Anda di halaman 1dari 24

Referat

Rinitis Atrofi (ozaena)

Disusun oleh :
Renny Dharmawan ( 406151005 )

KEPANITERAAN I. P. TELINGA, HIDUNG, TENGGOROK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RUMAH SAKIT PELABUHAN JAKARTA

PERIODE 9 NOVEMBER 2015 12 DESEMBER 2015

Anatomi Hidung
Hidung luar dibentuk oleh :
kerangka tulang dan tulang
rawan
kulit,

yang dilapisi oleh


jaringan

ikat dan

beberapa otot kecil yang


berfungsi
melebarkan
menyempitkan

untuk
atau
lubang

Hidung dalam terdiri atas :

struktur yang membentang dari


os. internum di sebelah anterior
hingga koana di posterior,
yang memisahkan rongga
hidung dari nasofaring.
Kavum

septum,

nasi

dibagi

dinding

oleh
lateral

terdapat konka superior, konka


media, dan konka inferior.

Muara Sinus Paranasalis

Vaskularisasi Hidung

Persarafan Hidung
N. Oftalmikus (N.V I) N. Nasosiliaris N. Etmoidalis
anterior mempersarafi rongga hidung bagian depan
dan atas.
Rongga hidung lainnya mendapat persarafan sensoris
dari N. Maksila melalui ganglion sfenopalatinum.
N. Olfaktorius, turun dari lamina kribrosa dan kemudian
berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa
olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

Fisiologi Hidung
1. Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara,

humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik


lokal.
2. Fungsi penghidu, karena terdapatnya mukosa olfaktorius (penciuman) dan reservoir

udara untuk menampung stimulus penghidu.


3. Fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan

mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang.


4. Fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap

trauma dan pelindung panas.


5. Refleks nasal. Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan

dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Iritasi pada mukosa hidung
akan menyebabkan refleks bersin dan nafas berhenti.

Rinitis Atrof

infeksi hidung kronik, yang ditandai


adanya atrofi progresif pada mukosa dan
tulang konka.
Secara klinis, mukosa menghasilkan sekret
kental & cepat mengering membentuk
krusta yang berbau busuk.
Disebut juga rinitis kronik foetida atau rinitis
krustosa.

Epidemiologi
Lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia dewasa muda
dan pertengahan.
Menurut Boies (1997) disebutkan frekuensi penderita rinitis atrofi
wanita : laki-laki adalah 3:1.
Menurut Sampan dkk perbandingan wanita : laki-laki adalah 5,6 :
1.
Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan
tingkat sosial ekonomi rendah, lingkungan yang buruk, dan di
negara yang sedang berkembang.

Etiologi
Primer
Infeksi bakteri KlebsiellaOzaenae (paling banyak),
Coccobacillus of Perez, Coccobacillus of
Loewenberg,PseudomonasAeruginosa, dll
Defisiensi Fe & Vit A
Kelainan hormon
Penyakit kolagen
Autoimun

Sekunder

Trauma
Infeksi
Postoperation
Dalam terapi radiasi

Persentase patogen penyebab rinitis


atrofi yang dikutip dari penelitian
Sampan et al

Patogenesis
Terjadi metaplasi epitel dan hilangnya silia hilangnya
kemampuan pembersihan hidung dan debris
Glandula mukosa atrofi atau menghilang hidung kering
Secara patologis dibagi menjadi 2 :
Tipe I: Endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat
infeksi kronik membaik dengan efek vasodilator terapi estrogen
Tipe II: terdapat vasodilatasi kapiler, yang memburuk dengan
terapi estrogen

Gejala Klinis

Persentasi tiap gejala klinis pada Rinitis


Atrofi

Keluhan penderita rinitis atrofi (ozaena) biasanya berupa :


Hidung tersumbat
Gangguan penciuman (anosmia)
Ingus kental berwarna hijau
Sakit kepala
Epistaksis
Hidung terasa kering
Napas berbau sering dikeluhkan orang disekitar pasien

Pemeriksaan Fisik
Ditemukan :
Rongga hidung sangat lapang
mukosa hidung tipis dan kering
Sekret purulen dan berwarna hijau
Konka inferior dan media menjadi
hipotrofi atau atrofi
Adanya krusta (kerak) berwarna hijau
Napas berbau

Trias
Ozaena

Tingkatan gejala klinis:


Tingkat I: atrofi mukosa hidung, mukosa tampak kemerahan
dan berlendir, krusta sedikit
Tingkat II: atrofi mukosa hidung makin jelas, mukosa makin
kering,

warna

makin

pudar,

krusta

banyak,

keluhan

anosmia belum jelas.


Tingkat II: atrofi berat mukosa sehingga konka tampak
sebagai garis, rongga hidung tampak lebar sekali, dapat
ditemukan krusta di nasofaring, terdapat anosmia yang
jelas.

Nasal Discharege (Kiri) dan pembesaran dari ruang


hidung (Kanan)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin
Rontgen foto sinus paranasal
CT-scan sinus paranasal
Pemeriksaan Fe serum
Mantoux test
(Gambaran CT-Scan)
Pemeriksaan histopatologi
Pemeriksaan mikrobiologi
Test serologi (VDRL test dan Wasserman test)

Diagnosis Banding

Komplikasi
a. Perforasi septum

a. Rinitis kronik TBC


b. Faringitis atrofi
b. Rinitis kronik lepra
c. Sinusitis
c. Rinitis kronik sifilis
d. Miasis hidung
d. Rinitis sika
e. Hidung pelana

Tatalaksana
Konservatif
Antibiotik
Cuci hidung
Preparat Fe dan vitamin A
Tetes hidung glukosa-gliserin
Tetes hidung estradiol dalam minyak arachis

Pembedahan :
1. Young's operation
2. Modified Young's operation
3. Lautenschlager operation
4. Implantasi submukosa
5. Wittmack's operation
6. Bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF)

Prognosis
Penyakit ini dapat menetap selama bertahun-tahun.
Dengan terapi yang tepat, diharapkan terjadi
perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya.
Prognosisnya baik, walaupun dapat berulang.

Terima
Kasih

Daftar Pustaka
1. Sampan S. Bist, Manisha Bist, dan Jagdish P. Purohit. Primary Atrophic Rhinitis: A
Clinical Profile, Microbiological, and Radiological Study. India: International
Scholarly Research Network Otolaryngology, volume 2012. 2012. pp 1-6
2. Ballenger JJ and Snow JB. Atrophic Rinitis Dalam: Ballenger JJ and Snow
JB. Ballenger's Otorhinolaryngology Head & Neck Surgery 16th Ed.
Hamilton:BC Decker inc; 2003 h: 750-751.
3. Retno S. Wardani dan Endang Mangunkusumo. Rinitis Atrofi. Dalam: Efiaty
A. Soepardi dkk (Editor). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorak
Kepala dan Leher, edisi 6. Jakarta: Balai Penertbit FKUI. 2007. hlm 140-141
4. Damayanti Soetjipto dan Retno S. Wardani. Hidung. Dalam: Efiaty A. Soepardi
dkk (Editor). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorak Kepala dan
Leher, edisi 6. Jakarta: Balai Penertbit FKUI. 2007. hlm 118-122.
5. Balasubramanian. Review: Atrophic Rhinitis. Ent Scholar. India: Rhinology
department of Health Institute. 2012. pp 1-6.
6. Peter A. Higler. Rinitis Atrofik, Atrofik Hidung, dan Ozaena. In: George L. Adams
et al (editor). Boeis Buku Ajar Penyakit THT (Boeis Fundamental of
Otolaryngology), edisi 6. Jakarta: EGC. 1997. pp 221-222.