Anda di halaman 1dari 45

HERPES ZOSTER OFTALMIKUS

Pembimbing :
dr. Freddy W. Arsyad, Sp.M

Disusun oleh :
Nurul Sharaswati
(1610221131)

Herpes
Herpes zoster
zoster (HZ):
(HZ):
infeksi
infeksi laten
laten VVZ
VVZ
yang
terjadi
setelah
yang terjadi setelah
infeksi
infeksi primer
primer

PENDAHULUAN

Ganglion
Ganglion
trigeminal
trigeminal nervus
nervus
V
cabang
oftalmikus
V cabang oftalmikus
maka
maka dapat
dapat
menyebabkan
menyebabkan
herpes
herpes zoster
zoster
oftalmikus
oftalmikus (HZO)
(HZO)

Insidensi
Insidensi
(+)
(+) kasus
kasus
neruolgoi
neruolgoi
tertinggi
tertinggi
500.000
500.000 USA
USA
(+)20
(+)20 %
%
populasi
populasi dunia
dunia
(15
%
HZO)
(15 % HZO) di
di
dunia
dunia
(+)
(+) >>
>> dewasa
dewasa

Sifat virus dominansi


:
laten di ganglia sensori
trigeminal reaktivasi
20-25 % pada
populasiNervus
V1=20 kali lebih sering
> (N-III) (N-IV) >70
% pasien.

PENDAHULUAN
Sifat
Sifat virus
virus
dominansi
dominansi ::
laten
laten di
di ganglia
ganglia
sensori
trigeminal
sensori trigeminal

reaktivasi
20-25
%
reaktivasi 20-25 %
pada
pada
populasiNervus
populasiNervus
V1=20
V1=20 kali
kali lebih
lebih
sering
>
(N-III)
sering > (N-III) (N(NIV)
IV)
>70
>70 %
% pasien.
pasien.

Manifestasi
Manifestasi
dominan:
dominan:
(+)
(+) unilateral
unilateral
vesikular
vesikular
dermatitis
dermatitis
sepanjang
sepanjang
nervus
nervus
oftalmikus
oftalmikus
yang
yang
berbatasan
berbatasan
dengan
dengan garis
garis
tengah
tengah
(midline)
(midline)

(HZO) berpotensi menjadi


penyakit yang serius diserti
nyeri yang berlebihan,
terutama pada pasien yang
berusia tua
(+) keratitis, uveitis dan
neuritis optikus yang
mempengaruhi kemampuan
penglihatan. dapat
permanen

PENDAHULUAN

RUMUSAN MASALAH

PENDAHULUAN

TUJUAN : UMUM DAN


KHUSUS

MANFAAT

Herpes Zoster
Oftalmikus
1. Pengertian
2. Etiologi
3. Epidemiologi
4. Patofisiologi
5. Gambaran Klinis
6. Pemeriksaan Penunjang
7. Diagnosis
8. Komplikasi
9. Tata Laksana
10. Prognosis

-Teoritis
-Praktis

PENINJAUA
N

KLINIS :
HERPES
ZOSTER

ANATOMI

NERVUS
OFTALMIKU
S

ORGAN
MATA

Nervus oftalmikus
merupakan cabang dari
Nervus trigeminus yang
merupakan nervus
kelima (N-V)
Well-known as :
sensorik besar saraf
kepala dan leher
Cabang utama sensoris:
nervus oftalmikus (N-V1),
nervus maxilaris (N-V2),
nervus mandibular (N-V3)
Sifat : rangsangan cahaya, nyeri dan
propiosepsi dari wajah ke lapisan kulit
kepala (scalp)

Tiga cabang utama N-V


menyatu pada trigeminal
ganglion yang disebut juga
ganglion semilunar atau

Ditribusi
area
nervus
Ditribusi
area
nervus
trigeminalis dari herpes
trigeminalis dari herpes
zoster oftalmikus yang
zoster oftalmikus yang
melibatkan distribusi area
melibatkan distribusi area
sensoris nervus oftalmikus
sensoris nervus oftalmikus
(N-V1).
(N-V1).

