Anda di halaman 1dari 69

Alchemy

Mengubah logam dasar logam mulia

Radioaktivitas

Jika dapat Mengubah jumlah proton atau


neutron atau keduanya di dalam inti maka
kemungkinan terjadi transformasi inti

Menciptakan transformasi buatan (transmutasi)


inti atom dengan memakai energi partikel yang
sangat tinggi dari zat radioaktif alami (radium)
sebagai proyektil

Rutherford mengidentifikasi produksi partikel


menggunakan sensor (scintillations) sebagai
proton yang dibelokkan terhadap medan magnet
Partikel

14

v = tinggi

Sistem komposit hasil dari penangkapan (10-15 s)


hancur oleh emisi proton yang sangat tinggi
(kecepatan)
Proses ini proses transmutasi nuklir yang
membawa muatan dengan bantuan sebuah partikel
dari zat radio aktif, meninggalkan sisa inti, sisa dari
isotop oksigen 17O
4
2

He +

14

18

17

O+

Sebuah reaksi nuklir mengacu pada proses yang


terjadi ketika partikel nuklir yang saling berdekatan
antara satu dengan lainnya selama pertukaran energi
dan momentum berlangsung

Produk akhir dari reaksi ini terbentuknya lagi


beberapa partikel nuklir atau partikel-partikel yang
meninggalkan titik kontak (tempat reaksi) dalam
arah yang berbeda

A
Z

X+x

A
Z

Y+y

Hamburan Elastis
Hamburan tidak Elastis
Penangkapan Radioaktif
Proses Disintegrasi
Reaksi Benda Banyak
Foto Disintegrasi
Fisi Nuklir
Reaksi Partikel Dasar
Reaksi Ion Berat

Hukum Kekekalan Nomor Massa


Hukum kekekalan Nomor Atom
Hukum Kekekalan Energi
Hukum Konservasi Momentum Linier
Hukum Konservasi Momentum Sudut
Hukum Kekekalan Paritas
Kekekalan Spin Isotop
E =

E =

M.v2
____
2

p2.c2 + M02.c4 M0.c2

0.v
p = M
____

1 - p2

Ketika terjadi reaksi nuklir (reaksi inti) berlaku


hukum tertentu seperti Hukum kekekalan momentum
dan hukum kekekalan energi
Pada saat sebuah partikel ditembakkan pada inti
target, maka akan terjadi tumbukan elastik atau
mungkin terjadi reaksi yang menghasilkan partikelpartikel baru
Sedangkan untuk tumbukan tidak elastis terjadi
perubahan internal sehingga perlu memperhatikan
hukum kekekalan energi
Tabrakan antara
dianalisis :

proyektil

dan

inti

target

dapat

Dari sudut pandang pengamat di laboratorium (diam)


lebih dikenal dengan kerangka acuan laboratorium
(sistem L)
Dari sudut pandang suatu partikel (sistem C)

Selama tipe hamburan ini, partikel-partikel yang


dihasilkan biasanya berbeda dari sebelum
tumbukan
M1 + M2 + E1 + E2 = M3 + M4 + E3 + E4
massa-massa dinyatakan dalam satuan energi
Q =M1 + M2 M3 M4
Kemudian jika didapatkan E2 = 0 maka :
Q +E1 = E3 + E4
Persamaan ini merupakan persamaan kekekalan
momentum yang digunakan untuk menentukan
besarnya energi yang dihasilkan dari reaksi.

Energi dapat dilepaskan atau diserap


Reaksi pelepasan energi
(exoergic reactions)

Reaksi penyerapan energi


(endoergic reactions)

Jumlah total energi yang dilepaskan atau diserap


selama reaksi nuklir
Jika inti target X (diam) Q bisa bernilai sama dengan
jumlah total /defisit dari energi hasil reaksi terhadap
energi yang disediakan (Ex)
MX + Mx + Ex = MY + My + EY + Ey

Energi ikat inti

Reaksi pelepasan energi


(exoergic reactions)
Q>0

lebih besar

Reaksi penyerapan energi


(endoergic reactions)
Q<0

lebih kecil

Outline...

REAKSI
ENDOERGIK
(Reaksi penyerapan energi)

Energi minimum yg
diperlukan agar reaksi
inti dapat berlangsung
(Kamus Kimia)

Reaksi
Endoergik

Gambar 10.5 (a) Gerakan partikel penembak (x) &


partikel-partikel yg dihasilkan dlm reaksi nuklir (b)
diagram momentumnya

Menjelaskan
Menjelaskan

Bagaimana cara
penentuan Energi Ambang
Reaksi Endoergik.

