(P = xA. PAo + xB.PBo)

Menentukan tekanan uap murni Top (Po) dengan Hukum Antoine:


ln (Po) = A-(B/(C+T))

Jumlah komponen Top uap: (yi =1), Berdasarkan kesetimbangan


dibuktikan Komponen Top liquid yaitu:
(xi =(yi/Ki) = 1)

3. Trial Bubble Point Bottom


Menentukan Tekanan (P) dengan Hukum Raoult :
(P = xA. PAo + xB.PBo)

Menentukan tekanan uap murni Bottom (Po) dengan Hukum Antoine:


ln (Po) = A-(B/(C+T))

Jumlah komponen Bottom liquid: (xi =1), Berdasarkan kesetimbangan


dibuktikan Komponen Bottom uap yaitu:
(yi =(xi.Ki) = 1)

Contoh 1:
Menentukan kondisi operasi (T dan P) suatu distilasi yang umpan nya
terdiri atas 50 % mol n-butana dan 50 % mol propana. Hasil yang
diharapkan adalah: hasil puncak 1 % n-butana dan hasil dasar 1 % mol
propana
Penyelesaian:
Kondisi operasi harus dibawah titik kritisnya.
Tc, oK

Tc, oC

Pc, atm

C3H8

370

97

42

n-C4H10

425

152

37,5

KONSTANTA ANTOINE
C4H10:
A

3.93266

Log Psat (bar) = A B.

935.773

tC+C

238.789

Log Psat = log P C4H10 = 0.68


Psat = P C4H10 =

C3H8 :
A

3.92828

Log Psat = log P C3H8 = 1.212

803.997

Psat = P C3H8 =

247.04

Kondisi Atas /Top


Dilihat dari suhu kritisnya, maka pendingin kondensor dapat dipergunakan
air (cooling tower ). Suhu air pendingin yang tersedia = 35 oC atau 95 oF, jika
t diambil 25 oF atau 13,89 oC).
Trial: suhu hasil atas 120 oF (49 C)
P operasi ( Hukum Raoult) :
P = yA. PAo + yB.PBo
P = (0,99) ( 270) + (0,01) (80) = 264,6 psia
Mol fraksi, yi

K: Po/P

xi = yi/K

(A)

0,99

1,02

0,9706

n-C4H10 (B)

0,01

0,30

0,0333

C3H8

1,0039 1

Karena tekanan cukup tinggi maka untuk mencari tekanan bawah, seluruh
menara dianggap sama.
Kondisi Bawah/Bottom
Hasil Trial Suhu operasi bawah adalah 230 oF (110C)
Tekanan P = 264,6 psia

Mol fraksi, x

K: Po/P

y = x.K

C3H8

0,01

2,3

0,023

n-C4H10

0,09

1,00

0,990
1,013 1

Jadi :
Kondisi operasi atas/top adalah: suhu 120 oF dan P: 264,6 psia
Kondisi operasi bawah/bottom adalah: suhu 230 oF dan P:
264,6 psia

Contoh 2:
Menentukan suhu dan tekanan suatu distilasi yang umpannya terdiri dari
50 % mol etana dan 50 % mol etilena. hasil atas yang diharapkan adalah
98 % mol etilena dan 2 % mol etana , hasil bawah adalah 2 % mol etilena
dan 98 % mol etana.
Penyelesaian
Kondisi kritis:
Tc, oK

Tc, oC

Pc, atm

C2H4

282

50,0

C2H6

306

33

48,2

Kondisi Atas/Top
Karena suhu kritisnya rendah, suhu operasinya juga harus lebih rendah
dari suhu kritisnya, jadi perlu pendingin refrigerant
Misal: digunakan C3H6, suhu terendah yang bisa dicapai : - 35 oC;
ambil t = 10 oC
Trial suhu operasi atas 25 oC = - 13 oF
P operasi ( Hukum Raoult) : P = xA. PAo + xB.PBo
P = (0,98) ( 303) + (0,02) (180) = 300,5 psia

