Anda di halaman 1dari 47

HEMATOPNEUMOTOR

AKS
PEMBIMBING:
dr. Doddy Prabisma,
Sp.BTKV

Penyusun:
Carvin Kyna Devandran Pieter Try
Choky Angelia Puvana Regina Hemakanen

LATAR BELAKANG

Trauma adalah cedera atau luka yang dapat menyebabkan


kerusakan. Trauma dapat dibagi menjadi trauma tajam dan
trauma tumpul.
Trauma toraks menyumbang 20%-25% angka kematian
terkait trauma dan komplikasinya berkontribusi untuk 25%
kematian lainnya. Trauma toraks terdiri dari 10-15% dari
semua trauma.
Data yang akurat mengenai trauma toraks di Indonesia
belum pernah diteliti. Ancaman kematian oleh karena
trauma toraks sangat tinggi.
Di Amerika didapatkan 180.000 kematian pertahun karena
trauma. 25% diantaranya karena trauma toraks langsung. Di
Australia, 45% dari trauma tumpul mengenai rongga toraks.

PLEUR
A

Terdapat dua jenis pleura yaitu pleura


parietal dan pluera viseral.
Pleura parietalis melapisi toraks atau
rongga dada sedangkan pleura viseralis
melapisi paru-paru. Kedua pleura ini bersatu
pada hilus paru.
Tidak ada ruangan yang sesungguhnya
memisahkan pleura parietalis dengan pleura
viseralis sehingga apa yang disebut sebagai
rongga pleura atau kavitas pleura hanyalah
suatu ruangan potensial.

TRAUMA
TORAKS

Pada dasarnya mekanisme trauma sesuai


dengan hukum fisika, diantaranya hukum
pertama dan kedua dari Newton.
Hukum pertama Newton menyebutkan
bahwa benda yang diam atau bergerak akan
tetap dengan kondisi tersebut hingga
terdorong oleh gaya dari luar.
Hukum Newton kedua yaitu energi tidak
dapat diciptakan ataupun dihilangkan,
namun dapat diubah bentuknya.
Pada suatu trauma dapat terjadi suatu
kompresi, peregangan dan stres.

KOMPRESI

JENIS TRAUMA TORAKS

Segera mengancam jiwa :


a. Obstruksi jalan napas akut oleh sebab

apapun terutama pada cedera


laringotrakea atau cedera berat tulang
muka dan jaringan lunak.
b. Kegagalan ventilasi karena tension
pneumothorax, pneumotoraks terbuka
atau flail chest
c. Kegagalan sirkulasi karena hemotoraks
masif atau tamponade jantung

Potensi mengancam jiwa :


a. Trauma tumpul jantung
b. Kontusio paru
c. Ruptur aorta karena trauma
d. Hernia diafragma karena trauma
e. Ruptur trakeobronkial

Ruptur esofagus
g. Hemotoraks sederhana
h. Pneumotoraks sederhana
f.

Dalam penanganan klinis sehari-hari dikenal dua


macam trauma toraks yaitu trauma tumpul dan trauma
tembus (tajam, tembak, atau tumpul yang menembus).

TRAUMA TUMPUL
TORAKS

Trauma tumpul toraks paling sering disebabkan kecelakaan


kendaraan bermotor sehingga menyebabkan trauma deselerasi.
Jatuh dari ketinggian, ledakan, kecelakaan saat berolahraga
adalah penyebab lain dari trauma tumpul toraks.

Pada trauma tumpul dinding dada, fraktur iga sederhana


merupakan luka yang tersering. Fraktur iga multipel dan
terdislokasi biasanya sering berhubungan dengan penyebab luka
pada paru dan pleura.

Masalah yang berhubungan dengan rongga pleura dapat


dibedakan menjadi pneumotoraks atau hemotoraks.

Secara esensial, sebagian besar luka pada paru dan pleura


menyebabkan masalah fisiologis melalui satu dari tiga mekanisme:

Pendekatan pada pasien dengan trauma tumpul toraks :

Jalan napas harus diamankan dan segera


diresusitasi dengan adekuat. Luka trakeobronkial
harus dicurigai dan dieksklusi.

Segala tanda kegawatdaruratan seperti tandatanda tamponade harus ditatalaksana sebelum


dilanjutkan ke pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan hematoma


dan krepitus pada leher. Pergerakan dada dan
bunyi napas harus diamati.

