Anda di halaman 1dari 67

FT.

NEUROMUSKULAR II
Paraplegia dan Quadriplegia
K L P VI I :
A N D I A S T R I D
A L P R I D A P A T A BA N G
M A R T I A S A R I
R O S Y A A D A H H A S A N
U L F A H E KA W A RD A N I

DEFINISI
Paraplegia adalah kelumpuhan kedua tungkai akibat lesi

bilateral/ transversal di medulla spinalis di bawah tingkat


cervical (pada segmen thoracal, lumbal atau sacral pada
medulla spinalis).
Kelumpuhan yang terjadi tergantung level/segmen medulla
spinalis yang terlibat.
Kelumpuhan dapat diakibatkan oleh terputusnya hubungan
motomeuron dengan otot atau karena perusakan pada ototnya
sendiri serta motor end plate yang disebut dengan
kelumpuhan Lower Motor Neuron (LMN) dan kelumpuhan ini
bersifat lemas.
Jika kelumpuhan bersifat kaku, maka secara anamnesa dapat
disimpulkan bahwa kerusakan terjadi pada Upper Motor
Neuron (UMN).

DEFINISI
Sedangkan Quadriplegia merupakan kemlumpuhan seluruh empat

ekstremitas dan batang tubuh. Quadriplegia/Tetraplegia disebabkan


oleh kerusakan otak atau sumsum tulang belakang pada tingkat
tinggi C1 - C7 khususnya, cedera tulang belakang sekunder untuk
cedera tulang belakang leher.
Penyebab khas dari kerusakan ini adalah trauma (seperti tabrakan
lalu lintas, menyelam ke dalam air dangkal, jatuh, cedera olahraga),
penyakit (seperti mielitis transversa, multiple sclerosis, atau polio),
atau kelainan bawaan (seperti distrofi otot).
Penderita patah leher kemungkinan tidak menjadi tetraplegia jika
vertebra yang retak atau dislokasi tetapi sumsum tulang belakang
tidak rusak.Sebaliknya, adalah mungkin untuk melukai spinal cord
tanpa melanggar tulang, misalnya pada saat disc pecah atau taji
tulang pada ruas menonjol ke dalam tulang punggung.

ANATOMI dan FISIOLOGI


Sistem saraf pusat terdiri atas otak, (cerebrum dan cerebellum)

dan medulla spinalis.


Otak merupakan pusat dan pikiran dan interpretasi terhadap
lingkungan eksternal.
Sedangkan medulla spinalis merupakan kumpulan saraf-saraf
yang menghubungkan otak dengan organ tubuh dan sebaliknya.
Medulla spinalis dilindungi dari bagian dalam menuju luar oleh
cairan cerebrospinal,selaput otak dan tulang vertebrata.
Medulla spinalis tersusun atas segmen-segmen yang sama
dengan tulang vertebra, namun karena pertumbuhan segmen
medulla spinalis semakin ke bawah semakin menjauhi segmen
tulang vertebra yang sesuai.

Segmen-Segmen Medulla Spinalis

1.
2.

3.
4.
5.

7 vertebra cervical atau ruas tulang bagian leher


membentuk daerah tengkuk, terdiri dari C1-C8.
12 vertebra thorakalis atau ruas tulang punggung
membentuk bagian belakang thoraks atau dada, terdiri
dari T1-T12.
5 vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang membentuk
daerah lumbal atau pinggang, terdiri dari L1-L5.
5 vertebra sacralis atau ruas tulang selangkang membentuk
sacrum, terdiri dari S1-S5.
3/4 vertebra koksigeus atau ruas tulang tungging
membentuk tulang koksigeus, terdiri dari Co1-Co3/4.

