Anda di halaman 1dari 157

ETIKA BIROKRASI DALAM

PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
NEGARA
(Handout bahan kuliah)
oleh
Dr. Gering Supriyadi, MM
(Dosen STIA - Lembaga Administrasi
Negara)

Wahjudi Kumorotomo, Etika: Admnstrasi Negara, PT Rajagrafindo


Persada, Jakarta, 1992.
Sondang SP Siagian, Prof.Dr.,MPA., Patologi Birokrasi Anaisis,
Identfikasi dan terapinya, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1994.
Gering Supriyadi, Etika Birokrasi, LAN. 2000.
Gabriel Lele, Prof.Dr., Peningkatan kapasitas etika dalam mendorong
perwujudan Good Government,. Gava Media, UGM, 2010.
K. Berten, Etika, Seri Filsafat Atma Jaya:15,Gramedia, Jakarta, 1993
J. Salusu,Prof. Dr, MA, Pengambilan Keputusan Stratejik: untuk
organisasi Publik dan organisasi nonprofit, Grasindo, Jakarta, 1996.
Magnis Suseno, Prof.Dr., Etika Politik, Penerbit Gramedia, Jakarta
Poedjawiyatna, Prof,Ir.,Etika : Filsafat Tingkah Laku, Rinika, Jakarta.

H. Nama Rukmana DW., Dr.Ir,MA, Etika Kepemimpinan perspektf Agama


dan Moral, Penerbit Alpabeta Bandung.
.., Etika dan Integritas, Sarana Bhakti Media Publishing,
Jakarta, 2013.
Prof.Dr. M.Ryaas Rasyid, Makna Pemerintahan : Tinjauan dari segi Etika
dan Kepemimpinan.Pt. Mutiara Sumber Widya, 2000.
Bintoro Tjokromidjojo, Prof.,MA, Reformasi Administrasi Publik.
Unkris,2001.
Kantor Menpan RB. Modul : Azas-azas Tata Pemerintahan Yang baik,
Ismail Moehamad, dkk, Konsep Pengukuran Akuntabilitas, Penerbit
Univ.Trisakti,2004
Frans Mardi Hartanto, Dr., Paradigma baru Manaemen Indonesia,
Penerbit MMU, 2009.
KPK, Buku Putih : Mengenali dan Membefrantas Korupsi,
Jeremy Pope (Editor), Pengembangan Sitem Integritas Nasional, Jakarta.

MENGAPA BIROKRAT HARUS MEMPELAJARI ETIKA DALAM


PENYELENGGARAAN NEGARA/PEMERINTAH
(JUDU
L UNTUK MEMBUAT PAPER KELOMPOK)
Sejak terjadinya krisis yang multidimensional muncul
ancaman yang serius terhadap persatuan bangsa dan
terjadinya kemunduran dalam pelaksanaan etika kehidupan
berbangsa;
Kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagai
pemimpin dan tokoh bangsa;
Tidak berjalannya penegakkan hukum secara optimal dan
lemahnya social control untuk mengendalikan perilaku yang
menyimpang dari etika yang secara alamiah masih hidup
ditengah-tengah masyarakat;

Masih lemahnya pemahaman, penghayatan dan


pengamalan nilai-nilai kehidupan dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
Korupsi yang merajalela, sulit diberantas, karena
kerja kurang dilandasi dengan nilai-nilai, norma;
Penanaman moral, etika dan integritas merupakan
tonggak untuk dapat membangun manusia yang
memahami tentang jati dirinya dan sebagai suatu
upaya dalam membangun manusia Indonesia
dalam membentuk karakter building;
Adanya keterbatasan kemampuan budaya local
dan nasional dalam merespons pengaruh negative
budaya luar.

PENGERTIAN APARATUR NEGARA &


PEMERINTAH
Apparaat (bahasa Belanda) ---- alat
perlengkapan (pemerintah);
Aparatur Aparatur Negara (kamus Bahasa
Indonesia)--------alat (Negara Pemerintah
Pegawai ---- Alata kelengkapan Negara,
yang mempunyai tanggungjawab
melaksanakan roda pemerintahan seharihari; Aparatur Pemerintah Pegawai
Negeri, alat Negara, dan aparatur Negara;

Aparatur diartikan sebagai orang/pejabat yang


memimpin suatu lembaga sekaligus
lembaganya;
Aparatur Negara terdiri atas Aparatur
Kenegaraan dan Aparatur Pemerintahan;
Aparatur Kenagaraan adalah lembaga-lembaga
Negara berdasarkan UUD 1945 dan UU serta
peraturan perundangan yang berlaku;
Aparatur pemerintah adalah perangkat
pemerintahan baik di pusat maupun di daerah
(Propinsi, Kabupaten/Kota)

UU No. 43/1999 tentang perubahan UU No.


8/1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian;
Pasal 3 antara lain dinyatakan : Pegawai
Negeri, berkedudukan sebagai unsur aparatur
Negara yang bertugas untuk memberikan
pelayanan kepada kepada masyarakat secara
profesional, jujur, adil, netral dan tidak
diskriminatif.
Rumusan tersebut mengandung makna bahwa
Pegawai Negeri (salah satu) ---unsur aparatur
Negara, Pegawai Negeri terdiri dari Pegawai
Pusat dan Daerah, TNI dan Kepolisian;

Dalam UU No. 28/1999 tentang Penyelenggaraan


Negara yang bersih dan bebas dari KKN, yang
dimaksud dengan Aparatur Penyelenggara
Negara, antara lain : (1) Pejabat Negara pada
Lembaga Negara, seperti: (a) Anggota DPR/DPD,
(b) Ketua, Wakil Ketua dan Anggota BPK, (c)
Ketua, Wakil Ketua dan Anggota MA, (d) Ketua,
Wk Ketua dan Anggota MK, (e) Ketua, Wk Ketua
dan Anggota KJ, (f) Presiden & Wk Presiden, (g)
Menteri, (h) Gubernur, Bupati/Walikota, (i)
Anggota DPRD, (j) Hakim, (k) Pejabat Negara
yang lain sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku;

Dalam Pasal 1 UU N. 5/2014 tentang Aparatur Sipil


Negar, (ASN) disebutkan :

Angka 1, ASN yang selanjutnya disingkat ASN adlah


profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai
pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja
pada instansi pemerintah;
Angka 2, Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil
dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja
yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dan
diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan
atau diserahi tugas Negara lainnya dan digaji
berdasarkan peraturan perundangan;

Angka 3, PNS adalah warga Negara Indonesia yang


memnuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN
secara tetap oleh pejabat yang berwenang untuk
menduduki jabatan pemerintahan;
Pegawai Pemerintah dengan perjanjian kerja yang
selanjutnya disingkat PPPK adalah warga Negara
Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat
berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu
dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan;
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk
menghasilkan pegawai ASN yang professional, memiliki
nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik,
bersih dari praktik KKN;

Pasal 2, penyelenggaraan kebijakan dan Manajemen


ASN, berdasarkan pada azas :
Kepastian hokum,
Profesionalisme,
Proporsionalitas,
Keterpaduan,
Delegasi,
Netralitas,
Akuntabilitas,
Efektif dan efisiensi,
Keterbukaan,
Nondiskriminatif,
Pe3rsatuan dan kesatuan,
Keadilan dan keetaraan, dan
Kesejahteraan.

Pasal 3, ASN sebagai profesi berlandaskan pada prinsip :

Nilai dasar,
Kode etik dan kode perilaku,
Komitmen, integritas moral, dan tanggungjawab
pada pelayanan Publik ,
Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang
tugas,
Kualifikasi akademik,
Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas, dan
Profesionalitas jabatan.,

Pasal 4, nilai dasar, antara lain :


Memegang teguh ideologi Pancasila;
Setia dan mempertahankan UUD Negara RI 1945 serta
pemerintahan yang syah,
Mengabdi kepada negar dan rakyat Indonesia,
Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak,
Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian,
Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif;
Memlihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur,
Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya
kepada publik,

Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan


dan program pemerintah,
Memberikan layanan kepada publik secara jujur,
tanggap, cepat, tepat, akurat, berdayaguna,
berhasilguna, dan santun,
Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi,
Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama,
Mengutamakan pencapaian hasil dan mendroong
kinerja pegawai,
Mendorong kesataraan dalam pekerjaan, dan
Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan
yangdemokratis sebagai perangkat sistem karier.

Pasal 5, Kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN, antara


lain :
Melaksanakan tugasnya dengan jujur,
bertanggungjawab, dan berintegritas tinggi;
Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
Melayani dengan sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan;
Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku;
Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan
atau pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan
dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku;
Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;

Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara


bertanggungjawab, efektif, dan efisien;
Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya;
Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terekait
kedinasan;
Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari
keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain;
Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi
dan integritas ASN, dan
Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara


bertanggungjawab, efektif, dan efisien;
Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya;
Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terekait
kedinasan;
Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari
keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain;
Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi
dan integritas ASN, dan
Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 10, pegawai ASN berfungsi sebagai :


Pelaksana kebijakan publik;
Pelayan publik, dan
Perekat dan pemersatu bangsa.

Pasal 11, pegawai ASN bertugas :

Melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh


pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangan yang berlaku;
Memberikan pelayanan publik yang profesional
dan berkualitas, dan
Mempererat persatuan dan kesatuan NKRI.

Pasal 12 Peran ASN, antara lain :

Pegawai ASN berperan sebagai


perencana, pelaksana, dan
pengawas penyelenggaraan
tugas umum pemerintahan dan
pembangunan nasional melalui
pelaksanaan kebijakan dan
pelayanan publik yang
profesional, bebas dari
intervensi politik, serta bersih

BIROKRASI SEBAGAI PENYELENGGARA PEMERINTAHAN


NEGARA
Birokrasi diartikan sebagai government by bureaus
yaitu pemerintahan biro oleh pegawai yang diangkat
oleh pemegang kekuasaan, pemerintah atau pihak
atasan dalam sebuah organisasi formal, baik publik
maupun privat; pemerintahan birokratik adalah
pemerintahan tanpa partisipasi warga
masyarakat/konsumen.
Merupakan sifat atau perilaku pemerintahan, yaitu :
sifat kaku,
macet, berbelit-belit, berliku-liku dan
segala tuduhan/stigma negatif terhadap birokrasi
pemerintahan;

Birokrasi sebagai tipe ideal sebuah organisasi yang


bermula dari teori Max Weber tentang konsep
sosiologi rasionalisasi aktivitas kolektif. Weber dlm
buku Guy Peters (1984: 3) mendefinisikan birokrasi
sebagai: organization with a pyramidal structure
of authority, which utilize the enforcement of
universal and impersonal rules to maintain that
structure of authority, and which emphasize the
non-discretionery aspects of administration.
Birokrasi pada hakekatnya merupakan proses
penyelenggaraan pemerintahan secara teratur,
dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

Birokrasi menurut Max Weber pada hakekatnya


mengandung makna pengorganisasian yang
tertib, tertata dan teratur dalam hubungan
kerja yang berjenjang serta mempunyai
prosedur kerja yang tersusun jelas dalam
suatu tatanan organisasi.
Dalam hakekatnya birokrasi merupakan
struktur organisasi disektor pemerintahan,
yang memiliki ruang lingkup tugas sangat luas
serta memerlukan organisasi besar dengan
sumber daya manusia yang besar pula
jumlahnya;

Birokrasi seolah-olah memberi kesan adanya suatu


proses panjang yang berbelit-belit apabila
masyarakat akan menyelesaikan suatu urusan
dengan aparatur pemerintah. Sehingga muncul
pula istilah debirokratisasi yang artinya
merupakan upaya untuk lebih menyederhanakan
prosedur yang dianggap berbelit-belit tersebut.
Peran birkorasi dalam penyelenggaraan
pemerintahan menunjang keberhasilan
pembangunan, telah mendorong berbagai upaya
ke arah langkah penyempurnaan. Upaya ini harus
dilihat sebagai upaya berkesinambungan;

Max Weber (1974), memberikan ciri


birokrasi, antara lain sebagai berikut :
Kegiatan reguler/rutin yang diarahkan untuk
mencapai tujuan organisasi;
Organisasi mengikuti prinsip-prinsip hirarki;
Operasi-operasi terencana dengan baik;
Petugas yang ideal (competensi base);
Hubungan kerja bersifat formal;
Pengangkatan pegawai didasarkan pada
kompetensi;
Memiliki tingkat daya hasil yang tertinggi.