Mol fraksi, y

K: Po/P

x = y/K

C2H4

0,98

1,009

0,971

C2H6

0,02

0,599

0,033
1,004 1

Kondisi Bawah/Bottom
Trial Suhu operasi bawah 20 oF = - 6,7 oC
Tekanan P = 300,5 psia
Mol fraksi, x

K: Po/P

y = x.K

C2H4

0,02

1,45

0,0138

C2H6

0,98

0,99

0,9899
1,0027 1

Jadi :
Kondisi operasi atas/top adalah: suhu - 13 oF dan P: 300,5
psia
Kondisi operasi bawah/bottom adalah: suhu 20 oF dan P:
300,5 psia

B. Menentukan Jumlah tray atau plate (N)


Penentuan jumlah tray ini bisa dihitung dengan bermacam-macam
cara, antara lain: 1) Plate to plate calculation; 2) Metode Mc. Cabe and
Thiele; 3) Metode Fenske Underwood; 4) Short cut calculation.
Pada penentuan N ini, ada beberapa hal yang berpengaruh yakni N
min (jumlah plate atau tray minimum), R min (perbandingan
Reflux minimum), R (perbandingan reflux) dan Eo (effisiensi plate ).
Harga R biasanya selalu dibandingkan dengan R min.

1. Menentukan R dan R min:


Batasan-batasan yang dipakai yakni sbb:
R / R min

N / N min

Low level refrigeration (< - 150 oF)

1,05 1,1

2,5 3,5

High level refrigeration

1,1 1,2

2,0 3,0

Pendingin kondensor dengan air atau


udara

1,2 1,5

1,8 2,5

Plate to plate calculation : dengan Metode Mc. Cabe and


Thiele : perhitungan stage ideal untuk sistem biner, tidak
perlu memperhitungkan heat balance, dengan asumsi laju
alir molar konstan. Tahapan perhitungan : membuat kurva
kesetimbangan, membuat garis operasi, membuat garis
umpan (q line), membuat garis stage
1)

2) Metode Fenske Underwood : perhitungan minimum stage


menggunakan persamaan fenske, diturunkan dari distilasi
dua komponen pada total reflux (tidak ada distilat diambil)
3) Short cut calculation :perhitungan minimum stage, feed
plate location, minimum reflux, actual stage

Apabila terdapat n komponen dalam sistem, maka dapat dipakai Metode


Fenske dan Underwood:
Keterangan:

i .x iD
R m 1, ..........pers : 11.60 (Coulson)
i

: relative volatility K komponen ringan dibanding dengan K komponen kunci berat


K
LK
K HK
: konstanta Underwood yang besarnya antara lk dan hk
L
Rm atau ( ) min : Reflux ratio yaitu : aliran yang balik sebagai reflux (L) dibanding dengan
D
produk hasil atas (D)

Harga dapat dicari dari persamaan berikut :


i .x i.f
1 q, .................................pers : 11.61 (Coulson)
i

Harga q dalam section 11.5.2 coulson didefinisikan sebagai :


panas yang menguap setiap1 mol feed
q
panas laten (molar) feed

nilai q = 1 , untuk umpan pada titik didihnya


q = 0 , untuk umpan pada titik embunnya
sehingga nilai dapat dicari dengan trial and error.
Setelah harga Rm ditemukan, maka besarnya R dapat dicari
berdasarkan batasan-batasan diatas.

2. Menentukan Jumlah Plate Teoritis Minimum


Jumlah plate minimum (Nm), terjadi pada reflux total, Fenske
mengemukakan jumlah plate teoritis minimum adalah:

(N) min

x LK x HK
log

x
x
HK D LK

log avg

,..............pers 11.58 (Coulson)

Keterangan :

( K LK
puncak

K LK

(
puncak

avg

K HK
K HK

)D
)B

(K LK .K HK )

3. Menentukan Plate Teoritis


Dengan bantuan Grafik: Erbar and Maddok, 1961, Gambar 11.11
(Coulson) , dengan harga R/(R + 1) sebagai ordinat, dan parameter
Rm/(Rm + 1) maka akan didapatkan nilai N/Nm (absis). N dan Nm
adalah Jumlah plate teoritis dan Jumlah plate minimum t eoritis