Ketika memasuki
Ketika memasuki
cavum orbita
cavum orbita
melewati fissura
melewati fissura
orbitalis superior,
orbitalis superior,
nervus opthalmicus
nervus opthalmicus
bercabang menjadi
bercabang menjadi
tiga cabang:
tiga cabang:
lacrimalis, frontalis
lacrimalis, frontalis
dan nasociliaris
dan nasociliaris

Dermatomal Nervus Tigeminus

Nervus trigeminus dinamai


saraf tiga serangkai sebab
terdiri atas tiga cabang (rami)
utama yang menyatu pada
ganglion Gasseri
)
Nervus oftalmikus,
Cabang-cabang N.Oftalmikus
menginervasi kornea, badan
ciliaris dan iris, glandula
lakrimalis, konjungtiva, bagian
membran mukosa cavum nasal,
kulit palpebra, alis, dahi dan
hidung.

Nervus frontalis
memasuki
superior

orbita
dan

melalui

terpecah

fissure

orbitalis

menjadi

nervus

supratochlearis yang mempersarafi palpebral


superior,
Nervus
mata

kulit kepala, dan dahi


nasosiliaris, saraf sensoris untuk

yang

masuk

melalui

fisura

orbitalis

superior dan melepaskan cabang ke orbita

Nervi ciliares breves mengantar serabut simpati


parasimpatis dan simpatis ke corpussiliare dan iris.
Nervi ciliare longi menyalurkan serabut simpatis dan
parasimpatis pascagnglion ke musculus dilator pupillae dan
serabut aferen dari iris dan kornea

Rongga orbita digambarkan sebagai piramida


yang mengerucut ke posterior.
Palpebra (Kelopak Mata)
(palpebra superior/inferior). Bagian dari
kelopak mata adalah kulit yang halus
dan tipis yang mudah digerakkan dari
dasarnya
Konjungtiva
membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata
(konjungtiva palpebralis) dan permukaan
anterior sklera (konjungtiva bulbaris).
Kornea
Merupakan bagian terdepan dari bola mata
yang bentuknya menyerupai mangkuk dan
transparan karena tidak mengandung
pembuluh darah
Fungsi : masuknya cahaya ke dalam
mata dan berfungsi sebagai media
refraksi yang terdepan dan terkuat

Sklera
lapisan terluar yang membungkus 4/5 bagian
bola mata.
Terdiri dari jaringan ikat dan berfungsi sebagai
pelindung mata. Sklera kearah belakang akan
bersatu dengan pembungkus saraf optikus

Uvea
Berada di bagian tengah bola mata
dan terdiri dari 3 bagian yaitu : iris,
badan siliar, dan koroid.
Permukaannya tidak merata dan
mempunyai kripti-kripti.
Bagian tengah iris yang merupakan
celah bulat disebut pupil
Ke arah belakang, iris akan
menjadi badan siliar yang berbentuk
segitiga. Badan siliar berfungsi
memproduksi cairan bola mata
(aqueous humor) dan menjadi
tempat melekatnya tali penggantung
lensa (zonula zinii).

Lensa
Terdiri dari kapsul yang membungkus
lensa. Sebelah dalam kapsul terdapat
korteks dan ditengahnya terdapat
nukleus
Retina
Terdiri dari lapisan jaringan saraf
(sensoris retina) dan jaringan pigmen
retina
Pada pemeriksaan oftalmoskop akan
tampak refleks fovea sentralis
berbintik kuning (makula lutea)
Retina
Terdiri dari lapisan jaringan saraf
(sensoris retina) dan jaringan pigmen
retina
Pada pemeriksaan oftalmoskop akan
tampak refleks fovea sentralis
berbintik kuning (makula lutea)

Selain nervus opticus (nervus cranialis II) sebagai


saraf orbita digolongkan semua saraf yang
memasuki orbita melalui fissura orbtalis superior
dan mempersarafi otot-otot bulbus oculi.
Diantaranya adalah nervus oculummotorius (NIII), nervus trochlearis (N-IV), dan nervus
abducens (N-VI).