Gambaran Penting Pada Radiografi Dada dan Kemungkinan Diagnosis

Gambaran X-ray

Diagnosis

Udara atau cairan pada rongga pleura

Pneumotoraks, hemotoraks

Pelebaran atau kelainan mediastinum

Lesi aorta atau cabang besar aorta

Kepadatan cairan pada lapang paru

Kontusio pulmonal

Diafragma suram

Ruptur diafragma

Fraktur iga

Flail chest

Udara dalam jaringan lunak

Pneumotoraks

Posisi tube

Malposisi

HEMOPNEUMOTORAKS

Hematopneumotoraks
adalah gabungan
antara pneumotoraks
dan hemotoraks.

PNEUMOTORAKS

KLASIFIKASI PNEUMOTORAKS
IATROGENIC
TRAUMATIC
SPONTANEOUS

HEMATORAKS

Biasanya merupakan akibat dari cedera


pembuluh darah pulmonal besar atau luka
pada arteri besar sementara cedera paru
minor menyebabkan hemotoraks minimal.
Hemotoraks masif (>750 cc) yang terjadi
kurang dari satu jam setelah trauma
merupakan indikasi untuk operasi.
Perdarahan yang terjadi akibat fraktur iga
biasanya tidak banyak dan dapat berhenti
sendiri. Namun tetap harus diwaspadai adanya
perdarahan arteri interkostalis yang robek.

a.
b.
c.

Monitoring untuk semua kasus perdarahan


dalam rongga toraks setelah pemasangan
WSD adalah sebagai berikut:
0-3 cc/Kg BB/jam
: observasi
>3-<5 cc/Kg BB/jam : obs ketat, bila
berturut2 dlm 3 jam, operasi
>5 cc/Kg BB/jam
: operasi

a.
b.
c.

Perdarahan paru atau pleura yang membutuhkan


bedah adalah akibat dari salah satu faktor berikut ini:
Fraktur iga yang melaserasi pembuluh interkostal
dan menyebabkan perdarahan.
Dislokasi pada fraktur iga yang menusuk dan
melaserasi paru.
Adhesi antara parenkim paru dan dinding dada,
yang dapat merobek pada trauma deselerasi dan
berdarah atau menyebabkan laserasi parenkim
paru.

BAB 3 :
STATUS PASIEN SAKIT

Identitas Pasien
Nama : Sopian Rangkuti
Usia : 50 tahun
Alamat : Jalan STN Soripada
Mulia,Padang Sidempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : Tamat SD
Status : Sudah Menikah
Tgl Masuk : 02 Desember 2016

Anamnesa
Keluhan Utama : Sesak Napas

Telaah :
Hal ini telah dialami oleh os sejak 1 hari sebelum masuk
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Keluhan
os ini disertai dengan rasa nyeri pada saat bernapas. Os
sebelumnya mengalami kecelakaan tunggal saat
mengendarai sepeda motor didaerah gunung tua. Mekanisme
kecelakaan tidak jelas. Riwayat pingsan (-), mual (-), muntah
(-).

RPO : Tidak ada

RPT : Tidak ada

Primary Survey
Airway : Clear,Snoring (-), Gargling (-),
Crowing (-)
Breathing : Nafas spontan, RR 26x/I, regular,
SaO2 99%, kedalaman cukup
Circulation : Akral hangat, CRT <2, TD 110/80
mmHg, HR 110 x/I, regular
Disability : Sens CM, GCS E4M6V5, pupil isokor
3mm/3mm
Exposure : Jejas (-), Hipotermi (-)

Secondary Survey
Status Presens
Keadaan Umum Keadaaan Penyakit
Sensorium: CM
Pancaran Wajah: Nyeri
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Sikap Paksa : +
MAP : 90
Reflek Fisiologis: +
Nadi : 110/i, reg, t/v cukup
Reflek Patologis : Pernapasan : 26 x/i
Temperatur : 37C (axilla)

Status Generalisata

Kepala

Deformitas (-), Laserasi (-), Hematom (-)

Mata

Kelopak mata edema (-), konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)

Leher

Deformitas (-), Laserasi (-), Hematom (-).

Dada
Inspeksi

Pergerakan dada tidak simetris, dada sebelah kiri tertinggal

Palpasi

Stem Fremitus kanan > kiri

Perkusi

Hipersonor pada paru kiri, sonor pada paru kanan

Auskultasi

Kanan = Vesikuler, Kiri = Melemah

Abdomen
Inspeksi

Simetris

Palpasi

Soepel

Perkusi

Timpani

Auskultasi

Bising Usus (+), Normoperistaltik

Ekstrimitas

Dalam batas normal

1.

