Anda di halaman 1dari 22

Inverted

Papiloma
Hidung
Abdul Gafur Zulkarnaen
10542 0059 09
Fadlilatul Khair Ladanu
10542 0076 09
pembimbing
Dr. dr. Nani Iriani Djufri,
Sp. THT-KL (K) FICS

Anatomi

Fisiologi
1)

fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air


conditioning) penyaring udara, humidifikasi,
penyeimbangan dalam pertukaran tekanan dan
mekanisme imunologik lokal
2) fungsi penghidu karena terdapatnya mukosa
olfaktorius dan reservoir udara untuk menampung
stimulus penghidu;
3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara,
membantu proses bicara dan mencegah hantaran
suara sendiri melalui konduksi tulang
4) fungsistatik dan mekanik untuk meringankan beban
kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung
panas;
5) refleks nasal.

Histologi hidung

definisi
Inverted papilloma adalah tumor jinak primer
dari hidung dan sinus paranasal yang jarang
terjadi. Papilloma inverted merupakan tumor
jinak yang berasal dari pseudostratified ciliated
columnar epithelium regio sinonasal,
umumnya dinding lateral rongga hidung
kebanyakan pada meatus media, jarang dari
septum nasi ataupun sinus paranasal

Epidemiologi
Inverted

Papilloma adalah tumor yang jarang


yang mengenai kavum nasi dengan jumlah
0,5 4 % dari semua tumor primer hidung
Insiden Inverted Papilloma diperkirakan
sekitar 0,75 per 100.000 populasi setiap
tahun.
Rata-rata mengenai usia pada awal 60 tahun.
Inverted papilloma jarang mengenai anakanak dan dewasa muda

Etiologi
Penyebab

pasti inverted papiloma


belum diketahui.
Beberapa teori telah diajukan,
meliputi alergi, inflamasi kronik dan
karsinogen berhubungan dengan
pajanan serta infeksi virus papiloma
Virus ini telah diketahui mempunyai
kecenderungan membentuk
papiloma-papiloma di berbagai organ
tubuh.
Virus Human Papiloma (HPV) 11,
HPV 6, HPV 16, dan HPV 18 telah
dapat diidentifikasi pada papiloma
inverted. pada tipe silindrikal dan
inverted.

Histopatologi
berdasarkan histopatologis(2) :
Kolumnar sel papilloma
Eksofitik papilloma
Inverted papilloma
Secara histologis adalah tumor epitelial endofitik yang muncul
dari epitel kolumnar berlapis semu. Epitel tersebut mempunyai
diferensiasi yang baik, berproliferasi dan mempunyai ciri khas
yaitu invaginasi ke dalam stroma.
Permukaan tumor ditutupi secara berganti-ganti oleh epitel
skuamosa dan epitel thorak, karena itu tumor ini juga disebut
papilloma sel transisional.
Tumor berbatas tegas, unilateral, non translusen, masa
polipoid dengan permukaan tidak rata, berbenjol-benjol dan
mempunyai vaskularisasi yang lebih banyak daripada polip
biasa.
Perluasan tumor lebih sering ke sinus maxilla, sinus
ethmoidalis anterior dan posterior.
Bersifat sangat invasif, dapat merusak tulang dan jaringan
sampai dapat menyebabkan kematian. 2)

Low-power magnification, hematoxylin and eosin stain illustrating


inverted papilloma (IPs) revealing markedly thick inverted growth of
nonkeratinizing transitional cells.

Low-power

magnification, hematoxylin and eosin stain


showing oncocytic Schneiderian papilloma exhibiting
both exophytic and endophytic patterns with several
layers of pseudostratified columnar (cylindrical) cells
containing uniform small dark round nuclei and
eosinophilic cytoplasm.

Low-power magnification, hematoxylin and eosin stain depicting


exophytic papilloma with branching, exophytic proliferations, and a fibrovascular
core, lined by well-differentiated stratified squamous epithelium

Gejala klinis
Gejala

yang paling sering adalah sumbatan


hidung unilateral (64-78%), diikuti oleh
sakit kepala, epistaksis, nyeri wajah,
epifora, rinore purulent, sinusitis kronik,
alergi, hiposmia.
sering terjadi unilateral.
Terdapat 3 sifat karakteristik klinis dari tumor
tersebut yaitu :
1) cenderung timbul kembali,
2) Tumor mempunyai kapasitas destruksi
pada jaringan dan struktur sekitarnya.
3) Tumor mempunyai kecenderungan menjadi
ganas.

Inverted papilloma characteristically arises from the lateral nasal


wall and has a typical granular mulberry-like appearance.

Diagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan Luar
Rhinoskopi anterior
Pada pemeriksaan biasanya ditemukan massa polipoid unilateral
yang mengisi kavum nasi dan menyebabkan obstruksi. Secara
makroskopis inverted papiloma terlihat ireguler dan rapuh, jika
disentuh mudah berdarah. Warna papiloma merah keabu-abuan dan
mengisi kavum nasi.
Rhinoskopi posterior
Yang penting diperhatikan sehubungan dengan sinusitis adalah
adanya sekret pada meatus media, adanya edema dan hiperemi
dari konka media dan inferior serta adanya polip pada koane.

Pemeriksaan Penunjang
X

foto rontgen sinus paranasalis


CT. Scan merupakan pilihan untuk lesi intranasal. CT.
Scan dapat memperlihatkan destruksi tulang akibat
perluasan tumor, tapi destruksi tulang sendiri
bukanlah indikator terhadap keganasan inverted
papilloma.
MRI (Magnetic Resonance Imaging) adalah alternatif
terbaik daripada CT. Scan untuk membedakan
papilloma dengan inflamasi dan memperlihatkan
perluasan tumor terhadap jaringan lunak sekitarnya.
Biopsi adalah satu-satunya diagnostik terpenting
terhadap dugaan inverted papilloma. Pemeriksaan
histopatologi dapat dengan pasti menegakkan
tumor ini.

Krouse membagi stadium penyakit dalam beberapa


stadium :

T1 : dalam stadium ini tumor berada dalam kavum


nasi. Tumor hanya menyerang
pada bagian
dinding kavum nasi, namun belum sampai
menyerang
bagian sinus
T2 : pada stadium ini hanya terbatas pada bagian
medial dan superior dari sinus maksilari dengan
atau tanpa menginvulsi bagian kavum nasi
T3: pada stadium ini tumor menginvulsi pada bagian
lateral, inferior, anterior atau posterior dinding
sinus maksilaris, sinus sfenoid atau sinus frontal.
Sinus
ethmoidalis dan kavum nasi bisa terserang
bisa jg tidak.
T4 : pada stadium ini tumor meluas melewati
hidung / sinus paranasal untuk menginvulsi dua
daerah yang memiliki pertautan batas seperti
orbita, basis cranii atau pterygomaxillaris

Coronal CT scan of a patient with Inverted


Papiloma showing lobulated soft tissue density in
the left maxillary sinus extending to nasal cavity.

Penatalaksanaan
pilihan terapi pada inverted papiloma adalah
dengan pembedahan
Lateral rhinotomy approach
Midfacial degloving approach
Endoscopic medial maxillectomy

Prognosis
Prognosis buruk jika meluas sampai ke
sinus paranasal

Komplikasi
Komplikasi setelah pembedahan dengan
pendekatan eksternal meliputi
perdarahan pasca operasi, edema
periorbita, epifora, diplopia, infeksi

Terima Kasih