The Liang Gie (Kamus administrasi),


mengemukakan ciri-ciri birokrasi, sebagai berikut :
Adanya pelaksanaan prinsip-prinsip organisasi dengan
sepenuhnya;
Adanya peraturan-peraturan yang benar-benar ditaati;
Para pejabat bekerja dengan sepenuh perhatian dan
kemampuannya;
Para pejabat terikat oleh disiplin;
Para pejabat diangkat berdasarkan syarat-syarat teknis
yang dinyatakan melalui ujian dan ijazah;
Adanya pemisahan yang tegas antara urusan dinas
dengan urusan pribadi.

Prof. Prajudi, mengemukakan :


Birokrasi sebagai suatu tipe organisasi;
Birokrasi sebagai suatu sistem;
Birokrasi sebagai jiwa kerja;

Dalam birokrasi publik, kegiatan pemerintah


selalu terikat pada ketentuan-ketentuan,
peraturan-peraturan.
Birokrasi lebih mengutamakan formalitas
daripada kreativitas. Akibatnya birokrasi
mematikan kreativitas dan dapat
menimbulkan inefisiensi.
Debirokratisasi, mengubah/menyesuaikan.

Karakteristik birokrasi/organisasi bertipe


ideal:
High degree of specialization;
Hierarchical authority structure with limited
areas of responsibility;
Impersonality of relationships between
organizational members;
Recruitment of officials an the basis of ability
and technical knowledge;
Differentiation of private and official income and
fortune and so on.

Peran strategis Birokrasi dalam mewujudkan visi


dan misi bangsa,
Perumus kebijakan negara/pemerintah (melaksanakan
peran/fungsi pengaturan/regulasi) agar terwujud
keamanan, ketertiban, keteraturan, kedamaian dan
keadilan dalam masyarakat.
Penyedia/produsen dan penyalur barang dan jasa layanan
pemerintah kepada warga masyarakat (melaksanakan
peran/fungsi pelayanan).
Pemberdaya warga masyarakat yg kurang mampu secara
ekonomi melalui pembangunan di berbagai bidang/sektor
(melaksanakan peran/fungsi pemberdayaan).
Peran/fungsi pengayoman dan perlindungan warga
masyarakat dari berbagai gangguan.
Peran/fungsi pengelolaan asset/kekayaan negara.

NILAI-NILAI :
Pengertian-pengertian (conception) yang
dihayati seseorang mengenai apa yang lebih
penting, apa yang lebih baik atau kurang baik,
dan apa yang lebih benar atau kurang benar;
Nilai merupakan pilihan moral yang berkaitan
dengan etika dalam kehidupan organisasi
administrasi/manajemen;
Sesuatu yang dianggap baik, menyenangkan,
penting, manfaat;
dasar pertimbangan yang berharga bagi
seseorang untuk menentukan sikap dan perilaku
dalam menghadapi suatu masalah/kejadian;

Nilai (Value) bersifat Abstrak


Norma bersifat konkrit, sebagai
pedoman dalam pelaksanaan
kegiatan;
Penerapan norma, menimbulkan
sikap taat (etis/baik) dan tidak taat
(tidak etis/buruk)

Fungsi nilai, antara lain :


Memberikan tujuan, arti, kesenangan dan
nilai pada kehidupan untuk melakukan
sesuatu;
Mempermudah dalam membuat keputusan;
Menentukan bagaimana kita melihat dan
memahami persoalan;
Memberi arti, makna dan signifikansi pada
masalah tertentu;
Bersifat sesaat atau tetap/permanen.

SUMBER NILAI
AGAMA,
Kepemimpin Rasullah (Antonius, 2007)
Jujur,
Akuntablitas (Adil, Kosisten, Disiplin, Siap mundur
dari jabatan)
Amanah,
Transparan
Tabligh (Musyawarah, Sabar, Lemah lembut, Cinta
dan kasih sayang, membimbing dan memotivasi)

Pembukaan UUD 1945, terkandung nilai-nilai


peradaban kemanusiaan sangat luhur,
mendasar, hakiki dan universal;
Dimensi Spiritual, berupa pengakuan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa (alinea tiga);
Dimensi kultural, berupa landasan Falsafah
negara Pancasila,
Dimensi Institusional, berupa cita-cita (alinea
dua) dan tujuan negara, seta nilai-nilai yang
terkandung dalam bentuk negara dan sistem
pemerintahan negara (alinea empat).

Pancasila, 36 butir ?
UUD 1945, Psl 27 (1) Setiap warga negara
sama kedudukannya didalam hukum, Pasal 28 D
butir 1 perlindungan dan kepastian hukum,
Pasal I (5) Hak azasi;
Undang-Undang sebagai penjabaran UUD 1945,
seperi UU NO. 28/1999, UU No. 31/1999, UU No.
25/2009, UU No. 5/2015. UU No. 30/2014
Peraturan Pemerintah (PP), seperti PP No.
53/2010, PP No. 42/2004

Moore membedakan enam macam nilai,


yaitu :
Nilai primier, sekunder, dan tertier;;-pembedan ini didasarkan pada kerangka
piker yang menentukan usaha, anganangan, atau kepuasan seseorang;
Nilai semu dan nilai riil;
Nilai yang terbuka dan yang tertutup;
Nilai negative dan nilai positif;
Nilai orde atau urutannya

Sedangkan nilai-nilai moral mempunyai karakteristik :


Primier; moral melibatkan komitmen untuk bertindak dan
merupakan landasan hasrat yang paling utama,
Riil, nilai moral bukan sekedar semu. Orang yang berwatak
hipokrit sesungguhnya tidak mempunyai nilai moral yang
bersangkutan;
Terbuka, cirri universalitas dari moral mengharuskan
adanya lingkup yang terbuka;
Bisa bersifat positip maupun negative; moral bias berciri
larangan-larangan maupun anjuran;
Orde tinggi atau arsitektonik; .ketaaatan pada peraturan
maupun pedoman-edoman spiritual;
Absolut, moralitas ada mansuia mestinya bebas dari sifatsifat mementingkan diri sendiri yang terdapat pada
kehendak relative.

NILAI DAN NORMA


Merupakan sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu
yang kita cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu
yang disukai dan diinginkan, sesuatu yang baik.
Salah satu yang sering digunakan untuk menjelaskan
nilai adalah dengan cara membandingkannya dengan
fakta.
Nilai sekurang-kurangnya memiliki 3 ciri, antara lain :
1) Nilai berkaitan dengan subyek,
2) Nilai tampil dalam suatu konteks praktis,
3) Nilai-nilai menyangkut sifat-sifat yang ditambah
oleh subyek pada sifat-sifat yang dimiliki oleh subyek.

Nilai berkaitan dengan Hati Nurani; salah


satu ciri khas nilai moral adalah bahwa hanya
ini menimbulkan suara dari hati nurani
yang menuduh kita bila meremehkan atau
menentang nilai-nilai moral dan memuji kita
bila mewujudkan nilai-nilai moral.
Nilai-nilai moral mewajibkan kita secara
absolut dan dengan tidak bisa ditawar-tawar;
Nilai-nilai moral merupakan nilai tertinggi
yang harus dihayati diatas semua nilai lain;
nilai moral bersifat formal.

MORAL, ETIKA, DAN INTEGRITAS


MORAL
Robert C. Salomon (1987),....menggariskan adanya
perbedaan antara etika, moral dan moralitas.
Etika,....(1) merupakan salah satu cabang filsafat: (2)
merupakan pokok permasalahan di dalam disiplin ilmu sendiri,
....nilai-nilai hidup dan hukum yang mengatur tingkahlaku
manusia;
Moral,....dalam pengertian umum menaruh penekanan kepada
karakter dan sifat-sifat individu yang khusus, diluar ketaatan
pada peraturan;
Moralitas,.....berfokus pada hukum dan prinsip-prinsip yang
abstrak, dibandingkan dengan moral.

Dalam Collins Cobuild Dictionary (1990:987)


dijelaskan tentang moral yakni :
Morality is the idea that some forms of behaviour are
right, proper, acceptable and that other forms of
behaviour are bad or wrong, either in your own
opinion or society;
Morality is the quality or state of being right, proper,
or acceptable in particular situation.
Haryatmoko (2011) moral merupakan sacana normatif
dan imperatif yang diungkapkan dalam kerangka
baik/buruk, benar/salah, yang dianggap nilai mutlak
atau transenden, sedangkan etika dipahami sebagai
refleksi filosofis tentang moral, dan lebih merupakan
wacana normatif.

Norma moral, norma dalam bahsa latin adalah


carpenters square, siku-siku yang dipakai tukang
kayu untusolut.hwa norma moral adalah abk
mencek apakh apakah benda yang dikejerkanya
sungguh-sungguh lurus; Ada 3 macam norma
umum, yaitu : a) norma kesopanan atau etiket, b)
norma hukum, dan c) norma moral.
Relativisme moral tidak tahan uji; Norma-norma
moral tidak pernah mengawang-awang di udara,
tapi tercantum dalam suatu sistem etis yang
menjadi bagian suatu kebudayaan. Setiap
kebudayaan mempunyai kebnaran etis sendirisendiri;

Seandainya relativisme noral benar :


a) maka tidak bisa terjadi bahwa dalam satu
kebudayaan mutu etis lebih tinggi atau rendah
daripada kebudayaan lain;
b) maka kita hanya perlu memperhatikan kaidahkaidah moral suatu masyarakat untuk mengukur
baik tidaknya perilaku manusia dalam masyarakat
itu;
c) maka mungkin terjadi kemajuan di bidang
moral.
Semua konsekuensi dari relativisme moral tadi
tidak bisa diterima. Karena itu hanya tinggal
kemungkinan lain bahwa norma moral absolut.