Gambar Segmen-Segmen Medula Spinalis

ANATOMI dan FISIOLOGI


Segala aktivitas susunan saraf pusat yang dapat

dilihat, didengar, direkam dan diperiksa berwujud


gerak otot.
Gerak jalan, gerak otot wajah otot yang menentukan
sikap tubuh dan gerak otot skeletal apapun
merupakan manifestasi eksternal susunan saraf pusat.
Otot-otot skeletal dan neuron yang menyusun
susunan neuromuskular volunter, yaitu sistem yang
mengurus dan sekaligus melaksanakan gerakan yang
dikendalikan oleh kemauan.
Secara anatomik sistem tersebut terdiri atas:

ANATOMI dan FISIOLOGI


1. Upper Motor Neuron (UMN)
Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik, kelompok UMN

dibagi dalam susunan piramidal dan susunan ekstrapiramidal.


2. Lower Motor Neuron
Neuron

yang menyalurkan impuls motorik pada bagian


perjalanan terakhir keseluruhan otot skeletal dinamakan lower
motorneuron.
Lower motorneuron dibedakan menjadi 2 bagian:
a. motorneuron berukuran besar dan menjulurkan akson tebal ke
serabut otot ekstrafusal dan yang lain.
b. motor neuron, berukuran kecil, akhirnya halus dan mensarafi
serabut otot intrafusal.

ANATOMI dan FISIOLOGI


Dengan perantaraan kedua macam motorneuron itu,

impuls otorik dapat mengemudikan keseimbangan tonus


otot yang diperlukan untuk mewujudkan setiap gerakan
tangkas
3. Motor End Plate
Akson menghubungkan sel serabut otot melalui sinaps,
sebagaimana neuron berhubungan dengan neuron lain.
Bagian otot yang bersinaps itu dikenal sebagai motor
end plate. Inilah alat perhubungan antara neuron dan
otot.

EPIDEMIOLOGI

Diperkirakan

terjadi sekitar 10.000 kasus cedera


medulla spinalis dalam 1 tahun di Amerika Serikat,
terutama pada pria muda yang belum menikah.
Dari jumlah diatas penyebab terbanyak terutama karena
kecelakaan mobil, diikuti karena jatuh, luka tembak dan
cedera olahraga.
Penyebab
non traumatic yang paling sering
menyebabkan paraplegia adalah tumor tulang belakang.
Sedangkan penyebab non traumatic yang paling sering
menyebabkan quadreplegia adalah mielitis transversa.

PATOFISIOLOGI
Meskipun berjalan merupakan gerakan volunter,

namun setelah gerakan berjalan dimulai, seluruh


fleksi dan ekstensi otot kedua tungkai dalam
melaksanakan gerakan berjalan terjadi secara
otomatis.
Koordinasi dan sinkronisasi gerakan otot kedua
tungkai tersebut diatur secara integrative.
Bilamana salah satu komponen dari sistem saraf
tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya,
maka akan timbul gangguan gerakan volunter.

PATOFISIOLOGI
Segala sesuatu yang mengganggu fungsi atau merusak

kawasan sistem saraf disebut lesi. Suatu lesi dapat berupa


kerusakan pada jaringan fungsional akibat perdarahan,
trombosis atau embolisasi, dapat juga karena perdarahan,
degenerasi dan penekanan oleh proses pendesakan ruang
dan sebagainya.
Tiap lesi di medulla spinalis yang merusak daerah
kortikospinal lateral menimbulkan kelumpuhan UMN pada
otot-otot bagian tubuh yang terletak di bawah tingkat lesi.
Lesi yang memotong melintang (transversal) medulla
spinalis pada tingkat thorakal atau tingkat lumbal atas,
contohnya T5 akan mengakibatkan kelumpuhan UMN pada
otot-otot tubuh yang berada di bawah T5.

PATOFISIOLOGI
Lesi pada medulla spinalis (pada segmen tertentu) dapat

menyebabkan terjadinya paraplegi yang bersifat spastic


ataupun flaccid pada area tubuh yang diinnervasi oleh segmen
medulla spinalis.
Pada paraplegia spastic, akan memperlihatkan tanda-tanda
kelumpuhan UMN, sedangkan pada paraplegia flaccid, pada
pemeriksaan akan memperlihatkan tanda-tanda kelumpuhan
LMN, yang disebabkan oleh lesi bilateral di bagian perifer
susunan neuromuskulus, yaitu lower motorneuron, motor end
plate dan otot.
Berbeda dengan paraplegia spastika, kelumpuhan kedua
tungkai, anggota gerak flaccid tidak memperlihatkan batas
deficit sensorik yang jelas pada tubuh, juga gangguan miksi
tidak selalu kelumpuhan.