PENINJAUA
N

KLINIS :
HERPES
ZOSTER

ANATOMI

NERVUS
OFTALMIKU
S

ORGAN
MATA

Pengertian
Etiologi
Epidemiologi

HERPES
ZOSTER
OFTAMIKUS

Patofisiologi
Gambaran Klinis
Pemeriksaan
Penunjang
Diagnosis
Komplikasi
Tata Laksana

DEFINISI
Herpes Zoster : Herpes zoster adalah infeksi umum yang disebabkan oleh Human
Herpes Virus 3(HH3) atau disebut juga (Virus Varisela-Zoster), virus yang sama
menyebabkan varisela (chicken pox).

Herpes Zoster Oftalmikus (HZO) merupakan hasil reaktivasi dari Varisela Zoster
Virus (VZV) pada Nervus Trigeminal (N-V).

Cabang ini menginervasi hampir semua struktur okular dan periokular

EPIDEMIOLOGI
Kira-kira 30% populasi (1 dari 3

Seiring
pertambah
an usia
Data
Epidemiolo
gi

orang) akan mengalami Herpes


Zoster. Selama masa hidupnya
bahkan pada usia 85 tahun 50%
(1 dari 2 orang) akan mengalami
HZ.
Insidensi pertahunnya dapat
mencapai 5 hingga 6,5 per 1.000
penduduk
pada
usia
60pada
tahun
dan
Insidensi
herpers
zoster
terjadi
20 %
meningkat
- 11
per
1.000 adalah
populasi
dunia dan
10 %
diantaranya
herpes
zoster oftalmikus
penduduk
pada usia 70 tahun

1 juta penduduk per tahunnya reaktivasii


Amerika Serikat >> usia lebih 60 tahun atau
memiliki diagnosis seiring dengan adanya
penurunan sistem imun
Belum banyak data yang diperoleh dari negara
berkembang.
Komplikasi mata dari data Departemen Kulit
Kelamin pada herpes zoster oftalmikus
mencapai persentase sebesar 17,41 % di RS
Prof.DR.D. Kandou FK Univeritas Sam Ratulangi
Manado tahun 2008-2013.
Insiedensi organ mata tersebut sama antara
mata kiri dan mta kanan, serta tertinggi pada

EPIDEMIOLOGI

Faktor
Predisposi
si

Faktor Kondisi penurunan


imun :
usia tua,
kondisi imunodepresi seperti
HIV,
Kanker seperti acute
lymphocyticleukemia,
terapi imunosupresi seperti
kemoterapi
faktor reaktivasi :
Penyakit sistemik seperti
penyakit ginjal kronik,
stress seperti depresi.

ETIOLOGI
Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varisela zoster yang laten di dalam
ganglion posterior atau ganglion intrakranial. Virus yang melalui sternus sensori ke
tepi ganglia spinal atau ganglia trigeminal kemudian menjadi laten

Varisela zoster, yaitu suatu virus rantai ganda DNA anggota famili virus herpes yang
tergolong virus neuropatik atau neurodermatotropik
Reaktivasi virus varisela zoster dipicu oleh berbagai macam rangsangan seperti
penderita lanjut usia, dan keadaan tubuh yang lemah meliputi malnutrisi, seorang
yang sedang dalam pengobatan imunosupresan jangka panjang, atau menderita
penyakit sistemik.
Apabila terdapat rangsangan tersebut, virus varicella zoster aktif kembali dan terjadi
ganglionitis. Virus tersebut bergerak melewati saraf sensorik menuju ujung-ujung saraf
pada kulit atau mukosa mulut dan mata, dan mengadakan replikasi setempat dengan
membentuk sekumpulan vesikel.

PATOFISIOLOGI
Virus Varicela Zoster berdiam di ganglion posterior susunan
saraf tepi dan ganglion kraniali virus varisela bereplikasi
secara efisien dalam sel ganglion
Bagaimanapun, jumlah VZV yang laten per sel terlalu
sedikit untuk menentukan tipe sel apa yang terkena.
Imunitas spesifik sel mediated VZV bertindak untuk
membatasi penyebaran virus dalam ganglion dan ke
kulit.
Kerusakan jaringan yang terlihat pada wajah
disebabkan oleh infeksi yang menghasilkan inflamasi
kronik dan iskemik pembuluh darah pada cabang NV. Hal ini terjadi sebagai respon langsung terhadap
invasi virus pada berbagai jaringn
Ciri khas penampakkan dari lesi ini adalah batas pada
area yang tegas pada kulit, berbeda dengan cacar air,
yang menyebar ke seluruh kulit.