Pemeriksaan Laboratorium (02 Desember


2016)
Parameter

Nilai

Normal

Hemoglobin (HGB)

12.0

1318

Eritrosit (RBC)

3.52

4,50-6,50

Leukosit (WBC)

14.920

411x103

Hematokrit

34

3954%

Trombosit

250.000

150450x103

Ureum

68

18-55 mg/dL

Kreatinin

0,86

0,71,3 mg/dL

Darah Lengkap

FUNGSI GINJAL

ELEKTROLIT
Natrium (Na)

132

135155 mEq/L

Kalium (K)

4,4

3,65,5 mEq/L

Klorida (Cl)

94

96106 mEq/L

pH

7,450

7.35 7.45

pCO2

31,0

38 42 mmHg

pO2

180,0

85 100 mmHg

Bikarbonat

21,5

22 26 mmol/L

Base Excess

-1,7

(-2) (2) mmol/L

BLOOD GAS ANALYSIS

2. Foto Thorax :

Kesimpulan assesmen bedah:


(L) 2nd, 3rd, 4th, 5th Anterolateral Ribs Fracture+ (L)
Hematopneumothorax

Diagnosa
:
Hematopneumothorax + fraktur iga lateral 2,3,4
dan 5
Penatalaksanaan :
Pemasangan/insersi chest tube dan WSD
IVFD NaCl 0.9% 10 gtt/i
Injeksi Ceftriaxone 5 mg/12 jam
Injeksi Ranitidine 30 mg/8 jam
Injeksi Ketorolac 50 mg/ 8 jam

BAB 4 :
FOLLOW UP

5 - 7 Desember 2016
S
O

Status generalisata
Sens : Compos mentis
TD : 110120/70-80mmHg

Anemis
Ikterik

(-)
(-)

HR : 76-80x/i

Dyspnoe ( - )

RR : 22-24x/I

Sianosis ( - )

Oedem ( - )

: 36.5-37,1 oC

(L) 2,3,4,5 Anterolateral Ribs Fracture + (L) Hematopneumotorax

IVFD RL 20 gtt/menit
O2 2-4 L/menit
Inj. Ceftriaxone 1 amp / 12 jam
Inj. Ranitidine 1 amp / 12 jam
Inj. Ketorolac 1 amp / 8 jam
Diet MB

8 Desember 2016
S

Status generalisata
Sens : Compos mentis
TD : 110120/70-80mmHg

Anemis ( - )
Ikterik

(-)

HR : 74-78x/i

Dyspnoe ( - )

RR : 21-23x/I

Sianosis ( - )

Oedem ( - )

: 36.7-37,2 oC

(L) 2,3,4,5 Anterolateral Ribs Fracture + (L) Hematopneumotorax

IVFD RL 20 gtt/menit
O2 2-4 L/menit
Inj. Ceftriaxone 1amp / 12 jam
Inj. Ranitidine 1 amp / 12 jam
Inj. Ketorolac 1 amp / 8 jam
Diet MB
Foto Toraks ulang Menunggu hasil foto thorax

Kesimpulan : Suspek kontusio paru dd/ infeksi dengan efusi


pleura kiri. Fraktur multiple kosta lateral kiri. WSD terpasang.

9 14 Desember 2016
S

Status generalisata
Sens : Compos mentis
TD : 110120/70-80mmHg

Anemis ( - )
Ikterik

(-)

HR : 72-82x/i

Dyspnoe ( - )

RR : 20-24x/I

Sianosis ( - )

Oedem ( - )

: 36.6-37,3 oC

(L) 2,3,4,5 Anterolateral Ribs Fracture + (L) Hematopneumotorax

IVFD RL 20 gtt/menit
O2 2-4 L/menit
Inj. Ceftriaxone 1amp / 12 jam
Inj. Ranitidine 1 amp / 12 jam
Inj. Ketorolac 1 amp / 8 jam
Diet MB

15 Desember 2016
S

Status generalisata
Sens : Compos mentis
TD : 110120/70-80mmHg

Anemis ( - )
Ikterik

(-)

HR : 70-80x/i

Dyspnoe ( - )

RR : 20-24x/I

Sianosis ( - )

Oedem ( - )

: 36.7-37,2 oC

(L) 2,3,4,5 Anterolateral Ribs Fracture + (L) Hematopneumotorax

IVFD RL 20 gtt/menit
Inj. Ceftriaxone 1 gr / 12 jam
Inj. Ranitidine 1 amp / 12 jam
Inj. Ketorolac 1 amp / 8 jam
Diet MB
Rencana :Spirometri, Tiup balon, Foto ulang tanggal 19 desember 2016

16 18Desember 2016
S

Status generalisata
Sens : Compos mentis
TD : 110120/70-80mmHg

Anemis ( - )
Ikterik

(-)