4. Jumlah Plate Sesungguhnya (N act)

a)

(N) act

N teoritis
1
Eo (efisiensi)

b) Untuk kondensor total dan reboiler parsiil


(N) act

N teoritis
2
Eo (efisiensi)

Berdasarkan kesepakatan pada pemakaian kondensor


dan reboiler parsiil, Diperkirakan efisiensi 60 80 %
atau biasa diambil Eo = 70 %

C. Menentukan Posisi Umpan Masuk


Digunakan persamaan Kirkbride (1944):

Nr
log

Ns

B
0,206 log

xF .. HK

xF . LK

xB. LK

,..........pers
x D.HK
2

11.62 (Coulson)

atau
Nr B xF .. HK
Ns D x

F . LK

2 0,206

xB. LK


x D.HK

N act sama dengan (Nr + Ns).


Dengan diketahui Nact dan nilai (Nr/Ns), maka diperoleh nilai Nr,
yang merupakan kondisi umpan masuk dihitung dari plate teratas.
Nr (Nrectifiying) : jumlah plate diatas umpan masuk
Ns (Nstriping) : jumlah plate dibawah umpan masuk

D. Komposisi Uap dan Cairan


Reflux (Lo) yaitu cairan yang masuk kembali ke dalam menara
Lo = R x D
Vapor yang masuk ke kondensor (V) = (R + 1) x D
Cairan yang keluar menara (L) = Lo (q . F), q = 1
Vapor yang kembali ke dalam menara (Vo) = L B

Kondisi flooding : kondisi tray kolom distilasi terendam


cairan yang didestilasi, hal ini menyebabkan kecepatan
penguapan berkurang

E. Menghitung Diameter dan Tinggi Menara


1. Laju Alir Superficial batas Flooding (FLV)

FLV

L
V

V
,..........pers. 11.82
L

(Coulson)

2. Flooding Vapor Velocity (Uf)


Uf K

L- - V
V

,...........pers. 11.81

(Coulson)

K konstanta flooding, diperoleh dari Gambar 11.27 (Coulson)


3.

Flooding Vapor Velocity Actual (Un)


Dipilih design persen flooding (F*) pada laju alr maksimum
= 85 % ( Gambar 11.29), sehingga dengan rumus 11.83.
Un = F* x Uf

4. Laju Alir Volumetrik Uap Maksimum (Qv)

QV

5. Net Area Yang Dibutuhkan (An)

6. Penampang Menara (Ac)

Qv
An
Un

Asumsi Downcomer area (Ad) adalah 12 % total area, sehingga


penampang menara:

An
Ac
0,88

7. Diameter Menara (Dc)

Dc

Ac x 4

Keterangan Tabulasi daerah Menara :


Berdasarkan keterangan pada halaman 568 Coulson:
Downcomer area (Ad) = 0,12 x Ac
Net area (An) = Ac Ad
Active area (Aa) = Ac (2 x Ad)
Hole active area (Hs) = 0,1 x Aa
8. Tinggi Menara
Dengan mengetahui jumlah plate, jarak antar plate maka dengan
menambah 2 meter dibawah untuk menampung cairan dan 1,5 m di
atas untuk mencegah entrainment : liquid yang terbawa
oleh vapour ke tray diatasnya dan disebabkan oleh laju
aliran vapour yang tinggi. Hal ini bersifat merusak karena efisiensi
pemisahan menjadi berkurang, karena material volatile rendah
terbawa ke plate yang memiliki volatilitas yang lebih tinggi. (Douglas)

F. Design Tray atau Plate


1. Pola Aliran pada Plate
Laju aliran liquid volume maksimum = Massa
aliran liquid/ Berat Jenis Liquid

Atau dengan mengetahui diameter menara (Dc), untuk single


pass atau double pass, maka dengan menggunakan
Gambar 11.28 Coulson, diperoleh laju alira liquid (m3/detik)