Bila proses ini terjadi pada saraf yang mengurus kulit


daerah kelopak mata atas, kepala depan, dan kulit kepala,
maka kondisi ini dinamakan herpes zoster oftalmikusa

Pengertian
Etiologi
Epidemiologi

HERPES
ZOSTER
OFTAMIKUS

Patofisiologi

Kulit
Gambaran Klinis
Pemeriksaan
Penunjang
Diagnosis
Komplikasi
Tata Laksana

Mata

ekstraoku
lar
okular

muncul ruam zoster (23 hari).


Ruam menyebar ke seluruh kulit
yang terkena, berkembang
menjadi papula,
vesikel (3-5 hari) dan
tahap krusta (7-10 hari),
memerlukan 2-4 minggu untuk
sembuh
Pemeriksaan :
Saraf yang paling sering terkena
adalah Cranial (C3), Thorakal (T5),
Lumbal (L1, dan L2) dan saraf
trigeminal
dermatom thoraks dengan
eritema dan area sekitar
dermatom membentuk vesikel,
diikuti banyak vesikel konfluen
hemoragik dan bula pada dinding
dada lateral, Terlihat pada gambar
Wajah yang mengalami zoster
oftalmikus.
Sensasi :
sensasi lokal kulit lain (seperti
terbakar, geli, dan gatal), sakit
kepala, tidak enak badan dan

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis
Inspeksi :
Vesikel Multipel Berkelompok sepanjang Jaras
Oftalmikus, Maksilaris dan Mandibularis yang
ketiganya adalah bagian Nervus Trigeminus
Jika cabang kedua (nervus maksilaris) terlibat maka
lokasi yang dikenai adalah palatum, bibir dan
mukosa bibir atas.
Jika nervus mandibula terlibat lidah, mukosa pipi,
bibir dan mukosa bibir bawah.Lesi-lesi intraoral
adalah vesikuler dan ulseratif dengan tepi meradang
dan merah sekali
Sensasi :
sensasi lokal kulit lain (seperti terbakar, geli, dan
gatal), sakit kepala, tidak enak badan dan (paling
sering) demam,

Gambaran Klinis

Inspeksi :
makula eritema sekelompok
papul dan vesikel berkembang
secara permanen menjadi scar
(jaringan parut) pustule dan krusta
unilateral
Ruam pada dermatom nervus
nasosiliar dapat mengindikasikan
komplikasi dari oftalmikus.

Inspeksi :
keterlibatan area yang diinervasi saraf etmoidalis
anterior cabang dari saraf nasosiliaris, Karena nasosiliaris
menginervasi kornea, lesi kulit ini dapat menyebabkan
keterlibatan okular yang berat.3

Gambaran Klinis
Okular
Palpebra

Inspeksi :
(+) Edema Palpebra (+) lesi fokal
Lain :
Peradangan kronis ptosis,
jaringan parut, trikiasis, hilang
bulu mata, ektropion, entropion,
oklusi puncta

Gambaran Klinis
Okular
Konjungtiva

Inspeksi :
(+) Konjungtivitis disertai adanya
Infeksi Sekunder
(+) injeksi konjungtiva dan edema
Lain :
Ditemukannya lender yg
meruapakan lesi kronis umum

Gambaran
Klinis Okular
Sklera
*komplikasi yang umum
biasanya muncul setelah
konjungtivitis pada pasien.
*onset : 7 14 hari
*Gambaran akutnya dapat
berupa infiltrat stroma dan
membengkak, berkembang
menjadi sklerokeratitis,nodular
episkleritis
Pemeriksaan
(+)episkleritis episklera membengkak dan inflitrasi
stroma
(+) pemeriksaan fluoeresin angiografi gambaran
iskemia +dilatasi pembuluh darah eisklera vaskulitis
atau respon limfosit (b).