E.Y. Kanter (2001), ....berasal dari bahasa Yunani yang


sama artinya dengan mores atau moralis dalam
bahasa Latin OManique (dalam Sunaryati Hartono,
2006), ...moral (etis) adalah normative. Pernyataan
normative mengandung tentang : penilaian, kepercayaan,
tanggungjawab, budaya merupakan sesuatu yang terus
berkembang, membawa kemajuan---menuju kehidupan
yang semakin baik, aman, sejahtera dan teratur.
Kata moral dan etika ---menunjukkan cara berbuat yang
menjadi adat karena persetujuan atau praktek sekelompok
manusia.
Kata moril berarti semangat atau dorongan batin.
The Liang Gie (1986), ...antara etika dan moral pada
dasarnya merujuk pada persoalan yang sama, meskipun
berasal dari dua istilah yang berbeda;

ETIKA DAN MORALITAS


Setiap pembahasan mengenai etika dan moralitas
dalam konteks Negara, pemikiran Rousseu
agaknya masih akan relevan.
Kedudukan moralitas atau hokum moral bagi
manusia, sehingga dalam banyak hal kemajuan
peradaban suatu bangsa dapat diukur dari sejauh
individu-individu dalam bangsa tersebut dapat
menunjung tinggi nilai-nilai moralitas.
Hukum moral sangat vital bagi manusia; prinsip
moral dalam hal ini tidak berkaitan dengan jumlah
uang yang harus dibayar, melainkan dengan
kaidah dasar bahwa setiap utang wajib dilunasi.

MORAL, pengertian yang umum menaruh penekanan


kepada karakter dan sifat-sifat individu yang khusus,
diluar ketaatan kepada peraturan.
Maka moral merujuk kepada tingkah laku yang bersifat
spontan seperti rasa kasih, kemurahan hati, kebesaran
jiwa yang kesemuanya tidak terdapat dalam peraturan.
Sedangkan moralitas mempunyai makna yang lebih
khusus sebagai bagian dari etika.
Diluar itu semua, norma mengacu kepada peraturannya
sendiri beserta sanksi-sanksinya. Jadi baik etika maupun
moral termasuk kedalam norma, dan kita mengenal
norma agama, norma susila, norna sopan-santun,
maupun norma hokum.

Moral secara etimologi sama dengan etika, sekalipun


bahasa asalnya berbeda. Moralitas dari kata Latin
moralis, mempunyai arti yang pada dasarnya sama
dengan moral Moralitas adalah sifat moral atau
keseluruhan azas dan nilai yang berkenaan dengan baik
dan buruk.
Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (1988),
moralitas sebagai : sopan santun, segala sesuatu yang
berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun.
Amoral dan immoral, amoral dalam kata Inggris berarti
tidak berhubungan dengan konteksn moral, diluar suana
etis, nonmoral. Dalam kamus yang sama immoral
dijelaskan sebagai opposed to morality, morally evil,
Jadi kota immoral bertentangan dengan moralitas yang
baik, secara moral buruk, tidak etis.

Menguji norma moral, bagaimana kita dapat


membedakan norma moral sungguhan dan norma semu;
Menguji benar tidaknya norma moral adalah generalisasi
norma.
Norma moral adalah benar jika bisa digeneralisasikan
dan tidak benar jika tidak bisa digeneralisasikan.
Menggeneralisasikan norma berarti memperlihatkan
bahwa norma itu berlaku untuk semua orang.
Generalsiasi norma moral mempunyai alas an yang sama
seperti norma moral itu sendiri. Generalisasi norma
menjadi dasar juga bagi apa yang dalam etika dikenal
sebagai the golden rule atau kaidah emas, yang
dirumuskan sbb : hendaklah memperlakukan orang lain
sebagaimana anda sendiri ingin diperlakukan.

Norma dasar terpenting Martabat Manusia.menurut


Filsuf Jerman Immuel Kant, martabat manusia harus
dihormati.
Martabat manusia mengandung pengertian bahwa
manusia harus dihormati sebagaimanusia. Martabat
manusia sebagai norma dasar moralitas tidak saja
harus saya terapkan orang-orang disekitar saya,
melainkan juga terhadap diri saya sendiri
MORALITAS SEBAGAI SEBUAH SISTEM NILAI; moral
merupakan daya dorong internal dalam hati nurani
manusia untuk mengarah kepada perbuatan-perbuatan
baik dan menghindari perbuatan buruk. Nilai dapat
dirumuskan sebagai obyek dari keinginan manusia,
nilai menjadi pendorong utama bagi tindakan manusia.

Tahap-tahap pertimbangan moral dapat dilacak secara teoritis.,


seperti :
Penilaian sunderesis; akal manusia mempunyai keterbatasan
dalam menilai kebenaran dan kebaikan. Penilaian ini mengatakan
bahwa yang baik mesti dilaksanakan. Asumsi yang dipakai bahwa
tanpa pendidikan moral atau akhlak seorang manusia memiliki
kecenderungan naluriah untuk memilih yang baik.
Penilaian tentang ilmu moral, dari proses belajar dan proses
interaksi dengan individu yang lain, seseorang kemudian
mendapatkan kaidah-kaidah moral yang berlaku dalam
masyarakat secara umum.
Akumulasi penghayatan atas nilai=nilai moral tersebut kemudian
menjadi acuan bagi perilaku seorang individu.
Penilaian khusus Nir-pribadi (non-personal), Tahap penilaian ini
berlangsung jika seseorang telah berhadapan dengan suatu
persoalan tipikal dan kemudian melakukan telaah kognitif dalam
pikirannya.

Hukum moral bersifat rasional dan obyektif; salah


satu yang membedakan manusia dan binatang
adalah eksistensi moral. Meskipun rasionalitas dan
obyektivitas moral dalam beberapa hal hanya dapat
dibuktikan dengan keyakinan, tetapi moral
menyangkut harkat manusia yang selalu memiliki
ciri rasional dan obyektif sesuai dengan
kecenderungan manusia untuk berpikir. Disamping
itu moralitas bersifat tanpa pamrih dan netral.
Moralitas terdiri dari hokum-hukum universal;
universalitas moral terletak pada kenyataan bahwa
prinsip moral berlaku bagi siapa saja, kapan saja,
dan dimana saja, tanpa batas oleh ruang dan waktu.

ETIKA
Weihrich dan Koontz (2005:46) etika
sebagai the dicipline with what is good and
bad and with moral duty and obligation,
Ricocur (1990) etik sebagai tujuan hidup
yang baik.
Collins Cobuild (1990:480) etika sebagai in
idea or moral belief that influences the
behaviour, attitudes and philosophy of life
of a group of people

Etika , dapat dibedakan kedalam 3


pengertian, yaitu;
1) Ilmu tengang apa yang baik dan apa
yang buruk tentang hak hak dan
kewajiban moral (akhlak);
2) kumpulan azas atau nilai yang
berkenaan dengan akhlak;
3) nilai me ngenai benar dan salah yang
dianut suatu golongan atau masyarakat;

Etika merupakan nilai-nilai dan norma-norma


yang menjadi pedgangan bagi seseorng atau
suatu kelompok dalam mengeatur tingkah
lakunya;
Etika dan Etiket: Etika berarti moral,
sedangkan Etiket sopan santun.
3 Pendekatan dalam Etika :
Etika ilmu tentang moralitas,
Etika diskriptif, melukiskan tingkahlaku moral
Etika normatif,

Dalam kaitannya dengan pelayanan publik,


etika publik adalah refleksi tentang
standar/norma yang menntukan baik/buruk,
benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan
untuk mengarahkan kebijakan publik dalam
rangka menjalankan tanggungjawab
pelayanan publik;
Azyumardi Azra (2012) etika juga dipandang
sebagai karakter atau etos individu/kelompok
berdasarkan nilai-nilai dan norma luhur.

Catlano (1991) Etika sebenarnya dapat dipahami


sebagai sistem penilaian perilaku serta keyakinan
untuk menentukan perbuatan yang pantas guna
menjamin adanya perlindungan hak2 individu,
serta mengarahkan apa yang seharusnya
dilakukan sesuai nilai-nilai yang dianut;
Gene Blocker etika merupakan cabang filsafat
moral yang mencoba mencari jawaban untuk
menentukan serta mempertahankan secara
rasional teori yang berlaku secara umum tentang
benar dan salah serta baik dan buruk.

Pada prinsipnya etika dipandang sebagai koleksi dari


prinsip-prinsip atau pandangan moral tentang tindakantindakan yang dapat atau tidak dapat diterima mengenai
satu aktivitas tertentu seseorang atau sekelompok orang;
Etika selalu berkaitan dengan kata-kata baik, buruk, jahat,
jujur, salah, benar, wajib, harus, seharusnya, sebaiknya,
jangan, adil dan sebagainya;
Etika birokrasi, adalah koleksi dari ide dan pemikiranpemikiran tentang perilaku pemimpin/pegawai yang dapat
dan yang tidak dapat diterima, yaitu terutama mencakup
benar dan salah, baik atau buruk, adil atau tidak adil, fair
atau unfair. Akan tetapi siapa yang menentukan bahwa
suatu tindakan itu benar atau salah;

Sebaiknya setiap organisasi harus mempunyai kode etik


atau peraturan yang dapat dijadikan acuan dalam
membuat keputusan, sehingga keputusan yang
diputuskan layak dipertanggungjawabkan sebagai
keputusan etis;
Dengan demikian obyektivitas dalam etika memegang
peranan yang sangat penting dalam mendorong
lahirnya keputusan atau tindakan yang baik;
Etika kesusilaan, kata dasarnya susila, su (baik),
dan sila (norma kehidupan)--- menyangkut kelakuan
yang menurut norma-norma kehidupan yang baik;
Etika, dalam bahasa Yunani ethos yang berarti
watak atau adat, kata ini identik dengan asal kata
moral dari bahasa Latin mos (bentuk jamaknya
adalah mores) yang berarti adat atau cara hidup.

Etika mempertanyakan tanggungjawab dan kewajiban


manusia;
Etika dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :

Etika umum, mempertanyakan prinsip-prinsip dasar


yang berlaku bagi tindakan manusia, sedangkan
Etika khusus, membahas prinsip-prinsip itu dalam
hubungan dengan kewajiban manusia dalam
berbagai lingkup kehidupannya;
Etika individual, yang mempertanyakan kewajiban
manusaia sebagai individu, terutama terhadap
dirinya sendiri, dan melalui suara hati terhadap
Sang Illahi;

Etika Sosial, jauh lebih luas dari etika individu, karena


hampir semua kehidupan manusia bergandengan
dengan kenyataan bahwa ia adalah makluk sosial.
Norma--- dalam bahasa Latin berarti--- penyiku atau
pengukur. Sedangkan dalam bahasa Inggris berarti
aturan atau kaidah. Dalam kaitannya dengan perilaku
manusia norma digunakan sebagai pedoman bagi
perilaku yang seharusnya, yang berfungsi untuk
menakar atau menilai segala tindakan/perbuatan
manusia.
W. Banning (1984),... Etika mempersoalkan tata tertib,
cara hidup yang paling baik, apa yang harus dan jangan
dilakukan, apa yang disebut baik dan jahat;

John P. Norman (1984),... etika adalah ilmu tentang


budi pekerti dari cara tindak manusia;
Leys,...seorang administrator dianggap etis apabila
yang bersangkutan menguji dan mempertanyakan
batas yang digunakan dalam pembuatan keputusan,
dan tidak mendasarkan keputusannya semata-mata
pada kebiasaan dan tradisi yang sudah ada;
Golembewski, ....batas etika tersebut mungkin
berubah dari waktu ke waktu, dan karena itu para
administrator harus mampu memahami
perkembangan ketentuan batas-batas tersebut dan
bertindak sesuai dengan batas perilaku tersebut.