2. Downcomer dan Weir Length


Hubungan antara Downcomer (Ad) dan Weir Length (Iw)
disajikan dalam Gambar 11.31.
Dengan mengambil harga (Ad/Ac) = 12 %, maka diperoleh harga
(Iw/Dc), sehingga nilai weir length (Iw) juga dapat dicari.
Weir Dimensions: Weir height/hw ( 40 90 mm), biasanya
diambil 50 mm
Hole diameter (hd) : (2,5 12 mm), biasanya diambil 5 mm
3. Liquid Flow Rate (Lw)
Minimum Liquid Flow Rate (Lw) adalah 70 % turn-down

4. Weir Liquid Crest/ how (tinggi luapan cairan diatas weir)

h ow

Lw
750

.I
L w

Keterangan:

2/3

,...................................pers. 11.85 Coulson

Iw = weir length; m
how = weir crest; mm
Lw = liquid flow rate; kg/s

5. Laju Alir Superficial Uap Minimum (uh) untuk Mencegah Weeping : Liguid dr
plate jatuh ke plate yg di bawahnya, krn tekanan gas dr bwh kecil,
krn aliran gas rendah

K 2 0,90 (25,4 d h

uh

0,5

,.........................pers. 11.84 Coulson

Keterangan: dh= hole diameter, mm


K2 = konstanta, tergantung dari ketinggian liquid (hw +
how)
dalam plate. K2 diperoleh dari Gambar 11.30

6. Dry Plate Drop (hd)


2

u
h d 51 h x V ,......................................pers. 11.88 Coulson
L
Co

Pressure drop melalui plate kering dapat didefinisikan sbb:


Co adalah suatu fungsi dari ketebalan plate, dapat diperoleh dari
Gambar 11.34, dengan , tp/dh diambil 1 serta (Ah/Ap) x 100 diambil
10, maka diperoleh harga Co.
7. Residual Head (hr)
Residual head (hr) sebagai fungsi dari gaya permukaan cairan.
12,5 x 10 3
hr
,..................................................pers. 11.89 Coulson
L

8. Total Drop plate (ht)


h t h d (h w h o w) h r .....................................pers. 11.90 Coulson

9. Total Pressure Drop plate

Pt (9,81x10 3 ) x h t x L ................................pers. 11.87 Coulson

G. Pengecekan Kelayakan Tray Design


1. Downcomer Design back-up (hb)

h b (h w h ow ) h t h dc ................................pers. 11.91 Coulson


Keterangan: hb = Downcomer back-up, diukur dari permukaan plate
Head loss dalam downcomer (hdc)

h dc

L wd
166
L x Am

........................................pers. 11.92 Coulson

Keterangan: Lwd = kecepatan laju cairan dalam downcomer, kg/s


Am = Aap bila nilainya < Ad

A ap h ap x I w ..................................pers. 11.93 Coulson


h ap h w ( 5 sampai 10 mm)
Pemeriksaan Kelayakan :
hb < (plate spacing + weir height), maka tray spacing layak dipakai
...pers 11.94

2. Downcomer Residence Time (tr)

A d x h bc x L
tr
,....................Pers.11.9 5 Coulson
L wd

Keterangan : hbc = clear liquid back-up


Kelayakan : tr harus > 3 detik

H. Bahan Konstruksi Menara


Bahan untuk konstruksi menara Tray dan bubble cap umumnya
digunakan dari lembaran logam-logam dan paduan logam-logam.
Pemilihan bahan disesuaikan dengan bahan-bahan yang diproses dan
kondisi operasinya. Sebagai bahan yang paling murah adalah besi tuang,
tetapi karena Tower harus dibuat lebih tebal hingga menjadi terlalu berat
dan banyak makan tempat, sehingga sebagai standar dipakai baja karbon
(carbon steel). Untuk bahan-bahan yang korosif terhadap baja karbon
terpaksa dipakai logam lain yang lebih mahal.
Perbandingan harga logam-logam lain terhadap baja karbon (carbon steel )
Jenis logam
Carbon Steel
304 stainless steel clad steel
304 stainless steel
316 stainless steel clad steel
Aluminium (Al)
Cu
Nickel clad steel
Ni