Gambaran
Klinis Okular
Kornea
(+)Gejalanya adalah nyeri,
fotosensitif, dan gangguan
visus.
(+)Hal ini terjadi jika terdapat
erupsi kulit di daerah yang
disarafi cabang-cabang
nasosiliaris
Keratitis epithelial :
(+) muncul sedikit mengangkat dan intraepitel.
(+) berada umumnya di bagian perifer
kornea dan
(+) plak kadang-kadang kecil epitel
berdeskuamasi

Gambaran
Klinis Okular
Kornea

*Keratitis nummular lesi


kornea yang paling umum dan
terlihat
*onset 10 hari

Keratitis nummular
(+) deposito granular dalam stroma tepat di
bawah Bowman dikelilingi oleh halo (ukuran
dan kepadatan) dari stroma kabut

Gambaran
Klinis Okular
Kornea

*bentuk kronik keratitis


nummular

Infiltrat perifer jika tidak diobati, selama bertahuntahun, mengkonsolidasikan dan bentuk gelombanggelombang.

Gambaran
Klinis Okular
Kornea

*Disciform
*Disciform keratitis
keratitis didasarkan
didasarkan pada
pada
sebelumnya
sebelumnya keratitis
keratitis nummular
nummular dengan
dengan
infiltrate
infiltrate
*Bentuk
*Bentuk keratitis
keratitis ini
ini dapat
dapat disertai
disertai iritis
iritis
dan
sering
ditemukan
banyaknya
plak
dan sering ditemukan banyaknya plak
mukosa
mukosa
*Pada
*Pada keadaan
keadaan ini
ini jikatidak
jikatidak ditangani,
ditangani,
maka
akan
menjadi
kronik
namun
maka akan menjadi kronik namun daapt
daapt
dikurangi
dikurangi dengan
dengan cepat
cepat dengan
dengan
pemberian
pemberian topical
topical steroid.
steroid.
Pemeriksaan :

(+) terletak terpusat, tetapi dapat


eksentrik
(+) endothelium mengalami daerah
gambaran yang terlihat sel-selnya hilang dan
seperti mengembung

Gambaran
Gambaran Klinis
Klinis
Okular
Okular
Kornea
Kornea
*Keratitis
*Keratitis Neurotropik
Neurotropik ditandai
ditandai dengan
dengan umum
umum
kornea
epitel
dan
belang-belang
erosi
epitel
kornea epitel dan belang-belang erosi epitel dengan
dengan
atau
atau tanpa
tanpa ulserasi
ulserasi epitel.
epitel.
*Keratitis
*Keratitis dapat
dapat terjadi
terjadi pada
pada onset
onset akut
akut atau
atau terlambat
terlambat
yang
yang terjadi
terjadi 10
10 hari,
hari, 2
2 tahun
tahun dan
dan lebih
lebih setelah
setelah tandatandatanda
pertama
zoster
kulit.
tanda pertama zoster kulit.
*Penggunaan
*Penggunaan steroid
steroid topikal
topikal secara
secara ketat
ketat sebagai
sebagai
kontraindikasi

cenderung
mendorong
penggalian
kontraindikasi cenderung mendorong penggalian
yang
yang cepat
cepat dan
dan pertumbuhan
pertumbuhan ulkus.
ulkus.
*Terapi
*Terapi yang
yang efektif
efektif dapat
dapat digunaknnya
digunaknnya proteksi
proteksi yang
yang
ditaruh
di
mata
dengan
Blenderm
(3M).
ditaruh di mata dengan Blenderm (3M).

Pemeriksaan :
(+) Noda epitel cukup terlihat baik walaupun
samar dengan fluorescein dan Rose Bengal.
(+) Ulkus cenderung oval dengan tepi buram
dan noda dasar cemerlang dengan fluorescein
dan cukup baik dengan Rose Bengal.

BENTUK KRONIK KELAINAN PADA KORNEA

(+) deposisi lipid primer dan nantinya


menjadi vaskularisasi dengan
deposisi lipid sekunder
(+) episklera berdekatan relatif
iskemik (seperti yang ditunjukkan
oleh angiografi fluorosein).