Etika, adalah suatu sikap dan perilaku yang menunjukkan


kesediaan dan kesanggupan seseorang secara sadar untuk
mentaati ketentuan dan norma kehidupan yang berlaku
dalam suatu kelompok masyarkat atau suatu organisasi.
Etika adalah nilai-nilai moral yang mengikat seseorang
atau sekelompok orang dalam mengatur, sikap, tindakan
maupun ucapannya;
Etika berasal dari bahasa Yunani, yang berarti ethos, yang
berarti watak atau kebiasaan. Dalam bahasa Perancis,
istilah etika sama artinya dengan etiquette yang dalam
bahasa Indonesia disebut etiket.
Etiket adalah lebih mengarah kepada cara bergaul atau
kebiasaan;

Etika merupakan pola perilaku atau kebiasaan yang baik dan


dapat diterima oleh masyarakat disekelilingnya atau pada
suatu organisasi tertentu;
Etika, juga dipandang sebagai karakter atau etos
individu/krlompok berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma
luhur;
Etika sebagai ukuran dan standar tentang yang benar dan baik
dengan yang salah dan tidak baik;
Etika mengatur kepada standar-standar baku tentang yang
benar dan yang salah, yang menegaskan tentang apa yang
harus dilakukan manusia, biasanya dalam hal hak, kewajiban,
kemanfaatan bagi masyarakat dan kebajikan bagi semua.

Prinsip-prinsip Etika :
Prinsip keindahan (beauty); mendasari segala
sesuatu yang mencakup enikmatan rasa senang
terhadap keindahan yang mengartikan bahwa etika
manusia itu berkaitan atau memperhatikan nilainilai keindahan seperti tidak etis bila memakai
pakaian olahraga waktu jam kerja;
Prinsip kebaikan (Goodneess); secara umum berarti
sifat dari sesuatu yang menimbulkan pujian yang
secara prinsipiil sangat erat kaitannya dengan
hasrat dan cita-cita manusia yang berlaku universal
sehingga mendapatkan penilaian yang sama;

Prinsip keadilan (justice), berarti keadilan adalah


kemauanyang tetap dan kekal untuk memberikan sesuatu
kepada setiap orang terhadap apa yang semestinya.
Prinsip kebiasaan (liberty), kebebasan dapat diartikan
sebagai kelelusaan untuk bertindak atau tidak bertindak
berdasarkan piihan yang dikehendaki yang mengandung
pengertian kemampuan menentukan diri sendiri,
kesanggupan mempertanggungjawabkan, adanya perbuatan,
adanya yarat yang memungkinkan menausia untuk
melaksanakan pilihannya beserta konsekuensinya.
Prinsip kebenaran (truth), merupakan kriteria terhadap
pembuktian yang dapat dilihat dengan fakta sebagaimana
halnya yang terdapat didalam berbagai cabang ilmu
pengetahuan dengan mengedepankan logika.

Etika merujuk pada dua hal:


Etika berkenaan dengan disiplin ilmu yang
mempelajari tentang nilai-nilai yang dianut oleh
manusia beserta pembenarannya dan dalam hal
ini etika merupakan salah satu cabang filsafat;
Etika merupakan pokok permasalahan didalam
disiplin ilmu itu sendiri yaitu nilai-nilai hidup
dan hokum-hukum yang mengatur tingkah laku
manusia.
Kata-kata etika. etis. Dan Moral tidak
terdengar dalam ruang kuliah saja dan tidak
menjadi monopoli kaum cendekiawan.

etika berasal dari bahasa Yunani kuno, ethos dalam


bentuk tunggal mempunyai banyak arti tempat tingal
yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat,
aklak, watak,perasaan, sikap, cara berpikir,. Dalam
bentuk jamak (ta etha) artinya adat, kebiasaan. Kata
terakhir ini yang menjadi latar belakang terbentuknya
istilah Etika. Oleh filosuf yunani Aristoteles sudah
dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi Etik
berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu
tentang adat kebiasaan.
Kata yang dekat dengan etika adalah moral yang
dalam bahasa Latin mos (jamak; Mores) yang berarti
kebebasan, adat;
Jadi etimologi kata etika sama dengan etimologi kata
moral.

Dalam kamus Poerwadarminta etik sebagai ilmu


pengetahuan tentang azas-azas aklak (moral,
Kamus besar Bahasa Indonesia (Dibud, 19888), etika
dapat dibedakan 3 (tiga pengertian :, yaitu :
1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk
tentang hak dan kewajiban moral (aklak);
2) kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan
aklak;
3) nilai mengenai benar dan salah yng dianut suatu
golongan masyarakat
Pada prinsipnya etika dipandang sebagai koleksi dari
prinsip-prinsip atau pandangan moral tentang tindakantindakan yang dapat atau tidak dapat diterima mengenai
satu aktivitas tertentu seseorang atau sekelompok orang;

Etika selalu berkitan dengan kata2 baikburuk, harus- seharusnya, sebaiknya,


jangan, adil dan sebagainya;
Etika birokrasi, adalah koleksi dari ide dan
pemikiran-pemikiran tentang perilaku
pemimpin/pegawai yang dapat dan yang
tidak dapat diterima, yaitu terutama
mencakup benar dan salah, baik atau
buruk, adil atau tidak adil, fair atau unfair.
Akan tetapi siapa yang menentukan
bahwa suatu tindakan itu benar atau salah;

Sebaiknya setiap organisasi harus


mempunyai kode etik atau
peraturan yang dapat dijadikan
acuan dalam membuat keputusan,
sehingga keputusan yang
diputuskan layak
dipertanggungjawabkan sebagai
keputusan etis;
Dengan demikian obyektivitas
dalam etika memegang peranan
yang sangat penting dalam
mendorong lahirnya keputusan atau

Etika, adalah suatu sikap dan perilaku


yang menunjukkan kesediaan dan
kesanggupan seseorang secara sadar
untuk mentaati ketentuan dan norma
kehidupan yang berlaku dalam suatu
kelompok masyarkat atau suatu
organisasi.
Etika adalah nilai-nilai moral yang
mengikat seseorang atau sekelompok
orang dalam mengatur, sikap, tindakan
maupun ucapannya;

Etika merupakan pola perilaku atau kebiasaan yang


baik dan dapat diterima oleh masyarakat
disekelilingnya atau pada suatu organisasi tertentu;
Etika, juga dipandang sebagai karakter atau etos
individu/krlompok berdasarkan nilai-nilai dan normanorma luhur;
Etika sebagai ukuran dan standar tentang yang benar
dan baik dengan yang salah dan tidak baik;
Etika mengatur kepada standar-standar baku tentang
yang benar dan yang salah, yang menegaskan
tentang apa yang harus dilakukan manusia, biasanya
dalam hal hak, kewajiban, kemanfaatan bagi
masyarakat dan kebajikan bagi semua.

Persamaan : etika dan etiket, menyangkut perilaku


manusia
Perbedaan eika dan etika :
Etiket, menyangkut cara suatu perbuatan yang
harus dilakukan. Etika, tidak terbatas pada cara
dilakukannya suatu perbuatan, etika memberi
norma tentang perbuatan itu sendiri.
Etiket, hanya berlaku dalam perbaulan. Etika,
selalu berlaku, etika tidak tergantung pada hadir
tidaknya orang lain.
Etiket, bersifat relatif, Etika jauh lebih absolut.
Etiket, mmandang manusia dari segi lahiriah saja,
Etika manyangkut dari segi dalam.

GARIS BESAR LANDASAN ETIKA.


Naturalisme, paham ini berpendapat nahwa
system-sistem etika dalam kesusilaan adalah
mempunyai dasar alami. Naturalisme berpendapat
bahwa manusia pada kodratnya adalah baik,
sehingga harus dihargai dan menjadi ukuran.;
Individusalisme, Emmanuel Kant berpendapat
bahwa setiap orang bertanggungjawab secara
individual bagi dirinya sendiri;
Hedonisme, menurut kodratnya manusia selalu
mengusahakan kenikmatan. Bila kebutuhan
kodrati terpenuhi, orang akan memperoleh
kenikmatan sepuas-puasnya.

Eudaemonisme, --berasal dari kata Yunani demon yang


berarti roh pengawal yang baik, kemujuran atau
keuntungan. Orang yang telah mencapai tingkat
kepuasan yang sempurna, tidak saja secara jasmani
tetapi juga rohani. Mengajarkan bahwa kebahagiaan
merupakan kebaikan tertinggi.
Utilitarianisme, ---mengutarakan bahwa cirri pengenal
kesusilaan adalah manfaat dari suatu perbuatan.;
Idealisme, paham ini muncul dari kesadaran akan
adanya lingkungan normativitas, bahwa terdapat yang
bersifat normative yang member dorongan kepada
manusia untuk berbuat. Berdasarkan aspek cipta, rasa
dan karsa yang terdapaat dalam batin manusia,

Ada tiga komponen idealism, yaitu :


1) Idealisme rasionalistik, dengan menggunakan
pikiran dan akal, manusia dapat mengenal normanorma yang menuntun perilakunya;
2) Idealisme estetik, bertolak dari pandangan bahwa
duania serta kehidupan manusia dapat dilihat dari
perspektif karya seni;
3) Idealisme etik, intinya ingin menentukan ukuranukuran moral dan kesusilaan terhadap dunia dan
kehidupan manusia. Paham ini mengajarkan normanorma moral yang berlaku bagi mansuia dan
menuntut untuk mewujudkannya bahwa roh
senantiasa mempunyai nilai tertinggi dan kekuasaan
yang lebih besar.

Dalam RUU Etika Penyelenggara Negara, berkewajiban


untuk menjalankan norma-norma etika sebagai berikut :
Berahlak mulia; ..memiliki sifat-sifat terpuji, rendah hati,
menghargai sesama dan tidak semena-mena serta taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa;
Tepat janji;...menepati janji, sumpah, dan ikrar, dan janjinya
kepada masyarakat yang dilayani;
Jujur;...tidak berbohong, tidak menipu, tidak curang, tidak
manipulatif, bertindak secara konsisten, memiliki kelurusan
hati dan keikhlasan dalam melaksanakan tugas dengan
mengutamakan hati nurani;
Adil,.....tidak memihak, seimbang, tidak diskriminatif;
Arief;....dalam setiap ucapan dan tindakan bersikap bijak;

Disiplin;....patuh dan taat pada aturan, tata tertib dan


prosedur dalam melaksanakan tugas, kewenangan
dan kewajiban secara profesional;
Taat Hukum;....mematuhi peraturan hukum dan
perundang-undangan;
Tanggungjawab dan akuntabel;....norma yang menurut
kesediaan moral setiap penyelenggara Negara untuk :
niat dan tekat untuk melaksanakan tugas, wewenang
dan kewajibannya secara profesioanl;
Kehati-hatian dan kecermatan dalam setiap sikap,
perilaku, tindakan maupun ucapannya;
Memiliki akibat risiko dantanggung jawab yang
terpaut pada kedudukan, kewenangan dan tugas yang
harus dilaksanakannya;

Sopan Santun,... dalam bersikap, berperilaku, bertindak dan


berucap secara etis, menjaga tatakrama, saling hormatmenghormati, memperhatikan protokol kedinasan, beradab,
berbudi pekerti, dalam berhubungan dengan masyarakat yang
perlu dilayani, antar sesama manusia maupun dalam
hubungan kerja dan tugas.
Kehati-hatian,... dalam setiap sikap, perilaku, tindakan dan
ucapannya agar memperhatikan hukum dan perundangundangan, tercipta kehidupan masyarakat yang damai,
tenteram, selaras, serasi dan seimbang.
Keselarasan,... dalam bersikap, berperilaku, bertindak dan
berucap selalu berorientasi pada prinsip kesamaan dan
persamaan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
dan hak-haknya sebagai manusia, dan warga negara untuk
berperan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan serta
kesamaan dalam penyelenggaraan negara.