PATOFISIOLOGI
Secara berturut-turut lesi di bagian perifer, susunan

neuromuskulus dapat merusak atau mengganggu


fungsi motorneuron, radiks ventralis yang ikut
menyusun pleksus dan saraf tepi, motor end plate
dan otot.
Oleh karena itu, kita perlu mengetahui apakah
kerusakan terletak di persarafannya atau di ototnya.
Untuk itu dapat dipergunakan table berikut untuk
membandingkan lesi pada UMN, LMN tipe
neurogenik atau LMN tipe miogenik.

PATOFISIOLOGI
Cidera medulla spinalis dapat terjadi pada lumbal 1-

5:
- Lesi L1 L5 : kehilangan sensorik yaitu sama
menyebar sampai lipat paha dan bagian dari bokong.
- Lesi L2 : ekstremitas bagian bawah kecuali 1/3 atas
dari anterior paha.
- Lesi L3 : Ekstremitas bagian bawah.
- Lesi L4 : Ekstremitas bagian bawah kecuali anterior
paha.
- Lesi L5 : Bagian luar kaki dan pergelangan kaki.

ETIOLOGI
Etiologi paraplegia berdasarkan klasifikasinya dibagi menjadi dua, yaitu

lesi pada UMN dan lesi pada LMN.


Lesi pada UMN meliputi:
a.

b.
c.
d.
e.
f.
g.

Kompresif (penekanan) dapat disebabkan oleh: Neoplasma, Abses


Epidural, Hemorrhagic Epidural, Herniated Disk, kompresif dari fragmen
tulang vertebra yang fraktur.
Vasculer: Emboli, perdarahan, Arteriovenous, Malformations.
Peradangan (inflamasi): Myelitis Transversa, Multiple Sclerosis.
Infeksi
Perkembangan: Syringomyelia, Scoliosis
Metabolic: Subacute Combined Degeneration
Herediter: Familial Spastic Paraplegia, Scoliosis

.Lesi pada LMN terbagi menjadi kelumpuhan neurogenic yang mengenai

anterior motor neuron dan miogenik yang mengenai ototnya.

ETIOLOGI
Penyebab yang paling umum dari kerusakan medulla spinalis

adalah :
1. Trauma
Seperti kecelakaan motor, jatuh, luka ketika berolahraga
(khususnya menyelam ke perairan dangkal), luka tembakan dan
juga bisa karena kecelakaan rumah tangga.
2. Penyakit
Motorneuron disease: keluhan berupa kelemahan otot, seperti
pada otot yang cepat letih dan lelah, yaitu pada jari-jari tangan.
Polimiositosis bilateral: keluhan berupa kelemahan / keletihan
pada otot otot disertai mialgia ataupun sama sekali bebas nyeri
atau rasa pegal/ linu / ngilu. Polimiositosis juga dapat
menyebabkan kelemahan keempat anggota gerak.

ETIOLOGI
Poliradikulopatia

/ polineuropatia bilateral:
keluhan berupa kelemahan otot otot tungkai.
Miopatia bilateral: keluhan berupa tidak dapat
mengangkat badannya untuk berdiri dari sikap
duduk taupun sikap sujud.
Distropia bilateral: kelemahan otot sesuai dengan
penyakit herediter umumnya, yaitu sejak kecil.
Sindroma Miastenia Gravis:
dimulai dengan
adanya ptosis unilateral atau bilateral.

