Anda di halaman 1dari 33

MESIN-MESIN FLUIDA

DESAIN TURBIN PROPELLER


(Jenis Kaplan)

MESIN - MESIN FLUIDA


DESAIN TURBIN PROPELLER
(Jenis Kaplan)

Turbin Kaplan adalah Turbin Air, jenis baling


baling, yang memiliki pisau atau sirip, yang
dapat disesuaikan. Turbin ini dikembangkan
pada tahun 1913 oleh Profesor Austria Viktor
Kaplan, yang dikombinasikan bilah balingbaling otomatis yang dapat disesuaikan,
dengan gerbang gawang otomatis yang juga
dapat disesuaikan, untuk dapat mencapai
efisiensi melalui berbagai tingkat aliran dan air.

Desain Turbin
propeller
Data Perancangan Turbin
Data perancangan yang diperoleh untuk menghitung
dimensi utama dari turbin propeler, sebagai berikut :
Head (H)
:5m
Debit air (Q)
: 0, 11 m3/s
Viskositas ()
: 998 kg/m3
Gravitasi (g)
: 9,81 m/s2
Asumsi efisiensi hidrolik (h) : 0,80

Perhitungan daya
keluaran Turbin (P)
Daya hidrolik yang dihasilkan berikut:

Perhitungan Kecepatan
Spesifik (nQE).
Kecepatan
spesifik
digunakan
untuk
menentukan
parameter
ukuran
dan
karateristik dari sifat hidrolik turbin tersebut
dimana Head efektif Hn dan Efesiensi termal
h (0.8), kecepatan spesifik dapat dicari
dengan persamaan berikut :

Hn = Hh = 5 m x 0,80 = 4 m
=1,169

Perhitungan Kecepatan
Putaran (n)
Kecepatan putaran turbin dihitung untuk menyesuaikan jenis
dari generator yang akan digunakan, sebelumnya dihitung
energi spesifik hidrolik E (J/Kg), dapat dihitung dengan
persamaan berikut:

Perhitungan
Putaran Maksimal
Putaran maksimal perlu dihitung untuk
menyesuaikan dengan putaran maksimal dari
generator sehingga generator tidak rusak
akibat putaran dari turbin melebihi batas
putaran maksimal dari generator, putaran
maksimal:

nmax= 3,2 x n = 3,2 x 55,283 S-1 =176,90 S-1

Diameter Terluar
Sudu (De)
Menentukan diameter luar sudu turbin dengan
menggunakan persamaan berikut:

Diameter Hub (Di)


Menentukan
diameter
dalam
menggunakan persamaan berikut.

sudu

turbin

dengan

Perhitungan Kavitasi (Hs)


Pada turbin bagian yang sering mengalami kavitasi adalah bagian dari tepi
sudu sehingga perlu dilakukan perhitungan untuk menghindari kerusakan
sudu turbin pada bagian ujung turbin. Kavitasi dapat dihitung
menggunakan persamaan dibawah berikut, Patm = 101325 Pa, Pu=
2985,7 Pa (tabel), = 998 kg/m3, g = 9.81 m/s2 C4 2m/s , Hn = 4 m

Cavitation coefficient

Perhitungan sudut distorsi


sudu (180-)
Untuk perancangan sudu, sudu tidak hanya
tergantung pada analisis tegangan, beberapa faktor
lainnya juga mempunyai peran penting. Yang paling
utama adalah segitiga kecepatan yang dapat
dilakukan perhitungan sebagai berikut, d=De =
0,0496m, n=55,283 s-1, Hn=4m, H1= 3,25 m, H2=
4,75 m, Q= 0,11m3/s, De= 0,150 m. Kecepatan
tangensial (u) merupakan gaya yang diberikan oleh
aliran air masuk turbin dan aliran air keluar dari
turbin, besarnya kecepatan tangensial dapat
ditentukan dengan persamaan berikut:

u = . n . d = 3,14 x 55,283 s-1 x 0,150 m =


26,083 m/s
Kecepatan mutlak (c) merupakan gaya yang
diberikan oleh ketinggian jatuh air pada saat
mengenai permukaan turbin H1 (3,992 m) dan
gaya grafitasi g (9.81 m2/s) dapat ditentukan
dengan persamaan berikut :

Kecepatan relatif (W) merupakan gaya yang diberikan oleh aliran air masuk turbin
dan aliran air keluar dari turbin, ditentukan dengan persamaan berikut:
Wu1 = Cu1 u = 1,222 m/s 26,083 m/s = -24,861 m/s
Wu2 = Cu2 u = 1,159 26,083 m/s = 1,159 26,083 m/s = -24,924 m/s

Untuk mendapatkan sudut yang

akurat dari penyiMPangan, sudut serang harus

dikurangkan dari sudut luncur (180-) :

menentukan
dimensi utama sudu
Koefisien gaya angkat untuk setiap radius dapat ditentukan dengan persamaan
berikut :

Koefisien angkat

Perbandingan l/t
Ketika koefisien gaya angkat diketahui untuk
menentukan

ketebalan

dari

sudu,

perbandingan l/t dapat ditentukan :

maka

Perhitungan Nilai untuk l/t


Perhitungan Coeffesien Gaya Angkat A
Nilai timbal balik dari perban dingan l/t harus
ditetapkan. Melalui nilai timbal balik, rasio
koefisien gaya angkat a/A dapat dibaca
dalam mengikuti Gambar dibawh
Menggunakan rasio ini maka koefisien A dapat
dibentuk

Perbandingan l/t
maka dapat di tentukan nilai dari a/A berdasarkan hasil
perhitungan dari l/t, maka untuk selanjutnya dapat hitung A
dengan persamaan sebagai berikut:

Drag Coefficient ( W )
Grafik pada Gambar berikut memberikan informasi
tentang hambatan koefisien W dari profil yang
berbeda. Profil sudu dapat dipilih berdasarkan tingkat
kesulitan dari bentuk sudu tersebut dan berdasarkan
dimensi turbin yang direncanakan, dapat dilihat pada
Gambar

Perhitungan Sudut
Luncur

Perhitungan Sudut Serang ()

Sudut serang dihitung untuk menentukan ketebalan dari diameter luar sudu turbin, untuk
menentukan ketebalan dari sudu turbin maka dapat digunakan dari Gambar

Gaya Tangensial

Gaya Aksial

Gaya Sentripugal

Putaran Kritis

Analisis Tegangan

Stress Of Blade