Etika organisasi menekankan perlunya seperangkat nilai yang


dilaksanakan setiap anggota. Nilai-nilai tersebut berkaitan dengan
pengaturan bagaimana seharusnya bersikap dan berperilaku
dengan baik seperti sikap hormat, kejujuran, keadilan dan
tanggungjawab.
Nilai-nilai etika yang dikembangkan bukan hanya sekedar untuk
menjadi keyakinan pribadi anggota organisasi/pegawai negeri
(personal values) tetapi diterima dan disepakati menjadi
seperangkat norma organisasi (share values).
Dalam konteks organisasi, maka etika organisasi dapat berarti pola
sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan
kelompok organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk
budaya organisasi (organizational culture) yang sejalan dengan
tujuanatau filosif organisasi yang bersangkutan.
Etika Kepemimpinan; adalah adalah ilmu dan standar mengenai
sesuatu yang benar dan sesuatu yang salah; sesuatu yang boleh
dilakukan; dan sesuatu yang tidak boleh dilakukan

Kepemimpinan etis adalah kepemimpinan yang


mendemonstrasikan perilaku yang secara normatif
tepat melalui tindakan personal dan hubungan
interpersonal, dan promosi perbuatan seperti itu
kepada para pengikut melalui komunikasindua arah,
dan pembuatn keputusan.
Menjadi pemimpin yang etis adalah menjadi seorang
pemimpin yang bermoral dan seorang manajer yang
bermoral.
Kepemimpinan merupakan wajah esental dari budaya
etika dari organisasi dan hanya pemimpin yang dapat
menempatkan etika pada agenda organisasi.

Menurut Van den Akker, pemikiran manajer moral


dibangun atas dasar tiga konsep panutan, yaitu
tindakan yang nyata, pemakaian imbalan dan
pendisiplinan dan mengkomunikasikan mengenai
etika dan nilai-nilai individu.
Salah satu fungsi seorang pemimpin adalah
menciptakan iklim dan budaya etis dalam
organisasi. Pemimpin berfungsi memenuhi standar
budaya organisasi yang memenuhi standar etika;
Etika mempengaruhi perilaku pemimpin dan
perilaku para pengikut. Adapun prosesnya :

Norma etika, setiap organisasi atau sistem sosial yang mapan


mempunyai norma dan nilai-nilai disamping pengaturan;
Nilai-nilai mempengaruhi perilaku semua anggota termasuk
pemimpin;
Perilaku mempengaruhi pemimpin yang etis, norma dan nilai-nilai
organisasi diterapkan dalam perilalku mempengaruhi pemimpin;
Iklim etika, penggunaan norma dan nilai-nilai organisasi oleh
pemimpin dalam tehnik mempengaruhi anggota org. yang dapat
diterima oleh para pengikut yang telah menyesuaikan perilakunya
dengan norma dan nilai-nilai organisasi menciptakan iklim etika
dalam organisasi.
Kinerja pengikut, iklim etika memungkinkan para pengikut bekerja
secara maksimal;
Visi tercapai, jika pekerja pengikut maksimal, maka dapat diprediksi
kinerja organisasi akan maksimal dan visi pemimpin akan tercapai.

Karakteristik perilaku etis, antara lain :


Dapat dipercaya,
Menghargai dan menghormati orang lain;
Bertanggungjawab;
Adil;
Kewargaan organisasi;
Jujur.
Pemimpin merupakan faktor penentu terciptanya
perilaku etis dan iklim etika dalam organisasi;
Dalam melaksanakan kode etik, pemimpin
menjadi role model atau panutan perilaku etis;

Ada beberapa bencana yang menakutkan manusia


akhir-akhir ini :
kecelakaan perang nuklir,
bencana ekologi,
krisis kepemimpinan yang mendalam, antara lain :

(a) gejala universal;


(b) proses pengaruh agar menjadi
perubahan dalam masyarakat, kearah
bernilai atau bermakna bagi kehidupan
bersama,
(c) tidak terasanya proses pengaruh positif
yang didambakan oleh masyarakat.

Beberapa dimensi krisis kepemimpinan :


(1) ketidak percayaan terhadap manusia,
(2) tidak terlaksananya otonomi yang
diamanatkan dalam peraturan perundangan,
(3) tidak satunya kata dengan perbuatan,
(4) orientasi status quo yang kelewat kental,
dan
(5) Machiavelli yang berbusana demokrasi
Pancasila.

TUGAS PEMIMPIN
MELAKSANAKAN FUNGSI MANAJERIAL
MENGAMBIL KEPUTUSAN
MENGELOLA KONFLIK
MENGELOLA PERUBAHAN
MENGELOLA KERAGAMAN BUDAYA
MEMBANGUN JEJARING KERJA
MENGELOLA PARADOKS; KITA HIDUP DALAM ERA
PARADOKS (CHARLES HANDY, 1994). PEMIMPIN MASA
DEPAN MAMPU MENGELOLA PARADOKS KEPEMIMPINAN:

PERTAMA : MEMPERTAHANKAN VS MERUBAH


KEDUA
: SENTRALISASI VS DESENTRALISASI
KETIGA
: BERKELOMPOK VS KESENDIRIAN
KEEMPAT : PENGAJAR VS PEMBELAJAR
KELIMA : PEMIMPIN VS PENGIKUT

Penerapan etika secara komprehensive dan praktis, antara lain :


1) adanya kejelasan standar dan ukurn bagi pelayanan publik;
2) adanya kerangka hukum tentang standar etika yang menjadi
dasar bagi standar dan kewajiban setiap pelayanan publik;
3) adanya bimbingan etika bagi setiap pelayan publik untuk
dipegangi, disosialisasikan dan dipromosikan setiap pihak
sepanjang waktu;
4) adanya kejelasan tentang hak dan kewajiban pelayan ketika
melaksanakan pelanggaran;
5) adanya komitmen politik untuk menegakkan etika pelayan
publik;
6) adanya transparansi dalam pengambilan keputusan agar
kekuasaan dan kewenangan yang dipercyakan dapat terjadi dalam
penegakan etika;
7) adanya contoh dan praktek konsisten dalam penegakkan etika;

INTEGRITAS

CoIlins Cobuild Dictionary Integrity


is the quality of being honest and
firm in your moral principles
Integritas vs Kejujuran
Integritas menceritakan kebenaran pada
diri sendiri;
Kejujuran menceritakan kebenaran pada
orang lain;

INTEGRITAS
Integritas, berarti kepengikutan dan ketundukan kepada prinsipprinsip moral dan etis; keutuhan karakter moral; kejujuran; tidak
rusak secara moral atau keadaan moral sempurna tanpa cacat.
Integritas, sebagai sikap jujur, tidak memihak dalam urusan
publik, pemerintahan, dan birokrasi; Integritas mengacu kepada
kejujuran, kebenaran, dan keadilan (PBB);
Integritas, dalam pembahasan ini adalah keterpaduan, dan
keutuhan karakter diri berdasarkan prinsip-prinsip etika dan
moral dalam kehidupan dan pekerjaan pribadi maupun publik..
Integritas dalam konteks pemerintahan/birokrasi adalah
penggunaan kekuasaan resmi, otoritas dan wewenang oleh para
pejabat publik untuk tujuan-tujuan yang syah menurut hukum.

Integritas kesesuaian antara hati, ucapan dan tindakan, atau


dalam bahasa agama lebih dikenal dengan istilah munafik
bagi orang yang tidak sesuai antara kata dan perbuatan;
Integritas, kemampuan untuk senantiasa memegang teguh
prinsip-prinsip moral dan menolak untuk mengubahnya
walaupun kondisi dan situasi yang dihadapi sangat sulit,
serta banyak tantangan yang berupaya untuk melemahkan
prinsip-prinsip moral dan etika yang dipegang teguh.
Collins Cobuild Dictionary (1990, 739), integritas sebagai
the quality of being honest and firms in your moral
principles.
Crimbal and Brooks (2010), integrity is an internal system of
principles which guide our behaviour.

Alfred John (1995), integritas adalah bagian


penting dari kepribadian seseorang.
Prof. Azyumardi Azra (2012), integritas adalah
kepengikutan atau ketundukan kepada
prinsip-prinsip moral dan etis, keutuhan
karakter moral, kejujuran, tidak rusak secara
moral, keadaan moral sempurna tanpa cacat.
KPK , integritas adalah Sebuah nilai, suatu
aspirasi dan secara konteks merupakan
keterpaduan norma.

Integritas individu adalah keselarasan antara apa


yang diucapkan dan apa yang dilakukan oleh
seseorang;
Alfred John, 1995) Integritas merujuk pada sifat
layak dipercaya dalam diri seorang manusia,
didalamnya terdapat kualitas2 individu seperti
karakter jujur, amanah, tanggungjawab,
kedewasaan, sopan, kemauan bersikap baik dan
sebagainya;
Fredik Galtung (KPK, Modul pelatihan integritas,
011), perilaku integritas adalah fungsi interaksi
antara akuntabilitas, kompensasi dan etika, dengan
rumus sebagai berikut : (lihat hal. berikut..)

Io = a (ACE) C
Dimana :
Io = Integritas Organisasi
a = alignment/interaksi
A = Accountability
C = Competensi
E = Ethic/etika
C = Corruption

Integritas dalam Etika, integritas


dianggap sebagai kejujuran dan
kebenaran yang merupakan kata kerja
atau akurasi dari tindakan seseorang.
Integritas dapat dianggap sebagai
kebalikan dari kemunafikan.
Dalam konteks akuntabilitas, integritas
berfungsi sebagai ukuran kesediaan
menyesuaikan sistem nilai untuk
memelihara atau meningkatkan
konsistensi;
Integritas merupakan kesesuaian antara
hati, ucapan dan tindakan, atau dalam
bahasa agama

Integritas dianggap sebagai kebajikan bahwa


akuntabilitas dan tanggungjawab moral
dipergunakan sebagai alat yang diperlukan untuk
mempertahankan konsistensi tersebut.
Tindakan yang selalu taat pada aturan walaupun
tantangan selalu menghantui harus mengatakan
yang sebenarnya walaupun pahit;
Integritas merupakan kemampuan untuk senantiasa
memegang teguh prinsip-prinsip moral dan menolak
untuk mengubahnya walaupun kondisi dan situasi
yang dihadapi sangat sulit, serta banyak tantangan
yang berupaya untuk melemahkan prinsip-prinsip
moral dan etika yang dipegang teguh.