GEJALA PARAPLEGIA
Seperti yang kita tahu, paraplegi adalah paralisa bagian

bawah dari tubuh termasuk tungkai yang diakibatkan karena


adanya lesi / tekanan akibat tumor pada medulla spinalis.
Manifestasi klinis dari penyakit ini adalah berbentuk spastic
dan flaccid.
Spastic adalah suatu keadaan dimana terjadi lesi bilateral
atau transversal di medulla spinalis pada bagian bawah dan
pada tingkat cervical. Keadaan spastic ini dibagi menjadi
beberapa bagian yaitu, akut, sub akut, sub kronis, kronik.
Flaccid adalah suatu kelumpuhan yang memiliki manifestasi
berupa lesi pada Lower Motor Neuron (LMN) pada motor
end plate.

GEJALA QUADRIPLEGIA
Inkontinensia urin, suatu kondisi medis yang ditandai dengan

hilanganya kendali pada kandung kemih yang berakibat pada


kebocoran urin/mengompol. Kondisi ini biasanya merupakan
gejala dari penyakit yang mendasari atau masalah fisik,
seperti infeksi saluran kemih, konstipasi, diabetes, infeksi
prostat, dan penyakit neurologi.
Kehilangan Sensasi Limba
Kehilangan Sensasi Umum
Disfungsi Seksual
Kelumpuhan Limba
Kelumpuhan Umum
Kesulitan Bernapas
Inkontinensia usus

KOMPLIKASI
Beberapa, komplikasi yang tidak jarang muncul pada penderita akibat

kurangnya perawatan. Komplikasi bisa terjadi berupa


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Decubitus Ulcer
Autonomic Dysreflexia
Osteoporosis
Deep Vein Trombosis (DVT)
Infeksi Saluran Kemih
Pneumonia
Emboli paru
Heterotopic Ossification
Spasticity
Cardiovaskuler Disease
Neuropati

ASSESSMENT FISIOTERAPI I
(Paraplegia)

Data-Data Medis Rumah Sakit


Diagnosis Medis: Paraplegi
Vital Sign :Tekanan Darah : 110/80
Denyut Nadi : 70x/menit
Pernapasan : 25x/menit
Temperatur : Normal
Terapi Umum : Medika Mentosa

1. Anamnesis Umum
Nama

: Wahyudin
Umur
: 50 tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama:
: Islam
Alamat
: Jl. Jend.Sudirman No.14
Pekerjaan
: Wiraswasta

2. Anamnesis Khusus
Keluhan utama

: Nyeri dan kelumpuhan


Lokasi keluhan utama : Pada kedua tungkai
Kapan terjadinya K.U. : 1 tahun yang lalu
Penyebab : Tumor sum-sum tulang belakang thorakal 11
R.P.P : Awalnya Pasien merasakan nyeri pinggang bawah
bagian kiri setelah itu nyerinya berpindah ke bagian
kanan lalu menjalar kekaki lalu pasien mengalami
kelumpuhan di kedua tungkainya setelah itu pasien
dirujuk untuk di opname di RS.

Inspeksi
Inspeksi Statis : Posisi kedua tungkai jatuh (terjadi

drop foot)
Inspeksi Dinamis: Pasien tidak mampu melakukan
gerakan kepada dua tungkai.
Tes Orientasi
Tidak bisa digerakkan ke 2 tungkainya
Tes ADL tidak dapat dilakukan

Pemeriksaan Khusus

Tes Motorik : menggerakkan kedua tungkai

Hasilnya : tidak dapat digerakan


Tes Sensorik : goresan dan mencubit pada kedua
tungkai
Hasilnya : Tidak dirasakan
Tes Tonus : palpasi pada Muscell belly otot ekstensor
Hasilnya : Hypertonus
Tes Koordinasi : Frankle Exc
Hasilnya : tidak mampu dilakukan

Tes Kognitif : tanya jawab


Hasilnya : dapat menjawab dengan baik
Tes Refleks : KPR dan APR
Hasilnya : hyperefleks
Tes ROM : Tidak dapat dilakukan
MMT Tes : nilai 0
Pemeriksaan Fungsional lumbal : Belum dapat

dilakukan.
Pemeriksaan Tambahan : MRI

Diagnosis
Gangguan Aktivitas Fungsional Ekstremitas Inferior

Akibat Paraplegi Post Operasi Thorakal 11


Problematik Fisioterapi
Gangguan keseimbangan
Kontraktur otot
Gangguan ADL tidur, duduk, berdiri dan berjalan
Kelemahan otot
Pemendekan otot
Gangguan psikis

Perencanaan fisioterapi
Tujuan jangka pendek
Memelihara sifat fisiologis otot pada pinggang, perut

atau extrimatas superior.