Harga 1 lb logam dibanding


harga 1 lb carbon steel
1
5
7
6
6
7
8
12

Contoh Soal Perancangan Menara Distilasi terdiri 3 bagian :


Menentukan Kondisi Operasi
Menentukan Jumlah Plate
Prosedur Perancangan Kolom Plate dan Pertimbangan Optimasi

TUGAS RANCANGAN MENARA DISTILASI


I. Sistem Pemisahan Menara Distilasi benzen dan air dengan
jumlah umpan 100 kmol/jam , jka pemanas di reboiler
steam 100 C. T pendekatan di reboiler 20C , pressure
drop sepanjang kolom 0,1 atm : Tentukan kondisi operasi
top dan bottom
Tc Benzen (Bz) : 562,1 K; Air (A) 647,3 K
Konst Antoine :
Benzene (Bz) A: 15,9008; B = 2788.51; C = -52.36
Air (B) A : 18.3036; B: 3816.44; C=-46.133
II. Tentukan Jumlah Plate, R, Nmin, Lokasi umpan masuk
III. Rancang Kolom Tray/Plat

Penyelesaian
Menentukan kondisi operasi
F

20% Bz

18 kmol Bz

80% A

10 kmol air

100
kmol
B
2 kmol Bz
70 kmol air

1. Menentukan suhu operasi bawah


Suhu operasi bawah ditentukan dari data suhu
pemanas (steam) dan T reboiler:
Tbottom =
TsteamT reboiler = 10020=80C=353,15K
2. Menentukan tekanan operasi bawah
menggunakan persamaan Raoult
P = XBZ P0 BZ + Xa P0 A
Xbz = 2/(2+70) = 0.0278
P0bz = 757.62 mmHg
Xa =70/(2+70) = 0.972
P0A = 355.32 mmHg
Pbottom = Xbz P0bz + XA P0A = 366.49 mmHg =
0.48 atm
3. Menentukan tekanan operasi atas

4. Menentukan suhu operasi atas , T


bottom = 80C
Trial T top < Tbottom = 50C= 323.15 K
Benzen
Ybz =18/(18+10) = 0.64
P0bz 271,27 mmHg
Kbz = P0bz/ Poperasi(top)
=271.27/290.49=0.94
Xbz = ybz/Kbz = 0.64/0.94=0.68
Air
yA=10/(18+10)=0.36
P0A=92.46 mmHg
KA =P0A/Poperasi(top)
92.46/290.49=0.32
XA=0.36 / 0.32 =1.125
Xi= xbz+xA= 0.68+1.25=1.805>>1
Trial lain di suhu

Trial 1 : Kondisi Operasi Atas, dew Point , trial = 50C= 323.15 K , 290.49
mmHgKompon Ydistila P0
P
K=P0/P X=Y/K

en
t
Benzene 0.64

mmHg
271,27

290.49

0.94

0.68

Air

92.46

290.49

0.32

1.125

0.36

=1.805
Trial 2 :Kondisi Operasi Atas, dew Point , trial = 60C= 333.15 K , 290.49
mmHg Kompone Ydistil P0
P
K=P0/P X=Y/K

n
Benzene
Air

at
0.64
0.36

mmHg
645.45
148.26

290.49
290.49

1.602
0.510

0.40
0.71
=1.19

Trial 3 Kondisi Operasi Atas, dew Point , trial = 65C= 338.15 K , 290.49
mmHg

Kompon

Ydistila

en
t
Benzene 0.64
Air
0.36

P0

K=P0/P

X=Y/K

mmHg
387.61
187.54

290.49
290.49

1.334
0.646

0.48
0..56
=1.04

II. Menentukan Jumlah Plate, R, Nmin,


lokasi umpan
Langkah : (seperti exmp 11.7 Coulson
Richardson)
1. Menentukan jumlah plate min (pers
11.58)
2. Menentukan Reflux ratio minimum (pers
11.60 & 11.61) dengan trial , dengan batasan
jika umpan pada boiling point, q=1
3. Menentukan Jumlah plate minimum pers
(11.58), Plot kan pada Fig 11.11 dengan
parameter R/R+1 dan Rm/Rm+1 sehingga
didapatkan Nmin/N