(+) Mucous plaque keratitis,


ditandai dengan plak terlihat
seperti fragmen kertas
blotting putih dan dalam
bentuk percabangan sering
menyerupai bisul dendritik
dengan Rose Bengal

(+)
Dalam
kasus
lain
ada
perkembangan akhir dari keratitis
neuroparalytic atau pengendapan
cincin plak permukaan putih dengan
pengurangan tajam penglihatan.

Gambaran
Gambaran Klinis
Klinis
Okular
Okular
Traktus
Traktus Uvea
Uvea
** Iritis
Iritis >>
>>
Gambaran
Gambaran ::
*deposito
*deposito pada
pada endotelium
endotelium kornea,
kornea, flare
flare samar,
samar,
dan
dan kecil
kecil sampai
sampai sedang
sedang jumlah
jumlah sel
sel
*Seringkali
*Seringkali ada
ada komplikasi
komplikasi hipertensi
hipertensi okular
okular
(mungkin
(mungkin disebabkan
disebabkan oleh
oleh trabekulitis
trabekulitis terkait)
terkait)
dan
dan kornea
kornea edema
edema stroma.
stroma.
*Semua
*Semua fitur
fitur ini
ini merespon
merespon dengan
dengan cepat
cepat steroid
steroid
topika
topika
Pemeriksaan :
(+) pupil distorsi terjadi 4-5 hari setelah
timbulnya iritis dan (+) angiografi fluoresein
kebocoran dari pembuluh iris, daerah iskemia
bertepatan dengan bidang atrofi oklusif
vaskulitis dan atrofi ini mudah dilihat oleh
transillumination transpupillary.

Gambaran
Gambaran Klinis
Klinis
Okular
Okular
Traktus
Traktus Uvea
Uvea
** Iritis
Iritis >>
>>
Gambaran
Gambaran ::
*deposit
*deposit pada
pada endotelium
endotelium kornea,
kornea, flare
flare samar,
samar,
dan
dan kecil
kecil sampai
sampai sedang
sedang jumlah
jumlah sel
sel
*Seringkali
*Seringkali ada
ada komplikasi
komplikasi hipertensi
hipertensi okular
okular
(mungkin
(mungkin disebabkan
disebabkan oleh
oleh trabekulitis
trabekulitis terkait)
terkait)
dan
dan kornea
kornea edema
edema stroma.
stroma.
*Semua
*Semua fitur
fitur ini
ini merespon
merespon dengan
dengan cepat
cepat steroid
steroid
topika
topika
Pemeriksaan :
(+) uveitis biasanya menujukkan muttonfat yang memberikan gambaran adanya
kumpulan sel radang makrofag oleh bahan
fagositosis dan sel epiteloid yang
berkelompok membentuk kelompok pada

GAMBARAN KLINIS OCULAR : RETINA


Gambaran : retinitis nekrotik
dengan perdarahan dan
eksudat, oklusi pembuluh
darah posterior, dan neuritis
optik
(+) dari perifer
(+) Acute Retinitis Necrosis
(ARN) merupakan layaknya
oklusif pembuluh darah,
(+) onset >> 6 minggu 1

(+) diagnostiknya ditemukan


adanya daerah retina perifer
dengan nekrosis dan
dikelilingi lesi progresif
menjadi vasculitis oklusif,

(+) retina mengalami


peradangan (retinitis)
yang ditandai
pembengkakan nervus
optikus

(+) karakteristik seperti


terdapat potongan kecil
perifer pada nekrosis retina

GAMBARAN KLINIS OCULAR : RETINA

Gambaran : retinitis nekrotik


dengan perdarahan dan
eksudat, oklusi pembuluh darah
posterior, dan neuritis optik

(+) dari perifer


(+) Acute Retinitis Necrosis
(ARN) merupakan layaknya
oklusif pembuluh darah,
(+) onset >> 6 minggu 1

(+) diagnostiknya ditemukan


adanya daerah retina perifer
dengan nekrosis dan dikelilingi
lesi progresif menjadi
vasculitis oklusif,
perdarahan