Melatih keseimbangan duduk
Mengurangi kontrakatur
Memperbaiki ADL tidur
Mengurangi pemendekan pada otot
Tujuan jangka panjang
Meningkatkan kapasitas fisik dan kemampuan

fungsional pasien sudah ada

Intervensi Fisioterapi
1. IRR
.Tujuan : melancarkan sirkulasi darah, meningkatkan

metabolism jaringan dan elastisitas jaringan otot


.Teknik : posisi tidur terlentang kemudian dilakukan
pemasangan alat secara lokal pada kedua tungkai
.Dosis :

F : setiap hari
I : 30-45 cm
T : lominous
T : 10 menit

2. Passive Exc
Tujuan : upaya memelihara sifat fisiologis otot pada

kedua tungkai
Teknik : Dalam posisi tidur terlentang, kemudian
Fisioterapis memberikan gerakan pasif flexi-ekstensi,
abduksi-adduksi, eksorotasi-endorotasi hip dan dorsoplantar, eversi-inversi ankle pasif secara bergantian di
persendian pada kedua tungkai
Time : toleransi pasien dengan memperhatikan
kelelahan yang diperlihatkan, 3-5 kali pengulangan
sudah cukup

3. Stretching kedua tungkai


Tujuan : mencegah kontraktur sekaligus koreksi

posture
Teknik : Pasien tidur terlentang kemudian fisioterapis
menggerakkan kedua tungkai bergantian secara pasif
disetiap persendian ke segala arah dan ditambah
dengan penguluran.
Dosis :
F : setiap hari
I : penguluran max
T : passif streaching
T : 8x hitungan

4. Reaksi Keseimbangan

Tujuan

: melatih keseimbangan
Teknik : fisioterapi memberikan fasilitasi refleks
mengangkat
pantat
dan
membantu
mempertahankannya
Time : toleransi pasien, sesuaikan hasil yang dapat
dicapai oleh pasien

5. Breathing Exc
Tujuan : memelihara fungsi respirasi
Teknik : fiksasi dengan tangan fisioterapi dilateral

bagian lower dengan posisi kepala pasien


kesamping. Minta pasien untu menarik napas dan
hembuskan kemudian beri penekanan 1/3 akhir
pernapasan dari samping
Time : toleransi pasien, seharusnya diberikan
setiap 1 jam sekali dengan beban minimal

6. Positioning

Tujuan : mencegah dekubitus


Teknik : fisioterapis memposisikan sekaligus

mengajarkan pasien melakukan


perubahan posisi dari tidur terlentang miring ke
kiri atau kanan
Time : sesering mungkin akan lebih bagus

7. ADL Exc
Tujuan : meningkatkan ADL tidur dan sekaligus

persiapan bangun tidur keduduk


Teknik : fisioterapi memberikan fasilitasi refleks
tidur dengan mengajarkan pasien dari posisi tidur
terlentang kemudian miring ke kiri atau kanan
yang baik dan benar
Time : toleransi pasien dengan melihat hasil yang
dicapai

8. Muscle Stimulation
Tujuan : menstimulasi serabut dan jaringan otot
Teknik :

posisi tidur terlentang kemudian dilakukan


pemasangan pad, 1pad pada fossa Poplitea dan 1 lagi di
bagian lateral dari M tibialis anterior. Secara lokal pada
kedua tungkai.
Dosis :
F
: 3x Seminggu
I
: 2 pad
T
: muscle stimulasi
T
: 10 menit

9. Strengthening Extremitas Superior


Tujuan : menguatkan otot-otot extremitas

superior
Teknik : Ftis memberikan tahanan secara manual
pada saat gerakan aktif exercise
Dosis :
F
I
T
T

: 3x Seminggu
: beban manual sedang.
: sterengtening exc dengan beban manual.
: 8x hitungan 10x repitisi

10. Bridging

Tujuannya:
Meningkatkan kekuatan otot dasar panggul.
Sebagai metode latihan keseimbangan.
Persiapan latihan ambulasi posisi duduk- berdiri.
Selain

itu, fasilitasi yg diberikan FTs bertujuan selain


memotivasi pasien, juga utk menilai endurannce pasien dlm
melakukan bridging.