Integritas dianggap sebagai kebajikan bahwa


akuntabilitas dan tanggungjawab moral
dipergunakan sebagai alat yang diperlukan untuk
mempertahankan konsistensi tersebut.
Tindakan yang selalu taat pada aturan walaupun
tantangan selalu menghantui harus mengatakan
yang sebenarnya walaupun pahit;
Integritas merupakan kemampuan untuk senantiasa
memegang teguh prinsip-prinsip moral dan menolak
untuk mengubahnya walaupun kondisi dan situasi
yang dihadapi sangat sulit, serta banyak tantangan
yang berupaya untuk melemahkan prinsip-prinsip
moral dan etika yang dipegang teguh.

Integritas juga dapat dimaknai sebagai kejujuran,


ketulusan, kemurnian, kelurusan yang tidak dapat
dipalsukan dan bukan kepura-puraan.
Integritas bukan hanya jujur pada orang lain, tapi
yang lebih penting jujur pada diri sendiri, karena
suara kebenaran itu ada pada hati sanubari yang
paling dalam.
Ibtegritas adalah keteguhan diri seseorang
aparatur birokrasi dan pejabat publik untuk tidak
meminta atau menerima apapun dari orang lain
yang diduga terkait dengan jabatan publik yang
dipegangnya.

Intdegrits harus dimiliki oleh setiap orang


yang masih menginginkan keadaan yang
lebih baik bagi dirinya dan
lingkungannya.
Ciri orang yang memiliki integritas,
antara lain : mematuhi peraturan dan
etika organisasi, jujur, memegang teguh
komitmen dan prinsip-prinsip yang
diyakini benar, tanggungjawab,
konsisten antara ucapan dan tindakan,
kerja keras dan anti korupsi.

KONSEPSI PARADIGMA KEPEMERINTAHAN


Penyelengaraan pemerintahan merupakan
proses koordinasi, pengendalian, pemengaruhan
dan penyeimbangan setiap hubungan/interaksi
antar institusi.
Format pemerintahan yang diperlukan agar dapat
memenuhi tuntutan perubahan pola interaksi
antar institusi baik pemerintah, swasta dan
masyarakat.
Pola pemerintahan yang dapat dikembangkan
sesuai karakteristik (Kooiman, 1993) sebagai
berikut : (1) kompleksitas, (2) dinamika, (3)

Kepemerintahan (Governance)-----the act,


fact, manner, of governing (tindakan,
fakta, pola dari kegiatan atau
penyelenggaraan pemerintah).
Governance (Kooiman, 1993)---merupakan
serangkaian proses interaksi sospol antara
pemerintah dan masyarakat dalam
berbagai bidang yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat dan intervensi
pemerintah atas kepentingan.

UNDP mengindikasian tiga model kepemerintahan :


(1) economic governance, meliputi proses-proses
pembuatan keputusan (decision making process)
yang memfasilitasi aktivitas ekonomi diantara
penyelenggara ekonomi--- legislatif sebagai
pengambil keputusan politik, pemerintah
disamping sebagai pelaksana juga sebagai
fasilitator terhadap pihak swasta/masyarakat
sebagai pelaku ekonomiEconomic governance
mempunyai implikasi terhadap equity, poverty,
quality of life;

(2) political governance, merupakan


proses-proses pembuatan keputusan
untuk formulasi kebijakan, aktivitas ini
merupakan fungsi legislative;
(3) administrative governance, adalah
suatu system implementasi kebijakan.
Oleh karena itu institusi dari governance
meliputi : state (negara/pemerintah),
private sector (sektor swasta/dunia
usaha), dan society (masyarakat).

Efektivitas dan efisiensi penerapan good governance


dapat dilakukan melalui sinergi manajemen sektor
publik, sektor swasta, dan masyarakat, yang saling
berinteraksi dan berkoordinasi agar dapat menjalankan
peran dan fungsinya masing-masing secara baik.
Institusi pemerintahan berfungsi menciptakan
lingkungan politik dan hukum yang kondusif, sektor
swasta menciptakan pekerjaan dan pendapatan,
sedangkan masyarakat berperan positif dalam interaksi
sosial, ekonomi dan politik.
Konsepsi kepemerintahan pada dasarnya merupakan
sistem interaksi sospol antara pemerintah/negara
dengan masyarakat yang memiliki karakteristik yang
kompleks, dinamis dan beranekaragam.

Paradigma good governance


menekankan arti penting
kesejajaran hubungan antara
institusi negara, pasar dan
masyarakat. Bahkan institusi
pasar dominan, sedangkan peran
institusi negara semakin
mengecil.

Dalam implementasi prinsip-prinsip kepemerintahan


perlu adanya konsepsi kepemerintahan sebagai berikut :
1) Interkasi eksternal bagi organiasi pemerintah
merupakan hal yang penting dan strategis;
2) administrasi publik harus mampu memberikan
perhatian terhadap beragam sudut pandang
administratif, politik dan masalah-masalah sosial;
3) Pemerintah harus mencoba mendelegasikan
tanggungjawab terhadap berbagai unsur pelaku sosial
yang mendorong dan memberdayakan mereka untuk
mengambil dan menerima tanggungjawab;
(4) Peranan pemerintah dibekali dengan kompetensi
tertentu guna menjembatani berbagai kelompok
kepentingan.

KETERKAITAN ETIKA DAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD


GOVERNMENT)

Kata government, diterjemahkan sebagai pemerintah


dan/atau pemerintahan (to govern); memerintah,
diartikan sebagai menguasai atau mengurus negara;
Pemerintah berarti menunjuk pada kesatuan
aparatur/badan/lembaga; sedangkan pemerintahan
menunjuk pada kegiatan, perbuatan, atau urusan
memerintah, misal pemerintahan yang adil,
demokratis, diktator.
Dengan demikian kata pemerintah berarti
kekuasaan untuk memerintah suatu negara;

Secara umum istilah goverment memang lebih mudah


dipahami sebagai pemerintah, yaitu lembaga beserta
aparaturnya yang mempunyai wewenang dan
tanggungjawab untuk mengurusi negara dan
menjalankan kehendak rakyat;
Kata pemerintah dan pemerintahan----- kata perintah--sesuatu yang harus dilaksanakan; makna perintah
(1) adanya keharusan menunjukkan kewajiban untuk
melaksanakan apa yang diperintahkan; (2) adanya dua
pihak, yaitu : yang memberi dan menerima perintah;
(3) adanya hubungan fungsional antara yang memberi
dan yang menerima perintah; (4) adanya wewenang
atau kekuasaan untuk memberi perintah

Kata governance atau kepemerintahan diartikan


the act, fact, manner, of governing (tindakan, fakta,
pola, cara-cara penyelenggaraan pemerintah);
Prof. Bintorogovernance---memerintah,
menguasai, mengurusmengelola;
Governance--- penyelenggaraan pengelolaan;
-----------, pemerintahan kepemerintahan praktek
terbaiknya disebut kepemerintahan yang baik (good
governance);
-----------, (Pinto, 1994) praktek penyelenggaraan
kekuasaan dan kewenangan oleh pemerintah dalam
pengelolaan urusan pemerintahan secara umum dan
pembangunan ekonomi pada khususnya;

Kepemerintahan yang baik (good governance)


mengadung 2 (dua) pemahaman, yaitu : (1) nilai-nilai
yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat,
dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan
rakyat dalam pencapaian tujuan (negara); (2) aspekaspek fungsional dari pemerintahan yang efektif dan
efisien dalam pelaksanaan tugasnya dalam mencapai
tujuan;
Good governance (UNDP,1999) adalah sebagai proses
yang meningkatkan interaksi konstruktif diantara
domain-damainnya dengan tujuan untuk
menciptakan dan memelihara kebebasan, keamanan,
dan kesempatan bagi adanya aktivitas swasta yang
produktif;

---------, hubungan yang sinergis dan konstruktif antara


negara, sektor swasta, dan masyarakat;
Good governance---- mengutamakan partisipasi, transparasi,
akuntabilitas, dan efektivitas serta memperlakukan semua
sama;
Good governance adalah suatu proses pengambilan
keputusan diberbagai level pemerintahan dan proses
bagaimana keputusan tersebut dilaksanakan atau tidak
dilaksanakan dengan mengadopsi karakteristik good
governance;
Good governance adalah suatu bentuk (revitalisasi)
manajemen pembangunan, yang juga disebut administrasi
pembangunan. Pengelolaan perubahan masyarakat,
pengelolaan pembangunan;

Good governance adalah penyelenggaraan


pemerintahan yang didasarkan pada peraturan
perundangan, kebijakan publik yang transparan,
serta adanya partisipasi dan akuntabilitas publik.
Penyelenggaraan good governance haruslah
secara politik akseptable, secara hukum efektif,
dan secara administrasi efektif.
Dengan demikian implementasi good governance
memerlukan keterkaitan dan keterpaduan dari
aspek-aspek dibidang politik, ekonomi, sosial,
budaya, hukum dan administrasi.

Government :
Dalam mengelola berbagai kebutuhan
masyarakat, didominasi oleh instansi
pemerintah;
Stakeholders dalam proses pengelolaan
seluruh aspek kehidupan masyarakat adalah
goverment institution dan society (perannya
kecil sekali);
Prinsip-prinsip pemerintahan masih lemah
untuk diterapkan dan memang masih belum
berkembang dengan baik;

Governance :
Dalam mengelola berbagai kehidupan masyarakat,
melibatkan stakeholders lainnya, tidak hanya
instansi pemerintah;
Stakeholders dalam proses pengelolaan seluruh
aspek kehidupan masyarakat adalah : government
institution, civil society, dan privat sector;
Prinsip good governance sudah dikembangkan
dengan baik, dan dipatuhi oleh kalangan eksekutif
saja, tetapi juga kalangan legislative, dan yudikatif;

PRINSIP-PRINSIP KEPEMERINTAHAN YANG BAIK

Prinsip adalah sebuah pernyataan fundamental atau


kebenaran yang menjadi pedoman kearah pemikiran
atau tindakan; Prinsip muncul dari pengalaman dan hasil
pelaksanaan pekerjaan; Prinsip bukan hukum ataupun
dogma, prinsip dapat dinyatakan sebagai hipotesis kerja.
Prinsip sebagai pernyataan fundamental pada
hakekatnya bersifat :
(1) praktis dalam arti bahwa prinsip selalu dapat
digunakan terlepas dari waktu saat diterapkan;
(2)relevan dengan sebuah ketentuan yang bersifat dasar
dan luas, hingga dengan demikian menyediakan sebuah
perspektif yang mencakup banyak hal;

Prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik, mengandung


pengertian ketentuan-ketentuan yang bersifat
fundamental (mendasar) yang telah teruji kebenarannya
dalam praktek, sehingga dapat dijadikan pedoman
pemikian atau tindakan dalam mewujudkan
kepemerintahan yang baik.
UNDP (1999), mengidentifikasi adanya 5 karakteristik,
yaitu :
Interaction (interaksi), melibatkan tiga mitra besar,
pemerintah, swasta, dan masyarakat madani untuk
melaksanakan pengelolaan sumber daya ekonomi, sosial
dan politik;
Communication (komunikasi), yang didalamnya terdapat
beragam sistem jejaring dalam proses pengelolaan dan
kontribusi terhadap kualitas hasil;

Self-Enforcing Process (proses penguatan


sendiri) sistem pengelolaan mandiri adalah
kunci keberadaan dan kelangsungan
keteraturan dari berbagai situasi kekacauan
yang disebabkan oleh dinamika dan
perubahan lingkungan, memberikan
kontribusi terhadap partisipasi dan
menggalakkan kemandirian masyarakat, dan
memberikan kesempatan untuk kreativitas
dan stabilitas untuk berbagai aspek
kepemerintahan yang baik;

Dynamic (dinamis), keseimbangan berbagai


unsur kekuatan yang kompleks yang
membuahkan persatuan, harmoni, dan
kerjasama untuk pertumbuhan dan
pembangunan berkelanjutan, kedamaian dan
keadilan, dan kesempatan merata untuk
semua sektor dalam masyarakat madani; dan
Dynamic Interdependence (saling
ketergantungan yang dinamis), antara
pemerintah, kekuatan pasar dan masyarakat
madani.