Energi Ambang Reaksi


Endoergik

Hukum
Kekekalan
Momentum

Gambar 10.5 (a) Gerakan partikel penembak (x) &


partikel-partikel yg dihasilkan dlm reaksi nuklir (b)
diagram momentumnya

untuk sumbu-x

....(10.5-4)

untuk sumbu-y

....(10.5-5)

Dg menguadratkan pers. (10.5-4) dan juga pers. (10.5-5) kemudian pers. (10.5-4)
ditambah pers. (10.5-5) akan diperoleh:
....(10.5-6)

substitusi pers. (10.5-1) ke pers. (10.5-6) diperoleh:


....(10.5-7)

....(10.5-8)

Solusi Pers. (10.5-8):


...(10.5-9)
si:
Sehingga diperoleh Solu

Sehingga

a
didapatkan:

c
ke

an
a
sam
r
e
p

....(10.5-11)

didapatkan:

....(10.5-12)

....(10.5-13)

....(10.5-14)

Berdasarkan pers. (10.5-10)

Hal ini hanya terjadi pada reaksi endoergik

Berdasarkan pers. (10.5-10)

Jadi, terdapat batas energi dari


proyektil di mana pertikel yg
dipancarkan memiliki nilai tunggal.
Besar (nilai) Energi diberikan oleh
persamaan:

REAKSI
EKSOERGIK
(Reaksi pelepasan energi)

ENERGI
EKSOERGIK
Artinya: Y dan y dlm arah yg berlawanan

Gambar 10.5 (a) Gerakan partikel penembak (x) &


partikel-partikel yg dihasilkan dlm reaksi nuklir (b)
diagram momentumnya

ENERGI
EKSOERGIK
....(10.5-7)

Solusi pers. (10.5-7) diberikan


oleh pers. (10.5-9)
yaitu:

EKSPERIMEN
PENENTUAN
Q

Q reaksi dapat ditentukan dg bantuan pers.


(10.5-1), yaitu:

Jika partikel yg dipancarkan (y )


adalah partikel bermuatan, kita
dapat menggunakan scintillation
counter
(alat pencacah solid state atau
spektograf magnetik yg
digunakan untuk menentukan
energi dari solid state)

atau

Scintilation
Counter

The Scintillation Counter is a


device which measures the
ionizing
Catatan:radiation.
Fluoresensi: proses pemancaran radiasi cahaya
oleh suatu materi setelah tereksitasi oleh berkas
cahaya berenergi tinggi

Terdiri atas
sensor
(scintillator),
yang
berfluoresensi
ketika radiasi
pengion datang.
Cahaya ini
kemudian
ditangkap oleh
tabung
photomultiplier
(PMT).
PMT ini yg
kemudian
menghitung/men
cacah dan

Dapat digunakan ketika resolving


power yg dibutuhkan tidak terlalu
tinggi.
Karena partikel bermuatan
memiliki jarak yg sangat dekat
dalam suatu zat padat maka
scintillation detector yg dipakai
cukup tipis untuk mempelajari
reaksi
yg energinya
rendah.
Sensor
(Scintillator)
diletakkan
dekat dg target untuk
memperbesar sudut shg
Gambar Scintillation spectrometers
membantu perhitungan
statistik.
SOLID STATE SPECTROMETERS
Resolving power biasanya
yaitu:
antara
Memiliki resolving power yg rendah,
lebih baik
(antara
20020
sampai
sampai 30.
300)
Detektornya dilengkapi dg lapisan aktif yg cukup tebal yg
dapat menghasilkan enrgi cukup tinggi.

Magnetic
Spektrometers

Resolving
power
mencapai
1000.

Alat yg jauh lebih cocok untuk pengukuran dg


resolusi
tinggi. magnetik multigap-nya sangat fleksibel
Spektrograp
dg plat emulsi inti sebagai detektor.