HR : 76-80x/i

Dyspnoe ( - )

RR : 22-24x/I

Sianosis ( - )

Oedem ( - )

: 36.5-37,1 oC

(L) Hematopneumotorax post Chest tube insert + WSD + (L) 2,3,4,5

Anterolateral Ribs Fracture


IVFD RL 20 gtt/menit
Inj. Ceftriaxone 1 amp / 12 jam
Inj. Ranitidine 1 amp / 12 jam
Inj. Ketorolac 1 amp / 8 jam

19 Desember 2016
S

Status generalisata
Sens : Compos mentis
TD : 110120/70-80mmHg

Anemis ( - )
Ikterik

(-)

HR : 76-80x/i

Dyspnoe ( - )

RR : 22-24x/I

Sianosis ( - )

Oedem ( - )

: 36.5-37,1 oC

(L) Hematopneumotorax post Chest tube insert + WSD + (L) 2,3,4,5


Anterolateral Ribs Fracture

IVFD RL 20 gtt/menit
Inj. Ceftriaxone 1 amp / 8 jam
Inj. Ranitidine 1 amp / 12 jam
PCT tab 3 x 1000 mg
Diet MB
Ulang Foto Toraks tidak tampak pneumotoraks, rencana cabut chest tube

Kesimpulan : fraktur multiple kosta 2-5 posterior kiri. Tidak


tampak pneumothorax

20 Desember 2016
S

Status generalisata
Sens : Compos mentis
TD : 110120/70-80mmHg

Anemis ( - )
Ikterik

(-)

HR : 76-80x/i

Dyspnoe ( - )

RR : 22-24x/I

Sianosis ( - )

Oedem ( - )

: 36.5-37,1 oC

Post Pemasangan Chest tube (L) + (L) 2,3,4,5 Anterolateral Ribs Fracture

Cefadroxil tab 2 x 500 mg


Ranitidine tab 2 x 150 mg
PCT tab 3 x 1000 mg
Diet MB
PBJ besok 21 desember 2016

BAB 5 :
DISKUSI
KASUS

Teori

Kasus

Trauma tumpul toraks paling sering disebabkan Pada kasus pasien ini, os mengalami kecelakaan
kecelakaan

kendaraan

bermotor

sehingga tunggal sehingga menyebabkan os mengalami

menyebabkan trauma deselerasi. Jatuh dari trauma tumpul toraks


ketinggian, ledakan, kecelakaan saat berolahraga
adalah penyebab lain dari trauma tumpul toraks

Bisa disebabkan oleh trauma tembus atau Pasien mengalami hematopneumotorax, dimana
tumpul,

banyak

pasien

juga

mengalami didapati dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan

hemothorax(hemopneumothorax). Pada pasien pemeriksaan penunjang. pasien diklasifikasikan


dengan luka tembus yang melewati mediastinum pneumotoraks traumatik akibat kecelakaan
atau pada trauma tumpul berat, pneumothorax
dapat

disebabkan

oleh

gangguan

pada

tracheobronchial tree. Udara dari pneumothorax


dapat memasuki jaringan lunak pada dada
dan/atau

leher

(emfisema

subkutan),

mediastinum (pneumomediastinum).

atau

Teori

Kasus

Perdarahan paru atau pleura yang membutuhkan bedah Os mengalami kecelakaan atau trauma tumpul torak
adalah akibat dari salah satu faktor berikut ini:Fraktur sehingga
iga

yang

melaserasi

pembuluh

interkostal

menyebabkan

fraktur

iga

yang

dapat

dan menyebabkan perdarahan dan masuknya udara di

menyebabkan perdarahan. Fraktur sternal jarang rongga pleura


melaserasi a.mammaria interna, walaupun terkadang
dapat terjadi. Dislokasi pada fraktur iga yang menusuk
dan

melaserasi

paru.

CT

scan

toraks

telah

menunjukkan bahwa laserasi paru lebih sering terjadi


setelah

trauma

tumpul

daripada

pengetahuan

sebelumnya. Adhesi antara parenkim paru dan dinding


dada, yang dapat merobek pada trauma deselerasi dan
berdarah atau menyebabkan laserasi parenkim paru

Tatalaksana

pada

pemasangan

chest

hematopneumotoraks
tube.Chest

tube

adalah Pada pasien ini ditatalaksana dengan pemasangan chest

besar harus tube dan wsd.

dipasang secara posterior. Perdarahan kontinu dari


chest tube sebanyak 200-300 ml/jam untuk beberapa
jam mungkin akan membutuhkan torakotomi