Menentukan Jumlah Plate, R, Nmin, lokasi umpan


(Contoh 11.6 dan 11.7 Coulson Richardson)
Pada aliran per 100 kmol umpan
Komponen

Volatilitas, Umpan, f

Puncak, d

Bottom, b

5
14.9
24

0
0.1
1

(dijaga/imp)
19

avg

(top&botto
m)

C3
iC4
nC4 (LK)
iC5 (HK)

5
2.6
2.0
1.0

5
15
25
20

(dijaga/imp
Light key ( LK ) adalah komponen
yang dijaga atau
)
terdapat pada
impurities) 34.6
sedangkan
nC5
0.85 bottom35produk (0.4
heavy key ( HK ) adalah
yang terdapat
100komponen
D = 45.3
B = 54.7atau
dijaga pada destilat ( impurities ).
LK dan HK yang muncul pada bottom produk serta
destilat dapat dikatakan sebagai impurites

Menentukan jumlah plate min, fenske underwood


(pers 11.58)

Keterangan
top
= (KLK/KHK)top

bottom = (KLK/KHK)bottom

avg = (KLK.KHK)
Nmin = log [24/1] [19/1] = 8.8
Log (2)

(N) min

x LK x HK
x
x
HK D LK
log avg

log

,..............pers

11.58 (Coulson)

b. Menentukan Reflux ratio minimum (pers 11.60 & 11.61)


dengan trial , dengan batasan jika umpan pada boiling point,
q=1

i xi.f
i -

= 1-q = 1-1=0

Trial

Trial

Xi, f

i, xi,f

=1.5

=1.3

=1.25

0.05

0.25

0.25/(5-

0.068

0.068

0.300

0.312

1.5)
0.15

2.6

0.39

0.071
0.355

0.25

2.0

0.50

1.000

0.714

0.769

0.20

1.0

0.20

-0.400

-0.667

-0.571

0.35

0.85

0.30

-0.462

-0.667

-0.600

= 0.564

-0.252

0.0220

c. Menentukan Jumlah plate minimum pers


(11.58), Plot kan pada Fig 11.11 dengan parameter
R/R+1 dan Rm/Rm+1 sehingga didapatkan Nmin/N
Berdasarkan persamaan 11.60 Coulson
i xi.d = Rm + 1
i -
Dari hasil trial =1.25
Xi, d

i.xi.d

i.xi.d/(i-)

0.11

0.55

0.15

0.33

2.6

0.85

0.69

0.53

2.0

1.08

1.66

0.02

0.02

-0.06

0.01

0.85

0.01

-0.02
= 2.42

Rm + 1 = 2.42
Rm = 1.42
Rm/(Rm+1) = 1.42/2.42 = 0.59
Untuk R =2
R/(R+1) = 0.666
Dari fig 11.11
Nm/Nteoritis = 0.56
N teoritis = 8.8/0.56 = 15.7

Untuk R yang lain :


R

15.7

11.9

10.7

10.4

10.1

Jadi N teoritis mendekati konstan sekitar


11 plate
N act = N teoritis/ eff + 1 = 12/0.7 + 1
=18.4 19

Menentukan Lokasi Umpan Masuk (Contoh 11.8)


Menggunakan persamaan Kirkbride (11.62)
B x
Nr
log
0,206 log
F .. HK

Ns
D xF . LK

xB. LK

x D.HK

,..........pers

11.62 (Coulson)

atau
Nr
Ns

B x

F .. HK
D xF . LK

xB. LK


x
D.HK

0,206

XB, LK = 1/54.7 = 0.018


XD, HK = 1/45.3 = 0.022
Log (Nr/Ns ) = 0.206 log [(54.7/45.3) (0.20/0.25)
(0.018/0.022)2]
= 0.206 log (0.65)
(Nr/Ns) = 0.91
Untuk R =3, N=12 jumlah stage termasuk boiler = 11
Nr + Ns = 11
Ns = 11- Nr = 11 0.91 Ns
Ns = 11/1.91 = 5.76 6
Umpan masuk pada plate ke 7