EKSPERIMEN

COCKROFT
dan WALTON
Pada transmutasi nuklir oleh
proyektil buatan yg dipercepat

Alasan tidak menggunakan proyektil alami


Partikel dari zat radioaktif alami yg dipakai sbg proyektil
memiliki keterbatasan energi dan intensitas.
Selain itu,
partikel bermuatan ganda, sehingga ditolak sangat kuat
oleh muatan positif inti
Partikel tidak dapat menembus inti yg lebih berat untuk
terjadinya reaksi nuklir.
Oleh karena itu,
Tahun 1932, J.D.Cockroft dan E.T.S.Walton mengembangkan
alat pemercepat (accelerator) partikel bermuatan dg
bantuan berkas proton yg dapat dipercepat hingga
mencapai energi tinggi.

Dengan alat pemercepat


(accelerator) yg dikembangkan
Cockroft dan Walton ini dapat:
Menghasilkan 2x lipat energi proyektil alami
(partikel
Selain
itu,)intensitas berkas proton yg telah dipercepat
jauh lebih besar daripada proyektil alami (partikel )
Berkas proton
Foil penyerap

Laya mikroskop
r ZnS

Alat yg dikembangkan
Cockroft & Walton ini
dapat: menghasilkan
tegangan
maksimum sampai
sekitar 106 Volt yg
dpt mempercepat
proton menjadi 1
MeV & partikel
menjadi 2 MeV

CROSS
SECTION
REAKSI NUKLIR

Cross Section
Reaksi Nuklir

(b
Gambar 10.11 (a) )
pemborbardiran target foil (T) oleh
berkas partikel (b) Signifikansi

Cross Section
Reaksi Nuklir
Jumlah inti
target per
luas
permukaan
Gambar 10.11foil
(a)
pemborbardiran target foil (T) oleh
berkas partikel

Cross section untuk


mengukur probabilitas
terjadinya reaksi nuklir.

Cross Section
Reaksi Nuklir

Jari-jari inti targe

Berdasarkan Gambar 10.11


(b)
Luas permukaannya foil tegak
lurus thd arah gerak proyektil.

(b
)
Gambar 10.11
(b)
Signifikansi geometris
dari cross section reaksi

PARTIAL
CROSS
SECTION

Bentuk Parsial dari Cross section

Kita punya Reaksi tipe: X(x,y)Y, X(x,y)Y, X(x,y)Y, dll.


Disamping itu, kita juga punya hamburan elastik dan tidak ela

....(10.9-1)

Cross section untuk setiap


Partial Cross
jenis reaksi

section

HASIL REAKSI

Reaksi

REAKSI
INDUKSI oleh

PARTIKEL

Contoh:

Contoh:

Contoh:

Irene Joliot Curie dan


suaminya Frederic Joliot

Pada tahun 1933, Irene Joliot Curie dan suaminya Frederic Joliot di
Paris menemukan induksi radioaktivitas.
Mereka menembaki aluminium foil dengan partikel- dari zat radioaktif
alami (polonium) dan melakukan pengamatan mengenai proses
pancaran dari neutron.
Mereka juga menemukan bahwa positron yang dipancarkan pada saat
yang sama dan emisi positron berlanjut untuk beberapa waktu bahkan
setelah penghentian penembakan foil dengan partikel-.
Intensitas positron telah ditemukan seiring dengan berkurangnya waktu
secara eksponensial.
Untuk menginterpretasikan hasil mereka, Joliots mengasumsikan bahwa
peristiwa penembakan aluminium dengan akan menyebabkan
pembentukan isotop
oleh reaksi
.
Mereka selanjutnya mengasumsikan bahwa sisa inti yang dihasilkan
dalam reaksi itu menjadi radioaktif dan meluruh oleh peristiwa emisi
positron adalah:

Untuk membuktikan kesimpulan mereka,


mereka memverifikasi adanya sifat kimia dari
produk
radioaktif
baru
dengan
cara
memisahkannya dari target dengan metode
radiokimia standar dan menunjukkan bahwa
emisi positron berlangsung dari fosfor
dipisahkan.
Fenomena ini dikenal sebagai induksi atau
radioaktivitas buatan.

Berkas sinar proton dengan energi tinggi tersedia dari


akselerator partikel dengan cara mempercepat ion
hidrogen. Ketika proton energi tinggi jatuh pada inti
target, inti senyawa yang terbentuk dapat
terdisintegrasi oleh emisi dari berbagai jenis partikel
nuklir, misalnya, proton, neutron, deuteron, partikel-,
sinar dll..
Contoh-contoh reaksi induksi proton:
Reaksi (p,):
Reaksi

(p,n):

Deuteron dapat dipercepat hingga energi tinggi dengan


akselerator partikel seperti proton dan dapat digunakan
sebagai proyektil untuk menginduksi berbagai jenis
reaksi nuklir. Selama reaksi tersebut, proton, neutron,
partikel- dll. dapat dipancarkan.