11. Persiapan Ambulasi Tidur Ke Duduk


Tujuannya:
Persiapan ambulasi dari tidur ke duduk.
Mengajarkan pasien cara yg benar bangun dari

tempat tidur ke duduk dan sebaliknya.


Melatih
keseimbangan duduk pasien
beraktifitas.
Mobilisasi thoraks .
Sbg self asisted utk lengan atas pasien.

saat

12. Ambulasi Duduk Ke Berdiri Dari Bed


Tujuannya:
Memberikan fasilitasi duduk ke berdiri.
Persiapan pasien ke berdiri.
Mengajarkan cara yang benar kepada pasien dari duduk

ke berdiri dgn memulai dgn menurunkan tungkai yg


sehat, sementara FTs memfiksir knee pd tungkai yg sakit.
Memberikan keamanan kepada pasien saat berdiri.
Melatih keseimbangan berdiri pasien.
Merangsang propriocensor tungkai pasien, khususnya
dari Pelvic, hip, knee dan ankle.
Mempersiapkan & Mengajarkan ambulasi pasien dari
berdiri ke duduk di kursi.

13. Ambulasi berdiri ke duduk di kursi

Tujuannya:
Melatih keseimbangan pasien berdiri ke duduk dan

sebaliknya.
Merangsang propriocensor tungkai pasien, khususnya
dari Pelvic, hip, knee dan ankle.
Mengajarkan cara duduk yg benar kepada pasien.

15. Ambulasi Dari Kursi Ke Berdiri

Tujuannya:
Merangsang propriocensor tungkai pasien, khususnya dari Sisi

lumpuh ,Pelvic,hip, knee dan ankle.


Persiapan latihan selanjutnya untuk latihan duduk dari kursi ke
berdiri.
Dan dapat diaplikasikan dengan teknik stimulasi stabilitas core
stability.

Evaluasi
Belum

nampak tanda-tanda yang menunjukkan


perubahan pada aktivitas fungsional tetapi nampak
adanya perbedaan pada saat pertama dan setelah
beberapa kali di terapi,
Berupa adanya peningkatan nilai otot dari nilai otot 0
menjadi nilai otot 1 yaitu adanya kontraksi intra
muscular pada pasien dan motivasi atau kemauan pasien
untuk sembuh itu semakin meningkat karena setiap kali
terapi fisioterapis memberikan semangat kepada pasien
agar tidak putus asa dengan kondisi sekatrang.
Adapun koordinasi dan keseimbangan serta ADL masih
belum adanya perbaikan.

ASSESMENT FISIOTERAPI II
(Quadriplegia)

Anamnesis

1. Umum
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Hobby

: Muhammad Aidil
: 19 th
: Laki-laki
: Mahasiswa
: Hiking

Anamnesis Khusus
Keluhan utama

: Kelumpuhan pada keempat ekstremitas akibat cervical of


spinal cord injuried, juga nyeri dada
Letak
: Kedua lengan-tungkai, serta di daerah dada
Waktu terjadinya : Satu minggu yang lalu
Riwayat pribadi pasien : Sekitar satu minggu yang lalu pasien kecapaian setelah
hiking dan meminta teman sekamarnya untuk menginjak daerah punggung
atasnya. Pada saat teman pasien tersebut naik ke atas punggungnya, pasien belum
dalam posisi yang baik sehingga mengakibatkan cedera pada segmen cervical
pasien tepatnya pada daerah medulla spinalis. Pasien sebelumnya di rawat di
rumah oleh orang tua karena belum mengerti, sampai akhirnya setelah kurang lebih
satu minggu, orang tua pasien memutuskan untuk membawa pasien ke rumah sakit
dan menjalani proses penyembuhan.
Penyakit Lain
:Rekam Medik
: Periksaan laboratorium pada pemeriksaan X-Ray
menunjukkan bahwa adanya cedera pada cervical daerah medulla spinalis.