III.Soal Merancang Kolom Plate


Rancang plate untuk kolom untuk pemisahan aseton-air. Kecepatan
umpan 13.000 kg/jam). Gunakan plate sieve (Coulson Richardson)
BM aseton : 58, air : 18; Xf aseton

: 0.033

Xtop aseton

: 15.5 x10-6

: 0.94; Xbtm aseton

Jumlah stage : 16; Rasio reflux : 1.35


L/V bottom

: 5; L/V top

: 0.57

Bottom L= 954 kg/m3

v= 0.72 kg/m3

L = 753 kg/m3

v= 2.05 kg/m3

Top

Vm = aliran uap di kolom di bawah umpan = 162.3 kmol/j


Lm= aliran cairan di kolom di bawah umpan = 811.6 kmol/j
Top Product
Laju alir uap

D =23.6 kmol/j
V = 55.5 kmol/j

Penyelesaian :

L V
FLV
,..........pers. 11.82 (Coulson)
V L

Menentukan Diameter kolom :


Laju Alir Superficial batas Flooding (FLV)
L : Laju alir massa cairan, kg/s
V : Laju alir massa uap, kg/s
FLV bottom = 5.0 0.72/954 = 0.14
FLV top
= 0.572.05/753 = 0.03
Tray spacing = 5 m
Dari Fig 11.27 nilai konst kecepatan flooding (K1) :
K1 Bottom = 7 x 10-2 ; K1 Top
= 9 x 10-2
Karena adanya Koreksi terhadap nilai :
K1 Bottom = (57/20)0.2 x 7 x 10-2 = 9.3 x 10-2
K1 Top
= (23/20)0.2 x 9 x 10-2 = 9.0 x 10-2
Maka Kecepatan flooding : aliranvapouryang
berlebihan,menyebabkanliquidyang dimasukkan
dalam vapour memenuhi kolom. , uf, (11.81)

Bottom uf = 9.3 x10-2 (954 0.72)/0.72 = 3.38 m/s


Top uf = 9.0 x 10-2(753-2.05)/2.05 = 1.78 m/s
Rancangan untuk flooding pada kondisi normal 70-90%,

Laju Alir
Bottom
: 3.38 x 0.85 = 2.87 m/s
Top
: 1.78 x 0.85 = 1.51 m/s
Laju alir volumetric maksimum :
Bottom = 162.3 kmol/j x 18 = 1.13 m3/detik
0.72 x 3600
Top
= 55.5 x 55.6 = 0.42 m3/detik
2.95 x 3600
Luas Area yang dibutuhkan An = Laju alir volumetric /
Laju alir
Bottom = 1.13 (m3/detik) / 2.83 (m/detik) = 0.40 m2
Top = 0.42 (m3/detik) / 1.51 (m/detik) = 0.28 m2
Trial 1 Area downcomer =12 % total , maka
Column cross-sectional area :
Bottom = 0.40/0.88 = 0.46 m2
Top
= 0.28/0.88 = 0.32 m2
Column diameter :
Bottom = (0.46 x 4/) = 0.77 m
Top = (0.34 x 4/) = 0.64 m
Mendekati ukuran pipa standar, BS 1600 Pt.2:
Diameter luar : 812.8 mm (32 in); ketebalan dinding 9.52