Prinsip yang menjadi ciri good governance,


yaitu :
partisipasi,
taat hukum,
transparansi,
responsif,
berorientasi kesepakatan,
kesetaraan,
efektif dan efisien,
akuntabilitas, dan
visi bersama.

PELAKSANAAN ETIKA DAN GOOD GOVERNANCE DI INDONESIA


Pembukaan UUD 1945 terkandung nilai-nilai peradaban kemanusiaan
yang sangat luhur, mendasar, hakiki dan universal, yang
menghikmati, melandasi dan memberi acuan pokok perumusan viri,
misi dan pengembangan strategi dalam penyelenggaraan
pemerintahan Negara, antara lain :
1) dimensi spiritual, berupa pengakuan terhadap
kemahakekuasaan dan curahan rahmat Allah SWT dalam perjuangan
bangsa (pada alinea tiga); (
2) dimensi kultural, berupa landasan falsafah negara yaitu
Pancasila; dan
3) dimensi institusional, berupa cita-cita (aline dua) dan tujuan
bernegara, serta nilai-nilai yang terkandung dalam bentuk negara
dan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara (alinea empat);

Undang-Undang Dasar 1945;


Pasal 27 ayat (1) Sagala warga negara bersamaan
kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan wajib
menunjang hukum dan pemerintahan itu dengan tidak
ada kecualinya;
Pasal 28 D butir 1, setiap orang berhak atas pengakuan
jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama diharapan hkum;
Pasal 28 I ayat (5) untuk pencegahan dan melindungi
hak azasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum
yang demokratis, maka pelaksanaan hak azasi manusia
dijamin, diatur dan dituangkan dalam peraturan
perundang-undangan;

Undang-Undang No. 31/1999 tentang Tindak Pidana


Pemberantasan Korupsi :

Pasal 41 ayat (1) masyarakat dapat berperan


serta membantu upaya pencegahan dan
pemberantasan korupsi;
Pasal 41 ayat (2) peran serta masyarakat,
diwujudkan dalam bentuk :
hak mencari, memperoleh dan memberikan informasi
adanya dugaan telah terjadi pidana korupsi;
hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari,
memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan
telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hukum
yang menangani perkara tindak pidana korupsi;

hak untuk menyampaikan saran dan pendapat secara


bertanggungjawab kepada penegak hukum yang menangani
perkara tindak pidana korupsi;
hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang
laporannya yang diberikan kepada penegak hukum dalam
waktu paling lama 30 (tigapuluh) hari;
hak untuk memperoleh perlindungan hukum, dalam hal :
1) melaksanakan haknya sebagaimana diatur dalam huruf a, b
dan c;
2) diminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan dan di
sidang pengadilan sebagai saksi pelapor, saksi atau saksi ahli
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku;
(3) masyarakat mempunyai hak dan tanggungjawab dalam
upaya mencegah dan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Peraturan pemerintah No. 68/1999 tentang Tatacara


Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Negara;
Pasal 2 ayat (1) peran serta masyarakat dalam
penyelenggaraan negara untuk mewujudkan
penyelenggaraan negara yang bersih dilaksanakan
dalam bentuk :
hak mencari, memperoleh dan memberikan informasi
penyelenggaraan negara;
hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil
dari penyelenggara negara;
hak menyampaikan saran dan pendapat secara
bertanggungjawab terhadap kebijakan
penyelenggaraan negara;

Peraturan pemerintah No. 31/2000 tentang Tatacara Pelaksanaan


Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam
pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
Pasal 4 ayat (1) setiap orang, organisasi masyarakat, lembaga
swadaya masyarakat berhak memperoleh pelayanan dan jawaban
dari penegak hukum atau komisi atau informasi, saran atau pendapat
yang disampaikan kepada penegak hukum atau komisi;
Pasal 4 ayat (2) penegak hukum atau komisi wajib memberikan
jawaban secara lisan atau tertulis atas informasi, saran atau
pendapat dari setiap orang, organisasi masyarakat atau lembaga
swasdaya masyarakat dalam waktu paling lambat 30 (tigapuluh) hari
terhitung sejak tanggal informasi, saran atau pendapat diterima;
Pasal 4 ayat (3) penegakkan hukum atau komisi dapat menolak
memberikan isi informasi atau memberikan jawaban atas saran atau
pendapat, sesuai dengan kenetuan perundangan;

Pasal 5 ayat (2) perlindungan


mengenai status hukum, tidak
diberikan apabila hasil
penyedikan atau penyelidikan
terdapat bukti yang cukup, yang
memperkuat keterlibatan pelapor
dalam tindak pidana korupsi
yang dilaporkan;
Pasal 5 ayat (3) perlindungan
mengenai status hukum, juga
tidak diberikan apabila terhadap
pelapor dikenakan tuntutan

UU No.28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara


yang bersih dan bebas dari KKN,
Pasal 3 mengenai Azas-azas penyelenggaraan
Negara, yang terdiri :
Azas kepastian hukum;
Azas tertib administrasi negara;
Azas kepentingan umum;
Azas keterbukaan;
Azas proporsionalitas;
Azas profesionalitas;
Azas akuntabilitas.

ETIKA ORGANISASI (PEMERINTAH), antara lain :

etika dalam organisasi itu sendiri;


etika dalam pemerintahan;
etika dalam jabatan;
nilai-nilai good governance, sebagai trend global
etika pemerintahan, antara lain:
UU No. 28/1999 tentang penyelenggaraan
negara yang bersih dan bebas KKN , Pasal 3
tentang Azas2 Umum Penyelenggara Negara;
SANKRI/UNDP/MODUL SAKIP ... (1) partisipasi,
(2) taat hukum, (3) tansparasi, (4) responsif,
(5) berorientasi kesepakatan, (6) kesetaraan,
(7) efektif dan efisien, (8) akuntabilitas, dan (9)

Bebarapa alasan mengapa norma, moral, etika dan


integritas diperlukan dalam organisasi, antara lain :
Karena etika berkaitan dengan perilaku manusia;
Agar bisa mengikuti kehidupan sosial yang tertib, manusia
memerlukan kesepakatan, kesepahaman, prinsip dan
ketentuan lain yang menyangkut pola perilaku;
Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku,
sehingga kehidupan dalam organisasi semakin bermakna;
Dinamika manusia dengan segala konsekuensinya baik
yang bersifat norma, moral maupun etika perlu dianalisis
dan dikaji ulang----yang pada gilirannya memperlancar
interaksi manusia;

Dalam era yang modern ini ....etika menunjukkan


pada manusia nilai yang hakiki dari kehidupan sesuai
dengan keyakinan agama, pandangan hidup dan
sosial;
Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai
manusia;
Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas, nilainilai hidup yang hakiki dan memberi inspirasi kepada
manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan
menerapkan nilai-nilai tersebut bagi kesejahteraan
dan kedamaian umat manusia.
Seperangkat nilai-nilai tersebut biasanya dijadikan
sebagai acuan dan dianggap sebagai prinsip-prinsip
etis atau moral.

Manfaat nilai etika bagi organisasi sebagai berikut :


Kebersamaan, bekerja dalam semangat kebersamaan dan
persahabatan lebih baik dari bekerja sendiri-sendiri.
Empati, memahami dan dapat menyelami dan merasakan
masalah yang dihadapi orang lain.
Keperdulian, kesediaan untuk memberikan bantuan secara ikhlas.
Kedewasaan, kematangan dalam mengatasi permasalahan
bersama.
Orientasi organisasi, perilaku yang diatur dalam organisasi
dalam memecahkan masalah.
Respect, saling menghormati dan menghargai sesama mitra
kerja.
Kebajikan, berperilaku santun, rendah hati serta memberikan
kedamaian dalam setiap pertemuan.

Integritas, mengutamakan kepribadian yang utuh.


Inovatif, kreatif dalam menciptakan gagasan dan
tindakan yang baru dan memberikan nilai tambah
serta bermanfaat bagi organisasi.
Keunggulan, tampil dengan gagasan dan karya
yang lebih baik dari yang terbaik.
Keluwesan, sikap dan tindakan yang luwes, tidak
kaku sepanjang tidak bertentangan dengan
prinsip dan hatinurani.
Kearifan, sikap dan perilaku yang berorientasi
pada prinsip keseimbangan antara rasionalitas
dan moralitas.

POLA PERILAKU APARATUR (BIROKRAT) YANG ETIS.


Nilai-nilai etika yang dikembangkan bukan hanya sekedar untuk
menjadi keyakinan pribadi para anggota pegawai negeri (personal
values) tetapi diterima dan disepakati menjadi seperangkat norma
organisasi (shared values).
Etika menjadi acuan atau pedoman dalam bersikap dan bertindak
dari seluruh jajaran organisasi pemerintahan dan pelanggaran
atasnya membawa konsekuensi moral.
Setiap anggota aparatur dituntut untuk mentaatinya dengan sadar
dan penuh disiplin.
Yang melanggar disiplin dapat dikenakan sanksi administratif
sesuai dengan jenis dan sifat pelanggaran, (penurunan pangkat dn
sejenisnya). Pegawai yang taat atas etika mendapatkan ganjaran
(tanda penghargaan dan sebagainya).

Kriteria yang menetapkan bahwa seorang aparatur berperilaku


etis atau tidak ditentukan sejauh mana yang bersangkutan
secara sadar dan bertanggung jawab mampu menjalankan
tugasnya dalam rangka pemenuhan fungsi dan misi
pemerintahan yaitu pelayanan (public service), pemberdayaan
masyarakat (empowerment) dan pembangunan (development).
Nilai-nilai etika yang disepakati bersama dirumuskan dalam
apa yang dikenal dengan kode etik. Kode etik ini dijadikan
pedoman bagi setiap anggota dalam bersikap dan berperilaku,
untuk menentukan mana yang baik atau tidak baik, benar atau
salah.
Dorongan untuk mematuhi aturan dan ketentuan yang berlaku
dalam kode etik bersumber dari kesadaran aparatur terhadap
nilai-nilai agama,nilai-nilai kemanusiaan, nilai budaya, serta
hati nurani.

Kode etik merupakan kesepakatan bersama anggota


organisasi, sesuai dengan nilai-nilai ideal, seperti :
Contoh Kode Etik dari suatu perusahaan antara lain
memuat :
Pengaturan mengenai keselamatan kerja, kesehatan
dan keamanan.
Rasa hormat, kejujuran, kesopanan dan keadilan.
Kehadiran karyawan yang tepat waktu.
Penggunaan bahasa yang baik dan benar.
Tidak menerima atau menawarkan suap.
Menjaga kerahasiaan informasi perusahaan.
Tidak menyalahgunakan sarana organisasi untuk
kepentingan pribadi.
Mematuhi ketentuan dan keamanan masyarakat.