Pengukuran Vital Sign


Tekanan Darah

: 120/70 mmHg
Denyut Nadi
: 90x/ menit
Pernapasan
: 19 x/menit
Suhu
: 370 C

Inspeksi

1.Statis :
ada depresi pada raut wajah
ada arthropy pada kedua lengan dan tungkai
tidak ada gejala digubitus
pasien cenderung tidur miring
nafas pendek dan cepat
menggunkan kateter
2.Dinamis :
Pasien tidak mampu melakukan gerakan pada ekstremitas atas dan
bawah

Pemeriksaan

1. Pemeriksaan Tonus Otot


Ada penurunan tonus / hypotonus
Suhu normal
Tidak ada udem
Tidak ada nyeri tekan
2. Tes Sensorik
Tujuannya : Untuk mengetahui kemampuan saraf sensorik
Teknik
: Fisioterapi mencubit dan menggores kedua tungkai dan
kedua lengan pasien
Hasil
: Hiposensasi

3. Tes Motorik
Tujuannya : Untuk mengetahui kualitas saraf motorik dan kemampuan gerak.
.ADL
.Pasien diminta melakukan gerakan dari baring ke duduk
.Hasil

: Sulit dilakukan
.Keseimbangan
.Pasien dalam keadaan tidur terlentang, kedua tungkai pada hip dan knee diflexikan
kemudian instruksikan pasien untuk mengangkat pantatnya
.Hasil : Tidak bisa melakukannya
.Transfer
.Masih dengan keadaan tidur terlentang, dengan kedua tungkai ekstensi hip dan knee
instruksikan pasien untuk melakukan gerakan dari posisi tidur terlentang, miring ke
kiri atau ke kanan
.Hasil : Tidak bisa melakukannya

4. Tes Koordinasi
Dalam posisi tidur terlentang, Fisioterapi meminta pasien untuk menyentuh
tangan Fisioterapi dengan menggunakan ujung kakinya serta ujung tangannya
Hasil : Dapat melakukannya
5. Respon Refleks
Babinsky
Dalam posisi tidur terlentang, kemudian tarik garis dari tumit ke sepanjang
arah lateral kaki ke arah jari-jari kaki dengan cepat.
Hasil : tidak ada respon
Biceps
Fisioterapi memegang lengan pasien yang di semiflexikan sambil
menempatkan ibu jari di atas tendon m. Biceps, lalu ibu jari diketok
Hasil : hyporefleks

Triceps
Fisioterapi

memegang lengan bawah pasien yang di


semiflexikan.Setelah itu, ketok pada tendon m. Triceps, yang berada
sedikit di atas olekranon.
Hasil : hyporefleks
APR
Tungkai bawah diflexikan sedikit, kemudian Fisioterapi memegang
kaki pada ujungnya untuk memberikan sikap dorsoflexi ringan pada
kaki setelah itu tendon Achilles di ketok
Hasil : hyporefleks
KPR
Tungkai diflexikan dan digantungkan, lalu ketok pada tendon m
Quadriceps Femoris (dibawah patella pada tuberositas tibia)
Hasil : hyporefleks

7. Tes Koognitif dan Psikis


Tujuannya : Untuk mengetahui keadaan psikis pasien
Teknik
: Pasien ditanyakan tentang data diri pasien
Hasil
: Kurang bagus, pasien tampak menatap dengan
pandangan kosong
8. Tes MMT
Nilai otot keseluruhan regio adalah 0.
Pemeriksaan Tambahan
MRI : adanya cidera pada medulla spinalis
X-Ray

: sudah ada Nampak Konsolidasi

Diagnosis

Tetraplegi/Quadriplegi atau Kelumpuhan Keempat Anggota Gerak


Akibat Cedera pada Tulang Belakang di Segmen Cervical.
Problematik Fisioterapi

1. Anatomi impairment
adanya paralysis pada kedua ekstremitas, adanya kontraktur otot
2. Activity limitation
adanya keterbatasan dalam melakukan ADL seperti mandi, makan,
berpakaian, BAB, BAK, berjalan dll.
3. Participation restriction
Pasien mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas social
sehari-hari seperti kembali melanjutkan perkuliahan.