Menentukan Pola Aliran Cairan


Laju cairan volumetric maksimum : 811.6 x 18 = 4.3 x 10-3 m3/detik
3600 x 954
Dengan menggunakan Fig 11.28 pada liquid flow rate 4.3 x 10-3 dan diameter
0.77 m, maka pola aliran cairan adalah single pass
Provisional Plate Design
Diameter kolom
Dc = 0.79 m ;
Luas area Ac = 0.50 m2
Downcomer area Ad = 0.12 x 0.5 = 0.06 m2, pada 12%
Net are An = Ac-Ad = 0.5-0.06 = 0.44 m2
Active Area Aa =Ac 2 Ad = 0.5 0.12 = 0.38 m2
Weir Length (Fig 11.31 grafik antara Ad/Ac Vs lw / Dc)
Ad/Ac = 0.06/0.5 = 0.12 = 12% Memotong kurva pada lw/Dc = 0.76
Maka lw = 0,76 x 0.79 = 0.6. Weir height : 50 mm
Hole diameter: 5 mm
Plate thickness: 5 mm
Check Weeping : aliran vapour yang rendah.Tidak cukup untuk menjaga liquid
dalam tray. Weeping berlebihan menyebabkan dumping: liquid dalam semua tray
akan jatuh ke dasar kolom distilasi
Laju alir cairan maks di bawah plate umpan : 811.6 kmol/j 18 kg/kmol
3600 det/j
=
4.06 kg/det
Laju cairan min : 70% aliran bwh kolom : 0.7 x 4.06 kg/det= 2.84 kg/det

Maksimum weir liquid crest : how = 750 [

Lw ]2/3
pers 11.85
L Iw
= 750 [ 4.06 ]2/3 = 27 mm liquid
954x 0.06
Maksimum weir liquid crest : how = 750 [ 2.85 ]2/3= 22 mm cairan
954x 0.06
Pada laju minimum : hw + how = 50 + 22 = 72 mm cairan
Dari gambar 11.30 (weep point correlation (hw+how) vs K2), maka nilai K2 = 30.6
Uh(min) = laju alir uap minimum
= [K2 0.90 (25.4-dh)]
pers 11.84
(v)1/2
= [30.6 0.90 (25.4 5)] = 14 m/detik
(0.72)1/2
Laju alir uap minimum actual = laju alir uap minimum
= 70% x laju alir volumetric maks di base
Ah
= 0.7 x 1.13/0.038 = 20 m/detik
(kecepatan minimum sebaiknya di atas weep point)

Plate Pressure Drop = Dry plate drop


Maksimum kecepatan uap melalui lubang, uh =1.13/0.039 =29.7
m/detik
Dari Gambar 11.34, untuk ketebalan plate/diameter lubang = 1 dan
Ah/Ap Ah/Aa 0.1, maka Co (koef orifice) = 0.84, maka persamaan
11.88 (pressure drop melalui dry plate, aliran melalui orifice) menjadi
hd = 51 [ub/Co]2 v/L = 51 (29.7/0.84)2 0.72/954 = 48 mm cairan
residual head dari persamaan 11.89 merupakan fungsi surface tension
hr=12.5 x 103/L = 12.5 x 103/ 954 = 13.1 = 13.1 mm cairan
Total plate residual = 48 + (50+27) +13 = 138 mm cairan
Downcomer pressure loss
hap = hw-10 = 50-10=40 mm
area under apron. Aap= 0.60 x 40 x 10-3=0.024 m2
ini lebih kecil dari Ad = 0.06 m2, gunakan Aap untuk
persamaan 11.92
hdc = 166 (4.06/(954x 0.024))2 = 5.2 mm= 6
mm
Backup ini downcomer persamaan 11.91
Hb = (50+27)+138+6 = 221 mm = 0.22 m < (plate
spacing + weir height)
jd ukuran spasi tray bisa diterima.

Cek residence time persamaan 11.95


tr = 0.06 x 0.22 x 954/4.06 = 3.1 detik > 3 detik
(sesuai)
Cek entrainment
uv = 1.13/0.44 = 2.57 m/detik ; % flooding =
2.57/3.38 = 76%
Flv = 0.14 dari gambar 11.29 =0.018. di bawah 0.1
Trial Lay out
Gunakan konstr tipe cartridge , 50 mm unperforated,
50 mm calming zone
(area pada plate yang tdk terdapat lubang)
Perforated Area
Dengan menggunakan gambar 11.32 c = 99
Dari Gambar 11.33 Ip/dh = 2.6, sesuai dengan
persyaratan 2.5-4.0
Number of Holes
-5