Pada tahun 1981, American Society for Public
Administration (ASPA) merumuskan kode etik administrasi
publik sebagai berikut :

Pelayanan kepada masyarakat adalah pelayanan


diatas pelayanan kepada diri sendiri.
Rakyat adalah berdaulat dan mereka yang
bekerja dalam instansi pemerintah pada
akhirnya bertanggung jawab kepada rakyat.
Hukum mengatur semua tindakan dari instansi
pemerintah.
Manajemen yang efisien dan efektif adalah
dasar bagi administrasi negara.

Sistem penilaian kecakapan, kesempatan yang sama, dan


asas-asas itikad baik akan didukung, dijalankan, dan
dikembangkan.
Perlindungan terhadap kepercayaan rakyat adalah sangat
penting.
Pelayanan kepada masyarakat menuntut kepekaan
khususdengan ciri-ciri sifat keadilan, keberanian, kejujuran,
persamaan, kompetensi, dan kasih sayang.
Hati nurani memegang peran penting dalam memilih arah
tindakan.
Para administrator negara tidak hanya terlibat untuk
mencegah hal yang salah, tetapi juga untuk mengusahakan
hal yang benar melalui pelaksanaan tanggung jawab
dengan penuh semangat dan tepat pada waktunya.

KEBIJAKAN YANG MELANDASI PENYELENGGARA NEGARA.


TAP MPR No. VI/MPR/2001 tentang etika kehidupan berbangsa
memberi dasar bagi pengejawantahan etika dalam proses
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Etika dalam kehidupan berbangsa merupakan satu
wahana dalam rangka kelancaran penyelenggaraan
Sistem Administrasi Negara dimana dengan adanya etika
yang dipahami dan menjadi dasar pokok perilaku dalam
berbangsa dan bernegara akan mengarah pada satu
tatanan kenegaraan yang stabil, karena persepsi akan
perilaku yang diharapkan oleh masing-masing individu
sebagai warga negara dapat teramalkan dengan baik.

Pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa


mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan,
sportivitas, disiplin, etos kerja, kemandirian,
sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab,
menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai
warga negara, yang terdiri:
etika sosial budaya,
etika politik dan pemerintahan,
etika ekonomi dan bisnis,
etika penegakan hukum yang berkeadilan,
etika keilmuan, dan
etika lingkungan.

Dalam UU No.28/1999, antara lain menentukan kewajiban setiap


penyelenggara negara, untuk :
mengucapkan sumpah atau janji sesuai dengan agamanya sebelum
memangku jabatan;
bersedia diperiksa kekayaannya sebelum, selama, dan setelah
menjabat;
melaporkan dan mengumumkan kekayaannya sebelum dan setelah
menjabat;
tidak melakukan KKN;
melaksanakan tugas tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan
golongan;
melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggungjawab dan tidak
melakukan perbuatan tercela, dan
bersedia menjadi saksi dalam perkara KKN, serta dalam perkara
lainnya.

PP No. 42/2004 tentang Pembinaan jiwa Korps


dlm Kode Etik Pegawai Negeri Sipil, yang antara
lain dijelaskan.
Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil adalah rasa kesatuan
dan persatuan, kebersamaan, kerjasama, tanggung
jawab, dedikasi, disiplin, kreativitas dan rasa memiliki
organisasi Pegawai Negeri Sipil dan kesatuan Negara
Kesatuan Republik Indonesia;

Kode Etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman


sikap, tingkah laku, dan perbuatanPegawai
Negeri Sipil di dalam melaksanakan tugasnya
dan pergaulan hidup sehari-hari.

Etika dalam bernegara meliputi:


Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945;
Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara;
Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara
Kesatuan Reublik Indonesia;
Mentaati semua peraturan perundang-undangan yang
berlaku dalam melaksanakan tugas;
Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih dan berwibawa;
Tanggap, terbuka, jujur dan akurat, serta tepat waktu dalam
melaksanakan setiap kebijakan dan program pemerintah;
Menggunakan dan memanfaatkan semua sumber daya
negara secara efisien dan efektif;
Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan tidak
benar.

Etika dalam berorganisasi dalah:


Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang
berlaku;
Menjaga informasi yang bersifat rahasia;
Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat
yang berwenang;
Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi;
Menjalin kerjasama secara kooperatif dengan unit kerja lain
yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan;
Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas;
Patuh dan taat terhadap standar opersional dan tata kerja;
Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam
rangka peningkatan kinerja organisasi;
Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja.

Etika terhadap diri sendiri meliptui:


Jujur, dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang
tidak benar;
Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan;
Menghidari konflik kepada kepentingan pribadi,
kelompok, maupun golongan;
Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan,
kemampuan, keterampilan, dan sikap;
Memiliki daya juang yang tinggi;
Memelihara kesehatan jasmani dan rohani;
Menjaga keutuhan dan keharmonisan kelurga;
Berpenampilan sederhana, rapih, dan sopan.

Etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil


Saling menghormati sesama warga negara yang memeluk
agama/kepercayaan yang berlainan;
Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri
Sipil;
Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal
maupun horizontal dalam suatu unit kerja, instansi maupun antar
instansi;
Menghargai perbedaan pendapat;
Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil;
Menjaga dan menjalin kerjasama yang kooperatif sesama Pegawai
Negeri Sipil;
Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia
yang menjamin terwujudnya solidaritas dan soliditas semua
Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya.

Perpres No. 53/2010 tentang Disiplin


Pegawai Negeri Sipil;
adanya kewajiban dan larangan bagi
PNS
Perpres No. 54/2010 beserta
penyempurnaannya tentang
Pengadaan Barang/Jasa Instansi
Pemerintah;
memuat prinsip dan etika pengadaan
barang/jasa Instansi Pemerintah;

PERPRRES No. 54/2010 tentang PENGADAAN


BARANG/JASA PEMERINTAH. TATA NILAI/PRINSIP
PENGADAAN BARANG/JASA
Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus
diusahakan dengan menggunakan dana dan daya
yang minimum untuk mencapai kualitas dan sasaran
dalam waktu yang ditetapkan atau menggunakan
dana yang telah ditetapkan untuk mencapai hasil
dan sasaran dengan kualitas yang maksimum;
Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai
dengan kebutuhn daan sasaran yang telah itetapkan
serta memberikan manfaat yang sebesar- besarnya;

Etika memainkan peranan penting dalam organisasi


(pemerintah) , karena setiap kebijakan publik
mengandung pertimbangan moral dan keputusan
etis yang berkaitan langsung dengan sistem nilai
manusia, mendorong tumbuhnya naluri moralitas,
untuk melakukan pilihan-pilihan yang baik dan
benar demi kepentingan publik;
Didalam lingkungan organisasi (pemerintah),
aparatur dituntut untuk menjaga citra pemerintahan
melalui kinerja dan perilaku dalam menjalankan
tugasnya sehari-hari dengan menghindarkan diri
dari perbuatan yang tercela yang dapat merugikan
masyarakat dan negara;

Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi


mngenai pengadaan barang/jasa bersifat jelas, dan
dapat diketahui secara luas oleh penyedia
barang/jasa yang berminat serta oleh masyarakat
pada umumnya;
Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan
perlakua n yang sama bagi semua calon penyedia
barang/jasa dan ridak mengarah untuk member
keuntungan kepada pihak tertentu, dengan tetap
memperhatikan kepentingan nasional;
Akuntabel, berarti harus sesuai dengan aturan dan
ketentuan yang terkait dengan pengadaan
barang/jasa sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

ETIKA DALAM PENGADAAN BARANG/JASA


Melaksanakan gugas seecara tertib,, disertaai rasa
tanggungjawab untuk mencapai sasaran, kelancaran,
dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan
barang/jasa;
Bekerja secara professional dan mandiri, serta menjaga
kerahasian dokumen pengadaan barang/jasa yang
menurut sifatnya harus irahasiakan untuk mencegah
terjadinya penyimpangan dalam pengadaan
barang/jasa;
Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak
langsung yang berakibat terjadinya persaingan tidak
sehat;

Menerima dan bertanggungjawab atas


segala keputusan yang ditetapkan sesuai
dengan kesepakatan tertulis para pihak;
Menghindari dan mencegah terjadinya
pertentangan kepentingan para pihak ya g
terbaik, baik secara langsung maupun
tidak langsung dalam proses pengadaan
barang/jasa;
Menghindari dan menmcegah terjadinya
pemborosan dan kebocoran keuangan
Negara dalam pengadaan barang/jasa;

Menghindari dan memncegah


penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi
dengan tujuan untuk keuntungan pribadi,
golongan atau pihak lain yang secara
langsung atau tidak langung merugikkan
Negara, dan
Tidak menerima, tidak menawarkan atau
tidak menjanjikan untuk member atau
menerima hadiah, imbalan, komisi, rabat dan
berupa apa saja dari atau kepada siapapun
yang diketahui atau patut diduga berkaitan
dengan pengadaan barang/jasa.

Etika kepemimpinan aparatur yang ideal dicirikan


dengan seperangkat kapasitas dan kompetensi yang
meliputi kepekaan terhadap lingkungan strategis,
pengayoman atas moral masyarakat, keterbukaan
pikiran serta perhatian terhadap aspirasi masyarakat.
Penerapan norma arif;
Penerapan norma disiplin;
Penerapan norma taat hukum;
Penerapan norma tanggungjawab dan akuntabel;
Penerapan norma sopan santun;
Penerapan norma kehati-hatian;
Penerapan norma etika kesetaraan;

Sanksi terhadap pelanggaran etika penyelenggaraann


negara
Sanksi moral, merupakan pemberian hukuman yang
ditekankan pada tindakan yang menyentuh
tanggungjawab moral. Sanksi moral dapat terdiri :
(1) pengumunan melalui media massa,
(2) kewajiban permintaan maaf secara terbuka,
(3) pengunduran diri dari jabatan.
Sanksi administratif, terdiri dari :
(1) teguran lisan/tulisan,
(2) pemberhentian sementara, (3) pemberhentian tidak
dengan hormat.

Etika organisasi menekankan perlunya


seperangkat nilai yang dilaksanakan setiap
anggota. Nilai-nilai tersebut berkaitan dengan
pengaturan bagaimana seharusnya bersikap
dan berperilaku dengan baik seperti sikap
hormat, kejujuran, keadilan dan tanggungjawab.
Nilai-nilai etika yang dikembangkan bukan
hanya sekedar untuk menjadi keyakinan pribadi
anggota organisasi/pegawai negeri (personal
values) tetapi diterima dan disepakati menjadi
seperangkat norma organisasi (share values).

Dalam konteks organisasi, maka


etika organisasi dapat berarti pola
sikap dan perilaku yang diharapkan
dari setiap individu dan kelompok
organisasi yang secara keseluruhan
akan membentuk budaya organisasi
(organizational culture) yang sejalan
dengan tujuanatau filosif organisasi
yang bersangkutan.

TERIMA KASIH, SEMOGA ADA


MANFAATNYA BAGI KITA DALAM
MENJALANKAN KEHIDUPAN BAIK
SEBAGAI INDIVIDU, ANGGOTA
ORGANIASASI, BERBANGSA DAN
BERNEGARA.