(+) perubahan vaskular


dengan eksudat yang
samar terlihat mengisi
bagian posterior, dan
inferior

(+) retina sebagaimana


eksudat pada gambar
kedua yang terlihat di
super-temporal perifer

GAMBARAN KLINIS OCULAR : RETINA

Gambaran : retinitis nekrotik


dengan perdarahan dan
eksudat, oklusi pembuluh darah
posterior, dan neuritis optik

(+) dari perifer


(+) Acute Retinitis Necrosis
(ARN) merupakan layaknya
oklusif pembuluh darah,
(+) onset >> 6 minggu 1

(+) diagnostiknya ditemukan


adanya daerah retina perifer
dengan nekrosis dan dikelilingi
lesi progresif menjadi
vasculitis oklusif,
perdarahan

(+) daerah iskemia dan vasculitis


yang memerlukan terapi dengan
teknik laser fotokoagulasi

GAMBARAN KLINIS OCULAR : RETINA

Gambaran : retinitis nekrotik


dengan perdarahan dan
eksudat, oklusi pembuluh darah
posterior, dan neuritis optik

(+) dari perifer


(+) Acute Retinitis Necrosis
(ARN) merupakan layaknya
oklusif pembuluh darah,
(+) onset >> 6 minggu 1

(+) diagnostiknya ditemukan


adanya daerah retina perifer
dengan nekrosis dan dikelilingi
lesi progresif menjadi
vasculitis oklusif,
perdarahan

(+) fase awal menunjukkan


perubahan yang tampak pada fundus
okuli berup diskus optikus sedikit
pucat, di macula lutea terlihat
eksudasi perioveal inferior

GAMBARAN KLINIS OCULAR : NERVUS


OPTIKUS
(+) Neuritis
optikus biasanya
jarang terjadi,
pada sebuah
penelitian hanya
6 kasus diantara
kasus komplikasi
yang lain.

Hal ini ditandai


kemungkinan
adanya iskemik,
sering disertai
dengan skleritis
posterior, dan
memiliki
prognosis buruk
untuk
penglihatan.

(+)kebocoran nervus optikus dan


Gambar C menunjukkan adanya
pembengkakan daerah nerus optikus
melalui pemeriksaan Spektralis OCT

DIAGNOSIS

RIWAYAT

GEJALA KLINIS
1) Kulit = dermatom
n.Trigeminalis n.
oftalmikus
2) Okular

ONSET = prodromal,
Erupsi, Resolusi

PEMERIKSAAN
1) Fisik
2) Penunjang

Inspeksi, palpasi,
auskultasi
Ruam, head to toe,
nyeri, spesifik okular :
eksternal, okular,
motorik
Funduskopi, slit lamp,
TIO

DD
1) Herpeks Simpleks
2) Ulkus Blefaritis
3) Selulitis Orbita

Laboratorium:
Mikroskop, swab
palpebral, Tzank,
Intranukleus asidofil,
Serologik : ELISA, FAMA
PCR

TATA LAKSANA

Terapi pada herps zoster


mempercepat
penyembuhan,
membatasi keparahan
dan durasi nyeri akut
dan kronis, dan
mengurangi komplikasi.

Antiviral
Therapy

Terapi okular

Okular :
blefarokonjung
tivitis, untuk
blefaritis dan
konjungtivitisnya
, diterapi secara
paliatif, yaitu
dengan kompres
dingin dan
topikal lubrikasi,
serta pada
indikasi infeksi
sekunder oleh
bakteri

keratitis, jika hanya


mengenai epitel bisa
didebridemant,
stromal dapat
digunakan topikal
steroid, pada
neurotropik keratitis
diterapi dengan
lubrikasi topikal, serta
dapat digunakan
antibiotik jika terdapat
infeksi sekunder bakteri

Pada retina, yang


biasanya sudah
mengalami nekrosis,
diberikan
asiklovir intravena
1,5 gram per hari
dibagi 3 dosis untuk
10 hari diikuti asiklovirl
per oral

Komplikasi

Komplikasi mata terjadi


pada 50 % kasus. Nyeri
terjadi pada 93%

anterior uveitis
pada 92%
keratitis 52%
28% mengenai
mata dengan
uveitis kronik,
keratitis, dan
ulkus neuropatik.