Contoh-contoh reaksi induksi deuteron:


Reaksi (d,):
Reaksi

(d,p):

Reaksi (d,n):

Reaksi (d,t):

Untuk menghasilkan reaksi nuklir dengan neutronneutron, maka perlu memiliki sumber neutron
intensitas tinggi. Neutron-neutron diproduksi dalam
reaksi nuklir. Reaksi tersebut merupakan reaksi cross
section tinggi, secara khusus cocok untuk digunakan
sebagai sumber neutron.
Reaksi nuklir yang disebabkan oleh neutron yang
terkait dengan emisi partikel-, proton, sinar-,
deuteron dll..

Mengembangkan metode untuk mengukur usia


sampel antropologi dan arkeologi dengan
memperkirakan jumlah yang tersisa dari
kandungan C14

Contoh-contoh reaksi induksi neutron :


Reaksi (n,):

Reaksi (n,p):

Reaksi (n,d) dan (n,t):

Reaksi (n,):

E. Fermi, E. Amaldino, F. , O. DAgostino, F.


Rasetti, E. Serge (di Univ. Roma )
Peluang terjadinya reaksi meningkat jika
reaksi di induksi oleh neutron lambat
Neutron
lambat
diperoleh
dgn
cara
menempatkan sumber Ra-Be dalam tangki
besar yang penuh dengan air atau di dalam
blok parafin ( disebut neutron termal )
Penemuan
ini
mengawali
dalam
perkembangan metode produksi skala besar
zat radioaktif buatan

Reaksi-reaksi ini dikenal sebagai reaksi foto-nuklir,


terjadi jika energi foton cukup tinggi masuk ke dalam
inti. Energi dari sinar- harus lebih besar dari energi
ikat partikel nuklir (pemisahan energi) misalnya,
neutron, proton, sebuah partikel- dll.. Untuk partikel
yang akan dipancarkan dari inti akan menghasilkan
reaksi jenis (,n), (,p), (,) dll.. Reaksi ini disebut
endoergik.
Contoh-contoh radiasi induksi gamma:
Reaksi (,n):

Terlepas dari reaksi yang sudah dibahas di atas,


sebagian besar terjadi melalui pembentukan
senyawa inti, adapun jenis khusus reaksi nuklir
dengan mekanisme reaksi yang berbeda adalah
termasuk reaksi langsung yang telah disebutkan
sebelumnya, yaitu reaksi foto-nuklir, reaksi ionberat, fisi nuklir, eksitasi coulomb dll..

Dari pengetahuan kita tentang struktur inti atom jelas


bahwa jika kita dapat mengubah jumlah proton atau
neutron atau keduanya di dalam inti atom, maka akan
mungkin untuk membawa transformasi inti. Jika jumlah
proton z berubah, maka dimungkinkan untuk mengubah
satu unsur menjadi unsur lain. Di sisi lain, jika jumlah
neutron berubah, maka salah satu isotop elemen akan
berubah menjadi isotop yang lain dari unsur yang sama.
Secara umum reaksi inti digambarkan sebagai berikut :

atau

dimana partikel yang ditembakkan dan partikel yang


dipancarkan dapat berupa: proton (p), neutron (n),
deuteron (d), partikel alfa (), sinar gamma () dan
lain-lain. Macam-macam reaksi nuklir antara lain:
hamburan elastis, hamburan tidak elastis,
penangkapan radiasi, proses desintegrasi, reaksi
benda banyak, foto desintegrasi, fisi nuklir, reaksi
partikel dasar, reaksi ion berat.

Hukum-hukum yang berlaku dalam reaksi inti yaitu hukum


kekekalan nomor massa, hukum kekekalan nomor atom,
hukum kekekalan energi, hukum kekekalan momentum
linier, hukum kekekalan momentum anguler. Dalam suatu
reaksi inti dapat berbentuk reaksi yang melepaskan energi
(Q = +) atau reaksi yang membutuhkan energi (Q = -).
Beberapa macam reaksi induksi :
Reaksi induksi oleh partikel alfa
Reaksi induksi oleh partikel proton
Reaksi induksi oleh partikel deutron
Reaksi induksi oleh partikel neutron
Reaksi induksi oleh sinar gamma