Perencanaan Fisioterapi

1. Tujuan jangka pendek


Mengurangi kontraktur
Memperbaiki ADL tidur
Menstimulasi dan memperbaiki kemampuan fungsional otot
Memperbaiki koordinasi
Mengurangi nyeri dada
2. Tujuan jangka panjang
Meningkatkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien
Menjaga kemampuan fungsional otot
Mencegah kontraktur otot
Meningkatkan kekuatan otot

Pelataksanaan Fisioterapi
1. Breathing Exercise

.Tujuan : memelihara fungsi respirasi


.Teknik: fiksasi dengan tangan fisioterapi bilateral

bagian bagian bawah dengan posisi kepala pasien


kesamping

2. Positioning

Tujuan Positioning:
Memberi rasa nyaman kepd pasien saat istirahat.
Mencegah terjadinya decubitus.
Sbg pola dasar, penentu pengembangan pola

selanjutnya.
Posisioning diubah setiap 2 3 jam perhari.

3. Mobilisasi Toraks

Tujuannya:
Membantu sistem pernapasan pasien, khususnya

meningkatkan kapasitas paru pasien.


Meningkatkan kekuatan dan koordinasi otot lengan.
Attention : lukasi sendi

4. Shoulder Rytme
Tujuan : meningkatkan stabilitas dari shoulder
Prosedur

Pasien tidur miring


2. Pasien di instruksikan untuk mengerakkan
bahunya kearah anterior depresi, superior elevasi,
anterior elevasi dan posterior depresi
3. Setelah itu fisioterapi memberikan tahanan saat
pasien menggerakkan bahunya
1.

Shoulder Rytme

5. PNF Lengan

Tujuan : menigkatkan kekuatan otot, stabilitas dan koordinasi gerakan


Prosedur :

Pasien tidur telentang dengan tangan terjungkai di damping bad


2. Fisioterapi berada di samping bad
3. Pasien diinstruksikan mengankat lengan sesuai dengan arah instruksi
fisioterapi mengikuti gerak pola PNF pada lengan ( Fleksi Endorotasi),
( fleksi, endorotasi dengan fleksi elbow)
4. Saat gerakan FT membantu gerakan serta sedikit memberikan resisten
1.

6. PNF Tungkai

Tujuan : menigkatkan kekuatan otot, stabilitas dan koordinasi gerakan


Prosedur :
1.
2.
3.

4.

Pasien tidur telentang dengan kedua tungkai sedikit di abduksikan


Fisioterapi berada di samping bad
Pasien diinstruksikan mengankat tungkai sesuai dengan arah instruksi
fisioterapi mengikuti gerak pola PNF pada lengan (Fleksi Endorotasi),
(fleksi, endorotasi dengan fleksi knee)
Saat gerakan FT membantu gerakan serta sedikit memberikan resisten

7. Pelvic Rytme

Tujuan : meningkatkan stabilitas dari pelvic


Prosedur

Pasien tidur miring


2. Pasien di instruksikan untuk mengerakkan bahunya kearah
anterior depresi, superior elevasi, anterior elevasi dan posterior
depresi
3. Setelah itu fisioterapi memberikan tahanan saat pasien
menggerakkan pelvicnya
1.

Evaluasi

Sesaat

: Belum ada kemajuan yang signifikan


setelah pasien di terapi

Berkala : Perubahan berupa berkurangnya

tanda-tanda kontraktur otot dan kembalinya


kemampuan fungsional otot.

SEKIAN
DAN
TERIMAKASIH