Komplikasi jangka panjang, bisa


berhubungan dengan lemahnya
sensasi dari kornea dan fungsi
motor palpebra.
Ini beresiko pada ulkus neuropati
dan keratopati. Resiko jangka
panjang ini juga terjadi pada pasien
yang memiliki riwayat HZO, 6-14%
rekuren

jarang,
termasuk optik neuritis,
retinitis, dan kelumpuhan
nervus kranial okuler.
Ancaman ganguan
penglihatan oleh keratitis
neuropatik, perforasi,
glaukoma sekunder,
posterior skleritis, optik
neuritis, dan nekrosis retina
akut

Neuritis Optik, namun


neuritis juga jarang
ditemukan; tetapi bila
ada dapat
menyebabkan kebutaan

PROGNOSIS
Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus prognosis bergantung pada tindakan
perawatan secara dini
Prognosis dari segi visus penderita baik karena asiklovir dapat mencegah penyakitpenyakit mata yang menurunkan visus
Prognosis ke arah fungsi vital diperkirakan ke arah baik dengan pencegahan paralisis
motorik dan menghindari komplikasi ke mata sampai kehilangan penglihatan. 3
Prognosis kosmetika pada mata penderita dapat baik apabila hanya edema dan
vesikel tidak banyak, namun pada kulit juga dapat menimbulkan makula
hiperpigmentasi atau sikatrik

DAFTAR PUSTAKA
1. Bennet,JE, Polin,R, Blaser,MJ. Mandell, Douglas, and Bennetts Principles and Practice of Infection Disease Eight Edition. Kanada : ELSEIVER. 2015.
2. Mahamud,A, Marin,M, Nickell,SP,Shoemakeer,T, Zhang,JX, Bialek,SR.Herpes ZosterRelated Deaths in the United States: Validity of Death Certificates
and Mortality Rates, 19792007. Clinical Infectious Disease Oxford Journal. Juni 2013;55(7):960-966.
3. Janniger,C. Herpes Zoster. 2016.(diakses 5 Januari 2017). Tersedia dari URL : HYPERLINK
http://emedicine.medscape.com/article/1132465-overview#a5
4. Center for Disease Control and Prevention. Shingles(Herpes Zoster). 2014. (diakses 5 Januari 2017). Tersedia dari URL : HYPERLINK
https://www.cdc.gov/shingles/hcp/clinical-overview.html
5. Harthana,JS, Borgman,C. Herpes zoster ophthalmicus-induced oculomotor nerve palsy. Journal of Optometry. Januari 2013;6(1): 60-65.
6. Augsberger,JJ,dkk (Ed) Section Editors.Opthalmology Myron Yanoff & Jay.S Duker Edisi Ke-4. 2014.United State : Elseiver Saunders.
7. Sayhan,MB, Sezenler,E, Nalbur,IH, Yac,G, Gezer,E. Herpes Zoster Ophthalmicus. Journal of Academic Emergency Medicine. Januari 2013; 2(3): 74-6.
8. Tortora, GJ, Nielsen,MT. Princples of Human Anatomy 12 th Edition. 2012. United State of America : John Willey and Sons.
9. Vrcek,I Choudhury, E, Durairaj, V. Herpes Zoster Ophthalmicus: A Review for the Internist. The American Journal of Medicine. Januari 2017;130(1): 2126.
10. Agarwal,A. GassAtlas of Macular Disease Fifth Edition. 2013. United States : Elseiver Saunders.
11. Staf Pengajar Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Edisi Revisi. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. 2014. Jakarta : Binarupa
Aksara.
12. Carp, S. Peripheral Nerve Injury : An Atanomica and Phyisiolgy Approach for Physical Therapy Intervention. 2015. Philadeplhia : F.A Davis Company.
13.Pusponegoro,dkk (ed).Buku Panduan Herpes Zoster di Indonesia. 2014.

Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedoktera Universitas Indonesia.